Minggu, 28 Desember 2014

AMBISI PENGUASA, BUDI PASANG SUSUK ULAR

Budi Sihombing mengisi masa kanak-kanaknya dengan perkelahian. Demi mendapatkan jatah uang jajan dia sering memalak teman-temannya. “Sejak saya kecil sudah dikenal, dan saya punya ambisi untuk dikenal lagi lebih luas. Inilah yang membuat saya pergi mencari dukun ke dukun yang lain sehingga saya punya kekuatan yang luar biasa yang orang lain tidak miliki.” tutur Budi.

Selama hidupnya, dia telah bertemu dengan kurang lebih 100 dukun, sehingga dia harus merawat setiap 'pemberian' yang ‘guru-guru’ itu berikan. Ada seorang dukun memberikannya dua tongkat kecil yang harus dikenakan ke tubuhnya, sehingga ketika datang serangan, Budi menjadi kebal. Dengan kemampuan yang dimilikinya, pada tahun 1991 dia bertekad menjadi penguasa di Batam.

Namun sebelumnya, dia harus mengalahkan penguasa di sana. Jadi suatu hari ketika dia melakukan aksinya, dia mengambil botol yang dipecahkan lalu mulai menghajar pemimpin geng tersebut. "Ketika saya melihat parang atau senjata, justru dorongan begitu kuat untuk mengejar bukan mundur, untuk mengejar orang yang memegang senjata itu. Saya seperti ingin menghisap darahnya." Semenjak menjadi penguasa, Budi pun mempekerjakan teman-temannya untuk mengawasi tempat tersebut, dan dia pun punya banyak uang untuk dihambur-hamburkan. Namun, dampak lain dari menggunakan ilmu tersebut, tubuh Budi merasa panas dingin tidak karuan, dia selalu ingin mencari lawan berkelahi. 

Di dalam rumah, perbuatan Budi pun tak kalah sadisnya. Dia berani membawa perempuan lain ke dalam rumah, yang diakuinya sebagai pembantu. “Perempuan itu disuruh mandi, tukar baju di kamar kita, saya sediakan lagi makan mereka,” ujar istri Budi. "Mereka tidur lagi di situ, saya tidur di ruang tamu. Air mata ini sudah tidak bisa lagi keluar, udah kering ya, sudah sering menangis sehingga tidak bisa lagi menangis,” tambahnya. Terhadap wanita lain, Budi juga menyiksa mereka demi mendapatkan kesenangan. “Kita aniaya dulu, baru kita melakukan seks. Di hati kecil saya sudah tidak ada rasa kasihan, di pikiran saya sudah tidak ada akal sehat. Jadi dampak dari ilmu yang saya pakai itu, tubuh ini dipakai untuk merusak orang.” jelas Budi alias Bang Ucok.

Sudah hal yang biasa, jika ada kelompok-kelompok lain yang ingin merebut kekuasaannya, maka perkelahian pun tak dapat dihindari. Dengan rutinitas yang sama, kebosanan akhirnya melanda Budi. “Bosannya ngurusin orang setiap hari. Kalau lagi makan pun kita harus buru-buru keluar. Jadi saya jenuh dengan masalah-masalah yang harus saya hadapi tiap hari.” Temannya yang tahu akan hal itu mengatakan bahwa Budi bisa mati jika melepaskan ilmunya, karena dia punya banyak musuh.

Pada satu hari saat dirinya sedang menonton televisi, suatu kesaksian membuat hatinya terguncang. Selain itu, muncul juga suatu perasaan untuk mematikan TV tersebut. Sehingga pergumulan Budi terlihat dari hidup mati hidup matinya TV. "Di pikiran saya saat itu, benarkah preman seperti saya bisa diterima gitu?" paparnya. Setelah memutuskan ingin berhenti, dalam mimpinya Budi selalu dihantui rasa takut mati. Dirinya merasa seolah dibelit seekor ular dan ada suara-suara yang hendak membunuhnya. “Saya ingat tempat itu gelap sekali, kosong hampa. Saya merasakan ketakutan yang luar biasa, saya tidak bisa membaringkan tubuh atau menutup mata ya. Dengan mimpi yang seram luar biasa, akhirnya saya menjadi depresi,” ujar Budi.

Tidak berhenti disitu, menjelang tengah malam Budi sering menjerit. Bahkan saat penyerahan anak di gereja, dia merasa suara itu masih terus berbicara. Akhirnya, dia meraih mic yang dipegang hamba Tuhan dan mengeluarkan uneg-unegnya. Dia ingin dibebaskan namun tak tahu caranya. Pendeta tersebut mengatakan dia harus berpuasa tiga hari lamanya. Setelah itu, mereka melakukan pelepasan. Beberapa jemaat dan pendeta datang dan mendoakannya. Seketika, Budi langsung memberontak karena serasa ada api dalam tubuhnya. “Dia seperti desis ular itu, keluar dari pori-porinya itu keringat, lendir semuanya. Baunya begitu luar biasa, sampai engga tahan orang menyiumnya.”

Setelah melepaskan semuanya, Budi tidak pernah lagi diteror mimpi aneh, tak pernah lagi merasa ngeri. “Memang saya akui tidak sedikit juga persoalan yang saya hadapi, tapi ketika terus mendekatkan diri kepada Tuhan, yang saya dapatkan adalah ketenangan di dalam Tuhan.” Kini Budi mendapatkan kedamaian dan ketenangan jiwa.

“Inilah yang ingin saya dapatkan, karena dari dulu inilah yang saya cari,” ujarnya. Budi pun sekarang mendapat pekerjaan. Teladan Yesus membuatnya belajar kasih dan itulah yang dia lakukan kepada istrinya. Bahkan, dia membuka pintu rumahnya bagi anak-anak yang lahir karena prostitusi. Seumur hidupnya, janji Budi, akan terus bersama Tuhan dan tidak mau kembali lagi seperti dulu, karena semuanya bohong belaka. Hanya Tuhan yang menepati segalanya.
Sumber : Budi Sihombing (JAWABAN.COM)

