Selasa, 28 Januari 2014

SAYA INGIN HIDUP



ditulis oleh : Nesya Christina

Kesaksian: Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi kesaksian yang sudah sering saya ceritakan kepada teman-teman saya dan menjadi gambaran hidup kuasa Tuhan.
 
Saya adalah seorang anak perempuan dari keluarga yg terpecah belah dan tentunya saya masih mengingat bagaimana sewaktu saya berumur 3 tahun, saya berada dalam kondisi pertengkaran hebat antara ayah dan ibu saya yg sampai saat ini menjadi kenangan terburuk yg melekat dalam ingatan saya. Mungkin banyak orangtua tidak menyadari, bahwa daya ingatan anak kecil itu tersimpan dan terkubur dalam menjadi luka yg saya sendiri kadang tidak sadari.


Saya diasuh oleh nenek dari pihak ayah saya, ayah dan ibu saya pergi meninggalkan saya karena mereka mengejar cinta baru mereka. Saya yg masih berumur 3 tahun harus beradaptasi dengan kakak tiri dan rumah yg sangat asing bagi saya. Ditambah lagi saya adalah anak dari istri kedua yg tidak direstui keluarga. Tentunya saya yg masih kecil itu tetap memiliki intuisi bahwa saya tidak disenangi ketika berada di rumah tsb.

Hari demi hari, dan tahun demi tahun saya dibesarkan, saya mengalami depresi dan luka yg terus terpupuk dalam diri saya yaitu cap sebagai anak “broken home”, di rumah itu saya hanya dekat kepada nenek dan tante (yg merupakan adik papa saya), tiba-tiba saja tante yg selama ini saya anggap sebagai ibu, ternyata hamil dan memiliki anak, saya yg saat itu duduk di kelas 2 smp, dan sedang masa-masanya ingin diperhatikan, sangatlah terguncang. Di benak saya hanya berpikir “bagaimana nasib saya kelak? Siapa yg akan menyayangi saya? Saya akan ditinggalkan seperti ayah dan ibu saya meninggalkan saya?” dan tentunya satu kata dari itu semua adalah “saya cemburu”. Saya yg saat itu sedang kurang perhatian membuat ulah, saya bolos sekolah, berbohong agar mendapat uang lebih, kabur dari les saya, dan keras kepala. Saya masih ingat sekali, ketika saya meminta uang kepada nenek saya, dan saya hanya diberi uang lima ribu saya langsung membuang uang tsb. Kesalahan terbesar saya yg hingga saat ini masih saya tangisi. Semua perbuatan yg saya lakukan itu sebagai bukti pemberontakan bahwa saya ingin diperhatikan.

Lalu pada suatu hari saya bertengkar hebat dengan tante dan nenek saya. Saya yg sudah tidak sanggup berperan nakal lagi, ketika dimarahi, hanya bisa diam dan menangis, bahkan tenaga melawan pun sudah tidak saya miliki. Ketika saya masuk kamar, saya melihat ada racun serangga, lalu di benak saya terngiang, “kalau saya minum, maka semua akan beres, tante saya bisa hidup bahagia tanpa perlu mengkhawatirkan saya, saya anak yg tidak diharapkan ini lebih baik pergi saja, saya tidak ada gunanya,dan tidak memiliki apa-apa”

Dan saya pun meminum racun itu. Beberapa lamanya saya minum racun itu, tiba-tiba saja pandangan saya buyar, semua suara menjadi asing, saya ketakutan, dan bayang-bayang indah terlintas di mata saya SAYA MASIH INGIN HIDUP" saya memiliki impian yg selama ini tidak pernah saya sadari karena tertutup oleh rasa cemburu dan serakah. Saya merangkak di kasur, berteriak dan meminta tolong diselamatkan, saya berusaha memuntahkan isi perut saya, saya masukkan tangan saya ke dalam mulut saya, tapi semua itu tidak berhasil, saya drop dan langsung terjatuh di lantai.

Keluarga saya langsung membawa saya ke UGD dan di situ saya melihat tante dan nenek saya menangis, tante saya yg sedang hamil berlarian menemani saya dibawa ke UGD, memegang tangan saya yg ketakutan dan lemah, sedangkan nenek saya hanya bisa menangis menepuk-nepuk dadanya, seolah-olah menyalahkan dirinya..

Malam itu adalah malam terpanjang bagi saya, saya kesakitan karena selang sudah memasuki hidung dan mulut saya, saya pun tidak bisa bicara dengan jelas, saya hanya bisa berkata sepatah-sepatah “saya haus” itu yg saya katakan pada tante saya, tante saya memohon kepada suster utk memberi saya minum, tapi suster menolak karena racun belum sepenuhnya keluar dari badan saya. “saya kesakitan, tolong lepaskan selang ini,” tante saya pun memohon kembali agar dilepaskan, tapi suster menolak. Dari sini saya sadar, bahwa yg merasakan kesedihan atas sakit dan hausnya saya, hanyalah orang yg memiliki cinta yg begitu mendalam untuk saya.

Malam itu saya digiring ke rawat inap khusus, dan tidak boleh ditemani siapa pun, tante saya yg sedang hamil itu memohon kepada pihak rumah sakit supaya saya dimasukkan ke ruangan rawat biasa, agar bisa ditemani  pihak keluarga yg menjaga, tapi pihak rumah sakit menjelaskan, bahwa percobaan bunuh diri bukanlah hal sepele, dan bisa saja penyebabnya dari keluarga itu sendiri, pasien bisa merasa terancam bila ternyata pihak yg menemaninyalah yg menjadi penyebab kasus ini.

Malam itu racun sangat menggigit badan saya, saya mengalirkan air mata tidak bisa tidur, suster di rumah sakit sudah istirahat, hanya bolak-balik sesekali, dalam keadaan saya sudah tidak bisa bergerak lagi, saya menggigil kedinginan, panas dingin, hanya itu yg saya rasakan, badan saya kaku, dan saya tidak berani menutup mata saya... saya takut... takut ketika saya menutup mata tidak akan terbangun kembali. Padahal awalnya saya memang berniat mati, tapi semua berubah ketika saya melihat air mata ketulusan sosok Ibu dari tante dan nenek saya..

Tiba-tiba saja ada sesosok putih bercahaya datang mendekati saya, duduk di samping kasur saya.
Saya yg pada saat itu lemas mencoba memfokuskan pandangan saya, saya pikir itu suster, tapi ternyata ada dua orang yg berada di samping saya, hingga membuat saya berlinangkan air mata, yg pertama adalah tante (kakak ayah) saya yg sudah meninggal tahun sebelumnya, dan yg kedua adalah sosok cahaya yg hangat dan tidak bisa saya lihat wajahnya yang saya yakini adalah Bapa, Ia datang dan duduk di sisi kasur saya, mendekatkan tangan-Nya dan mengelus kening saya, lalu sambil menutupi mata saya dengan tangan-Nya, Ia pun berkata, “Jangan takut, tidurlah... pejamkan matamu, Aku ada di sini menyayangi dan menemanimu.” Saya langsung merasakan badan saya yg tadinya panas dingin, menjadi hangat, dan saya pun terlelap seketika itu juga..

Pagi-pagi saya membuka mata saya, saya memandang nenek dan tante saya yg sudah berada di kamar saya sambil menangis, dan saya pun berkata “Saya masih hidup,” saya yg penasaran bertanya kepada suster, apakah mereka datang kemarin malam, dan mereka bilang terakhir mereka mendatangi saya adalah pada saat mengecek infus saya dan saya tahu bahwa saya masih terbangun pada saat itu.

Saya tidak ingin bertanya apa-apa lagi. Saya tahu bahwa ini kuasa Tuhan, saya tidak ingin memikirkan hal ini dengan logika saya sebagai manusia, tapi saya memandang ini semua dari segi iman saya. Setelah kejadian ini saya pun mulai bersaksi setiap ada perkumpulan iman.

Masih banyak hal-hal dan kesaksian dalam hidup nyata di umur saya yg masih belia ini, mengenai keselamatan saya dari maut, saya yg mencoba bunuh diri, hingga saya yg hampir meninggal karena sakit. Semua itu menguatkan saya menjadi seorang hamba Allah, saya bahagia jika dapat berbuah untuk Allah melalui kesaksian, sebagai ucapan syukur atas kehangatan yg saya rasakan dalam hidup ini.

Semoga kesaksian pertama saya membawa berkat bagi kita semua. Amin.



TIDAK ADA YANG KEBETULAN BAGI - NYA


Kesaksian: Pada kesempatan ini saya ingin berbagi tentang karya Tuhan Yesus dalam hidup saya yang terindah dan takkan pernah terkubur hingga kapan pun.

Tahun 2002 silam saya diperhadapkan dengan suatu pergumulan yang luar biasa. Ibu saya mengalami sakit keras selama kurang lebih 3 minggu. Ia terbaring lemah dan tidak berdaya. Makan dan minum semuanya harus disuapi oleh orang lain. Waktu itu saya berada di Jakarta dan melayani di sebuah gereja di Jl. Kebon Sirih Jakarta Pusat.

Suatu sore saya begitu gelisah dan memikirkan ibu saya. Saya tidak pernah tahu kalau ibu saya sudah diopname selama 3 minggu. Ketika saya menelpon keluarga, mereka menyampaikan bahwa ibu saya sedang mengalami sakit keras. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke tempat asal saya. Ketika saya menemui ibu saya, saya berusaha menahan air mata saya. Di dalam hati, saya berkata: "saya harus kuat." Ketika ibu saya mendengar bahwa saya telah ada di dalam ruangan di mana ia dirawat, ia segera bangun  dengan wajah yang sangat ceria dan penuh bahagia. Hal ini membuat semua keluarga kaget bercampur senang, hal ini disebabkan karena sudah 3 minggu ibu saya tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Kehadiran saya bagaikan air sejuk yang mengalir di dalam tubuhnya. Ia ternyata sudah lama merindukan kehadiran saya di sisinya.

Waktu itu saya duduk di sampingnya dan mengajak dia berdoa. Ketika saya sedang berdoa, saya tidak dapat menahan air mata. Saya sangat sedih dan hancur. Namun puji Tuhan, selama saya berdoa bisa menahan kesedihan saya. Namun ketika saya selesai berdoa, saya tidak sanggup menahan air mata. Waktu itu saya meluapkan kerinduan saya yang dalam dan rasa cinta yang terpendam karena berpisah sekian lama demi panggilan studi untuk melayani TUHAN, dengan menangis sambil memeluk ibu saya. Kami semua akhirnya terlarut dalam sukacita dan kebahagian karena Tuhan menghadirkan saya di tengah-tengah keluarga saya dan secara khusus berjumpa dengan orang yang sangat saya cintai, yaitu ibu saya.

Hari berganti hari, ibu saya semakin pulih kesehatannya. Namun ada suatu hal yang membuat saya hancur... ibu saya menyampaikan sesuatu kepada saya ketika hanya kami berdua berada di dalam ruang perawatannya. Ia menyampaikan sesuatu yang tidak pernah saya pikirkan seumur hidup saya. Ia memulai cerita sekaligus pengakuan dengan harapan saya dapat memberinya pengampunan... ia mulai menuturkan: "pada kesempatan ini mama ingin menyampaikan sesuatu yang bertahun-tahun mama pendam di dalam hati. Mama mohon maaf serta ampunan darimu karena ketika kamu sedang dalam kandungan mama, mama sudah menolakmu. Mama tidak menginginkan kelahiranmu. Mama berusaha untuk menggugurkanmu. Namun semuanya tidak menghasilkan apa-apa. Waktu kamu lahir, mama menyuruh orang lain untuk menyusuimu. Mama merasa berdosa dan mengalami tekanan batin selama bertahun-tahun. Tapi hari ini mama terbuka dan memohon pengampunan darimu. Mama telah memohon ampun dari Tuhan Yesus, namun hari ini mama berharap kamu mau mengampuni mama." Ketika ibu saya menyampaikan hal ini, saya hanya terdiam dan meneteskan air mata seraya berkata kepadanya, "mama sebagaimana Tuhan Yesus mengampuni mama, saya juga mengampuni mama." Saya hancur dan berkata di dalam hati Tuhan mengapa hal ini harus terjadi? Tuhan Yesus berkata dalam hati saya, justru apa yang saya alami merupakan suatu karya yang luar biasa yang Tuhan sedang buat di dalam hidup saya. Anak yang tidak diinginkan hidup justru dipilih Tuhan untuk diselamatkan dan dipakai-Nya secara khusus untuk melayani Dia. Saya mengalami perasaan hancur bercampur syukur atas apa yang sedang terjadi. Waktu berganti waktu ibu saya mengalami pemulihan yang luar biasa.

Saya pada akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk melayani Tuhan. Ia melepaskan saya dengan senyuman yang manis. Saya berkata, "Mama, kita akan bertemu Desember nanti untuk natal bersama. Bukankah kita sudah tidak natal bersama selama 8 tahun?" Namun ia berkata, "jangan janji nak, karena janji adalah hutang. Jika Tuhan berkenan hal itu pasti terlaksana." Akhirnya saya menyetujui apa yang ibu saya ucapkan. Saya berangkat ke Jakarta untuk kembali melayani di gereja yang Tuhan percayakan. Ketika saya tiba di Jakarta, ternyata Tuhan berbuat lain. Ibu saya telah dipanggil-Nya kempali ke pangkuan-Nya. saya mengalami perasaan yang hancur. Hancur dan sungguh-sungguh hancur... saya kecewa dengan Tuhan atas apa yang Ia buat di dalam hidup saya.

Saya memutuskan untuk melupakan-Nya. Saya tidak mau berdoa lagi, saya tidak pernah ke gereja, saya keluar dari pelayanan. Selama 3 bulan saya tidak pernah mengingat Tuhan. Saya sangat sedih dan kecewa karena Tuhan tidak menjawab doa saya dan saya tidak bisa berjumpa dengan ibu saya yang terakhir kali dan melihat jenazahnya. Waktu terus bergulir. 3 bulan telah lewat dalam kehampaan dan kehancuran hati saya. Namun, di suatu pagi di hari minggu, Tuhan mulai menyapa saya. Di dalam hati saya terdengar suatu suara yang lembut dan manis berkata, "AKU mengasihimu, kembalilah anak-Ku!" Suara itu begitu kuat dan membuat saya tidak berdaya melawannya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti ibadah sore di sebuah gereja di Jakarta Pusat. Ketika saya memasuki ruang ibadah, saat itu sedang ada pujian dan penyembahan di awal ibadah. Saya mengambil tempat duduk paling belakang. Saat itu saya tidak dapat mengeluarkan satu kata pun. Saya hanya bisa menangis dan menangis. Mulai dari awal ibadah berlangsung hingga selesai saya hanya menangis dan memohon belas kasihan-Nya untuk memperbaharui hidup saya. Ia memulihkan hidup saya...!!! Puji TUHAN YESUS. Saya dibangkitkan-Nya dan memulai babak baru bersama Tuhan. Mulai saat itu Tuhan berkarya di dalam hidup dan pelayanan saya.

Saya akhirnya melanjutkan kuliah S-2 di sebuah Institut Theologia di Jakarta. Setelah wisuda pada tahun 2007, Tuhan memimpin saya bergabung dengan sebuah perguruan tinggi theologia di Surabaya. Saya tidak pernah menyangka Tuhan membuat semuanya indah. Saya mendapat posisi yang sangat baik di lembaga itu. Selain mengajar saya juga diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengambil S-2 di Surabaya dengan jurusan yang berbeda. Puji Tuhan, tahun 2009 ini saya akan mengakhiri kuliah S-2 saya yang kedua. Saya juga sedang mempersiapkan diri untuk mengambil program S-3 tahun depan. Semuanya itu hanyalah kemurahan Tuhan bagi saya. Saya sangat berbahagia karena Tuhan Yesus mau memakai saya untuk mengerjakan pekerjaan-Nya.

Akhirnya saya mau sampaikan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita tidak ada yang terjadi kebetulan. Semuanya telah direncanakan-Nya dari semula untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Ia berdaulat atas segala sesuatu yang diciptakan-Nya. Ia memulai dan mengerjakan di dalam kita rencana kemuliaan-Nya tanpa sedikit pun andil dari kita. SOLA GRATIA, SOLA FIDE, SOLA SCRIPTURA. Soli Deo Gloria.

Copas : www.glorianet.org


Sabtu, 18 Januari 2014

BIAR SAKIT YANG PENTING SELAMAT


Saya pernah kenal seorang ibu, seorang pengusaha yang punya kemampuan memimpin dan mudah bergaul dengan orang lain. Ia dan suaminya melayani sebagai pengerja di sebuah gereja.

Suatu waktu ia jatuh sakit, berobat, sembuh tetapi jatuh sakit lagi, berobat, sembuh kembali, beberapa kali demikian, dan terakhir kesehatannya semakin memburuk. Begitu ia merasa sehat ia kembali terjun ke dalam bisnis yang ditekuninya. Dalam keadaan sakit, kondisi imannya tetap terpelihara baik, hubungannya dengan Tuhan tampak juga semakin baik. Ia selalu mendesak ikut ibadah minggu walau duduk di kursi roda dan harus diangkat ke dalam mobil. Ia suka memberi saran-saran untuk mempercepat pembangunan rumah ibadah di tempatnya. Keadaan imannya bertambah baik walau kondisi fisiknya semakin merosot, sampai ia dipanggil pulang ke rumah Bapa di sorga.

Pada acara pemakaman, saya ikut hadir. Saya mendengar wakil dari teman-temannya sesama pengusaha menyampaikan ucapan belasungkawa. Dari kata sambutan temannya, ternyata ibu ini adalah seorang tokoh yang disegani di kalangan temannya sesama pengusaha.

Melalui cerita tentang kehidupannya, seperti saya menjadi mengerti Tuhan mengasihi ibu ini. Cuma, Tuhan tidak suka ibu ini berbisnis, karena banyak hal dalam usaha, ia melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehidupan seorang pelayan Tuhan, seperti menyogok dan mengatur tender proyek bersama pejabat.

Tuhan mengingatkan hal ini kepadanya mulai dengan cara yang halus lama-lama bertambah keras mengizinkannya jatuh sakit. Tentu saja bukan Tuhan yang membuat ia sakit, tetapi Tuhan mengizinkan hal itu terjadi. Dalam keadaan penyakit yang semakin parah, ibu ini mulai mendengarkan suara Roh Kudus sehingga kondisi imannya semakin baik. Ia pulang kerumah Bapa di sorga dalam kekudusan. Ibu ini telah mendapatkan kekayaan sorgawi yang jauh lebih besar nilainya dibandingkan dengan harta benda yang ada di dunia ini.

Bagi Tuhan, keselamatan lebih penting dari usaha dan pekerjaan kita. Keselamatan lebih penting dari harta benda milik kita, keselamatan lebih penting dari kesehatan kita. Tidak mustahil, apabila kita tidak juga mendengarkan suara Roh Kudus yang menegur kita, kita akan dipukul-Nya. Kalau usaha atau bisnis menghalangi kita untuk hidup kudus, Tuhan mengizinkan usaha kita bangkrut. Kalau harta benda yang jadi masalahnya, Ia mungkin izinkan harta benda kita merosot secara drastis. Kalau kegiatan dan perbuatan kita menghalangi kita hidup kudus, tidak mustahil Ia akan mengizinkan kita jatuh sakit. Kalau masih juga kita belum mau memperhatikan kekudusan hidup kita, Ia mungkin memukul dengan keras misalnya harta benda kita ludes habis, penyakit yang kita alami parah tidak kunjung sembuh.

Sekali lagi, keselamatan jiwa kita bagi Tuhan lebih penting dari harta benda, usaha pekerjaan atau kesehatan tubuh kita. Kalau kita hanya bisa hidup kudus dalam keadaan sakit, Ia mengizinkan kita terbaring sakit parah. Apakah Tuhan kejam? Sebaliknya dari kejam. Ia sungguh sangat baik. Tuhan melihat dari pandangan kekekekalan. Lebih baik kita menderita beberapa waktu di dunia ini untuk mendapatkan sukacita tiada taranya di Kerajaan Sorga.

(Pdt. Remedi)

copas : suarapertobatan.com

MASIH ADAKAH ORANG JUJUR DI INDONESIA ?


Masih adakah orang jujur di Indonesia ini? Mungkin jumlahnya tidak banyak, tetapi saya yakin, masih ada orang-orang jujur, masih ada pemimpin-pemimpin jujur. Bagi saya sendiri, orang jujur yang saya kenal, adalah almarhum ayah saya sendiri.

Setiap kali saya mendengar berita ada penegak hukum yang disuap atau penegak-penegak hukum yang kaya oleh karena korupsi, saya teringat pada almarhum ayah. Almarhum meniti karir dari seorang juru ketik pada zaman Belanda, dan kemudian pada zaman kemerdekaan bekerja di Kantor Pengadilan Negeri, menjadi hakim, dan jabatannya yang terakhir sebelum pensiun adalah Ketua Pengadilan Negeri di sebuah ibukota kabupaten di Sumatera Utara.

Waktu kami sebagai anak-anak kecil tinggal bersama almarhum ayah dan ibu, kami melihat tamu-tamu yang berperkara di Pengadilan datang ke rumah. Ada satu ketentuan yang berlaku, apapun oleh-oleh yang dibawa orang yang sedang memiliki perkara di Pengadilan, kami tidak boleh memakannya. Kalau ada pisang, jeruk oleh-oleh orang berperkara, semua harus dibuang ke tempat sampah. Pada satu hari, ada orang membawa satu kotak kayu ”Susu Cap Nona”, susu impor favorit pada zaman itu, susu yang mahal harganya. Sesudah ayah mengetahuinya, ia segera menyuruh kami mengembalikannya.

Tentang pendirian ayah, orang sudah tahu, maka ada juga orang yang mencoba mendekati ibu. Saya pernah melihat, orang memberi kepada ibu satu bungkusan seperti bungkusan roti tawar, isinya uang, tetapi ibu mengembalikannya dengan sopan dan berkata: ”Bapak akan marah, apabila kami terima bingkisan seperti ini”.

Gaji ayah pada waktu itu relatif kecil, seperti pegawai negeri biasa, tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk menopang ekonomi keluarga, ibu turut bekerja. Segala usaha pernah ia lakukan. Saya pernah melihat ibu menjahit di toko pakaian wanita. Saya pernah melihat ibu mengangkat satu keranjang tembakau besar di atas kepalanya. Kehidupan keluarga kami bukan kehidupan yang berlebihan tetapi juga tidak kekurangan.

Almarhum ayah adalah seorang yang sederhana. Ia tidak suka menggunakan peralatan-peralatan atau perkakas-perkakas yang mewah. Pada satu waktu, saya memberikan kepadanya sebuah pulpen berlapis emas. Sewaktu ayah meninggal, saya melihat pulpen itu terletak di mejanya, tampaknya ia tidak pernah memakainya. Dipajang di mejanya, tetapi ia sehari-hari menggunakan bolpoin biasa yang murah. Saya merasa, Ia memajang pulpen itu sebagai kenangan, bahwa saya sebagai seorang anak mengasihinya, tetapi ia tidak memakainya karena kebutuhannya bisa dipenuhi dengan bolpoin biasa.

Kalau saya bandingkan dengan rekannya seprofesi pada zaman ini, mungkin ayah sangat jauh ketinggalan dalam pemilikan harta dan benda. Namun, ketika saya merenungkan hal ini lebih mendalam, saya pikir, ayah memiliki harta yang jauh lebih besar yang tidak bisa diukur dengan uang. Pada waktu saya menyiapkan tulisan ini, saya hitung ada 16 orang cucu dan cicitnya, tinggal di negara-negara yang paling makmur di dunia ini, mereka menikmati kekayaan bangsa-bangsa. Apakah ini bisa diukur dengan uang puluhan atau ratusan milyar rupiah? Saya kira tidak bisa, karena anak cucunya adalah orang-orang yang perkasa di muka bumi, orang-orang yang takut akan Tuhan, jauh lebih berharga dari uang.

Ayah sudah meninggalkan kami puluhan tahun yang lalu, tetapi sekali-sekali masih ada orang yang mengenangnya. Sekali waktu ada orang berkata: ”Tadi ada kami dengar kesaksian tentang Oom”. ”Oom siapa?”, kami bertanya. ”Itu, ayah kalian. Ada istri pendeta tadi bersaksi di gereja bahwa dia pernah punya bos yang sifatnya sangat mengayomi anak buah”. Kesaksian itu rupanya adalah tentang almarhum ayah. Di lain waktu, beberapa kali kami mendengar orang yang mengenang ayah sebagai orang jujur.

Almarhum ayah dikenang bukan karena ia suka memberi secara materi karena memang ia tidak memilikinya, tetapi karena ia tidak mau menerima pemberian bersifat materi, uang, barang atau apapun yang bentuknya sogokan. Ia memberi perhatian dan kasih bagi isteri dan anak-anaknya, bagi keluarga besarnya, bagi rekan-rekan sekerjanya di kantor dan bagi masyarakatnya.

(Pdt. Remedi)
copas : suarapertobatan.com



Minggu, 12 Januari 2014

JANJI DAN PERTOLONGAN TUHAN TIDAK PERNAH TERLAMBAT


Tidak terasa sudah kurang lebih setahun yang lalu saya menulis kesaksian mengenai hidup saya, dan hm... saya sungguh-sungguh merasakan bahwa Tuhan itu luar biasa. Dia memimpin hidup saya dan selalu berjalan bersama saya selama ini.
Kesaksian saya pada waktu yang lalu dimana suami saya terkena PHK karena situasi ekonomi yang terpuruk khususnya di negara maju (saya dan suami sekarang berada di Australia), setelah tidak beberapa lama saya keguguran setelah lebih dari 10 tahun menikah :(. Rasanya dunia serasa runtuh dan hancur. Namun Tuhan terus membentuk hidup saya dan suami dan tidak pernah meninggalkan kami sedetik pun.
Kami bergumul untuk memenuhi kebutuhan setiap hari dengan bekerja apa saja. Pekerjaan kasar pun kami jalani. Padahal suami saya dulunya selalu mendapatkan kedudukan yang baik di perusahaan. Namun dia dan saya tak segan-segan melakukan pekerjaan seperti cleanner dan di kitchen.
Tuhan selalu berikan kami kekuatan dalam menjalaninya walau berat tapi kami terus merasa sukacita, hubungan kami berdua semakin erat, kami semakin mengerti dan sayang satu sama lain (karena hubungan pernikahan kami sempat terpuruk beberapa tahun yang lalu karena kesibukan kami masing-masing di Indonesia, tetapi Tuhan juga yang pulihkan), kami diberi kesehatan yang cukup baik, dan teman-teman yang selalu menguatkan melalui doa maupun dalam bentuk bantuan nyata. Karakter kami dibentuk, saya yang biasanya full stress, sekarang bisa lebih berserah dan santai. Karena buat apa stres toh, akhirnya kemampuan kita sebagai manusia pun terbatas (kami sudah bekerja keras dengan memasukan surat lamaran ke berbagai tempat namun belum ada hasilnya juga). Hanya saja kalau Tuhan belum selesai membentuk kita, maka hanya Dialah yang berkuasa menentukan segalanya.
Sampai akhirnya tepat setahun, Tuhan memberikan pekerjaan yang baik kepada suami saya. Kkami dapat bernafas lega. Namun ternyata belum selesai, Tuhan masih mau menguji kami. Pekerjaan itu hanya kontrak 1 tahun, namun ada kemungkinan diperpanjang atau dijadikan permanen apabila kinerja suami saya baik. Tapi setelah menjalani setahun bersama Tuhan, kami tidak merasa takut lagi, karena selama ini Tuhan sudah cukupkan dan kuatkan kami dengan luar biasa, maka saya yakin Tuhan tidak akan meninggalkan kami. Kami hanya bersandar dan berserah saja. Kami imani bahwa Tuhan pasti akan terus menjaga dan memelihara kami. Bahkan cicilan rumah kami pun bisa tercukupi secara ajaib selama ini.
Suami saya terus menjalani pekerjaan dengan tekun, dan puji Tuhan baru 5 bulan dia bekerja di perusahaan tersebut, pihak perusahaan sudah memanggilnya dan menanyakan apakah dia mau menjadi karyawan tetap. Tentu saja itu yang kami tunggu-tunggu, dengan menjadi karyawan tetap kami tidak perlu khawatir lagi akan apa yang harus dikerjakan di tahun depan apabila kontrak tersebut tidak diperpanjang. Dan gajinya pun ditambahkan. Sungguh kami benar-benar tidak mengerti rencana Tuhan, karena rencana-Nya terlalu indah bagi kami.
Kadang kita terlalu khawatir akan hidup kita, namun percayalah bahwa Tuhan pasti akan berikan pertolongan tepat pada waktunya. Tidak pernah terlalu cepat dan tidak pernah terlambat. Semua ada waktunya dan waktu Tuhan adalah yang terbak bagi anak-Nya. Bapa kita tidak akan memberi ular beracun bagi anak-Nya yang minta roti, asalkan kita sungguh-sungguh berserah dan percaya kepada-Nya.
Kini kami tetap berharap untuk keturunan (anak) yang belum juga Tuhan berikan. Namun kami percaya kalau Dia mau berikan maka Tuhan akan berikan semua tepat pada waktu-Nya. Kalau pun belum kami yakin itu yang sudah Tuhan tetapkan terbaik buat kami. Amin.

Copas : www.glorianet.org

KESAKSIAN PARA PELAYAN TUHAN YANG MENGUATKAN IMAN

KESAKSIAN.. tolong dbca ya...

Malaikat Kecilku Telah Menyelesaikan Tugasnya
Kisah nyata tentang kehidupan gadis kecil yang bernama Olivia.

Pengantar Redaksi: Dalam terbitan /Warta RC dimuat suatu ucapan belasungkawa atas berpulangnya Olivia Laurencia, 10 tahun, keponakan dari Jelly Lim, anggota Dewan Paroki Regina Caeli. Banyak Warga RC yang menyempatkan diri melayat di rumah duka ikut menitikkan air mata tapi sekaligus diteguhkan iman mereka mendengar kisah hidup Olivia yang berjuang melawan penyakitnya sejak usia satu setengah tahun. Berikut adalah kesaksian yang ditulis oleh salah seorang kerabatnya. Semoga kesaksian ini membawa kita pada permenungan yang mendalam tentang makna hidup kita masing-masing.

Tiga Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh yang cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua orang yang melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping ini. Yah, ini adalah mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.

Sang bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil, segera mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka harus menerima kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata, atau istilah kedokterannya penyakit /Retina Blastoma/. “Biasanya untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi,” demikian kata sang dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya.
Bergelut dengan Pengobatan

Berbagai pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri. Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu. “Dia seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan mata palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu hilang begitu saja. Mata dia sungguh indah, semua orang juga mengakuinya,” berontak sang papa. Akhirnya dipakailah cara /kemotherapy/ untuk mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.

Menurut pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi ke gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat yang biasa-biasa saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh malaikat yang membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata ‘BAPTIS’. Setelah menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan masukan “baptis berarti kamu mesti bertobat!”. Sambil tetap menjalani pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah penyakit yang diderita Olivia.

Di sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Allah mendatangkan penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah mereka. Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael. Setidaknya ini adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan mereka.

Olivia sempat menjalani dua kali /kemotherapy /yang membuat kondisi fisiknya /drop./ Saat ia /drop/ dan trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya dengan kondisi was-was musti siap mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan bantuan darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan. Biasanya setelah /therapy/ ia mengalami kerontokan rambut hingga botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di sekolah ia termasuk salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya. Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan harapan kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap dengan pasrah.
Membawa kepada Kristus

Dalam kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung pada Tuhan Yesus. Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, bagai jam weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk mengajak doa pagi. Ketika melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar Dengan polosnya Olivia berujar dan mengajarkan papanya “Dalam masalah apa pun kita harus selalu tersenyum. Imannya kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit itu.

Iman Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada Yesus. Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya.

Bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar biasa kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia berujar kepada sang mama “Kan Oliv mau jadi peri yang baik hati”. Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan sakit kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria. Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu bercanda dengan semua orang. Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009, saat sakit kepala yang semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah, keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit untuk menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya telah menjalar sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya.

“Terimakasih Tuhan Yesus”

Setiap hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun, kesakitan yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, “Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…”. Sang mama yang tidak kuat melihat penderitaan putrinya mengatakan, “Kalau sakit sekali, menangis saja Oliv,” tapi anak ini sungguh kuat. Dia tidak pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali dikuatkan dan diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu tidak mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua malam menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur 10 tahun berdoa penuh iman. “Terima kasih Tuhan atas kasih karuniaMu, Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv, Tuhan ampuni semua dosa Oliv, terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin…” Sebuah doa yang sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani Yesus.

Saat malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang mengunjunginya untuk senantiasa berdoa dan mendoakannya sepanjang malam itu. Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah tidak tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya “Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak tahan lagi…” kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap “Trima kasih Tuhan Yesus” . Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang. Saat sang papa membisikkan ke telinganya “Papa merelakan Oliv pergi, karena papa percaya di surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan Oliv kami semua merelakan Oliv.” Dalam kondisi yang sudah ‘koma’ Olivia meneteskan airmata.

Sesaat setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil membisikkan di telinganya, “Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv genggam kencang tangan tante yah..” Dalam keadaan ‘koma’ itu ia benar benar menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk selamanya dengan perlahan, tenang dan damai. Dua belas Januari 2009, pukul 15.45.
Tugasnya sudah selesai

Kedua orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan tetesan airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani apa yang selalu dikatakan Olivia selama hidupnya, bahwa “Segala sesuatu ada waktunya; selalu tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat dan tegar dalam pergumulan; berserah dirilah kepada Tuhan Yesus, karena Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi kita”.

Jasadnya sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya menyunggingkan senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak cekung karena sel kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya bahkan terlihat normal kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua mengimani, saat ajal menjemputnya Tuhan terlebih dahulu memulihkan fisiknya. Keluarga besarnya juga mengimani bahwa Olivia adalah penolong yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka. Melalui sakit yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia kembali dipanggil Bapa ke surga.

Bahkan saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang pemimpin Ibadat menyerukan “Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan cuaca cerah… Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami tapi kami yakin Tuhan hadir di tempat ini,” detik itu juga, gemuruh guntur berbunyi seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman ini dengan tertegun berujar dalam hati, “Sungguh ia benar-benar dikasihi Tuhan”.

Segalanya berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan dihantar oleh beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani.

Selamat jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana. 

-esther-
;� Y p a �K ��� !important; float: none;">Selamat jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana. 

-esther-
copas : facebook

Minggu, 05 Januari 2014

KISAH NYATA DOKTER ANGKUH YANG BERTOBAT KARENA PENYAKIT

Aku adalah seorang dokter dengan karir yang sukses dan menjanjikan. Kehidupan terasa makin lengkap saat aku dan pacarku akhirnya bisa membeli rumah idaman. Semua memang indah, kecuali satu hal.

Hubungan antara aku dan pacarku seringkali diwarnai percekcokan. Asal tahu saja, kami berdua berbeda keyakinan. Tampaknya sulit bagi kami untuk saling menghargai perbedaan. Berdebat dan berdebat, itulah yang sering kami lakukan. Tetapi karena sifatku yang lebih dominan, biasanya pacarku mengalah dan mengikuti keputusanku.

Memang ibuku sering berkata, "Ingat ya, Nak, terang dan gelap itu tidak bisa bersatu." Tetapi bagiku dia adalah pria yang terbaik. Aku bisa menentukan masa depanku sendiri.

Ambisius dan pekerja keras, itulah sifat yang membuatku tidak kenal lelah mencari pemasukan tambahan. Demi membangun masa depan, aku rasa sah-sah saja kalau harus jaga malam di rumah sakit sampai larut malam atau berkecimpung dalam bisnis lainnya.

Sampai suatu hari aku divonis dokter bahwa di rahangku ada kista. Tetapi bagiku itu bukan perkara yang harus dibesat-besarkan, toh suatu hari nanti juga sembuh.

Kembali ke pacar yang kucintai. Satu hal yang tidak pernah aku duga darinya ialah, bahwa dia berselingkuh dengan wanita lain. Teganya dia melakukan hal itu padaku. Perselingkuhannya terbongkar setelah aku menyelidiki nomor misterius yang sering dia sms-i kata-kata mesra.

Sungguh mengecewakan. Tapi, apa boleh buat. Aku harus tetap melangkah menapaki kehidupan ini, meskipun tanpa dia.

Suatu kali, aku merasakan sakit di bagian leher yang teramat sangat, membuatku tidak bisa berdiri. Untuk bangun, saya perlu perjuangan yang sangat besar. Keringat mengucur. Meskipun begitu, aku harus bekerja.

Seorang teman di rumah sakit menganjurkan agar aku melakukan tes MRI. Pasalnya, dia melihat bahwa posisi tubuhku semakin miring. Leherku tidak bisa berdiri tegak, dan selalu terjuntai ke bawah. Setelah tes MRI aku jalani, didapati hasil bahwa 2 ruas tulang belakang saya hilang.

Saya takut. Saya tahu bahwa operasi ini akan memakan banyak biaya, sekitar Rp 250 – 300 juta. Puji Tuhan, saya dipertemukan dengan dokter yang tepat, dan biaya yang dikeluarkan pun persis dengan jumlah tabungan yang saya miliki pada saat itu. Sebuah pen dipasang pada leher saya, dan saya harus memakainya seumur hidup. Operasi dinyatakan berhasil.

Berdasarkan ilmu kedokteran yang saya ketahui, saya tinggal menunggu 3 bulan untuk bisa pulih dan bekerja kembali. Leher saya akan kembali lurus.

Namun itu hanya fakta di atas kertas. Kenyataannya, leherku tetap sakit. Aku tidak bisa bangun, untuk duduk saja susah. Dokter yang menangani pun heran mengapa ini bisa terjadi, padahal pemasangan pen di tulangku sudah tepat.

Di momen itulah aku hanya bisa terkapar di tempat tidur dalam keadaan tak berdaya. Siapa atau apa lagi yang bisa diandalkan? Mengandalkan pikiran, tidak sanggup. Uang, buat apa? Saya benar-benar hanya bisa berharap dan bersandar kepada Tuhan.

Saya mulai merenungkan semua yang telah terjadi dalam kehidupan ini. Hubungan dengan pacar yang kandas dan penyakit kista yang menyerang leherku adalah dua tragedi hidup yang tidak kupahami.

Di tengah masa-masa suram, aku menemukan sebuah ayat Kitab Suci yang menguatkan. "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang." (Ibrani 12:5-8)

Aku rupanya sedang dibentuk menjadi anak-Nya yang berkualitas. Selama ini, saya pikir logika saya yang paling benar. Namun Tuhan hancurkan semua itu supaya pikir saya bergantung hanya kepada Tuhan.

Momen penyakit penuh derita ini juga merupakan kesempatanku untuk melihat kasih sayang seorang ibu. Saat aku sakit, Mama datang dari Bandung dan merawatku dengan penuh dedikasi. Aku terharu. Sebenarnya aku adalah anak yang arogan. Aku selalu merasa diriku yang paling benar.

Kini, aku melihat kuasa Tuhan bekerja dalam hidupku melalui semua yang kualami. Leherku berangsur-angsur pulih kembali. Saya bersyukur bahwa Dia menyempatkan waktu untuk memproses saya secara maksimal dan personal. Rupanya ada hikmah di balik semua derita.

Sumber Kesaksian:

Hwenty Widjaja

Copas : facebook.com

KESAKSIAN SAYA


Saya ingin bersaksi pd saudara ttg bagaimana saya terpanggil mengikut Dia, Kristus Yesus Tuhan sejati.

Nama tempat dan beberapa nama org atau Gereja sengaja saya singkat agar tdk bermaksud mengkultuskan sesuatu krn isi kesaksian itulah yg penting.

Kisahnya panjang dan akan saya coba persingkat.
Semoga kesaksian ini dpt menambah Iman saudara pd Tuhan. Haleluya.

Saya lahir 33 thn lalu di Sumatera Utara dari keluarga Kristen. Jadi sjk kecil otomatis saya mmg sdh Kristen krn orangtua saya, tp tdk menjadi Kristen didalam rohani saya.

Sjk kecil saya diharuskan utk ke Gereja, tp utk apa saya tak pernah diberitahu. Akibatnya saya tumbuh menjadi org yg menjalani Kekristenan krn formalitas bkn sbg kebutuhan rohani.

Jujur saya waktu itu tak percaya Tuhan, bahkan Yesus srg saya ejek spt anggota slank krn gondrong dan berjanggut.

Di Gereja setiap khotbah dimulai saya keluar dan menggunakan uang kolekte yg diberikan ortu saya utk membeli rokok. Bgi saya itu jauh lbh penting daripada mendengar khotbah Pendeta yg cm membuat saya ngantuk.

Begitulah hari2 saya jalani hingga saya tumbuh dewasa menjadi seorang atheis yg ber-KTP Kristen.
Tak dpt dihitung jg berapa hujatan yg tlh saya lontarkan pd Tuhan Yesus akibat ketidakpercayaan saya.
Kedua ortu saya kmudian meninggal krn sakit saat saya msh SMA. Kdg saya berpikir mrk meninggal krn capek melihat kelakuan saya.

Kemudian sewaktu kuliah di Jogja saya jatuh kedalam narkoba jenis putaw & sex bebas. Oleh keluarga saya kmudian dipindahkan utk kuliah di kota M, tp lagi2 saya kembali meneruskan kegiatan saya berputaw ria. Akhirnya kuliah saya kembali berantakan & semangat hidup saya tak ada lg, saat itu saya mrs tak ada gunanya hidup lbh baik mati.

Krn kelakuan saya keluarga pun mulai tak perduli lg, sepertinya mrk sudah bosan dg tingkah laku saya. Suatu hari saya memutuskan utk bunuh diri saja, lalu saya ingat bhw alm.Ortu saya punya rumah di kota DS, jadi saya kesana dg rencana utk bunuh diri dg tenang. 1gram putaw & sebuah insulin sdh saya 
siapkan agar nanti saya mati akibat overdosis.

Sampai disana saya kaget melihat ada spanduk Gereja di depan rumah itu, saya masuk dan disambut 2 org pria yg belakangan saya ketahui adalah penginjil yg tinggal dirumah itu.
Dari mrk saya ketahui bhw ternyata rumah itu tlh mrk sewa melalui abang saya utk dijadikan pos penginjilan.
Pengen saya jotos muka mrk tp entah knp ada sesuatu di wajah mrk yg terpancar yg membuat saya spt mrs takut, pdahal sbelumnya saya tak pernah takut pd siapapun.
Mereka menawarkan 1 kamar yg msh kosong utk saya, akhirnya saya terima saja krn saat itu saya dlm kebingungan hrs bgaimana.

Singkatnya saya masuk saja ke kamar itu, pikiran saya kacau krn rencana bunuh diri saya jd berantakan. Tak lama saya tertidur bbrp jam dan kmudian saya bangun & keluar dr kamar.
Di ruang tamu saya melihat salah satu penginjil itu sdg santai makan kacang. Jd saya duduk disampingnya & menawarkan rokok tp ditolaknya, katanya dia tak merokok. Busyet ni org pikir saya, hari gni ga merokok? Akhrnya saya diam saja sambil merokok disampingnya.
Kmudian tiba2 penginjil itu bertanya, "kmu ada masalah besar ya, bisa diceritakan?" wah dukun ni org, pikir saya lagi. Kok bisa2nya dia tau? Saya jwb saya ga ada msalah apa2 tp penginjil itu masuk ke kamarnya & keluar membawa Alkitab. Dia bercerita bhw Yesus mengasihi saya. Ntah knp saya terharu mendengar ceritanya pdhal saya sdh srg mendengar cerita ttg Yesus dan saya tak pernah terharu!
Lalu saya tanya apakah Gereja itu dr aliran 'K' ? Dia jwb iya. Waduh, aliran sesat ini, ini kan aliran yg org2 blg sesat, yg suka nari2 klo ibadah??? Tp wktu itu saya diam saja.

Singkatnya kmi lama mengobrol2 seputar Alkitab dan hal2 lain diluar itu hingga malam.
Malamnya usai makan saya masuk kamar dg pkiran yg trs berkecamuk. Saya mrs suara panggilan Tuhan saat itu bgtu kuat didalam hati saya, tp setan msh ttp menguasai sbagian besar diri saya.
Keinginan utk bunuh diri msh sgt kuat.
Jadi saya keluarkan 1gr putaw & insulin yg saya bawa, saya campur smuanya ke dlm insulin & siap menyuntikkannya ke lengan saya.

Saat hendak menyuntikkan insulin itu saya menantang Tuhan.
Saya ktakan saat itu, hei Yesus buktikan bhw Kau mmg ada bukan skedar crita!
Kemudian saya tusukkan insulin itu, aneh jarumnya ga tembus, saya paksa sampai jarumnya bengkok, ttp tdk tembus!
Saya bingung dan panik, tiba2 seluruh kamar itu terang benderang, terang sekali spt ada ratusan lampu disana.
Blm habis rasa kaget saya tiba2 ada sesosok manusia di depan saya, Dia tinggi dan besar.
Tubuh & pakaianNya yg panjang semua bersinar2 putih, rambutNya jg putih, tp saya tak dpt melihat wajahNya krn sgt silau seperti matahari!

Saya sgt ketakutan saat itu, saya pikir itu pasti hantu. Saya blm pernah melihat hantu sbelumnya.
Saya tiarap dg ketakutan & melemparkan apapun yg bisa saya lempar. Sambil berteriak saya bertanya, kau siapa??? Tp saya ga berani memandang ke arahNya.
Tiba2 ada suara yg spt bergema, spt suara ombak, maaf saya tak dpt lukiskan. Suara itu berkata, Akulah Yesus yg kau hujat dari sjk kau kanak2. Ikutlah Aku agar kau tdk binasa. Aku sll memperhatikanmu!

Saya ga ngerti apa maksud kata2 "Aku sll memperhatikanmu". Tp kmudian cahaya terang di kamar itu mulai berkurang dan sosok itu lenyap.
Tinggallah saya saat itu msh tengkurap di lantai menangis sejadi2nya. Tiba2 kamar diketuk dr luar & penginjil td masuk menanyakan apa yg terjadi, mungkin mrk mendengar suara saya yg cukup keras menangis.
Saya ceritakan apa yg terjadi dg wajah yg pucat. Penginjil itu memeluk saya dan berkata, berbahagialah kau krn tlh melihat Dia krn bahkan saya sndiri sjk menjadi penginjil blm pernah melihat apa yg kamu lihat. Lalu saya ditumpangi tangan & didoakan.

Besoknya saya dibawa ke rumah Pendeta mrk & menceritakan apa yg saya alami. Sjk itu hidup saya berubah, saya mulai belajar puji2an, penyembahan dsb. Ya, si penghujat telah berubah menjadi penyembah, Haleluya! (saya menulis ini sambil menangis).
Akhirnya 11 november 2001 saya dibaptis selam oleh bbrp Pendeta dr Gereja pusat stelah sebelumnya dimuridkan.
Beberapa tahun ikut dg Pendeta ini, Pak JHL utk mengerti apa itu melayani. Byk sekali pengalaman2 yg saya alami saat ikut dg beliau yg smakin meneguhkan keimanan saya.

Seperti seorang ustad yg masuk Kristen krn anaknya yg meninggal dihidupkan Tuhan lagi setelah didoakan pak JHL.
Seorang ibu yg janinnya dinyatakan tlh mati oleh dokter, tp Tuhan hidupkan stelah didoakan pak JHL.
Dan juga saat ada org yg kerasukan setan, setan2 yg merasuki org tsb sudah ditengking2 oleh bbrp orang lain tp krn tdk mau keluar juga, pak JHL dipanggil. Masih dr kejauhan orang yg kerasukan itu melihat pak JHL, dia berteriak: hei JHL, ada apa kau kmari?! Apakah hendak mengusir kmi???
Kemudian setan2 itu keluar & org yg dirasuki td sadar kembali, bahkan sbelum diusir oleh pak JHL! Benarlah apa kata Alkitab, "Doa orang benar besar kuasanya", bahkan sbelum didoakan!
Banyak lg pengalaman2 rohani yg saya alami bersama beliau yg semakin membuat saya mengerti & memperteguh iman saya lbh lagi didalam Tuhan Yesus.

Begitulah sedikit kesaksian saya, sengaja saya persingkat agar saudara tdk bosan membacanya.
Harapan saya, mari tetaplah bertekun dg imanmu saat ini, ingatlah, Tuhan memperhatikanmu. Ya, Dia memperhatikanmu spt yg Dia katakan pd saya, Dia jg memperhatikanmu.
Dia tdk hanya skedar cerita, Dia nyata dan ada!
Apapun masalahmu saat ini bawa dlm doa, Tuhan Yesus akan beri solusi yg terbaik. Tak ada yg tak mungkin, krn Dia Tuhan yg perkasa. Dia bkn Tuhan yg hny minta disembah & tinggal disuatu tempat. Tapi Dia Tuhan yg ada dimana saja bahkan Dia pernah turun langsung ke bumi utk menunjukkan cintaNya pd kita, Tuhan siapakah yg spt itu?!
Ya, hanya Tuhan kita, TUHAN YESUS!

Amin,
Jesus  you

Copas : facebook.com