Jumat, 20 September 2013

A MAN WITHOUT TEARS

Kesaksian Pdt. Samuel Irwan – AIRMATAKU (tidak lagi) MENJADI MAKANANKU

Lesu aku karena mengeluh, setiap malam aku menggenangi tempat tidurku,dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.(Mazmur 6:7)
Yaah…. air mata identik dengan masalah, kesesakan dan kesedihan hati. Kita sering mengasosiasikan orang yang sedang menangis sebagai orang yang sedang menderita, walaupun ada juga air mata bahagia…, karena saking terharunya atas suatu peristiwa yang membahagiakan hati. Tapi memang lebih banyak air mata keluar dikarenakan penderitaan.
Bani Korah menuliskan mazmur yang menunjukkan kesesakan hatinya, Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku, “Di mana Allahmu?” (Mazmur 42:4a)
sampai-sampai air mata terus mengalir tiada henti-hentinya…
Masyarakat sering menganggap orang yang mudah menangis adalah orang yang lemah hati, bahkan ada ajaran tak tertulis “Anak laki-laki sejak kecil harus diajarkan tidak boleh menunjukkan air matanya di depan orang lain”, karena terkesan lemah dan tidak jantan…
Sampai suatu hari untuk pertama kalinya…. yaaah untuk pertama kalinya saya menyadari, ‘betapa beruntungnya saya masih punya air mata ‘ . Betapa beruntungnya teman-teman , karena teman-teman masih bisa menangis…..

A MAN WITHOUT TEARS

Kesaksian Kristen
Pdt. Samuel Irwan – Saat ini – a Man Without Tears
Tanggal 14 Januari 2010 saya mendengarkan langsung kesaksian Pdt Samuel Irwan. Suatu kesaksian yang mengharu-biru.
Beliat pernah terkena penyakit kulit maha dahsyat yang sekarang meninggalkan jejak di matanya. Tidak bisa menangis lagi karena kelenjar air matanya sudah mampet akibat penyakit yang dialaminya. Melihat penampilan beliau ketika berkotbah, sepintas tidak ada perbedaan dengan orang lain pada umumnya, kecuali mata yang kelihatan agak basah …
Menelusuri kesaksiaannya, jelas sekali panggilan beliau adalah sebagai hamba Tuhan. Samuel Irwan, sejak umur 14 tahun sudah melayani Tuhan, dan setahun kemudian sudah menjadi pengkhotbah cilik. Setamat SMA, Samuel Irwan melanjutkan pendidikan di Sekolah Theologia STT Tawangmangu. Di sekolah inilah Samuel Irwan mengalami pembentukan karakter lebih lagi, dan sebelum lulus Samuel Irwan bernazar, kelak akan melayani Tuhan sepenuh waktu, di manapun Tuhan akan mengutus dan menempatkannya.
TEMPAT MULAI MENJALANI NAZAR
Kesaksian Kristen
Rumah Tinggal waktu Melayani
Setelah lulus dari STT Tawangmangu, tahun 1993 Samuel Irwan menjalani masa praktek dan ditempatkan di Kecamatan Mangkupalas, Samarinda, Kalimantan Timur. Di tempat inilah ia mulai menjalani kehidupan sebagai hamba Tuhan sepenuh waktu. Semua dijalani dengan sukacita dan penuh semangat walaupun harus meninggalkan kehidupan nyaman di Surabaya dan menjalani kehidupan yang
berat di Kalimantan dengan persembahan kasih yang sangat kecil. Hanya Rp 80.000 per bulan.
Tinggal di rumah yang sangat sederhana, banyak tikus berkeliaran, mengepel rumah, mencuci pakaian dan piring di parit, membersihkan gereja, melayani sebagai pengerja di gereja adalah kegiatan yang dijalaninya hari demi hari. Tidak terasa sudah dijalani selama 2 tahun.

MERALAT NAZAR

Kesaksian Kristen
Foto Pernikahan
“Bagaimana saya bisa berumah tangga dengan kehidupan ekonomi yang minim seperti ini? Mana ada yang mau jadi istri saya?
Mana ada orang tua yang mau memberikan anak perempuannya kepada saya? Bagaimana saya bisa menghidupi keluarga saya?”
Berbagai pertanyaan dan keluhan mulai menyesakkan hatinya di tengah-tengah kerinduan untuk mulai membina rumah tangga. Dan hatinya memang sudah mulai terpaut dengan seorang gadis cantik yang dikenalnya di pertandingan vocal group di sebuah gereja di Samarinda. Samuel Irwan mulai memikirkan untuk tidak lagi menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu. Apalagi banyak testi  anak-anak Tuhan yang sukses dalam pekerjaan tapi juga tetap setia melayani Tuhan, membuat ia memutuskan berhenti jadi
fulltimer dan mulai melamar pekerjaan sekuler.
Ketika gembala sidang bertanya tentang nazarnya, Samuel Irwan berkata, “Saya meralat nazar saya.” Airmata dan perkataan gembala sidang, “Gereja memang nggak bisa memberikan gaji besar, tapi Tuhan mampu pelihara hidupmu…..”  tidak mampu
menghentikan tekad Samuel Irwan untuk berhenti jadi fulltimer gereja.
Berbekal ijazah SMA, kemampuan komputer dan Inggris, tahun 1995, Samuel Irwan diterima bekerja di sebuah perusahaan kayu. Benar-benar mulai dari posisi bawah , hanya sebagai operator radio. Karena keuletannya dalam bekerja dan kemampuannya di bidang komputer, hanya dalam waktu 5 bulan ia diangkat menjadi kepala produksi log di perusahaan kayu itu.
Berkat finansial mulai mengalir dengan deras sehingga bisa mengontrak rumah, membeli perabotan, sepeda motor membuatnya yakin berada di track yang benar.
Menikah dengan Erna S. Tjandra, di tahun 1996 dan dikaruniakan seorang putri setahun berikutnya membuat kebahagiannya semakin lengkap. Kedudukan tinggi di perusahaan, punya istri, anak, rumah, kendaraan. What else could make him happier?
Kalau dulu saat ingin bekerja di dunia sekuler, Samuel Irwan berkata kepada Tuhan, akan melayani Tuhan sambil bekerja, sekarang keinginan melayani sudah tidak prioritas lagi. Peringatan dari hamba-hamba Tuhan yang mengingatkan akan nazarnya tidak diindahkan.
Sampai…….

STEVENS-JOHNSON SYNDROM (SJS)

2 Januari 1998, Samuel Irwan merasakan keluhan masuk angin, demam, tenggorokan sakit dan mata merah. Sepertinya sakit biasa. Berobat ke dokter mata, dan diberikan paracetamol untuk menurunkan demam. Keesokan harinya, ternyata demam tidak kunjung turun juga, malah mulai timbul bintik-bintik merah pada lengannya. Telapak tangan dan kaki terasa sakit dan nyeri jika memegang atau menginjak suatu benda keras.
Berinisiatif sendiri untuk pergi ke dokter umum dan diresepkan obat pembunuh virus Zoter 400mg karena menurut diagnosa dokter ia terkena infeksi virus ditambah dengan obat penurun panas. Samuel tidak menceritakan kepada dokter umum itu bahwa ia juga diberi beberapa jenis obat oleh dokter mata. Selain itu ia juga membeli beberapa obat flu bebas dan jamu, apa saja yang menurut pengetahuannya bisa menyembuhkan gejala-gejala yang dialaminya. Setibanya di rumah, Samuel Irwan meminum semua obat dari kedua dokter tersebut, ditambah obat bebas yang dibeli sendiri, semua dengan dosis yang tertulis, karena ingin cepat sembuh.
Akibatnya sungguh mengerikan karena mencampur sendiri beberapa jenis obat tersebut. Bintik-bintik merah itu mulai melepuh dan gosong, dan mulai merambat sampai ke dada, tengkuk, leher, muka dan kondisi mata semakin memburuk, semakin merah. Kerongkongan, rongga mulut dan lidah juga melepuh. Tidak cukup sampai di situ, kondisi ini semakin tambah parah karena di
kulit seperti ada air dan nanah yang membusuk.
Kesaksian KristenDirujuk ke RS di Samarinda, 7 Januari 1998 Samuel Irwan menjalani rawat inap. Salah seorang anggota tim dokter yang menangani, seorang dokter kulit mengatakan bahwa Samuel Irwan mengidap penyakit Stevens-Johnson Syndrome (SJS) stadium 3.
Kondisi tubuh Samuel Irwan saat itu seperti orang yang terkena luka bakar 80%. Semua bagian tubuh tidak ada yang terluput; melepuh, gosong, dan bernanah, dari kepala sampai ujung kaki, kecuali paha dan betis.

DI BATAS AKHIR KEKUATAN

Kisah KesembuhanSamuel Irwan mengingat masa itu, “Kalau sedang tidur dengan posisi miring, dan tidak hati-hati dan pelan-pelan menggerakkan wajah ke posisi lain, maka kulit muka akan tercuil dan lengket di seprei. Pediihhh sekali…..”
Demam juga tidak kunjung turun, sampai 42 derajat Celcius, sehingga kalau sedang menggigil ranjang bergoncang dengan kerasnya seperti sedang gempa bumi. Harus dimasukkan ke ruang isolasi, bukan karena SJS ini adalah penyakit menular, tetapi karena takut penyakit pasien lain menular kepada Samuel Irwan yang dapat memperburuk keadaannya.
Suatu hari mata yang selalu merah itu seperti kelilipan dan Samuel meminta suster untuk menyiram matanya dengan boorwater. Ketika bangun tidur, bukannya jadi baikan, ternyata malah kedua belah mata jadi putih semua, seperti ditutupi kertas HVS putih.
Samuel Irwan sangat marah kepada para dokter dan suster yang merawatnya. Dan juga sangat marah kepada Tuhan, “Tuhaaaan….. saya butuh mata ini untuk bekerja…..”
Saat di batas akhir kekuatannya, saat mata tidak lagi bisa dipakai untuk melihat, Samuel Irwan minta pengampunan kepada Tuhan.

HE JUST WANTED ME TO TURN BACK TO HIM

kisah mukjizat uhanDokter di Samarinda semuanya sudah angkat tangan dan merujuk Samuel Irwan ke rumah sakit di Surabaya . Malam sebelum keberangkatan ke Surabaya , Samuel Irwan menyadari panggilannya kembali. Ia memanggil gembala sidangnya yang dulu, untuk berdoa minta ampun karena lari dari Tuhan. Saat itu Samuel Irwan berjanji jika Tuhan masih beri kemurahan untuk hidup
maka ia akan melayani Tuhan sepenuhnya kembali.
Dengan bantuan seorang gembala GBI di Samarinda, Samuel Irwan dibawa ke Surabaya . Kondisi Samuel saat itu tidak bisa berjalan lagi karena kaki juga melepuh. Saat akan naik tangga pesawat, karena tidak bisa berjalan, seorang portir
yang tidak mengetahui penyakitnya, berusaha menolong dengan menggendong Samuel ke kabin pesawat. Gerakan tiba-tiba mengangkat Samuel yang sedang duduk di kursi roda, membuat kulitnya robek tertarik, dan Samuel menjerit keras sekali. Perjalanan yang sangat tidak mudah untuk sebuah harapan kesembuhan.

WALAUPUN TIADA DASAR UNTUK BERHARAP

Tim dokter yang menerima di Surabaya sangat kaget melihat kondisi tubuh Samuel Irwan. Mereka tidak menyangka kondisi Samuel sudah begitu parah sekali. Sebelumnya mereka pernah menangani pasien yang mengidap sakit SJS ini dengan kondisi hanya sepertiga dari kondisi Samuel. Pasien ini akhirnya meninggal dunia, …. apalagi Samuel?
Saat baju dibuka untuk dirontgen, kulit punggung kembali robek. Warna yang putih dipunggung adalah daging yang kelihatan akibat kulit tersobek, dan warna merah adalah darah yang keluar.
Detail hasil rontgen: lambung, pankreas, liver, bagian-bagian dalam tubuh, semuanya rusak. Sehingga diperkirakan Samuel hanya bisa bertahan 3 minggu. Karena sudah menjalani penyakit SJS ini sejak 2 Januari 1998, maka diperkirakan Samuel Irwan hanya bisa bertahan sampai 23 Januari 1998. Sehingga diminta untuk segera menghadirkan istrinya ke Surabaya , membawa anak mereka yang baru berusia 2 bulan.
Seorang dokter kulit lulusan Jerman berkata, kalaupun Samuel bisa sembuh dari penyakit SJS ini, perlu 2 tahun untuk recovery kondisi kulitnya untuk kembali seperti semula. Dokter mata, yang juga lulusan Jerman berkata, kalaupun sembuh, akan buta
selamanya, tidak ada lagi harapan untuk mata Samuel.
Tiada dasar untuk berharap, namun Samuel Irwan tetap berharap kepada Tuhan seperti Abraham dalam kitab Roma, Sebab sekalipun  tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan,
malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa  Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
(Roma 4:18-21)
“A VIRTUOUS WOMAN ‘ S PRICE IS FAR ABOVE RUBIES”
Renungan harian kristenIsteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya?  Ia lebih berharga dari pada permata.
(Amsal 31:10)
Ayat ini layak ditujukan kepada Erna Tjandra, istri dari Samuel Irwan, yang dengan tekun merawat suaminya. Tidak pernah sekalipun menunjukkan kejijikan kepada suami yang sudah sangat hancur tubuhnya. Dengan kondisi yang sudah sangat berbau busuk dan amis, tidak pernah sekalipun Erna masuk ke ruangan isolasi dengan memakai masker. Tidak pernah sekalipun. Dengan setia ia merawat borok-borok di tubuh Samuel, menyikat gigi Samuel dengan jari-jarinya, membersihkan kotoran di ranjang, semua dilakukan tanpa mengeluh dan selalu tersenyum.
Semua dilakukan dengan kasih. She showed us an unconditional love. Tidak terkira impartasi kekuatan yang diberikannya kepada sang suami yang sedang berjuang melawan maut. Erna berkali-kali menguatkan Samuel untuk tetap berharap kepada Tuhan.

PENDERITAAN TAK BERUJUNG ?

Kesaksian Mukjizat TuhanRutinitas pengobatan Samuel setiap hari juga menjadi rutinitas penderitaannya. Tubuh yang sudah melepuh, gosong, bernanah itu setiap hari harus diberi salep dan diperban. Esok paginya perban itu harus diganti. Ketika perban dibuka maka kembali
kulitnya sobek dan menempel di perban tsb. Sakit sekali, dan harus dijalani selama 1,5 jam dari pukul 9 pagi sampai 10.30 siang. Setiap hari selama 1,5 jam berteriak-teriak kesakitan. Demikian juga ketika seprei akan diganti. Kembali kulit akan tersobek dan lengket di sprei.
Dukungan dari istri dan pihak keluarga Samuel Irwan sangat besar sekali. Tak henti-hentinya mereka berdoa puasa rantai memohon kemurahan Tuhan untuk menyembuhkan Samuel.
Tapi keadaan Samuel bukannya membaik, malah bertambah parah. Ke 20 kuku di jari-jarinya copot satu persatu, telapak tangan dan kaki menggelembung berisi air, telinga dan hidung melepuh mengeluarkan darah. Berat badan turun dari 68 kg menjadi 43 kg. Sistem reproduksi juga diserang sehingga diperkirakan kalaupun sembuh tidak bisa punya keturunan lagi. Keadaan Samuel bukannya makin sembuh, malah semakin parah.

BERNAZAR LAGI

Samuel kembali berkata, “Tuhan ampuni saya, … kalau saya sembuh, saya akan kembali melayani Engkau sepenuh waktu. Saya akan tinggalkan pekerjaan saya, saya akan bayar nazar saya. Terimalah tubuhku yang sudah busuk ini. Ampuni saya Tuhan….”
Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
(Mazmur 51:19)
Kalimat di atas dengan tulus dan hancur hati diucapkan seseorang yang pernah berbuat kesalahan dan kemudian kembali kepada Tuhan. Dialah Daud. Sejarah mencatat Tuhan memulihkan Daud. Bagaimana dengan Samuel Irwan?

GOD IS STILL DOING MIRACLE BUSINESS

Banyak orang yang undur imannya saat doa-doanya belum dijawab oleh Tuhan. Tidak percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan, Tuhan sanggup menjawab doa. Tidak demikian dengan Samuel Irwan, beserta seluruh keluarganya. Juga orang-orang yang setia mendoakannya. Mereka begitu percaya kepada Tuhan dan belas kasihanNya,
Tanggal 23 Januari 1998, tanggal dimana Samuel diperkirakan akan meninggal dunia, justru menjadi titik balik dalam proses kesembuhannya. Perawat yang seperti biasa tiap pagi merawat kulit Samuel, dikagetkan melihat kulit Samuel mulai mengering dan sembuh.
Kekagetan itu bertambah dengan pertanyaan Samuel, “Suster…., saya ini dirumah sakit Adi Husada Kapasari Surabaya ya ?” Dengan terheran-heran, suster balik bertanya, “Loh….kok bapak tau?”. Lalu Samuel menunjuk dengan jarinya sebuah tulisan berwarna merah yang tertera di sprei kasurnya sambil berkata, ”Ini ada tulisannya”. Suster gembira sekali sambil berlari keluar memanggil dokter mata.
Semua tim dokter yang menangai penyakit SJS ini heran sekali atas apa yang dialami Samuel. Mata bisa sembuh tanpa operasi. Bagian dalam tubuh seperti ginjal, liver, lambung, dll semua sembuh dan normal kemnali. 2 hari kemudian Samuel sudah
bisa berjalan kembali, dan proses recovery berjalan dengan cepat. Tidak perlu menunggu sampai 2 tahun untuk kulit Samuel menjadi normal kembali, dan … sembuh tanpa operasi plastik (!!!) Penyakit SJS terparah yang pernah ditangani di RS tsb, sembuh total (bahkan kini Samuel Irwan sudah dikaruniai lagi anak perempuan ke 2, tanggal 31 Mei 1999, hanya setahun sesudah mengalami kesembuhan).
Tuhan Yesus memang luar biasa. DAHSYAT !!!

MENETESKAN ‘ TEAR DROPS ‘ . EVERY 15 MINUTES !

Renungan KristenKulit Samuel Irwan menjadi normal kembali. Tidak ada bercak atau tanda sedikitpun yang menyiratkan bahwa ia pernah disiksa oleh penyakit kulit ganas tsb. Kecuali matanya. Kalaupun dipaksakan untuk mengeluarkan air mata, maka otot kelopak mata
atas dan bawah seperti diperas dan terasa sakit sekali. Sehingga mau tidak mau, Samuel harus menggunakan tetes air mata buatan. Saat berkotbah tiap 15 menit sekali Samuel Irwan meneteskan air mata buatan agar matanya tidak kering dan lengket, tapi semua itu tidak  menyurutkan semangatnya melayani Tuhan. Obat tetes mata yang digunakan saat ini adalah buatan USA “Refresh Liquidgel” berharga $24 per botol, dan habis digunakan dalam 3 hari saja. Belum lagi karena obat ini harus dipesan dari Singapore, maka total biaya untuk pengganti air mata yang harus disediakan perbulan adalah sebesar Rp 3.000.000,-.
BETAPA MAHALNYA TETESAN AIR MATA !!!
Cerita KristenTidak sedikit uang yang sudah dihabiskan untuk pengobatan mata dan pengadaan air mata buatan. Selama 12 tahun tidak punya air mata (tahun 1998-2010), biaya yang dihabiskan sudah sekitar 1,6 Milyar. Hanya untuk air mata !!!
Itu sebabnya di awal tulisan ini saya berkata, berbahagialah kalau masih bisa menangis.
Pertama, tingkatan stress bisa diturunkan saat menangis, sehingga kita tidak menjadi depresi. Kedua, tidak perlu bayar M-M an untuk air mata.
Jarak pandang yang hanya sekitar 1 meter, membuat Samuel Irwan harus membawa keker (binocular) saat berada di bandara supaya tidak salah memilih gate dan dan membaca no pesawat.
Ada kesaksian yang luar biasa saat Samuel Irwan sedang berada di Changi, Singapura, sedang transit menunggu pesawat ke Jepang dan Amerika. Seorang polisi India menegur dengan keras mengira Samuel sedang memakai kamera. Dengan tegas ia menegur, “No camera in this airport, sir!”.
Samuel menjelaskan bahwa itu binocular untuk menolong membaca karena matanya tidak bisa membaca jarak jauh. Singkat cerita, Samuel berusaha meyakinkan polisi India tsb dan memperlihatkan bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkannya dari penyakit SJS,
sambil menunjukkan foto-foto diri saat menderita SJS yang ada di mobile phone nya. Samuel berkata, “Tuhan menyuruh saya ke Jepang dan Amerika untuk memberitakan kebaikanNya. Apakah Bapak bisa menolong saya menunjukkan meja yang harus saya datangi untuk check-in?”
Apa yang terjadi? Polisi itu menangis. Ia berkata, “Sebelum saya menolong Anda, Anda harus tolong saya.”
Ternyata sehari sebelumnya polisi ini bertengkar hebat dengan istrinya dan istrinya minta cerai. Anak mereka juga jadi anak berandalan, tidak bisa dikendalikan. Sebuah rumah tangga yang sangat berantakan. Ia berkata bahwa banyak orang yang menceritakan Yesus sanggup mendamaikan keluarganya, tapi ia pikir semua itu omong kosong. Dan sambil menyentuh tangan Samuel Irwan, polisi itu berkata, “Ini kulit baru, sungguh ini bukti nyata.” Saat itu juga ia minta dibimbing untuk terima Tuhan Yesus. Sesudahnya, saat mengantar Samuel Irwan boarding ia berkata, “I never feel peace like this, … thank you.”
Di kursi pesawat, Samuel Irwan merenung…., “Tuhan….kalau memang mata ini bisa membuat orang yang suka mengeluh menjadi bisa bersyukur, bisa membuat orang berdosa diselamatkan…., mata saya tidak disembuhkan tidak apa-apa Tuhan…, karena saya bersyukur mata ini bisa memuliakan Tuhan….”

MENCERITAKAN KEBAIKAN TUHAN

Melalui semua yang dialaminya, Pdt Samuel Irwan sudah pergi ke berbagai tempat di Indonesia , bahkan melayani sampai ke bangsa-bangsa untuk menceritakan kebaikan Tuhan.
Banyak orang yang dijamah Tuhan dan disembuhkan, bukan hanya orang yang sakit secara fisik, tetapi juga orang yang sehat tapi sudah jauh dari Tuhan. Merasakan kembali kasih Tuhan dan mengambil keputusan untuk kembali kepada Tuhan.
“DALAM KELEMAHANKU, KEKUATANNYA DINYATAKAN”
Pernah suatu ketika obat tetes mata sudah habis, sementara pesanan dari Singapura terlambat datang. Ketika botol itu kosong, terjadi mujizat. Setiap kali diteteskan ke mata, obat tsb masih menetes, walaupun kalau botolnya digoncang tidak ada bunyi apa-apa karena memang sudah kosong. Botol kosong itu terus meneteskan air mata buatan setiap kali digunakan, sampai pesanan obat baru dari Singapura datang. Ketika kembali diteteskan, botol kosong tsb tidak mengalirkan apa-apa lagi, karena penggantinya sudah datang.
Jarak pandang yang hanya 1 meter tidak memupuskan semangat Samuel Irwan untuk belajar lagi dan menyelesaikan pendidikan S1 Theologia di STT Duta Panisal Jember. Walaupun saat kuliah harus membawa alat bantu seperti
binocular dan kaca pembesar agar bisa membaca lebih jelas. Kegigihannya dan semangat pantang menyerah juga dibuktikan dengan
melanjutkan sampai study Magister dibidang Biblical Strata 2, dan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.
Masih belum cukup, seakan berpacu dengan waktu, Samuel Irwan meneruskan study penggembalaan dan penginjilan di Haggai Institute Hawaii USA. Semua dilakukan dalam segala kelemahan yang dimilikinya. Tapi kekuatan Tuhan yang menopangnya, membuat Samuel Irwan mampu melalui semuanya dengan baik.

GOD IS GOOD. ALL THE TIME.

Cerita KristenBerbeda-beda interpretasi orang yang mendengarkan kesaksian bapak Pdt Samuel Irwan Santoso,S.Th,MA, yang sejak tahun 2006 hingga sekarang menggembalakan jemaat di GBI Bontang, Kalimantan Timur. Tapi yang tertanam di hati saya, adalah :
TUHAN ITU BAIK. Bahkan ketika beliau diijinkan mengidap penyakit SJS, di mata saya itu bukanlah penghukuman karena suatu kesalahan. Tapi cara Tuhan untuk membawa beliau kembali kepada panggilanNya. Karena besar kemuliaanNya yang akan Dia tunjukkan kepada kita semua melalui pelayanan beliau.
TUHAN ITU BAIK. Tuhan tidak pernah meninggalkan beliau, bahkan saat berjalan dalam lembah bayang-bayang maut. Terbukti dari biaya pesawat dan pengobatan ke Surabaya, (saat itu harga-harga obat melambung tinggi karena krisis moneter), semuanya
ditanggung seorang pengusaha di Samarinda, yang bukanlah orang percaya, tapi digerakkan hatinya oleh Tuhan untuk memikul beban itu. Juga biaya air mata buatan yang tidak sedikit selama 12 tahun ini, (Milyar….bo ‘ ) yang tidak mungkin sanggup dibeli oleh beliau, semua disediakan Tuhan melalui orang yang berbeda-beda yang digerakkan hatinya oleh Tuhan.
TUHAN ITU BAIK. Kalau teman-teman dan saya diijinkan untuk mendengar atau membaca kesaksian ini, pasti karena Tuhan ingin kita lebih bersyukur lagi menjalani hari-hari yang tidak semakin baik ini. Kalau sedang menangis di hari-hari ini, bersyukurlah, karena semua air mata kita itu gratis dari Tuhan. Bayangkan kalau kita harus bayar Rp 3 juta per bulan hanya untuk air mata? Dan sekalipun saat ini kita sedang menangis, Tuhan ingin kita semua tahu, bahwa Ia tidak pernah meninggalkan perbuatan tanganNya. Melewati lembah bayang-bayang maut sekalipun, kita tidak takut bahaya, karena Tuhan menyertai kita.
copas : www.ceritakristen.org

Senin, 16 September 2013

DIPULIHKAN DARI KEHANCURAN

Aku ibu rumah tangga yang memiliki tiga anak, aku bekerja di sebuah perusahaan garmen selama sepuluh tahun. Aku teringat peristiwa 6 tahun yang lalu, yang membuat kecut hatiku.
Saat itu usia rumah tanggaku memasuki tahun yang ke-15, karena perubahan emosi menyebabkan aku dan suami sering bertengkar sehingga keadaan keluarga menjadi kacau balau. Karena keadaan seperti neraka di dunia, akhirnya kami memutuskan untuk hidup berpisah. Aku bertugas menjaga anak-anak dan suami berkewajiban memberikan kebutuhan keluarga tiap bulan.
Setelah hidup berpisah, aku diperkenalkan oleh teman untuk bekerja di perusahaan garmen tempat aku bekerja sekarang ini. Aku selalu menyembunyikan bahwa sebenarnya aku wanita yang hidup terpisah dengan suami. Hal itu aku lakukan untuk menghindari pertanyaan dari rekan-rekan kerja.
Meskipun aku sendirian menjaga anak-anak, aku merasa senang karena terhindar dari kekesalan hati yang selalu timbul akibat ulah suami. Apalagi sekarang aku sudah memiliki pendapatan tetap, selain aku juga memperoleh bantuan dari suami. Suatu ketika suamiku sudah tidak mau memenuhi kewajibannya tiap bulan, yang menimbulkan pertengkaran terjadi kembali. Kembali hatiku risau dan cepat marah, apalagi aku takut bila terjadi perampokan dan sebagainya sehingga aku sering tidak bisa tidur malam.
Majikanku Ibu Tan, selalu mengabarkan Injil kepadaku dan di perusahaan diputar kaset-kaset penginjilan. Persekutuan sesudah dilakukan makan siang, tetapi aku selalu menolak untuk ikut. Melihat sikapku yang keras, ibu Tan tidak pernah memaksa tetapi ia meminta dengan hormat agar aku memperbolehkan anak-anakku mengikuti kebaktian sekolah minggu.
Setelah beberapa lama, aku sangat heran melihat perubahan yang terjadi pada anak-anakku. Mereka menjadi anak yang penurut dan baik. Perhatianku atas perubahan yang terjadi pada anak-anakku menyebabkan aku memiliki perhatian terhadap kekristenan, namun kekerasan hatiku tetap kuat untuk tidak mengikuti kebaktian mereka.
Majikanku tidak kekurangan akal, ia merubah persekutuan siang menjadi persekutuan dengan bahasa Inggris. Karena aku sangat ingin belajar bahasa, maka aku mulai mengikuti persekutuan itu. Persekutuan itu diselingi puji-pujian, doa dan menghafalkan ayat-ayat Alkitab. Bagi yang bisa menghafal dengan baik dalam bahasa inggris akan diberi hadia, karena aku ingin mendapat hadiah itu untuk anak-anakku maka aku mulai menghafal ayat-ayat Alkitab.
Tanpa aku sadari, dengan membaca Alkitab itu Firman Tuhan telah berada dalam hatiku. Maka melalui kebaktian kebangunan rohani yang aku ikuti, aku mengambil keputusan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadiku. Setelah lima tahun aku mengenal Injil, aku mengikuti kursus pemuridan dan memperoleh lebih banyak tentang Injil Tuhan. Dengan pengenalan yang lebih dalam, aku merasa menjadi umat Kristen yang tidak memiliki kesaksian, karena aku wanita yang berpisah dengan suami. Hal yang membuat aku sangat sedih dan menaruhnya di dalam doa.
Puji Tuhan, yang telah mendenar doa-doaku. Rencana Tuhan sungguh ajaib, secara kebetulan aku bertemu dengan suamiku. Melihat perubahan sikap dan perhatianku, suamiku mulai berusaha mendekati dan memulihkan hubungan perkawinan kami yang sudah hancur. Akhirnya hidup perpisahan yang sudah enam tahun berjalan, dapat pulih kembali sesuai rencanca Tuhan yang sangat Agung.
"Aku percaya rencanaMu sangat indah dalam hidupku Tuhan, walaupun hidupku jauh dalam kegelapan. RencanaMu sangat indah dan sempurna bagi hidupku, terima kasih Tuhan."

Copas : kisah.sabda.org
Diambil dari:
Judul buku:Jalan Tuhan Terindah
Penulis:Pdt. Paulus Daun, M.Div, Th. M
Penerbit:Yayasan Daun Family, Manado
Halaman:101 -- 103

Selasa, 10 September 2013

KESAKSIAN IBU IRENE TEJO

12 hari yg lalu 5 mei 2012 anak saya dipanggil Tuhan, artinya anugrahNya cukup besar untuk dia menyelesaikan semuanya, anak saya dirumah hanya bersama ayah dan pembantunya, jam 2.40 telpon saya berdering dan anaknya berteriak kebakaran di kamar mami, saya suruh turun tidak bisa karena apinya sudah besar, lalu saya ajak berdoa, saya seperti seorang ibu yg tidak berdaya, tetapi saya tenang, dia berteriak Tuhan Yesus tolong terus menerus, dan telpon mati.

Tuhan berkata bahwa anak saya pingsan tetapi hati saya seperti dipegangi Tuhan, saya telpon teman2 tidak ada yg angkat karena itu jam tidur, tetapi hati saya tidak marah, saya cuma tahu bahwa ini urusan saya dengan Tuhan, di jalanan saya hanya ingat dan berkata “Iblis dengar! engkau tidak bisa menghentikan langkahku, dan engkau tidak bisa menghentikan lariku, apapun yg terjadi semua ada di dalam tangan Tuhan, Tuhan pegang kendali.

Karena itu pagi hari saya bisa cepat sampai dirumah, begitu sampai di depan rumah, rumah itu utuh dibagian depannya, 3 mobil pemadam sudah ada disana dan tetangga juga sudah di depan rumah, saya masuk, suami saya sedang bingung diluar, saya berkata saya mau masuk ricky ada diatas, trus dia bilang, kamu gak bisa masuk semua sudah panas, semua petugas pemadam bilang tidak bisa masuk semuanya panas, lalu saya angkat tongkat otoritas saya dan saya katakan didalam nama Tuhan Yesus semua api stop berhenti dan ijinkan saya masuk, lalu saya diam sejenak lalu saya bilang kepetugas ijinkan saya masuk

lalu mereka ijinkan dan 5 orang petugas jalan dibelakang saya, lalu saya naik, atap lantai 2 sudah roboh, saya seperti tiba2 punya keberanian dan ketenangan luar biasa untuk naik dibatas puing2, saya tau Tuhan pegang kendali, saya naik ke kamar saya dan saya ke ruang tempat saya biasa berdoa, petugas mengatakan ini ada kakinya tetapi saya tidak bisa membedakan karena semua terbakar, saya tetap tenang dan tidak histeris, lalu mereka suruh saya turun dulu dan mereka akan beritau komandan dulu

Begitu saya turun, kemudian beberapa lama, jenazah ricky diturunkan dalam sebuah kantong, saya tau itu dia karena tidak ada orang lagi dirumah, ayah dan pembantunya sudah selamat karena pada waktu kejadian ricky berteriak2 ada kebakaran ada kebakaran papanya bangun dan pembantunya bangun, lalu papanya coba tutup api dengan air tetapi api cepat sekali membakar keatas sehingga papanya dan pembantu lari keluar, dan ricky setelah dia berteriak2 kebakaran dia naik lagi keatas dan telepon saya.

begitu jenazahnya keluar saya langsung dampingi jenazahnya dan saya telepon pak agung dan bu iin dan waktu pak agung telepon dan pak agung tanya bagaimana, lalu saya berkata rumah saya terbakar dan john rick meninggal lalu tapi pak, iblis tidak bisa menghentikan langkah dan lari saya, saya akan finish strong, mengapa saya bisa kuat? karena saya omongi jiwa saya terus kamu harus finish strong, Tuhan pegang kendali, pada waktu itu pak agung berdoa untuk saya dan keluarga, dan memang pada waktu itu pak agung dapatkan bahwa john rick itu pingsan dan diangkat oleh Tuhan, dan pada waktu di mobil jenazah dan pergi ke RSCM kakaknya dengar suara john rick, Kak, ndak sakit kok, tadi aku pingsan dan ketemu dengan Tuhan Yesus dan aku sudah lihat rumahku dan rumahku bagus, tapi dia dgn rendah hati berkata rumahmu lebih bagus kok dan rumah mami juga.

Waktu di RSCM saya sebetulnya gak pengen lihat karena pasti hangus terbakar, karena kakaknya lihat dan gak tahan dan dia lari lagi, dan memang terbakar dari atas sampai bawah hitam semua, waktu ibu iin telpon lagi, saya berkata ngga usah dtg lagi karena kamu harus pimpin kebaktian jam 7, toh sudah lewat nggak apa2 kok, dan saya berulang2 berkata: Iblis tidak bisa menghentikan langkahku dan lariku dan tidak bisa menghentikan cintaku kepada Tuhan, aku akan finish strong, bahkan aku tuntut iblis: satu anakku diambil dan darahnya sudah tercurah dan sudah genap dan aku minta lawatan dan tuaian satu juta jiwa, aku minta lawatan

pada waktu di rumah duka waktu semuanya ramai, baru saya agak sedih karena anakku sudah pergi, Tetapi ibu berkata buka matamu ren, Tuhan dan john rick akan datang pada saat itu saya tidak ladenin yg lain saya hanya nyembah Tuhan dan berkata Tuhan buat saya lulus, lalu saat saya nyembah Tuhan saya lihat john rick berjalan disurga seperti Bapak dan anak sedang berjalan2, lalu ada bunga2 kecil ditaman itu, dia mau ambil bunga2 itu untuk ibu dan kakaknya, lalu Tuhan hanya buka tanganNya dan ada 2 hand bucket dan berkata pada john rick dan berikan pada ibu dan kakakmu, lalu Tuhan nengok ke saya dan berkata:”"Mempelaiku (krn saya panggilannya mempelai) biarkan Aku didik dia disini” semenjak saat itu saya jauh lebih tenang.

Awalnya saya rada ngeri karena teman saya berbagai kalangan dari kedar dan nebayot akan hadir tetapi saya berkata justru ini akan jadi ajang lawatan, setiap saya bersaksi, saya tidak tahu siapa yg hadir tetapi begitu selesai, semua teman saya yg dari seberang pada nangis dan peluk saya dan berkata terima kasih engkau beri saya kekuatan. jadi saat salaman mereka pada berkata terimakasih engkau beri aku kekuatan dan beri cintaku nyala kembali, saya jadi bingung karena saya harusnya yg berterima kasiih karena mereka hadir semua di tempat itu

saya sebenarnya sedang bangga2nya dengan john rick karena dia sedang kejar Tuhan luar biasa, tgl 5 dia pulang tgl 7 dimakamkan, tgl 4 malam jam 10 dia sedang pengumunan selesaikan 7 bulan pelatihan jadi chef, dan sedang akan pindah penempatan. dan teman saya ada tanah warisan di sandiego hills cemetary untuk dia dengan type crown7 / mahkota 7, lalu dia dikuburkan seperti pahlawan, Tuhan berkata memang dia pahlawan karena dia mati buat ayahnya dan pembantunya, pembantunya melambangkan bangsa ini. waktu saya lihat dia tubuhnya sudah terbakar saya bisa tetap tenang karena Tuhan pegang kendali, org2 takut saya pingsan, dan saya pegang kepalanya ada darahnya, saya berkata nak, engkau sudah bersama Tuhan, terima kasih engkau sudah selesaikan semuanya, engkau pergi nanti mami ketemu engkau pada waktunya.

Desember yg lalu dia ada disini di Holy stadium dia berikan persembahan diatas gaji dia dan dia selesaikan semua itu yg Tuhan katakan, tgl 27 sept dia berulang tahun ke 22, 12 hari sebelum dia meninggal saya dampingi pak agung talk show di TVRI, bapak menjelaskan tentang reaksi hati, saya ditanya bagaimana kalau menghadapi persoalan, maka saya jawab org harus punya pandangan yg berbeda, 3 hari sebelum kejadian saya juga pimpin doa di shrk, Tuhan dengan jelas mengatakan umatku punya kekuatan manusia roh shg bisa melihat janji Tuhan jadi kenyataan, saya bangga dia sudah finish strong, pada waktu pak agung ke ke jakarta Tuhan bicara, pada waktu john rick pingsan dikasih Tuhan 2 pilihan mau pulang ke surga atau tetap di dunia, dia pilih pulang ke surga dan mati sebagai martir

Waktu saya tanya tentang dokumen2 saya dirumah yg terbakar ternyata semua dokumen saya utuh hanya bungkusnya yg terbakar dan copy KK saja ujungnya yg terbalar, iblis mengintimidasi dengan suara2 seakan2 john rick sedang teriak, mami kebakaran, dan iblis berkata dimana kamu saat anakmu memerlukan kamu, lalu saya berkata iblis dengar, anakku sudah bahagia disurga jadi tidak bisa mengintimidasi aku, lalu iblis pergi. Lalu saya berkata apa lagi yg ada dirumah yg harus saya ambil, lalu Tuhan ingatkan beberapa buku tabungan dan surat berharga, ternyata semua utuh, juga ada bpkb anak2 mahanaim juga, ternyata semua bpkb semua utuh juga. saya percaya Tuhan pegang kendali semuanya. Kita harus latih manusia roh kita jadikuat sehingga tidak ada yg bisa menggoyahkan kita, spt saat ada kejadian ini Tuhan pegang kendali, saya bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bereaksi dengan benar, saya tidak tau apa yg terjadi jika saya tidak bereaksi dengan benar

saya percaya kalau anak saya pilih untuk dia tetap ada di dunia dia tidak akan mati terbakar, tetapi dia pilih mati seperti martir untuk menggenapi 1 yoh 3: 16, dia mati bagi ayahnya krn dia mau ayahnya bisa mencintai Tuhan dulu dan menyerahkan sepenuhnya hidupnya bagi Tuhan, juga bagi pembantunya, pembantunya juga merasa bersalah, dan saya berkata saya tidak menyalahkan siapa2. saya tetap akan memenuhi jadwal khotbah2 meskipun org pada mengerti keadaan saya kalau dibatalkan, tetapi saya tidak mau iblis tertawa krn saya tidak memenuhi janji saya, saya tetap akan mengajar di impact dan tidak ada yg bisa menghentikannya dan jadi berkat.


Kalau kita mau jalan dengan kekuatan roh dan dengan cinta yg besar yg menyala sehingga kita tidak akan pernah takut dan akan mengalami kemenangan demi kemenangan karena semua Tuhan yang atur dan Tuhan pegang kendali, karena Tuhan sedang mencari orang2 yg mau punya kekuatan roh dan kekuatan cinta yg dari Tuhan. minta dan kejarlah itu sampai lawatan dan tuaian terjadi. saat di rumah duka saya hanya minta lawatan dan tuaian.

copas : jozaalwan.wordpress.com

Kamis, 05 September 2013

Jatuh dari anak tanggga menjadi pelajaran bagiku

Mujizat terjadi ketika jatuh
Hari ini saya menulis dengan jempol kaki yang diperban. Sakit, tapi saya harus bersyukur karena itu adalah luka "minimal" dari kejadian seram yang saya alami tadi pagi. Ketika bangun, saya berdiri di pinggir terali di ruang tamu. Bentuk rumah saya memang agak bertingkat, dengan posisi ruang makan yang lebih rendah dari ruang tamu, berjarak 3 anak tangga. Dan di pinggir terali itu saya merenggangkan tubuh. Saya mungkin merenggangkan tubuh agak terlalu kebelakang, dan tiba-tiba dunia serasa berputar.

Saya pun terjengkang ke belakang dengan kepala yang menghantam meja makan dari kaca terlebih dahulu. Saya mendengar bunyi pecahan kaca dan saya tahu, saya berada dalam masalah! Tubuh saya terus terbanting berdebam ke atas kaca dan kemudian berguling jatuh ke lantai. Entah bagaimana, puji Tuhan, mukjizat ternyata terjadi. Kaca meja makan ternyata tidak pecah. Jika pecah, mungkin kaca itu akan membelah kepala saya. Tidak ada lecet di tubuh saya sama sekali, hanya saja kuku jempol kaki saya ternyata terbelah dan berdarah.

Rasanya tidak ada logika yang bisa menjelaskan bagaimana kaca tidak pecah ketika dihantam tubuh saya dari ketinggian yang cukup jauh. Saya bersyukur masih diberikan kesempatan hidup, meski saya masih gemetar mengingat peristiwa "near death experience" seperti itu. Tetapi malam ini saya merenungkan seandainya saya tadi pagi dipanggil pulang, apakah saya sudah siap untuk itu?

Seringkali kita terlena ketika hidup terasa baik-baik saja. Kita merasa bahwa kita masih punya kesempatan, jadi sekarang kita masih bisa bersenang-senang melakukan apapun termasuk hal-hal yang sebenarnya tidak berkenan di mata Tuhan. Bertobat nanti saja, toh waktu masih banyak. Ada banyak orang yang berpikir demikian.

Menyia-nyiakan waktu seolah tahu kapan saatnya kita dipanggil pulang lalu harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan dan perkataan yang pernah kita keluarkan di masa hidup. Kejadian saya tadi pagi menyadarkan saya, dan semoga bisa menggugah teman-teman juga untuk lebih waspada dalam menyikapi waktu. Sesungguhnya tidak ada yang tahu berapa lama kita diberikan waktu di dunia ini.

Menyadari singkatnya hidup manusia
Daud menyadari betapa singkatnya hidup manusia. "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat." (Mazmur 144:4). Masa hidup manusia ini sesungguhnya sekelebat saja, seperti angin berhembus, seperti bayang-bayang lewat. Begitulah singkatnya. Dalam doanya Musa mengatakan "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (90:10). Begitu singkatnya, berlalu buru-buru. Hari ini ada, sebentar lagi melayang lenyap.

Itulah sebabnya kita harus menghargai waktu yang diberikan, seperti kata Musa: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (ay 12). Paulus mengajarkan kita untuk mau mempergunakan waktu yang ada dengan baik. "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (Efesus 5:15-16). Dalam surat lain ia berkata "..Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu." (1 Korintus 7:21). Dan Petrus mengingatkan kita, hendaklah .."waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah." (1 Petrus 4:2). Semua ini berbicara mengenai menghargai waktu dan kesempatan yang masih diberikan.

Disamping itu, saya pun merenungkan makna dari kehidupan ini. Apakah saya sudah menjalankan tugas-tugas yang diberikan Tuhan? Apakah saya sudah melakukan segala sesuatu sesuai rencana Tuhan ketika menciptakan saya? Dan yang tidak kalah penting, apakah kehidupan saya sudah memberi buah? Paulus pernah mencurahkan perasaannya dari dalam penjara dalam surat Filipi. Ia "sharing" bagaimana ia ditangkap bukan karena melakukan kesalahan kriminal tetapi justru karena mewartakan kebenaran tentang Kristus. Ia tidak bersungut-sungut dan mengeluh mengalami perlakuan tidak adil karena ia tahu benar bahwa kalaupun ia mati, itu bukan kerugian melainkan keuntungan. "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan." (Filipi 1:21). Keuntungan? Tentu saja.

Hidup adalah anugerah
Dalam versi Bahasa Inggris dijelaskan mengenai keuntungan ini, yaitu "the gain of the glory of eternity." Bagi orang-orang yang tetap setia dan taat hingga akhir, semuanya akan pergi ke tempat dimana .."Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." (Wahyu 21:4). Sebuah tempat yang telah disediakan langsung oleh Yesus Kristus. (Yohanes 14:2-3). Dan Paulus tahu bahwa apabila ia tetap menjalani hidup seperti yang dikehendaki Tuhan, maka sebuah tempat yang disediakan Kristus pun akan tersedia pula baginya. "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat  kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat  kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat  kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia." (2 Korintus 5:1).

Itulah yang ia sebut sebagai "keuntungan". Tetapi jika ia masih diberikan kesempatan untuk hidup, maka sisa hidup itu haruslah diisi dengan sesuatu yang bermakna, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sanggup menghasilkan buah demi kemuliaan Allah. "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (Filipi 1:22a). "Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu." lanjut Paulus. Kalau mati, itu artinya lepas dari penderitaan dan masuk ke dalam kemuliaan bersama dengan Allah selamanya, tetapi kalaupun memang masih harus hidup, maka hidup haruslah diisi dengan segala sesuatu yang mampu memberikan buah. Itulah yang seharusnya menjadi dasar pemikiran kita dalam menjalani hidup dari hari ke hari. Maka sembari menulis saya pun merenungkan hal yang sama.

Ketika saya masih diberi kesempatan untuk hidup lewat mukjizat luar biasa tadi pagi, sudahkah saya bekerja memberi buah yang cukup, dan akankah saya terus bekerja untuk menghasilkan lebih banyak buah lagi?

Berbuah selagi kita masih hidup
Ada rencana Tuhan yang besar bagi setiap kita. Ada tugas-tugas yang dibebankan Tuhan kepada kita. Hendaknya kita menjalankannya dengan hasil gemilang, sehingga kelak ketika kita mempertanggungjawabkan semua itu di hadapan Tuhan kita bisa melakukannya dengan kepala tegak. Lewat peristiwa "near death experience" yang saya alami, hari ini saya menyadari betapa berharganya waktu yang dipercayakan Tuhan kepada saya, dan saya bertekad untuk mengisi sisa waktu yang masih ada untuk menghasilkan buah demi memuliakanNya.

Itulah sebabnya dalam keadaan sakit pada jempol kaki dan kepala yang masih pusing, saya tidak memutuskan untuk beristirahat. Saya masih bersemangat menulis renungan ini dengan penuh rasa syukur dan sukacita. Kita tidak pernah tahu berapa lama lagi waktu yang diberikan, bisa lima puluh tahun, sepuluh tahun, sehari bahkan semenit lagi. Oleh karena itu marilah kita belajar untuk lebih menghargai waktu dan mengisinya dengan segala sesuatu yang berharga, menghasilkan buah-buah manis yang berkenan bagi Tuhan.

Jika masih harus hidup, itu untuk bekerja menghasilkan buah. Sudahkah kita berbuah?


Copas : http://renungan-harian-online.blogspot.com