Rabu, 24 Desember 2014

KESETIAAN ISTRI DIBALAS SUAMI DENGAN PENGKHIANATAN

“ Dalam hidup ini sadar tidak sadar manusia membutuhkan orang lain”, inilah ungkapan hati seorang hati Sri Maria Patty saat membuka kesaksiannya. Dia melanjutkan, “ rasanya jatuh cinta ya gimana ya.. spontan aja”.
Sri Maria Patty mengalami jatuh cinta dengan Alex, teman kuliahnya. Mereka saling mencintai dan komunikasi mereka sangat efektif. “ Pokoknya kalau sudah ketemu langsung plong, ngangenin gitu “. Ungkap Sri berbunga-bunga.
“ Alex itu pribadi yang melindungi, tipe mau berkorban, sayang sama pasangan, dimana saya butuh selalu ada, benar –benar setia, bahkan bisa berbagi rasa baik suka maupun duka” tambah Sri sambil bernostalgia saat itu.
Pada sat itu Sri dan Alex berada di Purwakarta, sedangkan orang tua Sri berada di Karawang. Karena kurangnya pengawasan, Sri dan Alex sangat bebas dalam berpacaran. Suatu hari saat sedang makan siang, Sri dan Alex kepergok sedang berduaan oleh ibu Sri yang baru saja datang dari Karawang. Seketika itu juga mereka lari untuk menghindari amarah ibu Sri.
Pada dasarnya orang tua Sri tidak menyetujui hubungan mereka. Hal ini disebabkan karena sikap Alex yang tidak sopan pada orang tua. Namun, Sri tetap mempertahankan Alex untuk menjadi jodohnya. Seiringnya waktu Sri dan Alex pun menikah. Pernikahan mereka tanpa restu orang tua Sri. Mereka hidup dalam pelarian.
Saat menjalani masa-masa pernikahan, mereka sangat menantikan seorang anak. Namun, sayangnya Alex mandul. Walaupun demikian, pernikahan mereka tetap berjalan seperti biasa. Orang tua Alex sangat menginginkan seorang cucu, walaupun tidak disalurkan melalui ucapan, namun Sri yakin bahwa mertuanya tersebut sangat ingin menimang cucu.
Seiring berjalannya waktu, Sri melihat banyak kejanggalan yang terjadi pada suaminya. Alex sering tidak pulang ke rumah. Tapi, namanya bangkai pasti akan tercium juga. Teman dari Alex datang ke rumah dan memberitahukan Sri bahwa suaminya tersebut sudah menikah dengan perempuan lain bahkan sudah mempunyai anak.
“Hati istri mana yang tidak mengalami hancur saat mendengar suaminya berselingkuh?” ungkap Sri. Kemudian Sri tetap bertekad untuk tetap sabar untuk hidup sendiri walaupun suaminya sudah mengkhianatinya. Sering kali saat Sri membuka foto album pacaran dan pernikahan, rasa sedih sering menghampirinya. Sampai pada suatu saat dia membaca alkitab dan menemukan sebuah ayat yang sangat memberikan kekuatan kepadanya.
Yohanes 8 : 2-11 : "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”.
Sri mengingat bahwa suaminya telah berzinah dan yang dia lakukan haruslah mengampuni. “ Tuhan saja mengampuni, masa saya hanya manusia tidak bisa mengampuni” kata Sri sambil mengingat masa itu.
Sejak saat itu, Sri mulai mengampuni suaminya. Dalam pengampunan selalu ada kebebasan dan mujizat. Suatu hari Alex pulang ke rumah, saat Sri sedang berada di teras bersama-sama dengan temannya. Ini adalah sebuah mujizat dari pengampunan Sri kepada suaminya. Akhirnya selama 16 tahun dipisahkan, mereka dipersatukan juga. Namun, suatu hari saat  Alex sedang menonton tv, tiba-tiba Sri menemukan Alex sudah tak bernyawa di lantai.
Sri sangat terpukul dengan kepergian Alex. Baginya mengharapkan kesetiaan manusia adalah sia-sia, namun mengharapkan kesetiaan Tuhan adalah kekekalan yang tidak pernah mengecewakan. Namun Sri bersyukur bahwa Tuhan sudah menyatukan mereka selama 2 tahun setelah dipisahkan selama 16 tahun.
Sumber : Sri Maria Patty (jawaban.com)

Sabtu, 20 Desember 2014

KESAKSIAN TUMOR HILANG KETIKA PERCAYA TUHAN YESUS

Pertengahan 1984, Bini merasakan ada yang tak beres pada perutnya, penat, seperti ada yang menekan. Namun itu tak dihiraukannya. Ia tetap bekerja seperti biasa. Bangun jam 23.00 WIB saat kebanyakan orang di desa Bejen, Kaliwungu, Semarang masih lelap tidur. Setiap hari, ia harus puas dengan tidur 4 sampai 5 jam. Tangannya dengan sigap menyiapkan masakan yang akan dijualnya ke pasar Teguhan -Boyolali atau Kaliwungu. Menu yang ia siapkan cukup beragam. Nasi soto, sambal goreng, pecel dan beberapa sayuran. Sementara, suaminya berjualan kain di Blitar.

Bini memang harus kerja keras karena saat itu keenam anaknya masih sangat butuh biaya sekolah. "Saya ingin mereka berpendidikan, lebih baik dari kami orangtuanya," aku Bini yang tak tamat SD.
Untunglah, anak-anak cukup mengerti kondisi orangtuanya. "Mereka semaksimal mungkin membantu saya. Sepulang sekolah, mereka memotong sayur-mayur yang akan dimasak malam harinya. Bahkan anak-anak yang agak besar terpaksa bergilir tidak masuk sekolah untuk menjaga adik- adiknya di rumah. Sampai-sampai, anakku, Catur, mendapat julukan Mbok Pon karena setiap Pon (penanggalan Jawa, red.) ia tidak sekolah," kata Bini mengenang.

MENDERITA TUMOR

Suatu pagi, Bini tak dapat menahan rasa sakit. Perutnya seperti diaduk. Kali ini, ia terpaksa ke dokter di Boyolali. Setelah diberi obat, ia merasa lebih enak. Tak lama kemudian, rasa sakitnya berkurang. Namun, ia tak bisa tenang-tenang istirahat di rumah. "Meski kadang perut kambuh, selama bisa ditahan, saya tetap berjualan. Kebutuhan makan sehari-hari untuk anak sangat besar. Belum lagi keperluan sekolah juga tak sedikit. Kalau saya nggak kerja, gimana?" tutur wanita sederhana yang selalu berkebaya ini.
Lima bulan kemudian, Bini kembali ke dokter, lagi-lagi karena tak tahan dengan rasa sakit yang menyerang. Ketika ia raba-raba perutnya, seperti ada yang mengganjal. Karuan saja, ia kaget dan panik. Oleh dokter yang kedua, Bini dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap. Maka dengan hati yang lungkrah, Bini diantar keluarga pergi ke RS Jebres di Solo.
Bayangan dan pikiran Bini campur aduk tak karuan. Satu sisi memikirkan sakitnya, di sisi lain, ia teringat anak-anak, pekerjaan, dan segudang kebutuhan. "Pikiran saya nggak karuan, apa lagi saya dengar harus rawat inap," kenangnya getir. Hari kesebelas di rumah sakit, pikiran Bini semakin galau saat mendengar penjelasan bahwa dari hasil USG, ada tumor di perutnya dan harus segera dioperasi.
Tumor? Operasi? Sungguh dua kata itu sangat menakutkan baginya. Tidak saja bayangan sakitnya dioperasi, tetapi juga anak-anak yang harus ditinggalkan di rumah. Lantas, bagaimana pula dengan biaya yang cukup besar. Dari mana semua itu?

PERUT KIAN MEMBESAR

Kondisi Bini semakin memprihatinkan. Perutnya membesar, ia tak lagi bebas bergerak. Untuk duduk pun, ia harus mencari posisi yang pas supaya rasa sakitnya berkurang. Bahkan akhirnya Bini tak mampu lagi berjalan, ia perlu bantuan orang lain untuk memapah atau menggendongnya. "Perut saya sebesar balon dan keras sekali. Hampir semua orang yang melihat kondisi saya menangis. Hati saya tambah sedih kalau ditengok teman. Dalam hati saya bertanya, kenapa saya harus mengalami semua ini?" kisahnya.
Ingin rasanya ia menolak untuk operasi. Namun, ia juga takut akan kondisinya yang semakin parah. "Saya betul-betul bingung. Dalam hati saya berkata, 'Duh Gusti tolong saya.' Beberapa hari sebelumnya, anak kedua kami, Christine Sri Rahayu, yang telah kenal Yesus menjagaiku, menghibur dan menguatkan. Beberapa temannya pun datang menengok saya dan mengatakan hal yang sama yaitu ada pertolongan dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kala itu, anak-anaknya yang kecil sudah mulai ikut sekolah minggu."
Ketakutan dan kebingungan Bini makin memuncak. Tubuhnya pun luruh tanpa daya. Ia tak pernah mampu menata hatinya untuk tetap tenang. Saat gundah dan sedih merasuk hati, ia teringat ucapan-ucapan yang memberi harapan bahwa Yesus Kristus dapat menolong. Ia berdoa dalam hatinya dengan permintaan sederhana, tolong saya ya Tuhan.

PERCAYA YESUS, TUMOR MENGHILANG

Malam hari sebelum tindakan operasi, Bini ditengok Denish Free, seorang misionaris asal Amerika yang melayani di GJKI Salatiga dan juga kebaktian keluarga di lingkungan tempat tinggal Bini. Denish sudah sangat dikenal Bini karena kerap bertandang ke rumahnya menemui anak-anaknya.
Malam itu adalah saat yang terindah dalam hidup Bini. Ia mendengar dari Denish tentang jalan keselamatan di dalam nama Yesus Kristus. Roh Kudus bekerja di dalam hatinya. Memberi pengertian baru bahwa hanya melalui darah penebusan Yesus, manusia bisa sampai kepada Allah. Ada kehidupan kekal bagi orang percaya. Tak hanya itu, Denish juga menjelaskan kuasa Yesus yang ajaib dan mukjizat kesembuhan di dalam nama-Nya.
Malam itu, oleh karya Roh Kudus, Bini percaya kepada Yesus. Denish berdoa untuk Bini agar iman di hatinya terus tumbuh. Doa yang kedua, memohon kesembuhan untuk tumor Bini. "Setelah doa, meski masih sakit sekali, pikiran saya tenang. Saya berserah pada Tuhan," imbuhnya.
Esok paginya sekitar jam 05.00 WIB, Bini buang air kecil. Darahnya berdesir, jantungnya berdegup keras. Kaget tak karuan. Bini hampir tak percaya apa yang dilihat matanya. Air seninya hitam pekat seperti air kopi dengan bau menyengat. "Perut saya yang gede seperti orang hamil 9 bulan lama-lama kempes, kisahnya dengan mata berkaca-kaca mengingat kejadian ajaib itu.
Tentu saja Bini heran dengan kejadian itu. Begitupun Christine yang menemani di rumah sakit sepanjang malam. Berita segera sampai di telinga suster jaga dan akhirnya pihak rumah sakit kembali mengecek kondisi Bini, USG lagi. Hasilnya? Mukjizat Tuhan! Tumornya tidak ada! Rasa sakit yang menyiksanya hilang lenyap. Bini merasakan badannya segar. "Seperti mimpi," ucapnya.

KESAKSIANNYA MEMBAWA BERKAT

Dokter yang menangani Bini tak kalah bingung. "Dia bertanya pada saya, dikasih apa Bu? Pakai dukun, ya?" kata Bini menirukan kebingungan dokter. Bini lantas menceritakan pada dokter apa adanya. Apa yang telah ia dengar, apa yang dirasakannya. "Saya percaya yang menyembuhkan saya Gusti Yesus. Saya ndak pakai apa-apa. Cuma didoakan dan percaya saja pada-Nya,"
Kejadian ajaib itu segera saja sampai di desa Bejen, tempat tinggal Bini. Semua orang yang mendengarnya takjub. Lebih-lebih bagi mereka yang sehari sebelum kejadian itu membesuk Bini, melihatnya dengan perut besar dan merintih kesakitan. Tetangga. keluarga, dan teman- teman di pasar yang datang melihatnya, tentu saja penasaran ingin mendengar "kisah aneh" tersebut.
Dua hari kemudian, Bini diizinkan pulang, meninggalkan rumah sakit. Kejadian yang dialami Bini benar-benar sebuah kesaksian besar tentang kuasa Tuhan. Beberapa orang yang yang tak puas dengan kisah Bini yang selintas itu kembali mendatanginya untuk bertanya lebih dalam. "Saya cerita apa adanya. Ndak nambahi, ndak ngurangi. Pokoknya saya didoakan, saya beriman, saya percaya Tuhan Yesus dan paginya terjadi seperti itu. Lalu firman Tuhan yang diceritakan pada saya itu saya ceritakan kembali pada orang-orang yang Tanya sama saya. Mbah Soma, salah satu tetangga yang dengar cerita saya itu lalu menerima Yesus. Sampai sekarang ia setia pada Tuhan dan rajin pergi ke gereja," kenangnya penuh rasa haru.

MERASAKAN PERUBAHAN HIDUP

Merasa sudah sehat, beberapa hari kemudian, Bini kembali bekerja, jualan di pasar. Namun ada satu perubahan. Bukan cuma kerja keras yang dilakukan Bini setiap harinya, "Saya juga berdoa mohon berkat untuk jualan saya dan berdoa juga buat anak-anak," kata Bini tersenyum.
Sukacita Bini melimpah. Sungguh ia tak dapat menghitung kebaikan- kebaikan Tuhan. Doa dan kerja yang dilakukan bertahun-tahun telah membuahkan hasil. "Saya berterima kasih sama Tuhan, anak-anak bisa sekolah dengan baik, dan ikut Tuhan".
Harapan Bini tercapai. Kedelapan anaknya, Subito, Christine Sri Rahayu, Suharso, Catur Samiasih, Is Wahyudi, Wiji Utami, Erni Johan, dan Hasto Nugroho telah mengecap pendidikan lebih dari orangtuanya. Uniknya, empat dari mereka adalah jebolan STII, Jogjakarta. "Anak bungsu saya masih kuliah di UKRIM," kata Bini yang banyak mengasuh anaknya sendirian karena suaminya telah meninggal sepuluh tahun lalu. Rentetan anugerah yang dirasakan Bini seakan meling kupi masa tuanya. Dan pasti anugerah terbesar di dalam hidupnya adalah perjumpaannya dengan Yesus, Sang Juru Selamat. "Saya madep mantep nderek Gusti Yesus," ungkapnya dalam bahasa Jawa, maksudnya tidak ragu-ragu atau sungguh-sungguh mantap mengikut Tuhan Yesus.


Sahabatku, kesaksian ini sungguh menjadi berkat buatku. Dari kesaksian ini kita bisa mengerti bahwa untuk mengalami mukjizat Tuhan itu tidak sulit, cukup dengan percaya di dalam nama Tuhan Yesus, semua bisa dinyatakan bagi kita.

Tapi kenyataan sering kali kita sudah berkata kita percaya, tapi belum ada jawaban atas doa kita, belum ada mukjizat.Kenapa ini bisa terjadi? ternyata hal ini pernah terjadi juga waktu jaman Tuhan Yesus ada. Kita bisa lihat di Matius 14:17-21. Menceritakan tentang orang yang mempunyai seorang anak yang sakit ayan, tapi belum sembuh juga walau sudah dibawa ke murid Tuhan Yesus. Sama seperti keadaan kita yang mengaku percaya Tuhan pasti sembuhkan, Tuhan pasti jawab doa kita, Tuhan pasti nyatakan mukjizat, tetapi sampai sekarang belum terjadi dan membuat kita ragu.

Dan jawaban dari keadaan ini dijelaskan secara jelas di Firman Tuhan dalam Matius 17:20 yang berkata "Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu."Semua belum terjadi karena ternyata kita kurang percaya. Percaya itu bukan cuma sebatas perkataan saja. Kalau percaya sebatas perkataan semua bisa melakukan, tetapi tidak semua yang merasakan mukjizat Tuhan, karena iman percaya kita belum penuh kepada Tuhan. 

Firman Tuhan dalam Matius 11:24 berkata "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." Dari Firman ini kita bisa mengerti kalau iman percaya kita harus sampai merasa telah menerima. Saat kita tanamkan cara berfikir seperti itu, kita percaya di dalam Tuhan ada kepastian. Walau saat kita doakan kita belum melihat sesuatu, tapi kita percaya Tuhan sedang bekerja buat kita. Kita sudah melakukan bagian kita, selebihnya biar Tuhan yang bekerja. Jadi apa yang kita minta dan doakan, asal untuk kemuliaan nama Tuhan, pasti dinyatakan di dalam hidup kita.

Sahabatku, pernahkan kamu mengalami saat-saat dimana apa yang kamu doakan belum dijawab sama Tuhan, belum ada mukjizat, belum ada kesembuhan? Mari kita belajar punya iman percaya yang tulus dan benar dihadapan Tuhan, percaya penuh akan kuasaNya. Percaya disaat kita berdoa Tuhan sudah jawab doa kita, selebihnya biarkan Tuhan bekerja. Walau terkadang waktunya Tuhan tidak seperti yang kita pikirkan, jangan menyerah, tetap yakin Tuhan sudah jawab doamu. 
Tuhan pasti nyatakan mukjizatNya di dalam hidupmu.

Tuhan Yesus memberkati ^__^
sumber : facebook

Selasa, 16 Desember 2014

BELAJAR DARI SIKAP RAJA SAUL

Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi.
Lalu berkatalah Saul kepada para pegawainya: “Carilah bagiku seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah; maka aku hendak pergi kepadanya dan meminta petunjuk kepadanya.” Para pegawainya menjawab dia: “Di En-Dor ada seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah.”
(1 Samuel 28:6-7)
Ketika Saul menghadapi suatu  kesulitan dan tantangan dalam peperangan yang menyebabkan ia merasa takut, pada mulanya ia mencari jawaban dan pertolongan dari Tuhan. Saul berdoa memohon jawaban Tuhan tapi Tuhan tidak memberikan jawaban, baik melalui mimpi, melalui urim dan juga tidak melalui perantaraan para nabi.
Ketika jawaban Tuhan tidak datang-datang, Saul berubah kesetiaan kepada perintah Tuhan.  Ia mencari jawaban melalui pemanggil arwah dan roh peramal, padahal ia tahu bahwa Tuhan sangat menentang dan melarang tindakan ini.
Bagaimana dengan kita? Apakah ketika kita berdoa dan belum menerima jawaban Tuhan maka kita akan berpaling kepada yang lain? Apakah kita tetap akan bersabar atau berhenti mencari jawaban Tuhan? Apakah kita akan mencari jalan lain selain Tuhan, ke dukun, paranormal, peramal dan yang lainnya diluar Tuhan?
Salah satu penyebab Saul tidak dijawab oleh Tuhan adalah karena ia tidak mau bertobat dari dosanya. Nabi Samuel telah menyampaikan firman Tuhan kepada Saul bahwa akibat ketidaktaatannya, maka Tuhan telah menolaknya menjadi raja atas Israel. Ketidaktaatan Saul terus berlanjut, bahkan meskipun sudah ditolak Tuhan, ia tetap ingin berkuasa bahkan ia hendak membunuh Daud yang telah diurapi menjadi raja oleh nabi Samuel.
Dari kisah dan sikap raja Saul, kita dapat mengerti bahwa bila kita tidak mendapatkan jawaban Tuhan, maka kita perlu mengoreksi diri kita apakah ada dosa yang telah menjauhkan kita dari Tuhan dan menyebabkan Tuhan tidak menjawab? Bila demikian maka kita harus minta pengampunan Tuhan dengan sungguh-sungguh.
Yesaya 59:2 berkata: ” tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”
Jadi, kita perlu meminta ampun atas segala dosa kita dan juga mengampuni orang lain. Sebab salah satu syarat dosa kita diampuni adalah kita juga mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita.
Jangan mencari jawaban dari yang lain selain Tuhan. Berbeda dengan raja Saul, Daud adalah pribadi yang selalu setia menanti-nantikan Tuhan dan mengandalkan Tuhan. Itu sebabnya dalam salah satu Mazmur Daud tertulis: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung darimanakah datangnya pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN yang menjadikan langit dan bumi.” (Mazmur 121:1-2)
Pertolongan sejati hanya datang dari Tuhan. Jangan putus asa menunggu jawaban dari Tuhan. Tetaplah setia, tetaplah berdoa dan tetaplah berharap kepada Tuhan.
sumber : beritainjil.com

Jumat, 12 Desember 2014

KESEMBUHAN TOTAL DALAM 18 TAHUN

Tuhan Yesus masih tetap sama kuasa-Nya, baik kemarin, hari ini dan sampai selamanya.  Dalam pelayanan kesembuhan ada dua macam proses kesembuhan yang terjadi. Yang pertama adalah kesembuhan secara langsung, dan yang kedua adalah kesembuhan yang melalui proses waktu, bisa hitungan hari, bulan bahkan tahun.  Kedua macam kesembuhan itu adalah otoritas Allah dan merupakan kedaulatan Allah atas setiap orang.  Iman orang yang sakit, dan iman dari orang-orang di dekatnya, yaitu keluarga atau sanak saudara maupun teman-teman, dapat membantu kesembuhan penyakit dari penderita.  Selain itu, belas kasihan Allah dan kasih karunia serta kehendak-Nya yang akan menyembuhkan orang yang sakit itu.
Tuhan Yesus mengajar kita untuk selalu percaya meskipun ada tantangan dan kemustahilan.  Bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin, sebab Ia maha kuasa sehingga Ia mampu melakukan segala sesuatu. Iman yang terus menerus dibangun meskipun ada tantangan kemustahilan akan memperoleh buahnya yaitu berkat pertolongan dari Allah.  Seseorang yang sakitnya belum disembuhkan belum tentu imannya lemah atau tidak punya iman, namun dalam semuanya itu ada kehendak Allah yang melampaui akal pemikiran kita, ada maksud Tuhan dalam hal tersebut.
Ibu Oni adalah seorang penderita kanker payudara yang disembuhkan Tuhan melalui proses waktu 18 tahun.  Ketika ia pertama didiagnosa dokter mengenai penyakitnya, ia mengalami shock dan kepanikan serta kesedihan mendalam.  Rasa kecewa dan putus asa serta bayang-bayang kematian terbersit namun dalam menghadapi penyakit, ia mulai berserah kepada Tuhan. Meskipun baru percaya kepada Tuhan, ibu Oni, berusaha belajar membaca dan merenungkan firman Tuhan meskipun tanpa bimbingan dari siapapun.  Ia percaya dan mulai mempraktekkan firman yaitu untuk bergembira karena hati yang gembira adalah obat sebagaimana dikatakan oleh firman Tuhan.  Ia tidak mau hanyut dengan perasaan sedih dan ketakutan.  Pikirannya selalu diisi dengan hal-hal yang baik dan firman Tuhan melalui pembacaan Alkitab.
Dokter mengatakan bahwa bila dioperasi, kemungkinan besar akar-akar dari kanker tersebut tidak mati, tetapi masih ada dan suatu saat akan tumbuh kembali. Mengikuti anjuran dokter, ibu Oni mempraktekkan pola makan yang baik dengan berpantang terhadap makanan tertentu, seperti bakso, tauge, dan daging jeroan seperti gajih, lemak dan juga daging sapi. Selain pantangan makanan itu, ibu Oni selalu berdoa dan meminta sukacita Roh Kudus untuk selalu memenuhi hatinya.
Tahun demi tahun berlalu, dan mujizat Tuhan mulai nampak terjadi pada tubuhnya.  Benjolan yang ada di payudaranya secara perlahan mulai mengecil dan semakin kecil, dan itu semua memakan waktu 18 tahun hingga ia sembuh total oleh kuasa Tuhan Yesus, tanpa operasi dan kemoterapi. Ibu Oni percaya bahwa semuanya itu terjadi oleh karena anugerah dan kasih serta kuasa Tuhan Yesus.
Hati yang gembira adalah obat yang manjur tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.  Bersukacitalah senantiasa dan jangan bersungut-sungut atau mengeluh dengan keadaan, tapi banyak bersabar. Jalani hidup dengan penuh ucapan syukur kepada Tuhan dan jangan rakus, karena sifat rakus dilarang Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan melarang umat-Nya memakan daging binatang tertentu salah satu sebabnya adalah agar manusia tidak terkena penyakit akibat mengkonsumsi daging binatang tersebut.   Lemak pada daging binatang mengandung kolesterol yang tinggi itu sebabnya Tuhan melarang memakan segala lemak dari binatang korban.
Mari kita bersukacita selalu dan menjaga pola hidup kita serta selalu beribadah kepada Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22)
Sumber : beritainjil.com

Senin, 08 Desember 2014

DUKUN WANITA DARI MEDAN "SAKTI ILMUNYA"

Kesaksian lastri
Saya memiliki kekuatan gaib, sehingga saya dapat memperdayakan banyak orang. Dengan kekuatan tersebut roh saya dapat keluar dari tubuh saya dan terbang keliling dunia untuk mencari orang-orang yang tidak kuat imannya, saya harus berusaha untuk dapat menangkap roh mereka supaya dapat menjatuhkan iman mereka yang belum kuat, itulah pekerjaan saya lakukan setiap hari.

Kenapa saya dapat memiliki kekuatan. Mulai dari kecil pada umur 9 tahun sampai 11 tahun, sering melihat hantu dan itu sangat banyak dan setan tersebut sering tidur di samping saya membuat saya kentakutan dan berteriak kepada ibu dan bapak minta tolong. Roh jahat tersebut sering meneror dan membuat saya ketakutan, hapir setiap malam saya menangis. Membuat ayah saya marah sehingga saya dibawah dari tempat tidur dan dilemparkan kelur rumah, hal ini sepertinya ayah saya sudah mempersembakan saya kepada iblis, hal ini membuat hati saya terluka.

Saya juga dapat melihat ibu saya dipukuli dan kami sering dihukum kalau kami salah. Hal ini membuat saya merasa kasih sayang orang tua sangat kurang. Mulai dari situ saya jadi dendam kepada ayah saya dan tidak mau berbicara kepada bapak. Hal tersebut membuat saya bertumbuh menjadi seorang perempuan yang kasar, saya jadi suka bermain dengan laki-laki, apa saja permainan laki-laki dan saya juga memukul mereka, sehingga mereka memberitahukan orang tua mereka dan orang tua mreka datang ke rumah saya, melapor kejadian tersebut kepada ayah saya, memang saya dinasehati tetapi perlakuannya kasar, dipukuli orang tua.

Saya tumbuh menjadi gadis dewasa, pada saya umur 20 tahun, ada suatu kejadian yang saya alami. Suatu hari saya mengalami kejadian, selama 1 minggu saya tidur berguling-guling, hal ini membuat orang tua saya memanggil seorang dukun untuk mengobati saya. Dukun tersebut berkata bahwa, sakitnya ini tidak perlu diobati karena dia mau jadi dukun besar karena ada banyak roh yang masuk ketubuh saya, karena orang tua saya tidak tega melihat saya harus berguling-guling selama 1 minggu itu, sehingga orang tua saya menerima perkataan dukun tersebut.

Satu minggu setelah kejadian tersebut saya mengalami pengalaman supernatural yang membuat hidup saya berubah. Dan suatu malam saya dimasuki oleh roh, roh tersebut mengaku bahwa dia nenek saya dari ibu. Ada juga roh-roh yang lain juga masuk ke tubuh saya. Ketika roh itu masuk saya dapat rasakan ada sesuatu yang masuk kedalam hati saya.

Ketika roh tersebut masuk ketubuh saya, yang saya rasakan ada sesuatu kekuatan yang luar biasa, sehingga saya dapat mengobati orang-orang yang sakit, roh tersebut yang membawa saya kepada orang-orang sakit untuk mengobati mereka. Mulai dari situ dari mulut kemulut, nama saya mulai terkenal di desa saya, ada seorang gadis sebagai dukun sakti yang dapat mengobati setiap orang, hal ini membuat orang tua saya tidak setuju kalau mereka sebut saya seorang dukun. Karena orang tua saya sebagai kepala sekolah dan dihormati di desa saya, tetapi saya tetap menyembuhkan orang-orang sakit. 2 tahun kemudian orang ayah saya meninggal dunia, hal ini membuat saya bebas untuk mengobati orang dirumah, ibu saya tidak marah karena ibu saya tahu karena kalau saya tidak menjalankan perdukunan tersebut saya akan sakit.

Saya memiliki 2 pengawal kiri dan kanan, saya pernah ketemu dengan dukun dan dukun tersebut hormat dan mengankat tangan, saya tanya kenapa, karena roh tersebut katakan bahwa saya yang lebih tinggi dari dukun tersebut. Ilmu saya semakin tinggi dan saya dapat terban kemana-mana, saya disuruh untuk datang kepada orang percaya untuk menjatuhkan iman mereka. Ketika saya tiba di suatu rumah dan mereka sungguh-sungguh berdoa, hal ini membuat saya tidak dapat memasuki mereka untuk mengambil roh mereka.

Biarpun saya memiliki ilmu yang hebat, tetapi hidup saya tetap masih belum merasa damai, karena saya dapat melihat teman-teman saya sudah berhasil, ada yang menikah dan punya rumah.  Hal ini membuat saya takut untuk masa depan saya. Roh tersebut juga menawarkan kekayaan, supaya saya menjadi dukun besar, tetapi ada syarat, bahwa saya harus mengakui dalam diri saya sendiri sebagai seorang dukun.

Suatu ketika ketika saya berjalan, lalu saya berteriak Tuhan, kalau memang Engkau ada, tolong saya. Ada beberapa jam disitu, saya sebagai orang bodoh, ketika saya mau jalan pulang, saya mendengar suara yang berkata lastri ini ada dua jalan yang saya tunjukan, kalau engkau ke kiri dukun besar, kalau ke kanan ikut Tuhan. Sayamemilih jalan kanan, dari kejadian tersebut ketika saya sampai dirumah, hati saya tergerak untuk ketemu tante saya  yang seorang hamba Tuhan. Ketika saya ketemu tante saya lalu kita berdoa. Saya kembali kerumah dan saya mulai berdoa meminta kepada Tuhan, seorang yang dapat membimbing saya kepada Tuhan. Tiba-tiba satu minggu kemudian ada seorang hamba Tuhan yang datang kerumah untuk membimbing saya kepada Tuhan.

Ketika saya dibimbing dalam renungan Firman Tuhan, ayat-ayat yang dibaca sering tetang penyembahan berhala, lalu hamba Tuhan ini bertanya, Roh Kudus selalu mengajari aku untuk membagi kepada kamu tentang penyembahan berhala. Lalu saya mulai mengaku bahwa saya adalah seorang dukun, lalu saya di ajak untuk doa pelepasan. Beberapa hari kemudia mereka datang dengan tim kerumahku untuk melayani saya. Ketika mereka mendoakan saya, terjadi manifestasi, saya dapat lihat roh-roh tersebut keluar dari hidup saya, ada roh orang mati, roh ular dan lain-lain.

Dari situ saya mulai bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, saya mulai terlepas dari dunia dukun saya. Saya mulai melayani, saya mengucap syukur kepada Tuhan yang telah membawa aku keluar dari lumpur dosa dan mengubah aku menjadi baru di dalam Yesus Kristus. Saya tahu ada banyak orang percaya yang ketika sakit mereka masih datang kepada dukun atau barang mereka hilang masih ke orang pintar. Padahal  Tuhan tidak mau ada berhala di dalam hidup orang percaya. Karena Tuhan mau hidup kita diberikan sepenuhnya untuk kemuliaan nama Tuhan.

Catatan:
Dari kesaksian ini kita harus belajar untuk hidup kita dekat dengan Tuhan, karena ada banyak sekali kuasa kegelapan yang ingin menjatuhkan iman kita. Lastri telah bersaksi bahwa dia dulu mencuri roh orang-orang yang imannya lemah, dan mempengaruhi hidup mereka. Jangan sampai kita agap bahwa ini Cuma cerita yang biasa-biasa saja. Setang tahu kalau orang yang hidupnya bersama dengan Tuhan maka tidak dapat di santet dan diguna-guna karena ada perlindungan Tuhan.

Sebaliknya kalau kita jauh dari Tuhan, maka hidup kita akan mudah dihancurkan oleh kuasa kegelapan. Hanya dilalam Tuhan Yesus kita diselamat dan dibebaskan, percaya kepada Tuhan Yesus karena Hidup anda sanggup di ubahkan menjadi baru, didalam Kristus Yesus, anak Allah yang hidup. Amin

sumber : kesaksian-life.blogspot.com

Kamis, 04 Desember 2014

KEHILANGAN YANG MENGAWALI PEMULIHAN

Basri merupakan momok yang mengerikan bagi orang-orang di sekelilingnya. Kekerasan adalah dunianya. Brutal, sadis dan kejam terus bergejolak dalam darahnya. Lingkungan yang jahat dan latar belakang keluarga yang tidak baik telah membentuk karakter yang keras di dalam diri Basri. Berbagai tindakan premanisme telah ia lakukan. Istri dan anak-anaknya berada dalam bayang-bayang kematian.

MASA REMAJA BASRI
Semenjak kecil berbagai tindakan kriminal telah dilakuakn oleh Basri. Bersama teman-temannya mereka sering memasuki rumah orang dan menjarah apa saja yang dapat mereka ambil. Sifat jahat Basri terus berkembang sampai Basri menginjak usia remaja. Di usia belia saat masih SMP, Basri telah mengenal seks dan berzinah dengan istri orang.
Demi menuruti tantangan seorang teman, Basri mengawali tindakan kriminal profesionalnya dengan menjambret seorang wanita. Saat itulah Basri sempat dihakimi massa sampai babak belur. Aksinya kali ini harus berakhir di penjara. Jeruji besi telah mengekang segala tindakan kejahatannya. Sekitar 3 bulan Basri harus menjalani masa hukumannya. Pada akhirnya Basri pun bebas tapi ia tetap tidak berubah.

PERNIKAHAN PENUH DARAH DAN AIR MATA
Basri akhirnya menikah dengan paribannya Marta. Namun gejolak liarnya terus dibawa Basri ke dalam kehidupan rumah tangganya. Istrinya pun menjadi korban keganasannya. Dalam salah satu pertengkaran mereka, Basri tidak hanya menampar istrinya tapi ia juga menghantamkan sebuah periuk ke kepala istrinya sampai pecah. Kekejaman ini tidak hanya berlangsung sekali. Terhitung sampai dua kali kepala istri Basri harus dijahit karena kekejaman Basri.
"Terkadang kepala saya sampai pecah. Memang dari dulu dia orangnya kasar, selalu main tangan, itulah tingkahnya dulu," ujar Marta sambil terisak mengingat kelakuan suaminya.
Tidak hanya sampai di situ saja kelakuan Basri. Berzinah dan bermain dengan berbagai macam perempuan pun dilakoninya. Dunia premanisme yang dijalani Basri memang identik dengan kehidupannya yang penuh dengan wanita dan narkoba. Marta merasakan kepedihan yang mendalam. Seringkali Marta harus menyaksikan bekas gincu di baju Basri tapi untuk marah pun Marta tidak berani. Kekejaman suaminya seakan-akan menutup rapat mulutnya. Marta hanya dapat menyimpan semuanya di dalam hati.
Pada suatu kejadian saat anak pertamanya menangis karena habis berkelahi, ia mengadu pada Basri. Bukannya bersimpati, Basri malah seakan siap menerkam anaknya karena menganggapnya sebagai anak yang pengecut. Tidak tanggung-tanggung, Basri pun siap untuk menganiaya anak pertamanya. Untung saja Marta segera menyelamatkan anak mereka. Kekesalan di hati Marta benar-benar tidak terbendung. Marta kecewa dengan sikap Basri yang benar-benar tidak memberikan kasih sayang dan memperhatikan anaknya.
Tidak ada yang dapat menghentikan sifat Basri. Bahkan saat Marta hendak pulang kampung dan tengah larut di dalam kesedihan karena neneknya yang meninggal, hati Marta semakin tergores akibat perlakuan Basri kepada dirinya. Permintaan Basri akan sejumlah uang yang tidak dapat dipenuhi Marta membuat mereka bertengkar di pinggir jalan. Saat itu dalam keadaan emosi, Basri tidak hanya memukuli istrinya tapi juga menyeret Marta di tengah jalan. Sungguh malang nasib Marta. Ia telah menjadi tontonan orang banyak. Hatinya sangat pedih dan penuh dengan luka. Marta benar-benar merasa tidak memiliki harga diri lagi. Dalam kesakitannya, Marta pun pingsan di tengah jalan. Kesakitan, kebencian dan kepedihan memenuhi hati Marta. Tapi Marta hanya dapat berserah kepada Tuhan. Niat untuk bercerai dari Basri sudah terlintas di dalam hati Marta, tapi karena memikirkan anak-anak dan keluarganya, Marta masih mencoba untuk bertahan.

BERAWAL DARI KEMATIAN
Selama bertahun-tahun, Basri jarang memberikan kasih sayang yang penuh kepada keluarganya. Suatu hari ketika Basri pulang ke rumah, betapa kagetnya ia melihat anak pertamanya kejang-kejang dan mukanya menghitam. Padahal anaknya tidak pernah sakit sebelumnya. Jauh di dalam hatinya Basri merasa bersalah karena ia sering memukuli kepala anaknya dengan keras. Rumah sakit menjadi pilihan terakhir bagi Basri. Selama dua hari, Basri memberikan perhatian dan kasih sayang yang penuh kepada anaknya. Namun di hari ketiga, saat Basri ke rumah sakit sambil membawa mainan untuk anaknya, Basri mendapati tempat tidur anaknya sudah kosong. Basri pun lalu mendapat informasi kalau anaknya sudah pulang ke rumah. Hati Basri mulai bertanya dan gelisah, apa yang menyebabkan kepulangan anaknya secara mendadak. Saat itu Basri tidak berani pulang ke rumah karena takut menerima kenyataan kalau anaknya sudah meninggal.
Saat itu seorang temannya datang menghampiri. Basri pun meminta tolong padanya untuk melihat keadaan anaknya di rumah. Selama menanti kedatangan temannya kembali, jiwa Basri dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Kematian ataukah kehidupan yang berpihak pada anaknya. Sejam kemudian saat temannya datang membawa kabar, apa yang ditakutkan Basri pun menjadi kenyataan. Anak pertamanya telah meninggal. Dengan tergopoh-gopoh Basri segera berlari pulang. Dengan tak percaya, Basri melihat anaknya yang telah terbujur kaku di atas tempat tidur. Basri membayangkan bagaimana seharusnya anaknya bahagia menerima maianan yang telah dibelikannya, tapi hal itu pun tidak dapat menjadi kenyataan. Dengan penuh penyesalan, Basri menangisi kepergian anak pertamanya.
Penyesalan selalu datang terlambat. Basri menyadari jeritan, tangisan dan ratapannya tidak akan berguna lagi bagi anaknya. Yang tersisa hanyalah kenangan indah yang tidak dapat diulang kembali. Basri dan Marta merasakan kepedihan tak terkira karena kehilangan anak pertama mereka. Memiliki suami kejam dan ditinggalkan anak tertuanya sempat membuat Marta berniat untuk bunuh diri. Banyak yang menasehati Basri untuk bertobat karena Tuhan sedang menegur dia melalui kematian anaknya.
Hati Basri yang terluka kembali tergores lebih dalam lagi. Saat Basri kembali dari pemakaman, Basri kembali dikejutkan oeh teriakan istrinya. Di dalam kamar, anak kedua mereka pun sedang mengalami kondisi yang sama dengan kakaknya. Dengan penuh kepanikan, mereka membawa anaknya ke rumah sakit. Dukanya terus bertambah, akankah kematian akan terulang kembali pada anak keduanya, mengikuti jejak sang kakak?
Kemana pun anaknya berobat, tidak ada kesembuhan bagi anaknya. Namun seorang temannya menasehati Basri. "Anak ini bisa sembuh. Kamu berubah sikap, kamu bertobat, anak ini sembuh." Basri sangat menyesali semua perbuatannya. Anak keduanya pun akhirnya sembuh. Namun penyesalan tidak bertahan lama. Basri kembali kepada kehidupannya yang lama.
Dalam kesesakan dan penderitaannya, Marta hanya bisa berdoa. Doa Marta hanya dipenuhi oleh doa akan suaminya, supaya berubah dan kembali ke jalan yang benar. Marta sangat yakin, kalau ia senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya. Suatu iman yang luar biasa.

PERTEMUAN YANG MENGUBAHKAN
Pada suatu hari Basri melihat seorang wanita cantik di dalam sebuah angkot. Timbul niat jahat di dalam hatinya untuk mengganggu wanita itu. Namun di sanalah terdapat pertolongan atas hidupnya. Dengan ramah, Basri mulai mengajak wanita ini untuk berbincang-bincang. Dari perbincangan itulah Basri mengetahui kalau wanita ini hendak pergi ke gereja. Niat jahat Basri seketika itu juga berubah dan ketakutan menyerangnya. Basri pun mengakui niat jahatnya pada wanita tersebut. Basri mulai mengingat penyesalannya akan kematian anaknya yang dulu. Basri meminta wanita tersebut untuk mendoakan dirinya, supaya Tuhan menangkap hatinya, menangkap rohnya supaya kembali kepada Tuhan. Dengan antusias wanita itu pun menyanggupi untuk mendoakan basri.
Hati Basri semakin terharu ketika wanita tersebut membayar ongkos perjalanannya. Karena Basri yakin wanita ini bukan orang kaya. Kalaupun dia orang kaya, pasti saat ini dia sudah mengendarai mobil pribadi. Padahal malam sebelumnya, Basri baru saja melakukan perzinahan dengan pelacur. Basri merasa untuk membayar uang tip seorang pelacur ia mampu, sedangkan wanita yang dianggapnya hamba Tuhan ini malah membayar ongkosnya.
Dalam kesedihannya, Basri memutuskan untuk pergi beribadah. Ketika musik berdentang dengan kencang, Basri pun mulai berperilaku aneh akibat dampak mengkonsumsi ekstasi sehari sebelumnya. Namun ketika musik berdentang dengan lembut, Basri merasakan ketenangan di dalam hatinya. Air mata pun mulai menetes dan tak kunjung berhenti mengalir di wajah Basri. Hati Basri yang hancur kembali terpukul ketika ia mendengar kata-kata yang sangat menusuk hatinya melalui frman Tuhan yang dibawakan pada hari itu. Semuanya mengena di hati Basri dan mengingatkannya akan semua perbuatan dosa yang telah dilakukannya selama ini. Semua kejahatannya menimbulkan kesedihan yang mendalam di hati Basri.
Di kebaktian itu Basri memberikan kesaksian mengenai pertemuannya dengan wanita di angkot beberapa hari sebelumnya. Di kebaktian itu Basri didoakan supaya hatinya kembali kepada Tuhan. Saat itulah Basri menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Tuhan dan meninggalkan kepremanannya, baik dalam hal roh perzinahan, narkoba maupun perkelahian, Basri bertekad untuk terus ikut Tuhan. Basri yakin Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik baginya. Sukacita dan damai sejahtera pun menjadi milik Basri semenjak saat itu.
Saat ini Basri menafkahi keluarganya dengan berjualan jagung bakar. Dia telah menjadi suami dan ayah yang terbaik bagi keluarganya. Kedamaian dan kebahagiaan melingkupi keluarga mereka. Di gereja pun Basri terlibat dengan pelayanan penjara, menguatkan dan meneguhkan orang-orang yang terlibat dalam dunia kriminal.
"Saya sangat senang melihat perubahan yang terjadi atas suami saya. Dia sering mengajak anak-anak berkumpul, membaca firman dan berdoa. Anak-anak pun sekarang sangat diperhatikan. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Yesus karena suami saya sudah bertobat dan doa saya selama 10 tahun ini sudah dijawab Tuhan," ujar Marta dengan penuh rasa syukur.
"Pokoknya untuk saat ini, tiada hari tanpa Tuhan. Karena Tuhan Yesus saya bisa berubah dan meninggalkan semuanya. Jadi saya benar-benar merasa bangga memiliki Tuhan seperti Yesus," ujar Basri menutup kesaksiannya dengan senyuman penuh rasa syukur. (Kisah ini ditayangkan 19 Maret 2009 dalam acara Solusi Life di O'Channel).

Sumber Kesaksian :
Basri Siagian