Selasa, 28 Januari 2014

SAYA INGIN HIDUP



ditulis oleh : Nesya Christina

Kesaksian: Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi kesaksian yang sudah sering saya ceritakan kepada teman-teman saya dan menjadi gambaran hidup kuasa Tuhan.
 
Saya adalah seorang anak perempuan dari keluarga yg terpecah belah dan tentunya saya masih mengingat bagaimana sewaktu saya berumur 3 tahun, saya berada dalam kondisi pertengkaran hebat antara ayah dan ibu saya yg sampai saat ini menjadi kenangan terburuk yg melekat dalam ingatan saya. Mungkin banyak orangtua tidak menyadari, bahwa daya ingatan anak kecil itu tersimpan dan terkubur dalam menjadi luka yg saya sendiri kadang tidak sadari.


Saya diasuh oleh nenek dari pihak ayah saya, ayah dan ibu saya pergi meninggalkan saya karena mereka mengejar cinta baru mereka. Saya yg masih berumur 3 tahun harus beradaptasi dengan kakak tiri dan rumah yg sangat asing bagi saya. Ditambah lagi saya adalah anak dari istri kedua yg tidak direstui keluarga. Tentunya saya yg masih kecil itu tetap memiliki intuisi bahwa saya tidak disenangi ketika berada di rumah tsb.

Hari demi hari, dan tahun demi tahun saya dibesarkan, saya mengalami depresi dan luka yg terus terpupuk dalam diri saya yaitu cap sebagai anak “broken home”, di rumah itu saya hanya dekat kepada nenek dan tante (yg merupakan adik papa saya), tiba-tiba saja tante yg selama ini saya anggap sebagai ibu, ternyata hamil dan memiliki anak, saya yg saat itu duduk di kelas 2 smp, dan sedang masa-masanya ingin diperhatikan, sangatlah terguncang. Di benak saya hanya berpikir “bagaimana nasib saya kelak? Siapa yg akan menyayangi saya? Saya akan ditinggalkan seperti ayah dan ibu saya meninggalkan saya?” dan tentunya satu kata dari itu semua adalah “saya cemburu”. Saya yg saat itu sedang kurang perhatian membuat ulah, saya bolos sekolah, berbohong agar mendapat uang lebih, kabur dari les saya, dan keras kepala. Saya masih ingat sekali, ketika saya meminta uang kepada nenek saya, dan saya hanya diberi uang lima ribu saya langsung membuang uang tsb. Kesalahan terbesar saya yg hingga saat ini masih saya tangisi. Semua perbuatan yg saya lakukan itu sebagai bukti pemberontakan bahwa saya ingin diperhatikan.

Lalu pada suatu hari saya bertengkar hebat dengan tante dan nenek saya. Saya yg sudah tidak sanggup berperan nakal lagi, ketika dimarahi, hanya bisa diam dan menangis, bahkan tenaga melawan pun sudah tidak saya miliki. Ketika saya masuk kamar, saya melihat ada racun serangga, lalu di benak saya terngiang, “kalau saya minum, maka semua akan beres, tante saya bisa hidup bahagia tanpa perlu mengkhawatirkan saya, saya anak yg tidak diharapkan ini lebih baik pergi saja, saya tidak ada gunanya,dan tidak memiliki apa-apa”

Dan saya pun meminum racun itu. Beberapa lamanya saya minum racun itu, tiba-tiba saja pandangan saya buyar, semua suara menjadi asing, saya ketakutan, dan bayang-bayang indah terlintas di mata saya SAYA MASIH INGIN HIDUP" saya memiliki impian yg selama ini tidak pernah saya sadari karena tertutup oleh rasa cemburu dan serakah. Saya merangkak di kasur, berteriak dan meminta tolong diselamatkan, saya berusaha memuntahkan isi perut saya, saya masukkan tangan saya ke dalam mulut saya, tapi semua itu tidak berhasil, saya drop dan langsung terjatuh di lantai.

Keluarga saya langsung membawa saya ke UGD dan di situ saya melihat tante dan nenek saya menangis, tante saya yg sedang hamil berlarian menemani saya dibawa ke UGD, memegang tangan saya yg ketakutan dan lemah, sedangkan nenek saya hanya bisa menangis menepuk-nepuk dadanya, seolah-olah menyalahkan dirinya..

Malam itu adalah malam terpanjang bagi saya, saya kesakitan karena selang sudah memasuki hidung dan mulut saya, saya pun tidak bisa bicara dengan jelas, saya hanya bisa berkata sepatah-sepatah “saya haus” itu yg saya katakan pada tante saya, tante saya memohon kepada suster utk memberi saya minum, tapi suster menolak karena racun belum sepenuhnya keluar dari badan saya. “saya kesakitan, tolong lepaskan selang ini,” tante saya pun memohon kembali agar dilepaskan, tapi suster menolak. Dari sini saya sadar, bahwa yg merasakan kesedihan atas sakit dan hausnya saya, hanyalah orang yg memiliki cinta yg begitu mendalam untuk saya.

Malam itu saya digiring ke rawat inap khusus, dan tidak boleh ditemani siapa pun, tante saya yg sedang hamil itu memohon kepada pihak rumah sakit supaya saya dimasukkan ke ruangan rawat biasa, agar bisa ditemani  pihak keluarga yg menjaga, tapi pihak rumah sakit menjelaskan, bahwa percobaan bunuh diri bukanlah hal sepele, dan bisa saja penyebabnya dari keluarga itu sendiri, pasien bisa merasa terancam bila ternyata pihak yg menemaninyalah yg menjadi penyebab kasus ini.

Malam itu racun sangat menggigit badan saya, saya mengalirkan air mata tidak bisa tidur, suster di rumah sakit sudah istirahat, hanya bolak-balik sesekali, dalam keadaan saya sudah tidak bisa bergerak lagi, saya menggigil kedinginan, panas dingin, hanya itu yg saya rasakan, badan saya kaku, dan saya tidak berani menutup mata saya... saya takut... takut ketika saya menutup mata tidak akan terbangun kembali. Padahal awalnya saya memang berniat mati, tapi semua berubah ketika saya melihat air mata ketulusan sosok Ibu dari tante dan nenek saya..

Tiba-tiba saja ada sesosok putih bercahaya datang mendekati saya, duduk di samping kasur saya.
Saya yg pada saat itu lemas mencoba memfokuskan pandangan saya, saya pikir itu suster, tapi ternyata ada dua orang yg berada di samping saya, hingga membuat saya berlinangkan air mata, yg pertama adalah tante (kakak ayah) saya yg sudah meninggal tahun sebelumnya, dan yg kedua adalah sosok cahaya yg hangat dan tidak bisa saya lihat wajahnya yang saya yakini adalah Bapa, Ia datang dan duduk di sisi kasur saya, mendekatkan tangan-Nya dan mengelus kening saya, lalu sambil menutupi mata saya dengan tangan-Nya, Ia pun berkata, “Jangan takut, tidurlah... pejamkan matamu, Aku ada di sini menyayangi dan menemanimu.” Saya langsung merasakan badan saya yg tadinya panas dingin, menjadi hangat, dan saya pun terlelap seketika itu juga..

Pagi-pagi saya membuka mata saya, saya memandang nenek dan tante saya yg sudah berada di kamar saya sambil menangis, dan saya pun berkata “Saya masih hidup,” saya yg penasaran bertanya kepada suster, apakah mereka datang kemarin malam, dan mereka bilang terakhir mereka mendatangi saya adalah pada saat mengecek infus saya dan saya tahu bahwa saya masih terbangun pada saat itu.

Saya tidak ingin bertanya apa-apa lagi. Saya tahu bahwa ini kuasa Tuhan, saya tidak ingin memikirkan hal ini dengan logika saya sebagai manusia, tapi saya memandang ini semua dari segi iman saya. Setelah kejadian ini saya pun mulai bersaksi setiap ada perkumpulan iman.

Masih banyak hal-hal dan kesaksian dalam hidup nyata di umur saya yg masih belia ini, mengenai keselamatan saya dari maut, saya yg mencoba bunuh diri, hingga saya yg hampir meninggal karena sakit. Semua itu menguatkan saya menjadi seorang hamba Allah, saya bahagia jika dapat berbuah untuk Allah melalui kesaksian, sebagai ucapan syukur atas kehangatan yg saya rasakan dalam hidup ini.

Semoga kesaksian pertama saya membawa berkat bagi kita semua. Amin.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar