Sabtu, 11 Februari 2012

Dari Anak Broken Home

“Orangtua saya terlalu sibuk dengan usaha mereka jadi tidak bisa terus-menerus memonitor anaknya,” demikian ungkap Timothy Jiko menjelaskan awal mula mengapa ia menjadi pria yang nakal dan urakan.
“Kampung saya itu bersebelahan dengan bioskop. Tidak jauh dari sana, terdapat juga komplek lokalisasi (pelacuran). Di situlah saya mendapatkan kehidupan yang baru dengan teman-teman baru. Kami ini bersaudara baik dalam musik, karya, tato, maupun botol. Jika salah satu di antara kami memiliki masalah, kami pasti bereaksi dengan itu”
Suatu hari, ada salah satu anggota kelompok Jiko yang dihajar oleh sejumlah preman. Mengetahui hal ini, pagi-pagi benar ia dan kawan-kawan langsung mencari orang-orang tersebut. Tanpa kesulitan, mereka akhirnya menemukan target mereka.
Mengetahui lawan sedang lengah karena baru saja pesta minuman keras, Jiko dan kawan-kawan langsung menghajar mereka dengan benda-benda tajam. Bahkan saking emosinya, Jiko tanpa belas kasihan membacok seteru kelompoknya itu.
Puas membalaskan dendam, ia dan kawanannya pergi meninggalkan lokasi. Mereka lari hingga ke luar kota demi terhindar dari polisi.
Di tempat persembunyian, Jiko bertemu dengan seorang gadis, namanya Ester. Wanita cantik ini begitu memikat hatinya. Kesederhanaan penampilan dan caranya berbicara membuat pria penuh tato ini jatuh hati kepada adik dari teman tongkrongannya tersebut. Gayung bersambut, sang gadis ternyata juga menyukainya. Tak lama, mereka akhirnya resmi berpacaran.
Selayaknya sepasang kekasih pada umumnya, keduanya menjalani hubungan dengan penuh kemesraan. Hari-hari Jiko dan Ester selalu diisi dengan kebersamaan di antara keduanya.
Melihat Kuasa Tuhan
Meski memiliki pacar yang berandalan, Ester adalah seorang yang religius. Kegiatan ibadah tak pernah sekali pun ditinggalkannya. Ia bahkan tak segan untuk berpamitan kepada Jiko dan teman-teman tongkrongannya agar bisa menghadiri pertemuan orang-orang percaya, yang lokasinya dekat dengan rumahnya.
Berbeda dari minggu-minggu biasanya, sang pacar ternyata ikut dengannya ke acara dimana ia biasanya hadir.
Jiko yang tidak mengetahui bahwa ia akan datang ke dalam sebuah kegiatan rohani pun dengan santai mengikuti kekasihnya. Sampai tiba di tempat yang dimaksud, ia kaget karena ternyata ia menghadiri sebuah pertemuan ibadah.
Demi berdekatan dengan Ester, ia tetap berada di sana. Acara demi acara pun dilewati satu per satu hingga tibalah waktu altar call dimana sang pendeta memanggil para jemaat yang sakit untuk maju ke depan agar bisa ia doakan.
Ketika itu Jiko masih cuek dengan keadaan sekitarnya sampai matanya melihat sepasang suami istri yang dikenalnya memiliki keterbatasan fisik. Ia tercengang begitu mengetahui kedua orang itu mengalami kesembuhan.
Peristiwa malam tersebut membuat ia tidak bisa tidur. Ia terus teringat dengan apa yang baru saja ia lihat. Keesokan paginya, ia pun menghubungi Ester dan menceritakan apa yang ia alami.
Mengetahui Allah sedang bekerja, Ester pun memberikan sebuah Alkitab kepada Jiko dan memintanya untuk dibaca. Ia pun menurutinya.
Satu pasal, dua pasal, tiga pasal, sampai tanpa disadari ia sudah membaca berpasal-pasal kitab. Kehausannya dalam mencari Tuhan yang begitu kuat membuat dirinya begitu menggebu-gebu mencari kebenaran di dalam Alkitab.
Konflik Batin
Seiring pencarian dirinya akan Tuhan, Jiko diperhadapkan sebuah realitas dimana teman-teman tongkrongannya memintanya untuk kembali ke kelompok mereka. Hal ini sangat berat baginya karena di satu sisi ia sedang menapak ke dalam hidup yang baru, tetapi di sini yang lain ia tidak bisa melepas kelompoknya. Ia berada di dalam sebuah dilema besar.
Meski berat, ia memutuskan berpisah dari teman-teman lamanya. Namun, itu tak bertahan lama karena Tuhan menyadarkannya bahwa hal itu adalah salah. Tak seharusnya ia meninggalkan rekan-rekannya. Sebaliknya, ia sepatutnya merangkul mereka dan membawa mereka mengenal Tuhan seperti dirinya.
Akhir Manis
Jiko pun mulai kembali mendekatkan diri kepada teman-temannya. Namun, penolakanlah yang ia terima dari para sahabatnya tersebut. Tak ingin mengulangi kesalahan di masa lalu, ia tetap mendekatkan diri dengan orang-orang yang pernah bersama-sama dengannya berbuat kejahatan.
Perlahan tapi pasti, titik terang itu nampak. Kasih yang ia tunjukkan lewat perbuatan kepada orang-orang yang hidup di jalanan menyentuh hati teman-temannya. Satu demi satu akhirnya mereka bertobat. Berkat tangan Tuhan, kehidupan ekonomi mereka berubah drastis. Mereka yang dulunya pengangguran, kini memiliki pekerjaan yang layak.
Jiko sendiri sekarang telah memiliki keluarga yang harmonis. Ia sangat bersyukur karena telah memiliki istri yang cantik, baik, dan pintar serta seorang anak yang sehat. Kepada timSolusi, ia pun mencurahkan isi hati mengenai kehidupan baru dan Tuhan yang dulu dia ragukan keberadaannya.
“Jadi, semua yang tidak pernah saya pikirkan, yang tidak pernah saya dengar, dan bahkan tidak pernah timbul di hati, Tuhan sediakan. Saya anggap saya ini orang paling hina, orang paling berdosa dibandingkan teman-teman saya. Justru oleh karena itu, Tuhan ada untuk saya, untuk menyelamatkan saya supaya saya ini mendapatkan kehidupan yang baru, kehidupan yang luar biasa berguna bagi siapa pun. Itulah Tuhan yang mengasihi saya, Tuhan yang saya kenal di dalam Yesus.”

Source : Jawaban.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar