Rabu, 14 Agustus 2013

PENJAHAT BERTOBAT KARENA KESETIAAN ISTRI

"Bapak saya ini memang orangnya keras karena dia pemabuk. Sampai dia
memukul dan mengikat
saya, waktu itu saya dendam sama bapak." kata Lamsar ketika
mengenang ayahnya.
Dendam itu tersimpan dalam diri Lamsar dan
hari demi hari Lamsar
tumbuh dalam kebencian akibat perlakuan kasar dari ayahnya.  Beranjak dewasa Lamsar pun berubah menjadi seorang yang sangat
berbahaya. Ketika
masih berumur 12 tahun dia mengambil keputusan untuk bergabung  dengan kelompok bajing loncat. Setiap hari Lamsar dan teman-temannya
merampok mobil-mobil
yang melintas di jalur Jakarta-Sumatera, namun kegiatan tersebut diketahui oleh polisi. Dan Lamsar memutuskan untuk melarikan diri dan
masuk di terminal
Mercubuana. Di situ Lamsar bergabung dengan preman-
preman.
"Memang di sana kalo mau cari uang, pekerjaan, atau bongkar muat harus
dengan berantam lebih
dulu."

Kehidupan yang keras sudah menjadi gaya hidup Lamsar, bahkan Lamsar berani menikam
seorang preman untuk
mengambil dompetnya. "Pekerjaan saya memang begitu kalo
ada orang tidur
dompetnya saya ambilin. Kalo ketahuan berantam. Waktu itu
saya ketahuan, karena
saya tidak bisa lawan dia maka saya ambilah
pisau. Saya tusuk dia,
setelah itu saya melarikan diri ke kampung."
Namun Lamsar tidak
lama di kampungnya, Lamsar memutuskan untuk pergi ke Jakarta
dan memimpin
komplotan preman di Pulo Gadung. "Karena saya udah pernah menusuk orang, jadi sayalah kapten mereka. Pekerjaan kami 'marsapu jagat' atau membajak bis. Karena saya kapten, saya keluarkan golok saya. Sopir saya ancam, semua penumpang
kasih hartanya,
uangnya, kalungnya kalo bergerak akan mati." Ujarnya menceritakan kisahnya.

Tanpa perasaan dan
tanpa sedikit pun rasa kasihan Lamsar dan teman-temannya
merampas semua
harta miliki penumpang. Bahkan bagi Lamsar, kejahatannya adalah sebuah kebanggaan. "Setelah itu kita membawa hasil yang kita ambil, emas and cincin itu semuanya, kita pulang kadang- kadang kita jemur, supaya tahu punya siapa yang paling banyak. Sesudah itu kami jual untuk main judi, mabuk-mabuk, ganja dan main
perempuan."

Setiap hari Lamsar
berpesta pora menikmati hasil jarahannya, tanpa sedikitpun rasa
penyesalan bahwa dia
telah merugikan banyak orang. Kebiasaan buruk ini pun terus dibawanya ke dalam pernikahan. "Saya belum tahu siapa dia? Pekerjaannya yang
sebenarnya ?",ungkap
istri Lamsar, Ribur.

"Saya mengaku kepada wanita ini, pekerjaan saya adalah kontraktor. Wanita ini percaya
karena banyak uang
saya." aku Lamsar. Terbuai dengan bualan suaminya, Ribur pun
percaya meski masih
ada rasa curiga dalam dirinya. "Ga ada damai, kalo dia datang saya ketakutan. Setiap hari ada rasa ketakutan dan jantung saya berdebar-debar."

Dalam hati Ribur selalu
timbul pertanyaan tentang pekerjaan suaminya yang
sebenarnya.
Namun akhirnya kecurigaan Ribur pun terungkap juga. Setelah
5 bulan menikah,
teman-teman suaminya datang ke rumah. Mereka bercerita
dan mengajak
suaminya untuk melakukan perampokan ke rumah-rumah. "Istri saya dengar tapi dia tidak bisa menuduh karena takut kepada saya." kata Lamsar.

Setelah teman-teman
suaminya pergi, Ribur bertanya kepada suaminya tentang
pekerjaan suaminya
yang sebenarnya dan Lamsar menjadi ketakutan. "Barulah istri saya
mengerti bahwa saya
telah mengerjakan ga berkenan di mata dia. Saya bawa uang
berjuta-juta ke rumah
tetapi tidak dibelanjain." ungkap Lamsar. "Tolonglah ini uang
jangan ditaruh di lemari.
Karena bau banget, beda dengan uang saya. Badannya bau, uangnya bau, semuanya bau." kata Ribur ketika menyadari hal tersebut.

Sejak itu perangai
Lamsar berubah menjadi orang yang keras dan kasar terhadap istrinya. "Seperti ada yang masuk dalam dirinya, saya diludahin, ditendang, ditariknya
baju saya. Ini yang saya
tahan 7 tahun lamanya." ujar Ribur mengungkapkan
perlakuan buruk
suaminya. "Pacaran lagi di luar-luar, dengan wanita-wanita. Tiap malam aku mabuk." kata Lamsar. "Kalo pulang pintu tidak segera dibuka, langsung ditendang.

Jadi selama 7 tahun saya tidak bias bicara sama suami seperti makan hati setiap hari." Ungkap Ribur. Hari-hari Ribur berubah kelam, bertahun-tahun menjalani pernikahan
sedikitpun tidak pernah
merasakan kebahagiaan. Bahkan suatu ketika, Ribur
hampir mati di tangan
suaminya. Waktu itu dia minta suaminya untuk membeli ikan karena mereka tidak masak tetapi suaminya justru marah dan mengancam
akan membunuhnya
dengan parang. Ribur hanya bisa pasrah menerima kenyataan
yang harus dihadapinya,
namun tidak pernah terbersit dalam benaknya untuk
meninggalkan
suaminya.

"Tetapi tidak pernah
saya mengutuki dia, tidak pernah saya menyesali, bahkan tidak
pernah keluar dari mulut
saya untuk bilang kata cerai. Saya bertahan
sampai nanti Tuhan
pasti ubahkan dia." ungkap Ribur. Dengan sebuah pengharapan yang
sepertinya mustahil,
Ribur menyerahkan suaminya kepada Tuhan serta terus
menceritakan keajaiban
Tuhan kepada Lamsar meskipun suaminya tidak mau percaya.

Namun rasa penasaran
timbul dalam hari Lamsar hingga akhirnya Lamsar mengikuti
sebuah ibadah.
"Waktu dalam pertemuan itu saya menyerah, ada firman
Tuhan mengatakan,
'Biarpun dosamu merah seperti kirmisi akan menjadi putih seperti
salju. Yesus yang mati
di kayu salib itu hari ini akan menebus engkau
sebesar apapun
bebanmu, Yesus tidak akan pernah menolak engkau.' Demikian
dikatakan kepada saya.

Seseorang mengatakan, 'Akui dosamu, Tuhan akan mengampunimu." Sesaat Lamsar teringat dengan dosa-dosa masa lalunya. Lamsar melihat sebuah sinar dan terjatuh. Lamsar merasakan semua bebannya seketika itu hilang dan damai sejahtera dan suka cita mulai mengalir dalam hidupnya. "Selama ini yang saya rasakan damai itu
hanya mabuk-mabuk,
ganja, narkoba, diskotik, main judi. Tetapi sejak saya mengenal Tuhan, semuanya tidak ada harganya. Dari situlah saya mulai cinta kepada Tuhan."

Sejak itu Lamsar
meninggalkan kebiasaan buruknya merampok dan segala kejahatan yang lain yang sering dilakukannya dengan memutuskan menjadi sopir angkot untuk
mencukupi kebutuhan
keluarganya. Sampai akhirnya Lamsar mendapatkan
pekerjaan tetap
sebagai pemimpin spiritual.

"Saya sudah mengampuni orang tua saya, segala kepribadian saya sudah berubah. Dulu saya penjahat, saya sekarang sudah berubah. Saya mengasihi istri saya, sejak saya mengenal Tuhan baru saya merasakan bagaimana yang dirasakan suami istri dalam pernikahan yang sebenarnya." ,ujar Lamsar mengucap syukur untuk perubahan hidupnya.

"Hari lepas hari dia
makin berubah. Dia sudah berubah dari perkataannya pun sudah berubah.Saya bangga sekali bahkan saya lebih mengasihi lagi dan bersaksi
kemana-mana bahwa
suami saya sudah di ubahkan. Buat saya Yesus itu sangat dasyat, luar biasa, ajaib perbuatannya. Tidak pernah dia ingkari janji- Nya." ,ungkap Ribur
menutup kesaksiannya.
(Kisah ini telah ditayangkan 26 Agustus 2010 dalam acara Solusi di O Channel)


Sumber Kesaksian:
Lamsar dan Ribur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar