Selasa, 12 November 2013

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI TUHAN YESUS

Setelah saya baca kesaksian dari LKH Jakarta, maka ini juga mendorong saya untuk kirim kesaksian yang pernah saya alami juga, kira-kira 2 bulan yang lalu.

Perkenalkan, saya adalah seorang konsultan yang banyak bekerja di luar kota.  Hari itu sesuai jadwal saya berada di kota Semarang untuk beberapa hari.  

Pas waktu makan siang, maka saya pergi makan di salah satu rumah makan yang cukup dikenal dan banyak cabangnya di beberapa kota  di Indonesia.  Karena rumah makan tersebut cukup dikenal, maka otomatis, pengunjung juga selalu ada.  Pada waktu makan, saya ingat, saya duduk di tempat belakang dari rumah makan tersebut...bagian depan rumah makan tersebut lebih ramai daripada yang di belakang.  Di belakang meja tempat saya makan, ada kira-kira 2 atau 3 meja yang orang sedang makan.  

Selesai makan, saya ingat waktu itu jam 1 siang, saya langsung menuju ke tempat klien kembali.  Saya masih tidak ingat akan tablet saya yang tertinggal di meja tempat saya makan siang tersebut.

Kira-kira jam 4 sorenya, saya baru merasa bahwa tablet saya kok hilang ya... setelah dipikir-pikir, saya merasa pasti bahwa saya ketinggalan di rumah makan tersebut.  Hal pertama yang saya pikirkan adalah pasti hilang barang tersebut, karena di samping banyak pengunjung juga ada banyak pelayan rumah makan di tempat tersebut, apalagi sehabis makan selalu meja makan dibersihkan.  Maka otomatis, saya pikir, pasti diambil oleh pengunjung lain, atau mungkin oleh pelayan rumah makan itu.  Yang terakhir mungkin kalau pelayan tersebut jujur mungkin barang tersebut bisa kembali lagi kepada saya.

Tuhan..Tuhan tolong saya, karena banyak data pekerjaan saya yang disimpan dalam tablet tersebut.. Saya sudah membayangkan betapa repotnya.  Tolong saya Tuhan...Saya berdoa sama Tuhan, Tuhan lalu menjawab doa saya, bahwa barang tersebut tidak akan hilang, tapi pasti ketemu.  

Kita sering berdoa dan bertanya kepada Tuhan, tapi setelah DIA menjawab, seringkali kita tidak percaya, seperti yang terjadi pada saya.  Saya nyaris tidak percaya, tapi DIA bilang bahwa dia sudah membuat orang tidak melihat akan tablet saya, sehingga pasti akan ketemu.  

Langsung sore itu saya kembali ke rumah makan tersebut ke tempat meja makan dimana saya makan siang itu, dan benar saja, tablet tersebut masih di tempat semula, persis dimana saya taroh barang tersebut.  

Ucap syukur saya kepada Tuhan ... Terimakasih Yesus ...

Kiriman : FH, Jakarta

ANTING YANG HILANG AKHIRNYA KETEMU JUGA

Shalom...

Saya mengucap syukur kepada Tuhan yang selalu menyertai kehidupan saya, bahkan dari hal yang sekecil-kecilnya sekalipun...dan bahwa apapun yang selalu dikatakannya selalu BENAR.

Kejadian ini terjadi kira-kira seminggu yang lalu.  Tiap hari selalu saya pergi ke pusat kebugaran, karena merupakan hobi saya untuk hidup sehat.  Pada waktu itu saya pergi ke tempat tersebut siang hari dan baru sorenya, kira-kira jam 17.30an.  Saya baru menyadari anting saya yang hilang adalah pada 1 jam setelah saya pulang.  Anting saya yang sebelah hilang...Hari itu saya terburu-buru pulang karena hari itu adalah ulang tahun saya, sehingga saya harus cepat-cepat pulang, baru kemudian kami sekeluarga mau pergi makan-makan. Di rumah, saya sudah disiapkan bolu ulang tahun, dan ada saudara saya beserta keluarganya yang sudah datang, siap mau berangkat bersama.  

Saya kemudian bertanya kepada Tuhan, ya Tuhan, jangan sampai hilang ya anting saya ini, apalagi ini hari ulang tahun saya, biar bisa ketemu ya Tuhan.  Tuhan berkata kepada saya, bahwa anting ini tidak akan hilang, tapi ketinggalan di kamar mandi pusat kebugaran.  Saya langsung berangkat lagi mencari ke tempat tersebut, karena kebetulan rumah saya begitu dekat dengan pusat kebugaran tersebut.  

Datang di sana, saya mencari-cari, sampai karpet kamar mandinya saya bongkar, tetapi tetap tidak ketemu..wah gimana Tuhan, tanyaku... Tapi saya sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk mencari, makanya saya langsung pulang ke rumah.

Besoknya, ketika saya pergi lagi ke tempat itu, setelah saya berolah raga, maka saya mandi lagi di kamar mandi yang sama seperti kemarin, pas waktu anting saya hilang.  Saya penasaran, walaupun sudah lewat 1 hari, karena Tuhan tetap bilang bahwa anting saya tidak akan hilang.  Setelah mandi, saya bongkar kembali karpet tersebut.  Benar saja, ternyata antingnya itu nyangkut di dalam karpet tersebut.  Dan langsung saja saya ambil dan ucap syukur sama Tuhan, bahwa Ia BAIK.  

Terimakasih Tuhan ...
Kita dapat selalu mengandalkan Tuhan, walaupun dalam hal sekecil-kecilnya yang kelihatan sepele sekalipun.

Dikirim oleh : LKH, Jakarta

Senin, 04 November 2013

DITOLONG ORANG GILA

Ditolong Orang Gila


Diberikan Alkitab, dari orang gila
Nama saya NN dan cerita saya bermula di tahun 1970. Suatu hari saya sedang berjalan di sebuah daerah bernama Bojongloa, Bandung, ketika saya bertemu dengan seorang laki-laki kusam dengan pakaian compang-camping dan kelihatan tidak waras. Ia mendekati saya dan memberikan sebuah buku. Dengan kebingungan saya menerima buku itu dan membawanya pulang karena sayang untuk membuangnya. Sampai di rumah saya coba membukanya lembar demi lembar. Saya terkejut karena ternyata buku itu adalah kitab Injil, kitab suci orang Kristen. Saya kemudian menjadi tertarik mempelajarinya dan menyisihkan waktu untuk membacanya setiap pulang dari mengajar.


Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya jika melalui buku tersebut saya akan meninggalkan keyakinan lama saya. Maksud saya membaca kitab tersebut hanyalah untuk menambah wawasan, tidak ada maksud lain. Bagi orang yang berlatar belakang seperti saya, mengubah kepercayaan tidak mungkin untuk dilakukan.

Belajar ilmu santet
Saya lahir dan dibesarkan di sebuah desa di Tasikmalaya. Sejak kecil saya mempelajari dan mendalami ilmu pelet, santet, dan ilmu kebal. Saya pun harus tekun menjalani semua kewajiban agama karena ilmu-ilmu itu hanya berfungsi bila saya rajin menjalani ibadah agama. Saya menjadi orang yang disegani dan mudah bagi untuk mencari uang karena saya memiliki ilmu-ilmu itu. Jadi, bisa dibilang saya orang sakti yang juga sangat taat menjalankan ibadah.

Saya sakit
Suatu hari saya menderita sakit. Ada batu yang menyumbat saluran empedu saya sehingga saya harus dirawat di rumah sakit. Dokter memutuskan untuk menjalankan operasi untuk mengobati penyakit tersebut. Saat di rumah sakit, datang serombongan tamu untuk membesuk pasien yang di sebelah saya. Saya melihat mereka mendoakan pasien itu. Saya terkejut karena setelah mendoakan pasien di sebelah saya, mereka kemudian datang ke tempat saya dan minta izin untuk mendoakan saya. Walaupun agak berat, saya mengizinkannya juga. Saat mereka sedang berdoa, saya sangat terharu sampai meneteskan air mata karena melihat dan merasakan ketulusan hari mereka.

Mencari rahasia damai didalam Kitab Injil
Saya teringat akan kerabat saya yang kalau membesuk hanya sekadar membawa makanan atau buah-buahan, tapi tidak membawa harapan akan kesembuhan. Peristiwa itu membuat saya membaca lagi Injil untuk mendalaminya, mencoba menemukan rahasia dari harapan, damai sejahtera, dan sukacita yang timbul saat mereka mendoakan saya. Operasi pun selesai, namun masih ada kemungkinan saya harus dioperasi lagi pada kemudian hari karena masih ada batu yang tertinggal di dalam saluran empedu saya. Untuk memastikan hal tersebut maka saya harus menjalani pemeriksaan USG. Saya pun dilanda kebingungan dan kekhawatiran. Satu kali operasi sudah cukup menyakitkan. Saya menjadi takut mungkin tidak bisa melewati operasi kedua dengan selamat.

Terjadi Mujizat
Tanpa sengaja, saya menjerit kepada Yesus yang saya baca di Injil, "Jikalau Engkau ada, Tuhan yang hidup, dan tidak ada perkara yang mustahil bagi-Mu, maka sembuhkanlah saya, singkirkan batu itu dari saluran empedu saya". Setelah menjalani tes USG, dengan tegang saya menanti hasilnya. Dokter menyatakan bahwa batu itu sudah tidak ada di dalam empedu saya! Sebuah mukjizat! Hari itu juga saya diperbolehkan pulang.

Menerima Yesus sebagai Tuhan secara pribadi
Malam itu saya berdoa kepada Yesus memanjatkan terima kasih dan berjanji bahwa besok saya akan mencari gereja dan beribadah di sana. Keesokan harinya, saat hari masih subuh, saya membungkus kitab Injil yang saya dapat dari orang gila tersebut dengan koran. Tanpa sepengetahuan keluarga, saya keluar rumah pergi mencari gereja.

Ketahuan Keluarga
Beberapa bulan saya pergi ke gereja tanpa diketahui keluarga. Namun, akhirnya aktivitas saya ke gereja tercium oleh keluarga. Sebuah risiko yang saya takutkan selama ini terjadi. Saya diusir dari keluarga dan menjadi anak jalanan, namun tetap memegang teguh iman kepada Yesus apa pun yang terjadi.

Hidip di jalanan
Selama 8 bulan saya menjadi anak jalanan dan saya bertemu dengan seorang kawan lama ketika di kampung dulu. Dia mengatakan bahwa ia telah percaya kepada Yesus. Saya juga menceritakan bahwa beberapa bulan yang lalu saya sudah memutuskan untuk percaya kepada Yesus. Kami berdua kaget akan kebetulan yang luar biasa ini dan berpelukan dengan keharuan yang mendalam akan kasih Kristus. Sejak hari itu saya memunyai teman berdiskusi dan melalui pamannya saya mendapatkan pekerjaan hingga saya bisa menyewa sebuah kamar berukuran kecil untuk berteduh. Tahun 1985 saya kembali ke desa P, orang tua saya bertanya apakah benar saya sudah beralih kepercayaan. Selama ini mereka mendengarnya dari orang-orang dan hari ini mereka ingin mendengar langsung dari mulut saya sendiri. Saya menjawab bahwa saya tidak berpindah agama, melainkan saya hanya percaya kepada Yesus. Bagi mereka percaya kepada Yesus adalah suatu perbuatan yang sangat menjijikkan.

Diadili keluarga
Ayah saya sangat kecewa dan marah, hingga ia menggelepar-gelepar seperti seorang yang kerasukan, sambil berteriak-teriak mengatakan saya sudah menjadi orang kafir. Saya diusir dari rumah itu. Sore harinya saya dipanggil. Kali ini oleh keluarga mertua saya, katanya mereka ingin bertemu. Seorang saudara menjemput dan saya mengikutinya. Namun anehnya, bukannya membawa saya ke rumah mertua, melainkan saya dibawa ke pinggir sebuah sungai yang besar. Sesampai di sana, saudara saya itu bertanya, apakah saya mau kembali lagi pada kepercayaan yang lama, dan meninggalkan kepercayaan saya sekarang. Saya menjawab bahwa saat ini saya telah menjadi seorang benar dan itu adalah hak saya untuk memutuskannya. Jawaban saya membuat mereka menjadi sangat marah. Ia mencabut golok dan mengatakan, jika demikian saya harus dibunuh. Begitu melihat golok yang siap dihujamkan ke tubuh saya, maka saya segera lari menghindar. Puji Tuhan saya dilindungi oleh-Nya. Saya bisa terluput dari usaha pembunuhan itu, saya diberikan tempat persembunyian yang membuat mereka tidak bisa melihat saya.

Ibu saya mau bunuh diri
Kemudian saya kembali untuk membawa istri saya bersama saya, tapi mertua saya tidak mengizinkannya. Namun, istri saya bersikeras untuk pergi dan tinggal bersama dengan saya. Melihat usaha yang sia-sia menahan kepergian istri saya, ibunya berusaha gantung diri. Tetapi baru saja tergantung terayun-ayun, ada orang yang mencegah serta menolongnya, sehingga ibu selamat. Kejadian itu kemudian dibawa ke pihak yang berwajib. Di sana saya membuat perjanjian, bahwa jika saya dengan sengaja membawa istri saya menjadi pengikut Kristus, maka saya mau diadili. Di kemudian hari karena melihat perubahan yang terjadi pada diri saya, istri saya akhirnya menjadi percaya kepada Yesus dengan sukarela tanpa paksaan dari saya. Tuhan Yesus selalu membela kami dalam menghadapi tekanan dan masalah. Damai sejahtera melingkupi hari kami dan pengharapan kami akan masa depan menjadi pasti di tangan Yesus, sekalipun perjuangan hidup sangat berat. Bahkan untuk membiayai keluarga, saya harus menjadi penggali pasir, sehingga banyak orang yang mengolok-olok dan menghina saya, namun iman saya tidak goyah.

Mendapat Pekerjaan
Pada tahun 1987, Tuhan mulai mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga kami. Saya menjadi pekerja sol sepatu di daerah Bojongloa. Tahun 1994 ada seorang wartawan datang mewawancarai saya akan keputusan saya mengikuti Yesus. Setelah wawancara dan perbincangan itu, ia kemudian memutuskan untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Puji Tuhan, Dia sungguh ajaib, dapat menjamah siapa saja yang mau membuka hari untuk-Nya. Tahun 1996, saya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan. Pada waktu luang, kami melakukan pelayanan ke desa-desa di Jawa Barat. Sejak saat itu, Tuhan Yesus mulai mengangkat saya sesuai dengan janji-Nya, bahwa Tuhan tidak akan pernah mempermalukan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Saya berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer jauhnya untuk pelayanan, namun tetap bersukacita bekerja di ladang Tuhan.

Hidup dalam kasih Tuhan
Pada suatu hari, seseorang menelepon menyuruh saya datang ke rumahnya bersama istri. Setelah kami sampai, orang itu menyerahkan sebuah STNK, BPKB, dan sebuah sepeda motor kepada kami. Saat itu saya sangat terharu bahwa Tuhan telah menjawab doa kami. Sampai saat ini, saya tidak mengetahui siapa orang yang memberikan motor itu. Ibu mertua yang dulu pernah mau gantung diri karena putrinya mengikuti suami yang percaya Yesus, justru menjadi orang pertama yang mengikut jejak kami menjadi pengikut Kristus. Beliau dibaptis pada tahun 1994. Walaupun dari pihak keluarga saya sendiri belum ada yang percaya, namun kalau dulu mereka begitu membenci saya, sekarang komunikasi kami berjalan baik. Perjalanan hidup di dalam Yesus sungguh mendatangkan sukacita luar biasa dalam kehidupan saya.

Copas : kesaksian-life.blogspot.com

BEBAS DARI KUTUK RAMALAN

Bebas dari Kutuk Ramalan


Saya percaya Hong Sui karena orang tua saya
Sejak kecil saya (WS) dididik berdasarkan kepercayaan orangtua saya, termasuk memercayai ramalan nasib atau yang sering disebut Khua Mia ataupun Hong Sui. Saya menyaksikan para peramal mengungkapkan dan menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, bahkan menyatakan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang pada diri saya. Misalnya, kapan waktunya usaha saya akan menurun, kapan menghadapi masalah, dll.. Ibu saya yang pernah dilarang mengikuti resepsi pernikahan adik saya, karena menurut hasil ramalan, disebutkan tahun 1990 merupakan "Tahun Kuda" -- suami adik saya dilahirkan di Tahun Kuda dan ibu saya juga lahir di Tahun Kuda; menurut ramalan, kalau mereka bertemu maka hal itu akan "Chiong" atau menyebabkan keadaan yang "tidak baik". Pada saat pesta pernikahan dilangsungkan, ibu saya terserang stroke. Kejadian itu membuat saya semakin percaya pada hasil ramalan selanjutnya. Diberitahukan juga bahwa istri saya akan sakit-sakitan, kami akan bercerai, usaha saya akan bangkrut, dan banyak lagi ramalan-ramalan yang serba buruk, hingga membuat kami sekeluarga hidup dalam rasa takut.



Bisnis saya sering gunakan peramal
Demikian hebatnya ramalan itu membelenggu diri saya, sehingga dalam merekrut para pegawai di perusahaan kami ataupun jika saya ingin mengadakan kontak bisnis dengan seseorang, saya terlebih dahulu berkonsultasi dengan para "ahli spiritual" saya. Apabila para penasihat spiritual tersebut mengatakan bahwa mempekerjakan orang tertentu atau jika melakukan bisnis tertentu tidak baik, maka dengan yakin saya tidak melakukannya. Atau jika ia memberikan petunjuk bahwa melakukan bisnis tertentu baik, maka saya akan segera melakukannya dengan sepenuh hati. Semakin saya terikat di dalamnya, ternyata membuat diri saya semakin merana, menderita, dan membuat ruang lingkup saya semakin tidak bebas -- ada arah-arah dan tempat-tempat yang tidak baik, ada ukuran pintu yang tidak cocok, dst.. Setiap saat saya menaruh perasaan curiga terhadap orang lain, bahkan kepada anggota keluarga sendiri pun harus meneliti jam, hari, bulan, dan tahun kelahirannya dengan cermat. Apabila shionya tidak cocok, maka dapat dipastikan akan terjadi hari buruk, tetapi kalau shionya tepat, maka akan terjadi hari baik.

Saya bangkrut
Ketika pabrik harus dijual untuk membayar hutang agar perusahaan ini kembali berkibar seperti pada keadaan semula, sesuai dengan nasib (mia) atau berdasarkan jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun lahir saya dan istri saya, serta atas anjuran seorang peramal, maka saya diharuskan untuk melakukan bermacam-macam "syarat". Karena kami belum mengenal "Jalan Kebenaran dari Tuhan", maka demi keutuhan keluarga dan usaha, dengan terpaksa istri menyetujui seluruh "syarat-syarat" itu. Tetapi tidak berapa lama setelah saya melakukan "syarat-syarat" tersebut, kenyataan yang saya hadapi bukannya menjadi semakin baik, tetapi sebaliknya -- keluarga dan perusahaan kami semakin hari semakin bertambah parah. Pada suatu hari anak kami yang paling bungsu, Vincent, yang saat itu masih berusia tujuh tahun dan sedang belajar di sekolah Kristen Penabur, telah lebih dulu percaya kepada Yesus. Setiap malam dia selalu mendoakan agar keluarganya hidup dengan rukun.


Saya rencana bunuh diri
Tahun 1998, tidak lama setelah peristiwa kerusuhan Mei, ketika saya sedang duduk termenung untuk merencanakan bunuh diri, Vincent datang mendekati saya. Tetapi karena saya masih menyembah berhala, maka ia tidak berani berhadapan muka dengan saya. Ia bertanya apakah ia boleh percaya kepada Yesus dan menjadi orang Kristen? Saya menjawabnya "terserah". Saat itulah pertama kali saya mendengar tentang nama Yesus. Awal tahun 1999, dalam keadaan frustasi, saya berangkat ke Batam dengan menumpang kapal laut. Ketika seorang diri di dalam kamar kapal, yang ada di dalam pikiran saya hanyalah merencanakan penyelesaian seluruh masalah yang sedang saya hadapi dengan cara pintas, yaitu dengan bunuh diri. Sementara pikiran saya di kamar kapal sedang kacau, tiba-tiba melalui pengeras suara yang ada dalam kapal, saya mendengar sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa di dalam kapal ini akan diadakan sebuah pertemuan umat Kristen. Entah kekuatan dari mana datangnya, sehingga mendorong saya untuk melangkahkan kaki dan pergi mengunjungi persekutuan siang hari itu.

Bertobat
Saya menyimak seorang pria yang sedang menceritakan pengalaman hidupnya dan saya terpesona mendengarnya. Ia mantan bintang film asal Hong Kong yang datang untuk memberitakan Tuhan Yesus, yang telah mengubah jalan hidupnya. Karena saya juga menginginkan perubahan seperti yang terjadi pada orang tersebut, akhirnya saya membuka hati untuk menerima Yesus masuk ke dalam hati saya. Malam itu menjadi malam yang sangat bersejarah di sepanjang hidup saya. Setelah Yesus masuk ke dalam hati saya, bukan saja telah mengubah hidup yang berputus asa menjadi hidup penuh dengan pengharapan dan damai sejahtera, tetapi setelah berjumpa dengan Tuhan Yesus, Dia pun juga telah membatalkan keinginan saya untuk mengakhiri hidup dengan meloncat ke laut. Beberapa hari kemudian saya kembali ke Jakarta dengan hati dipenuhi kedamaian. Saya menceritakan seluruh peristiwa perjumpaan saya dengan Yesus di kapal kepada istri saya, saya juga mengatakan bahwa kami sekeluarga akan mengikut Yesus sebagai Tuhan kami. Kami sepakat untuk mematahkan keterikatan kami dengan seluruh kuasa Khua Mia atau ramalan yang pernah membelenggu hidup kami selama berpuluh-puluh tahun lamanya.

Kasih Yesus yang ajaib telah menolong saya untuk mengumpulkan semua patung-patung dan berhala di dalam satu kardus, dan dengan pertolongan seorang teman, ia telah membuangnya jauh-jauh dari hidup saya. Tuhan telah menggenapi janji-Nya yang mengatakan bahwa: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu". Saya juga menceritakan Tuhan Yesus kepada ibu dan adik-adik saya. Pada tanggal 28 November 1999, ibu dan delapan orang adik saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi mereka. Selain bersekutu lebih dekat kepada Tuhan, kecintaan saya kepada-Nya telah memudarkan keinginan saya terhadap gemerlap dunia ini. Sekalipun sampai sekarang saya selalu berdoa agar gunung persoalan, baik di dalam usaha bisnis maupun pelayanan, disingkirkan dari depan saya agar bisa berjalan mulus, tetapi Tuhan selalu memberikan kekuatan dan kemampuan untuk melewati gunung-gunung tersebut.