Sabtu, 05 April 2014

IMELDA SAPUTRA : KELUMPUHAN INI TIDAK MELUMPUHKAN IMANKU

Nama saya Imelda Saputra. Saya puteri bungsu, dari tiga bersaudara. Saya lahir 27 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 20 Desember 1984, di Pulau Bangka.

Sewaktu saya dilahirkan, ada sebuah benjolan kecil tumbula di punggung, bagian bawah. Saat itu dokter mengatakan bahwa saya harus segera dioperasi, karena jika tidak, benjolan itu akan semakin membesar. Karena tidak mengerti, orang tua saya pun akhirnya menyetujui dilakukannya operasi, meskipun usia saya saat itu belum genap satu tahun.

Setelah dioperasi keadaan saya bukannya membaik malah buruk. Setelah diteliti, seharusnya saya tidak perlu dioperasi karena benjolan itu tidak dapat membesar dan tidak memlaahayakan. Ternyata setelah operasi ada saraf yang mengumpul di benjolan itu, dan menarik saraf kaki saya. Keadaan itu membuat kaki saya tidak dapat diluruskan.

Saya melakukan terapi dengan menggunakan sepatu besi, namun alat itu tidak membawa perubahan apa-apa. Malah lama-kelamaan kaki saya mengecil dan saya tidak dapat menggunakannya untuk berdiri. Saya pun harus menggunakan kursi roda hingga hari ini. Tetapi saya bersyukur masih bisa menjalani aktivitas seperti anak-anak pada umumnya. Saya pun bersekolah di sekolah umum.

Setelah lulus dari bangku SMA, saya mencoba peruntungan di bidang tulis-menulis, meskipun saya tidak mempunyai bakat untuk itu. Namun saya pikir tidak ada salahnya untuk mencoba.
Tahun 2005, buku pertama saya, “My Unforgettable Experience,” selesai ditulis. Pada pertengahan tahun 2008, baru diterbitkan oleh penerbit Andi, Jogjakarta. Sementara menunggu buku tersebut, saya menulis dalam beberapa renungan harian, di antaranya “Bom”, “Com”, dan “Profesional”. Setelah itu buku-buku selanjutnya menyusul untuk diterbitkan, “Sejuta Warna”, “Inspirasi 5 menit”, “Be a Winner Like Me”, “30 Renungan Tentang Hubungan Dengan Tuhan”, “30 Renungan Tentang Dunia Kerja”. Saya pun semakin disibukkan dengan menulis renungan harian “Spirit” dan “Woman Excellence”.

Saya merenungkan selalu ada alasan bagi setiap orang untuk mengeluh, atau menyalahkan Tuhan atas keadaan buruk yang menimpanya. Namun membiarkan diri tenggelam dalam keterpurukkan apakah akan menguntungkan kita? Karena itu, saya memilih untuk mensyukuri semua pemberian Tuhan. Tangan yang masih bisa digunakan untuk menulis, mata yang masih bisa dimanfaatkan untuk membaca, suara yang dapat memuji kebaikkan Tuhan, dan yang terpenting hidup yang masih ‘utuh tidak cacat untuk mempermuliakan nama-Nya. Bagaimana dengan Anda?

By: Imelda Saputra
sumber : kerygmateens.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar