Selasa, 29 April 2014

KUASA DOA - KESAKSIAN HIDUP


Saya menikah di usia yang tidak lagi muda. Keterlambatan saya menikah disebabkan oleh persepsi yg sedikit keliru tentang pernikahan. Meskipun saya berasal dari keluarga yang pernikahan orang tuanya berbahagia, saya begitu termakan dengan berita yang pernah saya dengar atau baca bahwa kalau kita menikah, kita akan terikat, kehilangan kebebasan, kalau terlambat pulang akan dihadiahi muka masam, dstnya. Kita juga tidak bisa lagi mengejar impian-2 kita sebagai pribadi.

Setelah usia saya menginjak 36 thn, keinginan untuk menikah timbul dengan begitu kuatnya. Setiap kali mengikuti persekutuan doa atau pun kelompok cell family altar, saya sering minta didoakan agar saya diberi jodoh. Saya pernah mendengar seorang pembicara yg mengatakan bahwa kita boleh menyebut kriteria pasangan yang kita inginkan pada saat kita memintanya kepada Tuhan. Saya pun meminta pasangan hidup yang cantik, tinggi, putih, langsing, dstnya tapi tentu saja harus anak Tuhan. Teman-2 saya mengatakan saya berat jodoh karena terlalu pemilih dan kriteria yang saya inginkan terlalu tinggi, "Mana ada orang yang sempurna kata mereka! ". Mungkin juga ada benarnya, tapi saya berprinsip bahwa saya tidak mau berpura-2 mencintai seseorang dan menikahinya hanya karena alasan umur yang sudah senja. 

Tuhan memang maha pemurah, dengan caranya yang ajaib, saya dipertemukan dengan seorang gadis yg masih satu daerah dengan saya dan masih terhitung kerabat. Dia cantik dan putih, hidungnya mancung mesti tidak tinggi langsing seperti yg saya idam-2 kan sebelumnya. Tutur katanya halus dan panjang sabar. Ini cocok untuk mengimbangi saya yang agak temperamental dan cenderung ingin menang sendiri. Kalau kami berselisih paham, sering kali dia yang duluan meminta maaf meskipun sebenarnya saya yang salah. Dengan cara yg sederhana tersebut, dia mengajari saya untuk tidak lagi gengsi untuk meminta maaf. Selanjutnya saya meminta tanda dari Tuhan, bahwa apabila hubungan kami disetujui semua keluarga besar kami meskipun usia kami terpaut 15 tahun, berarti dia adalah jodoh yg Tuhan pilihkan buat saya. Saya menggumulkna hal ini berulang-ulang dalam doa. Benar, Tuhan turut campur tangan sehingga semua urusan peminangan secara adat berjalan dengan lancar meski calon mertua saya belum pernah melihat dan mengenal saya secara langsung karena saya sudah meninggalkan kampong halaman saya selama 22 tahun. Kalau bukan karena pertolongan Tuhan, mana mungkin ada keluarga yang mau menyerahkan anak gadisnya kepada orang yg belum pernah mereka lihat apalagi mengenal wataknya. Keluarga besar kami memang saling mengenal dengan baik karena masih ada hubungan kerabat, mereka bisa memaklumi ketidak pulangan saya selama urusan adat karena saya terikat pekerjaan. Kami akhirnya menikah di Sumba, daerah asal kami pada tanggal 10 October 2004. Setelah menikah, dia pindah mengikuti saya yang tinggal dan bekerja di Tangerang. Saya berusia jalan 39 tahun pada saat itu dan isteri saya berusia jalan 24 tahun 

Mengingat usia saya yang tidak lagi muda, kami sepakat untuk langsung mempunyai anak begitu selesai menikah. Kami bergumul meminta sama Tuhan dan juga rajin bertanya pada teman-2 yang sudah terlebih dahulu mempunya anak. Setelah kosong tiga bulan, Tuhan menjawab doa kami dan isteri saya dinyatakan positif hamil. Kami tinggal didaerah Pasar Kemis yg jalanannya hampir selalu macet. Kalau mau periksa ke rumah sakit Siloam - Tangerang, harus lewat jalan belakang dan lewat tol Kedaton sehingga jarak perjalanannya menjadi 3x lipat. Karena isteri saya juga sering mual-2 di awal kehamilannya dan juga terkadang suka mabuk perjalanan, akhirnya kami memutuskan untuk periksa ke klinik Bunda Sejati yang tidak begitu jauh dari rumah. Kami dapat info dari teman gereja yang pernah melahirkan di sana bahwa pada hari-2 tertentu, ada dokter spesialis anak dari RS Harapan Kita yang praktek disana dan fasilitasnya juga cukup lengkap. Ada alat USG dan ada dua kamar VIP yang cukup representatif di klinik tsb. Kedua ruangan ini hampir selalu kosong setiap kali kami pergi periksa ke klinik tsb. Mungkin tarifnya terlalu mahal bagi mayoritas karyawan pabrik di daerah sekitar Pasar Kemis. Kami rajin konsultasi dengan Dokter spesialis kandungan dan mengikuti semua saran dokter agar kehamilan isteri saya berjalan lancar dan sehat. Kami juga terus berdoa agar anak kami lahir secara normal dan juga dengan anggota tubuh yang lengkap, terhindar dari segala bentuk kelainan dan cacat bawaan. Setiap kali kami konsulatasi, Dokter selalu memberikan diagnosa yang positif bahwa si ibu dan calon bayinya sehat-2 saja, tidak ada kelainan apa-2. Pada saat usia kandungan sudah 6 bulan, dengan berdasarkan hasil USG, Dokter memperkirakan anak kami laki-2. Betapa bahagianya saya dan isteri karena kami dari etnis Sumba yang patrilineal alias hanya anak laki-2 yang bisa meneruskan nama keluarga. Dokter memprediksi kelahiran akan terjadi pada sekitar minggu kedua bulan October.

Pada tanggal 27 September pagi, istri saya mulai merasakan kontraksi dan sedikit mules. Para ibu tetangga yg sudah mempunyai anak dan juga tante kami yang datang dari sumba untuk menolong proses melahirkan isteri saya mengatakan bahwa kelahiran akan terjadi paling lambat keesokan harinya. Sepulang kantor pada sekitar jam 7 malam saya membawa isteri saya ke klinik Bunda Sejati, rencananya kami mau mulai mondok saja malam itu. Betapa kagetnya kami karena kedua ruangan VIP yang biasanya kosong itu kedua-duanya terpakai. Belakangan baru saya pahami bahwa digunakannya kedua ruangan VIP tersebut bukan suatu kebetulan tapi karena Tuhan menginginkan kami pergi ke RS yang lebih lengkap fasilitasnya. Akhirnya saya memutuskan untuk ke RS Sari Asih karena dokter kandungan yg menangani isteri saya juga punya jadwal praktek disana meski saya tidak terlalu paham reputasi rumah sakit tersebut. Kami khawatir untuk ganti dokter karena takut dokter baru itu tidak mengetahui riwayat kehamilan isteri saya. Setelah melalui proses yang panjang pada malam itu akhirnya isteri saya melahirkan seorang bayi laki-2 secara normal pada tanggal 28 September 2005 jam 06.35 WIB. Saya sebenarnya fobia melihat darah tapi demi menguatkan isteri, saya turut memaksakan diri berdiri disamping tempat tidur untuk memberi dorongan semangat kepada isteri saya ketika dia berjuang bertaruh nyawa melahirkan bayi kami. Itulah sebabnya begitu anak kami lahir, saya langsung lari keluar supaya tidak melihat darah yang banyak itu. Betapa leganya hati ini, akhirnya saya menjadi seorang bapak. Saya kemudian sibuk menelpon dan mengirim sms menyampaikan kabar gembira ini kepada semua kerabat dan teman-2. 

Lebih kurang setengah jam setelah anak saya selesai dibersihkan dan diperiksa, Saya dipanggil ke ruangan khusus. Hati saya berdebar-2 ketika seorang suster meminta saya menemui Dokter di ruangannya, jangan-2 anak saya ada kelainan. Benar dugaan saya, ternyata anak saya tidak mempunyai lubang anus. Di daerah yg seharusnya ada lubang anus, ada semacam daging tumbuh yang sedikit menonjol. Dokter menjelaskan bahwa anak saya harus dirawat di ruang perinatologi karena ada kelainan. Dia akan dirontgen dan diperiksa oleh dokter bedah untuk menentukan apakah bisa langsung dioperasi untuk dibuatkan dubur ataukan harus dibuatkan lubang pembuangan sementara didaerah perutnya. Operasi pembuatan lubang pembuangan di perut namanya "Collestomi" dan harus melalui 3 tahapan operasi baru bisa mempunyai lubang anus dipantat. Tahap pertama dibuatkan lubang pembuangan sementara di perut. Tahap kedua, setelah si bayi cukup besar, akan dibuatkan lubang anus. Tahap ketiga atau terakhir adalah penutupan Collestomi di perut dan penyambungan anus dengan ususnya. Membayangkan bayi sekecil itu harus mengalami operasi berulang-2, batin saya menjerit! Saya bertanya-2, "Tuhan! Saya rajin berdoa, setia ke gereja, rajin ikut FA dan PD kantor bahkan menjadi pengurus, pernah mengajar sekolah minggu, pernah menjadi ketua Pemuda di gereja, pernah menjadi majelis, kenapa saya harus diuji seberat ini? Kalau saya memang bersalah, kenapa anak saya yang dihukum! Bukankah semasa ia masih dalam kandungan, tidak putus-2nya kami berdoa agar dia terhindar dari segala bentuk kelainan? Bukankah Tuhan berjanji kalau dua seorang sehati sepakat meminta maka Tuhan akan menjawab mereka ( Mat 18: 19)". Hal ini menjadi semakin berat karena hal tsb harus saya pikul sendirian, saya tidak tega menyampaikannya kepada isteri saya yang masih meringis menahan rasa sakit bekas persalinan. Belum lagi membayangkan anak saya harus puasa 18 jam sebelum di rontgen dan membayangkan tajamnya jarum suntik yang ditusukkan ke tubuh mungilnya untuk pengambilan darah guna pemeriksaan laboratorium. Untuk mendapat dukungan kekuatan, saya mengirim sms dan juga menelpon beberapa saudara seiman. Balasan SMS dan telpon dari mereka cukup menguatkan saya. Ada yang mengatakan, "Tuhan pasti punya maksud atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita". Ada yang mengutip ayat Alkitab yang mengatakan bahwa pencobaan-2 yg kita alami hanyalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Apabila Dia mengijinkan pencobaan itu datang, Dia akan memberi kekuatan sehingga kita cakap menanggungnya. Saya sangat bersyukur dengan kata-2 yang menguatkan dari saudara-2 seiman. Saya baru memberitahukan isteri saya mengenai keadaan anak kami pada jam 6 sore setelah keadaannya cukup stabil. Melihat isteri saya menangis sambil menahan rasa sakit merupakan siksaan tersendiri lagi buat saya.

Beruntung saya tidak tenggelam dalam kesedihan. Saya menghardik diri saya sendiri untuk membangunkan iman saya. Dengan dibantu adik saya perempuan, kami berdoa sepanjang hari itu, bergumul meminta belas kasihan Tuhan supaya anak saya bisa langsung dibuatkan anus tanpa melalui pembuatan collestomi. Saya berkata, "Tuhan Yesus, Engkau tetap sama baik 2000 tahun yg lalu maupun sekarang bahkan sampai selama-2 nya. Saya percaya Engkau tetap mampu melakukan mujizat buat anak saya, Kalau dia tidak ada usus, buat ada ususnya sekarang!". Saya terus berdoa ketika anak saya harus masuk ke ruang radiolaogi untuk dirontgen pada jam 12 malam hari itu. Saya tidak bisa tidur sepanjang malam itu, pagi-2 benar saya sudah ke ruangan dokter menanyakan hasil rontgen anak saya. Puji Tuhan, Tuhan Yesus maha baik, anak saya ada ususnya. Dia hanya perlu operasi pembuatan lubang anus. Saya percaya ini merupakan jawaban Tuhan atas seruan kami memohon pertolongan. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, air mata ucapan terima kasih bergulir di kedua belah pipi saya. Begitu keluar ruangan dokter, dengan air mata masih menggenang di pelupuk mata saya menyenandungkan lagu: 

SMUA BAIK SMUA BAIK
SEGALA YANG TLAH KAU PERBUAT 
DIDALAM HIDUPKU
SMUA BAIK 
SUNGGUH TERAMAT BAIK
KAU JADIKAN HIDUPKU BERARTI.

Pergumulan selanjutnya adalah mencari jadwal operasi yang pas buat anak saya. Meski saya menginginkan agar operasi dilakukan hari itu juga, tanggah 29 September 2005, ini bukan persoalan yang mudah karena Dokter ahli bedah spesialis bayi yang baru lahir hanya beberapa orang jumlahnya di Indonesia. Yang punya dokter ahli tersebut hanya RSCM dan RS Harapan Kita. Dokter-2 yang jumlahnya sedikit inilah yang juga beredar di berbagai rumah sakit swasta atau negeri yang ada di Indonesia sehingga jadwalnya sangat padat. Terlebih lagi hanya ada satu Dokter bedah spesialis anak baru lahir yakni Dokter Sastiyono dari RSCM yang ada hubungan kerja dengan RS Sari Asih sehingga praktis hanya Dr inilah yang bisa diminta untuk mengoperasi anak saya. Menunggu konfirmasi dari RS mengenai persetujuan dari Dr Sastiyono saya rasakan seperti bertahun-2 lamanya. Saya menjadi tidak sabar dan berusaha mencari RS yang lain agar anak saya dirujuk ke sana . Saya mencoba mendatangi rumah sakit Siloam, ternyata dokter untuk masalah seperti anak saya hanya bisa ditemui dengan perjanjian terlebih dahulu dan jadwalnya hanya setiap hari Selasa sedangkan tanggal 29 September adalah hari Kamis .. Saya juga kuatir kalau pindah rumah sakit maka ada kemungkinan anak saya harus memulai dari awal semua proses pengecekan lab dan rontgen karena belum tentu RS baru percaya begitu saja hasil lab dan rontgen dari RS Sari Asih. Mereka juga mempunyai standar prosedur yang berbeda. Sementara kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena anak saya sudah mulai diinfus dan perutnya sudah mulai kembung sebab tidak ada pembuangannya. Akhirnya saya memutuskan untuk focus pada RS Sari Asih saja. Kami sungguh2 berdoa agar Tuhan menggerakkan hati para dokter dan suster dengan belas kasihan supaya anak saya segera dioperasi. Setelah berkali-2 berkonsultasi dengan pihak RS Sari Asih, saya mendapat kepastian bahwa operasi akan dilakukan Jam 3 sore pada tgl 29 September itu juga. Puji Tuhan, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, sudah molor 1 jam dari jadwal operasi tapi anak saya masih belum juga dioperasi. RS beralasan, Dokter Sastiyono kejebak macet orang demo kenaikan BBM. Beberapa kali RS mencoba menghubungi beliau tapi tidak tersambung. Kami tidak putus asa, kami terus berdoa agar Tuhan menuntun Dokter Satiyono ke Tangerang. "Tuhan!, singkirkan semua halangan agar Dokter Sastiyono dapat tiba di Tangerang", pinta kami. Pada jam 6.30 Sore saya baru mendapat kepastian bahwa Dr Sastiyono sedang dalam perjalanan dan operasi pasti akan dilakukan malam itu juga. Sebagaimana prosedur standar RS kalau ada pasien yang akan dioperasi, saya juga diminta menanda tangani sejumlah surat yg menyatakan tidak akan menuntut RS apapun yg menjadi hasil operasi nantinya. Saya juga harus siap membayar tambahan uang muka RS yg tidak murah karena begitu selesai operasi, anak saya harus masuk ruang NICU ( Neonatal Intensive Care Unit ) sampai kondisinya menjadi stabil. Dokter anestasi mengatakan bahwa bayi yg baru lahir organ tubuhnya belum berfungsi dengan normal sehingga sangat rentan terhadap efek anestesi. Hal-2 diluar dugaan sangat mungkin sekali terjadi. Sejujurnya penjelasan Dokter itu membuat saya kuatir dan takut tetapi saya berusaha menguatkan diri. Saya berkata pada Dokter anestesi dan para pembantunya bahwa saya sudah berdoa sehingga saya yakin anak saya akan baik-2 saja. Saya katakan, "Tuhan sendiri akan turut campur tangan mengoperasi anak saya sehingga saya tidak perlu kuatir!". Saya melihat Dokter dan para asistennya yg semuanya muslim menjadi agak terpana, mungkin mereka tidak biasa mendengar kata-2 seperti yang barusan saya ucapkan. Saya bersyukur, dalam kondisi seperti itu, saya masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mempraktekkan kesaksian iman. Sungguh benar, tiada yang mustahil bagi orang percaya.

Saya bertemu Dokter Sastiyono hanya beberapa saat menjelang anak saya dibawa menuju ruang operasi. Saya menduga umurnya sudah diatas 50 tahun. Orangnya tidak banyak bicara tapi saya lihat dia mempunyai percaya diri yang tinggi. Saya semakin yakin anak saya akan baik-2 saja. Anak saya masuk ruang operasi pada sekitar pukul 7.30 WIB. Saya dan adik saya menunggu diluar kamar operasi dengan perasan optimis dengan satu keyakinan bahwa Yesus yang kita sembah jauh lebih besar dari segala masalah kita. 
Proses operasi hanya berlangsung lebih kurang 45 menit. Ketika Dokter Sastiyono keluar ruang operasi, dia mengatakan, "Operasi berjalan lancar, mudah-2an tidak ada apa-2! ". Kami semakin optimis dan tidak henti-2nya mengucap syukur kepada Tuhan.

Kami menjadi tidak sabar untuk segera melihat anak kami keluar ruang operasi. Setiap kali pintu ruang operasi dibuka dengan tidak sabar sabar kami berlari mendekati pintu tersebut. Sudah hampir sepuluh pasien yg didorong keluar dari ruang operasi tapi anak saya bukan salah satu diantaranya. Walau sedikit gelisah, kami masih tetap bersabar, tokh dokter mengatakan, "Operasi berjalan lancar! ". Lebih kurang jam sembilan, berarti anak saya sudah satu setengah jam di ruang operasi, suara pintu ruang operasi kembali berdenyit karena dibuka. Kali ini tidak ada pasien yg didorong keluar, tapi dokter kepala anestesi yg tadi saya temui sebelum operasi mencari saya. Bukannya anak saya yg segera keluar ruang operasi tapi saya yg justru diminta masuk ruang operasi, hati saya berdebar kencang, " Apa yg terjadi dengan anak saya!", saya menjerit dalam hati, pikiran buruk segera hinggap di pikiran saya. Saya dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan setelah terlebih dahulu diminta mencopot sepatu. Dengan sangat hati-2, si dokter menceriterakan kondisi anak saya yg memburuk pasca operasi. Dokter tsb berceriteraa, " Setelah operasi selesai, anak saya tidak bisa bernafas sendiri, dia harus dibantu alat pernapasan. Mereka sudah beberapa kali melakukan tindakan medis tapi tidak ada reaksi sehingga alat bantu pernapasan tidak bisa dilepas". Suhu tubuh bayi normal adalah 36,5 - 37,5 derajad celcius tapi tubuh anak saya suhu tubuhnya drop sampai 34 derajad celcius padahal AC diruang dimana dia dioperasi sudah dimatikan. Mereka berjanji untuk terus berupaya menolong anak saya tapi saya diminta untuk tidak berharap terlalu banyak. Mereka meminta saya mendukung dalam doa dan juga bersikap pasrah.

Saya berjalan keluar ruang operasi dengan perasaan lunglai. Berbagai ketakutan dan bayangan buruk melintas dalam pikiran. Saya bergumam sendiri, " Apakah anak saya akan keluar ruang operasi setelah menjadi jenazah? Apakah saya harus menyiapkan penguburan? Dimankah dia harus dikuburkan? Haruskah dibawa pulang ke Sumba atau dikubur disini saja? ". Air mata saya tidak mampu lagi terbendung.

Untung pada saat kritis tersebut, sekali lagi saya diingatkan akan janji-2 Tuhan Yesus. Daripada berpikir yang bukan-2, lebih baik saya memperkatakan janji Tuhan. Semua janji Tuhan tentang pertolongan saya ucapkan satu per satu untuk membangunkan iman saya. Saya mulai berkata, "Dalam nama Yesus, engkau sembuh dan pulih! Hai maut, engkau sudah dikalahkan, dimanakah sengatmu? Saya mengutip Yoh 10:10, " Tuhan Yesus, Engkau sudah datang supaya anak saya memiliki hidup. "Oleh bilur-bilurMu, anak saya sudah sembuh". " Roh kematian, roh maut, aku ikat, tolak, patah, hancurkan dalam nama Tuhan Yesus". Saya mengutip kitab Roma, "Tuhan, Engkau tidak menyayangkan anakMu sendiri, bagaimanakah mungkin Engkau tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kami bersama-sama dengan Dia, termasuk hidup buat anakku". "Tuhan Yesus, orang yang sudah mati Engkau bangkitkan, yang lumpuh berjalan, yang buta melihat. "Saya percaya, mujizatmu akan berlaku juga untuk anak saya". Saya selingi doa dengan menaikkan beberapa pujian penyembahan antara lain:

........TIADA YANG MUSTAHIL BAGI ORANG PERCAYA .....dst.
.......ALLAH MENGERTI, ALLAH PEDULI.....dst .

Dua setengah jam lamanya saya berdoa dan bergumul dalam doa peperangan. Meski suara saya tercekat dan hampir tidak mampu mengeluarkan suara, saya terus berusaha berdoa dan menaikan pujian dalam derasnya air mata. 

Kira-2 jam 11.30 malam, Dokter anestesi kembali memanggil saya masuk ruangan. Kali ini Dokter itu yang terheran-heran menyaksikan apa yang terjadi dengan anak saya di ruang operasi. Dia mengatakan bahwa apa yg dia lihat diruang operasi benar-2 mujizat. Suhu tubuh anak saya perlahan-2 merambat naik mendekati normal dan tetap stabil meskipun AC dihidupkan kembali. Sistim pernapasannya juga berangsur-2 membaik dengan sendirinya dan alat bantu pernapasan bisa dilepas. Memang masih perlu bantuan oksigen tapi tidak dimasukakkan dengan selang ke dalam hidungnya tapi hanya konsentrasi oksigen disekitar hidungnya saja yang dijaga supaya memudahkan dia memperoleh oksigen. Saya percaya, semua hal yang terjadi diruang operasi seperti disaksikan oleh si dokter adalah karena kuasa doa. Tuhan Yesus sudah menunjukkan kedasyahatannya dengan membuat apa yg tidak masuk akal menurut logika kedokteran menjadi mungkin. Sungguh benar bahwa Tuhan Yesus adalah Dokter diatas segala dokter seperti yang saya saksikan kepada para dokter dan suster ketika saya diminta menanda tangani semua persyaratan sebelum anak saya masuk ruang operasi. 

Jam 11.30 lebih sedikit, tubuh mungil itu didorong keluar ruang operasi menuju bangsal perawatan NICU karena kondisinya masih harus dipantau secara ketat tetapi masa kritisnya sudah lewat. Setelah itu, anak saya masih dirawat di ruang NICU selama 3 malam dan 2 malam di ruang perinatologi. Selama masa perawatan anak kami di rumah sakit, kami menerima banyak sekali perhatian, dukungan doa bahkan bantuan financial dari saudara-saudara seiman. Tanpa diminta, rekan-2 dari perusahaan Sinar Mas Group, perusahaan dimana dulu saya bekerja. mengumpulkan dana secara sukarela untuk membantu kami, padahal saya sudah sepuluh bulan mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Bahkan beberapa rekan sepelayanan dari PD Ekklesia Wisma Indah Kiat menyempatkan diri datang ke rumah sakit untuk berdoa bersama-2 dengan kami memohon pertolongan Tuhan.

Beaya rumah sakit memang tidak sedikit jumlahnya. Satu hal yang kami yakini adalah seperti tertulis dalam Alkitab, "Tuhan tidak akan pernah membiarkan anak-2Nya sampai meminta-minta roti". Dia adalah Allah yang maha menyediakan sehingga semua beaya rumah sakit bisa kami lunasi. Hari Rabu minggu lalu, tanggal 5 Oktober 2005 anak saya sudah boleh pulang. Sekarang anak saya memang masih terus dalam perawatan luka bekas operasi tapi dia sudah terlihat sehat dan lucu. Seperti tradisi orang sumba yang mewariskan nama, dia kami beri nama seperti nama bapak saya, Umbu Hendry Kabubu Tarap ( dipanggil Hendry ). Jadi secara biologis dia anak saya tapi secara nama dia adalah bapak saya. Inilah tradisi orang sumba yang unik. Hendry merupakan kado satu tahun perkawinan kami pada tanggal 10 October 2005 ini. Suatu kado dari Tuhan yang tidak ternilai harganya. 

Kesimpulan:
1. Ada satu perikop dalam Alkitab ( saya lupa kitabnya ), ketika ada orang yang bertanya kepada Tuhan Yesus, siapakah yang berdosa, sehingga orang yg ada dihapan mereka pada saat itu lahir dalam keadaan cacat. Tuhan Yesus menjawab, "Bukan salah salah orang tuanya dan bukan juga salah siapa-2 tetapi karena dengan demikian kemuliaan Tuhan dinyatakan". Demikian pula saya mengimani bahwa Tuhan mengijinkan anak saya lahir dengan cacat kecil supaya lewat perkara ini, kami bisa bersaksi tentang kebaikan dan kemurahan Tuhan 

2. Meski saya tidak pandai menulis, saya memutuskan untuk menulis kesaksian ini supaya siapa pun yang sempat membaca tulisan ini bisa melihat bahwa doa yang dinaikkan sungguh-2 sangat besar kuasanya sebagaimana telah difirmankan oleh Tuhan Yesus. Dia yang berjanji adalah Allah yang hidup dan berkuasa sehingga kita boleh yakin bahwa tidak ada yang mustahil bagi Dia . Tuhan Yesus, Allah yang kita sembah sungguh dasyhat dan luar biasa. Mengiring Tuhan Yesus tidak berarti terbebas dari masalah, tapi Tuhan Yesus berjanji memberikan jalan keluar bagi setiap masalah yang kita hadapi. 

Jakarta, 10 October 2005
Umbu Hunga Meha Tarap
Juwita Rambu Ngana
Umbu Hendry Kabubu Tarap

Sumber : houseofpeace-mtp.blogspot.com

1 komentar:

  1. Puji Tuhan. Terima kasih atas kesaksiannya, sungguh menguatkan & menambah iman yg membacanya. Tuhan ajaib & luar biasa !

    BalasHapus