Selasa, 28 Oktober 2014

KESAKSIAN RIBKA SELAMAT DARI MAUT OLEH PERTOLONGAN TUHAN YESUS


Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus. Namaku Ribka. Aku tinggal di sebuah kota pinggiran di Indonesia. Aku akan menceriterakan kisahku. Sebenarnya aku malu menceritakan kisahku ini, tetapi melalui mimpi, Tuhan Bapa menyuruhku agar menceritakan kisahku ini kepada segala bangsa.
Inilah kisahku :
Pada tahun 2010 usiaku 33 tahun. Ada kejadian aneh di hidupku. Pada saat itu setiap aku berhias di depan cermin, berkali-kali aku melihat ada darah di telapak tanganku seperti darah di telapak tangan Tuhan Yesus yang disalib. Saat itu aku bertanya-tanya dalam hatiku ada apa ini? Saya tidak tahu apa artinya semua ini. Aku malah sempat berpikir karena usiaku saat itu sama dengan usia Tuhan Yesus pada waktu disalibkan yaitu berusia 33 tahun.
Tetapi suamiku pernah berkata bahwa aku diberi karunia dari Tuhan supaya aku dapat menyelami lebih dalam lagi akan penderitaan Tuhan Yesus sewaktu di kayu salib.
Kemudian pada saat yang hampir bersamaan di tahun itu juga, suamiku ditawari oleh temannya sebuah rumah dijual. Kami tertarik untuk membeli dan membangun rumah itu karena kami ingin pindah dari rumah lama kami.
Suamiku sempat bimbang jadi membeli rumah apa tidak. Pada saat itu suamiku setengah mimpi setengah sadar sekitar jam setengah 5 pagi ada bisikan di telinga kanannya yang sangat jelas sekali, bisikannya yaitu: “Pikullah salibmu!”. Karena bisikan itu, maka suamiku terbangun dari tidurnya dan dia bertanya di dalam hatinya apakah suara itu jangan-jangan sebagai pertanda untuk tidak jadi saja membeli rumah itu. Namun suamiku tetap berkeinginan terus untuk tetap membeli rumah itu walaupun ada kebimbangan dalam hatinya karena kami ingin segera pindah dari rumah kami yang lama.
Singkat kata rumah itu jadi kami beli dan kami bangun. Sewaktu pembangunan dimulai semua berjalan dengan lancar. Namun setelah pembangunan rumah mendekati selesai, tukang-tukang bangunan kami mau mengundurkan diri karena berbagai alasan yang sulit dipahami.
Pada saat yang hampir bersamaan, suamiku detak jantungnya sangat sesak, detaknya seperti diprogram sehingga sulit mengikuti irama detak jantungnya. Pikirnya kena serangan jantung dan sudah seperti mau mati karena lemas dan keluar keringat dingin. Kejadian ini berlangsung beberapa hari, sampai-sampai waktu di perjalanan saat berangkat kantor, suamiku terkulai lemas tidak sanggup berdiri lagi. Kemudian dicek kesehatan di rumah sakit. Namun anehnya setelah dicek di laboratorium dan melalui uji treat mill untuk test jantung di rumah sakit, semuanya normal. Bersamaan dengan pengecekan di rumah sakit itu suamiku berserah diri kepada Tuhan Yesus, untuk tidak mengingini duniawi, dan pada saat itu juga setelah suamiku menyatakan itu seluruh beban yang mengikat jantungnya tiba-tiba terlepas karena terasa ada suatu Kuasa yang mengangkat ke atas dan kemudian penyakit suamiku hilang.
Pada saat itu kami tidak tahu kalau penyebab sakit itu ternyata berasal dari kuasa gelap (santet). Dan kami akhirnya baru menyadarinya setelah berjalan beberapa waktu kemudian ketika serangan kuasa gelap (santet) menyerang bertubi-tubi dan terus menyerang tanpa henti ke seluruh rumah kami seperti gelombang lautan.
Singkat kata rumah kami sudah selesai dibangun dan kami sekeluarga pindahan rumah baru kami, dan lingkungan rumah baru kami belum mengenal Tuhan Yesus Kristus.
Baru saja pindahan rumah, kami hampir setiap hari selalu didera serangan kuasa-kuasa gelap, namun yang terkena pertama kali adalah pembantu saya. Hampir setiap hari pembantu saya mencium kemenyan dan kembang setaman, dan kepalanya pusing sekali bahkan badannya seperti diikat oleh tali dan dipukuli serta badannya disundut oleh api rokok. Kejadian itu berkali-kali sampai tidak tahan lagi dan pembantu saya mengatakan itu adalah santet, namun kami saat itu tidak percaya kalau itu santet, karena pikir kami santet tidak bisa menyerang rumah kami. Dan akhirnya dia pulang kampung dan tidak kerja lagi di rumah kami.
Setelah kejadian itu kami didera berbagai-bagai serangan kuasa gelap (santet) yang berusaha membinasakan seluruh keluarga kami termasuk anakku yang masih kecil. Saya tidak mengerti mengapa mereka sangat membenci kami dan tidak memiliki belas kasihan sama sekali. Namun terus dan terus, tangan Tuhan Bapa yang Maha Tinggi selalu menolong kami yang lemah ini. Kami tidak memiliki karunia-karunia mujizat seperti yang dimiliki oleh banyak anak-anak Tuhan yang lain. Namun dari kelemahan, kami hanya berserah kepada Bapa dan Tuhan Yesus yang Maha Agung yang akan menolong kami yang lemah ini. Berbagai pertolongan dari Bapa dapat kami ceritakan sbb :
  1. Pada saat saya tidur malam saya terbangun dan begitu kagetnya setelah bangun saya melihat jantung saya dicabut oleh suatu tangan yang tiba-tiba muncul dari depan saya. Saya rebutan jantung dengan tangan itu, namun “Dalam nama Tuhan Yesus” saya ucapkan akhirnya Bapa membela saya dan tangan itu melepaskanku.
  2. Pada bulan April 2012 suami saya ada keanehan yaitu marah hebat pada dirinya sendiri dan itulah kemudian kami baru tahu kalau iblis bisa masuk kepada orang-orang percaya melalui amarah.
  3. Sejak saat itu suamiku hampir setiap malam hari melihat ribuan serangga yang tidak kelihatan beterbangan yang jumlahnya tidak terhitung terbang ada di kamar kami namun itu hanya bisa dilihat oleh suamiku saja, sedangkan yang lainnya tidak bisa melihatnya. Keesokan harinya serangga-serangga yang tidak bisa dilihat oleh mata namun bisa dirasakan menyerang suamiku. Dan menyerang berbagai tubuh suamiku, mulai dari wajah sampai sekujur tubuh, sampai suamiku mules-mules diare dini hari seperti mau mati, kalau tidak ada pertolongan dari Bapa Yang Maha Agung.
  4. Suamiku hanya berserah mengandalkan kebesaran Yesus dan Bapa Yang Maha Kudus tetap menopang kami, sekalipun kami dalam lembah kekelaman, berangsur-angsur suamiku telah pulih.
  5. Saat saya tiduran malam kira-kira jam 8 malam sedang menunggu suami pulang dari kerja, saya kaget sekali karena didatangi Nyi Roro Kidul (ratu pantai selatan pulau Jawa) yang memakai mahkota dengan pakaian dodot pengantin raja-raja Jawa Tengah berwarna hijau. Dia berambut panjang, dan tersenyum kepada saya seakan-akan senyumannya itu bermaksud untuk memikat saya supaya saya mau dijadikan pembantunya. Tetapi sekali lagi Bapa Yang Maha Kudus membela saya dan saya ucapkan “Darah Yesus!! menghancurkan segala kuasa Nyi Roro Kidul dan setan-setannya”. Kemudian Nyi Roro Kidul menghilang dan tidak mendekatiku.
  6. Dan sewaktu pagi hari sekitar jam 10-an pagi, ada serangga berupa lebah pembunuh besar dikirim kepadaku. Lebah itu berwarna orange dan bentuknya besar sekali yaitu sebesar 2 kali jari tangan dewasa dan mempunyai jarum penusuk bersiap menyerang dan mau menusukku. Namun lagi dan lagi, Tuhan Bapa melalui malaikatNya menyelamatkanku, seperti ada yang membimbingku aku menggunakan raket nyamuk, sekali tangkis langsung mengenai lebah itu dan mati. Anehnya lebah itu saat mati berubah menjadi kecil tetapi aneh sekali, setelah kurang lebih 1 menit lebah itu bisa menghilang sendiri, aku tidak tahu kenapa bisa raib tak berbekas.
  7. Sewaktu anak saya tidur dini hari, dia terbangun dan kaget sekali sampai matanya melotot karena jantungnya juga sedang dicabut oleh suatu tangan yang tiba-tiba muncul, dan lagi Tuhan Bapa menolong kami. Anak saya mengucapkan “Dalam Nama Tuhan Yesus”, tangan itu melepaskan anak saya.
  8. Pada suatu malam saat saya dan anak saya sedang berdoa pujian penyembahan kepada Bapa Yang Maha Kudus, saya mendapat penglihatan dari Tuhan. Saya memakai pakaian putih bersih panjang dan menaiki anak tangga yang tinggi, di samping kiri saya ada sederet banyak orang yang mengejek saya. Orang-orang tersebut belum mengenal Tuhan Yesus. Dan setelah semakin naik, kemudian saya menoleh ke belakang sebelah kiri, lama-lama orang-orang tersebut sudah tidak ada lagi. Saudara-Saudaraku, selama kita berserah kepada Bapa Yang Maha Kudus, Bapa akan membela umat-Nya yang lemah.
  9. Pada sore hari saya sedang memasak sendirian di dapur, saya didatangi rombongan pasukan jin ada yang berujud ada yang tidak berujud, ada juga yang cuma bersuara saja. Mereka semua bilang “Serbuu…….!!!” Mereka mau membinasakanku. Saya kewalahan dan ketakutan luar biasa. Tetapi Roh Kudus dari Bapa Yang Maha Kudus masih menolongku. Aku mengucapkan “Dengan Kuasa Darah Yesus, kuasa-kuasa kegelapan telah dihancurkan!”. Mereka semua akhirnya langsung hilang lenyap.
  10. Selanjutnya selang beberapa hari kemudian, pada saat saya sedang memasak sendiri di dapur, kami kedatangan lagi pasukan jin namun jumlahnya sangat-sangat banyak tak terhitung jumlahnya mengeroyokku. Namun karena saya tidak berbuat apa yang salah, maka Tuhan Bapa tetap membelaku dan akhinya pasukan jin itu juga hilang lenyap.
  11. Saudaraku yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian sewaktu aku berangkat tidur malam, tiba-tiba jantung saya kembali diserang kuasa gelap dengan kesakitan luar biasa dan saya mau minta tolong sama anakku dan suamiku tapi tidak kesampaian, akhirnya saya merasa kesakitan yang luar biasa seperti mau dicabut nyawaku. Kemudian aku tidak sadarkan diri. Tapi lagi Tangan Bapa Yang Maha Kudus menyelamatkanku. Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi merasa jantung saya sudah pulih kembali.
  12. Pada keesokan harinya saat kami ibadah di Gereja. Sewaktu kami melakukan pujian penyembahan kepada Bapa Yang Maha Kudus, aku mendapat penglihatan dari Tuhan. Yaitu tampak sebuah neraka dengan api yang menyala-nyala membumbung tinggi apinya berkobar-kobar dan aku berteriak-teriak: “TuhanYesus jangan aku ditempatkan di sini, tolong aku Tuhan!” Sampai beberapa kali aku ucapkan itu, kemudian Tuhan Yesus mengatakan kepadaku : “Sebenarnya kamu sudah mati namun kamu sudah Aku bangkitkan dari kematian. Tetapi setan-setan di neraka sangat membencimu”.
  13. Berbagai jenis jin terus dikirim ke rumah kami, mulai pocongan, kuntil anak, jin hitam, putih, besar, kecil, tinggi, pendek, berbagai jenis tuyul dan berbagai jin lainnya berpakaian lokal sampai jin yang berpakaian ala Timur Tengah. Dan masih banyak lagi serangan-serangan kuasa gelap (santet) seperti gelombang lautan yang tidak putus-putusnya yang tidak bisa kami ceritakan di sini. Aku mengharapkan agar orang-orang yang membenci kami agar berhenti menyerang kami dan bertobat ke jalan yang benar.
Sekalipun orang-orang tersebut membenci kami, dan kami didera dan dianiaya tanpa berbelas kasih sedikitpun kepada kami, dalam nama Yesus kami tetap mengampuni karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan kami lepaskan pengampunan dan berkat kepada mereka yang menganiaya kami untuk bertobat. Karena itulah yang diajarkan oleh Yesus kepadaku :
“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."
(Matius 6:14 – 15)
Saudara-saudaraku yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus. Sangat luar biasa Tuhan Yesus itu memberikan kami kehidupan, sekalipun kami dalam lembah kekelaman, kami sangat bersyukur kepada-NYA.
Inilah bukti kasih Tuhan Yesus selalu ada di antara kita. Dan Tuhan selalu membela dan menguatkan orang-orang yang lemah dan tidak berdaya seperti kami.
Akhir kata dariku Saudara-saudara, bahwa hanya Yesus Kristus yang dapat menyelamatkan kita dari hukuman kekal di neraka dan sebagai syarat pertama untuk diterima oleh Bapa di dalam sorga, karena di luar Yesus tidak ada kehidupan setelah kematian, yang ada adalah siksaan dalam api neraka selama-lamanya tanpa akhir.
Ada tertulis di dalam kitab Injil kabar keselamatan untuk Saudara-saudara semua yang membaca kesaksian ini :
“Kata Yesus kepadanya: Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”.
(Yohanes 14:6)
Yesus berkata: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."
(Yohanes 14:2-4)
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Yesus, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."
(Kisah Para Rasul 4:12)
“Siapa yang percaya (kepada Yesus) dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (di neraka)”.
(Markus 16:16)
Kiranya Tuhan Yesus beserta kita dan memberkati Saudara-Saudara yang membaca kesaksian ini.
Amin.
Salam dari kami, Ribka. (kesaksian.sabda.org)

Jumat, 24 Oktober 2014

KESAKSIAN RANI RAHMI : " SETELAH OVER DOSIS 5 KALI, BAGAIMANA NASIB RANI SELANJUTNYA? "


Adik papa Rani, Rahmi, tidak mempunyai anak sehingga Rani diberikan kepada mereka. Karena hidup berkecukupan, apapun yang Rani mau diberikan. Namun, kesenangan itu tidak bertahan lama. Dia dikembalikan ke orangtua kandungnya. Hal ini membuat dia tidak bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Dia menyimpan marah kepada orangtua angkatnya yang mengembalikan dirinya tersebut.

Rasa tidak puas itu menumpuk dan bertumbuh menjadi pemberontakan. Rani atau yang biasa disebut Ani, dia mulai nakal. Sejak SMP, dia mulai merokok bersama teman-teman prianya, bahkan dia juga mencoba obat-obatan keras yang murah. Sampai kelas 3 SMP, dari rokok dan obat-obat murah, Ani juga minum-minuman keras. Bahkan dia mulai mengenal ganja.

Setelah lulus SMP, Ani lebih nakal lagi. Setiap hari dia pasti mabuk. Dia tidak peduli akan kehidupannya, semua teguran dan nasihat tidak dipedulikan. “Saya sudah tidak peduli. Sejak saya dikembalikan kepada orangtua saya, saya marah. Sebenarnya yang saya cari sih perhatian. Perhatian dari orangtua yang saya anggap orangtua saya, supaya mereka ambil saya lagi.” cerita Ani waktu itu. “Mengapa orangtua kandung saya memberikan saya kepada om dan tante saya, tapi kemudian mereka berikan saya lagi kepada orangtua saya?” tambahnya.

Dia bertanya-tanya buat apa dia dilahirkan, apakah dia benar-benar dibuang. Ani pikir, buat apa dia ada di tengah-tengah keluarga yang seperti itu. Karena itu, dia mencari kesenangan sendiri dengan mabuk, obat, ataupun rokok untuk menutupi jiwanya yang hancur. Ani merasa dirinya sebagai anak yang tidak diinginkan orangtuanya. Karena itu juga, dia menghancurkan dirinya sendiri. Apalagi ketika temannya ada yang mengajak dirinya ke diskotek. Di sanalah dia mengenal ekstasi dan menyukainya. Ketika pacaran dengan seorang BD (Bandar, red), dia pun mencoba putaw. Dia tidak mengerti bahwa putaw mempunyai efek ketergantungan yang lebih parah lagi daripada semua obat-obatan yang dicobanya. Dan untuk mencukupi kebutuhannya akan narkoba, dia rela melakukan apa saja.

Setiap dua jam sekali dia harus memakai benda itu, sehingga mau tak mau dia pun melakukan segala cara. Mencuri, menjual barang-barang berharga, seks bebas demi mendapatkan uang ataupun barang itu langsung. Demi narkoba, dia rela mengorbankan harga dirinya, karena dia memang merasa dirinya sudah tidak berharga lagi. Hal ini membuat Ani sempat mengalami 5 kali overdosis. Biasanya hal ini dikarenakan obat-obatan yang dia pakai, tidak hanya 1 macam. “Karena saya memang mencari kematian. Karena saya ini anak perempuan, tapi kok saya dioper-oper? Saya pikir, lebih baik saya mati. Tapi kok tidak mati-mati padahal sudah 5x overdosis.”

Pihak keluarga mencoba menyembuhkannya, membawanya ke dokter. Dia memang memakai obat yang diberikan dokter, tapi dia pun masih memakai ‘obat’ yang satunya. Keadaannya bertambah parah, tanpa pengharapan, dia hanya mencari satu jalan yaitu kematian. Semakin dia putus asa, dia mencoba lompat dari apartemen. Jika dengan overdosis tidak bisa, mungkin dengan bunuh diri seperti itu, dia bisa mati. Melompatlah Ani, jatuh dengan posisi terduduk di lantai empat. Semua tulang-tulangnya patah. Saat itu pikirannya, sebentar lagi dia akan mati. “Asyik, saya mati.” Katanya dalam hati.

Ternyata pada saat itu, ada seorang suster yang melihat kejadian tersebut, sehingga Ani langsung dibawa satpam yang ada ke rumah sakit. Di rumah sakit, selama 6 bulan perawatan, dia masih menginginkan kematian datang di hidupnya. “Saya tidak bisa jalan. Semua obat yang dari dokter saya minum melebihi dosis yang dianjurkan, tapi tetap saja saya tidak mati-mati.” katanya. ‘Kok susah amat ya ga mati-mati?’ begitu pikirannya ketika itu.

Semua cara agar kematian itu datang yang ditempuh Ani, baik melalui narkoba dengan overdosis 5x, melompat dari gedung, maupun minum obat melebihi dosis, semuanya mendatangkan kesia-siaan. Ani mulai bertanya-tanya, mengapa bisa terjadi hal seperti itu. Kenapa aku masih hidup? Itulah pertanyaan yang membayanginya, padahal dia merasa tidak mempunyai alasan untuk hidup.

Kemudian, Ani lari ke rumah kakaknya. Setiap siang, biasanya rumah tersebut kosong. Pada awalnya, Ani tidak ada niatan untuk mencuri, namun ketika melihat pintu lemari pakaiannya terbuka, niat itu muncul. Dia ambil kotak perhiasannya. Dia pakai buat kumpul sama teman-temannya dan memakai narkoba sampai habis. Dia mulai bingung harus kemana, akhirnya dia tiba di sebuah rumah kosong.

Di sana dia melihat ada orang gila. Dalam hatinya dia berpikir, apakah dia akan berakhir seperti itu karena keputusasaannya untuk mati. Mungkin dia bisa gila. “Ah, aku ga mau gila, mendingan aku mati daripada gila. Maka di situlah saya menjerit. ‘Tuhan, kalau memang Engkau ada tolong sembuhkan saya. Saya sudah capek pakai narkoba. Saya sudah tidak punya apa-apa, saya sudah tidak diterima. Tolong Tuhan, saya sudah capek.’” Perkataan itu dia keluarkan pada saat dirinya sakaw.

Menjelang pagi, masih dalam keadaan sakaw, Ani pergi dari rumah kosong tersebut. “Saya jalan, cukup jauh perjalanan saya sampai akhirnya saya tidak tahan.” Pukul 3 sore, dia tiba di sebuah halte. Dia takut mau tidur dimana nanti malam. Ternyata di dekat halte tersebut, ada panti asuhan. Dia ke panti asuhan tersebut dan menceritakan semua kehidupannya kepada orang-orang yang mengurus panti asuhan itu, keadaan sakaw masih menguasai dirinya.

“Kamu ingin sembuh?” tanya pengurus itu. Ketika Ani mengiyakan, dibawalah dia ke sebuah tempat yang benar-benar tidak diduga olehnya. “Nah, di situ saya merasa aneh. Masa saya disuruh berdoa? Saya disuruh baca Alkitab, saya nggak ngerti. Saya bilang ini bukan jalan saya.” Ani mengatakan bahwa dia tidak butuh Alkitab, karena dia sakaw yang dia butuhkan adalah obat. “Kalian semua gila. Karena yang saya tahu dari dulu untuk menyembuhkan itu pake obat. Ini nggak.” Itulah kata-katanya ketika itu. “Mereka cuma nyanyi, baca Alkitab, doa, tumpang tangan, sudah.”

Pada hari kedua, sakaw nya pun menjadi-jadi. Dia pikir mungkin saat itulah dia akan mati. Dan untuk kedua kalinya, dia pun marah kepada orang-orang yang ada di sana ketika itu. Permintaan Ani untuk narkoba pun ditolak, tapi para pembimbing di sana terus mendoakannya. Akhirnya, merasa tidak tahan, akhirnya Ani ingin pulang saja. Sebelum pulang, sang pembina ingin mendoakan dia dulu. Ani pun berpikir tidak ada masalah. Sewaktu didoakan, dia teringat kembali doanya sendiri ketika itu. Dia ingat bahwa dia pernah minta Tuhan untuk menyembuhkannya. Apa ini yang mau Tuhan lakukan buat saya? Tanyanya dalam hati. Setelah itu, Ani tertidur sampai pagi.

Di hari ketiga, sakaw-nya bertambah parah. Dia semakin liar dan galak pada semua orang di sana, bahkan dia mengancam mentornya dengan memakai pisau dan meminta uang untuk membeli narkoba. Lalu datanglah seorang pendeta yang mendoakannya. Entah mengapa, setelah itu Ani merasa malas untuk pulang. Di hari ketiga itu, dia mengurungkan niatnya untuk pergi dan mengikuti ibadah pada malam harinya.

Di dalam ibadah itu, ada suatu lagu yang mengatakan, “Hanya nama Yesus…” Dia menangis sampai hancur hati. Lagu itu membuatnya sadar hanya nama Yesus, hanya nama Yesus. Berarti Tuhan ini yang menyembuhkan saya. Katanya dalam hati. Perasaannya pun menjadi dingin dan tenang, kayak tidak mempunyai masalah. “Besok saya juga mau,” katanya dalam hati kembali ingin merasakan perasaan itu. Sejak saat itu, Ani tidak lagi merasa sakaw dan rasa ingin memakai obat-obatan itupun sirna.

Semua kejadian yang dia alami, berkali-kali mujizat yang dia alami, banyak jalan yang dia lalui, dia menyadari bahwa dirinya sesungguhnya berharga dan bahwa Tuhan tidak ingin dia mati. “Semua kebaikan Tuhan itu saya rasakan, semua mujizat Tuhan itu saya rasakan. Yang dibilang Yesus itu kekasih jiwaku itu benar-benar saya alami, jadi saya benar-benar merasa bahwa Yesus itu segalanya buat saya.” tutupnya tentang cerita hidupnya. Percayalah, Yesus pun segalanya buat kita semua.

Sumber: Rani Rahmi (ajaibtuhanku.blogspot.com) 

Senin, 20 Oktober 2014

KESAKSIAN TUMOR HILANG KETIKA PERCAYA TUHAN YESUS


Pertengahan 1984, Bini merasakan ada yang tak beres pada perutnya, penat, seperti ada yang menekan. Namun itu tak dihiraukannya. Ia tetap bekerja seperti biasa. Bangun jam 23.00 WIB saat kebanyakan orang di desa Bejen, Kaliwungu, Semarang masih lelap tidur. Setiap hari, ia harus puas dengan tidur 4 sampai 5 jam. Tangannya dengan sigap menyiapkan masakan yang akan dijualnya ke pasar Teguhan -Boyolali atau Kaliwungu. Menu yang ia siapkan cukup beragam. Nasi soto, sambal goreng, pecel dan beberapa sayuran. Sementara, suaminya berjualan kain di Blitar.
Bini memang harus kerja keras karena saat itu keenam anaknya masih sangat butuh biaya sekolah. "Saya ingin mereka berpendidikan, lebih baik dari kami orangtuanya," aku Bini yang tak tamat SD.
Untunglah, anak-anak cukup mengerti kondisi orangtuanya. "Mereka semaksimal mungkin membantu saya. Sepulang sekolah, mereka memotong sayur-mayur yang akan dimasak malam harinya. Bahkan anak-anak yang agak besar terpaksa bergilir tidak masuk sekolah untuk menjaga adik- adiknya di rumah. Sampai-sampai, anakku, Catur, mendapat julukan Mbok Pon karena setiap Pon (penanggalan Jawa, red.) ia tidak sekolah," kata Bini mengenang.

Menderita Tumor

Suatu pagi, Bini tak dapat menahan rasa sakit. Perutnya seperti diaduk. Kali ini, ia terpaksa ke dokter di Boyolali. Setelah diberi obat, ia merasa lebih enak. Tak lama kemudian, rasa sakitnya berkurang. Namun, ia tak bisa tenang-tenang istirahat di rumah. "Meski kadang perut kambuh, selama bisa ditahan, saya tetap berjualan. Kebutuhan makan sehari-hari untuk anak sangat besar. Belum lagi keperluan sekolah juga tak sedikit. Kalau saya nggak kerja, gimana?" tutur wanita sederhana yang selalu berkebaya ini.
Lima bulan kemudian, Bini kembali ke dokter, lagi-lagi karena tak tahan dengan rasa sakit yang menyerang. Ketika ia raba-raba perutnya, seperti ada yang mengganjal. Karuan saja, ia kaget dan panik. Oleh dokter yang kedua, Bini dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap. Maka dengan hati yang lungkrah, Bini diantar keluarga pergi ke RS Jebres di Solo.
Bayangan dan pikiran Bini campur aduk tak karuan. Satu sisi memikirkan sakitnya, di sisi lain, ia teringat anak-anak, pekerjaan, dan segudang kebutuhan. "Pikiran saya nggak karuan, apa lagi saya dengar harus rawat inap," kenangnya getir. Hari kesebelas di rumah sakit, pikiran Bini semakin galau saat mendengar penjelasan bahwa dari hasil USG, ada tumor di perutnya dan harus segera dioperasi.
Tumor? Operasi? Sungguh dua kata itu sangat menakutkan baginya. Tidak saja bayangan sakitnya dioperasi, tetapi juga anak-anak yang harus ditinggalkan di rumah. Lantas, bagaimana pula dengan biaya yang cukup besar. Dari mana semua itu?

Perut Kian Membesar

Kondisi Bini semakin memprihatinkan. Perutnya membesar, ia tak lagi bebas bergerak. Untuk duduk pun, ia harus mencari posisi yang pas supaya rasa sakitnya berkurang. Bahkan akhirnya Bini tak mampu lagi berjalan, ia perlu bantuan orang lain untuk memapah atau menggendongnya. "Perut saya sebesar balon dan keras sekali. Hampir semua orang yang melihat kondisi saya menangis. Hati saya tambah sedih kalau ditengok teman. Dalam hati saya bertanya, kenapa saya harus mengalami semua ini?" kisahnya.
Ingin rasanya ia menolak untuk operasi. Namun, ia juga takut akan kondisinya yang semakin parah. "Saya betul-betul bingung. Dalam hati saya berkata, 'Duh Gusti tolong saya.' Beberapa hari sebelumnya, anak kedua kami, Christine Sri Rahayu, yang telah kenal Yesus menjagaiku, menghibur dan menguatkan. Beberapa temannya pun datang menengok saya dan mengatakan hal yang sama yaitu ada pertolongan dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kala itu, anak-anaknya yang kecil sudah mulai ikut sekolah minggu."
Ketakutan dan kebingungan Bini makin memuncak. Tubuhnya pun luruh tanpa daya. Ia tak pernah mampu menata hatinya untuk tetap tenang. Saat gundah dan sedih merasuk hati, ia teringat ucapan-ucapan yang memberi harapan bahwa Yesus Kristus dapat menolong. Ia berdoa dalam hatinya dengan permintaan sederhana, tolong saya ya Tuhan.

Percaya Yesus, Tumor Menghilang

Malam hari sebelum tindakan operasi, Bini ditengok Denish Free, seorang misionaris asal Amerika yang melayani di GJKI Salatiga dan juga kebaktian keluarga di lingkungan tempat tinggal Bini. Denish sudah sangat dikenal Bini karena kerap bertandang ke rumahnya menemui anak-anaknya.
Malam itu adalah saat yang terindah dalam hidup Bini. Ia mendengar dari Denish tentang jalan keselamatan di dalam nama Yesus Kristus. Roh Kudus bekerja di dalam hatinya. Memberi pengertian baru bahwa hanya melalui darah penebusan Yesus, manusia bisa sampai kepada Allah. Ada kehidupan kekal bagi orang percaya. Tak hanya itu, Denish juga menjelaskan kuasa Yesus yang ajaib dan mukjizat kesembuhan di dalam nama-Nya.
Malam itu, oleh karya Roh Kudus, Bini percaya kepada Yesus. Denish berdoa untuk Bini agar iman di hatinya terus tumbuh. Doa yang kedua, memohon kesembuhan untuk tumor Bini. "Setelah doa, meski masih sakit sekali, pikiran saya tenang. Saya berserah pada Tuhan," imbuhnya.
Esok paginya sekitar jam 05.00 WIB, Bini buang air kecil. Darahnya berdesir, jantungnya berdegup keras. Kaget tak karuan. Bini hampir tak percaya apa yang dilihat matanya. Air seninya hitam pekat seperti air kopi dengan bau menyengat. "Perut saya yang gede seperti orang hamil 9 bulan lama-lama kempes, kisahnya dengan mata berkaca-kaca mengingat kejadian ajaib itu.
Tentu saja Bini heran dengan kejadian itu. Begitupun Christine yang menemani di rumah sakit sepanjang malam. Berita segera sampai di telinga suster jaga dan akhirnya pihak rumah sakit kembali mengecek kondisi Bini, USG lagi. Hasilnya? Mukjizat Tuhan! Tumornya tidak ada! Rasa sakit yang menyiksanya hilang lenyap. Bini merasakan badannya segar. "Seperti mimpi," ucapnya.

Kesaksiannya Membawa Berkat

Dokter yang menangani Bini tak kalah bingung. "Dia bertanya pada saya, dikasih apa Bu? Pakai dukun, ya?" kata Bini menirukan kebingungan dokter. Bini lantas menceritakan pada dokter apa adanya. Apa yang telah ia dengar, apa yang dirasakannya. "Saya percaya yang menyembuhkan saya Gusti Yesus. Saya ndak pakai apa-apa. Cuma didoakan dan percaya saja pada-Nya,"
Kejadian ajaib itu segera saja sampai di desa Bejen, tempat tinggal Bini. Semua orang yang mendengarnya takjub. Lebih-lebih bagi mereka yang sehari sebelum kejadian itu membesuk Bini, melihatnya dengan perut besar dan merintih kesakitan. Tetangga. keluarga, dan teman- teman di pasar yang datang melihatnya, tentu saja penasaran ingin mendengar "kisah aneh" tersebut.
Dua hari kemudian, Bini diizinkan pulang, meninggalkan rumah sakit. Kejadian yang dialami Bini benar-benar sebuah kesaksian besar tentang kuasa Tuhan. Beberapa orang yang yang tak puas dengan kisah Bini yang selintas itu kembali mendatanginya untuk bertanya lebih dalam. "Saya cerita apa adanya. Ndak nambahi, ndak ngurangi. Pokoknya saya didoakan, saya beriman, saya percaya Tuhan Yesus dan paginya terjadi seperti itu. Lalu firman Tuhan yang diceritakan pada saya itu saya ceritakan kembali pada orang-orang yang Tanya sama saya. Mbah Soma, salah satu tetangga yang dengar cerita saya itu lalu menerima Yesus. Sampai sekarang ia setia pada Tuhan dan rajin pergi ke gereja," kenangnya penuh rasa haru.

Merasakan Perubahan Hidup

Merasa sudah sehat, beberapa hari kemudian, Bini kembali bekerja, jualan di pasar. Namun ada satu perubahan. Bukan cuma kerja keras yang dilakukan Bini setiap harinya, "Saya juga berdoa mohon berkat untuk jualan saya dan berdoa juga buat anak-anak," kata Bini tersenyum.
Sukacita Bini melimpah. Sungguh ia tak dapat menghitung kebaikan- kebaikan Tuhan. Doa dan kerja yang dilakukan bertahun-tahun telah membuahkan hasil. "Saya berterima kasih sama Tuhan, anak-anak bisa sekolah dengan baik, dan ikut Tuhan".
Harapan Bini tercapai. Kedelapan anaknya, Subito, Christine Sri Rahayu, Suharso, Catur Samiasih, Is Wahyudi, Wiji Utami, Erni Johan, dan Hasto Nugroho telah mengecap pendidikan lebih dari orangtuanya. Uniknya, empat dari mereka adalah jebolan STII, Jogjakarta. "Anak bungsu saya masih kuliah di UKRIM," kata Bini yang banyak mengasuh anaknya sendirian karena suaminya telah meninggal sepuluh tahun lalu. Rentetan anugerah yang dirasakan Bini seakan meling kupi masa tuanya. Dan pasti anugerah terbesar di dalam hidupnya adalah perjumpaannya dengan Yesus, Sang Juru Selamat. "Saya madep mantep nderek Gusti Yesus," ungkapnya dalam bahasa Jawa, maksudnya tidak ragu-ragu atau sungguh-sungguh mantap mengikut Tuhan Yesus.


Sahabatku, kesaksian ini sungguh menjadi berkat buatku. Dari kesaksian ini kita bisa mengerti bahwa untuk mengalami mukjizat Tuhan itu tidak sulit, cukup dengan percaya di dalam nama Tuhan Yesus, semua bisa dinyatakan bagi kita.

Tapi kenyataan sering kali kita sudah berkata kita percaya, tapi belum ada jawaban atas doa kita, belum ada mukjizat.Kenapa ini bisa terjadi? ternyata hal ini pernah terjadi juga waktu jaman Tuhan Yesus ada. Kita bisa lihat di Matius 14:17-21. Menceritakan tentang orang yang mempunyai seorang anak yang sakit ayan, tapi belum sembuh juga walau sudah dibawa ke murid Tuhan Yesus. Sama seperti keadaan kita yang mengaku percaya Tuhan pasti sembuhkan, Tuhan pasti jawab doa kita, Tuhan pasti nyatakan mukjizat, tetapi sampai sekarang belum terjadi dan membuat kita ragu.

Dan jawaban dari keadaan ini dijelaskan secara jelas di Firman Tuhan dalam Matius 17:20 yang berkata "Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." Semua belum terjadi karena ternyata kita kurang percaya. Percaya itu bukan cuma sebatas perkataan saja. Kalau percaya sebatas perkataan semua bisa melakukan, tetapi tidak semua yang merasakan mukjizat Tuhan, karena iman percaya kita belum penuh kepada Tuhan. 

Firman Tuhan dalam Matius 11:24 berkata "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." Dari Firman ini kita bisa mengerti kalau iman percaya kita harus sampai merasa telah menerima. Saat kita tanamkan cara berfikir seperti itu, kita percaya di dalam Tuhan ada kepastian. Walau saat kita doakan kita belum melihat sesuatu, tapi kita percaya Tuhan sedang bekerja buat kita. Kita sudah melakukan bagian kita, selebihnya biar Tuhan yang bekerja. Jadi apa yang kita minta dan doakan, asal untuk kemuliaan nama Tuhan, pasti dinyatakan di dalam hidup kita.

Sahabatku, pernahkan kamu mengalami saat-saat dimana apa yang kamu doakan belum dijawab sama Tuhan, belum ada mukjizat, belum ada kesembuhan? Mari kita belajar punya iman percaya yang tulus dan benar dihadapan Tuhan, percaya penuh akan kuasaNya. Percaya disaat kita berdoa Tuhan sudah jawab doa kita, selebihnya biarkan Tuhan bekerja. Walau terkadang waktunya Tuhan tidak seperti yang kita pikirkan, jangan menyerah, tetap yakin Tuhan sudah jawab doamu. 
Tuhan pasti nyatakan mukjizatNya di dalam hidupmu.

Tuhan Yesus memberkati ^__^

Sumber : facebook

Kamis, 16 Oktober 2014

DEMI OBAT PENENANG SATU PERSATU BAGIAN TUBUHKU KUPOTONG


Demi Obat Penenang Satu Persatu Bagian Tubuhku Kupotong



Dunia Kevin Kubik serasa runtuh hancur berkeping-keping saat suatu hari di depan matanya ia melihat ayahnya ditangkap polisi dengan tangan terborgol. Semenjak hari itu ia tidak pernah melihat ayahnya lagi dan tidak pernah tahu kejahatan apa yang telah dilakukan ayahnya.

"Saat saya melihat ayah saya dibawa pergi seperti itu, yang ada di dalam diri saya adalah rasa marah yang amat sangat. Dan tentu saja karena saya masih kecil saya tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dan saya benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Dan perasaan marah itu mulai bertumbuh di dalam hati saya," ujar Kevin mengawali kisahnya.


Secara emosional, pribadi Kevin hancur dan ia mulai melampiaskan kemarahan itu pada setiap barang yang ada di hadapannya. Kevin mulai memukul dan menghancurkan barang-barang, merobek perkakas dengan pisau, merusak mobil dan apa saja karena besarnya rasa marah yang tersimpan di dalam dirinya. Dalam waktu tidak terlalu lama, Kevin menemukan cara lain yang jauh lebih mengerikan untuk melampiaskan rasa frustrasinya, memotong bagian tubunya sendiri dengan pisau.


"Sejujurnya saya tidak tahu kenapa saya mulai melukai tubuh saya sendiri. Saya pikir mungkin dengan cara itu saya bisa mendapatkan sedikit perhatian karena saya kehilangan perhatian dari seorang ayah dan saya tidak memiliki figur seorang ayah," ujarnya dengan pedih.


Tidak hanya melukai dirinya sendiri, Kevin juga mulai minum alkohol dan memakai obat-obatan. Kevin mulai menikmati semuanya itu karena melalui hal itulah semua rasa sakit akibat ketidakhadiran ayahnya mulai menghilang dan Kevin tidak lagi merasakan luka, marah maupun rasa sakit untuk sesaat.


Awalnya Kevin hanya menggunakan mariyuana namun seiring dengan pertambahan usianya, ia mulai memakai semua obat-obatan yang bisa ia dapatkan dan hidup dengan alkohol maupun asap yang memabukkan. Ketergantungan ini semakin parah ketika Kevin mulai kecanduan obat-obatan dokter. Kevin menipu, mencuri, dan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan segala obat.


Ketidakstabilan emosi Kevin dan ketergantungannya akan obat yang semakin parah memaksanya untuk melakukan hal-hal yang ekstrim. "Ide brilian" yang melintas di kepalanya membuat Kevin mengambil mesin pemotong dan memotong salah satu jarinya. Jari telunjuk tangan kirinya menjadi korban pertama kegilaan Kevin.


"Saya pergi ke dokter dan langsung masuk ICU. Tentu saja mereka mengoperasi tangan saya dan hal itu membuat saya diberikan obat-obatan penahan rasa sakit yang saya dambakan," ujarnya.


Kevin tidak berhenti sampai di situ. Selama bertahun-tahun, beragam pemotongan dilakukan olehnya. Kevin mengambil pisau listrik dan memotong tendon kakinya. Dan ketika luka itu sembuh, ia memotongnya lagi. Kevin juga memotong bagian belakang lutut kanannya, memotong otot-otot di tangan kirinya, dan memotong buku jari tangan tengahnya. Kevin juga menghancurkan jempol kakinya sedemikian rupa sampai harus diamputasi. Semuanya itu dilakukan oleh Kevin hanya untuk mendapatkan resep obat-obatan dokter dalam jumlah yang besar.


"Secara fisik saya kecanduan obat dokter. Jika saya tidak meminumnya, saya akan merasakan sakit, pusing, mual, berkeringat, dan ngilu di seluruh tubuh saya. Cara termudah untuk mengatasi hal itu adalah dengan tetap memakai semua obat-obatan itu. Karena semakin banyak saya memakainya, semakin sedikit rasa sakit itu," kisah Kevin akan masa lalunya yang kelam.


Kevin pun kemudian bertemu Luane. Ia menjauhkan diri dari semua kecanduannya hingga mereka menikah. Tapi semua itu tidak bertahan lama sampai Luane menangkap basah apa yang Kevin lakukan.


"Sedikit demi sedikit Luane mulai menyadari akan kebiasaan saya melukai diri sendiri dan juga akan kecanduan saya. Pada mulanya saya berusaha keras untuk menyembunyikannya, namun bagaimana Anda dapat menyembunyikan luka-luka maupun ketika Anda jatuh di sana-sini dan terkapar di lantai?" ungkap Kevin.


Hidup Kevin semakin gelap. Ia mulai mendengar suara-suara seram di dalam rumah, bayangan menyeramkan yang dipercayanya sebagai kuasa kegelapan, dan temperamennya menjadi semakin brutal bahkan melampaui batas ketika dalam ketidaksadaran akibat obat-obatan dan alkohol, Kevin menodongkan pisau kepada Luane dan mengancam akan membunuhnya. Luane lari dari rumah dan tidak pernah kembali.


"Sewaktu Luane pergi, saya benar-benar merasa kehilangan dan hancur. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya benar-benar merasa sendirian. Hati saya tercabik, saya tidak tahu harus pergi kemana dan berpaling kepada siapa, saya kehilangan segalanya, tidak memiliki apa-apa lagi, sangat tidak sehat, tidak makan, dan yang saya lakukan hanyalah mabuk dan "ngobat". Saya telah kehilangan hal-hal yang terpenting bagi saya. Itu adalah titik terendah dalam hidup saya," ungkap Kevin dengan suara serak menahan tangis.


Sementara itu Luane mulai menghadiri kebaktian gereja bersama dengan teman-temannya. Tak lama setelah itu ia menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya. Saat Kevin berusaha mati-matian untuk berkomunikasi dengan istrinya, Kevin setuju untuk berdoa dengan Luane setiap malam di telepon. Lalu suatu malam sesuatu yang menakutkan terjadi.


"Kami berbicara, kami berdoa dan menutup telepon. Ketika saya berbaring di situ, sepertinya ada yang mencengkeram pergelangan kaki saya. Hal itu begitu menakutkan saya. Jadi saya kembali menelepon Luane. Dan ketika kami berbicara di telepon, suara guntur menggelegar dan petir menyambar. Suasana malam itu bagaikan Tuhan yang sedang menghantam tinju-Nya dan berkata, "Anak-Ku akan datang dan menyelamatkan anak muda ini malam ini". Jadi waktu kami berbicara di telepon saya berkata, "Luane, apa yang harus saya lakukan?" dan dia bilang "Mintalah agar Yesus datang!" Dan saya berkata, "Yesus, hidupku adalah milik-Mu. Lakukanlah apapun yang ingin Engkau lakukan". Dan saat itu juga saya tertidur. Saya tertidur di atas Alkitab saya dan merasakan damai untuk pertama kalinya dalam hidup saya, paling tidak selama 31 tahun umur saya," ungkap Kevin dengan isak tangis penuh haru ketika ia menceritakan titik balik dalam hidupnya.


Keesokan paginya, Kevin telah menjadi seorang pria yang baru.


"Pagi itu, 9 Maret 2003, Tuhan melalui anak-Nya Yesus Kristus memulihkan dan membebaskan saya dari 25 tahun kecanduan, gangguan mental, dari sakit penyakit dan pola makan yang kacau. Secara instan Tuhan mengambil semua itu dan tak pernah kembali lagi," ujar Kevin akan mukjizat yang terjadi dalam hidupnya.


Ketergantungan Kevin akan obat-obatan kini digantikan dengan sebuah rasa lapar yang baru.


"Saya mulai "melahap" Firman Tuhan. Saya tenggelam ke dalam Firman Tuhan dengan begitu dalam. IA menaruh rasa lapar dalam hidup saya akan Firman itu. Mulai dari saat saya membuka mata di pagi hari sampai saya menutup mata di malam hari, saya hanya ingin terus mencari siapa pribadi yang telah datang dan menyelamatkan saya," ujar Kevin.


Luane melihat perubahan yang dramatis dalam hidup Kevin dan pulang ke rumah. Saat ini Kevin dan Luane melayani Tuhan bersama-sama. Mereka tertanam di gereja lokal dan memiliki banyak teman rohani. Kevin juga telah bebas dari obat-obatan dan alkohol, suatu hal yang tak pernah terbayangkan olehnya bahwa hal itu mungkin terjadi.


"Apapun yang pernah engkau lakukan, setiap pikiran yang akan engkau lakukan, bisa diampuni. Tidak ada masalah yang terlalu besar bagi Tuhan yang tidak dapat diatasi oleh Yesus Kristus. Yang kita perlukan hanyalah merendahkan diri di hadapan-Nya dan meminta-Nya untuk megambil alih segala masalah itu," ujar Kevin menutup kesaksiannya. 


Sumber Kesaksian:
Kevin Kubik (jawaban.com)

Minggu, 12 Oktober 2014

VITA LUSIANA : TUHAN NYATA DI KEHIDUPAN PUTRIKU


Vita Lusiana: Tuhan Nyata Di Kehidupan Putriku



WEDNESDAY, 03 SEPTEMBER 2014

Total View : 1545 times

Menjadi orangtua dan memiliki anak adalah harapan bagi setiap pasangan suami istri. Hal yang sama juga dirindukan Vita Lusiana hingga akhirnya anugerah itu diterimanya. Kelahiran seorang putri dalam keluarga kecilnya menjadi kebahagiaan tersendiri. Hal ini tidak berlangsung lama, ibu muda ini terusik dengan keadaaan anaknya. Oze yang baru berusia satu minggu divonis oleh dokter menderita jantung bocor. Vita terkejut dan tak pernah menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya. Dalam kebingungannya, dokter hanya memberikan surat rujukan ke salah satu rumah sakit untuk pemeriksaan lanjut jantung anaknya.


Saat itu Ibu muda ini sempat mempertanyakan Tuhan, kenapa anak pertama yang telah Tuhan janjikan bahwa segala sesuatunya akan baik dan luar biasa harus mengalami jantung bocor seperti ini? Dengan tetap memperjuangkan kesehatan Oze, Vita kemudian membawa anaknya ke dokter yang lain untuk imunisasi. Sekaligus dia berkonsultasi mengenai hasil pemeriksaan dokter sebelumnya. Dokter yang kedua ini kemudian mengadakan pemeriksaan dan mengatakan memang dia mendengar jantung Oze sedikit bising, namun dokter tersebut berani untuk melakukan imunisasi dan mencoba untuk melihat perkembangan Oze selanjutnya. 


Saat itu Vita mengambil satu komitmen. Secara manusia hari-harinya pasti akan dipenuhi oleh tangisan mengasihani anaknya. Namun perkataan Tuhan begitu kuat berbicara di dalam hatinya, "Percaya pada hati-Ku untuk Oze". Dan Tuhan mulai mengajarkan Vita untuk tidak mengandalkan kekuatan orang lain melainkan kekuatan Tuhan. Melalui doa Vita memperkatakan bahwa setiap organ tubuh Oze akan berfungsi sesuai dengan rencana dan rancangan Tuhan, tidak ada segala kerusakan dan kebocoran.

Tidak berhenti di situ, perkataan positif terus mengalir untuk Oze. Suami Vita kemudian menyarankan agar Oze mulai diperdengarkan lagu-lagu pujian dan penyembahan. Percayalah bahwa pujian dan penyembahan itu memiliki kuasa. Baginya, percaya saja bukan perkara gampang. Tetapi, dengan lembut Tuhan menyatakan kepada Vita bahwa jika ia tidak mengalami hal ini, tidak akan ada suatu kejadian besar yang akan Vita terima dalam hidupnya.

Sejak itulah Vita pun mulai berhenti untuk bertanya "kenapa' dan berkomitmen untuk mulai percaya kepada janji Tuhan. Tujuh bulan lamanya dia menunggu janji Tuhan untuk menyembuhkan Oze. Kuasa-Nya kemudian dibuktikan saat Vita kembali membawa Oze ke dokter dan mengevaluasi kondisi jantung Oze. Sewaktu stetoskop diletakkan di dada Oze, dokter mengatakan dia tidak lagi mendengar suara bising di jantung Oze.


Ingin memastikan, Vita kemudian menanyakan hasil pemeriksaan dokter sekali lagi. Dan hasil pemeriksaan memang menunjukkan bahwa jantung Oze sudah menutup sempurna. Vita dan suaminya tak dapat menyembunyikan kegembiraan mereka. Saat itu Vita menyadari, inilah yang Tuhan ingin kerjakan di dalam hidupnya, hidup Oze dan juga hidup keluarganya.


Memang tujuh bulan bukanlah waktu yang sebentar bagi Vita, namun dia bersyukur Tuhan mengijinkan perkara ini terjadi dan Vita boleh melaluinya. Vita dapat melihat bahwa ternyata hal ini membawa kemuliaan bagi nama Tuhan, menyatakan kepada orang-orang bahwa Tuhan Yesus itu adalah Tuhan yang hidup. Yesus masih hidup sampai sekarang dan Dia masih mengerjakan mukjizat-mukjizat yang luar biasa terutama untuk Oze, anaknya. Pemulihan itu benar-benar Oze terima dan jantungnya mengalami kesembuhan total. Tuhan benar-benar nyata menyembuhkan Oze.

Tuhan pun mulai berbicara banyak hal kepada Vita, bahwa kalau Vita tidak melewati semua ini, Vita tidak akan pernah tahu kuasa Tuhan yang begitu luar biasa dan perkara besar yang sanggup Tuhan kerjakan. Meskipun Vita dan suaminya menikah di usia muda, namun Vita merasakan kasih Tuhan yang luar biasa bagi keluarganya terutama untuk Oze anaknya. Vita merasa dirinya tidak perlu kuatir Oze akan bertumbuh seperti apa kelak. Setiap harinya dia dapat melihat Oze tumbuh menjadi anak yang pintar, suka berdoa, aktif di sekolah minggu, dan suka menyanyi dan menyembah Tuhan. Sampai saat ini, setiap kali Vita melihat Oze, Vita dapat melihat bagaimana Tuhan hidup di dalam hidupnya Oze. 


Sumber Kesaksian :
Vita Lusiana (jawaban.com)

Rabu, 08 Oktober 2014

SUAMI PENGGEMAR ILMU PELET DAN KEJAM PADA ISTRI


Suami Penggemar Ilmu Pelet dan Kejam Pada Istri

FRIDAY, 05 SEPTEMBER 2014

Total View : 26895 times

Banyak pria dewasa terjatuh dan berkubang di dalam dosa nafsu birahi. Terlebih ketika mereka telah mengenal dunia hitam. Berbagai macam cara dilakukan untuk menaklukan hati wanita. Hal tersebut dialami dan dijalani oleh Subagio Sulistyo yang sedari remaja telah diturunkan ilmu pelet oleh sang kakek.

Dengan ilmu itu Subagio dengan mudahnya memperoleh wanita yang diinginkannya. Dengan gaya seperti Don Juan, Subagio gemar mempermainkan wanita. "Sewaktu remaja, sama kakek saya di kasih ilmu untuk memelet wanita. Berdasarkan ilmu kakek saya itu tidak susah untuk mendapatkan wanita," ungkapnya.

Hingga suatu hari seorang wanita bernama Jean melamar kerja di kantornya. Subagio pun mulai tertarik dan menginginkan Jean menjadi miliknya. Meskipun Jean sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, Subagio tetap berkeras hati untuk mendapatkannya. bahkan dirinya membawa Jean ke seorang dukun untuk didoakan. "Dengan cara-cara seperti itu, akhirnya dia lengket sama saya," kata Subagio.

Mereka berdua pun segera menjalin hubungan. Tanpa diduga Subagio, Jean meminta agar dirinya segera dinikahi. Namun tidak pernah di duga oleh Jean, bahwa pernikahan akan menjadi awal penderitaan hidupnya, karena sekalipun telah berumah tangga Subagio tidak pernah mengubah perangai buruknya.

Subagio kembali melakukan aktivitas malamnya. Pekerjaan yang mengharuskannya dekat dengan dunia entertain membuatnya tergoda untuk menjalin hubungan dengan wanita malam. Subagio pun jarang pulang ke rumah. Ketika sang istri Jean mempertanyakan semua alasannya, jawaban yang ia berikan adalah pukulan, tamparan dan juga cacian. "Waktu itu saya sebagai laki-laki masih membungkus semua itu sehingga seakan-akan saya tidak melakukannya. Saya menunjukkannya dengan kemarahan," ungkap Subagio.

"Ketika dia minta bercerai dengan berteriak, tanpa sadar saya teringat kejadian bapak saya memukul ibu saya. Apa yang terekam dalam pikiran saya itu, itulah yang saya lakukan pada istri saya. Dalam pikiran saya, dari pada bercerai, dari pada saya malu lagi, lebih baik saya bunuh, saya matiin perempuan ini. Ngga papa saya masuk penjara. Jadi saya ambil pisau, dan saya mau tusuk dia.."

Tujuh tahun pernikahan mereka, bagi Jean adalah waktu yang sangat panjang karena ia mengalami siksaan fisik dan batin dari suaminya. Tak tahan lagi, Jean pun jatuh sakit. Namun ketika melakukan konsultasi dengan psikolog, hal itu mengungkap masalahnya yang sebenarnya.

Karena kondisi kejiwaannya yang tidak stabil, Jean akhirnya mengkonsumsi obat penenang dan menjalani perawatan. "Saat itu saya tidak pernah cari Tuhan" ungkap Jean. "Pulang kembali kepada rutinitas, saya merenung. Tuhan saya harus bagaimana, saya buntu saat itu."

Dalam kondisinya yang tidak berdaya, Tuhan mengirimkan beberapa hamba Tuhan untuk melayani Jean. "Jean, tidak ada nama lain yang dapat menolong kamu selain nama Yesus.." jelas hamba Tuhan itu pada istri Subagio.
Akhirnya Jean melembutkan hatinya dan mengikuti sebuah ibadah. Di sana dia didoakan dan menerima jamahan Tuhan. Namun Subagio tetap tidak peduli dengan kondisi yang dialami istrinya, ia malah asik sendiri dengan wanita selingkuhannya.

Di rumah, istrinya berbicara dengan baik-baik kepada Subagio untuk memintanya memilih antara wanita itu dan dirinya. Jean minta Subagio untuk menceraikan dirinya. Subagio pun menolaknya. Untuk menyenangkan istrinya, Subagio menuruti permintaan Jean untuk melakukan perjalanan rohani ke Yerusalem.

Ketika menapaki tangga di Via Dolorosa, kaki Subagio tersandung dan membuatnya jatuh terkapar. Dirinyapun segera digotong ke hotel. Di hotel itulah dirinya mendapatkan pengalaman spiritual. Ada sebuah suara berkata, "Kamu pulang dari tanah suci, ketahuan kamu orang yang najis, orang yang kotor, dengan kaki pincang pula!" Saya takut, saya bilang, "Tuhan tolong ampuni saya, ampuni saya Tuhan." Pagi-pagi saya bangun, kaki saya tidak bengkak lagi. Sudah seperti sediakala dan saya pulang dengan kaki yang sudah sembuh."

Ketika pulang kembali ke Indonesia, Subagio pun diubahkan dengan menganal Tuhan. Menemukan kasih Allah membuat hidup Subagio berubah, namun ia harus berjuang keras agar tidak jatuh kembali kepada dosa-dosanya yang lalu. Hingga suatu hari ia mengikuti sebuah pertemuan rohani yang mengubah total kehidupannya.

"Di situ saya dibukakan tentang bagaimana menjadi seorang iman, sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab atas keluarga. Akhirnya ketika saya pulang dari kegiatan rohani itu, saya minta maaf pada istri dan anak saya."
Kini, Subagio bukan hanya menjadi suami dan ayah yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Ia bahkan melayani Tuhan bersama keluarganya. Apa yang tidak mungkin bagi manusia, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

sumber : jawaban.com

Sabtu, 04 Oktober 2014

KESAKSIAN HIDUP NOVIA

 
Shalom semuanya, 

saya mo bagikan kesaksian pribadi bagaimana saya bisa kenal Tuhan pertama kalinya dalam hidup saya. 
Saya mempunyai 1 kakak perempuan dan 1 kakak lelaki. Ayah saya sangat sayang kepada cici saya sehingga saya dan kakak saya selalu merasa terkucilkan, meskipun hanya disimpan di dalam hati saja. Memang dulu saya merasa kurang dikasihi oleh ayah saya karena beliau selalu disibukkan oleh pekerjaan dan mungkin juga stress sehingga sering membawa pulang stressnya ke rumah. Semasa sekolah (SMP-SMA) saya selalu meraih ranking 3 besar di kelas saya. Prestasi yang luar biasa ini saya raih selama kurang lebih 4 tahun berturut-turut. Di dalam hati saya, saya hanya ingin supaya orang tua saya bisa melihat prestasi saya dan membuktikan bahwa saya punya kemampuan utk bisa membuat mereka bangga terhadap diri saya.

Tapi ternyata hal itu hanya menjadi "bumerang" bagi diri saya karena saya adalah orang yang gak pernah puas dan akhirnya saya terobsesi oleh pelajaran. Saya ingin dikenal menjadi no. 1 dalam kelas. Pulang sekolah, saya bukannya main main ato santai2 seperti yang dilakukan kebanyakan anak2 lainnya, tapi saya langsung duduk di meja dan belajar. Nasihat dari orang tua tidak saya perdulikan, bahkan saya bisa "ngambek" dan marah-marah kalo ortu saya berusaha memberi tahu... 

Sampai akhirnya, suatu saat di tahun 1996 saya mendengar kabar buruk bahwa kakak lelaki saya satu-satunya terkena penyakit kanker darah (leukimia). Leukimia adalah penyakit dimana darah putih melebihi kadar darah merah sehingga menjadikan ketidakseimbangan dalam tubuh dan karena kekurangan sel darah merah bisa membahayakan jiwa. Saya benar2 shock pada saat itu, terlebih lagi mama saya, apalagi ketika diketahui ternyata penyakitnya sudah mencapai stadium III. Beliau langsung membawa kakak saya berobat ke spore. Tentu saja kakak saya ini tidak bisa melanjutkan sekolahnya lagi karena harus menjalani pengobatan yang sangat intensif. Keadaan kakak saya waktu itu benar2 sangat menyedihkan. Dia harus menjalani proses kemoterapi sehingga kepalanya menjadi gundul dan mengakibatkan hormon di tubuhnya meningkat dengan pesat. Dia kadangkala harus menahan sakit yang sedemikian hebatnya sehingga sering marah2 tanpa alasan. Mama saya dengan setia menemaninya di rumah sakit tiap hari dengan kakak perempuan saya. 

Nah pada saat itu anugrah Tuhan mulai muncul perlahan2 dalam kehidupan kami sekeluarga. Saat itu banyak sekali teman2 kakak saya dari gereja di spore dan mereka senantiasa mendukung kami dan memberi penghiburan kepada keluarga kami. 2 hari sekali mereka menjenguk kakak saya dan menyanyikan pujian buat Tuhan Yesus. Disana kakak saya dijamah Tuhan. Dia bahkan sudah mampu memainkan lagu pujian buat Tuhan dengan alat musik gitar meskipun sangat sederhana sekali. Melihat kakak saya, mama juga mulai melihat ada kekuatan dan pengharapan baru yang timbul kembali. Perlahan demi perlahan, keadaan kakak saya membaik bahkan pernah sekali dijamah Tuhan lewat kebaktian Benny Hinn dan dia memberikan kesaksian di depan 10000 jemaat Tuhan di singapore. Bukan hanya keluarga saya yang mulai "melihat" tetapi juga orang-orang lain banyak yang dikuatkan melalui kesaksian yang hidup dari kakak saya. Kakak saya menjalani perawatan selama kurang lebih setahun. 

Ketika keadaannya membaik, dia boleh berobat jalan dan pulang kembali ke Indonesia, tapi hanya selama 2 minggu saja karena tiba2 kanker yang dikira sudah pulih ternyata kambuh lagi... Waktu itu saya mendengar kabar dokter bahwa dia hanya bisa bertahan selama 3 minggu lagi. Kabar tsb benar2 membuat kami sekeluarga putus asa dan hanya berharap dan berharap saja. Tapi pada kenyataannya, Tuhan membuktikan kebesaran kuasaNya, kakak saya mampu melewati batas yang ditentukan dokter...kami semua sangat berbahagia ... Memang ini semua rencana Tuhan ketika akhirnya Tuhan memanggil kakak saya balik ke pangkuan Dia pada waktu hari Natal tahun 1997. 

Saya benar2 tidak bisa mengerti akan hal itu. Selama satu tahun, saya selalu sedih dan putus asa ketika mengingat keadaan kakak saya itu. Tapi saya percaya everything is beautiful in His time. September tahun 1998 saya mengikuti retret gereja di LA dan disana saya benar2 bertobat dan kembali ama Tuhan. Hal ini mengingatkan saya pada Roma 8:28 ayat favorit saya. Semuanya berjalan utk kebaikan buat orang yang mengasihi Dia. Dan janjiNYA Ya dan Amin utk saya dan keluarga!!! Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus saja!! 

Cerita saya tidak berhenti sampai disana. Tahun 1999 kembali keluarga saya dikejutkan oleh kabar bahwa papa saya meninggal karena stroke. Disana saya benar2 dihadapkan dengan 2 pilihan: Mau terus ikut Tuhan dalam keadaan apa pun atau meninggalkan Tuhan. Double shock yang seperti ini benar2 membuat kami (terutama mama saya) stress dan putus asa. Tapi God is really faithful to us. Tak henti2nya Dia memberi penghiburan dan kekuatan menghadapi semuanya ini. Akhirnya saya memilih pilihan yang pertama. Saya percaya bahwa kakak dan papa saya sudah di dalam tangan Tuhan dan suatu saat pasti kami semua akan berkumpul kembali, kali ini in eternity ....:) Tahun demi tahun, keadaan mama saya membaik ...puji Tuhan meskipun perlahan lahan tapi pasti. 

Saya mo terus memuji Tuhan dalam keadaan apapun karena saya tahu Dia tak pernah gagal dan rancanganNya indah dalam kehidupan kami sekeluarga. Tuhan benar2 ajar saya utk percaya dan berserah kepada DIA karena DIA yang membuat segalanya indah pada waktunya... Apa yang tak pernah dipikirkan oleh kita, Dia sediakan utk kita. Segala kemuliaan untuk Tuhan Yesus saja !! Waktu menulis ini, saya merasakan kasih Tuhan yang luar biasa dalam kehidupan saya, dan saya juga teringat satu pujian mengatakan: 

I'm so secure You're here with me 
You stay the same 
Your love remains Here in my heart 
So close I believe 
You're holding me now in Your hands I belong 
You'll never let me go All along 
You were beside me Even when I couldn't stand Through the years 
You've shown me more of You 
More of You .... (Thank You Jesus...!!) :) 


God bless, 

Sumber : www.oocities.org