Senin, 28 Juli 2014

KISAH NYATA DOKTER ANGKUH YANG BERTOBAT KARENA PENYAKIT



Aku adalah seorang dokter dengan karir yang sukses dan menjanjikan. Kehidupan terasa makin lengkap saat aku dan pacarku akhirnya bisa membeli rumah idaman. Semua memang indah, kecuali satu hal.

Hubungan antara aku dan pacarku seringkali diwarnai percekcokan. Asal tahu saja, kami berdua berbeda keyakinan. Tampaknya sulit bagi kami untuk saling menghargai perbedaan. Berdebat dan berdebat, itulah yang sering kami lakukan. Tetapi karena sifatku yang lebih dominan, biasanya pacarku mengalah dan mengikuti keputusanku.

Memang ibuku sering berkata, "Ingat ya, Nak, terang dan gelap itu tidak bisa bersatu." Tetapi bagiku dia adalah pria yang terbaik. Aku bisa menentukan masa depanku sendiri.

Ambisius dan pekerja keras, itulah sifat yang membuatku tidak kenal lelah mencari pemasukan tambahan. Demi membangun masa depan, aku rasa sah-sah saja kalau harus jaga malam di rumah sakit sampai larut malam atau berkecimpung dalam bisnis lainnya.

Sampai suatu hari aku divonis dokter bahwa di rahangku ada kista. Tetapi bagiku itu bukan perkara yang harus dibesat-besarkan, toh suatu hari nanti juga sembuh.

Kembali ke pacar yang kucintai. Satu hal yang tidak pernah aku duga darinya ialah, bahwa dia berselingkuh dengan wanita lain. Teganya dia melakukan hal itu padaku. Perselingkuhannya terbongkar setelah aku menyelidiki nomor misterius yang sering dia sms-i kata-kata mesra.

Sungguh mengecewakan. Tapi, apa boleh buat. Aku harus tetap melangkah menapaki kehidupan ini, meskipun tanpa dia.

****

Suatu kali, aku merasakan sakit di bagian leher yang teramat sangat, membuatku tidak bisa berdiri. Untuk bangun, saya perlu perjuangan yang sangat besar. Keringat mengucur. Meskipun begitu, aku harus bekerja.

Seorang teman di rumah sakit menganjurkan agar aku melakukan tes MRI. Pasalnya, dia melihat bahwa posisi tubuhku semakin miring. Leherku tidak bisa berdiri tegak, dan selalu terjuntai ke bawah. Setelah tes MRI aku jalani, didapati hasil bahwa 2 ruas tulang belakang saya hilang.

Saya takut. Saya tahu bahwa operasi ini akan memakan banyak biaya, sekitar Rp 250 – 300 juta. Puji Tuhan, saya dipertemukan dengan dokter yang tepat, dan biaya yang dikeluarkan pun persis dengan jumlah tabungan yang saya miliki pada saat itu. Sebuah pen dipasang pada leher saya, dan saya harus memakainya seumur hidup. Operasi dinyatakan berhasil.

Berdasarkan ilmu kedokteran yang saya ketahui, saya tinggal menunggu 3 bulan untuk bisa pulih dan bekerja kembali. Leher saya akan kembali lurus.

Namun itu hanya fakta di atas kertas. Kenyataannya, leherku tetap sakit. Aku tidak bisa bangun, untuk duduk saja susah. Dokter yang menangani pun heran mengapa ini bisa terjadi, padahal pemasangan pen di tulangku sudah tepat.

Di momen itulah aku hanya bisa terkapar di tempat tidur dalam keadaan tak berdaya. Siapa atau apa lagi yang bisa diandalkan? Mengandalkan pikiran, tidak sanggup. Uang, buat apa? Saya benar-benar hanya bisa berharap dan bersandar kepada Tuhan.

Saya mulai merenungkan semua yang telah terjadi dalam kehidupan ini. Hubungan dengan pacar yang kandas dan penyakit kista yang menyerang leherku adalah dua tragedi hidup yang tidak kupahami.

Di tengah masa-masa suram, aku menemukan sebuah ayat Kitab Suci yang menguatkan. "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang." (Ibrani 12:5-8)

Aku rupanya sedang dibentuk menjadi anak-Nya yang berkualitas. Selama ini, saya pikir logika saya yang paling benar. Namun Tuhan hancurkan semua itu supaya pikir saya bergantung hanya kepada Tuhan.

Momen penyakit penuh derita ini juga merupakan kesempatanku untuk melihat kasih sayang seorang ibu. Saat aku sakit, Mama datang dari Bandung dan merawatku dengan penuh dedikasi. Aku terharu. Sebenarnya aku adalah anak yang arogan. Aku selalu merasa diriku yang paling benar.

Kini, aku melihat kuasa Tuhan bekerja dalam hidupku melalui semua yang kualami. Leherku berangsur-angsur pulih kembali. Saya bersyukur bahwa Dia menyempatkan waktu untuk memproses saya secara maksimal dan personal. Rupanya ada hikmah di balik semua derita.

Sumber Kesaksian:

Hwenty Widjaja    (www.facebook.com/KesaksianMujizatYesusKristus)

Kamis, 24 Juli 2014

KESAKSIAN IBU OEI KIAT NIO "TIGA KALI MELIHAT RUMAHKU DI SURGA"

Kesaksian Ibu Oei Kiat Nio
Saya sudah membeli peti mati dan suami saya meminta agar dicat warna jambu. Peti tersebut sudah ada orang Cirebon yang membuat dengan tutup kaca yang indah. Bunga-bunga hiasan sudah ditaruh didalam peti. Semua perlengkapan sudah berdatangn dan lengkap. Foto besar dan nyanyian untuk kebaktian penghiburanpun sudah siap. Bahkan kartu ucapan terima kasihpun sudah tercetak. Semua orang yang harus dihubungi sudah saya catat baik alamat maupun nomor telpon.


Dari cerita yang saudara baca, maka kita akan memiliki gambaran bagaimana seorang ibu Oei Kiat Nio, sangat siap untuk, dibawa pulang ke surga. Dari buku kumpulan kesaksian perjalan ke sorga, maka saya ingin menulis kisah yang ajaib, yang di alami oleh Istri Ev. Drg. Yusak Tjipto Purnomo, yang telah mendampingi suaminya. Sampai sekarang telah menjadi oma.

Mendapat Mimpi

Kisah ini dimulai ketika, waktu saya sedang di uji Tuhan, tepatnya waktu saya mau dipanggil pulang oleh Tuhan ke surga. Pergumulan ini berawal ketika pada tanggal 7 januari 1989, anakku Iin lewat suratnya mengabarkan bahwa dia sudah tiga kali berturut-turut bermimpi bahwa saya akan di panggil pulang oleh Tuhan.

Secara berurutan dalam mimpi itu anakku Iin melihat saya sakit parah, kemudian saya sudah mati dan suami saya mengatakan bahwa saya segera berangkat ke surga. Kemudian anak saya terus menceritakan kepada saya, dia terus berdoa dan berngumul apakah mimpi itu benar-benar pernyataan dari Tuhan atau bukan. Setelah mendapat penyataan-penyataan itu, dia segera memberitahukan kami, agar cepat-cepat memberikan kabar dan bila perlu melalui interlokal agar lebih cepat, sebab dia penasaran sekali.

Namun sebelum itu anakku Iin minta kepada Tuhan, bila memang sudah waktunya saya di panggil pulang Tuhan, maka Iin akan pulang ke Bandung (sebab lin sekolah di DeIf -Belanda) dan ia ingin bertemu dahulu untuk bersenang-senang terlebih dahulu dengan saya. Kami sekeluarga berdoa dan bergumul baik secara bersama-sama, perorangan dan masing-masing meminta tanda sendiri-sendiri pada Tuhan.

Minta petunjuk Tuhan
Saya sendiri berdoa, "Tuhan, kalau ini memang pernyataanmu, tolong tunjukkan rumah saya di sorga." Dan malam itu saya bermimpi melihat sebuah rumah yang kosong belum berpenghuni, tidak begitu besar tetapi memiliki pekarangan luas sekali dengan banyak tanaman bunga-bunga. Namun bunga-bunga itu masih pada kuncup. Juga terdapat pepohonan buah-buahan. Tempat duduk di taman itu terbuat dari batu marmer hitam mengkilap, jalannya juga dari marmer. Saya menyangka itu rumah orang kaya di sorga.

Kebun rumah itu begitu luas, teratur, bahkan bersih dan sangat indah. Misalnya ada sebuah pohon mangga yang di bawahnya dikitari tanaman bunga aneka warna. Demikian tanaman lain berderet rapi menurut jenisnya dan dalam keadaan segar tidak ada daun yang kering. Memang saya mengidam-idamkan memiliki kebun besar seperti itu. Saya waktu mimpi itu tidak menyadari bahwa kelak kebun itu adalah rumah saya.

Ketika saya ingin melihat keadaan rumah itu dari dekat, ternyata ada tetangga yang memakai baju jubah putih melambaikan tangan dan memberikan senyuman ramah sekali. Saya masuk ke rumah itu dari pintu dapur dan perabotannya belum begitu penuh, agak kosong, setelah itu saya terbangun dari mimpi saya.

Karena masing-masing sudah mendapatkan pernyataan sendiri-sendiri maka saya merayakan hari ulang tahun saya sekaligus perpisahan pada tanggal 18 Februari 1989. lin kami undang untuk pulang, saudarasaudara kandung dan saudara-saudara seiman kami undang juga. Pak Yusak berkhotbah sendiri dan is menguraikan segala pernyataan-pernyataan dan pergumulan keluarga kami.

Ia membawakan firman dari Kejadian 22 mengenai kepercayaan Abraham diuji oleh Tuhan. Kami sekeluarga menyanyi sambil diiringi anak-anak sendiri.

Saya mulai sakit
Pada tanggal 20 Maret - 18 April 1989 kami diundang untuk melayani di Sydney, Australia. Pak Yusak melayani di RC Keluarga Bahagia sedang saya melayani kaum ibu dan Daniel Alexander melayani kaum muda. Pada hari terakhir tinggal kesaksian, saya sudah tidak kuat lagi. Pagipagi jam 06.00 saya minta dipulangkan ke rumah adik. Kepala saya terasa pusing sekali seperti banyak jarum yang menusuk. Keadaan udara di daerah RC di pegunungan sangat dingin karena kebetulan sudah musim dingin, maka di rumah dipasang mesin penghangat. Waktu itu pembuluh darah saya sudah mulai pecah.

Pada seluruh badan tiba-tiba muncul bintik-bintik merah seperti demam berdarah. Mata saya buram seperti tertutup selaput. Menurut suami saya, mata saya merah tertutup darah. Suami jadi sibuk menggantikan pakaian saya, sebab peluh telah berubah jadi darah. Baru diganti, setelah seperempat jam sudah basah dengan darah lagi, sehingga harus diganti lagi. Saya jadi teringat akan sejarah Tuhan Yesus di taman Getsemani, "Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nyajuga mengikuti Dia. Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: "Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan." Kemudian Ia menjauhkan din i dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kataNya: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendakMulah yang terjadi.

" Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguhsungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Lalu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita. Kata-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan." (Lukas 22:39-46)

Di Getsemani Tuhan Yesus berdoa, bergumul, membayangkan penderitaan yang akan ditanggung-Nya, via Dolorosa - sampai Yesus mati di kayu salib. Untuk menebus dosa saya dan saudara juga dosa seluruh isi dunia. Betapa beratnya, betapa sakitnya, sampai Yesus sangat ketakutan dan pembuluh-pembuluh rambut-Nya pecah, maka peluh-Nya bercampur dengan darah - yang bertetesan ke tanah.

Memang darah benar-benar keluar. Itu adalah darah betul, seperti sewaktu saya sakit di Sydney, pembuluh rambut darah saya pecah, seluruh tubuh seperti ditusuk jarum. Rasanya pedih, perih dan kemudian mengeluarkan darah. Rasanya sakit sekali, tetapi saya yakin apa yang dirasakan Yesus jauh lebih berat, sebab saya hanya tiduran dan masih dikelilingi orang-orang yang mengasihi saya.

Menurut dokter penyakit ini jarang didapat. Di antara sepuluh ribu orang baru satu yang pernah terserang penyakit seperti itu. Namanya pengeroposan di pembuluh darah. Tidak ada obatnya. Untuk memperpanjang hidup harus dengan transfusi darah terus. Tidak boleh marah, tidak boleh olah raga, jadi harus istirahat total. Mencegah peredaran darah jangan terlampau cepat, kencang jalannya sehingga dapat menembus dinding pembuluh darah.

Pada saat itu suami saya sempat bertanya pada Garuda Indonesia berapa ongkosnya apabila membawa jenasah ke Indonesia. Mereka menjawab AUSD $ 4,000, tapi prosedurnya sangat sulit karena harus ada visum dari dokter, polisi dan Kedutaan Indonesia dan sebagainya.

Orang yang melihat saya sudah tidak tahan, suami, adik, saudara dan saudari seiman, sedangkan Tuhan Yesus harus menanggung sendiri, ditinggalkan oleh ibu, bapak, saudara dan murid-murid-Nya. Selama tiga hari, antara sadar dan tidak sadar saya sepertinya berbicara sebentar kepada suami saya yang dengan penuh kasih menunggui dan mendoakan terus. Saya mendengarkan puji-pujian, kemudian saya merasakan seperti sedang diajak jalan-jalan ke dunia maut.

Diperlihatkan Neraka
Saya merasa kasihan sekali dengan mereka yang berada di alam maut (Hades) itu. Saya melihat laut, airnya deras sekali, di dalamnya banyak manusia, tua dan muda, perempuan dan laki-laki meminta tolong. Saya ingin agar saya dapat meraih mereka, ingin saya tolong. Tetapi di pinggirnya ada seorang wanita cantik, bergaun panjang, merentangkan tangannya, untuk menghalang-halangi saya, matanya begitu tajam dan begitu marahnya melihat saya.

Kemudian saya melihat kuil-kuil seperti di Bali. Para, imamnya memakai jubah putih. Saya berniat menolong manusia-manusia yang diikat dan akan dipersembahkan tetapi saya tidak bisa. Kemudian saya melihat sebuah pohon besar yang tua di tengah jalan, saya tengking dalam nama Yesus agar minggir dari hadapan saya. Pohon itu terbelah menjadi dua dan dari dalamnya keluar seorang tua, bungkuk, jenggotnya sampai di tanah. Masih banyak lagi yang saya lihat namun saya tidak bisa menceritakan satu persatu. Karena saya merasa itu mengerikan, menakutkan, dan kasihan.

Setelah saya lelah, saya berkata kepada Tuhan "Tuhan saya lelah melihat yang seperti itu, saya sekarang ingin melihat yang indah."

Diperlihatkan Surga
Tak lama kemudian pemandangan menjadi berubah. Terlihat taman yang memiliki hamparan rumput hijau dan di tengah-tengahnya ada sebuah bangku putih yang terbalut bulu putih lembut sekali. Bulunya melambailambai, seolah-olah mengundang saya untuk duduk di atasnya. Saya duduk di atasnya dan sangat menyenangkan duduk di situ. Ketika itu saya melihat anak-anak memakai baju putih sedang menari-nari seolah-olah terbang. Saya meniru gerakan anak itu. Ternyata tambah lama tubuh saya terasa semakin ringan dan saya dapat terbang turun naik. Saya merasakan kedamaian dan ketenangan di dalam hati saya. Suasananya seperti siang tetapi tidak panas.

Saya baru bertanya di dalam hati, di mana ruang untuk memuji Tuhan. Tiba-tiba saya sudah berpindah dari tempat itu. Saya masuk ke ruang yang luas sekali di depan sana yang jauh jaraknya. Saya melihat Tuhan duduk di tahta-Nya dengan penuh kemuliaan bercahaya sekali sehingga saya tidak dapat melihat wajah-Nya. Di kanan berdiri enam orang, di kiri juga enam orang memakai jubah putih panjang. Mereka adalah para Rasul. Kemudian orang yang menyembah Dia berlutut kemudian tegak berdiri dan menyembah lagi sambil berkata: "suci...suci...suci..." kemudian di belakangnya lagi, ada satu kelompok lagi yang berdiri menyanyi dan memakai jubah putih. Mereka menyuarakan sopran I. Kemudian ada satu batas lagi yaitu satu rombongan lagi dan saya masuk dibaris ke 2 no. 4 dari sisi kanan, yaitu barisan sopran II.

Apabila kita masuk ke ruangan itu, maka kita secara otomatis sudah langsung tahu di mana tempatnya. Barisan itu berlapis-lapis sampai ke belakang. Bajunya semua sama, jubah putih panjang, memakai tali di pinggang, leper yang berbentuk bulat, tetapi putihnya tidak sama. Baris yang dekat dengan Tuhan Yesus, lebih putih dan bercahaya atau bersinar, lebih ke belakang lebih suram, bahkan ada yang broken white.

Ada juga yang belum boleh masuk, mereka sedang di luar halaman dan sedang diajari cara memuji (cara menyembah Tuhan).

Sembuh dari sakit dan kembali ke indonesia
Saya sadar kembali dan masih dikelilingi suami, adik-adik dan saudara-saudara seiman. Kami berdoa meminta agar pelayanan selama di Australia dapat diselesaikan dengan baik. Karena suami saya mendahulukan Tuhan lebih dari saya, justru Tuhan menyembuhkan saya. Berangsur-angsur saya sembuh total sampai sekarang dan dapat kembali ke Indonesia.

Kemudian kami kembali ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia kami memperoleh pernyataan-pernyataan lagi. Saya bermimpi ada sebuah pesta pernikahan, saya yang menjadi pengantinnya. Saya harus siap jam 08.00 pagi. Saya berkata persiapan saya kurang dan tak mungkin selesai, mengapa harus pagi-pagi benar. Saya minta diundur setengah jam. Saya diperbolehkan, tetapi tidak boleh melewati jam 09.00 karena waktunya sudah menjadi giliran orang lain.

Diberi tahu Tuhan bahwa saya mau dijemput Tuhan pulang ke surga
Kami sekeluarga bergumul dan berdoa, demikian juga saudara-saudara seiman baik yang dari Bandung maupun dari luar Bandung. Pernyataan-pernyataan pun berdatangan kembali, ada yang melihat saya dengan gaun pengantin yang indah berwarna putih berkilauan kebirubiruan. Ada yang melihat saya dijemput kereta, keretanya penuh dengan bunga, dan sebagainya.

Karena yakin bahwa pernyataan-pernyataan itu dari Tuhan, maka saya sudah bersiap-siap membeli tanah kuburan di Cipageran; Cimahi. Tanah itu pun sudah disemen. Saya juga membeli peti mati dan suami saya meminta agar dicat warna merah jambu. Ternyata sudah ada orang Cirebon yang membuatkan dengan tutup kaca yang indah. Bunga-bunga hiasan pun sudah ditaruh di dalam peti. Semua perlengkapan sudah berdatangan dan lengkap. Foto besar dan nyanyian untuk kebaktian penghiburan pun sudah siap. Bahkan kartu ucapan terima kasih pun sudah tercetak. Semua orang yang harus dihubungi sudah saya catat dalam satu buku baik alamat maupun nomer telepon.

Kami adalah keluarga yang bahagia, saling mengasihi. Saya kasihan melihat suami dan anak-anak yang akan saya tinggalkan dan harus sibuk mempersiapkan segalanya, makanya segala keperluan pemakaman telah saya siapkan dengan lengkap.

Seperti Abraham yang mempersiapkan kayu dan api untuk korban bakaran, demikian pula keluarga saya yang menyiapkan untuk kematian saya. Sebab iman yang terbesar adalah mengutamakan kehendak Bapa, bukan kehendak kita sendiri.

Karena mimpinya jam 08.00 - 09.00 pagi, oleh kami tafsirkan bulan Agustus tepat. Selama bulan Agustus dan September tahun 1989 rumah kami ramai, setiap hari banyak yang berdatangan baik dari Bandung maupun dari luar kota. Sebagian dari mereka hanya ingin mengetahui kelanjutannya tetapi ada juga yang ikut tegang dan berdoa mencari kehendak Tuhan. Saya sendiri mengetahui bahwa apa yang Tuhan perbuat adalah yang terbaik untuk saya dan keluarga. Saya tidak mengetahui apakah waktunya hari ini, besok atau sesaat lagi.

Yang terpenting, saya sudah meminta ampun atas segala dosa, menyucikan diri, hidup menyukakan hati Tuhan, menyerah total dan bersiap dipanggil pulang oleh Tuhan. Pada akhirnya saya bermimpi lagi. Sepertinya saya sudah siap pergi ke luar negeri dan pintunya sempit. Orang-orang melewati pintu satu persatu. Di atas sebuah meja ada map-map yang berisi surat-surat. Ada yang tebal dan ada yang tipis. Tiap orang harus melalui pintu itu berurutan dan mengambil map masing-masing. Di atas map itu ditulis nama masing-masing. Saya masuk dan mengambil map saya, ternyata mapnya tidak ada dan sudah dirobek, jatuh di bawah meja. Surat-suratnya juga hilang. Saya kaget dan bingung siapa yang mengambil surat-surat saya. Saya tidak jadi berangkat. Dengan jelas saya mendengar suara yang berkata: "Kau lulus, tidak jadi berangkat, ditunda."

Saya keluar lagi dari ruang tersebut dan kemudian saya terbangun. Saat itu juga Tuhan sudah bicara dengan suami saya dan menyatakan bahwa kami lulus dan saya ditambah umur, sampai sekarang saya masih hidup.

Dibawa beberapa kali ke surga untuk melihat rumahku
Tuhan memberkati saya dengan menunjukkan rumah saya di sorga sebanyak tiga kali. Yang pertama kali tahun 1989, waktu itu saya melihat-lihat kebun yang luas dan indah juga rumah mungil yang indah. Saya baru masuk dari pintu dapur lalu bangun. Yang kedua kalinya. tahun 1994, lima tahun kemudian saya masuk di dalam rumah, ada meja kursi tamu (sofa). Juga ada lampu kristal yang indah sekali sebagai dekorasi di ruang tamu. Dan penglihatan yang terakhir pada tahun 1999, lima tahun kemudian lagi, saya dibawa masuk ke ruang makan. Ada meja bulat susun yang atasnya dapat diputar. Rangka meja dan kursinya dari emas putih dan mejanya dari kaca. Di atas meja panjang (yang ada di belakang meja makan) di tepi tembok dinding terdapat tempat untuk toples-toples kue-kue dari kristal terukir bunga mawar dan pegangan penutupriya juga terbuat dari emas putih. Betapa indahnya semua itu.

Yang belum saya masuki atau saya lihat adalah ruang (kamar) tidur. Saya sedang menantikan Tuhan menunjukkan itu pada saya.

Saudaraku jangan segan-segan berbuat baik atau mengerjakan pekerjaan Tuhan yang ditugaskan kepadamu, sebab Tuhan memperhitungkan apa yang kita buat, sebab tiap kali engkau menyelesaikan tugasmu, kamu dapat upah. Untuk memperindah rumah dan dekorasi rumahmu di sorga. Dalam segala hal jerih payah kita tidak akan pernah sia-sia.

"Sebab inilah yang telah diperdengarkan TUHAN sampai ke ujung bumf! Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang; sesungguhnya, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia dan mereka yang diperolehNya berjalan di hadapan-Nya. Orang akan menyebutkan mereka "bangsa kudus," "orangorang tebusan TUHAN," dan engkau akan disebutkan "yang dicari," "kota yang tidak ditinggalkan." (Yesaya 62:11-12)

SUMBER : KESAKSIAN-LIFE.BLOGSPOT.COM

Minggu, 20 Juli 2014

PERANG DI MALAM NATAL "MUJIZAT"

Perang di Malam Natal "Mujizat"


Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia pertama tahun 1914, tempatnya di font di benua Eropa. Pada saat itu tentara Prancis, Inggris dan Jerman saling baku tembak sama lain.

Dimalam Natal yang dingin  dan gelap begini hampir setiap prajurit merasa sudah bosan dan muak untuk berperang apalagi mereka sudah berbulan-bulan meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak maupun orang tua mereka.

Pada Natal biasanya mereka selalu berkumpul bersama dengan seluruh anggota keluarga masing-masing, makan bersama, bahkan menyanyi bersama di bawah pohon terang di hadapang tungku api yang hangat.

Beberapa dengan malam Natal yang sekarang ini, di mana cuaca di luar sangat dingin sekali dan salju pun turun dengan lebatnya, mereka bukannya berada di antara anggota keluarga yang mereka kasihi, melaikan berada di hadapan musuh  mereka yang setiap saat bersedia untuk menembak mati siapa saja yang bergerak.

Tiada hadiah yang menunggu selain peluru dari senapan musuh, bahkan persediaan makananpun sudah berkurang sehingga hampir seharian penuh mereka belum makan. Pakaianpun basah kuyup karena turunnya salju.


Biasanya mereka beberapa di lingkungan suasana yang hangat dan bersih, tetapi kali ini mereka berbeda di dalam lubang parit, masih lumayan bisa mandi dan berpakaian bersih, tempat di mana mereka berada sekarang inipun becek penuh dengan lumpur. Mereka menggigil kedinginan. Rasanya tiada keinginan yang lebih besar pada saat ini selain rasa damai untuk bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang mereka kasihi.

Seorang tentara sedang menderita kesakitan karena baru saja terkena tembakan, sedangkan tentara yang lain meninggal kedinginan, bahkan pimpinan mereka yang biasanya keras, tegas entah kenapa pada malam ini kelihatannya sangat sedih sekali, terlihat air matanya turun berlinang, rupanya ia teringat akan istri dan bayinya yang baru berusia enam bulan. Kapankah perang ini akan berakhir? Kapan mereka akan bisa pulang kembali ke rumahnya masing-masing? Kapankah mereka bisa memeluk lagi orang-orang yang mereka kasihi?

Dan masih merupakan satu pertayaan besar pula, apakah mereka bisa pulang dengan selamat dan berkumpul kembali dengan istri dan anak-anaknya? Entahlah….

Tidak sepatah katapun dengar. Suasana malam yang gelap dan dingin terasa hening dan sepi sekali, masing-masing teringat dan memikirkan keluarganya sendiri. Selama berjam-jam mereka duduk membisu sedemikian rupa.

Tiba-tiba dari arah front Jerman, ada cahaya kecil yang timbul dan bergoyang, cahaya tersebut kelihatan semakin nyata. Rupanya ada seorang prajurit Jerman yang telah membuat pohon Natal kecil yang diangkat ke atas dari parit tempat persemnunyiaan mereka, sehingga Nampak oleh seluruh prajurit di front tersebut.

Pada saat yang bersamaan terdengar alunan lembut suara lagu “Stille Nacht, heilige Nacht” (Malam Kudus), yang pada awalnya hanya sayup-sayup kedengarannya. Tetapi semakin lama lagu yang dinyanyikan tersebut semakin jelas dan semakin keras terdengar, sehingga membuat para pendengarnya merinding dan merasa pilu karena teringat akan anggota keluarga mereka yang berada jauh dari medan perang ini.

Ternyata seorang prajurit Jerman yang bernama Sprink yang menyanyikan lagu tersebut dengan suara yang sangat indah, bersih, dan merdu. Prajurit Sprink tersebut sebelum dikirim ke medan perang adalah seorang penyanyi tenor opera yang terkenal. Rupanya suasana keheningan dan gelapnya malam Natal tersebut telah mendorong dia untuk melepaskan emosinya dengan menyanyikan lagu tersebut, walaupun dia ketahui dengan nyanyian lagu tersebut, prajurit bisa mengetahui tempat dimana mereka berada.

Ia bukan hanya sekedar menyanyi dalam tempat tersembunyiannya saja, ia berdiri tegak, tidak membungkuk lagi, bahkan ia naik ke atas sehingga dapat terlihat oleh semua musuh-musuhnya. Melalui nyanyian tersebut ia ingin membawakan kabar gembira sambil mengingatkan kembali makna dari natal ini, ialah untuk membagi rasa damai dan kasih. Untuk ini ia bersedia mengorbankan jiwanya, bersedia mati ditembak oleh musuh. Tetapi apakah ia ditembak?

Tidak! Entah kenapa seakan-akan ada mujizat yang terjadi sebab pada saat bersamaan semua prajurit yang ada disitu turut keluar dari tempat persembunyiannya masing-masing dan mereka mulai menyanyikan bersama. Bahkan seorang tentara Inggris musuh beratnya Jerman, turut mengiringi mereka menyanyi sambil meniup bagpipes (alat music Skotlandia) yang dibawanya khusus ke medan perang. Mereka menyanyikan lagu Malam Kudus dengan rasa pilu air mata yang turun berlinang.

Yang tadinya lawan sekarang menjadi kawan, sambil saling berpelukan mereka menyanyikan bersama lagu Malam Kudus dalam bahasa masing-masing, di sinilah rasa damai dan suka cita benar-benar terjadi. Setelah itu, mereka meneruskan nyanyian bersama dengan lagu Adeste Fideles (Hai Mari Berhimpun), mereka berhimpun bersama, tidak ada lagi perbedaan pangkat, derajat, usia maupun bangsa, bahkan perasaan bermusuhanpun hilang dengan sendirinya.

Mereka berhimpun bersama dengan musuh mereka yang seharusnya saling menembak, membunuh satu dengan yang lain, tetapi entah kenapa dalam suasana Natal tersebut mereka ternyata bisa berkumpul dan bernyanyi bersama kelahiran Yesus, Sang Juru Selamat. Rupanya inilah mujizat Natal.

Catatan:
Yesus lahir kedunia untuk saya dan saudara. Dia mau datang karena Dia sangat mencintai setiap kita. Sehingga Dia mau jadi manusia sama seperti kita. Yang dapat merasakan sakit, lapar, dibenci, dipukul dan mati. Dia adalah Emanuel (Allah beserta kita). Jangan penah menyerah oleh dunia ini. Karena kita tahu Tuhan selalu menyertai kita. Dia Datang kedunia untuk menjadi Juruselamat kita manusia. Amin

SUMBER : KESAKSIAN-LIFE.BLOGSPOT.COM

Rabu, 16 Juli 2014

KUNJUNGAN KE DUNIA ORANG MATI

Kunjungan Ke Dunia Orang Mati


Victoria Nehale dilahirkan dan dibesarkan di Namibia, Afrika. Dia menyerahkan hidupnya bagi Tuhan Yesus pada tanggal 6 Februari 2005. Tuhan Yesus telah menyingkapkan banyak peristiwa spiritual dalam kehidupannya, termasuk perjalanannya ke dunia orang mati. Dalam setiap pertemuan dengan Tuhan, Dia mengatakan sebelum pergi bahwa: Waktunya hampir habis. Time is fast running out.

Pada tanggal 18 Oktober 2005 saya terbangun pada jam 5.30 tetapi saya tidak dapat pergi bekerja. Saya merasa lemah dan pusing. Saya tak bisa bergerak atau berbalik badan di tempat tidur saya. Saya bergetar dan merasa ada aliran seperti listrik di seluruh tubuh saya.

Tuhan datang pada pukul 7.48 pagi dan Dia menyalami saya. Dia segera mengajak saya pergi dalam tubuh kemuliaan karena waktunya hampir habis. Saya berdiri dan mulai berjalan. Cara kami berjalan saat itu berbeda, kami seperti terapung di udara.

Sementara dalam perjalanan, Tuhan Yesus berkata bahwa semua dosa itu buruk, tidak ada dosa besar atau dosa kecil. Semua dosa membawa pada kematian, tak peduli dosa besar atau kecil.

Kami tiba di suatu gerbang. Dia menoleh kepada saya dan berkata, “Victoria, kita akan masuk melalui gerbang itu dan hal yang akan kau saksikan akan sangat menakutkanmu dan menggoncangkanmu, namun kuatkanlah imanmu sebab kau ada dalam perlindungan-Ku. Bukalah matamu dan perhatikanlah segala sesuatu yang Kutunjukkan kepadamu.”

Kami memasuki gerbang itu. Saya tak dapat menggambarkan kengerian tempat itu kepada Anda. Saya tahu bahwa tak ada tempat seburuk dan sengeri tempat itu di seluruh jagat raya. Tempat itu sangat luas, gelap pekat, dan kepanasannya tak dapat diukur karena melebihi panasnya api. Tempat itu sangat bau, seperti bau daging busuk, tetapi baunya seratus kali lebih busuk. Tempat itu dipenuhi dengan tangisan, keluhan, rintihan, kertakan gigi, dan tawa yang penuh kekejian dari para iblis penghuninya.

Hal terburuk di tempat ini adalah tempat itu dipenuhi manusia, berbentuk tengkorak. Beberapa dari tengkorak itu dapat kukenali karena mereka adalah sanak saudara saya dan orang-orang sekampung saya.

Tuhan menunjukkan seorang wanita setengah baya yang saya kenal sebelum dia meninggal. Dia mengalami kecelakaan mobil pada awal 2005. Saya terkejut melihat dia ada di neraka ini sebab kami mengenalnya sebagai seorang yang takut akan Allah dan mengasihi Allah. Tuhan mengatakan bahwa wanita ini memang mengasihi Tuhan dan Tuhan mengasihi dia. Wanita ini melayani Tuhan saat di muka bumi, membimbing banyak orang kepada Tuhan dan mengenal firman Tuhan dengan baik. Ia juga mengasihi orang-orang miskin yang membutuhkan, memberi dan menolong mereka dalam banyak hal. Dia adalah hamba Tuhan yang baik hampir dalam segala hal.

Perkataan ini sangat mengejutkan saya. Saya bertanya kepada Tuhan, mengapa dan bagaimana mungkin seorang yang melayani Tuhan dengan sangat baik bisa ada di neraka? Tuhan memandang saya penuh kasih dan berkata bahwa wanita itu telah mempercayai tipuan iblis. Walaupun wanita itu tahu benar firman Allah dengan baik, namun dia percaya tipuan si jahat bahwa ada dosa besar dan dosa kecil. Dia berpikir bahwa dosa kecil tidak akan membawanya ke neraka sebab dia adalah orang Kristen, percaya Tuhan, mengasihi Tuhan, dan melayani Tuhan.

Tuhan melanjutkan, “Aku telah pergi menemuinya berulang kali dan mengatakan agar dia berhenti melakukan apa yang dia sebut sebagai dosa kecil, namun banyak kali dia berdalih bahwa apa yang dia lakukan adalah dosa yang sangat kecil. Dia juga menyimpulkan bahwa peringatan-Ku hanyalah perasaan bersalahnya saja. Ada saat dia berhenti berbuat dosa untuk sementara, namun kemudian dia membenarkan dirinya sendiri bahwa peringatan itu bukan dari-Ku, tetapi suara hatinya sendiri sebab dosa itu terlalu kecil untuk mendukakan Roh Kudus.”

Saya bertanya kepada Tuhan apakah dosa yang diperbuatnya? Dia suka meminta temannya yang bekerja di RS untuk mencuri obat baginya setiap kali dia sakit. Dia menyebabkan orang lain berdosa, namun lebih buruk daripada itu adalah dia mendukakan Roh Kudus! Itulah sebabnya dia ada di neraka sekarang. Tak peduli engkau membawa jutaan jiwa kepada Tuhan, namun ada kemungkinan engkau masuk ke neraka karena engkau mendukakan Roh Kudus. Kamu tak harus mempedulikan keselamatan jiwa orang lain, namun kamu harus mempedulikan keselamatan dirimu. Pekalah pada Roh Kudus setiap saat.

Banyak orang Kristen yang mendengar kesaksian ini heran, bagaimana mungkin orang yang sudah bertobat dan menerima Tuhan Yesus dapat masuk ke neraka? Bukankah sekali selamat tetap selamat? “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa (dosa besar dan dosa kecil) sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa kita, tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghapuskan semua orang durhaka.” (Ibrani 10:26-27). Diambil dari buku Pewahyuan Surga dan Neraka, JKI Injil Kerajaan Semarang, telah diedit seperlunya.

Sabtu, 12 Juli 2014

PEMUJA SETAN

Pemuja Setan


Pada waktu itu aku bertugas di UGD (Unit Gawat Darurat). Seorang pria berusia 35 tahun, bernama Bob, dibawa masuk ke UGD dari sebuah rumah sakit yang lebih kecil di luar kota. Disana dia telah dirawat selama 1 minggu. Dia tiba-tiba merasa sakit dan demam tinggi. Dokter-dokternya tidak dapat menemukan penyebabnya. Saat aku memeriksanya ketika dia dibawa masuk, aku tidak dapat menemukan penyebab penyakitnya juga, namun kelihatan jelas bahwa Bob amat sakit. Saat kami mulai mengadakan tes, dan meminta spesialis lain memeriksanya juga, aku mulai berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan dan memintaNya untukmenunjukkan kepadaku apa yang sesungguhnya telah terjadi dengan pasien ini.
Keesokan harinya, tiba-tiba dia melompat dari tempat tidurnya sambil berkata bahwa dia akan meninggalkan rumah sakit saat ini juga, sebab jika tidak, dia akan dibunuh. Tidak ada yang bisa mencegahnya. Akhirnya, dokter pribadinya menyuruh Bob untuk ditahan selama 72 jam di rumah sakit. Ketika perintah itu dilaksanakan, tiba-tiba Bob melompat dan berbaring di tempat tidur sambil menatap ke atas (langit-langit) dan berbicara secara tidak jelas. Tidak bereaksi juga terhadap berbagai macam rangsangan. Dia tetap dalam kondisi seperti itu selama 2 hari lebih dan kondisi fisiknya pun makin menurun.

Akhirnya pada hari ke-3 ketika aku mau masuk kerja pada waktu pagi, Tuhan berkata kepadaku, bahwa Bob sebenarnya adalah seorang “pendeta kepala” (Kelompok Pemuja Setan/Gereja Setan) di sebuah kota yang berdekatan. Penyakitnya adalah dari iblis, sebagai hukuman baginya, karena Bob telah menjengkelkan iblis dalam sesuatu hal. Bob ingin meninggalkan rumah sakit pada waktu lalu sebenarnya adalah karena dia telah berhadapan dengan kuasa iblis yang telah “dikirim” oleh seorang pendeta kepala juga yang bernama Daud. Daud juga adalah seorang dokter di Memorial Hospital. Bob tahu hal itu bahwa dalam kondisinya yang lemah ini, dia tidak mempunyai kesempatan untuk melawan Daud. Kemudian Tuhan berkata kepadaku untuk pergi dan mengikat setan-setan yang bernama Mind Binding (Pengikat Pikiran) dan Confusion (Kebingungan), lalu mengatakan kepada Bob bahwa aku tahu tahu siapa dia sebenarnya dan apakah yang sedang terjadi, serta mengabarkan injil kepadanya.


Dengan sangat berharap bahwa aku telah mendengar suara Tuhan dengan benar, aku pergi untuk bekerja bagi-Nya pagi itu.

Waktu aku masuk ke kamar Bob pagi itu, aku harus yakin bahwa tidak ada orang lain di dalam kamar itu, lalu menutup pintu. Lalu aku mencoba membuat Bob untuk bereaksi, namun gagal. Dia tetap menggumamkan kata-kata yang tidak karuan. Kemudian sambil menaruh tanganku di sisi tempat tidurnya, aku berkata: “Engkau, setan Mind-Binding dan Confusion, Tuhanku Yesus telah mengutus aku untuk mengikatmu, dan sekarang aku melakukannya dalam nama Yesus Kristus; engkau tidak boleh lagi merasuki orang ini.”

Akibatnya sungguh dramatis. Dengan segera Bob berhenti bergumam dan dia memutar kepalanya serta memandang ke arah ku, benar-benar dengan pikiran yang jelas. “Selamat pagi.” katanya,”Apakah engkau menginginkan sesuatu?”

“Ya, aku mempunyai pesan untukmu dari Allah Yang Maha Tinggi.” Aku harus mengatakan kepadanya apa saja yang telah dikatakan Tuhan kepadaku. Kemudian dengan singkat aku menyampaikan injil kepadanya.

“Bob, engkau harus menyadari bahwa harapanmu satu-satunya adalah YESUS. Iblis memutuskan untuk membunuhmu; untuk melanjutkan melayaninya hanya akan menghancurkan engkau, dan yang lebih buruk lagi, engkau akan berada di Neraka selamanya.”
Dia melihat ke arahku dengan pura-pura terkejut. “Siapakah engkau ?! Engkau gila! Aku tidak tahu apa yang sedang engkau katakan!”

Aku menjawabnya,“Oh ya, engkau tahu, Allahku tidak pernah berbohong.”
Dia berkata,“Oh pergi, aku tidak berurusan dengan Yesus!” Lalu aku berkata,”Terserahlah, itu pilihanmu.”

Setelah berkata itu, aku meninggalkan kamarnya. Sejak saat itu Bob tetap dalam keadaan sadar dalam pikirannya. Kemudian aku terus berpuasa dan berdoa sungguh-sungguh buat Bob, meminta agar Tuhan memberinya paling tidak satu kesempatan lagi. 4 hari kemudian, Bob sudah sekarat. Ginjalnya sudah berhenti bekerja 2 hari sebelumnya, hatinya sukar bekerja, dia mengalami serangan jantung dan paru-parunya terisi air. Tekanan darahnya begitu rendah sehingga dia harus diobati melalui pembuluh darahnya, supaya tekanan darahnya tetap normal. Aku tahu bahwa dalam waktu singkat dia perlu dibantu dengan mesin pernapasan. Dia terus-menerus merasa sakit yang tidak bisa kami kendalikan. Kemudian Tuhan berbicara kepadaku, supaya memberitakan injil kepada Bob sekali lagi.
Seperti sebelumnya, aku harus yakin bahwa aku sendirian di dalam kamarnya. “Bob, engkau sedang sekarat !!! Tidakkah engkau menyadari hal itu? Tidakkah engkau piker bahwa engkau harus jujur kepadaku?”

-“Ya, mungkin kau benar.”
+“Apakah engkau ingat percakapan 4 hari yang lalu?”
-“Ya, masih ingat dengan baik. Engkau benar, aku seorang pendeta kepala, dan aku benar-benar ingin pergi karena Daud akan membunuhku.”
+ “Bob, engkau harus tahu bahwa harapanmu satu-satunya adalah YESUS. Tidak inginkah engkau minta kepadaNya supaya mengampunimu dan menjadi Tuhanmu?”
-“Ya, namun kukira aku tidak diizinkan untuk melakukan hal itu”
+”Mengapa?”
-“Karena iblis sedang berdiri di sini.”
Bob menunjuk dengan tangannya ke arah yang berlawanan dengan tempat di mana aku berdir. Aku tidak dapat melihat apapun, namun rohku merasakan kehadirannya.
+”Tidak, Tuhan telah mengikatnya. Apakah engkau memerlukan tanda?” (Tuhan telah mengatakan kepadaku bahwa aku dapat mengusir setan yang menyebabkan rasa sakit sebagai tanda bahwa apa yang sedang kukatakan adalah benar; dengan keluarnya setan itu, akan segera melepaskannya dari rasa sakit)
-“Tidak, dengan kenyataan bahwa engkau cukup gila berani masuk ke sini sudah merupakan merupakan bukti bagiku.”

Kemudian dengan air mata yang mengalir di wajahnya, dia memegang tanganku dan dengan suara gemetar dia memohon supaya Yesus mengampuninya dan menjadi Tuhannya. Lalu dia menoleh ke arah pinggir tempat tidurnya dan mengatakan langsung kepada iblis, bahwa dia tidak lagi melayaninya, tidak peduli apapun yang terjadi.
Dengan pimpinan Tuhan, aku mengusir keluar dari dirinya beberapa roh jahat yang menyebabkan sakit, demam, ginjal tidak berfungsi, dsb. Kemudian rasa sakitnya hilang dengan segera dan dia merasakan bebas dari sakit untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini. Selama 2 jam dia bebas dari obat tekanan darahnya. Setelah 2 hari berikutnya, dia keluar dari UGD, dan setelah 2 minggu kurang, dia sudah keluar dari rumah sakit dengan SEHAT.

Selasa, 08 Juli 2014

DAVID LU (CHINA) MANTAN GANGSTER MENJADI PENGINJIL dan MELAYANI TUHAN YESUS (ISA ALMASIH)

syalom semua...


Kesaksian David Lu yang dulunya mantan Gangster dan sekarang menjadi penginjil, silakan di baca yaa kesaksiannya :


David Lu sejak remaja telah tenar menjadi pembuat onar. Di masa remajanya dia sering berantem, melakukan, pencurian dan kekerasan. Keluarganya menjadi pusing dibuatnya.

Ayahnya lalu memasukkan dia ke Chinese Militer Akacademy. Setelah tiga tahun mempelajari  ilmu bela diri , dia dikeluarkan karena memimpin sebuah kelompok untuk membuat keributan dan perkelahian.


Keahliannya dalam Tae kwon do dan Boxing langsung diterapkannya saat menjadi gangster dari sebuah Grup bernama the Bamboo Union, sebuah sindikat grup mafia yang sangat terkenal di Taiwan. Pekerjaannya adalah sebagai seorang debt collector.


Tahun 1974, dia ditangkap karena perampokan dan dijatuhi hukuman selama lima tahun. Dia mengatakan bahwa selama dia penjara tidak ada perubahan di dalam dirinya baik itu sikapnya maupun sifatnya. Menurut David Lu,"Penjara adalah ibarat sekolah, anda bisa belajar tips untuk tidak akan tertangkap dalam pencurian selanjutnya." 


Tahun 1977, kurang tiga tahun lagi masa hukumannya berakhir, dia melarikan diri dari penjara dan kembali ke Taipei. Sebagai seorang buronan yang paling dicari, disediakan hadiah sebesar  300.000 dolar Taiwan untuk penangkapannya. Di Taipei, David Lu terus melakukan aksinya. Rekor perampokannya terus bertambah dan  dalam menjalankan aksinya dia sangatlah brutal. Karena 'prestasinya', David Lu dipromosikan untuk jabatan yang lebih tinggi oleh seniornya. 


Pada tahun yang sama, dia tertangkap kembali dan dijatuhkan tuduhan atas perampokan dan penculikan dengan hukuman 14 tahun penjara. Selama di penjara dia bersahabat dengan seorang anggota geng yang sangat berkuasa yang memiliki julukan Achilles. Tugas dari David Lu adalah menulis surat kepada ke lima istri dari Achilles. Tetapi suatu kali ia menerima surat dari seorang wanita bernama Ruth Chen, saudara dari seorang pria yang mau dibujuknya untuk bergabung dengan gang Bamboo Union. 


Awalnya David  Lu meremehkan surat dari Ruth tetapi sejak kematian Achilles, seorang gangster yang sangat berkuasa, dia menjadi shock dan mulai memikirkan tentang hidupnya. 

Melalui korspondensi dengan Chen, keingintahuannya tentang Kekristenan bertambah dan dia bernazar kepada TUHAN,“TUHAN,TUHAN jika Engkau membebaskan saya dari penjara, saya akan melayani ENGKAU”. 

Perlu waktu setahun, pada akhirnya doa David Lu terjawab. Dalam sidang pengadilan yang kedua, dia terbukti tidak bersalah dan dua tahun kemudian tepatnya tahun 1979 dia dibebaskan. Dia memenuhi janjinya dengan masuk Christian Disciple Institute. Dia akhirnya bertemu dengan sahabat penanya, Chen, lalu mereka menikah.

Dia mengakui juga bahwa pada awalnya kehadirannya di gereja tidaklah mudah. Orang-orang mengatakan bahwa kalau dia menjadi troublemaker di masyarakat, dia pasti akan menjadi troublemaker di gereja.


Mereka kemudian pindah ke Amerika karena David Lu melanjutkan studi doktornya. Sepuluh tahun kemudian mereka kembali ke Taiwan dan dia meminta maaf kepada para korbannya. 

Yang paling berat adalah seorang tetangganya, yang ditendang dengan kepalanya oleh David Lu dan diinjak-injak. “Saya waktu itu sangat jahat”, kata David Lu. Ibu dari pria yang dipukulnya itu sampai menjerit-jerit, memohonnya untuk menghentikan tindakannya. Setelah dibanting pintu beberapa kali akhirnya David Lu dijinkan masuk ke rumah dan dia meminta maaf.


David Lu telah membuka 35 gereja di Taiwan dan telah mengubahkan hati banyak orang. Proyek terbesarnya adalah penjara. Melalui kunjungan mingguannya dan dan lewat surat-menyurat ada 3000 orang yang telah bertobat dan 150 orang diantaranya adalah gangster. 


“Orang-orang mengatakan bahwa macan tutul tidak bisa mengubah bintik hitamnya, saya akan membuktikan bahwa mereka salah.’kata David Lu. Maksud kata-kata david Lu adalah “Tidaklah pernah terlambat untuk berubah. Setiap orang bisa berubah,”kata David Lu. “Tidak pernah ada kata terlambat”.amin..


sekian kesaksian dari Pak David Lu...


semoga bermanfaat yaa kesaksiannya..


LORD JESUS bless you all....


sumber : jesusisloveus.blogspot.com