Minggu, 13 April 2014

KISAH NYATA ANAK MUDA YANG PERNAH DIPENJARA KARENA NARKOBA


Kehilangan ibu yang dikasihi membuat kehidupan Fabianus Abraham menjadi hilang keseimbangan. Perasaan kurang dikasihi pun melingkupi hati anak muda yang biasa dipanggil Bram ini.
Dari sinilah segala sesuatunya mengubah kehidupan Bram.
"Dimulai dari tahun 2000. Saat mamah meninggal. Jadi saat itu aku ngalamin namanya kurang perhatian dari keluarga. Ayahku sibuk dengan pacar barunya."
"(Ayahku) pernah perhatian, tapi aku gak mau diperhatiin. Jadi, aku mulai dengan yang namanya pergaulan bebas dalam sekolah, bahkan luar sekolah. Kakak yang diatas aku itu malah nakal bareng karena beda cuman setahun ya kan ?"
Semakin hari kenakalan Bram semakin menjadi-jadi dan tanpa sadar ia kian tenggelam dengan hal-hal negatif.
"Kalau orang lain berprestasi karena nilai, aku berprestasi mungkin karena kenakalan. Gak naek kelas, dikeluarin dari sekolah. Akhirnya aku coba nongkrong-nongkrong di Distro. Nah di distro ini ketemu ama komunitas yang namanya tato piercing lah. Akhirnya aku mulai tato, piercing, gitu deh. Nah itu makin menanjak lah itu pergaulan, gak terkontrol. Masalah narkoba pun, tiap malam disediakan ya kan? Nyaman gitu ada di dunia itu"
Hubungan yang kurang harmonis dengan sang papa membuat diri Bram terus menerus hidup di dalam kebiasaan buruknya. Bahkan dari narkoba yang ia konsumsi, ia mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
"Waktu itu aku kayak nyari jati diri. Hubungan sama orang tua juga udah mulai gak enak. Jadi, udah gak pernah komunikasi. Gak pernah kepikiran, gak sadar ternyata udah tujuh tahun ada di dalam komunitas itu,"
"Pas papa udah kena sakit jantung, perusahaannya juga bangkrut, masalah ekonomi udah merosot lah, tapi tetap aku pake narkoba segala macam gitu. Aku cari uang ya dengan jualan narkoba. Aku rasain pas aku pake narkoba, ya mungkin dapat ketenangan, rileks gitu, enjoy. Aku gak mikirin yang namanya hidup. Jadi yang aku tahu aku hidup ya cuma buat itu-itu doing,"
Merasa tenang dengan bisnis haramnya, ternyata Bram mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Berawal dari transaksi yang tercium oleh aparat polisi, Bram akhirnya tertangkap basah di rumahnya sendiri.
"Aku ketangkep ama polisi tanggal 19 Desember 2008. Aku kedapatan lagi jual narkoba di dalam rumah, aku simpan narkoba 15 paket."
Hidup sebagai seorang tahanan membawa Bram ke dalam sebuah pengalaman rohani yang belum pernah ia alami sebelum-sebelumnya.
"Pas di dalam tahanan itu, aku mikir aku gak bisa kemana-mana lagi. Saya pun dipenjara harus ada uang atau apa segala macam, ya baru aku datang ke Tuhan. Pas aku berdoa malam itu, gak tahu kenapa aku bisa nangis, nangisnya bisa sampe parah banget. Jadi, aku berdoa sambil berlutut, aku minta ampun, minta ampun, menyesal sama Tuhan. Pokoknya disitu aku ngerasain banget ternyata di dalam penjara pun Tuhan ada. Ya, ternyata di dalam sel pun, tempat yang mungkin bagi orang tuh, hina atau apa, di situlah aku bisa ketemu sama Tuhan. Ya penyesalan, apa segala macam, itu keluar dari situ,"
"Aku komitmen untuk berubah. Teman-temanku yang seumuran aku udah mulai kuliah, udah mulai sukses, udah mulai segala macam dan aku baru mulai dengan hidup baru. Jadi kayak telat banget."
Juli 2010, Bram akhirnya keluar dari penjara. Walau sudah berada di luar, tetapi Bram akan selalu ingat dengan tempat tersebut karena dari situlah banyak hal positif yang ia dapatkan untuk bekal kehidupannya di masa yang sekarang ia jalani dan mendatang.
Bram pun bersyukur kepada Tuhan karena lewat pengalaman ditangkap dan berada di sel penjara inilah ia mengalami perubahan di dalam kehidupannya.
"Aku baru ngerti yang namanya hidup harus ngapain, di penjara. Hidup harus punya tujuan. Aku mikir kayak sekolah kehidupan kali di situ. Kalau setiap pagi ini, aku bangun dari tidur, kayak aku terus heran kayak tujuh tahun yang lalu aku masih hidup dalam dunia narkoba, tetapi sekarang ini aku kayak udah bisa lepas dari itu, itu benar-benar thanks God banget deh. Kalau bukan Tuhan, aku bukan siapa-siapa lagi deh. Tuhan hebat, hebat banget. Dia doang yang bisa ngubah hidup aku."
"Pembelajaran yang bisa aku ambil dari kehidupanku yang dulu, pas aku pake narkoba pola pikir kan berantakan dan aku berpikir cara aku cari jati diri dengan pake tato, piercing, pake narkoba, dan saat aku hidup dalam Tuhan ternyata aku baru sadar cara itu salah. Tanpa itu-itu pun hidupku berarti lah," pungkas Fabianus Abraham mengakhiri kesaksiannya.
Sumber Kesaksian :
Fabianus Abraham

sumber : facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar