Selasa, 29 April 2014

KUASA DOA - KESAKSIAN HIDUP


Saya menikah di usia yang tidak lagi muda. Keterlambatan saya menikah disebabkan oleh persepsi yg sedikit keliru tentang pernikahan. Meskipun saya berasal dari keluarga yang pernikahan orang tuanya berbahagia, saya begitu termakan dengan berita yang pernah saya dengar atau baca bahwa kalau kita menikah, kita akan terikat, kehilangan kebebasan, kalau terlambat pulang akan dihadiahi muka masam, dstnya. Kita juga tidak bisa lagi mengejar impian-2 kita sebagai pribadi.

Setelah usia saya menginjak 36 thn, keinginan untuk menikah timbul dengan begitu kuatnya. Setiap kali mengikuti persekutuan doa atau pun kelompok cell family altar, saya sering minta didoakan agar saya diberi jodoh. Saya pernah mendengar seorang pembicara yg mengatakan bahwa kita boleh menyebut kriteria pasangan yang kita inginkan pada saat kita memintanya kepada Tuhan. Saya pun meminta pasangan hidup yang cantik, tinggi, putih, langsing, dstnya tapi tentu saja harus anak Tuhan. Teman-2 saya mengatakan saya berat jodoh karena terlalu pemilih dan kriteria yang saya inginkan terlalu tinggi, "Mana ada orang yang sempurna kata mereka! ". Mungkin juga ada benarnya, tapi saya berprinsip bahwa saya tidak mau berpura-2 mencintai seseorang dan menikahinya hanya karena alasan umur yang sudah senja. 

Tuhan memang maha pemurah, dengan caranya yang ajaib, saya dipertemukan dengan seorang gadis yg masih satu daerah dengan saya dan masih terhitung kerabat. Dia cantik dan putih, hidungnya mancung mesti tidak tinggi langsing seperti yg saya idam-2 kan sebelumnya. Tutur katanya halus dan panjang sabar. Ini cocok untuk mengimbangi saya yang agak temperamental dan cenderung ingin menang sendiri. Kalau kami berselisih paham, sering kali dia yang duluan meminta maaf meskipun sebenarnya saya yang salah. Dengan cara yg sederhana tersebut, dia mengajari saya untuk tidak lagi gengsi untuk meminta maaf. Selanjutnya saya meminta tanda dari Tuhan, bahwa apabila hubungan kami disetujui semua keluarga besar kami meskipun usia kami terpaut 15 tahun, berarti dia adalah jodoh yg Tuhan pilihkan buat saya. Saya menggumulkna hal ini berulang-ulang dalam doa. Benar, Tuhan turut campur tangan sehingga semua urusan peminangan secara adat berjalan dengan lancar meski calon mertua saya belum pernah melihat dan mengenal saya secara langsung karena saya sudah meninggalkan kampong halaman saya selama 22 tahun. Kalau bukan karena pertolongan Tuhan, mana mungkin ada keluarga yang mau menyerahkan anak gadisnya kepada orang yg belum pernah mereka lihat apalagi mengenal wataknya. Keluarga besar kami memang saling mengenal dengan baik karena masih ada hubungan kerabat, mereka bisa memaklumi ketidak pulangan saya selama urusan adat karena saya terikat pekerjaan. Kami akhirnya menikah di Sumba, daerah asal kami pada tanggal 10 October 2004. Setelah menikah, dia pindah mengikuti saya yang tinggal dan bekerja di Tangerang. Saya berusia jalan 39 tahun pada saat itu dan isteri saya berusia jalan 24 tahun 

Mengingat usia saya yang tidak lagi muda, kami sepakat untuk langsung mempunyai anak begitu selesai menikah. Kami bergumul meminta sama Tuhan dan juga rajin bertanya pada teman-2 yang sudah terlebih dahulu mempunya anak. Setelah kosong tiga bulan, Tuhan menjawab doa kami dan isteri saya dinyatakan positif hamil. Kami tinggal didaerah Pasar Kemis yg jalanannya hampir selalu macet. Kalau mau periksa ke rumah sakit Siloam - Tangerang, harus lewat jalan belakang dan lewat tol Kedaton sehingga jarak perjalanannya menjadi 3x lipat. Karena isteri saya juga sering mual-2 di awal kehamilannya dan juga terkadang suka mabuk perjalanan, akhirnya kami memutuskan untuk periksa ke klinik Bunda Sejati yang tidak begitu jauh dari rumah. Kami dapat info dari teman gereja yang pernah melahirkan di sana bahwa pada hari-2 tertentu, ada dokter spesialis anak dari RS Harapan Kita yang praktek disana dan fasilitasnya juga cukup lengkap. Ada alat USG dan ada dua kamar VIP yang cukup representatif di klinik tsb. Kedua ruangan ini hampir selalu kosong setiap kali kami pergi periksa ke klinik tsb. Mungkin tarifnya terlalu mahal bagi mayoritas karyawan pabrik di daerah sekitar Pasar Kemis. Kami rajin konsultasi dengan Dokter spesialis kandungan dan mengikuti semua saran dokter agar kehamilan isteri saya berjalan lancar dan sehat. Kami juga terus berdoa agar anak kami lahir secara normal dan juga dengan anggota tubuh yang lengkap, terhindar dari segala bentuk kelainan dan cacat bawaan. Setiap kali kami konsulatasi, Dokter selalu memberikan diagnosa yang positif bahwa si ibu dan calon bayinya sehat-2 saja, tidak ada kelainan apa-2. Pada saat usia kandungan sudah 6 bulan, dengan berdasarkan hasil USG, Dokter memperkirakan anak kami laki-2. Betapa bahagianya saya dan isteri karena kami dari etnis Sumba yang patrilineal alias hanya anak laki-2 yang bisa meneruskan nama keluarga. Dokter memprediksi kelahiran akan terjadi pada sekitar minggu kedua bulan October.

Pada tanggal 27 September pagi, istri saya mulai merasakan kontraksi dan sedikit mules. Para ibu tetangga yg sudah mempunyai anak dan juga tante kami yang datang dari sumba untuk menolong proses melahirkan isteri saya mengatakan bahwa kelahiran akan terjadi paling lambat keesokan harinya. Sepulang kantor pada sekitar jam 7 malam saya membawa isteri saya ke klinik Bunda Sejati, rencananya kami mau mulai mondok saja malam itu. Betapa kagetnya kami karena kedua ruangan VIP yang biasanya kosong itu kedua-duanya terpakai. Belakangan baru saya pahami bahwa digunakannya kedua ruangan VIP tersebut bukan suatu kebetulan tapi karena Tuhan menginginkan kami pergi ke RS yang lebih lengkap fasilitasnya. Akhirnya saya memutuskan untuk ke RS Sari Asih karena dokter kandungan yg menangani isteri saya juga punya jadwal praktek disana meski saya tidak terlalu paham reputasi rumah sakit tersebut. Kami khawatir untuk ganti dokter karena takut dokter baru itu tidak mengetahui riwayat kehamilan isteri saya. Setelah melalui proses yang panjang pada malam itu akhirnya isteri saya melahirkan seorang bayi laki-2 secara normal pada tanggal 28 September 2005 jam 06.35 WIB. Saya sebenarnya fobia melihat darah tapi demi menguatkan isteri, saya turut memaksakan diri berdiri disamping tempat tidur untuk memberi dorongan semangat kepada isteri saya ketika dia berjuang bertaruh nyawa melahirkan bayi kami. Itulah sebabnya begitu anak kami lahir, saya langsung lari keluar supaya tidak melihat darah yang banyak itu. Betapa leganya hati ini, akhirnya saya menjadi seorang bapak. Saya kemudian sibuk menelpon dan mengirim sms menyampaikan kabar gembira ini kepada semua kerabat dan teman-2. 

Lebih kurang setengah jam setelah anak saya selesai dibersihkan dan diperiksa, Saya dipanggil ke ruangan khusus. Hati saya berdebar-2 ketika seorang suster meminta saya menemui Dokter di ruangannya, jangan-2 anak saya ada kelainan. Benar dugaan saya, ternyata anak saya tidak mempunyai lubang anus. Di daerah yg seharusnya ada lubang anus, ada semacam daging tumbuh yang sedikit menonjol. Dokter menjelaskan bahwa anak saya harus dirawat di ruang perinatologi karena ada kelainan. Dia akan dirontgen dan diperiksa oleh dokter bedah untuk menentukan apakah bisa langsung dioperasi untuk dibuatkan dubur ataukan harus dibuatkan lubang pembuangan sementara didaerah perutnya. Operasi pembuatan lubang pembuangan di perut namanya "Collestomi" dan harus melalui 3 tahapan operasi baru bisa mempunyai lubang anus dipantat. Tahap pertama dibuatkan lubang pembuangan sementara di perut. Tahap kedua, setelah si bayi cukup besar, akan dibuatkan lubang anus. Tahap ketiga atau terakhir adalah penutupan Collestomi di perut dan penyambungan anus dengan ususnya. Membayangkan bayi sekecil itu harus mengalami operasi berulang-2, batin saya menjerit! Saya bertanya-2, "Tuhan! Saya rajin berdoa, setia ke gereja, rajin ikut FA dan PD kantor bahkan menjadi pengurus, pernah mengajar sekolah minggu, pernah menjadi ketua Pemuda di gereja, pernah menjadi majelis, kenapa saya harus diuji seberat ini? Kalau saya memang bersalah, kenapa anak saya yang dihukum! Bukankah semasa ia masih dalam kandungan, tidak putus-2nya kami berdoa agar dia terhindar dari segala bentuk kelainan? Bukankah Tuhan berjanji kalau dua seorang sehati sepakat meminta maka Tuhan akan menjawab mereka ( Mat 18: 19)". Hal ini menjadi semakin berat karena hal tsb harus saya pikul sendirian, saya tidak tega menyampaikannya kepada isteri saya yang masih meringis menahan rasa sakit bekas persalinan. Belum lagi membayangkan anak saya harus puasa 18 jam sebelum di rontgen dan membayangkan tajamnya jarum suntik yang ditusukkan ke tubuh mungilnya untuk pengambilan darah guna pemeriksaan laboratorium. Untuk mendapat dukungan kekuatan, saya mengirim sms dan juga menelpon beberapa saudara seiman. Balasan SMS dan telpon dari mereka cukup menguatkan saya. Ada yang mengatakan, "Tuhan pasti punya maksud atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita". Ada yang mengutip ayat Alkitab yang mengatakan bahwa pencobaan-2 yg kita alami hanyalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Apabila Dia mengijinkan pencobaan itu datang, Dia akan memberi kekuatan sehingga kita cakap menanggungnya. Saya sangat bersyukur dengan kata-2 yang menguatkan dari saudara-2 seiman. Saya baru memberitahukan isteri saya mengenai keadaan anak kami pada jam 6 sore setelah keadaannya cukup stabil. Melihat isteri saya menangis sambil menahan rasa sakit merupakan siksaan tersendiri lagi buat saya.

Beruntung saya tidak tenggelam dalam kesedihan. Saya menghardik diri saya sendiri untuk membangunkan iman saya. Dengan dibantu adik saya perempuan, kami berdoa sepanjang hari itu, bergumul meminta belas kasihan Tuhan supaya anak saya bisa langsung dibuatkan anus tanpa melalui pembuatan collestomi. Saya berkata, "Tuhan Yesus, Engkau tetap sama baik 2000 tahun yg lalu maupun sekarang bahkan sampai selama-2 nya. Saya percaya Engkau tetap mampu melakukan mujizat buat anak saya, Kalau dia tidak ada usus, buat ada ususnya sekarang!". Saya terus berdoa ketika anak saya harus masuk ke ruang radiolaogi untuk dirontgen pada jam 12 malam hari itu. Saya tidak bisa tidur sepanjang malam itu, pagi-2 benar saya sudah ke ruangan dokter menanyakan hasil rontgen anak saya. Puji Tuhan, Tuhan Yesus maha baik, anak saya ada ususnya. Dia hanya perlu operasi pembuatan lubang anus. Saya percaya ini merupakan jawaban Tuhan atas seruan kami memohon pertolongan. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, air mata ucapan terima kasih bergulir di kedua belah pipi saya. Begitu keluar ruangan dokter, dengan air mata masih menggenang di pelupuk mata saya menyenandungkan lagu: 

SMUA BAIK SMUA BAIK
SEGALA YANG TLAH KAU PERBUAT 
DIDALAM HIDUPKU
SMUA BAIK 
SUNGGUH TERAMAT BAIK
KAU JADIKAN HIDUPKU BERARTI.

Pergumulan selanjutnya adalah mencari jadwal operasi yang pas buat anak saya. Meski saya menginginkan agar operasi dilakukan hari itu juga, tanggah 29 September 2005, ini bukan persoalan yang mudah karena Dokter ahli bedah spesialis bayi yang baru lahir hanya beberapa orang jumlahnya di Indonesia. Yang punya dokter ahli tersebut hanya RSCM dan RS Harapan Kita. Dokter-2 yang jumlahnya sedikit inilah yang juga beredar di berbagai rumah sakit swasta atau negeri yang ada di Indonesia sehingga jadwalnya sangat padat. Terlebih lagi hanya ada satu Dokter bedah spesialis anak baru lahir yakni Dokter Sastiyono dari RSCM yang ada hubungan kerja dengan RS Sari Asih sehingga praktis hanya Dr inilah yang bisa diminta untuk mengoperasi anak saya. Menunggu konfirmasi dari RS mengenai persetujuan dari Dr Sastiyono saya rasakan seperti bertahun-2 lamanya. Saya menjadi tidak sabar dan berusaha mencari RS yang lain agar anak saya dirujuk ke sana . Saya mencoba mendatangi rumah sakit Siloam, ternyata dokter untuk masalah seperti anak saya hanya bisa ditemui dengan perjanjian terlebih dahulu dan jadwalnya hanya setiap hari Selasa sedangkan tanggal 29 September adalah hari Kamis .. Saya juga kuatir kalau pindah rumah sakit maka ada kemungkinan anak saya harus memulai dari awal semua proses pengecekan lab dan rontgen karena belum tentu RS baru percaya begitu saja hasil lab dan rontgen dari RS Sari Asih. Mereka juga mempunyai standar prosedur yang berbeda. Sementara kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena anak saya sudah mulai diinfus dan perutnya sudah mulai kembung sebab tidak ada pembuangannya. Akhirnya saya memutuskan untuk focus pada RS Sari Asih saja. Kami sungguh2 berdoa agar Tuhan menggerakkan hati para dokter dan suster dengan belas kasihan supaya anak saya segera dioperasi. Setelah berkali-2 berkonsultasi dengan pihak RS Sari Asih, saya mendapat kepastian bahwa operasi akan dilakukan Jam 3 sore pada tgl 29 September itu juga. Puji Tuhan, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, sudah molor 1 jam dari jadwal operasi tapi anak saya masih belum juga dioperasi. RS beralasan, Dokter Sastiyono kejebak macet orang demo kenaikan BBM. Beberapa kali RS mencoba menghubungi beliau tapi tidak tersambung. Kami tidak putus asa, kami terus berdoa agar Tuhan menuntun Dokter Satiyono ke Tangerang. "Tuhan!, singkirkan semua halangan agar Dokter Sastiyono dapat tiba di Tangerang", pinta kami. Pada jam 6.30 Sore saya baru mendapat kepastian bahwa Dr Sastiyono sedang dalam perjalanan dan operasi pasti akan dilakukan malam itu juga. Sebagaimana prosedur standar RS kalau ada pasien yang akan dioperasi, saya juga diminta menanda tangani sejumlah surat yg menyatakan tidak akan menuntut RS apapun yg menjadi hasil operasi nantinya. Saya juga harus siap membayar tambahan uang muka RS yg tidak murah karena begitu selesai operasi, anak saya harus masuk ruang NICU ( Neonatal Intensive Care Unit ) sampai kondisinya menjadi stabil. Dokter anestasi mengatakan bahwa bayi yg baru lahir organ tubuhnya belum berfungsi dengan normal sehingga sangat rentan terhadap efek anestesi. Hal-2 diluar dugaan sangat mungkin sekali terjadi. Sejujurnya penjelasan Dokter itu membuat saya kuatir dan takut tetapi saya berusaha menguatkan diri. Saya berkata pada Dokter anestesi dan para pembantunya bahwa saya sudah berdoa sehingga saya yakin anak saya akan baik-2 saja. Saya katakan, "Tuhan sendiri akan turut campur tangan mengoperasi anak saya sehingga saya tidak perlu kuatir!". Saya melihat Dokter dan para asistennya yg semuanya muslim menjadi agak terpana, mungkin mereka tidak biasa mendengar kata-2 seperti yang barusan saya ucapkan. Saya bersyukur, dalam kondisi seperti itu, saya masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mempraktekkan kesaksian iman. Sungguh benar, tiada yang mustahil bagi orang percaya.

Saya bertemu Dokter Sastiyono hanya beberapa saat menjelang anak saya dibawa menuju ruang operasi. Saya menduga umurnya sudah diatas 50 tahun. Orangnya tidak banyak bicara tapi saya lihat dia mempunyai percaya diri yang tinggi. Saya semakin yakin anak saya akan baik-2 saja. Anak saya masuk ruang operasi pada sekitar pukul 7.30 WIB. Saya dan adik saya menunggu diluar kamar operasi dengan perasan optimis dengan satu keyakinan bahwa Yesus yang kita sembah jauh lebih besar dari segala masalah kita. 
Proses operasi hanya berlangsung lebih kurang 45 menit. Ketika Dokter Sastiyono keluar ruang operasi, dia mengatakan, "Operasi berjalan lancar, mudah-2an tidak ada apa-2! ". Kami semakin optimis dan tidak henti-2nya mengucap syukur kepada Tuhan.

Kami menjadi tidak sabar untuk segera melihat anak kami keluar ruang operasi. Setiap kali pintu ruang operasi dibuka dengan tidak sabar sabar kami berlari mendekati pintu tersebut. Sudah hampir sepuluh pasien yg didorong keluar dari ruang operasi tapi anak saya bukan salah satu diantaranya. Walau sedikit gelisah, kami masih tetap bersabar, tokh dokter mengatakan, "Operasi berjalan lancar! ". Lebih kurang jam sembilan, berarti anak saya sudah satu setengah jam di ruang operasi, suara pintu ruang operasi kembali berdenyit karena dibuka. Kali ini tidak ada pasien yg didorong keluar, tapi dokter kepala anestesi yg tadi saya temui sebelum operasi mencari saya. Bukannya anak saya yg segera keluar ruang operasi tapi saya yg justru diminta masuk ruang operasi, hati saya berdebar kencang, " Apa yg terjadi dengan anak saya!", saya menjerit dalam hati, pikiran buruk segera hinggap di pikiran saya. Saya dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan setelah terlebih dahulu diminta mencopot sepatu. Dengan sangat hati-2, si dokter menceriterakan kondisi anak saya yg memburuk pasca operasi. Dokter tsb berceriteraa, " Setelah operasi selesai, anak saya tidak bisa bernafas sendiri, dia harus dibantu alat pernapasan. Mereka sudah beberapa kali melakukan tindakan medis tapi tidak ada reaksi sehingga alat bantu pernapasan tidak bisa dilepas". Suhu tubuh bayi normal adalah 36,5 - 37,5 derajad celcius tapi tubuh anak saya suhu tubuhnya drop sampai 34 derajad celcius padahal AC diruang dimana dia dioperasi sudah dimatikan. Mereka berjanji untuk terus berupaya menolong anak saya tapi saya diminta untuk tidak berharap terlalu banyak. Mereka meminta saya mendukung dalam doa dan juga bersikap pasrah.

Saya berjalan keluar ruang operasi dengan perasaan lunglai. Berbagai ketakutan dan bayangan buruk melintas dalam pikiran. Saya bergumam sendiri, " Apakah anak saya akan keluar ruang operasi setelah menjadi jenazah? Apakah saya harus menyiapkan penguburan? Dimankah dia harus dikuburkan? Haruskah dibawa pulang ke Sumba atau dikubur disini saja? ". Air mata saya tidak mampu lagi terbendung.

Untung pada saat kritis tersebut, sekali lagi saya diingatkan akan janji-2 Tuhan Yesus. Daripada berpikir yang bukan-2, lebih baik saya memperkatakan janji Tuhan. Semua janji Tuhan tentang pertolongan saya ucapkan satu per satu untuk membangunkan iman saya. Saya mulai berkata, "Dalam nama Yesus, engkau sembuh dan pulih! Hai maut, engkau sudah dikalahkan, dimanakah sengatmu? Saya mengutip Yoh 10:10, " Tuhan Yesus, Engkau sudah datang supaya anak saya memiliki hidup. "Oleh bilur-bilurMu, anak saya sudah sembuh". " Roh kematian, roh maut, aku ikat, tolak, patah, hancurkan dalam nama Tuhan Yesus". Saya mengutip kitab Roma, "Tuhan, Engkau tidak menyayangkan anakMu sendiri, bagaimanakah mungkin Engkau tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kami bersama-sama dengan Dia, termasuk hidup buat anakku". "Tuhan Yesus, orang yang sudah mati Engkau bangkitkan, yang lumpuh berjalan, yang buta melihat. "Saya percaya, mujizatmu akan berlaku juga untuk anak saya". Saya selingi doa dengan menaikkan beberapa pujian penyembahan antara lain:

........TIADA YANG MUSTAHIL BAGI ORANG PERCAYA .....dst.
.......ALLAH MENGERTI, ALLAH PEDULI.....dst .

Dua setengah jam lamanya saya berdoa dan bergumul dalam doa peperangan. Meski suara saya tercekat dan hampir tidak mampu mengeluarkan suara, saya terus berusaha berdoa dan menaikan pujian dalam derasnya air mata. 

Kira-2 jam 11.30 malam, Dokter anestesi kembali memanggil saya masuk ruangan. Kali ini Dokter itu yang terheran-heran menyaksikan apa yang terjadi dengan anak saya di ruang operasi. Dia mengatakan bahwa apa yg dia lihat diruang operasi benar-2 mujizat. Suhu tubuh anak saya perlahan-2 merambat naik mendekati normal dan tetap stabil meskipun AC dihidupkan kembali. Sistim pernapasannya juga berangsur-2 membaik dengan sendirinya dan alat bantu pernapasan bisa dilepas. Memang masih perlu bantuan oksigen tapi tidak dimasukakkan dengan selang ke dalam hidungnya tapi hanya konsentrasi oksigen disekitar hidungnya saja yang dijaga supaya memudahkan dia memperoleh oksigen. Saya percaya, semua hal yang terjadi diruang operasi seperti disaksikan oleh si dokter adalah karena kuasa doa. Tuhan Yesus sudah menunjukkan kedasyahatannya dengan membuat apa yg tidak masuk akal menurut logika kedokteran menjadi mungkin. Sungguh benar bahwa Tuhan Yesus adalah Dokter diatas segala dokter seperti yang saya saksikan kepada para dokter dan suster ketika saya diminta menanda tangani semua persyaratan sebelum anak saya masuk ruang operasi. 

Jam 11.30 lebih sedikit, tubuh mungil itu didorong keluar ruang operasi menuju bangsal perawatan NICU karena kondisinya masih harus dipantau secara ketat tetapi masa kritisnya sudah lewat. Setelah itu, anak saya masih dirawat di ruang NICU selama 3 malam dan 2 malam di ruang perinatologi. Selama masa perawatan anak kami di rumah sakit, kami menerima banyak sekali perhatian, dukungan doa bahkan bantuan financial dari saudara-saudara seiman. Tanpa diminta, rekan-2 dari perusahaan Sinar Mas Group, perusahaan dimana dulu saya bekerja. mengumpulkan dana secara sukarela untuk membantu kami, padahal saya sudah sepuluh bulan mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Bahkan beberapa rekan sepelayanan dari PD Ekklesia Wisma Indah Kiat menyempatkan diri datang ke rumah sakit untuk berdoa bersama-2 dengan kami memohon pertolongan Tuhan.

Beaya rumah sakit memang tidak sedikit jumlahnya. Satu hal yang kami yakini adalah seperti tertulis dalam Alkitab, "Tuhan tidak akan pernah membiarkan anak-2Nya sampai meminta-minta roti". Dia adalah Allah yang maha menyediakan sehingga semua beaya rumah sakit bisa kami lunasi. Hari Rabu minggu lalu, tanggal 5 Oktober 2005 anak saya sudah boleh pulang. Sekarang anak saya memang masih terus dalam perawatan luka bekas operasi tapi dia sudah terlihat sehat dan lucu. Seperti tradisi orang sumba yang mewariskan nama, dia kami beri nama seperti nama bapak saya, Umbu Hendry Kabubu Tarap ( dipanggil Hendry ). Jadi secara biologis dia anak saya tapi secara nama dia adalah bapak saya. Inilah tradisi orang sumba yang unik. Hendry merupakan kado satu tahun perkawinan kami pada tanggal 10 October 2005 ini. Suatu kado dari Tuhan yang tidak ternilai harganya. 

Kesimpulan:
1. Ada satu perikop dalam Alkitab ( saya lupa kitabnya ), ketika ada orang yang bertanya kepada Tuhan Yesus, siapakah yang berdosa, sehingga orang yg ada dihapan mereka pada saat itu lahir dalam keadaan cacat. Tuhan Yesus menjawab, "Bukan salah salah orang tuanya dan bukan juga salah siapa-2 tetapi karena dengan demikian kemuliaan Tuhan dinyatakan". Demikian pula saya mengimani bahwa Tuhan mengijinkan anak saya lahir dengan cacat kecil supaya lewat perkara ini, kami bisa bersaksi tentang kebaikan dan kemurahan Tuhan 

2. Meski saya tidak pandai menulis, saya memutuskan untuk menulis kesaksian ini supaya siapa pun yang sempat membaca tulisan ini bisa melihat bahwa doa yang dinaikkan sungguh-2 sangat besar kuasanya sebagaimana telah difirmankan oleh Tuhan Yesus. Dia yang berjanji adalah Allah yang hidup dan berkuasa sehingga kita boleh yakin bahwa tidak ada yang mustahil bagi Dia . Tuhan Yesus, Allah yang kita sembah sungguh dasyhat dan luar biasa. Mengiring Tuhan Yesus tidak berarti terbebas dari masalah, tapi Tuhan Yesus berjanji memberikan jalan keluar bagi setiap masalah yang kita hadapi. 

Jakarta, 10 October 2005
Umbu Hunga Meha Tarap
Juwita Rambu Ngana
Umbu Hendry Kabubu Tarap

Sumber : houseofpeace-mtp.blogspot.com

Jumat, 25 April 2014

KESAKSIAN HIDUP : ALLAH MENYELESAIKAN SEGALA PERKARA DAN KASIH-NYA MENYEMBUHKAN


Namaku Novita dan aku adalah ibu dari putra kembar yang kini berusia 9 tahun. Aku mengikuti retret awal di tahun 2006 dan retret penyembuhan batin kemarin ini, April 2009. Yang ingin aku bagikan disini adalah bagaimana Yesus berbicara padaku, menyelesaikan perkaraku satu persatu dan menjawab doa-doaku dengan caraNYA sendiri. Aku menikah di tahun 1999 dan ketika aku hamil 7 bulan, suamiku meninggalkan Kristus untuk menikahi kekasihnya. Aku mengetahui hal tersebut ketika anak-anak baru dilahirkan dan berusia satu bulan. Setelah melalui satu proses yang tidak mudah, suamiku menceraikan istri keduanya dan kembali kepada kami. Namun masalah tidak berhenti di situ. Sejak saat itu aku kerap menerima tindak kekerasan baik fisik maupun mental dari suami aku, mulai dari dicemooh, dilempar sisir, diludahi sampai dipukuli. Dia pun tak berhenti berpindah dari satu perempuan ke perempuan lain dan ada beberapa dari mereka yang dibawa ke rumah. Semuanya aku simpan sendiri. Baik orang tua maupun teman tidak ada yang tahu. Kalau aku ke kantor dengan wajah lebam dan ada teman yang bertanya, aku katakan bahwa aku secara tidak sengaja kejeduk kepalanya anak-anak, dan banyak alasan yang lain.

 Satu malam, ketika aku menemukan kartu penuh ucapan cinta untuk suami aku dari salah satu wanitanya, sambil menangis aku berkata pada diri sendiri, “Aku merasa sangat sendirian.” Di saat itu, terdengar dengan jelas suara yang lembut yang dengan penuh iman aku yakini, itu adalah Yesus yang berbicara padaku. Dia mengatakan, “Kamu tidak sendiri, ada Aku bersamamu.” Begitu aku sadar, aku menangis sejadi-jadinya. Betapa bodohnya aku yang berpikir bahwa aku seorang diri.

 Di malam yang lain di saat aku sudah tidak tahan akan beban yang begitu berat, aku memutuskan untuk bunuh diri. Aku pikir dengan bunuh diri, masalah aku selesai. Sambil menimbang-nimbang apakah aku mau gantung diri, potong urat nadi atau minum obat nyamuk, aku pikir aku berdoa dulu saja, mau minta supaya Tuhan cepat-cepat ambil nyawaku. Akupun berdoa dan bilang “Tuhan, aku titip anak-anak. Tolong supaya Engkau cepat-cepat mengambil nyawaku, aku sudah tidak kuat.” Untuk kedua kalinya, Yesus menyapaku yang aku dengar dengan jelas, kataNYA, “Hidupmu adalah anugrah terbesar dariKU, mengapa ingin kau sia-siakan.” Mendengar itu, aku sadar dan menangis meminta ampun dari Tuhan.

Aku ikut retret awal karena aku kuatir bahwa aku menjadi agak tidak waras. Sebelum aku ikut retret, aku tidak mengerti mengapa di tengah penderitaan hidup, ketika aku berdoa aku bisa berkata, “Terima kasih Tuhan karena aku boleh ikut merasakan sedikit dari penderitaanMU waktu Engkau memikul salib.” Waktu itu aku berpikir aku mulai gila dengan berdoa seperti itu. Kini aku mengerti bahwa salib bisa membawa sukacita dan Roh Kudus membimbing kita ketika kita menyerahkan diri pada Tuhan saat kita berdoa. Di retret awal, aku mendapat banyak sekali pengalaman iman yang begitu indah. Setiap aku menutup mata, aku bisa membayangkan Yesus dengan jubah putihnya yang berkilau membuka tanganNYA untukku. Ada saat di mana aku melihat Yesus yang mengulurkan tanganNYA ke aku. Dan satu pesan yang aku dapat dan ingat waktu aku konseling adalah: jangan sombong dihadapan Tuhan. Keselamatan menurut Tuhan tidak sama dengan keselamatan menurut ibu.

Pulang dari retret awal, masalah memang tidak selesai bahkan aku dibawa pada titik kepasrahan yang terendah dalam hidupku. Anak-anakku dibawa pergi dan disembunyikan oleh suamiku selama hampir 4 bulan. Mereka hilang bagai ditelan bumi. Keluarga suami tidak ada yang mau membantu. Aku berdoa, mohon supaya Tuhan segera mengembalikan anak-anak. Setiap malam aku mohon itu dari Tuhan tapi entah mengapa rasanya doaku seolah tidak terangkat. Aku pun marah sama Tuhan dan berhenti berdoa selama dua hari. Kemudian satu hari, aku terbangun pukul tiga pagi. Aku keluar kamar, duduk di ruang tamu dan berdoa. Aku cuma bisa berkata, “Tuhan, kalau boleh, ijinkan aku mengasuh dan membesarkan kedua buah hatiku, tapi Tuhan, kehendakMUlah yang terjadi.” Tiga hari aku ucapkan doa itu, kemudian aku dipertemukan dengan anak-anak.

Saat ini setelah suamiku melakukan tindak kekerasan yang menyebabkan salah satu tulang rusuk bagian depanku bergeser dan pada akhirnya ia memilih untuk hidup dengan salah satu wanitanya yang lain, aku pun berkonsultasi dengan pastor di Keuskupan Agung Jakarta dan kami berpisah. Aku membesarkan anak-anak sendiri. Dalam doa aku sering meminta kepada Yesus supaya DIA memampukan aku untuk membesarkan kedua buah hatiku dengan sabar, bijaksana dan penuh kasih. DIA menjawab doaku dengan mengundangku ke retret penyembuhan batin. DIA mengundangku karena DIA mau menyembuhkan luka-luka batinku supaya aku tidak menorehkan luka pada anak-anakku. Luka bisa berbuah luka dan Yesus yang begitu besar cintaNYA padaku dan anak-anakku, tidak menginginkan hal itu terjadi. DIA mau menyembuhkanku. Itulah jawabanNYA atas doaku.

Di dalam retret, aku dibawa pada kesadaran akan cinta Tuhan. Namun aku pun diingatkan kembali akan semua luka dan sakit hati yang kualami dan rasanya memang sakiiittttt sekali. Semua pengkhianatan suamiku dan tindak kekerasan yang aku terima baik fisik maupun mental diputar kembali dibenakku. Aku meminta supaya Yesus mau mengambil semua rasa sakit itu dan semua luka-lukaku. Dan DIA menjawab permohonanku. Bahkan diluar dugaan, ketika pembasuhan kaki, ada seorang figur yang wajahnya mirip dengan suamiku dan ada yang mirip dengan wanita yang kini hidup dengannya. Aku pun membasuh kaki mereka. Karena rahmat Tuhan dan kemurahan kasihNYA, aku pun bisa mengampuni suamiku dan wanita yang kini hidup dengannya. Dan itu sungguh amat melegakan.

Yesusku menyembuhkanku. Dengan kesembuhanku, aku dimampukan untuk membesarkan kedua anakku dengan penuh kasih dan tidak menorehkan luka pada mereka. DIA yang mengerti kebutuhanku dan DIA yang menjawab semua doa-doaku dengan caraNYA sendiri. Satu ayat Kitab Suci yang selalu kuingat: ‘Serahkanlah hidupmu pada Tuhan dan percayalah kepadaNYA, dan DIA akan bertindak’ (Mazmur 37:5)


Kesaksian ditulis oleh Novita Patricia

Sumber: http://www.carmelia.net

Senin, 21 April 2014

KISAH NYATA ANAK TERBUANG YANG ANGGAP DIRINYA TAK BERHARGA


Sewaktu masih kecil, Harun Sapto sudah dititipkan ke Malang dari Blitar, dari rumah orangtuanya ke rumah pamannya. Di rumah pamannya itu, dia mendapat perlakuan yang kasar dari tantenya. “Saya mulai ada kekecewaan, suka nangis, suka murung,” cerita Sapto saat itu.

Kelas 2 SD Sapto dibawa kembali oleh orangtuanya ke Jakarta. Di sana, dia suka berantem. Jika Sapto pulang ke rumah dengan baju yang kotor, ibunya akan marah-marah. Nasi satu butir jatuh di lantai, dia juga kena marah. Tidak tidur siang, dia akan dipukul.

Kebalikannya, papanya baik. Namun sayangnya, Sapto jarang bertemu dengan bapaknya karena kesibukannya. Lain lagi dengan kakaknya. Kakaknya pernah mengatakan, “Sapto, mengapa sih kamu pulang lagi?” Kakaknya menyalahkan Sapto karena mereka sudah tidak punya mobil lagi, seolah-olah Saptolah penyebab hilangnya mobil tersebut dan juga keruwetan lain yang dialami keluarga mereka.
Sapto yang dewasa, punya tato di badannya dan seringkali memakai baju lengan buntung. Tidak hanya itu, dia menjadi preman yang suka memalaki para pedagang, kekerasan memenuhi hidupnya.

Suatu hari, dia diberitahu bahwa papanya meninggal. Karena itu, dia menganggap semua orang yang dia sayangi sudah tidak ada lagi sehingga dia makin brutal.

Pada suatu hari jam 7 malam di Menteng, dia dikejar oleh sekelompok orang yang ingin membunuhnya. Dia lari dan lari dan masuk ke gorong-gorong. Di sana dia berdoa dan begitu dia bangun dari gorong-gorong, dia melihat tidak ada orang lagi.

Dia mencoba nasib lain. Dia bekerja di kapal. Namun di sana, kerjaannya hanya minum dan minum saja. Di pelabuhan, ada orang yang menitip sesuatu kepadanya untuk dikirimkan ke Jayapura. Dia pun mendapat upah Rp 8 juta. Sayangnya, dia tidak melihat barang apa yang dititipkan itu.

Besoknya, dia berlabuh di Surabaya. Di sana, dia dipanggil pihak keamanan yang marah karena barang titipannya tergeletak di mana-mana. Barang yang diperkirakan sebanyak 2 ton itupun coba dikumpulkan Sapto. Dia mengajak semua orang yang lewat untuk memindahkan barang-barang tersebut tapi tidak ada yang mau membantunya. Dia putus asa, barang-barang itu dibuangnya ke laut.

Sesampainya di Jayapura, Sapto dicari orang-orang yang seharusnya mendapatkan barang tersebut. Dia pikir saat itu dirinya akan dibunuh, dia pun berpegangan pada besi yang ada di kapal sambil berpikir bahwa dirinya memang lebih baik mati.

Di situ juga dia mulai berkata di dalam hatinya, “Kalaupun memang Tuhan yang saya sembah sekarang ada dan menyelamatkan saya, saya akan jadi pengikut-Nya.”

Lama tidak ada yang menusuknya, dia pun menengok ke belakang, ternyata orang-orang itu pergi entah kemana. Pulang ke Jakarta, Sapto menginap di rumah salah satu kenalannya. Di rumah itu, dia menemukan VCD yang ternyata merupakan VCD khotbah.

Hamba Tuhan yang berada di VCD itu mengatakan bahwa ada satu anak muda peminum dan perlu menerima kasih Allah. Hamba Tuhan itupun membagikan ayat Yohanes 3:16. “Kamu harus bertobat…” kata hamba Tuhan tersebut sambil menunjuk. Sapto merasa hamba Tuhan itu seperti menunjuk dirinya langsung, seolah-olah tangannya keluar. Dia pun mematikan VCD tersebut.

Saat hendak berbaring, Sapto menemukan traktat. Di dalam traktat itu, kembali ayat itu berbicara. “Saya tidak tahan, saya keluar air mata dan tidak dapat berhenti.” katanya.

Saat itulah dia putuskan untuk beribadah di suatu tempat ibadah. Sapto sadar akar dari segala pemberontakannya adalah kebenciannya kepada keluarganya dan dia pun meminta hamba Tuhan di sana untuk mendoakannya.

Ketika ibunya masuk ke rumah sakit, Sapto pun meminta maaf. Hubungan ibu dan anak itu pun dipulihkan. Seminggu kemudian, ibunya dipanggil Tuhan.

Apa yang Sapto lakukan dulu, sudah dia tinggalkan semua. Dia pun berubah hidupnya dan berbalik dari jalannya yang jahat. Sekarang dia mengabdikan hidupnya untuk anak-anak yang terlantar. “Saya selalu memberikan satu saran yang baik dari Tuhan bahwa hidup itu sangat berarti kalau kita mau merespon.”

Setiap orang yang dididiknya pun mengakui hal tersebut, begitu pula tetangganya. Dia beralih dari yang paling buruk menjadi pelayan Tuhan. “Dia bisa mengubah kita semua, hidup saya dan hidup Anda.” tutup kesaksian Sapto.

Sumber Kesaksian :
Harun Sapto (jawaban.com)

Kamis, 17 April 2014

PUKULAN ITU MENYAKITKAN TAPI MENGUBAHKU MENJADI LEBIH BAIK



Merasa dibuang dan disingkirkan oleh keluarga, membuat Elias Maralok Siallagan menjadi pribadi yang keras, bahkan pernah menempuh jalan kehidupan yang penuh liku dan kejahatan. 

Namun, Tuhan begitu mengasihinya. I Korintus 7:10 ini menggambarkan apa yang Tuhan kerjakan dalam hidupnya,” Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.” Inilah kisah yang dituturkannya.

Sewaktu SMP kelas dua, aku diiming-imingi oleh keluarga untuk menjadi seorang ABRI. Maka setelah lulus SMA, aku diberangkatkan ke Jakarta untuk melanjutkan studi. Namun sewaktu aku di Jakarta, setiap kali kukirimkan kabar ke kampung untuk meminta biaya tidak pernah ada tanggapan apapun dari mereka. Hal itu membuat aku sangat kecewa. Aku merasa keluargaku sengaja menyingkirkanku kepulau Jawa, sehingga mereka tidak lagi disusahkan lagi olehku. Aku merasa tidak dianggap sebagai anak oleh mereka.

Karena tidak ada dukungan dana sama sekali dari keluargaku, kehidupan jalanan yang keras dan kejam harus kujalani. Terkadang sering tidak makan, bahkan kalaupun makan hanya sepotong singkong dalam satu hari. Aku harus tidur dipinggir jalan, dan mandi dikali Ciliwung. Aku bertahan hidup dengan menjadi pedagang asongan, bahkan akhirnya terjerumus dalam dunia premanisme.

Saat itu, aku bergabung dengan gank karena merasa senasib dan diterima oleh mereka. Bisnis utama gank tersebut adalah menjadi rentenir, mereka meminjamkan uang kepada para penjudi, dan jika para penjudi itu tidak bisa membayar, kami mengambil barang-barang mereka, bahkan terkadang mobil dan rumah mereka. Keseharianku dalam gank itu hanyalah berjudi, mabuk, menagih hutang atau berkelahi.

Hingga pada pertengahan tahun 1977, aku menikah dan memutuskan untuk meninggalkan kehidupan jalanan itu. Aku tidak ingin membawa kehidupan lamaku kedalam hidup baru pernikahanku. Tapi sepertinya sikap keras itu tidak bisa kulepaskan dari hidupku, kupikir mungkin itu sifat yang diturunkan oleh orang tuaku. Istriku sering menjadi sasaran dari luapan emosiku, sehingga dia menjadi tertekan dan sakit hati karena sikapku.

Tetapi suatu kejadian yang hebat mengubah seluruh kehidupanku. Sewaktu itu aku sedang mengerjakan beberapa proyek di Jakarta. Aku bekerja sama dengan seorang teman sebagai sub-kontraktor, dan karena kekurangan modal akhirnya aku menawarkan uang pribadiku untuk digunakan dengan memegang janji darinya bahwa dalam waktu dua minggu akan dikembalikan.

Pada hari yang telah ditentukan, bahkan setelah 1 minggu mundur dari waktu yang dijanjikan, uang itu belum juga dikembalikan. Aku mencoba menemuinya, untuk membicarakan masalah ini. Namun, sekalipun telah aku tunggu sejak pagi, orang tersebut tidak bisa ku temui. Dengan marah, sambil mengucapkan sumpah serapah aku meninggalkan kantor orang itu. Dalam perjalanan menuju rumahku di Bogor, sebuah bis menghantam mobilku hingga tak berbentuk.

Setelah aku sadar, pada hari kelima setelah kecelakaan itu, keluargaku memutuskan untuk mengijinkan dokter melakukan pembedahan tanpa melakukan diagnosa terlebih dahulu. Hasil pembedahan itu memperlihatkan bahwa bagian lambung telah mendorong paru-paru dan jantung. Dan menurut dokter yang rusak adalah bagian paru-paru, hati, jantung dan limpa. Namun yang paling fatal dan tidak bisa diselamatkan adalah limpa. Dokter memberi vonis bahwa harapan hidupku hanya lima persen.

Melihat kondisiku yang sangat kritis, istriku begitu takut aku tidak bisa terselamatkan. Hal itulah yang membawanya kepada Tuhan, dia berdoa dan memohon kepada Tuhan supaya aku diselamatkan. Oleh doa-doa istriku itu, aku mengalami mujizat ajaib. Dalam waktu yang relatif singkat aku dipulihkan dari luka-luka akibat kecelakaan itu. Pada waktu itulah aku merasakan bahwa Tuhan benar-benar campur tangan dalam hidupku.

Aku merasa ini adalah cara Tuhan untuk menyatakan diri-Nya kepadaku. Sebelum kejadian itu, aku merasa ragu-ragu dan tidak pernah menyerahkan seluruh beban hidupku kepada Tuhan. Setelah kejadian ini, aku baru menyadari karya Tuhan dalam hidupku sungguh luar biasa. Aku sadar bahwa ucapan kotor yang sering aku ucapkan, akan membawaku kepada kehancuran. Dari hal inilah aku bertekad untuk merubah cara bicaraku, dan juga temperamenku yang mudah emosi. Aku merasakan tanpa Tuhan, hidupku ini akan sia-sia. (Kisah ini sudah ditayangkan pada 29 Agustus 2008 dalam acara Solusi Life di O’Chanel).

Sumber kesaksian:
Elias Maralok Siallagan
copas : kisahnyatakristen.com

Minggu, 13 April 2014

KISAH NYATA ANAK MUDA YANG PERNAH DIPENJARA KARENA NARKOBA


Kehilangan ibu yang dikasihi membuat kehidupan Fabianus Abraham menjadi hilang keseimbangan. Perasaan kurang dikasihi pun melingkupi hati anak muda yang biasa dipanggil Bram ini.
Dari sinilah segala sesuatunya mengubah kehidupan Bram.
"Dimulai dari tahun 2000. Saat mamah meninggal. Jadi saat itu aku ngalamin namanya kurang perhatian dari keluarga. Ayahku sibuk dengan pacar barunya."
"(Ayahku) pernah perhatian, tapi aku gak mau diperhatiin. Jadi, aku mulai dengan yang namanya pergaulan bebas dalam sekolah, bahkan luar sekolah. Kakak yang diatas aku itu malah nakal bareng karena beda cuman setahun ya kan ?"
Semakin hari kenakalan Bram semakin menjadi-jadi dan tanpa sadar ia kian tenggelam dengan hal-hal negatif.
"Kalau orang lain berprestasi karena nilai, aku berprestasi mungkin karena kenakalan. Gak naek kelas, dikeluarin dari sekolah. Akhirnya aku coba nongkrong-nongkrong di Distro. Nah di distro ini ketemu ama komunitas yang namanya tato piercing lah. Akhirnya aku mulai tato, piercing, gitu deh. Nah itu makin menanjak lah itu pergaulan, gak terkontrol. Masalah narkoba pun, tiap malam disediakan ya kan? Nyaman gitu ada di dunia itu"
Hubungan yang kurang harmonis dengan sang papa membuat diri Bram terus menerus hidup di dalam kebiasaan buruknya. Bahkan dari narkoba yang ia konsumsi, ia mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
"Waktu itu aku kayak nyari jati diri. Hubungan sama orang tua juga udah mulai gak enak. Jadi, udah gak pernah komunikasi. Gak pernah kepikiran, gak sadar ternyata udah tujuh tahun ada di dalam komunitas itu,"
"Pas papa udah kena sakit jantung, perusahaannya juga bangkrut, masalah ekonomi udah merosot lah, tapi tetap aku pake narkoba segala macam gitu. Aku cari uang ya dengan jualan narkoba. Aku rasain pas aku pake narkoba, ya mungkin dapat ketenangan, rileks gitu, enjoy. Aku gak mikirin yang namanya hidup. Jadi yang aku tahu aku hidup ya cuma buat itu-itu doing,"
Merasa tenang dengan bisnis haramnya, ternyata Bram mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Berawal dari transaksi yang tercium oleh aparat polisi, Bram akhirnya tertangkap basah di rumahnya sendiri.
"Aku ketangkep ama polisi tanggal 19 Desember 2008. Aku kedapatan lagi jual narkoba di dalam rumah, aku simpan narkoba 15 paket."
Hidup sebagai seorang tahanan membawa Bram ke dalam sebuah pengalaman rohani yang belum pernah ia alami sebelum-sebelumnya.
"Pas di dalam tahanan itu, aku mikir aku gak bisa kemana-mana lagi. Saya pun dipenjara harus ada uang atau apa segala macam, ya baru aku datang ke Tuhan. Pas aku berdoa malam itu, gak tahu kenapa aku bisa nangis, nangisnya bisa sampe parah banget. Jadi, aku berdoa sambil berlutut, aku minta ampun, minta ampun, menyesal sama Tuhan. Pokoknya disitu aku ngerasain banget ternyata di dalam penjara pun Tuhan ada. Ya, ternyata di dalam sel pun, tempat yang mungkin bagi orang tuh, hina atau apa, di situlah aku bisa ketemu sama Tuhan. Ya penyesalan, apa segala macam, itu keluar dari situ,"
"Aku komitmen untuk berubah. Teman-temanku yang seumuran aku udah mulai kuliah, udah mulai sukses, udah mulai segala macam dan aku baru mulai dengan hidup baru. Jadi kayak telat banget."
Juli 2010, Bram akhirnya keluar dari penjara. Walau sudah berada di luar, tetapi Bram akan selalu ingat dengan tempat tersebut karena dari situlah banyak hal positif yang ia dapatkan untuk bekal kehidupannya di masa yang sekarang ia jalani dan mendatang.
Bram pun bersyukur kepada Tuhan karena lewat pengalaman ditangkap dan berada di sel penjara inilah ia mengalami perubahan di dalam kehidupannya.
"Aku baru ngerti yang namanya hidup harus ngapain, di penjara. Hidup harus punya tujuan. Aku mikir kayak sekolah kehidupan kali di situ. Kalau setiap pagi ini, aku bangun dari tidur, kayak aku terus heran kayak tujuh tahun yang lalu aku masih hidup dalam dunia narkoba, tetapi sekarang ini aku kayak udah bisa lepas dari itu, itu benar-benar thanks God banget deh. Kalau bukan Tuhan, aku bukan siapa-siapa lagi deh. Tuhan hebat, hebat banget. Dia doang yang bisa ngubah hidup aku."
"Pembelajaran yang bisa aku ambil dari kehidupanku yang dulu, pas aku pake narkoba pola pikir kan berantakan dan aku berpikir cara aku cari jati diri dengan pake tato, piercing, pake narkoba, dan saat aku hidup dalam Tuhan ternyata aku baru sadar cara itu salah. Tanpa itu-itu pun hidupku berarti lah," pungkas Fabianus Abraham mengakhiri kesaksiannya.
Sumber Kesaksian :
Fabianus Abraham

sumber : facebook

Rabu, 09 April 2014

TUHAN SEMBUHKANKU DARI KANKER PAYUDARA



Saat sedang bersiap untuk menghadiri seminar khusus wanita, Naomi menemukan sesuatu yang akan menggetirkan hatinya.
"Ketika saya mandi pada pagi hari itu saya merasakan kok ada yang aneh di dalam tubuh saya. Saya kaget, saya lihat ada benjolan yang sebelumnya tidak pernah ada benjolan itu. Lalu saya merasa kuatir karena saya pernah dengar dari teman-teman, wanita kalau ada benjolan itu berbahaya dan menakutkan. Pasti itu membawa kepada kematian."
Hari demi hari Naomi jalani. Namun, benjolan itu semakin membesar sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang teman. "Sebaiknya periksa ke Singapura saat itu. Saya bilang, "Bagaimana dengan biaya?". Teman saya berkata, "Jangan kuatir, semua beban biaya rumah sakit saya yang tanggung,". Bicara demi bicara akhirnya jadilah ke Malaysia. Dengan perasaan kuatir, takut, was-was, saya berangkat."
Dorongan dari temannya itu membuat Naomi memberanikan diri untuk pergi ke Malaysia. tes demi tes pun ia jalani, namun ia mendengar hasil yang meruntuhkan seluruh harapan hidupnya. "Dokter katakan, "segera Ibu operasi. Jangan tunggu lama-lama lagi karena ini sudah bahaya."
"Ketika saya tahu bahwa itu di kanker, saya sangat takut, saya sangat takut. Saya melihat selubung kematian sudah di depan saya. Lalu murid saya ini dengan tenangnya dia menenangkan saya. Dia katakan kepada saya, "tenang kak, tanang ada Tuhan Yesus yang menolong kakak. Kakak gak perlu kuatir" .. Saat itu benar-benar saya merasa sangat takut."
Sepulangnya ke apartemen tempat Naomi dan temannya menginap, ketakukan yang luar biasa menghantui dirinya. Naomi pun nekat melakukan hal yang gila untuk menghilangkan rasa takut akan penyakit kanker yang dideritanya. "Ketika teman saya menonton tv di apartemen, saya keluar. Saya bilang, "Tuhan, cabut nyawa saya sekarang, lebih baik saya mati sekarang daripada nanti. Saya malu Tuhan. kenapa kok saya kayak begini. Saya takut Tuhan. Rasanya mau lompat dari apartemen itu. Tetapi, firman Tuhan terngiang di telinga, "Saya mengasihimu, anak-Ku. Saya sangat mengasihimu. Jangan takut, Aku selalu ada bersama engkau" Dan disitu saya tidak jadi lompat, saya langsung masuk kamar."
Naomi mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Dalam keputusasaannya, Naomi menjerit dan meratapi hidupnya. di saat itulah bayangan akan masa lalunya di putar kembali. "Saya dulu pernah menikah dan saya punya anak umur 3 bulan. ketika itu saya bersukacita dengan anak saya, dengan suami. Dan tiba-tiba saya melihat kok ada yang biru disini, di bayi saya. Saya keget, lalu tiba-tiba kok tambah lama tambah banyak disini, sini, sini. Saya telepon suami saya. lalu dia pulang. Kami ke rumah sakit."
"Di rumah sakit itu, langsung dokter katakan anak saya menderita kanker darah. Dalam waktu 3 jam, dia meninggal. Aduh saya waktu mengetahui anak saya meninggal, dunia ini seperti terjungkir balik dan kehilangan harapan. Saya merasa separuh jiwa itu saya pergi. Saya merasa, aduh, saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya sering ke kuburan anak saya. Saya nangis, saya nangis di sana. Saya berharap anak saya bisa balik lagi sama saya. Tetapi tidak mungkin, saya memang sangat mengasihani diri saya sendiri."
Naomi terus bergelut dalam kesedihannya. Namun, ia tak menyadari bahwa sesuatu yang menambah keterpurukannya akan segera terjadi.
"Sampai suatu sore hari, ia tidak pulang. Saya kaget. Ini kok biasanya dia pulang kok kini tidak pulang. Saya telepon ke kantornya, dia tidak ada. Saya telepon ke keluarganya, sudah di-block. Dalam jangka dua bulan, saya kehilangan anak dan suami pun pergi meninggalkan saya. Itu saya sedihnya luar biasa. Saya stres, saya depresi. beberapa bulan saya tidak bisa tidur. Saya nonton televisi, liat anak kecil digendong ibunya, saya nangis, saya nangis. Saya juga lihat ada keluarga bahagia, saya suka nangis, "Tuhan, kok dia bisa bahagia, saya tidak." Saya merasa hidup saya kosong. Gak ada lagi canda tawa, gak ada lagi tangisan anak, gak ada lagi yang membuat saya bahagia. Sakit hati, kepahitan itu saya bawa. Saya merasakan kebencian yang sangat dalam."
Tayangan akan masa lalunya tersebut mulai membuat hati Naomi gelisah.
"Tuhan ampuni saya kalau saya mempunyai pikiran seperti itu. Ampun Tuhan, ampun Tuhan. Lalu saya bilang, "Saya pasrah kepada-Mu Tuhan, saya serahkan semua kepada-Mu. Saya tahu Engkau satu-satunya Allah yang tidak pernah tinggalkan saya. Manusia silahkan tinggalkan saya, bahkan orang yang terdekat dengan saya sekalipun, silahkan tinggalkan saya. Tuhan saya mau sembuh Tuhan. Saya tidak mau sakit seperti ini Tuhan, saya mau sembuh Tuhan. Oleh sebab itu Tuhan, saya mau melepaskan semua masa lalu saya. saya mengampuni, saya mengampuni, sungguh-sungguh dari hati terdalam, saya mengampuni mantan suami saya dan saya percaya Tuhan saya pasti sembuh Tuhan. Mampukan saya untuk saya bisa melewati semua ini."
Dengan kepasrahannya, Naomi memberanikan diri kembali ke Indonesia untuk menjalani operasi. Detik demi detik terasa mencekam saat ia membayangkan dinginnya meja operasi. "Itu malam-malam saya tidak bisa tidur. Saya sangat, sangat, dan sangat ketakutan. Ketakutan yang tidak bisa saya hadapi. seolah-olah pintu maut itu sudah terbuka buat saya. Dan saya katakan, "Tuhan mau apa dalam hidup saya. Melalui peristiwa ini, Tuhan mau apa dalam hidup saya. Saya tidak kuat Tuhan,"
Keesokan harinya, Naomi menjalani operasi. Dalam ketidaksadarannya, ia dibawa ke dalam sebuah mimpi. "Tuhan menggendong saya. Dia memberikan gendongan yang tidak pernah saya rasakan. Disitu ada ular, kalajengking mau mencaplok saya, mau menggigit saya. Harimau, binatang-binatang buas mau menghantam saya, tetapi gada dan tongkat Tuhan memukul ular dan kalajengking itu. Tiba waktunya saya dibawa oleh Tuhan ke atas bukit, disitu padang rumput yang begitu indah dan saya tetap dalam gendongan Tuhan."
Mimpi yang Naomi alami membuatnya yakin ia akan sembuh. Sampai akhirnya, sebuah suara membangunkan Naomi. "Saya katakan, "Tuhan, terima kasih karena telah menolong saya. Saya percaya Tuhan telah memberikan kekuatan ekstra buat saya."
Dengan penuh harapan, Naomi menunggu hasil operasi. Dukungan dari teman-temannya semakin meyakinkannya akan kesembuhan. "Waktu dengar dokter mengatakan, "Ibu, puji Tuhan ibu, cancer-nya itu tidak sampai ke getah bening. Saya merasa sukacita, kakak saya peluk saya, menangis dengan sejadi-jadinya."
"Tuhan Yesus, Engkau sungguh baik, Engkau teramat baik, Engkau sungguh ajaib, karya-Mu luar biasa. Engkau Allah tidak pernah terlambat menolong aku Tuhan. Engkau, Allah yang begitu indah di dalam hidupku. Pertolongan-Nya begitu besar yang Tuhan telah berikan yang membuat saya selamat, yang membuat saya bersukacita. Membuat saya bisa hidup kembali, itu semua pertolongan Tuhan yang luar biasa."
Mujizat besar telah Naomi alami dalam hidupnya. Ia akhirnya sembuh dari kanker payudara Stadium 3 yang hampir merenggut hidupnya. Kini ia menjalani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan.
"Karena saya tahu, Tuhan Yesus telah menebus saya. Sudah membuat saya berharga, saya menjadi wanita yang utuh. Tuhan katakan, "Naomi, walaupun anggota tubuhmu kurang satu, yaitu payudaramu hilang satu, kamu tetap utuh dan kamu sebagai wanita yang KU-banggakan," ujar Naomi menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan 9 Maret 2011 dalam acara Solusi Life di O"Channel)
Sumber Kesaksian:

Naomi Lethara
sumber : facebook

Sabtu, 05 April 2014

IMELDA SAPUTRA : KELUMPUHAN INI TIDAK MELUMPUHKAN IMANKU

Nama saya Imelda Saputra. Saya puteri bungsu, dari tiga bersaudara. Saya lahir 27 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 20 Desember 1984, di Pulau Bangka.

Sewaktu saya dilahirkan, ada sebuah benjolan kecil tumbula di punggung, bagian bawah. Saat itu dokter mengatakan bahwa saya harus segera dioperasi, karena jika tidak, benjolan itu akan semakin membesar. Karena tidak mengerti, orang tua saya pun akhirnya menyetujui dilakukannya operasi, meskipun usia saya saat itu belum genap satu tahun.

Setelah dioperasi keadaan saya bukannya membaik malah buruk. Setelah diteliti, seharusnya saya tidak perlu dioperasi karena benjolan itu tidak dapat membesar dan tidak memlaahayakan. Ternyata setelah operasi ada saraf yang mengumpul di benjolan itu, dan menarik saraf kaki saya. Keadaan itu membuat kaki saya tidak dapat diluruskan.

Saya melakukan terapi dengan menggunakan sepatu besi, namun alat itu tidak membawa perubahan apa-apa. Malah lama-kelamaan kaki saya mengecil dan saya tidak dapat menggunakannya untuk berdiri. Saya pun harus menggunakan kursi roda hingga hari ini. Tetapi saya bersyukur masih bisa menjalani aktivitas seperti anak-anak pada umumnya. Saya pun bersekolah di sekolah umum.

Setelah lulus dari bangku SMA, saya mencoba peruntungan di bidang tulis-menulis, meskipun saya tidak mempunyai bakat untuk itu. Namun saya pikir tidak ada salahnya untuk mencoba.
Tahun 2005, buku pertama saya, “My Unforgettable Experience,” selesai ditulis. Pada pertengahan tahun 2008, baru diterbitkan oleh penerbit Andi, Jogjakarta. Sementara menunggu buku tersebut, saya menulis dalam beberapa renungan harian, di antaranya “Bom”, “Com”, dan “Profesional”. Setelah itu buku-buku selanjutnya menyusul untuk diterbitkan, “Sejuta Warna”, “Inspirasi 5 menit”, “Be a Winner Like Me”, “30 Renungan Tentang Hubungan Dengan Tuhan”, “30 Renungan Tentang Dunia Kerja”. Saya pun semakin disibukkan dengan menulis renungan harian “Spirit” dan “Woman Excellence”.

Saya merenungkan selalu ada alasan bagi setiap orang untuk mengeluh, atau menyalahkan Tuhan atas keadaan buruk yang menimpanya. Namun membiarkan diri tenggelam dalam keterpurukkan apakah akan menguntungkan kita? Karena itu, saya memilih untuk mensyukuri semua pemberian Tuhan. Tangan yang masih bisa digunakan untuk menulis, mata yang masih bisa dimanfaatkan untuk membaca, suara yang dapat memuji kebaikkan Tuhan, dan yang terpenting hidup yang masih ‘utuh tidak cacat untuk mempermuliakan nama-Nya. Bagaimana dengan Anda?

By: Imelda Saputra
sumber : kerygmateens.com