Senin, 13 Agustus 2012

KISAH NYATA WINNER JOHNSON - MANTAN PREMAN YANG JADI PENGACARA

"Dari kecil saya belajar kehidupan yang keras. Dalam keseharian saya, saya melihat bagaimana orang dibacok, orang dikejar-kejar. Bahkan pernah suatu hari abang saya dikejar-kejar dari ujung gang oleh seseorang yang membawa golok, lalu abang saya mengejar balik dengan membawa balok. Setiap hari saya melihat ada orang yang berantem dan membawa senjata tajam. Saya melihat bahwa untuk mempertahankan hidup memang harus seperti itu. Saya sering pergi membawa golok dan sempat dirampas oleh kepala sekolah," ujar Winner Johnson.

Bertumbuh Besar Tanpa Figur Seorang Ayah
Sejak kecil Winner Johnson sudah ditinggal ayahnya yang pergi dengan wanita lain. Tindakan sang ayah yang tidak lagi peduli dengan keluarganya itu meninggalkan kekecewaan yang sangat mendalam pada diri Winner.

Kekerasan Mulai Merajalela Ketika Winner Remaja
Kekecewaan Winner akan hidupnya yang suram mulai terpengaruh dengan musik-musikkeras. Ketika ia duduk di bangku SMA, Winner suka sekali dengan musik beraliran rock.Musik-musik yang ia mainkan adalah musik-musik yang liriknya selalu menghujat Tuhan. Karena di dalam hatinya terdapat kekecewaan yang mendalam terhadap apa yang ia percayai dengan apa yang orang-orang ceritakan tentang Tuhan. Ia merasa bahwa Tuhan bersikap tidak adil pada dirinya. "Saya memainkan lagu-lagu yang liriknya seperti, "I am an anti Christ, I am an anarchy', saya lebih senang dengan pemberontakan," ujar Winner.
Di sekolahnya, Winner dikenal sebagai seorang ketua geng, si pembuat onar dan siprovokator yang sering menyulut keributan. Ia pribadi mempunyai ambisi atau keinginan yang mendalam untuk memimpin sebuah kelompok yang radikal dan menunjukkan keberadaan dirinya kepada semua orang. Bersama gengnya, ia juga sering mengonsumsi obat-obatan dan minuman keras. Bahkan sebagai pengedar, ia memberi pengaruh yang besar kepada teman-temannya.
Untuk bertahan hidup, Winner sering meminta uang secara paksa kepada siswa-siswa di sekolah lain yang kebetulan sekolah tersebut adalah sekolah untuk anak-anak murid yang orang tuanya memiliki keadaan ekonomi yang baik.
Kegeraman guru-guru di sekolah sudah memuncak dan mereka berniat mengeluarkan Winner dari sekolah. Namun ketika teman-teman Winner mengetahui hal tersebut, mereka menghampiri para guru dan mengancam akan membakar sekolah jika mereka sampai mengeluarkan Winner. Ancaman para murid pun berhasil. Winner tidak jadi dikeluarkan.

Mulai Merasakan Kejenuhan Hidup
Pada suatu hari Winner mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, "Sampai kapan saya harus hidup seperti ini?" Bahkan ia bertekad untuk bisa berubah menjadi orang baik. Namun ternyata keinginannya untuk berubah saja tidak cukup. Pada hari selanjutnya ia masih tetap mabuk-mabukan dan memukuli siswa-siswa dari sekolah lain saat bertemu di pinggir jalan. Beberapa dari korban pemukulan sampai ada yang masuk rumah sakit. "Ketika saya bersama dengan teman-teman, saya merasa sangat perkasa, merasa gagah dan luar biasa," ujar Winner. "Tetapi dalam kesendirian saya juga berpikir bahwa hidup ini pasti ada ujungnya. Dan apabila saya mati, nanti kira-kira saya mau ke mana?" Tanya Winner dalam hatinya.

Mendapatkan Sebuah Jamahan Lewat Suatu Kebaktian
Pertanyaan tersebut meskipun hanya terucap dalam hatinya, namun cukup membuat Winner terusik. Setiap saat pertanyaan itu datang dan terngiang di pikirannya. Sampai suatu ketika, Winner mendengar ada sebuah iklan ibadah kebaktian di radio, dan ia menghadiri kebaktian tersebut dengan niat iseng pada awalnya. Winner mengikuti kebaktian itu dengan baik. Pada akhir acara kebaktian tersebut, sang pendeta mengajak para jemaat yang hadir untuk berkomitmen dan mau maju ke depan untuk didoakan. Winner merasakan ada gerakan yang kuat dari dalam hatinya untuk maju. Ia pun maju ke depan dan mengucapkan komitmennya bahwa ia sudah lelah dengan kehidupannya dan ingin memulai hidup yang baru. Ia juga mengakui bahwa dirinya penuh dengan dosa sambil bersujud dan menangis. Seorang Winner yang " brutal dan kasar' mendapatkan jamahan yang luar biasa pada saat itu.
"Saya merasakan pada saat itu suasana yang indah sekali. Sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya merasa seperti sedang berada di sebuah pesta besar dan di dalam pesta itu seperti ada seseorang yang berkata kepada saya, 'Winner, saya sudah lama sekali menunggu waktu ini untuk kamu datang. Untuk kamu bersama-sama dengan kami menikmati kehidupan ini. Menikmati kehidupan yang baru,'" ujar Winner.

Urapan Baru Menghilangkan Kebiasaan Buruk Lama
Kasih Yesus yang didapati Winner pada hari itu membawa sebuah perubahan besar dalam diri Winner. Ia mulai tidak tertarik lagi dengan obat-obatan, padahal sebelumnya ia tidak bisa hidup satu hari pun tanpa obat-obatan terlarang tersebut. Ketergantungan Winner terhadap obat-obatan hilang dengan sendirinya dalam waktu singkat.
"Hanya Yesus yang mau mendengarkan saya, hanya Yesus yang bisa mengerti dan mau melakukan sesuatu untuk diri saya. Ia juga adalah sahabat saya, sahabat yang lebih dekat dari siapa pun. Saya tetap ingin memberikan pengaruh bagi dunia. Tetapi pengaruh yang lain. Pengaruh untuk memperkenalkan mereka kepada satu pribadi yang selama ini sudah mengubahkan saya," ujar Winner.
Seorang mantan guru di sekolah Winner dulu ikut merasakan perubahan dalam diri Winner. Ia memberikan kesaksiannya dengan penuh sukacita, "Saya tuh bangga yah dengan keadaan Winner. Yang dulunya dia itu pemberontak, boleh dikatakan pelanggar hukum, tapi dia sekarang menjadi penegak hukum. Dia itu orang yang bertobat kemudian berhasil sampai sekarang. Dan itu karena kasih Tuhan yang turun pada dia."

Kegiatan Baru Winner
Winner kini menggeluti dunia hukum sebagai pengacara setelah menyelesaikan studi hukumnya di Universitas Padjajaran Bandung. Ia juga mengisi salah satu program radio swasta, sehingga profilenya cukup dikenal di kalangan masyarakat Bandung.
"Saya ingin mempergunakan apa yang sudah saya punya, pengetahuan yang saya miliki, kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dan mengubah hidup orang. Yang tadinya mereka tidak punya semangat - mereka harus bersemangat, mereka mempunyai harapan yang baru. Satu hal yang saya tahu adalah generasi ini harus berubah, tidak boleh lagi ada Winner-Winner seperti saya dulu di generasi ini," ujar Winner menutup kesaksiannya. 


Sumber kesaksian :
Winner Johnson
Copas : www. jawaban.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar