Selasa, 25 Februari 2014

Demi 500 Ribu, Temanku Tega Jual Aku

Sejak Zico masih kecil, kedua orangtuanya sudah berpisah. Ibunya harus banting tulang berjualan kue untuk menghidupi dia dan adik-adiknya. Tak jarang ibunya menjadi stress dan depresi, akibatnya sang ibu sering melampiaskan kekesalannya itu pada anak-anaknya.

Suatu ketika ibu mendapati Zico sedang bertengkar dengan adiknya. Ibunya yang masih lelah sehabis pulang berjualan kue pun gelap mata. Ibu mengambil seutas tali dan mengikat Zico serta adik-adiknya di kursi, tidak hanya itu saja, ibu mengambil sebilah pisau dan hendak membunuh anak-anaknya itu.

Tangisan keempat anaknya tidak menyadarkan sang ibu, beruntung saat hendak melancarkan aksinya seorang tetangga masuk dan menghentikan perbuatan nekat ibu.

Merasa tidak mendapat kasih sayang dari orangtuanya, Zico pun mulai turun ke jalan dan bergaul dengan anak jalanan. Di lingkungan barunya ini, Zico merasa diterima. Tak ayal, sekolahnya pun diabaikan, puncaknya adalah ketika dia dinyatakan tidak lulus SMP. Kejadian itu membuat ibunya lepas tangan dan meyerahkan Zico untuk diasuh ayahnya.

Awalnya Zico merasa sangat senang karena dia mengira akan mendapat kasih sayang yang selama ini tidak dirasakannya dari sang ibu. “Ternyata hal itu saya nggak dapet!”, ungkap Zico kecewa. “Saya merasa saya salah tempat lagi,” tambahnya.

Dalam asuhan sang ayah Zico tidak semakin baik. Dia enggan untuk ke sekolah karena takut ditegur karena belum membayar uang sekolah. Suatu ketika atas informasi temannya, Zico mendapati ibu tirinya sedang bermain judi. Zico pun marah karena akhirnya dia tahu mengapa uang sekolahnya sering tidak dibayar.

Terjadi percekcokan diantara mereka hingga kata-kata kasar pun tak terelakkan. Bahkan dari mulut ibu tirinya terlontar bahwa ayahnya pergi meninggalkan Zico dan keluarganya karena tidak menyayanginya. Hati Zico hancur, dia merasa tertolak dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke jalanan.

Zico merasa teman-temannya di jalanan sangat memperhatikannya. “Ngapain juga saya harus pulang ke rumah kalau keadaannya sama? Saya nggak perlu keluarga karena saya merasa mereka tidak ada yang peduli sama saya!” Zico merdalih.

Tidak tega melihat anaknya menjadi pengamen jalanan, ibu meminta Zico untuk kembali ke rumah. Di rumah ibunya, Zico tetap tidak merasa sejahtera, hampir setiap hari dia berdadu mulut dengan adiknya bahkan untuk hal-hal yang sepele seperti jatah makanan.

Ada seorang teman yang selalu menemani Zico untuk melakukan kenakalannya di jalanan. Zico sudah menganggap orang itu sebagai saudaranya sendiri. Namun tanpa pernah diduganya, teman ini memfitnahnya hingga Zico dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan bandar narkoba.

“Demi uang lima ratus ribu dia jual saya,” Zico kecewa. “Saya nggak ada pikiran kenapa dia kog bisa setega itu sama saya,” lanjur Zico lirih.

Pada saat di penjara, teman-teman yang selama ini selalu bersamanya tidak mengunjunginya. Lagi-lagi Zico merasa ditinggal dan dilupakan. “Nggak ada satu batang hidungnya pun yang nongol besuk saya,” ungkap Zico.

Zico tidak pernah membayangkan hal ini terjadi pada dirinya, tidak mendapat kasih sayang dari orangtuanya, kini teman-temannya pun meninggalkannya. Dia mulai bertanya-tanya pada Tuhan mengapa hal ini terjadi dalam hidupnya.

Saat Zico merasa hatinya hancur dan kehilangan harapan, ibunya datang membesuk. Dengan kasih ibunya mendengar semua keluhan Zico. Ibunya hanya meminta Zico untuk berdoa. “Mama saya hanya bilang begitu saya tidak memahaminya, saya tidak tahu maksudnya apa.”

Setelah delapan bulan mendekam di dalam penjara, Zico mulai mendapat pencerahan. Dalam suatu ibadah seorang pembawa firman berkata bahwa semua yang kita alami, semua itu adalah rancangan yang baik dari Tuhan. Hati Zico tergerak setelah mendengar pernyataan itu. Dia merasa ini adalah jawaban dari pertanyaannya selama ini.

“Saya mulai bisa berkata, terima kasih Tuhan,” ungkap Zico. “Sekalipun saya merasa dikecewakan oleh teman saya, saya di penjara, tapi saya percaya itu adalah rancangan Tuhan yang baik,” lanjutnya. Zico akhirnya mengerti maksud ibunya memintanya berdoa.

Zico mulai membuka diri untuk dipulihkan, dia bahkan mau menyerahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Setelah tiga tahun, Zico pun dibebaskan. Begitu menghirup udara bebas, Zico pun segera mengambil sikap untuk mengampuni ayah dan teman-temannya.

“Memang berat, tapi dengan mengampuni saya bisa terbebas dan tidak lagi terikat,” jelas Zico. “Saya tidak lagi berpikir bahwa ada orang-orang yang menyakiti saya, saya tidak lagi dikecewakan karena saya percaya hidup saya tidak akan pulih kalau saya tidak mau memaafkan mereka,” lanjut Zico.

Perubahan besar terjadi dalam hidup Zico. Dia menjadi pribadi yang lebih sabar. Zico menjadi teladan bagi saudara-saudaranya. Keadaan di rumah pun menjadi damai. “Hanya dalam Yesus kita akan mendapat kedamaian yang sejati.” Ungkap Zico mengakhiri kesaksiannya.

Copas : http://www.jawaban.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar