Sabtu, 10 Desember 2011

Jika RencanaNYA Berubah

Shalom Saudara - Saudari yang terkasih dalam Kristus

Semoga kesaksian saya kali ini dapat membangun iman percaya kita bahwa Tuhan selalu
menyediakan yang terbaik bagi anak - anakNYA.

Sebelumnya saya adalah anak yang ditinggal oleh salah satu orang tua saya dan sekarang saya tinggal bersama ibu saya di rumah tante saya karena semua harta orang tua saya sudah habis untuk membayar hutang dan ayah saya selingkuh dan melarikan diri dengan wanita lain. Puji Tuhan, Ia mau mengambil dan memelihara saya dan ibu saya sehingga kami tidak jadi gelandangan.

Kesaksian ini berawal dari berawal dari ambisi saya yang ingin kuliah. Sejujurnya saya ingin sekali melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kebetulan saya sudah daftar di salah satunya dan telah diterima serta mendapatkan beasiswa yang cukup besar apalagi Tuhan sudah menyetujui bahwa saya memang harus kuliah karena Tuhan berfirman saya bisa kuliah dan Tuhan yang sediakan dananya untuk saya kuliah. Saya tangkap janji Tuhan itu entah dengan iman atau hanya karna keinginan saya yang begitu besar.
Pembayaran uang masuk kuliah kebetulan dapat dicicil 3x, cicilan yang pertama 3 juta yang kedua 6 juta
dan yang terakhir 3 juta lagi. Saat pembayaran cicilan pertama, memang Tuhan genapi dengan mujizat sebesar 3 juta rupiah padahal saat itu sedang tidak ada uang samasekali, hal ini memantapkan saya untuk melanjutkan ke bangku kuliah karena saya pikir Tuhan sudah melakukan mujizat yang pertama maka Iapun akan melanjutkannnya lagi, itu pikiran saya.

Selang hampir 1 bulan, kemudian, tepatnya 1 mingggu lebih sebelum batas akhir pembayaran cicilan ke - 2
uang tidak datang sama sekali, disitu Tuhan mulai berkata " Kalau kamu tidak kuliah, kamu masih mau ikut Aku dan Hineni tidak?" ditanya seperti itu membuat saya berkata, " memangnya tidak jadi kuliah? " namun Tuhan tetap menanyakan hal yang sama. Akhirnya saya jawab, " Ya sudah Tuhan, iya " Tapi dalam hati masih belum rela kalau saya sampai - sampai tidak kuliah. Semakin dekat dengan hari "h" nya saya semakin bingung dan marah pada Tuhan," kok duitnya gak ada buat bayar kuliah dalam hati saya.
Apa Tuhan bohong atau gimana?" semakin hari saya semakin bingung dan marah

Akhirnya saya mendatangi sebuah kebaktian bulanan dan dalam kondisi yang begitu bingung dan marah Tuhan menegur saya lewat kotbah dari pendeta yang berbicara bahwa manusia
itu tidak dapat menuntut apa - apa pada Tuhan dan apapun yang terjadi seandainya Tuhan berubah rencanaNYA, itu pasti yang terbaik yang Tuhan sediakan. Kotbah itu diambil dari kitab Yunus yang menceritakan bahwa Yunus menjadi pahit karena rencana Tuhan untuk menghancurkan Niniwe itu berubah. Padahal seharusnya Yunus itu bersyukur karena Tuhan menyediakan yang lebih baik. Di situ saya merasa sangat disentuh dan saya berkata " ya sudah Tuhan, kalau gak jadi kuliah ya gak apa - apa"
Saya kira disitu perasaan saya telah lega, namun 2 hari kemudian perasaaan bingung dan marah yang lebih besar itu datang. Sampai -  sampai saya menangis berjam - jam.  Saya masih tidak rela kalau tidak kuliah karena teman - teman saya semuanya kuliah, saya pikir kalau saya tidak kuliah mau jadi apa saya kelak? Kalau saya tidak kuliah saya malu dan berbagai macam alasan pun keluar.

Suatu malam saat saya menangis dan pahit, Tuhan berbicara mengenai keputusan kuliah saya melalui tante saya dan jawabannya mengejutkan bahwa saya tidak boleh kuliah dan harus menjalani pekerjaan yang saya tidak sukai di kantor tante saya serta Tuhan marah karena saya hanya karna kuliah menjadi pahit dan saya tidak tahu diri bahwa dari mana saya diambil dan jikalau bukan Tuhan yang memelihara hidup saya, saya sudah jadi gelandangan. Disitu saya tetap berontak dan tidak terima, saya tidak peduli dan saya tinggal tidur saja.

Keesokan paginya ibu dan tante saya menasehati saya. Saya masih berontak dan marah. Setelah diberi pengertian dan firman Tuhan akhirnya saya sadar bahwa Tuhan itu bisa berubah hanya untuk menguji kita dan menyediakan yang terbaik bagi hidup kita. Saya menangis saat itu dan berkata " Kali ini ya sudah benar - benar kalau tidak kuliahpun tidak apa - apa, asal Tuhan yang beri kekuatan dan buat aku percaya kalau Tuhan menyediakan rencana yang terbaik. ". Setelah itu semua saya merasa lega dan lepas sama sekali. Saya tidak punya pikiran yang aneh - aneh lagi,

 Sampai hari ini saya tetap mengucap syukur pada Tuhan karena rancanganNYA pasti yang terbaik sekalipun saya belum melihatnya, namun saya akan melihatnya kemudian kelak dengan ucapan syukur. Saya belajar fleksibel dengan Tuhan, mungkin terlihat Tuhan tidak menggenapi janjiNYA, sebenarnya bukan Tuhan tidak menepatiNYA tapi melatih kita untuk siap dengan janji Tuhan itu. Percayalah bahwa segala rencanaNYA itu baik sekalipun kita belum melihatnya. Saya juga belajar bahwa saya harus ingat dari mana diambil. Saya yang tidak memiliki apa - apa lagi namun Tuhan tetap peliharakan dan masih mengijinkan saya sekolah sampai SMA. Saya belajar untuk memandang segala sesuatu melalui kacamata rohani sehingga selalu percaya dan beriman bahwa Tuhan itu baik.


Sekian, terimakasih. Tuhan Yesus memberkati.

3 komentar:

  1. "Tuhan sudah menyetujui bahwa saya memang harus kuliah"

    ini tahu dari mana?

    BalasHapus
  2. http://djayasentana.wordpress.com/2011/12/21/natal-shrk-jki-hananeel-20-des-2011/

    BalasHapus
  3. Lewat doa & pergumulan, Tuhan bisa jawab lewat suara hati kita. Tuhan berbicara lewat banyak cara : suara hati, pikiran, lewat hamba Tuhan, lewat Rhema, dll.
    Tapi kalau kita tanya Tuhan sudah punya keinginan dan belum siap menerima jawaban Tuhan yg bertentangan dg keinginan kita, maka biasanya jawabannya itu tidak murni..dalam arti kata tercampur dengan keinginan sendiri.
    Namun walapun memang itu jawaban dari Tuhan..jikalau Tuhan mau merubah rencanaNya (krn Dia tau apa yg akan terjadi nanti), itu adalah hak Tuhan penuh..tapi satu hal kita tau apapun ujungnya pasti untuk kebaikan kita.

    BalasHapus