Sabtu, 18 Januari 2014

MASIH ADAKAH ORANG JUJUR DI INDONESIA ?


Masih adakah orang jujur di Indonesia ini? Mungkin jumlahnya tidak banyak, tetapi saya yakin, masih ada orang-orang jujur, masih ada pemimpin-pemimpin jujur. Bagi saya sendiri, orang jujur yang saya kenal, adalah almarhum ayah saya sendiri.

Setiap kali saya mendengar berita ada penegak hukum yang disuap atau penegak-penegak hukum yang kaya oleh karena korupsi, saya teringat pada almarhum ayah. Almarhum meniti karir dari seorang juru ketik pada zaman Belanda, dan kemudian pada zaman kemerdekaan bekerja di Kantor Pengadilan Negeri, menjadi hakim, dan jabatannya yang terakhir sebelum pensiun adalah Ketua Pengadilan Negeri di sebuah ibukota kabupaten di Sumatera Utara.

Waktu kami sebagai anak-anak kecil tinggal bersama almarhum ayah dan ibu, kami melihat tamu-tamu yang berperkara di Pengadilan datang ke rumah. Ada satu ketentuan yang berlaku, apapun oleh-oleh yang dibawa orang yang sedang memiliki perkara di Pengadilan, kami tidak boleh memakannya. Kalau ada pisang, jeruk oleh-oleh orang berperkara, semua harus dibuang ke tempat sampah. Pada satu hari, ada orang membawa satu kotak kayu ”Susu Cap Nona”, susu impor favorit pada zaman itu, susu yang mahal harganya. Sesudah ayah mengetahuinya, ia segera menyuruh kami mengembalikannya.

Tentang pendirian ayah, orang sudah tahu, maka ada juga orang yang mencoba mendekati ibu. Saya pernah melihat, orang memberi kepada ibu satu bungkusan seperti bungkusan roti tawar, isinya uang, tetapi ibu mengembalikannya dengan sopan dan berkata: ”Bapak akan marah, apabila kami terima bingkisan seperti ini”.

Gaji ayah pada waktu itu relatif kecil, seperti pegawai negeri biasa, tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk menopang ekonomi keluarga, ibu turut bekerja. Segala usaha pernah ia lakukan. Saya pernah melihat ibu menjahit di toko pakaian wanita. Saya pernah melihat ibu mengangkat satu keranjang tembakau besar di atas kepalanya. Kehidupan keluarga kami bukan kehidupan yang berlebihan tetapi juga tidak kekurangan.

Almarhum ayah adalah seorang yang sederhana. Ia tidak suka menggunakan peralatan-peralatan atau perkakas-perkakas yang mewah. Pada satu waktu, saya memberikan kepadanya sebuah pulpen berlapis emas. Sewaktu ayah meninggal, saya melihat pulpen itu terletak di mejanya, tampaknya ia tidak pernah memakainya. Dipajang di mejanya, tetapi ia sehari-hari menggunakan bolpoin biasa yang murah. Saya merasa, Ia memajang pulpen itu sebagai kenangan, bahwa saya sebagai seorang anak mengasihinya, tetapi ia tidak memakainya karena kebutuhannya bisa dipenuhi dengan bolpoin biasa.

Kalau saya bandingkan dengan rekannya seprofesi pada zaman ini, mungkin ayah sangat jauh ketinggalan dalam pemilikan harta dan benda. Namun, ketika saya merenungkan hal ini lebih mendalam, saya pikir, ayah memiliki harta yang jauh lebih besar yang tidak bisa diukur dengan uang. Pada waktu saya menyiapkan tulisan ini, saya hitung ada 16 orang cucu dan cicitnya, tinggal di negara-negara yang paling makmur di dunia ini, mereka menikmati kekayaan bangsa-bangsa. Apakah ini bisa diukur dengan uang puluhan atau ratusan milyar rupiah? Saya kira tidak bisa, karena anak cucunya adalah orang-orang yang perkasa di muka bumi, orang-orang yang takut akan Tuhan, jauh lebih berharga dari uang.

Ayah sudah meninggalkan kami puluhan tahun yang lalu, tetapi sekali-sekali masih ada orang yang mengenangnya. Sekali waktu ada orang berkata: ”Tadi ada kami dengar kesaksian tentang Oom”. ”Oom siapa?”, kami bertanya. ”Itu, ayah kalian. Ada istri pendeta tadi bersaksi di gereja bahwa dia pernah punya bos yang sifatnya sangat mengayomi anak buah”. Kesaksian itu rupanya adalah tentang almarhum ayah. Di lain waktu, beberapa kali kami mendengar orang yang mengenang ayah sebagai orang jujur.

Almarhum ayah dikenang bukan karena ia suka memberi secara materi karena memang ia tidak memilikinya, tetapi karena ia tidak mau menerima pemberian bersifat materi, uang, barang atau apapun yang bentuknya sogokan. Ia memberi perhatian dan kasih bagi isteri dan anak-anaknya, bagi keluarga besarnya, bagi rekan-rekan sekerjanya di kantor dan bagi masyarakatnya.

(Pdt. Remedi)
copas : suarapertobatan.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar