Selasa, 02 Juli 2013

NAMA YANG DAHSYAT

Saya berdiri di tengah-tengah keramaian pesta itu, dan saya mendengar sebuah suara berbicara. Dengan jelas suara itu mengatakan bahwa apabila saya bersedia menolak Yesus — dan tetap tinggal pada keyakinan saya sebelumnya– maka rumah mewah dan seluruh perlengkapannya itu akan diberikan kepada saya.

Saya memilih menyebut nama Yesus, dan suara itu pun menghilang dari telinga saya. Kemudian saya melihat sebuah lubang yang sangat besar. Ketika saya dibawa melewati lubang itu, tiba-tiba kepala saya menjadi pusing dan sangat sakit, seperti mau mati rasanya. Lantas saya berseru nama Yesus, dan tiba-tiba ada sebuah tangan yang perkasa tetapi lembut, menarik saya ke luar dari lubang itu.

Setelah saya selamat dari lubang tersebut, saya menangis sejadi-jadinya, seperti seorang anak kecil. Walaupun saya mencoba untuk berhenti menangis, namun tetap saja tak bisa. Sambil menyanyikan lagu pujian, yang saya ingat ketika mengikuti pelajaran pendidikan agama di sekolah Kristen, air mata saya mengalir dengan sukacita. Saya terbangun dari mimpi itu, dan pada hari itu, di tahun 1997, saya memutuskan, bahwa apa pun risikonya dan bagaimana pun sulitnya proses yang akan saya hadapi, saya akan tetap menerima Yesus menjadi Tuhan dan Juru Selamat saya.

Saya menghubungi seorang kawan, untuk meminta penjelasan tentang baptisan. Dengan singkat ia menjelaskan arti baptisan. Kemudian ia membawa saya pergi ke suatu gereja untuk menerima baptisan. Istri saya tidak setuju atas keputusan saya itu, namun hati saya tetap bersukacita. Selama setahun kemudian, Tuhan Yesus menolong saya untuk berubah menjadi orang baik, banyak mencurahkan perhatian untuk istri dan anak-anak, serta memusatkan perhatian untuk mengembangkan bisnis.

Pada akhirnya, istri saya juga dijamah Tuhan Yesus, sehingga ia pun mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan dibaptis di dalam nama Tuhan Yesus. Saya mulai mendalami ajaran Tuhan Yesus di sebuah persekutuan doa. Saya sudah berkomitmen untuk menjalankan perintah-perintah-Nya dalam seluruh hidup saya setiap hari.

Di kemudian hari, setelah saya menelusuri riwayat keluarga, ternyata engkong (kakek) saya di daratan Tiongkok, adalah seorang penginjil yang berani mati dan sangat cinta Tuhan Yesus. Saya juga bersyukur karena saya dulu bersekolah di Hong Kong, sehingga saya bisa berbicara bahasa Mandarin dengan baik. Ternyata hal itu adalah cara Tuhan Yesus mempersiapkan diri saya, menjadi alat-Nya, memberitakan Kabar Baik di tanah leluhur saya.

Dahulu, sebelum bertemu dengan Tuhan Yesus, saya adalah seorang yang sangat emosional, kasar, dan mudah tersinggung. Sehingga saya mudah marah-marah. Bila saya sedang marah-marah, biasanya saya melempari barang pada karyawan pabrik. Tapi sekarang, saya banyak sabar, dan belajar menerima keadaan istri saya apa adanya. Saya memuji Tuhan Yesus, karena istri saya sekarang juga mengakui bahwa ia adalah seorang wanita yang sangat beruntung dan bangga mempunyai suami seperti saya.


Copas : www.kerygmateenz.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar