Senin, 12 Mei 2014

KESABARAN MENIMBULKAN PENGHARAPAN SEJATI

21 September 2010 pukul 23:29
Saya adalah seorang remaja berusia 18 tahun, anak terakhir dari lima bersaudara. Tahun 2007 lalu adalah tahun ketiga saya hidup mandiri, jauh dari orangtua serta saudara-saudara karena alasan menempuh pendidikan. Selama tiga tahun tersebut, banyak pengalaman, baik suka dan duka, mewarnai perjalanan hidup saya. Berikut ini adalah salah satunya.

Apabila sedang sakit, biasanya saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar kesembuhan itu terjadi dalam diri saya. Karena keterbatasan biaya bulanan yang dikirimkan oleh orangtua. Bahkan untuk sekadar sarapan seadanya sebelum berangkat ke sekolah pun, saya terpaksa hanya bisa mengisi perut dengan minum air putih. Uang saku saya sangat terbatas, hanya cukup untuk biaya transport.

Dari keadaan itu, saya belajar hidup sederhana dan apa adanya. Saya mengerti benar bahwa saya harus terus mengarahkan pandangan kepada tujuan yang ingin saya capai, yaitu menjadi orang sukses. Berharap bisa menjadi seorang anak yang dapat membanggakan orangtua atas keberhasilan hidup yang diperoleh dengan usaha mandiri, suatu saat nanti.

Melanjutkan Pendidikan di SMA
 Bulan Februari 2007 lalu, saat saya masih kelas 3 SMP di Nunukan, sekolah saya mengadakan presentasi tentang sebuah sekolah yang ada di daerah Samarinda. Presentasi itu dibawakan oleh dua orang wakil dari SMA tersebut yang menceritakan banyak hal mengenai sekolah tersebut. Mereka menceritakan tentang keadaan proses belajar-mengajar, keadaan sekolah dengan asrama yang ada di dalamnya, serta keistimewaan sekolah tersebut daripada sekolah lainnya. Namun tidak setiap murid dapat masuk dan menjadi siswa di sana. Ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain harus berprestasi dengan standar nilai yang telah ditetapkan sebagai persyaratan minimal adalah 7,0.

Setelah presentasi usai, mereka mengajukan beberapa formulir pendaftaran kepada kami seraya berkata, “Jika ada yang berminat bisa mendaftar.” Ketika itu, hati saya tergerak untuk turut mendaftar. Saya mengambil sebuah formulir lalu mengisinya. Formulir yang sudah diisi harus dilampiri dengan fotokopi nilai raport dari kelas I sampai kelas III semester 1 sebagai persyaratan sebelum diserahkan kembali. Beberapa saat sebelum menyerahkan formulir itu, terlebih dahulu saya membawanya kepada Tuhan di dalam doa. Saya berdoa supaya apa yang saya rencanakan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya yang sempurna.

Sempat Putus Asa
 Sebulan kemudian, tepatnya pada awal Maret, pengumuman siswa yang terpilih untuk bisa melanjutkan di sekolah plus tersebut sudah dikeluarkan. Dari sekian banyak siswa yang mendaftar di sekolah tersebut, hanya ada 280 siswa yang akan diterima. Dalam hati, saya memiliki keyakinan bahwa nama saya adalah salah satu yang tercantum di sana. Tetapi, sebelum melihat hasil pengumuman tersebut saya berdoa kepada Tuhan. “Ya Tuhan, sebentar lagi saya akan melihat pengumuman, dan semuanya saya mau serahkan ke dalam tangan-Mu. Biarlah semua ini terjadi sesuai dengan kehendak-Mu saja,¨ demikian isi doa saya. Puji Tuhan, nama saya ada di sana!

Hari itu, saya merasakan sukacita yang begitu besar karena termasuk siswa yang diterima. Sampai akhirnya tiba sebuah surat dari sekolah tersebut beberapa minggu kemudian. Isinya menerangkan mengenai biaya yang dibutuhkan untuk bisa bersekolah di sana. Sukacita saya langsung berubah menjadi kesedihan, karena biaya yang diperlukan ternyata sangat besar dan di luar kemampuan ekonomi orangtua saya.

Malam harinya, saya berdoa kepada Tuhan memohon agar diberikan ketenangan dan hikmat untuk menerima kenyataan ini. Beberapa waktu kemudian, saya pun menghubungi orangtua untuk memberitahukan bahwa saya berhasil diterima di sekolah plus tersebut dan mereka sangat senang dan bangga. Tetapi, kekecewaan sempat masuk ke dalam hati saya ketika mereka mendengar mengenai besarnya biaya yang diperlukan, mereka menjadi berat hati untuk mengiyakan. Saat mendengar keputusan orangtua, saya sempat menangis. Saya pun kembali membawanya kepada Tuhan di dalam doa, sambil berseru, “Oh, Tuhan, cobaan apa lagi yang harus saya hadapi?”

Terus terang, keadaan itu membuat saya bingung harus bagaimana lagi, tetapi Tuhan itu baik, dan Dia mendengarkan doa saya. Padahal saya merasa kalau selama ini selalu hidup dalam dosa. Tetapi di sisi lain, saya percaya kalau Tuhan datang bukan untuk orang benar melainkan untuk orang berdosa seperti saya. Hari demi hari saya habiskan untuk selalu berpikir bagaimana caranya bisa mengatasi masalah ini. Lalu saya berdoa kepada Tuhan agar Dia mau menolong dan memberi jalan keluar untuk masalah ini.

Ternyata, Tuhan tidak pernah meninggalkan saya bergumul seorang diri. Akhirnya saya mendapat ide, walaupun itu sangat sulit, tetapi saya harap dapat berhasil nantinya. Saya mendapat informasi bahwa siswa kurang mampu bisa dibantu oleh pemerintah. Tetapi saya juga sempat bersedih karena ada info lain dari teman yang mengatakan bahwa siswa seperti saya kemungkinan tidak bisa dibantu, karena bukan sekolah yang mengajukan permohonan tersebut. Namun, puji Tuhan, melalui seorang sahabat yang Tuhan berikan untuk senantiasa memberikan semangat kepada saya, ditambah dengan keyakinan bahwa Tuhan pun akan menolong, maka saya pun akhirnya tetapi mengajukan permohonan bantuan kepada Bapak Kasmir, Wakil Bupati.

Tidak lama, saya memutuskan untuk pergi ke rumah pak Kasmir, yang jaraknya sekitar 25 km dari tempat tinggal saya. Namun ternyata hari itu saya tidak berhasil menemui beliau. Keesokan harinya, saya mencoba menemuinya di kantornya, tetapi kembali gagal karena beliau sudah pulang. Keesokan harinya, saya mencoba pergi ke rumahnya, dan tetap tidak dapat menemuinya. Sempat timbul kekecewaan di hati, tetapi saya tidak menyerah.

Beberapa waktu kemudian, saya mencoba lagi. Dalam hati saya berkata bahwa apabila kali ini pun saya masih tidak bisa bertemu beliau, maka pupuslah harapan saya untuk mendapatkan bantuan. Saya memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Ternyata, Tuhan kali ini mengizinkan saya bertemu beliau. Bahkan, di sana saya langsung diizinkan untuk menemui beliau.

Begitu diminta untuk masuk ke dalam rumahnya, saya pun segera menceritakan tujuan utama saya datang ke rumahnya untuk menemui beliau. Ternyata, semua berjalan sesuai harapan, dan beliau bersedia menolong. Tak hanya itu, pak Kasmir bahkan menolong saya dengan dana pribadinya, dan bukan dari dana atau kas pemerintah. Saya berhutang budi kepada beliau, tetapi saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan biarlah kebaikan beliau akan terbalas.

Setelah mengalami serangkaian peristiwa tersebut, saya semakin merasakan bahwa Tuhan sangat baik. “Tuhan, kepada-Mu saya serahkan semuanya. Biarlah Engkau senantiasa menjadi sahabat sejatiku dalam suka dan duka,” demikianlah doa saya.

Hal terakhir yang mau saya bagikan adalah, ketika menghadapi masalah, percayalah bahwa Tuhan senantiasa ada bersama kita untuk mengatasi masalah tersebut. Bersabarlah karena dengan itulah kita bisa tetap teguh dalam masa-masa penderitaan. Percayalah bahwa kita sebagai seorang anak yang empunya kerajaan Allah, seperti ada tertulis, “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” (Lukas. 18:16).

YESUS KRISTUS mengasihi Anda..

sumber : facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar