Kamis, 13 September 2012

Dibalik Masa Kelam Joana Alexandra



Wanita ini memasuki dunia entertain secara tidak sengaja, mulai dari dunia model, kesuksesannya terus menanjak merambah dunia sinetron bahkan hingga layar lebar. Namanya adalah Joana Alexandra, wanita kelahiran tahun 1987 ini begitu terbuai kesuksesan di awal karirnya.

“Dapat honor langsung beli obat-obatan,” demikian pengakuannya.

Setali tiga uang dengan Joana, Raditya Oloan, seorang disc jockey dan pemain band juga terjerat oleh narkoba ketika masuk dalam hingat bingarnya dunia keartisan.

“Nge-band tanpa drugs rasanya kosong aja, kaya gitu,” ungkap Raditya.

Lalu apa jadinya ketika keduanya menjalin hubungan cinta?

“Dia udah tahu aku mulai make, akhirnya kita make bareng,” demikian pengakuan Joana, “kalau perlu barang mintanya sama dia, kalau dia punya barang dia nawarin. Jadi apa ya? Simbiosis mutualisme.”

Clubing, narkoba, seks bebas, semua itu mereka lakukan tanpa memikirkan akibatnya. Keluarga, pendidikan, karir, bahkan masa depan mereka tanpa terasa berada di ambang kehancuran.

“Polisi, jangan bergerak,” demikian seru seorang polisi.

Saat itu Joana dan Raditya bersama beberapa orang teman di grebek oleh pihak kepolisian.
“Di meja itu, saya ingat banget ada paketan beberapa gram, sama beberapa linting. Jadi kalau diperiksa, pasti ditangkep,” ujar Raditya.

Akhirnya mereka semua digelandang ke polsek Tangerang. Dengan berat hati, Joana dan Raditya menghubungi orangtua mereka untuk meminta bantuan. Rasa takut akan amarah dari orangtua jelas terbersit di hati mereka, namun apa daya, mereka kini sungguh butuh bantuan mereka, mereka hanya bisa tertunduk di hadapan orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan mereka.

“Aku benar-benar melihat pengorbanan mereka, pasti rasanya malu banget  ketahuan ke polsek jemput anaknya yang kena narkoba,” tutur Joana.

Orangtua keduanya hanya bisa menangis saat datang ke polsek, tidak seperti yang mereka bayangkan, tidak satu kata cacian atau amarah yang terucap dari mereka. Orangtua mereka memberikan pengampunan bahkan menjamin mereka sehingga mereka tidak harus merasakan berada di balik jeruji penjara. Sayangnya, hal itu tidak membuat mereka sadar dan mengubah cara hidupnya dan membawa diri mereka kesebuah permasalahan yang baru.

“Aku baru saja promo film layar lebar aku, jadi yang kemarin-kemarin sibuk promo selain itu aku juga masih make banget, kemana-mana itu pasti teler, tiba-tiba harus diperhadapkan kalau aku hamil. Antara takut sama apa yang akan terjadi dengan karir aku, orangtua gimana, teman-teman gimana, pikiran-pikiran buruk langsung kepikir sama aku.” Selama satu bulan Joana dan Raditya tidak bisa memutuskan harus melakukan apa. Sempat terbersit pilihan untuk aborsi, namun entah mengapa mereka masih tidak bisa memutuskan juga.

“Sebenarnya pertama-tama pemikiran saya ya aborsi, karena lingkungan saya banyak yang aborsi, jadi bagi saya itu suatu hal yang biasa. Tapi di hati saya tergerak untuk berkata: Jo, kalau kamu mau terusin, aku mau terusin,” terang Raditya.

“Ini benaran nih, bayinya mau dijadiin?” tanya Joana tidak percaya. “Benar-benar ngga kebayang nanti jadi seorang ibu, lalu punya baby, trus nanti apa yang harus dihadapin benar-benar ngga kebayang.”

Sekalipun takut, Raditya memberitahukan perihal kehamilan Joana itu kepada orangtuanya, demikian juga Joana, mereka berdua terbang ke Manado menemui orangtua Joana untuk mengakui perbuatan mereka. Sungguh diluar dugaan, kedua orangtua mereka tidak memperlihatkan amarah mereka sekalipun memang terluka, namun mereka mendukung keduanya untuk mengambil langkah selanjutnya.“Oke pah, kita sudah putusin untuk terusin.””Kalau begitu papa dukung, papa akan ngomong sama mama. Kamu kasih clue, kamu besok dateng ya,” ungkap papa Raditya.

“Mulai menjauh dari rumah, papa saya melambaikan tangan, dadah. Disitu hati saya benar-benar hancur. Saya lihat mukanya tidak ceria, dia senyum, tapi saya lihat matanya sedih sekali.”

Tatapan sang ayah benar-benar menghancurkan hati Raditya. Lelah, bingung, sedih, semua perasaan itu bercampur baur di hati Raditya. Ia akhirnya memilih tidur tanpa mengucap sepatah katapun pada Joana.

“Saat saya tidur, saya terus terbayang dengan papa saya. Mungkin saya tidur sekitar 10 menit, hati saya seperti ada yang pukul. Saya bangun, saya langsung megap-megap nangis, dan saat nangis kata-kata yang pertama keluar adalah : Tuhan tolong saya, saya menyerahkan hidup saya seluruhnya untuk Engkau. Kami berdoa, setelah selesai, ada damai dan kekuatan baru dari situ.”

Januari 2007, akhirnya keduanya masuk dalam pernikahan. Keduanya masih muda, labil dan penuh ego. Mereka mencoba investasi dalam sebuah usaha dalam jumlah yang cukup besar, namun gagal. Namun masalah mereka bukan hanya itu, mereka masih tetap mengkonsumsi narkoba, bahkan Joana tidak lagi memikirkan janin dalam kandungannya. Beruntung, mereka menemukan sebuah komunitas yang mau menerima mereka apa adanya bahkan membimbing mereka untuk bisa keluar dari semua keterikatan itu.

“Beruntung saya berada di sebuah komunitas yang luar biasa, aku bersaksi dan didoain, dan puji Tuhan, itu sembuh.”

Dengan saling mengakui dosa, mereka sedang menelanjangi pekerjaan iblis. Dikomunitas ini juga, mereka mengikuti konseling. Hingga pada Oktober 2007, Surya anak pertama mereka lahir. Kelahiran Surya di ikuti oleh sebuah perubahan yang luar biasa. Joana bersih dari keterikatan narkoba. Disisi lain, ada pengorbanan lain yang harus ia lakukan.

“Dulu aku single terserah aku mau pulang jam berapa, mau ngapain aja. Sekarang apa yang mau aku lakuin harus mikirin suamilah, mikirin anaklah, mikirin rumah. Benar-benar rasanya aku dikasih tanggung jawab yang gede banget, sedangkan Radit prioritasnya masih pekerjaan dan pelayanannya dia,” tutur Joana.

Konflik antara suami istri pun mulai terjadi. Namun bagaimana Raditya menangani tuntutan dari istrinya?

“Saya sudah panas, saya sudah emosi, akhirnya saya bilang ke teman saya: I hate this women! Tapi saya ingat pas konseling, keluarga nomor dua setelah Tuhan, akhirnya walaupun saya kesal, saya kesana. Dia bbm, saya sudah mau jawab dengan kata-kata yang jelek, kata-kata yang menghina-hina, tapi saya merem, saya hapus, saya cuma bilang : I love you. Saya pulang, saat itu saya pikir, saya mengalah untuk menang.”

Raditya benar, dia mendapatkan kemenangan itu. Joana datang menghampirinya, duduk disampingnya dan berkata, “Dit, maafin aku ya?”

“Akhirnya, sejak saat itu hubungan keluarga kita ngga pernah crash.”

Fokus Raditya dan Joana saat ini sudah berubah. Tuhan, itulah yang menjadi prioritas hidup mereka. Hal itu mengubah seluruh kehidupan mereka. Kehidupan rohani mereka bertumbuh, keadaan ekonomi keluarga mereka pun mengikuti.

“Akhirnya saya memutuskan untuk ninggalin bisnis saya, padahal saya lagi hutang, saya tinggalin dan saya full melayani Tuhan. Tapi luar biasa, saya tidak keluar keringat untuk cari uang, tiba-tiba ada orang telephone yang order. Selama satu tahun seperti itu terus, sampai hutang saya lunas.”

Ketika keduanya mengarahkan hidup mereka untuk menjadi semakin seperti Kristus, gaya hidup mereka berubah. Upaya mereka bukanlah mengubah gaya hidup mereka yang lama, namun fokus menjadi semakin seperti Kristus, dengan sendirinya kebiasaan buruk mereka lenyap, dan tampillah pribadi Raditya dan Joana yang baru, yang setiap hari menjadi semakin seperti Yesus Kristus. Jika mereka bisa berubah, Anda pun bisa.


Sumber Kesaksian: Joana Alexandra & Raditya Oloan (jawaban.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar