Selasa, 03 Desember 2013

PERTOBATAN MANTAN PELAUT PECINTA WANITA

Johny Saweho, seorang mantan pelaut. Ia berlayar dari tahun 1993 sampai 1998. Bertahun-

tahun hidup di atas kapal yang sarat dengan harta, kekuasaan, dan wanita membuat Johny 

seakan dibuai dan larut dalam kehidupan yang nista itu.

"Pergaulan di kapal itu ya minum-minum, ke diskotik, jika melihat wanita itu ya... namanya laki-laki... Sampai check-in, ya itu pernah saya lakukan," kisah Johny.
Hidup diombang-ambing dengan ombak membuat Johny lelah dan jenuh. Namun saat ia hendak melabuhkan hatinya pada keluarga yang ia cintai, kenyataan berkata lain.

"Saya mendengar berita dari kampung halaman saya bahwa istri saya sudah menikah dengan orang lain. Bertambahlah dendam saya kepada wanita. Kamu bikin begini, saya juga bisa bikin lebih dari begini. Kamu dapat saya, saya bisa dapat lebih dari satu," kisah Johny Saweho bagaimana ia ingin membalas dendam ketika istrinya meninggalkan dirinya.

Amarah itu berganti menjadi nafsu yang membara. Banyak wanita ia jadikan pelampiasan dendamnya, tapi Johny tak menyadari bahwa kehidupannya pun semakin hancur. Sampai suatu hari ia bertemu dengan seorang sahabat yang iba dengan kehidupan Johny. Johny berkisah, "Ia membuka sebuah perusahaan pelayaran di Bengkulu, dan saya langsung dipercayakan untuk menjadi seorang supervisor di Bengkulu."

Penghasilan yang besar dan jabatan yang tinggi membuat Johny semakin larut dalam kehidupan yang suram.
"Setelah saya "turun' ke darat, gaya hidup saya tidak berubah. Free sex pun malah lebih parah saya lakukan," kisah Johny mengenai kehidupannya setelah tidak lagi berlayar yang sama saja atau malah lebih parah.

Lelah dengan kesepian dan sendiri akhirnya pada tahun 2000 Johny memutuskan untuk melabuhkan hatinya pada seorang wanita yang dicintainya. Akan tetapi itu tak merubah kebiasaannya.

Johny berkisah, "Sombongnya saya... saya tidak merendahkan diri di hadapan Tuhan. Sombong karena mungkin dulu saya gampang cari duit. Saya tidak berpikir bahwa itu adalah berkat dari Tuhan."

Johny tak menyangka gaya hidup dan kesombongannya adalah awal dari kehancuran. Sampai tiba di hari dimana semua seakan tak ada artinya lagi bagi Johny.
"Di kantor saya, ada kontainer perusahaan yang hilang. Dan bos meminta saya mencari kontainer itu. Karena jika hilang, bisa didenda. Dan itu didenda ribuan dolar. Wah, inilah beratnya bagi saya. Saya tidak dapat uang, saya yang ditekan-tekan. Perasaan saya dendam dengan orang yang meninggalkan pekerjaannya begitu saja."

Berbagai masalah silih-berganti menimpa Johny, hingga suatu hari ia pun mengalami suatu hal yang tak pernah ia duga.
"Sewaktu itu kira-kira jam 12 saya sudah lapar saya minta makan. Saya makan nasi, tapi kok nasinya jatuh-jatuh... Saya makan seperti anak kecil. Lalu saya minta agar disapu nasi yang jatuh itu. Lalu saya pun minum mengambil gelas, disitulah saya terjatuh, saya roboh. Jatuh dari kursi, lalu dibawa ke rumah sakit. Sampai dua hari kemudian saya sudah tidak tahu apa-apa. Saya sudah mulai koma," kisah Johny bagaimana ia terjatuh koma.

Lalu istrinya pun memberitahu adik Johny mengenai keadaan Johny di rumah sakit.
"Adik saya terkaget mendengar keadaan saya, lalu ia datang ke rumah sakit. Ketika ia datang, ia melihat layar detak jantung saya. Hingga ketika saya tarik nafas panjang, ia teriak... bahwa saya itu sudah mau mati," kisah Johny terisak.

Di tengah kedukaan yang mendalam dokter memberitahukan kabar mengejutkan kepada istri Johny dan istrinya sudah siap menerima apapun keadaan suaminya. Dokter mengatakan bahwa apapun bila Johny sembuh, Johny akan lumpuh total dan tidak akan sembuh. Dan yang kedua, pilihan lainnya adalah Johny meninggal.

Di masa sulit itu, beberapa teman Johny menjenguk dan mendoakannya hingga ia tak menduga sesuatu telah terjadi. "Tiba-tiba saya bergerak, dan sudah mulai sadar saya disitu... Orang pun kaget. Ketika saya sadar, saya merasakan tangan dan kaki saya berat. Lumpuh, pikir saya."

Di tengah kebahagiaan itu, Johny menghadapi situasi dimana ia harus membuat keputusan untuk meluluhkan hatinya yang beku.
"Ketika di rumah, datang seorang hamba Tuhan, Bpk. Ade Manuhutu yang mengatakan bahwa saya harus mengaku semua apa perbuatan saya. Dan saya ungkap semua kepada pak Ade Manuhutu. Tetapi ia mengatakan agar jangan ungkapkan semua kepadanya, tetapi kepada Tuhan. Dan saya mengaku semuanya itu kepada Tuhan. Saya didoakan. Dan saya merasa lega. Kesombongan, keangkuhan, kekerasan hati tidak ada artinya di depan mata Tuhan. Kita terlihat kecil dimata Tuhan," kisah Johny bagaimana ia mengaku semua dosanya kepada Tuhan.

Waktu itu tangan Johny masih terasa kaku, suatu siang, ia bermimpi. Ada tetangganya seorang wanita yang sudah tua dalam mimpinya itu. Di mimpinya itu justru tetangga wanitanya yang mengalami stroke dan tangannya tak bisa bergerak.
"Dalam mimpi itu, tangan tetangga wanita saya bisa bergerak. Tetapi ketika saya tersadar dari tidur saya, tangan saya yang justru bisa bergerak. Saya terbangun, berteriak memanggil istri saya. "Ma, tanganku sudah bisa bergerak!' kisah Johny.

Lalu Johny pun datang untuk kontrol ke rumah sakit, dokter terkaget melihat keadaan Johny. "Luarrr biasa,' kata dokter.
Manusia bisa saja mengatakan "tidak' akan kesembuhan Johny, tetapi bagi Tuhan "ya' Johny pasti sembuh.

Melalui sebuah doa dan pertobatan, membawakan mukjizat bagi Johny. Ia pun pulih bagi kelumpuhannya dan siap menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya.

"Dikatakan, carilah maka kamu akan menemukan, ketuklah maka pintu akan dibukakan, mintalah pasti akan diberikan. Dan saya sangat berterimakasih kepada Tuhan Yesus karena saya sudah disembuhkan seratus persen kembali seperti keadaan saya semula. Dan saya sudah sangat senang dan gembira sekali. Dan saya sudah tidak mau lagi kembali kepada dosa-dosa saya yang lama dan saya sudah untuk melayani Tuhan... Kapan saja. Inilah mukjizat yang diberikan Tuhan kepada saya," kisah Johny bagaimana Tuhan melakukan perkara besar dalam kehidupannya. (Kisah ini ditayangkan 17 September 2009 dalam acara Solusi Life di O'Channel).

Sumber Kesaksian:
Johny Saweho



Tidak ada komentar:

Posting Komentar