Senin, 27 Agustus 2012

Kesaksian Basuki Tjahaja Purnama

Joko Widodo bersama dengan Basuki Tjahaja Purnama telah memenangkan putaran pertama PILKADA DKI Jakarta 11 Juli 2012. Ini adalah kesaksian Basuki,

Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau," dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.

Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajinan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.

Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, "Siapa yang mau Ku-utus?" Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.

Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada yat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.

Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.

Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.

Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.

Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.
Silahkan dibagikan, Tuhan Yesus memberkati kita semua.


Copas : http://windunatha.blogspot.com

Minggu, 19 Agustus 2012


2 thn lalu , bulan September 2010, kakak laki2 saya terkena stroke yg cukup berat akibat darah tinggi yang dideritanya ditambah banyak pikiran mengenai istrinya yang selingkuh dengan laki2 yang lebih muda.  Namun kakak saya ini orangnya pendiam, sehingga jarang mengemukakan hal itu, walaupun kadang ia mengeluh sepintas..namun ia tetap mengasihi istrinya.  

Akibat stroke tersebut, ia harus dirawat di ICU RS selama 3 minggu, dan setelah sadar tangan kanannya tidak bisa bergerak, pincang dan bicaranya susah.

Awal Agustus ini, kakak saya kembali stroke, jatuh dan mengalami pendarahan.  Ia kembali tidak sadarkan diri & dibawa ke RS terdekat.  Pada waktu kami dikabari seperti itu, kami sekeluarga berdoa, dan Tuhan bilang bahwa sudah saatnya Tuhan Yesus akan bawa pulang kakak saya.  Tuhan bilang kakak saya boleh menjalani perawatan biasa di RS, tapi tidak boleh di ICU seperti yang pertama kali.  Sebenarnya kami sekeluarga juga bingung, bagaimana tidak boleh masuk ICU, sedang tiap RS pasti menyarankan hal tsb, dan kalau kami tidak memasukkan ke ICU, apa kata orang, nanti kami disangka seperti "membunuh" saudara kami..  Kami hanya doa, gimana Tuhan, tapi biar Engkau yang bertindak sesuai dengan rencanaMU yang sempurna.

Pada waktu kami datang ke RS, kakak saya masih di UGD tidak sadarkan diri.  Adik kami, Hong disuruh Tuhan berdoa agar menyerahkan Jiwa dan Roh kakak saya kepada Yesus, namun Tuhan bilang kakak saya masih belum rela dibawa pulang sekarang, sehingga IA akan memberi sedikit waktu lagi dan IA bilang itu tidak akan lama.  Pihak RS Cianjur menyatakan bahwa ICU sudah penuh, kamar-kamar RS juga sudah penuh kecuali di VIP.

Hari I di RS, ia mulai diberi obat2an dan saya lihat obat tsb berjalan dengan baik, pada waktu ia demam, maka demamnya mulai turun.  Dokter juga bilang semua jantung & paru2nya OK banget, tidak ada masalah apapun.  CT Scan menunjukkan bahwa kali ini terjadi pendarahan di otak kanan, yang mempengaruhi tubuh bagian kiri dan dokter bilang kena di motoriknya, sehingga kalaupun sembuh akan bisa mengalami lumpuh total, karena pada waktu stroke pertama kali, kakak saya kena di bagian kanan tubuhnya, sekarang kena di sebelah kirinya..  Kalau lihat kondisinya, walaupun tidak sadar, tapi obat-obatan berjalan dengan baik,   Ia mulai demam, tapi pada waktu diberi obat demamnya jadi turun.

Saya ditugasi oleh Hong, adik saya untuk terus membisiki jiwa kakak saya, supaya rela dibawa pulang oleh Tuhan.  Kami semua berdoa kepada Tuhan, Tuhan...Tuhan biar kehendakMU yang jadi, karena kalau Tuhan bilang mau bawa pulang dan tidak akan lama, hanya butuh kerelaan kakak saya..tapi kalau dilihat dari obat yang diberikan cukup baik dalam arti mungkin ia bisa sembuh walaupun mungkin akan mengalami kelumpuhan total.  Kami berdoa Tuhan kalau ENGKAU mau menyembuhkan maka biar itu sempurna adanya, dalam arti minimal ia bisa jalan seperti pada waktu ia kena stroke pertama kali walaupun pincang, tapi bila ENGKAU mau bawa pulang, maka biar jadi.

Hari ke 2 di RS : Kakak saya mulai mendengkur keras dan ia mulai mengalami infeksi paru-paru, sehingga banyak riaknya dan harus terus sering disedot.  Kami akhirnya dirujuk ke dokter paru-paru karena ia juga mengalami demam lagi.

Sore itu kami kembali berdoa karena diberi hikmat Tuhan untuk meminta apapun tindakan medis dan obat-obatan yang diberikan oleh dokter maupun perawat-perawat disana semua berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan yang sempurna.  Dan biarkan ditundukkan tubuh, jiwa, roh dari dokter-dokter dan perawat-perawat disana yang merawat kakak saya, sehingga mereka semua menjalankan tepat seperti yang ENGKAU mau.
Setelah kami berdoa demikian, maka obat-obatan dan tindakan medis yang diberikan mereka tidak ada satupun yang mempan.  Ini terbukti dengan obat demam yang diberikan ternyata menjadi tidak mempan.  Dan ia kemudian mulai mengalami penyempitan pembuluh darah di jantung.  Kami juga tau, walaupun dalam keadaan tidak sadar, kakak saya ini sering mengeluarkan suara seakan-akan dia kesakitan.

Menjelang hari ke 3 subuh, keadaan kakak saya semakin parah.  Dan akhirnya pada waktu jam 7 pagi, saya yang sudah ketiduran dibangunkan oleh perawat karena dokter sudah datang.  Setelah berbicara dengan dokter yang bilang kalau tipis harapannya untuk hidup, saya hanya bilang biar kehendak Tuhan saja yang jadi.   Setelah dokter pergi, saya merasakan suasana kamar tempat kakak saya dirawat terasa terang, dan kami merasakan hadirat Tuhan yang begitu kuat... Kami tanya Tuhan, ENGKAU ada disini ya ? DIA menjawab..Iya nak, sudah waktunya AKU bawa pulang, AKU mau ambil dia.

Sementara itu tekanan darah kakak saya terus mulai turun dan nafasnya mulai pelan-pelan...namun rupanya Tuhan belum ambil kakak saya karena masih menunggu Hong, adik kami untuk membaptis dengan air...Tuhan itu luar biasa, tekanan darah kakak saya tadinya terus turun dari 120/80, terus 80/60, terus turun lagi 70/50...tapi pada waktu menunggu Hong, adik kami datang, tekanan darahnya mulai naik kembali jadi 80/60..

Setelah Hong datang, kemudian membaptis kakak kami, dikuduskan, ditahirkan, yang lama sudah ditanggalkan, ganti yang baru dan dilayakkan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, lalu Tuhan bilang kami semua disuruh minta maaf...setelah itu selesai semua, maka kakak saya langsung dibawa Tuhan Yesus...Hong melihat, Yesus menggandeng kakak saya naik ke atas dimana ada cahaya yang terang... Kakak saya juga sempat pamit pada Hong, dan bilang "Titip mama ya..jaga mama"...

Perasaan kami semua campur aduk, ada sedih, ada kenangan bersama kakak saya...tapi di atas segalanya kami semua mengucap syukur dan bergembira karena kakak saya "SUDAH MENGAKHIRI PERTANDINGAN DENGAN MENANG".   Tuhan itu baik, mengatur setiap kehidupan anak-anakNYA dari sekecil apapun.  Terimakasih Yesus, ENGKAU baik, kami tidak akan pernah bisa membalas kasihMU yang dahsyat.

Oleh : LKH

Senin, 13 Agustus 2012

KISAH NYATA WINNER JOHNSON - MANTAN PREMAN YANG JADI PENGACARA

"Dari kecil saya belajar kehidupan yang keras. Dalam keseharian saya, saya melihat bagaimana orang dibacok, orang dikejar-kejar. Bahkan pernah suatu hari abang saya dikejar-kejar dari ujung gang oleh seseorang yang membawa golok, lalu abang saya mengejar balik dengan membawa balok. Setiap hari saya melihat ada orang yang berantem dan membawa senjata tajam. Saya melihat bahwa untuk mempertahankan hidup memang harus seperti itu. Saya sering pergi membawa golok dan sempat dirampas oleh kepala sekolah," ujar Winner Johnson.

Bertumbuh Besar Tanpa Figur Seorang Ayah
Sejak kecil Winner Johnson sudah ditinggal ayahnya yang pergi dengan wanita lain. Tindakan sang ayah yang tidak lagi peduli dengan keluarganya itu meninggalkan kekecewaan yang sangat mendalam pada diri Winner.

Kekerasan Mulai Merajalela Ketika Winner Remaja
Kekecewaan Winner akan hidupnya yang suram mulai terpengaruh dengan musik-musikkeras. Ketika ia duduk di bangku SMA, Winner suka sekali dengan musik beraliran rock.Musik-musik yang ia mainkan adalah musik-musik yang liriknya selalu menghujat Tuhan. Karena di dalam hatinya terdapat kekecewaan yang mendalam terhadap apa yang ia percayai dengan apa yang orang-orang ceritakan tentang Tuhan. Ia merasa bahwa Tuhan bersikap tidak adil pada dirinya. "Saya memainkan lagu-lagu yang liriknya seperti, "I am an anti Christ, I am an anarchy', saya lebih senang dengan pemberontakan," ujar Winner.
Di sekolahnya, Winner dikenal sebagai seorang ketua geng, si pembuat onar dan siprovokator yang sering menyulut keributan. Ia pribadi mempunyai ambisi atau keinginan yang mendalam untuk memimpin sebuah kelompok yang radikal dan menunjukkan keberadaan dirinya kepada semua orang. Bersama gengnya, ia juga sering mengonsumsi obat-obatan dan minuman keras. Bahkan sebagai pengedar, ia memberi pengaruh yang besar kepada teman-temannya.
Untuk bertahan hidup, Winner sering meminta uang secara paksa kepada siswa-siswa di sekolah lain yang kebetulan sekolah tersebut adalah sekolah untuk anak-anak murid yang orang tuanya memiliki keadaan ekonomi yang baik.
Kegeraman guru-guru di sekolah sudah memuncak dan mereka berniat mengeluarkan Winner dari sekolah. Namun ketika teman-teman Winner mengetahui hal tersebut, mereka menghampiri para guru dan mengancam akan membakar sekolah jika mereka sampai mengeluarkan Winner. Ancaman para murid pun berhasil. Winner tidak jadi dikeluarkan.

Mulai Merasakan Kejenuhan Hidup
Pada suatu hari Winner mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, "Sampai kapan saya harus hidup seperti ini?" Bahkan ia bertekad untuk bisa berubah menjadi orang baik. Namun ternyata keinginannya untuk berubah saja tidak cukup. Pada hari selanjutnya ia masih tetap mabuk-mabukan dan memukuli siswa-siswa dari sekolah lain saat bertemu di pinggir jalan. Beberapa dari korban pemukulan sampai ada yang masuk rumah sakit. "Ketika saya bersama dengan teman-teman, saya merasa sangat perkasa, merasa gagah dan luar biasa," ujar Winner. "Tetapi dalam kesendirian saya juga berpikir bahwa hidup ini pasti ada ujungnya. Dan apabila saya mati, nanti kira-kira saya mau ke mana?" Tanya Winner dalam hatinya.

Mendapatkan Sebuah Jamahan Lewat Suatu Kebaktian
Pertanyaan tersebut meskipun hanya terucap dalam hatinya, namun cukup membuat Winner terusik. Setiap saat pertanyaan itu datang dan terngiang di pikirannya. Sampai suatu ketika, Winner mendengar ada sebuah iklan ibadah kebaktian di radio, dan ia menghadiri kebaktian tersebut dengan niat iseng pada awalnya. Winner mengikuti kebaktian itu dengan baik. Pada akhir acara kebaktian tersebut, sang pendeta mengajak para jemaat yang hadir untuk berkomitmen dan mau maju ke depan untuk didoakan. Winner merasakan ada gerakan yang kuat dari dalam hatinya untuk maju. Ia pun maju ke depan dan mengucapkan komitmennya bahwa ia sudah lelah dengan kehidupannya dan ingin memulai hidup yang baru. Ia juga mengakui bahwa dirinya penuh dengan dosa sambil bersujud dan menangis. Seorang Winner yang " brutal dan kasar' mendapatkan jamahan yang luar biasa pada saat itu.
"Saya merasakan pada saat itu suasana yang indah sekali. Sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya merasa seperti sedang berada di sebuah pesta besar dan di dalam pesta itu seperti ada seseorang yang berkata kepada saya, 'Winner, saya sudah lama sekali menunggu waktu ini untuk kamu datang. Untuk kamu bersama-sama dengan kami menikmati kehidupan ini. Menikmati kehidupan yang baru,'" ujar Winner.

Urapan Baru Menghilangkan Kebiasaan Buruk Lama
Kasih Yesus yang didapati Winner pada hari itu membawa sebuah perubahan besar dalam diri Winner. Ia mulai tidak tertarik lagi dengan obat-obatan, padahal sebelumnya ia tidak bisa hidup satu hari pun tanpa obat-obatan terlarang tersebut. Ketergantungan Winner terhadap obat-obatan hilang dengan sendirinya dalam waktu singkat.
"Hanya Yesus yang mau mendengarkan saya, hanya Yesus yang bisa mengerti dan mau melakukan sesuatu untuk diri saya. Ia juga adalah sahabat saya, sahabat yang lebih dekat dari siapa pun. Saya tetap ingin memberikan pengaruh bagi dunia. Tetapi pengaruh yang lain. Pengaruh untuk memperkenalkan mereka kepada satu pribadi yang selama ini sudah mengubahkan saya," ujar Winner.
Seorang mantan guru di sekolah Winner dulu ikut merasakan perubahan dalam diri Winner. Ia memberikan kesaksiannya dengan penuh sukacita, "Saya tuh bangga yah dengan keadaan Winner. Yang dulunya dia itu pemberontak, boleh dikatakan pelanggar hukum, tapi dia sekarang menjadi penegak hukum. Dia itu orang yang bertobat kemudian berhasil sampai sekarang. Dan itu karena kasih Tuhan yang turun pada dia."

Kegiatan Baru Winner
Winner kini menggeluti dunia hukum sebagai pengacara setelah menyelesaikan studi hukumnya di Universitas Padjajaran Bandung. Ia juga mengisi salah satu program radio swasta, sehingga profilenya cukup dikenal di kalangan masyarakat Bandung.
"Saya ingin mempergunakan apa yang sudah saya punya, pengetahuan yang saya miliki, kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dan mengubah hidup orang. Yang tadinya mereka tidak punya semangat - mereka harus bersemangat, mereka mempunyai harapan yang baru. Satu hal yang saya tahu adalah generasi ini harus berubah, tidak boleh lagi ada Winner-Winner seperti saya dulu di generasi ini," ujar Winner menutup kesaksiannya. 


Sumber kesaksian :
Winner Johnson
Copas : www. jawaban.com