Sabtu, 18 Januari 2014

BIAR SAKIT YANG PENTING SELAMAT


Saya pernah kenal seorang ibu, seorang pengusaha yang punya kemampuan memimpin dan mudah bergaul dengan orang lain. Ia dan suaminya melayani sebagai pengerja di sebuah gereja.

Suatu waktu ia jatuh sakit, berobat, sembuh tetapi jatuh sakit lagi, berobat, sembuh kembali, beberapa kali demikian, dan terakhir kesehatannya semakin memburuk. Begitu ia merasa sehat ia kembali terjun ke dalam bisnis yang ditekuninya. Dalam keadaan sakit, kondisi imannya tetap terpelihara baik, hubungannya dengan Tuhan tampak juga semakin baik. Ia selalu mendesak ikut ibadah minggu walau duduk di kursi roda dan harus diangkat ke dalam mobil. Ia suka memberi saran-saran untuk mempercepat pembangunan rumah ibadah di tempatnya. Keadaan imannya bertambah baik walau kondisi fisiknya semakin merosot, sampai ia dipanggil pulang ke rumah Bapa di sorga.

Pada acara pemakaman, saya ikut hadir. Saya mendengar wakil dari teman-temannya sesama pengusaha menyampaikan ucapan belasungkawa. Dari kata sambutan temannya, ternyata ibu ini adalah seorang tokoh yang disegani di kalangan temannya sesama pengusaha.

Melalui cerita tentang kehidupannya, seperti saya menjadi mengerti Tuhan mengasihi ibu ini. Cuma, Tuhan tidak suka ibu ini berbisnis, karena banyak hal dalam usaha, ia melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehidupan seorang pelayan Tuhan, seperti menyogok dan mengatur tender proyek bersama pejabat.

Tuhan mengingatkan hal ini kepadanya mulai dengan cara yang halus lama-lama bertambah keras mengizinkannya jatuh sakit. Tentu saja bukan Tuhan yang membuat ia sakit, tetapi Tuhan mengizinkan hal itu terjadi. Dalam keadaan penyakit yang semakin parah, ibu ini mulai mendengarkan suara Roh Kudus sehingga kondisi imannya semakin baik. Ia pulang kerumah Bapa di sorga dalam kekudusan. Ibu ini telah mendapatkan kekayaan sorgawi yang jauh lebih besar nilainya dibandingkan dengan harta benda yang ada di dunia ini.

Bagi Tuhan, keselamatan lebih penting dari usaha dan pekerjaan kita. Keselamatan lebih penting dari harta benda milik kita, keselamatan lebih penting dari kesehatan kita. Tidak mustahil, apabila kita tidak juga mendengarkan suara Roh Kudus yang menegur kita, kita akan dipukul-Nya. Kalau usaha atau bisnis menghalangi kita untuk hidup kudus, Tuhan mengizinkan usaha kita bangkrut. Kalau harta benda yang jadi masalahnya, Ia mungkin izinkan harta benda kita merosot secara drastis. Kalau kegiatan dan perbuatan kita menghalangi kita hidup kudus, tidak mustahil Ia akan mengizinkan kita jatuh sakit. Kalau masih juga kita belum mau memperhatikan kekudusan hidup kita, Ia mungkin memukul dengan keras misalnya harta benda kita ludes habis, penyakit yang kita alami parah tidak kunjung sembuh.

Sekali lagi, keselamatan jiwa kita bagi Tuhan lebih penting dari harta benda, usaha pekerjaan atau kesehatan tubuh kita. Kalau kita hanya bisa hidup kudus dalam keadaan sakit, Ia mengizinkan kita terbaring sakit parah. Apakah Tuhan kejam? Sebaliknya dari kejam. Ia sungguh sangat baik. Tuhan melihat dari pandangan kekekekalan. Lebih baik kita menderita beberapa waktu di dunia ini untuk mendapatkan sukacita tiada taranya di Kerajaan Sorga.

(Pdt. Remedi)

copas : suarapertobatan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar