Sabtu, 31 Maret 2012

13 Kali di Lawat Tuhan

13  KALI  DILAWAT  TUHAN YESUS

Sebelumnya kami menganut kepercayaan lain. Karena kasih dan karunia dari Allah Bapa kami mengucap syukur telah dibukakan mata hati, mata Batin dan Pemahaman untuk melihat adanya Kebenaran. Dan kami bersyukur telah diangkat, dipulihkan dan diselamatkan oleh Hadirat-Nya dan karena kasih karunia-Nya pula telah mengubahkan menjadi suka cita yang dari pada-Nya sejak kami memutuskan pada bulan Maret 2011 untuk menerima  Yesus  sebagai Tuhan dan Juru Selamat Kami.

Puji Tuhan tanggal 1 Mei 2011 ini kami di Baptis. Tuhan Yesus begitu baik, Kasih Kristus begitu nyata dirasakan dan DIA telah berkenan menyatakan Kemuliaan-Nya ditengah-tengah keluarga kami sedikitnya 13 kali (2 kali melalui mimpi dan sedikitnya 11 kali melalui penglihatan (berjumpa) saat sedang berdoa – Melihat Hadirat Tuhan Yesus dan dengan Penglihatan Spritual lainnya yang di izinkan-Nya).

Yeremia 33:3 ; “Berserulah  kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami,  yakni hal-hal yang tidak kauketahui.”



Melalui penulisan kesaksian ini izinkanlah saya menceritakan sebagian besar kesaksian hidup Kami kiranya dapat memberkati saudara/i sekalian yang dikasihi  Tuhan Yesus Kristus dimanapun berada.

Tanggal 7 Mei 2011;

Berselang 1 minggu usai dibaptis, kami dikunjungi oleh seorang penginjil dan dinasehati untuk membangun mesbah dalam keluarga, melakukan doa malam sebelum tidur dan doa pagi bersama isteri dengan saling bergenggaman tangan. Dengan merendahkan diri, dalam Bapa, Putra dan Roh Kudus kami sepakat dengan hati yang tulus dan bersuka cita dalam nama Yesus kami melakukannya setiap hari.

Tanggal 14 Mei 2011 (Sabtu);

Malam harinya melalui Istri diperlihatkannya melalui sebuah mimpi lawatan Tuhan Yesus ke rumah Kami. Yesus berdiri  di pintu Utama menghadap keruang tamu. Disana, Hadirat-Nya berjubah putih dan bercahaya, rambut-Nya bewarna keemasan, menakjubkan disertai timbulnya rasa damai, bahagia, dan penuh Suka Cita dihadapan-Nya. Tidak ada unsur rasa takut sedikitpun pada saat itu. Dia adalah sosok Penuh dengan Keagungan dan tatapan mata-Nya  penuh Kasih, penyayang  dan penuh damai.

Disana diperlihatkan juga sebuah aliran cahaya yang mengalir (kebawah) berwarna merah bagaikan mata air yang terus keluar mengalir dan warnanya bagai lahar emas yang bernyala-nyala. Jika diilustrasikan panjang dari aliran lahar emas ini dari atas yang mengalir turun kebawah diperlihatkan panjang berkisar 40-50 cm dan lebarnya sekitar 2 cm yang mengalir dan mengalir turun terus-menerus tanpa henti, terus mengalir dan berulang-ulang. Tidak ada kata-kata yang disampaikan-Nya, hanya kemuliaan yang menakjubkan dari apa yang dinyatakan-Nya.

Tanggal 15 Mei 2011 (Minggu);

Pagi, Alarm saya belum berbunyi saya sudah dibangunkan Istri dan menceritakan mimpinya tersebut kepada saya. Biasanya dia bangun lebih awal untuk mempersiapkan keperluan dan bekal keperluan Putri kami yang masih berusia 16 bulan (pada waktu itu) sebelum berangkat ke Gereja (GBI-PRJ), Kemayoran.

Bagi saya hal ini adalah berita baik bagi Kami, meskipun kami belum mengetahui apa makna yang Tuhan Yesus ingin sampaikan. Tetapi, Kami yakini dengan iman dan percaya Tuhan Yesus adalah pribadi yang memberikan jaminan keselamatan dan Sang Pendatang Berkat dan Kebaikan bagi umatnya yang percaya kepada-Nya titik.

Sepulang dari Gereja jam 11:00 WIB, karena hari ini tidak ada rencana dan tujuan jalan-jalan, kami putuskan pulang kerumah dan sempat tidur siang. Kedua kalinya melalui mimpi dinyatakan; Istri berada diteras rumah dan menatap kelangit, Tuhan Yesus, berjubah merah biru tampak duduk seperti sedang mengerjakan sesuatu dengan kedua tangan-Nya dan seperti di meja batu. Dan juga ada satu hal yang agak aneh, di kening Kepala-Nya berlilitkan atau terikat kain putih.

Tanggal 18 & 19 Mei 2011;

Dimulai dari hari ini, Isteri memperoleh karunia penglihatan, khususnya diizinkan melihat sesuatu saat berdoa dalam keadaan mata terpejam, tentunya hanya yang ingin diperlihatkan-Nya saja yang dapat dilihat olehnya. Saya memimpin doa malam dan doa pagi di setiap harinya. Pada tanggal 19 Mei 2011, saya agak terkejut katanya sudah dua hari berturut-turut dari tanggal 18 dan 19 Mei 2011 dia bisa merasakan melalui penglihatannya melihat Yesus berjubah putih disaat sedang berdoa Ia berada ditangga sedang berdiri (rumah kediaman kami) dan tangan kanan-Nya tampak sedang memegang gagang tangga. Saya masih tidak yakin dan bilang “Aaah… masa sih ?” dan dia masih tetap mempertahankan apa yang dilihatnya “Bener … itu Wajah Yesus yang saya pernah lihat di mimpi pertama kali!!!” katanya.

Tanggal 20& 21 Mei 2011;

Tanggal 20 Mei 2011, Penglihatan malam hari ini berbeda dengan Penglihatan 2 hari sebelumnya, Seusainya doa malam, dia menceritakan, katanya dia melihat Malaikat berjubah putih (dimensi penangkapan dalam penglihatannya kira-kira 1 jengkal orang dewasa dan berada di atas kepala kami).

Bahkan Istri saya tidak mempercayai penglihatannya sendiri ketika itu, disaat pejaman mata waktu berdoa itu, dia mencoba membuka pejaman matanya berharap dapat melihat kejadian tersebut dengan mata telanjang tetapi tidak bisa, karena hanya dapat dilihat dengan matanya yang tertutup. Tanggal 21 Mei (keesokan harinya), penglihatan yang serupa juga terjadi, yaitu melihat Malaikat yang sama dan berada di atas kepala.

Tanggal 29 Mei 2011;

Malam ini kami berdoa sampai 4 kali banyaknya, karena Istri saya menceritakan penglihatannya yang menakjubkan. Selesainya doa pertama kali, dia memperoleh penglihatan adanya Malaikat (seperti yang terlihat tgl 20 & 21 Mei 2011) berada diatas kami dan kali ini Ia menabur-naburkan kerlap-kerlipan bintang-bintang yang bercahaya. Hal ini seusainya diceritakan membuat kami terdiam, takjub dan kami dibuatnya terheran-heran dan dipenuhi tanda tanya kira-kira apa maknanya ya? Akan tetapi hal ini semakin menambah-nambahkan keyakinan, kepercayaa dan Iman kepada kami.

Setelah itu, Kami kembali berdoa mengucapkan syukur dan terimakasih serta sempat mempertanyakan apa arti semuanya ini. Seusainya kami berdoa, kembali dikatakannya ada sesuatu yang terjadi disaat sedang berdoa; dia melihat satu sosok iblis berjubah putih, posisi si iblis itu berada di dekat sisi kanan saya,  berambut panjang keriting berantakan dengan mata yang seperti bohlam lampu dan menyala. Iblis itu terlihat dipanah oleh Malaikat itu dan telah dikalahkannya, anak panahnya menancap disekitar bagian dada sang iblis tersebut dan kemudian tumbang terjatuh.

Saya tidak tau apa yang harus saya lakukan saat itu, Saya kembali melipatkan tangan dan menunduk kepala dan berdoa, isi doa saya pribadi malam itu adalah mengucap syukur dan pengakuan dosa dan meminta pengampunan kesalahan dan dosa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan.

Ternyata belum selesai, setelah saya berdoa selesai, kembali Isteri menceritakan penglihatan berikutnya (penglihatan yang terjadi disaat saya sedang berdoa); Tidak jauh disebelah sisi kiri depan saya ada 2 sosok iblis yang sama berbaju putih-putih dan bagian wajahnya tidak tampak jelas, tiba-tiba terkedua iblis tersebut seluruh tubuh dan jubahnya berubah menjadi hangus. Kemudian setelah iblis-iblis itu di kalahkan, selanjutnya terlihat muncul sorotan cahaya seperti senter yang datang dari atas langit dan tertuju kepada diri saya (pada saat itu saya sedang duduk berdoa). Penglihatan demi penglihatan yang diijinkan-Nya tersebut diatas dilihat dalam keadaan mata terpejam.

Iblis pertama terpanah dan dikalahkannya, kemudian hangusnya kedua iblis itu tidak terlihat adanya sumber api yang menghanguskannya, tapi tiba-tiba menjadi hangus, saya percaya hangus dengan sendirinya itu adalah karena besarnya kuasa doa (kekuatan kuasa doa) yang sanggup mengubahkan, memulihkan dan memerdekakan.

Kami sempat mempertanyakan, kira-kira roh-roh yang dikalahkan, dijatuhkan dan diruntuhkan tersebut darimana asalnya? Mungkin itu adalah roh jahat yang selalu hadir dalam diri manusia dan mengendalikan pribadi-pribadi yang jauh dari Tuhan, sehingga tingkah laku, perbuatan, sifat orang-orang tersebut menjadi tidak baik, cenderung mengandalkan kekuatan sendiri dan mudah dikendalikan oleh si jahat. Saya bersyukur apa bila itu adalah roh jahat yang ada pada diri saya, maka roh-roh tersebut berarti telah di runtuhkan/dipatahkan dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

Terakhir, Kami kembali berdoa keempat kalinya, mensyukurinya dan berterima kasih kepada Allah Bapa di Surga, karena Kasih dan Karunia-Nya yang teramat besar serta perlindungan-Nya yang sempurna, sehingga Anda dan kami  dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib dan diberikan-Nya keselamatan dari pada-Nya atas Kita semua.

Suatu hal yang tidak masuk akal logika, karena memang yang saya kenal istri saya ini dia tidak suka berimajinasi yang macam-macam atau tidak ada semacam stimulasi yang merangsang fikirannya kearah imajinasi tersebut apakah disebabkan karena telah melihat film atau apapun dan kemudian mengarah kepada kerangka atau sistematis pemikiran atau hayalan yang timbul seperti apa yang diceritakan dalam penglihatan-penglihatannya tersebut.

Tanggal 1 Juni 2011;

Tanggal 2 Juni 2011 adalah Hari Kenaikan Yesus Kristus. Tanggal 1 Juni 2011 tengah malam Tuhan Yesus kembali menyatakan diri-Nya lagi dengan tubuh-Nya yang Sangat Besar di hadapan kami saat doa malam.

Pada malam ini, kami sangat bersuka cita sekali, karena telah di ijinkan melihat kemuliaan-Nya, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya dengan sosok yang sangat-sangat besar sekali dan berjubah putih. Tubuh-Nya yang sangat Besar sekali dan tinggi itu, sampai-sampai kepala Isteri saya melihat dan menengadah keatas setinggi-tingginya, tetapi karena terlampau begitu besar dan tinggi, wajah-Nya tidak dapat terlihat. Di Tangan-Nya tampak sedang menggendong kami (terlihat seperti menggendong bayi). Terlihat dengan jelas di gendongan tangan-Nya ada Saya, Isteri, Putri kami, Mama mertua dan Kakak perempuan saya. Bayangkan dalam gendongan-Nya kami sedang tertidur dengan sangat lelap dalam dekapan-Nya dan kami semua sedang berpakaian putih-putih.

Kemudian kami diteguhkan melalui firman Tuhan pada kitab Yesaya 46 : 4  tertulis : Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

Kebetulan sekali pada saat kami dibabtis tanggal 1 Mei 2011 kami hanya bertiga:  Saya, Isteri dan Mama mertua saja. Karena kuasanya yang besar Tuhan Yesus menyatakan kepada kami bahwa yang percaya kepada-Nya lah yang akan diberikan Keselamatan dari pada-Nya. Mengenai kakak perempuan saya yang ada dalam gendongan-Nya itu, Puji syukur sudah menerima Tuhan Yesus. Tetapi, yang tidak tampak dalam gendongan-Nya: Bapak mertua beserta anggota keluarga dan Orang tua saya  belum menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi mereka.

Didalam doa, kami percaya dengan iman, dalam nama Tuhan Yesus tidak ada yang mustahil, Tuhan Yesus akan menjamah dan membukakan mata hati, batin dan pemahaman mereka agar cahaya terang Yesus Kristus datang menyinari kegelapan kehidupan mereka. Keluarga kami dan kita semua akan diselamatkan oleh Tuhan Yesus, Amin.

Tanggal 6  Juni 2011;

Setiap doa kami selalu menaikkan doa untuk Orang Tua dan keluarga kami yang belum menerima Tuhan Yesus, dalam setiap doa Kami selalu meminta agar orang yang kami kasihi tersebut dilawat, dijamah oleh Tuhan Yesus dan dihujani pertobatan bagi mereka.

Pada malam ini juga memperoleh penglihatan yang mengagumkan pada saat berdoa malam, katanya penglihatan itu muncul ketika saya sedang mengucapkan doa minta Tuhan Yesus mengangkat dan menyelamatkan mereka (Orang tua dan keluarga) dari jalan kegelapan dalam ketersesatan mereka, dan memohon belas kasihan terang Yesus dapat menyinari kehidupan mereka.

Tepat saat dalam pengucapan doa permohonan itu juga, merasakan melihat Tuhan Yesus berjubah putih dengan tubuh-Nya yang bercahaya terang, memasuki seperti pintu menuju bawah tanah yang teramat gelap dan melangkahkan kaki-Nya turun kebawah. Bagian-bagian tempat yang dilalui menyerupai anak tangga kebawah tanah, dan dididing batu dan tanah yang telah dilalui-Nya berubah menjadi terang bercahaya kilau keemasan mengikuti-Nya disepanjang jalan Yesus melangkahkan kaki-Nya.

_______________

(Mazmur 139:7-10), Kemana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, kemana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki kelangit, Engkau disana; jika aku menaruh tempat tidurku didunia orang mati, disitupun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman diujung laut, juga disana tangan-Mu akan menuntun aku.

Tanggal 16 Oktober 2011, Kami baru saja pindahan rumah dari Jakarta Pusat ke salah satu perumahan di Jakarta Barat.  Sebelumnya kami sempat menyayangkan harus menjual rumah tersebut, rumah yang sudah pernah dilawat Tuhan dan harus pindah kerumah yang lain. Syukur Tuhan menyediakan rumah yang lebih baik dari sebelumnya dan lebih rendah harganya, pada rumah yang baru ini juga hingga hari ini sudah sebanyak 2 kali Yesus Tuhan menyatakan Hadirat-Nya kembali dan Kesetiaan-Nya sesuai  Janji-Nya kepada kita bahwa Tuhan Yesus tetap akan setia dimanapun kita berada dan penyertaan-Nya tetap berada disepanjang jalan Kita. Kami betapa sangat tersentuhnya dan begitu terharu luar biasa sekali, karena Tuhan begitu teramat baiknya dan melalui keperkenanan-Nya bersedia melawat keluarga kami.

(Matius 28:20), dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Tanggal 17 Oktober 2011;

(Lukas 3:21-22), Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Dimalam kedua dirumah baru, saat berdoa, kami diberi penglihatan indah dan ajaib; yaitu penglihatan seekor Burung Merpati Putih sedang mengepak-ngepakkan sayap-Nya dan dari sayap-Nya ditabur-taburkannya semacam serbuk halus emas-emas yang berjatuhan dan bercahaya kerlap-kerlip nan indah diatas kepala tempat kami berdoa. Sementara itu, bayangkan Burung Merpati itu membawa sebuah Keranjang putih dan berikatkan semacam tali putih yang dijepitkan dimulut-Nya. Keranjang itu berisi sesuatu yang kami tidak tau apa itu, terlihat seperti (semacam) kapas putih bersih dan ranjang itu terisi penuh.

(bila Anda Ingin Melihat Ilustrasi Gambar Burung Merpati Putih seperti penglihatan diatas silahkan kunjungi : www.lukisanyesusrohkudus.blogspot.com)



Tanggal 26 November 2011 (Sabtu malam);

(Matius 18 : 20) tertulis “Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku disitu Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Kami mengundang beberapa teman kantor untuk melakukan Syukuran dan Pemberkatan rumah tinggal baru, Persekutuan Doa dan Pujian penyembahan dimulai pukul 8 malam. Kami, berjumlah sebanyak 12 orang dan duduk dilantai membentuk lingkaran.

Ketika saat Pujian Penyembahan sedang berlangsung, Tuhan Yesus telah menyatakan kemuliaan diri-Nya ditengah-tengah kami, setengah tubuh (dari atas kepala hingga bagian dibawah pinggang) berjubah Putih. Terlihat kedua tangan-Nya dibentangkan kekanan dan kiri, dan wajah-Nya menatap kearah lingkaran yg kami bentuk (tempat dimana kami melaksanakan Pujian Penyembahan). Tidak hanya wajah-Nya yang menatap kearah pelaksanaan pujian penyembahan yang sedang kami lakukan, tetapi Wajah-Nya juga tampak kemudian menatap ke Atas Langit (dan Posisi bentangan tangan-Nya tidak berubah).

Tidak hanya itu, lagu pujian yang kami dinaikkan saat itu menjadi berubah/diubahkan dan Sangat begitu Indahnya terdengar ditelinga Isteri saya. Lagu pujian yang kami nyanyikan itu terdengar begitu “Bulat” dan dijadikannya sebegitu sempurna terdengar ditelinga seperti berada di dalam ruangan yang tanpa cela lubang sedikitpun, “bulat terdengar”. Suara nyanyian itu tidak dapat dilukiskan betapa begitu indahannya terdengar ditelinga.  Halleluya.

16 Januari 2012;

(Markus 11:22-23), Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah kedalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu : apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

Dokter kandungan memastikan bahwa 100% bayi yang sedang dikandung saat ini adalah berjenis kelamin Laki-laki setelah dilakukan USG dan telah berusia kira-kira 18 minggu. Maka genaplah penglihatan persis 18 minggu yang lalu (terhitung sesuai dari hari diberinya penglihatan tersebut), bahwa didalam penglihatannya; menyoroti seorang bayi lucu yang baru saja dilahirkan dan dia berjenis kelamin laki-laki. Anak pertama kami adalah seorang putri, maka Tuhan telah melengkapi kebahagiaan kami dengan dikaruniakannya sepasang anak, Putra dan Putri.

Saya mengimani dan mempercayainya, dan kemudian kami beritakan kabar baik ini kepada keluarga, kerabat, teman dan rekan-rekan lainnya bahwa anak kedua kami adalah berjenis kelamin laki-laki (jauh sebelum dokter menyatakannya). Kami perkatakan didalam doa, bahwa Kita yang percaya, mengandalkan dan bersandar kepada Allah Bapa didalam nama Tuhan Yesus Kristus tidak akan sekali-kali dipermalukan oleh-Nya.

(Yeremia 10:10), Tetapi Tuhan adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena Murka-Nya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya.

“Tuhan Yesus engkau sungguh Allah yang hidup”. “Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau sungguh Eloim yang hidup dan ajaib, terpujilah nama-Mu Segala Hormat dan Kemuliaan hanya bagi Mu kekal sampai selamanya, Amin!”

Akhir kata, mari kita terus naikkan Puji dan Syukur bagi-Nya karena kita semua memiliki Tuhan dan Allah yang “Hidup”, saya rasa kita semua setuju dan sependapat bahwa Kebesaran dan Kuasa-Nya itu tidak dapat disetarakan dengan apapun bahkan tidak dapat diterjemahkan oleh kata-kata dalam bahasa apapun di atas bumi ini. Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya, dan tidak ada yang sia-sia pada apa yang telah kita perbuat didalam nama-Nya. Dan mari selalu berusaha melayakkan diri dihadapan-Nya, agar perkenanan Tuhan selalu menyertai kita, Amin.

(Mazmur 139:14) Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Sekian
Source : Cerita Kristen.com

Cerita Mengharukan di Hari Natal

Diambil dari cerita nyata………

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah yang berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, sahabatnya. Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut. “Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke Sekolah?”

“Ya, Bapa Pendeta!” balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut. Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, “Jangan menyebrang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat.”

“Terima kasih, Bapa Pendeta.” “Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?” “Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku.”

Dan Pendeta tersebut meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tetapi pastur tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

“Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanya kue ini. Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar. Lihat ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa……. paling tidak aku tetap dapatpergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi. Tolong Tuhan.

Oh, ya..Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu. Tuhan, Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan….??? Tolong jangan marahi ibuku, ya…..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku.

Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku. Hei.ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira??? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang.” Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta .

“Bapa Pendeta..Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!” Kegiatan tersebut berlangsung setiaphari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif. Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat.

Mereka juga mengutuki orang yang menyinggung mereka. Ketika mereka sedang berdoa, Andypun tiba di Gereja tersebut usai menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan..Aku..” “Kurang ajar kamu, bocah!!!tidakkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa???!!! Keluar, kamu!!!!!” Andy begitu terkejut,”Dimana Bapa Pendeta Agaton..??Seharusnya dia membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah untukNya..”

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja. “Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!” Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja.

……Lalu dia menyeberang, tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang – disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar.dan Andypun tewas seketika……….

Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi. Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata dating dan memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,”Maaf tuan..apakah anda keluarga dari bocah yang malang ini? Apakah anda mengenalnya?” Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam berkata,”Dia adalah sahabatku.” Hanya itulah yang dikatakan. Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang ada disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..

Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan. Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua Andy. “Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?” “Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” Ucap ibu Andy terisak.

“Apa katanya?” Ayah Andy berkata,”Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy, sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia membisikkan sesuatu.

“Apa yang dikatakan?” “Dia berkata kepada putraku..” Ujar sang Ayah. “Terima kasih buat kadonya. Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.” Dan sang ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong Bapa Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik,”Dia tidak berbicara kepada siapa-siapa… kecuali dengan Tuhan.”

source : AkuPercaya.com

Jumat, 30 Maret 2012

Sebuah Petualangan Iman Hingga Menemui Mujizat Tuhan



Rev. Wilco Salam Karijodiwirijo, MDIV
Nama saya: Pdt. Wilco Salam Karijodiwirijo,MDiv. (  lulusan Master of Divinity) dari STT “I-3”, Mei tahun 1994, Batu-Malang, Indonesia. Saya kelahiran tanggal 10 November 1963, di Plantage Zoelen, Distrikt Commewijne, Republik Suriname. Isteri saya bernama Pdt. Nonkaryaning Cipto Asri Karijodiwirijo-Sucipto,STh., kelahiran tanggal 21 Februari 1965. Grace Emawati Karijodiwirijo, putri kami kelahiran Jakarta, tanggal 2 October 1997.
Sekembalinya kami sampai di Tanah Republik Suriname pada tanggal 20 Maret 2001, kami melayani dengan GKJ Moravian Suriname, hingga sekarang ! TUHAN mempersentajai kami dengan kehidupan iman yang kukuh, khususnya isteri saya yang cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, kendatipun tidak lepas dari pergumulan banyak, bahkan sakit-penyakitpun tidak terlepas dari kehidupannya! Di situlah awal perjalanan, bagaimana tersebut memasuki lembah yang terdalam dan pekat, tapi TANGAN TUHAN TIDAK MELAPASKAN KAMI! Setelah dinyatakan penyakitnya yang sungguh amat mengkhawatirkan jiwa dan nyawanya tersebut, kami tidak tinggal diam ( SEMENTARA SAYA KISAHKAN MELALUI PETIKAN KOMPUTER INI, KAMI DISERTAI DENGAN ALIRAN TANGISAN AIR MATA!). Rabu, Tanggal 29 April 2009, pukul : 10:00 am kami terbengong mendengarkan ucapan si dokter, ahli oncologi, bahwa isteri saya sudah stadium tak hampir saja tertolong. HARUS AMPUTASI bagian payu dara kanan, atau,….. ( Bapak/Ibu bisa mengisinya sendiri!!!). Kami tidak ragu-ragu mengatakan: “ DEMI HIDUPNYA isteriku, silahkan Bapak Dokter lakukan yang terbaik, dalam naungan pertolongan TUHAN! TUHAN memberikanku kekuatan yang luar biasa, sehingga masih mampu mengendarai mobil pulang. Semua teman atau rekan sepelayanan,… bahkan Ketua Sinode,…  kami tilpon untuk menelepon seluruh rekan seperjuangan mengenai berita ini untuk masuk dalam perjuangan doa buat tindakan operasi ini. Apalagi putri kami Grace harus dikasihtahu berita  yang tak begitu menggembirakan itu, sebab Grace ( putri kami)  sedang persiapan ujian Negara kelas SD 6. Dengan berat hati dan aliran air mata, kami sampaikanberita itu kepadanya. Grace pun berdiam sejenak,… lalu kami semua menangis. Sore hari itu juga pukul 17:00 pm. , kami larikan isteri saya ke Rumah Sakit Diakonessen ziekenhuis,… tinggal tunggu detik-detik opname dan perjalanannya. Semua urusannya berjalan dengan lancer. Sampai pukul 20:00 pm saya dan putri saya mendampingi isteri saya. Keesokan harinya, - Hari Kamis, tanggal 30 April 2009 -, tibalah FINAL COUNTDOWN buat isteri saya masuk OK ( Operasi kamar). Semua hal menyangkut tindakan penyelamatan lewat jalan/jalur medis telah SIAP! Kami semua berkusuk di dalam perjuangan doa. Isteri saya pagi-pagi benar masuk ruang anasthesi, lalu pada pukul 10:00 am mulailah pengerjaannya. Saya berkali-kali check dengan zuster utama, bagaimana keadaan atau kondisi dan situasi isteri saya hingga jam operasi ke-empatpun belum keluar ruang OK. Baru setelah enam jam operasi yang berat itu, bisa keluar dar ruang operasi, dan pemulihan diri. Lalu pukul 16:00 pm. sore hari dikembalikan ke ruang zaal! Kami semua duduk terdiam, melihat kebesaran dan keagungan TUHAN,- DIA SANG YEHOWAH-RAPHA yang memakai tangan dokter berbuat tindakan semua itu! Sekitar pukul 18:00 pm istri saya baru dapat sakadarkan diri dari narkose. Kami semua gembira dan bersyukur kepada TUHAN atas perbuatan-Nya yang ajaib itu!
Rev. Wilco Salam KarijodiwirijoSepuluh hari proses pemulihan di rumah sakit, … dan yang menakjubkan ialah, ketika saya menanyakan dokter zaal, obat apakah yang diberikan kepada isteri saya, lalu beliau berkata: “ hanya ini, Pak,… 4 kali 2 tablet decolgen ( Paracetamol),…ya,… obatnya hanya itu saja! Alangkah luar biasanya tangan TUHAN kita itu! Darah yang mengalir di dalam diri isteri saya ialah DARAH YESUS YANG SENDIRI MEMULIHKANNYA! Tanggal Jum’at, 8 Mei 2009, isteri saya diperbolehkan pulang! Lalu berobat jalan! Saran dokter oncology beserta dokter internisnya ialah untuk menjalani 6 kali kur Chemoterapi!
Tanggal 1 Juni 2009, isteri saya divonis untuk mendapatkan penyinaran ( bestraling ) di Colombia! Kami semua jadi gundah-gulana! Semua persiapan dilakukan dalam tempo seminggu saja! TUHAN katakan untuk membereskan segala sesuatu yang salah dan mengampuni yang bersalah pada dirinya. Terus terang, semua dijalankan dengan ketaatan pada pimpinan ROH KHUDUS! 

Senin, tanggal 8 Juni 2009, kami disambar bagiakan “petir di siang bolong”, ketika dokter onkoloog tersebut menyatakan bahwa kepergian ke Colombia tidak perlu lagi, tinggal waktu saja yang menentukan,… Berita tersebut membuat kami tidak gusar,… isteri saya kembali tilpon Ketua Sinode, lalu minta back up para pendeta yang ada! Siang hari perlu di-MRC scan. Itupun sito! Janjinya pukul 15:00 pm. Kami bawa diri kami, pertama ke rekan pendeta di kantornya dan bersatu di dalam doa,… kemudian ke salah seorang pendeta senior, bernama  Bapak Paul Doth bersama isterinya dan rekan pendoa syafa’at di kediamannya sekitar pukul 13:00 hingga 14:30 uur pm.  Beliau katakan TUHAN sendiri harus nge-scan terlebih dahulu! Pukul 15:00 uur pm. hingga 16:00 pm. Isteri saya harus masuk tube-scan yang besar itu. Diputarnya bolak-balik, lalu isteri saya bernyanyi: “ADA KUASA DALAM DARAHNYA,… DARAH  DOMBA ALLAH!” Dokter radiolog tersebut terkejut, karena di samping suara isteri saya,… terdengar dengungan yang jelas, suara yang mendampingi suara isteri saya, bagaikan kisah Sadrach, Mesach, Abednego, ketika Raja Nebukadnezar menyatakan: “ Lihatlah, bukan tiga orang yang masuk Perapian itu, mengapakah saya lihat ada seorang, yang kelihatan bagaikan SEORANG ANAK ALLAH…!” Seperti itulah terucap oleh mereka, bahwa mereka mendengar suara SEORANG ANAK ALLAH!  CD-ROM Scannya kami harus ambil hari berikutnya. Malam hari kami kedatangan berapa pendoa sya’at yang membawa isteri saya ke hadirat tahkta kemurahan TUHAN! Dari foto yang saya ambil dan dalam realitas hidupnya, tangan TUHAN menopang dan menyokong isteri saya. 

Selasa, tanggal 9 Juni 2009, pukul 08:00-10:00 am, isteri saya melapor diri ke ruang pengambilan suntikan chemoterapi untk pertama kalinya sesuai dengan proyeksi dan penentuan dokter internis itu. Zuster Satie Martoredjo, yang membantu dengan penyuntikannya pun menangis terseguk-seguk,… tak tahankan, apa yang terjadi! Kami bawa dengan beberapa hamba TUHAN isteri saya ke hadirat TUHAN, dengan mengatakan: “ IBU NON,… Kamu tidak akan mati, tapi hidup! [ Hal ini dikatakan oleh Pendeta Johannes Martoredjo, adiknya Ibu Satie tadi!] Penyuntikannya berjalan 2 jam lamanya! Setelah itu, isteri saya masih dapat kekuatan untuk berjalan ambil hasil CD ROM Scannya di rumah sakit lain, lalu balik ke tempat rumah sakit yang satunya, di mana dia dapat chemo tadi. Sekitar pukul 17:00 pm, terasa tak tertahankan lagi; efek chemo tersebut bagaikan virus yang merajalela di dalam tubuh isteri saya. Kami terus minta bantuan dan back up doa. Tak bisa buat apa-apa lagi! Pada malam harinya ada beberapa orang berkunjung untuk nengok/besuk isteri saya. Sekitar pukul 20:00 uur dia harus ke kamar kecil, tapi keadaan sudah letih lesu dan tak mampu tertahankan lagi. Putri kami, Grace,… dengan kekuatan akhirnya membawa ibunya untuk berbaring di tempat tidur.

PUKUL 20:45 pm, ketika beberapa ibu majelis mohon pamitan, saya melihat bahwa isteri saya sedang bincang-bincang dengan dirinya sendiri. Seorang ibu majelis berkata: “ Pak, …, tariklah kemolnya buat Ibu Non,… dia terasa dingin dan sakit!” Lalu ROH TUHAN mengilhamkan saya: “ TIDAK, IBU MARTINI,… IBU NON SIBUK BINCANG-BINCANG DENGAN TUHAN! BENAR SEKALI!” Pada saat itu, datanglah SINAR KEMULIAAN TUHAN, DAN TUHAN YESUS SENDIRI DATANG DENGAN MUJIZAT PENYINARANNYA UNTUK MENYETUH BAGIAN YANG SAKIT! Isteri saya lalu berkata: dalam Bahasa Belanda: “ DAT LICHT! DAT LICHT!!...!” [ Artinya: “ “SINAR ITU! SINAR ITU!!!”] Sementara itu,… isteri saya duduk di tempat tidur, sambil menceriterakan KISAK NYATA PENYINARAN DAN SENTUHAN MUJIZATNYA ATAS isteri saya!

Esok subuh harinya, pukul 04:00 am, isteri saya bangun dari tidurnya dan langsung segar, bisa lakukan semuanya dengan kekuatan sendiri, tanpa dipapa oleh siapapun!

BERITA mujizat tersebut bergema ke mana-mana puin tempat! Tanggal, 22 Juni 2009, kami menghadap dokter onkolog tersebut, setelah kami menunggu-nunggu hasil SCANnya, presis dua mingga setelah pengambilannya! Lalu beliau menegor isteri saya: “HELLOO,… IBU NON,… Mengapakah kamu terdiam begitu saja!” Isteri saya tanyakan kepada dokter: “ Dokter DOES,… apa artinya semua ini? Apakah Dokter kasih harapan saya hanya hidup 10 % atau 90 saja dan harus…… ? Atau 90 % harapan hidup atau 10 % harus….. meninggal!” Lalu dokter DOES menjawab: “ TIDAK! Hasil MRC SCAN nya menyatakan, bahwa IBU NON,… KAMU SEMBUH TOTAL! TIDAK ADA PENYEBARAN KANKER! Secara medis dan klinis, kamu bersih! !” Hanya SATU kata kami ucapkan: “TERIMA KASIH, TUHAN!” Lalu dokter DOES, sambil bergurau berkata: “ PERCAYALAH DAN TETAP PERCAYA PADA TUHAN INI! Kami pulang bagaikan orang yang terlepas dari tawanan dan tekanan! Kami serukan di ruangan itu, bahwa kita  menyembah ALLAH yang maha besar dan kami nyanyikan tanpa malu-malu refrain lagu ini: “KAMI MEMUJI KEBESARAN-MU! AJAIB TUHAN, AJAIB TUHAN!” 

Demikianlah KISAH NYATA KESEMBUHAN TUHAN ATAS DIRI ISTERINYA, dan perwujudan doa anak/putri kami, yang ketika itu berkata: “MAMA,…. MAMA BERDOA UNTUK ORANG LAIN DISEMBUHKAN! LALU, MAMA,… BERDOALAH UNTUK MUJIZAT KESEMBUHAN TUHAN! Lalu hal itu telah terjadi pada isteri saya!

Kiranya KIsah Nyata ini menjadi perenungan yang dalam dan menjadi berkat besar buat setiap orang yang mendengar dan membacanya, dan kami pegang kata-kata dalam Praise and Worship penyanyi Gospel wahid DON MOEN: 

“EVEN YOU’VE THE BAD NEWS, BY SAYING THAT YOUR SICKNESS IS INCURABLE, BUT GOD IS MORE THAN ANY SICKNESS, THAT YOU CAN MENTION ! HE IS MORE THAN CANCER!”

Terima kasih untuk bisa share dengan semua orang beriman di GBI Jemaat Gatot Soebroto. YES, OUR GOD is THE GOD of WONDERS and MIRACLES!” Halleluyah! AMEN!”

Dituliskan oleh, 
Bapak Pdt. Wilco Salam Karijodiwirijo, MDIV.
Pastorie “GKJ “DUTA WATJANA der EBGS (Moravian Church Suriname), 
Source : yamari.org

Selasa, 27 Maret 2012

Kesaksian dari Kerusuhan Mei 1998



Kesaksian ini dibagi menjadi 3 bagian:
1. 12 Mei 1998
Penginjilan kepada nenek, di saat-saat terakhir sebelum beliau meninggal dunia.
2. 13 Mei 1998
Tangan Tuhan yang menyertai pada awal kerusuhan.
3. 14 Mei 1998
Tuhan menyertai saat evakuasi korban kerusuhan.

1. 12 Mei 1998
Penginjilan kepada nenek, di saat-saat terakhir sebelum beliau meninggal dunia.
Nenek istri saya sedang dirawat di R.S. Sumber Waras, Grogol, karena menderita penyakit paru-paru. Ketika ada berita bahwa beliau koma, saya segera menuju ke sana sekitar pk.18.00. Setiba di rumah sakit, saya melihat ada kerumunan orang di UGD (Unit Gawat Darurat). Saya terus menuju ruang perawatan dan menemui beliau yang nafasnya sudah tidak teratur, tetapi masih sadar. Di ruang tersebut ada seorang suster dan temannya. Saya meminta kedua orang tersebut meninggalkan kami berdua, karena saya ingin berbicara dengan beliau. Setelah itu, saya mulai menginjili beliau dan mengabarkan kabar sukacita di dalam Kristus. Beliau adalah seorang yang sangat keras terhadap kekristenan. Namun, walaupun beliau keras terhadap kekristenan, satu hal yang membuat saya bahagia ialah bahwa beliau sangat senang terhadap saya. Beliau senang meminta pertolongan kepada saya, dan saya berusaha tidak pernah menolaknya, bahkan dengan senang hati saya berinisiatif untuk menolongnya, walaupun tanpa diminta terlebih dahulu.

Saat saya menginjili beliau, saya melihat suatu hal yang sangat menyentuh hati saya ketika seseorang hendak meninggalkan dunia yang fana ini menuju kepada suatu tempat yang tidak diketahuinya. Saya menginjili beliau dengan bahasa yang sangat sederhana, namun beliau cukup antusias untuk menerima Kristus di saat-saat terakhirnya. Ada secercah harapan dan sikap pasrah menanti ajal menjemputnya. Namun terlebih dari itu, ada juga suatu kekuatan baru untuk menanti datangnya maut, yaitu kekuatan dari sesuatu yang belum pernah secara langsung didengarnya selama hidupnya. Yang beliau ketahui adalah kekristenan adalah suatu agama yang menolak penyembahan kepada leluhur, tanpa pernah mendengar siapakah Kristus yang sesungguhnya.

Banyak orang yang membenci Kristus tanpa pernah mengetahui Siapakah Dia. Jikalau orang mengetahui siapakah Dia sesungguhnya, maka tak ada alasan yang cukup untuk membencinya. Kristus begitu baik. Tidak ada yang dapat menyamai kasih-Nya, yang sampai rela mengorbankan nyawa-Nya untuk meredakan murka Allah atas dosa. Kutukan, siksaan, aniaya ditimpakan kepada-Nya. Saya pernah beberapa kali melihat dan melayani beberapa orang yang akan meninggal. Suatu kengerian yang amat sangat, jikalau tanpa kepastian, kemana kita akan pergi dan kepada siapa kita akan kembali. Sebuah pertanyaan yang tidak pernah terjawab sepanjang sejarah. Jikalau ada jawaban, itupun tidak tegas terjawab, kecuali melalui seorang yang pernah datang ke dunia, pencipta dan pemilik alam semesta yang pernah datang menghampiri ciptaan-Nya.

Setelah berdoa, saya berpamitan pulang. Sebelum keluar dari rumah sakit, saya sempat menuju UGD dan bertanya ada kejadian apa di sini. Ternyata ada beberapa mahasiswa yang tertembak dan 6 orang di antaranya meninggal. Suara jerit dan tangis dari pihak keluarga sangat menyentuh hati, karena anak mereka mati dengan cara yang mengenaskan setelah berjuang menuntut reformasi. Pikiran saya mengatakan bahwa besok bisa terjadi suatu kejadian dahsyat yang belum pernah terjadi selama ini.

2. 13 Mei 1998
Tangan Tuhan yang menyertai pada awal kerusuhan
Tanggal 13 Mei, pk. 06.30, nenek meninggal dunia. Pk.09.00 saya tiba di rumah sakit dan langsung menuju kamar jenazah, tetapi saya tidak mendapatkannya, karena beliau sudah dipindahkan ke Rumah Duka Gedong Panjang, Pluit. Saya menuju ke rumah duka lewat Grogol. Saat itu belum terjadi apa-apa di Grogol. Tak berapa lama di Rumah Duka, saya pulang. Pada pk. 14.00, saya kembali ke rumah duka bersama ayah mertua saya untuk mengurus surat-surat dan lain-lain. Ketika menunggu di sana, saya mendengar bahwa pompa bensin di Grogol sudah dibakar dan massa sedang menuju arah Pluit. Saya berpikir itu hanya isu, tetapi berita itu semakin gencar. Pegawai rumah duka menyarankan agar saya menunggu di sana sampai keadaan aman. Tapi karena teringat anak dan istri saya di rumah, akhirnya pk 16.30 saya pulang dengan melewati Jalan Gedong Panjang (Tanah Pasir) menuju Jembatan Lima (rumah mertua saya). Ketika baru berjalan, tak jauh, saya melihat kemacetan yang luar biasa, dan saya melihat ada seorang yang memberi kode agar kendaraan berputar (jangan lewat jalan itu). Saya berpikir sebentar, lalu saya segera berbalik arah dan mengambil jalan kota (Stasiun Kota). Ada dua sepeda motor yang mengikuti kode tersebut. Jalan sangat sepi sampai akhirnya saya tiba dengan selamat di rumah.

Saya mendengar bahwa massa sudah membakar mobil-mobil di Jalan Jembatan Lima. Saya teringat akan orang yang memberi kode di lampu merah tadi (di bawah jalan tol). Apa yang akan terjadi bila saya tetap melewati jalan tersebut, yaitu Jembatan Lima? Dari situ saya melihat campur tangan Tuhan kepada saya. Terima kasih Tuhan atas belas kasihan dan anugerah-Mu!

3. 14 Mei 1998Tuhan menyertai saat evakuasi korban kerusuhan.
Esok harinya (14 Mei) adalah rencana upacara penutupan peti jenazah di rumah duka pada pk. 19.00. Ternyata kerusuhan berlanjut mulai pagi sekitar pk.10, sehingga upacara dimajukan menjadi pk. 14.00. Tidak ada satu orang pun dari keluarga kami yang dapat keluar rumah akibat kerusuhan yang kian dahsyat itu.

Saya bersama keluarga istri saya berkumpul di rumah saudara di Jl. Kemurnian. Kerusuhan terus berlanjut sampai malam hari. Pk. 18.00, saya pulang ke rumah yang berjarak +2 km untuk berkumpul dengan anak dan istri saya. Tetapi pada pk. 19 saya mendapat kabar bahwa sepupu istri saya, yang tinggal di Pinangsia Dalam, terjebak dan tidak dapat keluar dari kompleks perumahannya. Mendengar hal itu saya ingin menolong, tetapi bagaimana dengan keselamatan saya sendiri? Namun saya tidak boleh bersikap egois, saya berdoa kepada Tuhan agar diberi kekuatan untuk dapat menolong sepupu istri saya. Setelah mempersiapkan peralatan berupa lampu senter, tali dll., saya menuju Pinangsia. Saya melihat ribuan orang tengah menjarah toko-toko (terutama barang elektronik) di Glodok. Mereka bolak-balik menuju Glodok dan mengambil barang-barang di sana dengan semangat tinggi tanpa peduli keadaan sekitar. Moral dan etika sudah tidak berlaku lagi, ketika banyak orang bersama-sama berbuat jahat. Mereka bahu-membahu dan dengan riang membawa hasil jarahannya.

Sesampainya di Glodok, saya kesulitan melewati tempat tersebut, sebab di sana sangat gelap dan penuh dengan asap. Saya mencoba menerobos, tetapi napas dan mata saya tidak kuat. Akhirnya saya menutup hidung dengan saputangan dan menarik napas dalam-dalam agar saya dapat menerobos asap ersebut. Berhasil! Terima kasih Tuhan! Rintangan pertama sudah dilalui, tetapi ketika sampai di Pinangsia Dalam, saya benar-benar tidak dapat menjangkau tempat tersebut. Ternyata rumah sepupu istri saya sudah terbakar. Saya berpikir bahwa mereka ada di dalamnya. Saya terus mencari dan mencari mereka. Sampai akhirnya saya memutar dan tiba di jalan Raya Hayam Wuruk. Saya berteriak-teriak memanggil mereka, tetapi tak ada sahutan. Saya mulai berputus asa. Satu persatu gedung di jalan itu saya perhatikan. Tak lama kemudian, ada seorang turis dari Afrika mengatakan bahwa ia sempat melihat sekumpulan orang di sebuah gedung berlantai 7 yang belum jadi.Ada sedikit harapan menemukan mereka. Saya bersama beberapa orang menjebol pintu gedung yang gelap gulita tersebut dan naik ke atas. Setibanya di atas, saya melihat banyak orang berkumpul dengan wajah sangat ketakutan; Ada orang tua yang memakai kursi roda, anak-anak, bayi dan lain-lain. Saya dapat melihat api di kiri dan kanan gedung menyala-nyala. Mereka takut dibunuh oleh massa yang liar dan sangat banyak. Kami mengevakuasi mereka satu-persatu, hingga semuanya selesai. Saya mendapati 2 orang sepupu istri saya dan pembantu di antara mereka. Mereka memanjat dengan susah payah dari gedung ke gedung menuju tempat yang lebih aman dan saling bahu-membahu menggotong para orang tua. Luar biasa! Dalam keadaan yang begitu sulit, masih ada kerjasama dan ‘kerelaan’ meninggalkan ego masing-masing. Saya mendengar suara tembakan dari beberapa tentara yang mulai tiba di jalan tersebut. Dengan pengawalan seorang tentara, saya membawa mereka yang berjumlah 50 orang lebih (ada beberapa yang sudah ditampung oleh saudara mereka). Saya bingung harus membawa mereka kemana, sebab ini adalah pengalaman pertama.

Saya pikir, sebaiknya mereka di bawa ke sebuah sekolah di kawasan Petak Sembilan untuk sementara, sampai tiba esok hari. Sekolah dengan inisial R itu adalah sebuah sekolah terkenal di kawasan tersebut. Kami menemui penjaga/pengurus gedung dan memberitahu maksud kami itu untuk tinggal sementara. Tetapi jawaban yang kami terima sungguh mengecewakan, karena mereka tidak bersedia menerima kami. Sebuah sekolah berlabel agama yang terkenal sosial, sungguh menyedihkan. Dengan sedih, kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan yang tidak pasti. Setelah beberapa waktu ternyata ada sebuah rumah besar yang bersedia menampung kami. Tak lama kemudian datang seorang pastor menemui kami. Pastor itu ternyata dari sekolah yang menolak kami tadi, beliau minta maaf atas perlakuan pengurus/penjaga gedung dan menyatakan bersedia menampung. Kami berterima kasih atas kebaikannya dan mengatakan bahwa sudah ada seseorang yang sudah bersedia menampung kami.

Saya mendengar kabar dari pengurus rumah duka yang kami kenal baik, bahwa Rumah Duka Gedong Panjang telah dibakar massa. Di dalam sana ada 3 jenazah. Di antaranya adalah jenazah nenek istri saya. Satu jenazah di dalam peti dan dua jenazah masih di kamar jenazah. Ketiga jenazah tersebut dikeluarkan oleh massa. Massa mempermainkan jenazah itu, kemudian dibakar. Sampai akhirnya jenazah nenek istri saya ditinggalkan massa begitu saja. Setelah massa pergi, petugas rumah duka segera segera memindahkannya ke Rumah Duka Atmajaya.

Tiga hari tersebut merupakan sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Suatu sukacita, bagaimana saya dapat memberi kabar sukacita kepada orang yang belum percaya, bahwa kematian memang suatu hal yang mengerikan dan masih merupakan tanda tanya bagi yang masih hidup, tetapi Kristus yang telah turun ke dalam kerajaan maut telah memberikan jaminan keselamatan bagi siapa yang percaya kepada-Nya. Suatu sukacita juga karena saya diberikan pengalaman berharga, ketika saya diloloskan Tuhan dari maut dengan adanya ‘orang’ yang memberikan petunjuk untuk memutar arah. Saya percaya bahwa Tuhan turut campur dalam kehidupan kita pada saat-saat kritis dalam kehidupan. Kristus telah memberikan teladan tertinggi, ketika Dia hendak ditangkap di Taman Getsemani, dimana Yesus meminta tentara yang hendak menangkap-Nya untuk membebaskan murid-murid-Nya. Hari ketiga, adalah suatu hari yang sangat menentukan dalam hidup saya; apakah saya harus menjadi seorang yang egois, walaupun sudah ditebus dan menerima pengajaran-pengajaran dari Tuhan Yesus Kristus? Setiap ajaran dan perintah-Nya haruslah diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, barulah ajaran-ajaran-Nya menjadi nyata dalam kehidupan kita. Tiada kemuliaan, tanpa penderitaan, tiada mahkota tanpa Salib. Tiada kebangkitan, tanpa kematian Kristus.
Demikian kesaksian ini. Saya turut prihatin atas kejadian yang menimpa saudara-saudara yang lebih menderita akibat amuk massa pada Mei ‘98.

SOLI DEO GLORIA

Amin Khouw

Gila Judi, Pengen Cepat Kaya

Yang dikerjakannya setiap hari hanyalah makan, minum dan mabuk sehingga keluarganya memandang rendah dia. Itulah kehidupan Yohanes Handri, hingga suatu hari ia tidak bisa terima lagi penghinaan dari keluarganya dan ingin membuktikan bahwa dirinya sekalipun “nakal” juga bisa sukses.
“Siapa bilang kalau orang yang nakal itu ngga bisa berhasil,” demikian ujar Handri.
Sayangnya, jalan kesuksesan yang dipilih Handri adalah jalan pintas. Dukun dan berjudi adalah caranya mencari kekayaan. Memang dalam waktu singkat ia berhasil mendapatkan uang yang banyak, namun tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asal kekayaannya.
Ketika ia menemukan wanita yang ia cintai, ia berhenti berjudi dan menikahi wanita tersebut. Namun itu tidak berlangsung lama. Dua tahun setelah pernikahannya, ia kembali berjudi, bahkan kali ini ia melakukan terang-terangan di depan istrinya.
“Susah ya menghilangkan kebiasaan itu,” ujar Handri, “Saya ngomong sama istri saya kalau saya mau cari uang lebih dan uang paling gampang itu dari perjudian. Saya mau buktikan kalau saya bisa kaya karena judi.”
Itulah obsesi Handri, ingin menjadi kaya karena judi. Namun pada kenyataannya, jalan yang harus ditempuhnya tidak semulus harapannya. Kekalahan demi kekalahan harus ia terima. Namun kekalahan tidak membuatnya jera.
Handri mengeluarkan jurus pamungkasnya, ia kembali ke dukun. Tapi kali ini ia tidak sendiri, ia juga menyeret istrinya masuk dalam dunia kelam tersebut. Sekalipun tidak suka, istri Handri akhirnya mengikuti kemauan suaminya.
“Ngapain kita kesini?” demikian tanya istrinya yang merasakan tidak damai sejahtera di tempat dukun itu. Namun Handri lebih tertarik dengan perkataan sang Dukun.
“Waduh, istri kamu bawa rejeki. Mukanya kaya bulan. Kalau kamu mau menang, istri kamu harus dibawa kemana-mana.”
Seperti kerbau di cucuk hidungnya, Handri mengikuti perkataan dukun itu. Kini istrinya dipaksa ikut ke tempat perjudian. Ia tidak peduli sekalipun harus membohongi sang ibu mertua ketika menitipkan kedua anaknya.
“Pas kebetulan saya bawa istri, pas menang. Hal itu membuat saya yakin sekali kalau dia itu bawa rejeki. Jadi kemana-mana saya bawa dia mulai saat itu.”
Dalam waktu singkat, Handri berhasil mengumpulkan kekayaan seperti tekad yang pernah ia buat. Namun dibalik keberhasilannya itu, kehidupan rumah tangganya tidaklah harmonis. Ia sering kali bertengkar dengan istri karena banyak hal, mulai dari masalah anak-anak yang diperlakukan kasar oleh Handri hingga masalah istrinya yang sudah tidak mau lagi di ajak ke tempat berjudi.
Judi adalah tempat pelarian  bagi Handri, ia sudah tidak peduli lagi dengan kondisi keluarganya. Apa lagi ketika ia kembali mengalami kekalahan demi kekalahan. Satu persatu hartanya ia jual untuk menutupi hutang-hutangnya.
“Bukannya kesuksesan yang saya raih tapi kehancuran dalam rumah tangga saya,” demikian pengakuan Handri.
Harta terakhir yang tertinggal adalah rumah, Handri pun tak segan menjualnya. Ia beralasan akan menggunakan uang penjualan rumah itu untuk modal usaha, nyatanya ia gunakan untuk modal berjudi.
“Pertama sejuta, lalu naik lagi ke dua juta. Dua naik ke empat, empat naik ke delapan, delapan naik ke enam belas. Terus berlipat-lipat, terakhir saya kesal saya pasang dua puluh lima juta. Tetap ngga dapat.”
Uang penjualan rumah pun habis tanpa sisa, ia memberanikan diri memberitahu istrinya. Tak pelak ia harus menerima omelan dari sang istri yang kesal. Tidak ada uang, bahkan untuk belanja makanan, terpaksa akhirnya ia beserta istri dan anak-anaknya makan dirumah mertuanya.
“Saya juga frustrasi sih, kehidupan yang seperti ini membuat saya frustrasi karena saya tidak bisa jadi kepala keluarga yang baik. Saat itu saya sangat malu sekali dengan mertua saya.”
Sembilan tahun Handri menjalani pernikahannya, namun ia tidak juga berubah. Istrinya yang dengan tekun berdoa sudah hampir putus harapan untuk melihat perubahan dalam hidup Handri. Tapi tidak dengan Tuhan.
“Saya menyervis tv di suatu ruangan, saat itu saya tidak merasa senang. Pikiran saya ngga karuan. Tiba-tiba saya mendengar suara yang berkata seperti ini: Akulah damai sejahtera, ikutlah Aku. Suara itu terngiang-ngiang di telinga saya.”
Suara itu tidak hanya sekali mendatangi Handri, suara itu terus mengusi hati nuraninya.
“Besok harinya, hari ketiga, suara itu datang lagi. Baru saya datang pada istri saya, dan saya bilang: Ayo ke gereja..! Istri saya bilang, ‘Ah kamu, orang seperti gini mau ke gereja.’ Benar saya mau ke gereja, sungguh-sungguh saya mau cari Tuhan. Saya sudah ngga karuan, saya bilang. Saya paksain istri saya untuk datang ke gereja.”
Akhirnya Handri dan istrinya datang ke gereja. Namun disana, ia masih diliputi oleh ketakutan yang luar biasa.
“Saya takut mati saat itu. Kalau saya mati gimana? Itu yang saya katakan dalam hati saya. Saya takut mati karena saya banyak dosa, selain itu saya belum bisa memberikan yang terbaik untuk istri dan anak-anak saya. Kalau saya mati saya masuk neraka, saya tidak punya pegangan.”
“Hamba Tuhan itu memanggil: ‘Siapa yang mau didoakan?’ Saya ngga ada niat untuk didoakan, tapi kaki saya melangkah ke depan. Setelah itu saya didoakan. Saat itu saya merasakan sukacita itu sangat penuh dalam hidup saya. Selama saya hidup, saya ngga pernah merasakan sukacita, ngga pernah saya senang. Saat itu saya tahu Tuhan sayang sama saya. Tuhan itu mencintai saya, dan saya mengambil keputusan untuk menyerahkan hidup saya pada Tuhan.”
Sejak perjumpaan pribadi dengan Tuhan itu, Handri menjadi pribadi yang berbeda. Kini ia menjadi seorang suami yang penuh kasih pada istrinya dan juga anak-anaknya. Kesuksesan pun ia dapatkan ketika ia mendapatkan pengenalan yang benar tentang siapa Tuhan dan Juru Selamatnya, yaitu Yesus Kristus.
“Hidup saya berubah, karena saya tahu Yesus adalah Tuhan, Yesus adalah Raja. Saya mau melayani Tuhan seumur hidup saya, dan saya tidak mau tinggalkan Dia karena Dia tidak pernah tinggalkan saya,” jelas Handri. (Kisah ini ditayangkan 16 Juni 2011 dalam acara Solusi di O’Channel).
Sumber Kesaksian:
Yohanes Handri (jawaban.com)

Kamis, 15 Maret 2012

Tuhan Berkarya dalam Hidup Pembantu Saya

Shalom saudara - saudari yang terkasih dalam Kristus. Kesaksian saya kali ini sungguh membuka mata kita semua bahwa Tuhan Yesus Kristus menyelamatkan siapapun, Dia tidak pandang bulu atau bahkan tidak pandang Agama karena Tuhan Yesus Kristus mati untuk semua umat manusia dan barangsiapa yang percaya padaNYA akan diselamatkan.

Berawal di pagi hari. Saya biasa memasak untuk keluarga bersama keluarga saya di dapur. Pembantu saya pun membantu saya pagi itu seperti biasanya. Kami bercanda sembari memasak, tak ada yang aneh pagi itu pada pembantu saya karena ia terlihat sehat dan segar seperti biasanya. Ditengah bercanda kami, ia izin ke toilet. Sayapun mengiyakannya, lah masa ke Toilet gak boleh?

Saat ia turun tangga dari dapur ke toilet dekat garasi tiba - tiba ia memanggil nama saya. Sayapun kaget dan segera mendatanginya di tangga. Ketika saya mengajaknya berbicara, seolah ia ingin mengucapkan kata - kata namun tidak keluar suaranya, badannya sudah tergeletak lemas di tangga. Sayapun mulai tegang, "Waduh... Kenapa nih? Jangan mati di rumah sini dong " Kata saya dalam hati. Tak lama kemudian dia tidak membuka mulutnya lagi dan tergeletak seperti orang pingsan. Saya pikir dia pingsan biasa, namun ketika saya menaruh jari saya di bawah lubang hidungnya dan di jantungnya, ternyata tidak ada hembusan nafas atau detak jantung sedikitpun ! Saya semakin tegang saja, " Jangan - jangan kena serangan jantung lalu mati di rumah saya." Pikir saya lagi dalam hati, karena tidak lucu jika ada orang meninggal di rumah saya. Saya menggoncang – goncangakan tubuhnya dan terus memanggil namanya tetapi tak ada reaksi sedikitpun. Ketika kelopak matanya saya buka, tidak terlihat bola mata sama sekali, seperti mayat saja karena yang terlihat hanya bagian mata yang putih. Persis seperti mayat. Badannya semakin dingin saja, persis seperti mayat.

Di saat seperti itu saya berdoa pada Tuhan dan saat itu juga Tuhan membuka mata rohani saya. Saya melihat sesosok hitam di depan garasi saya. Sayapun sontak terkejut, Roh Kudus memberi saya hikmat bahwa sosok hitam itu adalah malaikat maut. Ketika saya berbalik arah melihat tubuh pembantu saya yang tergeletak, saya melihat rohnya mulai keluar dari tubuhnya. Melihat 2 hal itu saya bertanya pada Tuhan, “ Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Masa roh pembantu saya mau dibawa malaikat maut itu? “ , Tuhanpun menjawab, “ Kalau orang benar dan orang percaya bukan dijemput malaikat maut seperti itu, tetapi dijemput oleh malaikat terang.” Mendengar Tuhan menjawab seperti itu, saya sadar bahwa dia akan dibawa ke Neraka karena dijemput malaikat maut, “ Lalu apa yang harus diperbuat Tuhan? Aku “ga” bisa buat apa – apa.” Jawab saya. Tuhanpun menyuruh saya untuk mengembalikan roh pembantu saya itu ke tubuhnya di dalam nama Tuhan Yesus dan mengusir malaikat maut itu, karena Tuhan bilang belum waktunya ia meninggal karena Tuhan tidak mau satu jiwa tercuri oleh setan, di situ saya mengerti bahwa Tuhan member kesempatan pada pembantu saya.

Sayapun memerintahkan rohnya untuk kembali ke tubuhnya dalam nama Yesus dan memercikkan air di kepalanya karena Tuhan memerintahkan yang seperti itu, jadi saya nurut saja. Seketika itu juga saya melihat rohnya perlahan – lahan mulai masuk kembali ke tubuhnya, dan setelah seluruhnya masuk ke tubuhnya, Tuhan menyuruh saya untuk memijit – mijit tubuhnya, sayapun menurut. Saya memindahkan tubuh pembantu saya dari tangga ke kamarnya. Selang beberapa menit kemudian saya merasakan bahwa tubuhnya mulai hangat. Ketika saya menaruh jari saya lagi di hidungnya ternyata sudah mulai ada hembusan nafas perlahan ! Jantungnya pun sudah mulai berdetak, berbeda seperti tadi yang tidak ada tanda – tanda kehidupan sedikitpun. Sayapun terus memijit pembantu saya sambil berdoa pada Tuhan. Akhirnya pembantu sayapun mulai sadar, ia bangun dari tempat tidur dan menangis pada saya tersedu – sedu dan tampak seperti orang ketakutan. Melihat hal itu sayapun memeluknya kemudian menanyakan apa yang terjadi. Ia menjawab bahwa tiba – tiba saja semuanya terasa gelap dan setelah itu ia tidak merasa ataupun teringat apa – apa lagi, hanya rasa takut saja yang ia rasakan saat itu. Sayapun menenangkannya dan menceritakan padanya apa yang terjadi. Mendengar apa yang saya ceritakan iapun terkejut, sayapun memberitakan tentang Yesus pada pembantu saya kemudian mengajaknya untuk percaya padaNYA. Saat itu juga ia percaya pada Yesus karena telah menyelamatkan hidupnya. Tuhan juga menyuruh saya untuk mengurapinya dengan minyak sebagai tanda bahwa ia telah menjadi milik Yesus, sayapun disuruh membabtisnya dalam nama Yesus dan iapun menyetujui untuk dibabtis. Hari itu memang hari yang menenggangkan, namun Tuhan kita memang ajaib. Ada – ada saja caraNYA untuk menyelamatkan satu jiwa.

Kesaksian saya tidak berhenti sampai situ, ternyata Tuhan terus berkarya dalam hidup pembantu saya. Ketika hari itu pembantu saya terima Tuhan Yesus, beberapa minggu kemudian anaknya terkena cacar air. Pembantu sayapun memberitahukan pada saya bahwa anaknya terkena cacar. Saya bertanya pada Tuhan, “ Tuhan gimana “nih”? Anaknya kena cacar“ Tanya saya pada Tuhan, dan Tuhanpun berbicara pada saya bahwa anaknya harus di lap pakai air dan diberi minyak urapan lalu didoakan dalam nama Yesus. Mendengar hal itu dari Tuhan, sayapun menyampaikannya pada pembantu saya serta memberi minyak urapan untuk anaknya. Pembantu saya menurutinya. Ketika ia pulang ke rumah, anaknyapun di lap menggunakan air lalu ia beri minyak urapan yang saya kasih, padahal penyakit cacar tidak boleh terkena air sedikitpun, tapi ajaib pembantu saya yang satu ingin menurutinya bahkan mendoakan anaknya dalam nama Yesus seperti yang saya Tuhan perintahkan melalui saya. Keesokan harinya iapun melapor pada saya bahwa anaknya telah sembuh, selang beberapa jam setelah ia lap dan urapi. Sayapun memuji Tuhan akan keajaibanNYA, pembantu saya menjadi semakin percaya pada Yesus karena ia telah melihat banyak perbuatan ajaib dalam hidupnya serta hidup keluarganya.Tuhan bisa berkarya dalam hidup siapapun termasuk hidup pembantu saya. Karena Tuhan Yesus sayang pada setiap umat manusia, TIDAK TERKECUALI.  Haleluyah ! Puji Tuhan akan semua keajaibanNYA !