Kamis, 24 Oktober 2013

SARAH TERTAWA

SARAH TERTAWA

Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.
Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid.
Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?"
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: "Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua?
Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki."
Lalu Sara menyangkal, katanya: "Aku tidak tertawa," sebab ia takut; tetapi TUHAN berfirman: "Tidak, memang engkau tertawa!"
(Kejadian 18: 10-15)


Menurut tradisi Yahudi, penyangkalan Sarah tidak ditujukan secara langsung kepada Tuhan, tetapi kepada Abraham yang menyampaikan kepadanya perkataan Tuhan. Dia berpikir bahwa suaminya-lah yang bertanya kepadanya
‘mengapa ia tertawa?’, yang kemudian disangkalnya karena takut. Pernyataan Tuhan “ Tidak, memang engkau tertawa” diucapkan oleh Abraham.
Seandainya Sarah tahu, bahwa TUHAN-lah yang berbicara kepadanya, mungkin dia akan segera mengaku, memohon ampun dan tidak berani mengucapkan dusta.
Bagaimanapun, ia menerima hukumannya, karena dia kemudian tidak bisa menyaksikan putra tunggal yang sangat disayanginya menikah.
Suatu hal yang secara natural sangat diimpikan setiap ibu untuk menyaksikan buah kandungannya menemukan belahan jiwanya dan menikah.

Dari hal ini kita dapat belajar untuk berhati-hati pada setiap perkataan, pikiran dan perbuatan kita. Kepada siapapun kita bertutur kata/berbuat, karena selalu ada Tuhan di belakang semuanya. Dan setiap pelanggaran, dosa, pemberontakan yang kita lakukan selalu ada konsekwensinya. Saya ingat pak Daniel Cipto pernah berkata, bahwa sampai saat ini beliau masih harus membayar harga dari segala kesalahan yang pernah ia perbuat di masa muda/masa lalunya. Apalagi jika anda adalah anak kesayangan-Nya, ingatlah firman bahwa TUHAN menghajar orang yang dikasihiNya.
Semakin dekat anda dengan tahtaNya, semakin tinggi tuntutanNya terhadap kekudusan.
Ingat, bahwa ketika ada satu kesalahan/cacat pada Imam Besar di Ruang Maha Kudus, maka kekudusanNya akan memukul Imam Besar tersebut sehingga ia mati.

Darah Anak Domba memang telah dicurahkan untuk kita, sehingga setiap pelanggaran terhadap hukum Taurat tidak lagi dituntut hukuman mati.
Maut yang seharusnya menjadi bagian kita, telah ditebus olehNya.
Namun jangan lupa, bahwa Dia juga adalah Elohim, Hakim Yang Adil yang mengadili setiap pelanggaran!

Akan selalu ada konsekwensi, akan selalu ada harga yang harus dibayar selama hidup kita di dunia. Oleh sebab itu ia perintahkan kita untuk hidup kudus (kadosh=terpisah dari kegelapan) melalui buku manual yang telah Dia berikan (i.e Torah/Taurat) supaya kita tidak harus mengalami segala konsekwensi akibat segala pemberontakan kita. Dapatkah saudara melihat dan merasakan betapa dalamnya kasih-Nya dalam hal ini?
Itulah sebabnya pemazmur berkata
Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.
Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku.
(Mazmur 119:97-98)
******************************************************************
Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.
(Yosua 1:8)
******************************************************************

TUHAN memberkati.


referensi:
Parashat Vayera- Hebrew for Christians
Copas : kiriman salah satu group LI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar