Jumat, 04 Juli 2014

PENGALAMAN BERTEMU YESUS (KESAKSIAN OLEH DANIEL Z.)

daniel malessy

Perkenalkan nama saya adalah Daniel,
Dilahirkan di Balikpapan tahun 1990 sebagai anak ke-2 dari 4 bersaudara. Saat ini saya rindu bersaksi kepada anda bagaimana kehidupan saya diubahkan Tuhan.
Semua ini dimulai ketika saya masih dibangku sekolah. Kehidupan remaja merupakan masa-masa yang paling rawan menurut saya, masa-masa inilah yang sebagian besar membentuk kehidupan seseorang.
Dengan kehidupan remaja yang umumnya memiliki kepribadian ingin bebas dan menjalani hidup sesuai kehendak hati saya banyak bergaul dengan orang-orang yang cenderung membuat hidup saya menjadi pemberontak dan memiliki karakter suka kekerasan. Diantara teman-teman sebaya saat itu, saya mungkin yang paling suka berlaku aneh… saya berontak terhadap orang tua, saya juga pernah minggat dari rumah. Saya berharap anda yang sebagai orangtua sebaiknya mulai lebih memperhatikan kehidupan anak anda apabila mereka telah mulai menginjak usia remaja atau pemuda, perhatikanlah dengan siapa mereka bergaul dan menghabiskan waktu.
saya ingat setiap kami dulu pulang sekolah saya sering punya “ritual” khusus dimana saya akan mengkoordinasi teman-teman kelas untuk mengobrak-abrik barang-barang di kelas, mulai dari lemari, meja, kursi, papan tulis, dan perabot lainnya tidak ada yang lepas dari pelampiasan amarah kami yang tidak jelas. Setelah guru selesai mengajar dan pulang kami akan mulai beradu kuat dengan mencoba mematahkan sebanyak mungkin meja dan kursi dengan pukulan dan tendangan, ada juga kebiasaan aneh lain dimana kami akan membuat lingkaran target pada papan tulis dan mulai melemparkan sapu-sapu layaknya orang yang sedang perang dan melemparkan tombak, tak heran papan tulis pun penuh dengan lubang akibat hantaman sapu “rakitan” tersebut. Terakhir dan yang menurut saya paling bejad adalah ketika kami mulai sering memukuli orang-orang yang tidak kami senangi, parahnya lagi sayalah yang kerap kali mendalangi perbuatan itu, entah mengapa ada kepuasan tersendiri ketika saya bisa berbuat jahat kepada orang lain. Gaya hidup premanisme, mungkin itulah kata-kata yang bisa menggambarkan keadaan saya saat itu.
Sebagai anak yang dilahirkan di keluarga kristen, saya mungkin orang yang paling bisa menyembunyikan karakteristik jahat saya. Orang-orang dalam lingkungan keluarga mungkin mengira saya sebagai murid teladan dan cerdas karena nilai-nilai yang saya dapatkan sangat baik, masuk dalam urutan 5 besar dikelas pun selalu menjadi langganan saya sejak Sekolah Dasar. Dalam lingkungan gereja-pun saya cukup aktif walau dahulu cuma sering ibadah hari minggu. Kehidupan bermuka dua ini dapat saya pelihara dengan sangat baik, saya adalah orang yang sangat pandai menyembunyikan kehidupan yang saya jalani dalam kebohongan. Secara lahiriah saya mungkin beribah, namun secara roh saya tidak memiliki apa-apa.
Segalanya berubah ketika saya diundang untuk menghadiri suata acara ibadah KKR muda/i, pembicaranya adalah seorang hamba Tuhan yang lama melayani di tanah Papua. Entah mengapa saya benar-benar menikmati saat-saat itu, baru kali ini saya begitu bisa terperangah dalam hadirat Allah menikmati pujian kepada Tuhan dan mendengarkan khotbah yang begitu menguatkan hati untuk segera meninggalkan kehidupan yang telah banyak saya jalani dalam kesia-siaan.
Sesaat selesai berkhotbah sang ibu pendeta kontan menantang peserta ibadah untuk meninggalkan kehidupan lama mereka, ia rindu berdoa secara pribadi bagi kami. Dengan langkah yang ragu sayapun akhirnya memberanikan diri untuk segera maju. Tanpa banyak tanya sang pendeta langsung menumpangkan tangannya diatas kepala saya dan dengan doa yang singkat hadirat Allah membuat lemas seluruh tubuh seakan semua beban yang selama ini ada ditiup jauh-jauh oleh angin tornado. Belum pernah saya merasa sedekat itu dengan kasih Allah sebelumnya, air mata keluar membanjir oleh karena saya sadar kini telah mendapatkan hidupku kembali sebagai mana yang diberikan Allah, ada perubahan terjadi yang tidak bisa saya lihat dengan mata jasmani. Hadirat Allah begitu merasuk sampai ke tulang-tulang membuat saya menikmati berbaring dilantai beberapa saat lamanya. Disaat itulah saya mendengar kata-kata nubuatan yang diberikan melalui Ibu pendeta tersebut kepada saya yang berkata: “……………………………………….” => maaf, di SENSOR dulu ya.. :)
Apa yang terjadi malam itu merupakan titik balik kehidupan saya yang lama kedalam kehidupan terang yang penuh dengan masa depan. Sayapun menyerahkan diri untuk di Baptis, dalam segala perkara Roh Kudus banyak mengajar saya akan kebenaran firman-Nya. Dalam banyak kesempatan saya sering menyampaikan kebenaran firman Tuhan kepada orang-orang disekitar saya.. ada keberanian, bahkan bukan sekedar keberanian melainkan kerinduan yang mengalir dalam darah saya yang mengatakan bahwa setiap orang yang saya kenal harus memiliki Yesus dalam hidupnya. Betapa tidak, hanya Yesus-lah satu-satunya jalan kebenaran, dan betapa hanya kasih-Nya yang sanggup memulihkan setiap pribadi, termasuk saya.
Mulai saat itu saya mengambil keputusan untuk mengikut Tuhan Yesus seumur hidup saya, melayani-Nya dan memberikan hidup sebagai balas kasih yang telah Ia berikan. Sampai saat ini sudah begitu banyak pertolongan Tuhan dan mujizat yang telah Ia nyatakan kepada saya sebagai anak-Nya, namun agaknya akan sangat panjang jika saya tuliskan semua satu-persatu pada artikel ini. Namun, satu hal yang pasti hidup kita berharga di mata Tuhan, itulah mengapa Ia rela turun menjadi sama seperti manusia dan memberikan nyawa-Nya sebagai ganti tebusan untuk membebaskan kita dari perbudakan dosa.
Tuhan Yesus memberkati,
copas : gkiijogja.info

Tidak ada komentar:

Posting Komentar