Selasa, 01 April 2014

BATIN SAYA DISEMBUHKAN


Shalom,

Ketika kita memiliki luka batin dan kepahitan dalam hati yang tidak kunjung dibereskan, maka hal itu akan menghalangi pekerjaan Tuhan yang luar biasa terjadi dalam hidup kita. Pemulihan dari Tuhan akan terjadi saat kita mulai mengambil langkah untuk mengampuni dan membuang semua kepahitan dalam hidup kita.

Seperti halnya edisi kesaksian kali ini, ketika seorang anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dan teladan yang baik dalam keluarga, maka anak tersebut tumbuh dengan kepribadian yang kurang baik. Namun, berkat pertolongan Tuhan dan penyerahan sepenuhnya kepada-Nya, batin anak tersebut disembuhkan. Bagaimana hal itu terjadi? Simak kesaksian yang telah kami persiapkan berikut ini.

Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati.

Redaksi tamu KISAH,
Yonathan Sigit


                         BATIN SAYA DISEMBUHKAN

Saya (LH) tidak akan pernah merasa malu, kalau saya ingin berterus terang mengatakan bahwa sosok ayah saya bukanlah seorang figur atau gambaran ayah yang baik dan bertanggung jawab di dalam keluarga. Sejak saya berada di bangku SD sampai SMP, sekalipun wawasan pemikiran saya masih sempit, tetapi dengan mata sendiri, sebagai anak yang sulung dari tujuh bersaudara, saya dapat melihat perbuatan-perbuatan ayah yang menyakitkan hati ibu dan kami semua.

"NIAC" adalah sebuah lokasi judi yang sangat terkenal di Surabaya, ketika perjudian diizinkan dengan resmi beroperasi di negeri ini. Saya tidak tahu dengan jelas apa yang melatarbelakangi sehingga setiap hari, ketika ayah memiliki uang, ia tidak pernah mengingat kepentingan keluarga -- yang ada di benak ayah adalah tempat perjudian dan sangat senang berlama-lama di tempat itu. Saat saya bertanya kepada ibu tentang hal itu, dengan sedih ia menjawab bahwa yang ayah lakukan di sana ialah berjudi dan menghambur-hamburkan uang.

Ibu sering memperingatkan ayah agar menghentikan kegiatan tersebut dan lebih berkonsentrasi mengurus usaha mebel yang telah dirintisnya sejak bertahun-tahun yang lalu. Tetapi, setiap kali ibu mengutarakan hal itu, selalu saja timbul percekcokan dan pertengkaran yang hebat di antara mereka. Hanya dalam kurun waktu singkat, usaha yang menjadi tulang punggung keluarga mulai tak terurus. Kami pun tak sanggup melayani dan memenuhi pesanan para langganan. Orang-orang mulai berdatangan untuk menagih dengan penuh kemarahan, dan akhirnya usaha itu mengalami kebangkrutan. Akibatnya, bukan saja komunikasi di dalam keluarga semakin terganggu dan keadaannya sudah berada di ambang perpecahan, saya dan saudara-saudara juga tidak dapat melanjutkan sekolah.

Dalam keadaan yang putus sekolah, diperparah lagi dengan ekonomi keluarga kami yang morat-marit, satu-satunya harapan ibu yang dapat membantu kehidupan keluarga setiap hari, hanyalah tertuju kepada saya dan kakak perempuan saya. Sejak meninggalkan bangku sekolah, saya bekerja pada orang lain. Sementara saya sudah memperoleh uang dari pekerjaan tersebut, akar kebencian terhadap ayah tetap saja tidak pernah hilang. Bahkan hari demi hari, luka yang dalam dan kepahitan telah semakin bertumbuh subur di dalam hati saya. Selain itu, dengan bertambahnya usia, saya bertumbuh menjadi seorang pemuda yang memiliki kepribadian yang kaku dan rendah diri, serta tak mudah bergaul dengan orang lain. Sebaliknya, saya sebagai laki-laki yang paling besar dalam keluarga, saya tumbuh menjadi seorang yang mudah emosi, suka memberontak, dan kurang ajar terhadap ayah.

Ketika saya menghadapi kehidupan komunikasi rumah tangga yang tak harmonis tersebut, dengan uang yang ada, saya mulai mencari pelampiasan tanpa tujuan yang jelas di luar rumah. Saya bergaul dengan anak-anak malam untuk mabuk-mabukan dan melakukan perbuatan-perbuatan kotor lain, kecuali berjudi. Saya mengetahui latar belakang ayah saya, bahwa judilah yang menyebabkan keluarga kami hancur dan menderita. Setelah saya menikah, dengan modal seadanya, saya memulai sebuah usaha yang bergerak di bidang onderdil mobil diesel. Pada tahun 1995, ketika  usaha itu mulai bergerak, adik kandung saya yang ketiga menghadapi sebuah "kasus" yang membuatnya harus berurusan dengan pihak berwajib. Kasus tersebut, bukan saja menyesakkan dan memalukan hati kami sekeluarga, tetapi juga telah membuat saya mengalami ketakutan yang sangat luar biasa. Pikiran saya mengatakan bahwa jika para relasi bisnis saya dari Jakarta maupun dari kota-kota lain mengetahui bahwa salah seorang adik saya sedang menghadapi sebuah kasus yang berat, maka tentulah mereka akan memutuskan hubungan bisnis dengan saya.

Kasus yang menimpa adik saya mengakibatkan kemarahan di hati saya. Selama lebih dari setahun saya malu mengakuinya sebagai adik. Hal ini diperparah lagi dengan krisis ekonomi yang menerpa sistem perekonomian bangsa ini. Hal itu telah menambah persoalan di dalam usaha kami, sehingga membuat keadaannya benar-benar menjadi semakin morat-marit. Sekalipun saya sudah berusaha meminjam uang untuk menambah modal usaha dengan menjaminkan cek giro mundur, ternyata setelah tiba harinya, saya tak sanggup untuk membayarnya. Saya pun hanya bisa gali lubang dan tutup lubang sampai pada akhirnya saya tidak dapat bangkit lagi. 

Hal itu terjadi pada tahun 1997 dan membuat saya semakin stres maupun frustrasi. Dalam keadaan seperti itu, seorang kawan mengundang saya untuk menghadiri pertemuan yang diselenggarakan di sebuah restoran di Surabaya. Sebanyak lebih dari 5 kali ia memberikan undangan pada saya, namun semuanya saya buang ke tempat sampah. Tetapi karena saya merasa sungkan, maka kali berikutnya, saat ia mengundang saya, barulah saya datang dengan sedikit terpaksa.

Pada tahun 1998, ketika saya menghadiri pertemuan itu lagi, saat itu pula saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya temukan sebelumnya di tempat lain. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, bukan saja saya merasakan sambutan yang penuh kasih dari para anggota, tetapi pada saat mereka berdoa dan di sana nama saya disebut, Tuhan menjamah hidup saya. Tiba-tiba, saya rindu sekali membaca dan mempelajari firman Tuhan. Pada saat saya merenungkan firman Tuhan dan mencoba mengintrospeksi diri sendiri, Tuhan berkata dalam hati saya bahwa saya harus dapat mengampuni orang yang telah bersalah kepada saya. 

Hari itu, Tuhan melepaskan saya dari segala kebencian dan kepahitan selama lebih dari 20 tahun terhadap ayah saya. Sejak itu, saya mulai mengampuni, kemudian mengasihi dan menghormati, serta menerima keadaan ayah saya sebagaimana adanya. Sudah 3 tahun yang lalu, sebelum ia dipanggil oleh Bapa di Surga, komunikasi saya dengan ayah saya telah dipulihkan oleh Tuhan.

Melalui proses yang membutuhkan ketekunan itu, Tuhan telah membentuk hidup saya menjadi pria yang memiliki arah kehidupan yang jelas dan  pengharapan cerah di dalam Yesus. Rokok dan minum-minuman keras, serta dosa-dosa lainnya telah dibebaskan dari hidup saya. Tuhan juga memulihkan keadaan ekonomi keluarga kami, dan terlebih lagi, saat ini saya memiliki keluarga yang diberkati dengan suasana harmonis.

POKOK DOA

1. Doakan agar Tuhan Yesus senantiasa memberkati Bapak LH, dan biarlah
melalui kesaksian hidupnya dapat membawa orang-orang mengenal Kristus
sang Pembawa Damai.

2. Doakan agar Tuhan memampukan setiap anak-anak-Nya untuk mengampuni orang-orang yang telah menyakiti mereka.

3. Berdoa mohon ampun kepada Tuhan dan ambil inisiatif untuk memulihkan hubungan dengan anggota keluarga kita yang pernah atau sedang merasakan kepahitan akibat sikap, perkataan, atau perbuatan kita.

"Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih
setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu." (Mazmur 85:6)

Sumber : sabda.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar