Rabu, 26 Juni 2013

KISAH HIDUP FANNY J. CROSBY (1820 - 1915)


Bila Anda menyukai kidung-kidung pujian lama, yang mungkin ada di Kidung Jemaat atau beberapa kidung lain yang dipakai oleh gereja-gereja Protestan, Baptis, atau Injili, Anda akan menemukan nama Fanny J. Crosby di sana.

Fanny J Crosby telah mengarang sangat banyak lagu (lebih dari 8000 lagu) yang sampai sekarang masih dinyanyikan dengan penuh semangat – misalnya Blessed Assurance ('Ku Berbahagia, KJ 392), Safe in the Arms of Jesus (Selamat Di Tangan Yesus, KJ 388), Pass Me Not, O Gentle Saviour (Mampirlah, dengar doaku, KJ 26), Jesus, Keep Me Near the Cross (Pada Kaki SalibMu, KJ 368). Setiap lagu yang dikarangnya merupakan bukti kecintaannya terhadap Yesus.

Masa Kecil

Fanny dilahirkan pada 24 Maret 1820 dari pasangan John dan Mercy Crosby. Pada bulan Mei 1820, ketika ia masih berumur enam minggu, ia terkena demam, dan matanya agak terganggu. Dokternya di Putnam County, New York, tempatnya berada, sedang keluar kota. Saat itu ada orang yang mengaku sebagai dokter, salah memberikan pengobatan kepadanya dan ia tak bisa melihat lagi. Orang itu lari meninggalkan kota karena panik.

Orang tua Fanny adalah orang Kristen yang taat. Mereka membesarkan Fanny menjadi anak mandiri. Orang yang mempunyai pengaruh kuat pada masa kanak-kanak Fanny adalah neneknya. Sebagai wanita yang cerdas dan sabar, ia sering mengajak Fanny berjalan-jalan di alam terbuka, menceritakan setiap kuntum bunga dan daun-daun secara sangat rinci dan Fanny mempelajarinya dengan sentuhan-sentuhan jarinya. Ia pula yang memperkenalkan Fanny pada karya-karya sastera dan puisi. Dan yang terpenting, ia membacakan cerita-cerita dari Alkitab setiap hari.

Walaupun mendapat pendidikan dengan penuh perhatian, kehausan Fanny akan pengetahuan tak pernah terpuaskan; ingatannya sangat luar biasa. Pada umur sepuluh tahun ia dapat mengingat sebagian besar Perjanjian Baru dan lima kitab Perjanjian Lama. Sayangnya, karena sekolah pada masa itu belum dilengkapi dengan perangkat untuk mengajar orang buta, ia tidak dapat memperoleh pendidikan umum.

Mulai Bersekolah dan “Mengalami” Tuhan

Fanny berlutut bersama neneknya dan berdoa: “Tuhan yang Mahabaik, tunjukkan pada saya bagaimana saya dapat belajar seperti anak-anak lain.” Tak lama kemudian ibunya menyampaikan berita menggembirakan tentang kesempatan untuk masuk ke Institut Bagi Orang Buta di New York.

Dalam tahun itu juga, ia menjadi siswi terbaik dan setelah lulus ia menjadi guru di situ. Minat utamanya pada puisi, pada waktu senggang ia menuliskan puisi. Ketika Fanny berumur dua puluh, ia terkenal di New York dan menjadi pembicara yang banyak dicari untuk kutipan-kutipan puisi maupun untuk upacara-upacara resmi.

Walaupun populer, ia merasakan ada sesuatu yang kurang pada hidupnya, terjadinya wabah kolera yang hebat pada tahun 1849 menunjukkan padanya apakah itu. Lebih dari separuh siswa-siswi di Institut mati, salah satunya mati di pelukannya. Setelah membantu merawat mereka yang sakit selama beberapa bulan, ia hampir tertular oleh penyakit itu dan ia mengungsi ke luar kota.

Kematian teman-teman dekatnya sangat mengguncangkan Fanny. Di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia belum siap untuk mati. Pada 20 November 1850 ia berlutut di depan mimbar gereja dan memberikan hatinya kepada Yesus. Penulis biografi Basil Miller menceritakan kata-katanya: “Untuk pertama kali saya menyadari bahwa saya telah mencoba memegang dunia di salah satu tangan dan Tuhan di tangan yang lain.”Akhirnya, Tuhan yang diperkenalkan oleh neneknya menjadi nyata baginya.

Mulai Membuat Lagu

Puisi-pusinya mencerminkan perubahan di hatinya, dan lagu-lagu pujian menggantikan puisi-puisinya. Ketika ia bertemu dengan komponis Kristen William Bradbury pada tahun 1864, segera mereka bersahabat. Bradbury membuat lagu-lagu bagi banyak syair-syair Fanny; walaupun ia bekerja dengan banyak komponis, kerjasama mereka yang paling erat.

Fanny biasanya mengarang puluhan lagu di kepalanya sebelum ia mendiktekannya pada sekretarisnya, tetapi bagaimana pun ia mencipta, ia selalu menggunakan cara yang sama. Ia menyebutkan caranya: “Mungkin cara ini kuno, yaitu selalu memulai pekerjaan dengan berdoa, saya tak pernah menuliskan lagu tanpa meminta pada Tuhan untuk menjadi sumber inspirasi saya.”

Ia menerima banyak undangan untuk berbicara hingga ia kewalahan, dan orang terkenal seperti Presiden Polk sering memanggilnya. Dengan memiliki banyak teman dan relasi, ia tak pernah merasa kesepian. Pada tahun 1858, Tuhan memberikan padanya seorang yang istimewa dalam kehidupannya, yaitu musisi buta Alexander Van Alstyne. Mereka menikah selama 44 tahun dan mempunyai seorang anak yang meninggal pada waktu bayi.

Walaupun pada akhir masa-masa hidupnya, Fanny tetap sibuk seperti biasa, bukan hanya dengan menulis lagu. Ia menaruh perhatian pada mereka yang kurang beruntung, dan ia bekerja sukarela pada pusat pelayanan lokal. Bila ada seseorang yang datang padanya dengan pertanyaan atau keperluan, ia selalu menemuinya secara pribadi dan membagikan padanya terang Firman Allah.

Semasa hidupnya, tentang kebutaannya seorang pendeta dengan rasa simpatik bertanya kepadanya, "Saya rasa, sungguh membangkitkan belas kasihan, bahwa Sang Pencipta tidak memberi Anda penglihatan, padahal Ia memberikan banyak sekali karunia lain pada Anda."
Dengan tangkas Fanny menjawab, "Tahukah Anda, seandainya pada saat saya lahir saya bisa mengajukan permohonan, saya akan meminta, agar saya dilahirkan buta?"

"Mengapa?" tanya pendeta itu terperanjat.

"Karena bila saya naik ke surga nanti, wajah pertama yang akan membangkitkan sukacita dalam pandangan saya adalah wajah Sang Juruselamat!"

Fanny wafat dengan tenang di rumahnya di Bridgeport, Connecticut, pada 12 Februari 1915. Kerumunan pada saat pemakamannya merupakan bukti pengaruhnya yang luas yang dimilikinya bagi Tuhan. Kata-kata ini berasal dari salah satu lagunya (Saved by Grace) yang menyatakan hal yang paling diharapkannya: “And I shall see Him face to face and tell the story – saved by grace. (Dan aku akan bertemu muka dengan-Nya dan menuturkan kisah - diselamatkan oleh anugerah.)” (dari berbagai sumber)

Kisah ini menunjukkan bahwa:
Mujizat terbesar dalam hidup ini adalah ketika kita dapat menjalani kehidupan ini sesuai kehendak Tuhan dengan segala kekurangan kita. Ini seperti yang dialami fanny j crosby, di mana ketika dia buta dia bisa menghasilkan karya kidung2 yang luar biasa. Bahkan, dia berkata apabila aku dilahirkan kembali, aku ingin buta karena dengan itu, dia bisa lihat juru slamat. Begitupun, yang dialami paulus dlam 2 korintus 12:7-10, di mana dia diberikan duri dalam daging yang menjaganya. Tetapi, dengan duri itu pula, pelayanan paulus pun hampir ke seluruh penjuru dan penulis kitab terbanyak di alkitab. Melalui kekurangan ini jugalah, yang menjadikan kita mengerti arti pemeliharaan Tuhan dalam hidup ini, sehingga kita tak memiliki pandangan bahwa yang baik2 pemeliharaan-Nya, sedangkan yang jahat2 itu kutuk-Nya. Semoga kisah ini dapat memberkati kita semua, GBU

Selasa, 18 Juni 2013

TENTANG LUCIFER

"tentang lucifer"

Namaku Lucifer.Kau boleh memanggilku Penguasa kerajaan Angkasa (Efesus 2:2), Penghulu-penghulu (penguasa) dunia yang gelap (Efesus 6:12), Penguasa dunia (Yohanes 12:31), Penghulu setan (Matius 12:24), Ilah zaman ini (II Korintus 4:4), Malaikat terang (II Korintus 11:14), Ular tua (Wahyu 12:9), Lawan / musuh (I Petrus 5:8), Pendakwa (Zakharia 3:1), Pencoba (Matius 4:3), Pembunuh (Yohanes 8:44), Pencuri (Yohanes 10:10).

Tadinya aku diciptakan sebagai malaikat Tuhan yang paaa..aling indah. Mikael dan Gabriel, dua malaikat tertinggi temanku itu? Lewaaaat!

Dulu aku tinggal di surga dan pekerjaanku membosankan: memuji dan melayani Yang Mahatinggi. Buat apa? Kenapa bukan aku aja yang dipuji? Aku bosen jadi pelayan! Aku bisa menyamaiNya! Aku Son of the Morning, Bintang Fajar, “...Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!” (Yesaya 14:13-15)Dan apa yang kudapat? Tuhan membuangku ke bumi! “How art thou fallen from heaven, O Lucifer, Son of the Morning! How art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations!” (Yesaya 14:12 KJV), itu kata Tuhan. “...ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur. Orang-orang yang melihat engkau akan memperhatikan dan mengamat-amati engkau, katanya: Inikah dia yang telah membuat bumi gemetar, dan yang telah membuat kerajaan-kerajaan bergoncang,..” (Yesaya 14:14-16). “...Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya.” (Yehezkiel 28:13-17). Aaaarrggh!!

KataNya, aku sombong!? Lihat siapa yang sombong sebenarnya! Kalian, manusia hina ciptaan Dia sendiri! Hina tapi ingin jadi mulia! Kenapa aku yang cantik Dia buang sementara manusia lemah seperti kalian dikasihiNya?! Planet yang nggak Dia sukai Dia hancurkan. Malaikat yang jatuh Dia usir. Tapi kalian? Apa yang membuat kalian spesial di mataNya? Kenapa ketika kalian jatuh dalam dosa, Tuhan sendiri yang turun menyelamatkan? (Yohanes 3:16). Kenapa ketika kalian terhilang, Dia susah payah mencarinya? (Lukas 15:4). Kenapa banyak dari kalian yang menolakNya dan Dia tetap mengasihi kalian? (2 Timotius 2:13). Kenapa kalian Dia lindungi, emangnya kalian biji mataNya? (Zakharia 2:8). Kenapa kalo kalian mengaku dosa, Dia jadi pelupa, kenapa Dia lupa dosa-dosa kalian yang bejat itu? (Yesaya 43:25). Kenapa?!

Aku benci kalian! Kalian mengingatkanku pada Yang Mahatinggi! Muka kalian serupa denganNya. (Roma 8:29). Aku benci. Seumur hidupku aku akan berusaha melawan dan menipu kalian.

Kalo aku disuruh bersyukur, hanya satu hal yang akan kusyukuri... Bahwa kalian gak sadar kalo sejak 2000 tahun lalu Yesus udah membinasakan aku (1 Yohanes 3:8), aku sudah kalah dan dilucuti (Kolose 2:14-15), dan kalian berkuasa mengusirku (Markus 16:17). Hahahaha. Kutipu kalian semua. Aku mungkin ada di tim yang kalah, ...nggak apa-apa, asalkan aku berhasil membuat kalian bergabung di timku! Hahahahaha!

Akan kubuat kalian terus menerus menyalibkan Yesus dengan dosa kalian! (Ibrani 6:6). Akan kusebarkan ajaran-ajaran yang membelokkan kalian dari ajaranNya (1 Timotius 4:1-2) dan kusesatkan kalian (Wahyu 12:9-10). Pujalah aku, aku akan kuhadiahi kalian neraka. Bencilah aku dan akan aku hajar kalian saat kalian lengah. Bertemanlah denganku dan akan kukhianati kalian!

Kalian mau melayani Tuhan? Boleh, tapi layani aku juga! (Lukas 16:13). Berdoa? Baca Alkitab? Berbuat baik? Rajin ikut persekutuan? Boleh, tapi jangan lupa untuk mengabaikan keadilan dan kasih Tuhan (Matius 23:23) dan pastikan semua orang mengetahuinya dan memujimu habis-habisan (Matius 6:5). Akan kubuat kalian tau berbuat baik tapi tidak melakukannya! (Yakobus 4:17). Akan kubuat kalian merasa sibuk untuk Tuhan padahal nggak melakukan kehendakNya! (Matius 7:22).

Ya, aku tau suatu saat aku akan diikat sampe seribu tahun, tapi tunggu saja kalo saatnya aku dilepaskan, akan kubuat kalian menderita! (Wahyu 20:1-3). Memang pada akhirnya aku akan tinggal di neraka selamanya (Wahyu 20:10 dan Matius 25:41), tapi itu justru membuatku semakin ingin membawa kalian sebanyak-banyaknya! Hahaha, temani aku menderita disana. 

Sumber: Naomi Eva.
http://demzelnightwish.blogspot.com/2011/04/merinding-bacanya-about-lucifer.html

SELAMAT DATANG ANAKKU

 
shaloom semuanya,

sebelumnya dimi mau cerita dan share sama temen2 disini. sebenernya dimi udah cerita hal ini di forum yang berbeda.tapi akhirnya dimi mau berbagi disini juga.

cerita ini tentang kejadian nyata yang dimi alami di dalam hidup dimi.
shaloom semuanya...

saya warga baru disini..numpang mau ikutan bgisi thread disini...

yang saya ceritakan adalah pengalaman saya pribadi.
saya berasal dan dibesarkan dari keluarga muslim...sebelumnya saya sangat yakin dengan agama yang sudah saya anut sejak saya kecil..
tapi entah kenapa Tuhan Yesus datang ke dalam mimpi saya.

awalnya saya tidak percaya dengan semua mimpi2 saya..sampai akhirnya saya bertanya dengan pacar saya (dia agamanya kristen), tentang mimpi yang saya alami...
akhirnya mulai dari situ,saya mulai membca alkitab..saya mencari tahu tentang kebenaran akan mimpi2 saya..
anehnya lagi seringkali saya mimpi Tuhan Yesus..

saya biarkan semuanya mengalir...sampai pada suatu saat saya mempunyai kerinduan untuk datang ke gereja..bener2 rindu ingin ke rumah TUhan...tapi karena saya takut ketauan keluarga saya, saya urangkann iat saya pergi ke gereja..

akhirnya malam sabtu itu saya berdoa sebelum tidur.."..Tuhan Yesus,saya sangat rindu dan ingin sekali datang kerumah MU,,jika engkau berkehendak tunjukilah jalanMu kepadaku..." begitulah saya berdoa...akhirnya saya pun tertidur...

saya bermimpi..
saya berda di sebuah gereja..dengan semua jemaat saya lagi menyanyikan lagu pujian utnuk Tuhan..tapi ketika semua jemaat sedang bernyanyi, tiba2 di depan mimbar ada cahaya yang sangat silau masuk di tengah2 mimbar itu...para jemaat semuanya pun menunduk,tak terkecuali saya..karena saking silaunya sinar itu..mata saya tidak kuat untuk menatap ke erah mimbar,apa yang sebenarnya sedang terjadi..
tiba2 diantara para jemaat yang menunduk, dari cahaya itu terdengar suara....."...selamat datang anak KU.." begitu kata suara itu...
saat itu saya bingung apa maksud dari semua ini..siapa yang dimaksud kan anak dari suara itu..
lalu tiba2 cahaya itu mengelilingi tubuh saya..dan menuntun saya berjalan ke arah mimbar..."..para jemaat pun kontan melihat ke arah saya..mereka pun mungkin juga bingung.lau suara itu pun berbicara lagi..seakan2 mengumumkan ke para jemaat kalo mereka kedatangan tamu baru..

seketika itu juga saya terbangun dari mimpi saya...saya bingung dan kaget aakan mimpi yg saya alami itu...
akhirnya pun saya berdoa...
akhirnya saya pun bangun terus mandi untuk berangkat ke gereja...
saya juga bingung,yang semula saya takut untuk beralasan apa ke keluarga saya kalo saya minggu pagi2 dah pergi kelaur rumah,..tapi entah kenapa TUhan Yesus menunjukkan semuanya kepada saya..akhirnya tidak ada keraguan di dlam hati saya untuk berangkat ke gereja minggu itu...

saudara2ku sekalian...sampai saat ini...saya masih sembunyi2 dari keluarga saya jika saya mau ke gereja...
tapi di dlam hati saya dengan iman percaya dan yakin..saya sudah menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat hidup saya..

saya berdoa mudah2an di tahun ini saya bisa dibaptis dan secepatnya pula disidi...
amin...
mudah2an kesaksian ini bermanfaat bagi saudaraku sekalian...
setelah kejadian diatas,cerita selanjutnya...
gw pernah ketauan sama keluarga gw..keluarga besar gw bahkan..kalau gw menyimpen alkitab di tas gw..(tau deh siap yang bongkar2 tas gw)..
dan sejak itulah ketauan kalo gw pernah dateng ke gereja..kejadian itu tahun 2004.udah lama banget kan??
gw sempat dikekang dirumah,ga boleh kemana2,setiap gw pergi.which is cuma beli pulsa keluar rumah.gw udah dicuragain abbis2an..sampe rasanya rumah bagi gw kaya neraka.
gw jadi orang yang introvert dan menutup diri di dalam kamar aja..sampe2 gw berteman sama temen cewe aja ditanyain agamanya apa?? (parah banget kan??) duh gw sampe mikir, gw mau berteman sama siapa aja,agamanya hidu budha kristen, konghucu sekalipun ga masalah buat gw..

disaat gw merasa terhimpit dengan semua keadaan itu gw hanya minta petunjuk Yesus..sampe2 gw purra2 shalat..tapi gw berdoanya ke Tuhan Yesus..gayanya aja shalat,tapi hati dan doa gw, gw tujukan buat Tuhan YEsus..(gw pikir2 dosa ga sih gw..??). abis setiap kali pun gw di cek kalo gw shalat apa ngga sama keluarga gw..
ya udah gw pura2 aja shalat.tapi ga baca2an shalat..melainkan berdoa ke Tuhan YEsus

disaat seperti itu, gw hanya bisa berdoa sendirian di kamar,sampai nangis..gw sedih banget..bukan sedih ge diperlakukan seperti itu..tapi gw sedih kenapa gw aja yang dijamah sama Tuhan Yesus...dan kenapa baru sekarang gw kenal sama TUhan Yesus.(itu pikir gw saat itu..)

sampai perlahan2 akhirnya keluarga gw tidak mengekang gw lagi..ya walalupun sampai saat ini keluarga gw blom bisa menerima Tuhan Yesus.gw ga pernah berhenti mendoakan keluarga gw..

sejak kejadian itu sampe sekarang gw selalu sembunyi2 kalo pengen ke gereja...

ok..itu cerita dan pengalamnan hidup gw sampai akhirnya dimi bisa percaya dan yakin Tuhan Yesus sebagai juru selamat hidup dimi...
doakan yah teman2 semoga dimi bisa cepat dibaptis dan disidi...jadi pelayan Tuhan yang seutuhnya...amin


From http://www.sabdaspace.org/selamat_datang_anakku

Sabtu, 15 Juni 2013

Kesaksian Mongol Bintang Stand Up Comedy Pernah Jadi Pemimpin Gereja Setan

Pertama kali lihat di TV, wuih lucu, eh kayaknya orang ini pernah kulihat di VCD Kesaksian mantan pemimpin Gereja Setan yang Bertobat. Eh benaran ternyata. Asyik juga bisa menyaksikan STAND UP COMEDY beliau.

Detiknews-Jakarta - Dalam kisah sebelumnya, komedian Mongol mengungkapkan bahwa masa lalunya sangat kelam. Sebelum bertobat, ternyata ia pernah mengikuti sekte sesat, yaitu menjadi pemimpin gereja setan.

“Dulu aku ikut satu komunitas namanya Church of Satan di satu link yang namanya Lucifer Circle. Aku pimpinannya dan aku pimpinan untuk benua Asia,” ujarnya serius saat berbincang dengan Detikhot.

Mongol merasa terlahir dari keluarga yang tak punya dasar agama yang kuat. Sehingga, hal itu membuatnya salah jalan dan mengikuti bahkan menjadi pemimpin sekte sesat gereja setan di Manado.


Ketika itu Mongol dipilih sebagai pemimpin gereja setan untuk benua Asia karena dinilai cerdas. Makanya ia pun mendapat tugas untuk menyesatkan dengan cara membelokkan konsep kekristenan.

“Kita punya konsep yang namanya logically concept, konsep otak. Kerjaan kita membahas isi Alkitab mana yang bisa kita ubah secara konseptual dan kita munculkan dalam bentuk buku atau traktat lalu kita taruh di gereja atau di toko buku Kristen agar orang baca dan berubah pandangan,” paparnya.

Pria kelahiran Manado 27 September 1978 itu memang tak main-main dengan pengakuannya. “Dulu aku begitu ditakuti. Menunjuk orang kalau aku bilang mati, ya mati,” ujarnya.

Namun, kini semua itu tinggal cerita. Mongol telah meninggalkan semua masa lalunya yang kelam itu. Ia pun mengaku tak menyangka, soalnya secara posisi, fasilitas dan segala kemewahan yang ditawarkan gereja setan kepadanya dirasanya tak mungkin bisa membuatnya bertobat.

Lantas bagaimana ia kemudian bisa “kembali ke jalan yang benar”? “Aku dijamah Tuhan dan bisa tersenyum sama tertawa. Dulu aku nggak bisa,” jawabnya, kali ini jelas tidak sedang melawak. “Itu adalah mukjizat pertama yang aku bilang adalah sukacita. Secara fisik dan otak, nggak mungkin aku bertobat, tapi bagi Tuhan nggak ada yang nggak mungkin,” sambungnya.

Mongol merasa hidup jadi lebih indah setelah bertobat. Di balik kesuksesannya saat ini, ia percaya pada mukjizat. “Itu sudah kasih karunia Tuhan yang berlaku buat aku ketika aku mengalami pertobatan. Bagian terindah dalam hidup. Sekalipun senyumku jelek, aku bersyukur bisa tersenyum,” tandasnya. Hahaha.


Jakarta - Stand up comedy atau melawak dengan gaya monolog sedang digandrungi masyarakat. Di antara beberapa pelakunya, nama Mongol kini tengah naik daun lantaran dianggap lucu dalam setiap penampilannya.

Pria bernama asli Rony Imannuel itu berhasil mencuri perhatian sejak pertama tampil di acara ‘Stand Up Comedy Show’ yang tayang di Metro TV. Banyak orang tertawa terpingkal-pingkal saat ia membawa materi lawakan seputar dirinya maupun realitas sosial di masyarakat.

Mongol seringkali mengangkat tema seputar kaum homoseksual yang disebutnya dengan istilah KW. Masalah pencopet di Jakarta hingga jambul Syahrini pun tak luput jadi bahan leluconnya di atas panggung.

Belum lama ini, Detikhot pun berkesempatan mewawancarai Mongol di sebuah kafe di daerah Warung Buncit, Jakarta Selatan. “Maaf agak terlambat, tadi aku berteduh dulu menunggu hujan berhenti. Soalnya aku ke sini naik ojek,” ujarnya mengawali perbincangan.

Pria yang biasanya melucu itu tampak ramah dan bersahabat. Ia tampil sederhana mengenakan kaos putih berkerah dipadu dengan celana jeans abu-abu. Selain itu, ia juga berkacamata dan ada anting berlian di telinga kirinya.

Perawakan Mongol unik. Matanya sipit dan kulitnya sawo matang. Sedangkan logat bicaranya terdengar seperti orang Batak. Namun ia mengaku asli kelahiran Manado, sedangkan ayahnya orang Mongolia. “Itu makanya aku dipanggil Mongol. Dari kecil memang sudah dipanggil begitu,” katanya.

Adapun mengenai logat bicaranya yang seperti orang Batak, Mongol menjelaskan bahwa ia tinggal cukup lama bersama orang Batak saat pertama kali merantau ke Jakarta. Terlepas dari itu, selama ini memang tak ada yang percaya jika ia mengaku sebagai orang Manado.

“Dulu di Pasar Senen aku pernah ditanya, orang mana? Aku jawab, orang Manado. Eh dia nggak percaya dan bilang, orang Manado itu ganteng, kulit putih, dan hidung mancung. Lah, kau macam bodat (monyet dalam bahasa Batak) begitu,” kisahnya.

“Kulitku hitam begini, makanya orang lebih percaya kalau aku orang Batak ketimbang Manado,” sambungnya seraya tertawa.

Dikisahkan, profesinya sebagai seorang comic (pelaku Stand Up Comedy) terjadi secara tak sengaja. Pertengahan Juli lalu, ia dijebak seorang temannya untuk tampil melucu di Comedy Cafe, Kemang, Jakarta Selatan. “Waktu itu kagetlah aku. Sumpah demi Tuhan, kaget. Ternyata aku disuruh melucu di depan orang-orang,” kenangnya.

Namun siapa sangka, lelucon Mongol di atas panggung itu ternyata sukses membuat seluruh penonton di tempat tersebut tertawa terpingkal-pingkal. “Puji Tuhan, waktu itu pecah istilahnya, menggelegar semua sampai berdiri tepuk tangan. Malah ada yang bilang, itu anak dikerjain saja bisa begitu, bagaimana kalau nggak?” paparnya.

Sejak saat itu, pria kelahiran Manado 27 September 1978 itu kerap diminta manggung dan melucu di kafe tersebut. Hingga suatu ketika, kesempatan menghampirinya untuk tampil dalam acara ‘Stand Up Comedy Show’ di Metro TV.

Lantaran baru pertama kali tampil di televisi, Mongol pun tegang di depan kamera. Tak hanya itu, ia juga merasa gugup karena harus berdampingan dengan orang-orang yang dinilainya telah punya nama besar seperti Steny Agustaf, Soleh Solihun, Miund, Iwel Wel dan Isman.

“Gugupnya itu bukan hanya soal di depan kamera, tapi berdampingan dengan mereka itu kan berat. Siapalah aku ini? Apalagi penontonnya itu banyak banget. Makanya pertama kali jadi gugup,” ujarnya.

Namun lagi-lagi Mongol mampu mengalahkan kendalanya itu. Ia berhasil menguasai panggung dan membuat penonton tertawa. Begitu pula di episode-episode selanjutnya. Padahal diakuinya, selama ini ia tak pernah menghafal materi. Semua mengalir begitu saja.


Menyikapi keberhasilannya itu, Mongol pun mengaku bersyukur kepada Tuhan. Apalagi banyak penggemarnya yang beranggapan, penampilannya tak diragukan jika sudah naik ke atas panggung.

“Puji Tuhan sampai sekarang aku bisa dianggap beberapa orang dan komunitas sebagai salah satu comic yang sukses. Pokoknya dianggap salah satu dewa stand up comedy Indonesia. Ada yang bilang, kalau aku naik panggung sudah jaminan pasti lucu. Hahaha,” tuturnya.

Jakarta - Di balik kelucuannya, tersimpan masa lalu yang kelam. Setidaknya, demikianlah Mongol mengenang sejarah kesuksesannya sebagai salah satu bintang stand up comedy yang bersinar. Ya, di balik honornya yang telah mencapai Rp 8 juta sehari, ia punya cerita tentang cita-cita yang kandas.

“Masa lalu aku dulu sangat kelam dan aku kemudian bertobat. Dalam Kristen istilahnya lahir baru,” ungkapnya saat berbincang dengan Detikhot. “Itu sudah kebiasaan orang Manado, dikala bertobat dan dijamah Tuhan, cita-citanya langsung jadi pendeta,” sambungnya diiringi tawa.


Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Mongol merantau dari Manado ke Jakarta untuk menempuh pendidikan sekolah pendeta. Itu terjadi pada 1997. Bisa dibilang, saat itu pria bernama asli Rony Imannuel tersebut berangkat ke Jakarta dengan modal nekat.

“Waktu itu aku berangkat hanya bawa duit 100 perak logam karena jadi pendeta itu dibiayai sponsor. Aku naik kapal laut dengan waktu 6 hari perjalanan dan singgah di kiri-kanan,” kisahnya.

Beberapa bulan di Jakarta, tak ada kejelasan dari pihak sponsor untuk menyekolahkan Mongol jadi pendeta. Hingga akhirnya harapannya tersebut kandas di tengah jalan. “Waktu itu aku kemudian tahu, orang yang mensponsori aku sudah pergi ke Amerika. Makanya akhirnya batal,” ujarnya masih menyisakan kesal.

Gagal masuk sekolah pendeta dan tak punya uang praktis membuat pria kelahiran 27 September 1978 itu luntang-lantung di Jakarta. Berbagai upaya pun coba dilakukannya untuk bertahan hidup.

“Pertama kali aku tidur di emperan toko di Sarinah. Malam-malam bantu tukang pecel lele di Jalan Sunda. Aku bantu kerja walaupun cuma dikasih makan. Aku ingat waktu itu juga kadang telat bayar kos. Tapi, ya Puji Tuhan dapat kos-kosan punya orang Batak dan dia masih mentolerir kalau telat seminggu atau sebulan. Nangis ya nangis waktu itu,” kenangnya.

Mongol pernah pula kerja di rumah makan Padang sebelum akhirnya bekerja di sebuah perusahaan swasta. “Di rumah makan padang gaji aku waktu itu Rp 400 ribu, terus kerja di sebuah perusahaan swasta gajinya Rp 1, 2 juta,” ungkapnya blak-blakan.

Setelah dua tahun lebih bekerja di sebuah perusahaan swasta, Mongol akhirnya memutuskan untuk berhenti dan ikut dalam sebuah manajemen artis. “Waktu itu aku menangani Dirly ‘Idol’ sekitar 4 tahun 8 bulan. Mengikuti dia syuting, nyanyi dan lain-lain,” katanya.

Lepas dari situ, Mongol kemudian membentuk manajemen sendiri bersama temannya. “Puji Tuhan waktu itu chanel-ku sudah banyak, jadi usaha itu jalan,” paparnya. Sejak itu pekerjaan Mongol pun mulai berkembang dan membuat pergaulannya meluas.

Singkat cerita, sifatnya yang humoris alias suka melucu mengantarkannya tampil dalam acara ‘Stand Up Comedy Show’ di Metro TV, hingga dikenal orang seperti sekarang. Ketika diingatkan kembali tentang cita-cita menjadi pendeta yang gagal, Mongol tak menyesal.

Baginya, jalan hidupnya kinisebagai komedian merupakan rencana Tuhan. “Pada akhirnya ya aku menyadari, jadi pendeta itu panggilan, bukan kemauan. Sejauh ini aku menilai ini semua adalah mukjizat Tuhan,” ujarnya mendadak serius. Puji Tuhan !

Minggu, 09 Juni 2013

KESAKSIAN MOHAN JHASS

Mohan Jhass terlahir dengan keberuntungan besar dalam sistem kasta India. Keluarganya termasuk dalam kasta Brahmana, dan Mohan adalah anak sulung. Hal ini berarti bahwa dia diijinkan -- dan sangat diharapkan -- untuk menjadi seorang pendeta Hindu.
"Jika Anda lahir dalam suatu sistem keagamaan, dalam sebuah kasta, maka Anda mengerjakan apa yang dilakukan keluarga. Anda tidak dapat memilih profesi atau cara hidup sendiri," kata Mohan. "Meskipun saya berkelimpahan secara finansial, mempunyai rumah besar, keluarga besar, kekayaan orangtua, hak untuk menjadi pendeta Hindu -- saya memiliki semuanya itu. Namun masih ada sesuatu dalam diri saya yang berkata, 'Itu belum cukup.' Ada sesuatu tentang Allah yang lebih dari yang saya ketahui."
Sejak berusia tiga tahun, Mohan telah memulai pelatihan kependetaannya. Dia belajar disiplin yang ekstra ketat dan banyak keahlian. Meskipun dia masih anak-anak, tapi sudah banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya. "Salah satu dari pertanyaan tersebut adalah saya sering bertanya kepada guru saya, 'Guru, kapankah saya akan mendapat kedamaian?' dan para guru akan selalu berkata, 'Saat kamu dewasa nanti.'"
Ketika mencapai usia remaja, dia masih juga belum mendapat jawaban. "'Guru, saya masih belum merasakan kedamaian. Kapankah saya akan mendapatkannya?' Saat itu saya berusia sekitar 15 tahun," kata Mohan. "Guru saya pada waktu itu sudah berusia 90 tahun. Pada saat itu dia mengatakan kepada saya bahwa dia pun belum pernah merasakan kedamaian. Mereka sering mengatakan dan menggunakan kata damai, tetapi mereka tidak mengetahui apa artinya."
Meskipun sedang bermasalah, Mohan tetap melanjutkan pelatihannya selama dua tahun. Kemudian seorang misionaris Amerika datang berkunjung ke pura-nya. Nama misionaris itu adalah Herb, dan Mohan ditugaskan untuk menjelaskan tentang ajaran Hindu kepada Herb. "Herb ingin mengetahui banyak hal dan saya dengan sangat bangga menceritakan padanya tentang evolusi ajaran Hindu," kata Mohan, "saya ceritakan dari mana asalnya ajaran ini dan bagaimana saya bisa mempercayainya. Saya ingin selalu bersama Herb untuk melatih kemampuan saya dalam berbahasa Inggris. Saat bersama Herb, saya melihat bahwa dia memiliki sesuatu yang berbeda."
Mohan tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya kepada Herb. "Apa yang sebenarnya kamu miliki?" tanya Mohan. "Ceritakan padaku tentang Allahmu." Herb sangat senang untuk menceritakan tentang Yesus Kristus kepada Mohan. Tak lama sesudah itu, Mohan mengerjakan sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikirannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Mohan pergi ke gereja.
"Setiap kali pendeta di gereja memandang diri saya, maka saya merasa seolah-olah dia berkata 'Mohan, kamu orang berdosa.' Memang dia tidak memanggil nama Mohan, namun dia berkhotbah bahwa semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Satu-satunya cara untuk mengenal Allah hanyalah dengan datang kepada Allah dalam kuasa darah Yesus yang telah membayar semua dosa," kata Mohan.
"Saya tidak mengetahui bahwa saya adalah orang berdosa. Saya tidak berpikir bahwa saya berdosa, karena saya tidak merokok, tidak minum minuman keras, tidak mengerjakan hal-hal yang tidak berguna. Saya tidak melakukan itu semua. Hati saya penuh dengan kebanggaan tentang siapakah diri saya. Saya berpikir bahwa saya adalah seorang yang berarti. Saya mengetahui seni-seni perang, melakukan yoga, meditasi, dan saya merasa lebih unggul dalam segala hal. Juga latar belakang keluarga saya yang memberikan status. Menjadi seorang pendeta Hindu adalah hal yang luar biasa, namun tetap saja, saya tidak menemukan kedamaian."
Mohan sangat tertarik dengan kebenaran itu, tetapi dia juga takut tentang bagaimana masa depannya. Herb mengetahui hal tersebut ketika mengajak Mohan pulang. Mohan menerima Yesus sebagai Juruselamatnya. Sekarang dia harus menghadapi apa yang ditakutkannya. "Lebih baik kamu mati daripada menjadi seseorang yang paling dibenci dalam keluarga," kata Mohan. "Banyak orang yang menjadi pengikut Kristus, dan, bahkan saat ini di India, mereka menghadapi kematian. Dan situasi yang sama juga diperhadapkan pada saya. Jika memilih Kristus, saya akan kehilangan hidup yang pernah saya jalani. Saya diberi waktu satu jam untuk memutuskannya.
"Oleh keluarga, saya diminta untuk memilih antara menyerahkan hidup kepada Kristus atau menjalani hidup saya yang lama," kata Mohan. "Lalu saya berdoa. Saya berkata, 'Tuhan pandulah aku.' Kitab pertama yang saya buka adalah Lukas 9:23: "Kata-Nya kepada mereka semua: 'Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.'""
"Saya berkata, 'Tuhan, saya ingin menyangkal segala sesuatu tentang diri saya, dan saya ingin kamu menjadi Allah dalam hidup saya.' Tindakan selanjutnya yang saya ingat adalah, ada ketukan di pintu. 'Apa keputusanmu?' Dan saya menjawab, 'Saya menjadi pengikut Kristus.' 'Keluar dari rumah ini!' adalah jawaban yang saya terima dari keluarga saya."
Mohan dicampakkan keluarganya dan dia tidak mempunyai tempat tujuan. Akhirnya ia tinggal dan bekerja dalam pelayanan misi bersama Herb. Ia ingin pergi ke Amerika. Dalam enam bulan berikutnya, dia tiba di Longview, Texas, dengan berbekal beberapa baju dalam tasnya.
"Saya bekerja selama 70 jam seminggu dan juga pergi kuliah," kata Mohan. Saya mencuci semua peralatan dapur di Le Tourneau University. Saya membersihkan semua ruangan pada malam hari. Dan saya beruntung bisa tidur selama 2 jam tiap malamnya."
Mohan lulus dari dua disiplin ilmu yang diikutinya -- Alkitab dan teknik mesin. Kemudian dia menikah dengan Susan dan mereka memulai kehidupan berkeluarga. Mohan sekarang menjadi pendeta di sebuah gereja lokal dan melayani sebagai ahli terapi yang berpengalaman, memberitakan tentang Kristus.
Sumber: Situs CBN WorldReach
http://www.cbnworld.com/true/mohan.asp
http://kisahnyatadankesaksiankristen.blogspot.com/2011/03/pertobatan-mohan-jhass-oleh-julie-blim.html

Minggu, 02 Juni 2013

DARI PENGKOTBAH CILIK JADI PENGIDAP HIV / AIDS


Kesaksian Kristen Pada tahun 1983, kota Tarutung, Sumatera Utara dibuat heboh oleh seorang anak balita bernama Kaleb Otniel Hutahaean yang dapat menyembuhkan orang sakit hanya dengan berdoa. Dalam waktu singkat namanya menyebar ke berbagai pelosok Indonesia, dan undangan berkotbah untuk Kaleb pun mulai membanjir.

“Orang otomatis mulai mengenal nama saya, dalam satu bulan bisa kurang lebih dua puluh harian di luar rumah,” jelas Kaleb.

Diusianya yang baru tiga tahun, Kaleb sudah harus melayani panggilan berkotbah ke berbagai penjuru kota di Indonesia. Karena hal ini, orangtua Kaleb menitipkannya ke salah satu kerabat di Jakarta.

Sekalipun Kaleb menjadi anak ajaib yang dipakai Tuhan untuk menyembuhkan banyak orang, Kaleb tetap berprilaku seperti anak pada umumnya.

“Kalau dia habis kotbah, dia turun, dia langsung main-main seperti biasa,” jelas Ibu Hutapea, ibu angkat Kaleb yang mengurusnya saat itu.

Selama sepuluh tahun lamanya, Kaleb memberitakan firman Tuhan dengan tekun dan dipakai Tuhan untuk menyembuhkan banyak orang. Namun tidak ada orang yang tahu bahwa ada sebuah pergolakan terjadi di lubuk hatinya.

“Banyak hal yang saya tidak mengerti, mengapa saya harus menjalani kehidupan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Ketika saya berdoa dan bertanya pada Tuhan, sepertinya Tuhan juga terdiam dan tidak menjawab. Akhirnya saya mencari jawaban-jawaban itu dengan cara saya sendiri.”

Hingga satu titik, Kaleb sudah tidak tahan lagi dan meminta ijin pada orangtuanya untuk berhenti dari pelayanan. Orangtua Kaleb dengan penuh pengertian mengijinkannya, dan Kaleb pun akhirnya bisa menjalani kehidupan normal yang ia impikan.

Ditengah masa remajanya itu, sama seperti anak-anak lain, Kaleb pun melakukan pencarian akan jati dirinya. Namun karena salah pergaulan, ia terperosok pada perangkap narkoba.

“Saya waktu itu memiliki banyak waktu luang dan ngumpul dengan teman-teman. Otomatis ngga mungkin kita ngga ngerokok, ngisep ganja bareng-bareng itu sudah pasti. Suka ngga suka, itu sudah merupakan lambang pergaulan. Kalau ngga begitu, ya ngga punya teman. Ada perasaan bangga yang sebenarnya semu, pada akhirnya saya bisa berontak, keluar dari image anak baik-baik,” demikian Kaleb mengungkapkan masa kelamnya.

Petualangan Kaleb tidak berhenti disitu, ia mulai mencoba putaw dan jarum suntik. Baginya saat itu narkoba lebih penting dari pada makan. Tapi semua itu tidak memberinya kebahagiaan, hati kecilnya berbisik dan membuatnya menyadari apa yang ia lakukan adalah salah, namun Kaleb seperti tak berkutik karena telah menjadi budak narkoba.

“Seringkali saya merasa jijik dengan diri sendiri. Di dalam diri ini menuduh, seharusnya saya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dari ini. Ada keinginan untuk kembali lagi ke dalam rangkulan Tuhan, hanya pada waktu itu saya tidak tahu bagaimana caranya.”

Orangtua Kaleb melihat keadaan anaknya sudah tidak terkendali lagi, untuk itu mereka mengambil langkah untuk membawa Kaleb ke panti rehabilitasi.

“Saat di panti rehabilitasi itulah saya ketemu dengan salah seorang mentor baru dimana kami banyak berbincang-bincang dan berdiskusi. Ada suatu kesan dia itu seperti sahabat, dan banyak menasihati saya dari kebenaran firman Tuhan.”

Persahabatannya dengan sang mentor membawa Kaleb kepada sebuah wawasan baru ketika suatu saat ia mencobai sang mentor.

“Saat itu saya di ruang isolasi, saya minta rokok sama dia.”

Sang mentor saat itu berkata, “Ini yang pertama kali dan yang terakhir kali, saya tidak akan pernah lagi beli.” Namun justru peristiwa itu mengubah Kaleb.

“Justru peristiwa ketika dia kasih rokok sama saya membuat saya merasa, ‘Ini dia sebenarnya yang saya cari. Ketulusan yang seperti ini. Orang yang ngga menggurui dan sungguh mengerti kondisi saya.’ Dari situ saya memutuskan untuk berhenti merokok, saya berhenti narkoba dari free sex, karena saya sudah menemukan hati Bapa ketika saya bergaul dengan mentor saya, Redolius,” kenang Kaleb.

Sembuh dari kecanduannya akan narkoba, Kaleb pun memutuskan untuk mencari kehidupan yang baru di sebuah komunitas. Dikomunitas itulah, Kaleb memutuskan untuk menjadikan hidupnya lebih baik. Empat tahun ia jalani dalam keadaan bebas dari keterikatan pada narkoba dan seks bebas serta memberikan hidupnya untuk melayani masyarakat pra sejahtera bersama teman-temannya di komunitas itu, namun sesuatu yang tidak pernah ia duga terjadi.

“Didapati paru-paru kanan saya bolong besar, paru-paru kiri saya bolong kecil-kecil.” Dokter yang menangani Kaleb menyatakan bahwa ia mengidap TBC kelenjar, TBC paru, ada jamur ditubuhnya yang merajalela dan mengalami serangan semacam asma. Namun semua penyakit itu belumlah cukup, vonis dokter yang terakhir ini membuat seakan dunia yang ia miliki hancur.

“Saya positif HIV/AIDS..”

Kaleb bertanya-tanya, mengapa semua itu diijinkan terjadi saat ia sudah bertobat dan sudah kembali melayani Tuhan. Namun dalam kondisinya yang sudah dekat dengan maut saat itu, ia tidak menyalahkan Tuhan.

“Saya menyadari betul siapa saya. Saya sadar perbuatan saya dan saya percaya bahwa Tuhan tidak pernah merencanakan sesuatu yang buruk untuk kehidupan saya.”

Selama berminggu-minggu kondisi Kaleb terus menurun, bahkan untuk bernafaspun ia sulit sekalipun sudah dibantu dengan tabung oksigen. Teman-teman sepelayanan Kaleb terus berdoa dan memberikan semangat kepada Kaleb, mereka memohon kepada Tuhan agar Kaleb diberi kesempatan kedua.

Dukungan yang diberikan oleh rekan-rekannya membuat semangat hidup bagi Kaleb, “Tuhan, kalau Tuhan kasih kesempatan untuk keluar dari ruangan ini, saya akan membuat suatu pertarungan yaitu the last battle yang benar-benar dasyat dan luar biasa. Lalu saya menerima suatu rhema dari Amsal, yaitu ‘Seperti orang yang membuat perhituangan dengan dirinya demikianlah dia.’ Dari ayat itu saya renungkan, saya belajar, baru saya dapati : oh.. ternyata untuk bangkit dari sini saya harus membuat perhitungan yang benar dulu dengan diri saya. Maka dari situ saya mulai mengubah paradigma saya, tidak lagi melihat HIV ini sebagai suatu penghukuman, bukan lagi suatu kutuk, tapi saya melihat HIV ini sebagai suatu kesempatan untuk memuliakan nama Tuhan. Saya melihat ini sebagai suatu amanah, saya melihat ini sebagai suatu tugas. Justru saya melihat seluruh kondisi kehidupan saya ini sebagai suatu kesaksian hidup untuk bercerita kepada orang bahwa pengharapan itu ada.”

Perubahan paradigma pada diri Kaleb membawa perubahan bagi tubuhnya, kondisinya mulai membaik. Setelah menjalani perawatan selama tiga bulan di rumah sakit, hasil cek kesehatan Kaleb menunjukkan sebuah perubahan yang luar biasa. Lobang pada paru-paru kiri dan kanannya telah tertutup semua, bahkan dokter yang melihat hasil roentgen-nya tidak percaya dengan hasil yang ada dan memerintahkan untuk memeriksa ulang.

“Terakhir dia cuma nanya sama saya, ‘Kamu beli nyawa berapa ratus juta?’ Saya cuma tersenyum saja.”

Virus HIV yang merupakan bayang-bayang kematian bagi Kaleb tiba-tiba tidak terdeteksi lagi, bahkan dokter menyatakan bahwa kesehatannya sama seperti orang yang tanpa HIV.

“Hal pertama yang timbul dalam pikiran saya saat itu adalah: ternyata pengharapan itu sungguh ada. Sesudah saya mengetahui fakta-fakta medis yang sangat memuaskan seperti itu, membuat saya semakin bergairah menjalani hidup saya.”

Mengalami mukjizat kesembuhan yang luar biasa itu, membuat Kaleb memutuskan sebuah komitmen yang baru.

“Dulu waktu saya kecil saya melayani berdasarkan kasih karunia, bukan kehendak saya. Komitmen saya kepada Tuhan setelah Tuhan percayakan kehidupan yang kedua ini pada saya, ialah saya melayani dengan hati.”

Perjalanan hidupnya ketika menjalani hidup yang baru ini tidaklah semudah membalik telapak tangan. Masih ada godaan dari teman-temannya yang masih menggunakan narkoba, namun dengan kasih karunia Tuhan dia mampu menolak semua itu. Hatinya tidak lagi tertarik dengan semuanya itu.

“Satu alasan mengapa saya tidak kembali ke kehidupan saya yang lama adalah karena kehidupan yang saya jalani sekarang lebih baik daripada kehidupan saya yang dulu,” ungkap Kaleb sambil tersenyum. (Kisah ini ditayangkan 16 Februari 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel.

Sumber Kesaksian:

Kaleb Otniel Hutahaean
http://www.ceritakristen.org