Minggu, 20 Juli 2014

PERANG DI MALAM NATAL "MUJIZAT"

Perang di Malam Natal "Mujizat"


Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia pertama tahun 1914, tempatnya di font di benua Eropa. Pada saat itu tentara Prancis, Inggris dan Jerman saling baku tembak sama lain.

Dimalam Natal yang dingin  dan gelap begini hampir setiap prajurit merasa sudah bosan dan muak untuk berperang apalagi mereka sudah berbulan-bulan meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak maupun orang tua mereka.

Pada Natal biasanya mereka selalu berkumpul bersama dengan seluruh anggota keluarga masing-masing, makan bersama, bahkan menyanyi bersama di bawah pohon terang di hadapang tungku api yang hangat.

Beberapa dengan malam Natal yang sekarang ini, di mana cuaca di luar sangat dingin sekali dan salju pun turun dengan lebatnya, mereka bukannya berada di antara anggota keluarga yang mereka kasihi, melaikan berada di hadapan musuh  mereka yang setiap saat bersedia untuk menembak mati siapa saja yang bergerak.

Tiada hadiah yang menunggu selain peluru dari senapan musuh, bahkan persediaan makananpun sudah berkurang sehingga hampir seharian penuh mereka belum makan. Pakaianpun basah kuyup karena turunnya salju.


Biasanya mereka beberapa di lingkungan suasana yang hangat dan bersih, tetapi kali ini mereka berbeda di dalam lubang parit, masih lumayan bisa mandi dan berpakaian bersih, tempat di mana mereka berada sekarang inipun becek penuh dengan lumpur. Mereka menggigil kedinginan. Rasanya tiada keinginan yang lebih besar pada saat ini selain rasa damai untuk bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang mereka kasihi.

Seorang tentara sedang menderita kesakitan karena baru saja terkena tembakan, sedangkan tentara yang lain meninggal kedinginan, bahkan pimpinan mereka yang biasanya keras, tegas entah kenapa pada malam ini kelihatannya sangat sedih sekali, terlihat air matanya turun berlinang, rupanya ia teringat akan istri dan bayinya yang baru berusia enam bulan. Kapankah perang ini akan berakhir? Kapan mereka akan bisa pulang kembali ke rumahnya masing-masing? Kapankah mereka bisa memeluk lagi orang-orang yang mereka kasihi?

Dan masih merupakan satu pertayaan besar pula, apakah mereka bisa pulang dengan selamat dan berkumpul kembali dengan istri dan anak-anaknya? Entahlah….

Tidak sepatah katapun dengar. Suasana malam yang gelap dan dingin terasa hening dan sepi sekali, masing-masing teringat dan memikirkan keluarganya sendiri. Selama berjam-jam mereka duduk membisu sedemikian rupa.

Tiba-tiba dari arah front Jerman, ada cahaya kecil yang timbul dan bergoyang, cahaya tersebut kelihatan semakin nyata. Rupanya ada seorang prajurit Jerman yang telah membuat pohon Natal kecil yang diangkat ke atas dari parit tempat persemnunyiaan mereka, sehingga Nampak oleh seluruh prajurit di front tersebut.

Pada saat yang bersamaan terdengar alunan lembut suara lagu “Stille Nacht, heilige Nacht” (Malam Kudus), yang pada awalnya hanya sayup-sayup kedengarannya. Tetapi semakin lama lagu yang dinyanyikan tersebut semakin jelas dan semakin keras terdengar, sehingga membuat para pendengarnya merinding dan merasa pilu karena teringat akan anggota keluarga mereka yang berada jauh dari medan perang ini.

Ternyata seorang prajurit Jerman yang bernama Sprink yang menyanyikan lagu tersebut dengan suara yang sangat indah, bersih, dan merdu. Prajurit Sprink tersebut sebelum dikirim ke medan perang adalah seorang penyanyi tenor opera yang terkenal. Rupanya suasana keheningan dan gelapnya malam Natal tersebut telah mendorong dia untuk melepaskan emosinya dengan menyanyikan lagu tersebut, walaupun dia ketahui dengan nyanyian lagu tersebut, prajurit bisa mengetahui tempat dimana mereka berada.

Ia bukan hanya sekedar menyanyi dalam tempat tersembunyiannya saja, ia berdiri tegak, tidak membungkuk lagi, bahkan ia naik ke atas sehingga dapat terlihat oleh semua musuh-musuhnya. Melalui nyanyian tersebut ia ingin membawakan kabar gembira sambil mengingatkan kembali makna dari natal ini, ialah untuk membagi rasa damai dan kasih. Untuk ini ia bersedia mengorbankan jiwanya, bersedia mati ditembak oleh musuh. Tetapi apakah ia ditembak?

Tidak! Entah kenapa seakan-akan ada mujizat yang terjadi sebab pada saat bersamaan semua prajurit yang ada disitu turut keluar dari tempat persembunyiannya masing-masing dan mereka mulai menyanyikan bersama. Bahkan seorang tentara Inggris musuh beratnya Jerman, turut mengiringi mereka menyanyi sambil meniup bagpipes (alat music Skotlandia) yang dibawanya khusus ke medan perang. Mereka menyanyikan lagu Malam Kudus dengan rasa pilu air mata yang turun berlinang.

Yang tadinya lawan sekarang menjadi kawan, sambil saling berpelukan mereka menyanyikan bersama lagu Malam Kudus dalam bahasa masing-masing, di sinilah rasa damai dan suka cita benar-benar terjadi. Setelah itu, mereka meneruskan nyanyian bersama dengan lagu Adeste Fideles (Hai Mari Berhimpun), mereka berhimpun bersama, tidak ada lagi perbedaan pangkat, derajat, usia maupun bangsa, bahkan perasaan bermusuhanpun hilang dengan sendirinya.

Mereka berhimpun bersama dengan musuh mereka yang seharusnya saling menembak, membunuh satu dengan yang lain, tetapi entah kenapa dalam suasana Natal tersebut mereka ternyata bisa berkumpul dan bernyanyi bersama kelahiran Yesus, Sang Juru Selamat. Rupanya inilah mujizat Natal.

Catatan:
Yesus lahir kedunia untuk saya dan saudara. Dia mau datang karena Dia sangat mencintai setiap kita. Sehingga Dia mau jadi manusia sama seperti kita. Yang dapat merasakan sakit, lapar, dibenci, dipukul dan mati. Dia adalah Emanuel (Allah beserta kita). Jangan penah menyerah oleh dunia ini. Karena kita tahu Tuhan selalu menyertai kita. Dia Datang kedunia untuk menjadi Juruselamat kita manusia. Amin

SUMBER : KESAKSIAN-LIFE.BLOGSPOT.COM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar