Sabtu, 04 Oktober 2014

KESAKSIAN HIDUP NOVIA

 
Shalom semuanya, 

saya mo bagikan kesaksian pribadi bagaimana saya bisa kenal Tuhan pertama kalinya dalam hidup saya. 
Saya mempunyai 1 kakak perempuan dan 1 kakak lelaki. Ayah saya sangat sayang kepada cici saya sehingga saya dan kakak saya selalu merasa terkucilkan, meskipun hanya disimpan di dalam hati saja. Memang dulu saya merasa kurang dikasihi oleh ayah saya karena beliau selalu disibukkan oleh pekerjaan dan mungkin juga stress sehingga sering membawa pulang stressnya ke rumah. Semasa sekolah (SMP-SMA) saya selalu meraih ranking 3 besar di kelas saya. Prestasi yang luar biasa ini saya raih selama kurang lebih 4 tahun berturut-turut. Di dalam hati saya, saya hanya ingin supaya orang tua saya bisa melihat prestasi saya dan membuktikan bahwa saya punya kemampuan utk bisa membuat mereka bangga terhadap diri saya.

Tapi ternyata hal itu hanya menjadi "bumerang" bagi diri saya karena saya adalah orang yang gak pernah puas dan akhirnya saya terobsesi oleh pelajaran. Saya ingin dikenal menjadi no. 1 dalam kelas. Pulang sekolah, saya bukannya main main ato santai2 seperti yang dilakukan kebanyakan anak2 lainnya, tapi saya langsung duduk di meja dan belajar. Nasihat dari orang tua tidak saya perdulikan, bahkan saya bisa "ngambek" dan marah-marah kalo ortu saya berusaha memberi tahu... 

Sampai akhirnya, suatu saat di tahun 1996 saya mendengar kabar buruk bahwa kakak lelaki saya satu-satunya terkena penyakit kanker darah (leukimia). Leukimia adalah penyakit dimana darah putih melebihi kadar darah merah sehingga menjadikan ketidakseimbangan dalam tubuh dan karena kekurangan sel darah merah bisa membahayakan jiwa. Saya benar2 shock pada saat itu, terlebih lagi mama saya, apalagi ketika diketahui ternyata penyakitnya sudah mencapai stadium III. Beliau langsung membawa kakak saya berobat ke spore. Tentu saja kakak saya ini tidak bisa melanjutkan sekolahnya lagi karena harus menjalani pengobatan yang sangat intensif. Keadaan kakak saya waktu itu benar2 sangat menyedihkan. Dia harus menjalani proses kemoterapi sehingga kepalanya menjadi gundul dan mengakibatkan hormon di tubuhnya meningkat dengan pesat. Dia kadangkala harus menahan sakit yang sedemikian hebatnya sehingga sering marah2 tanpa alasan. Mama saya dengan setia menemaninya di rumah sakit tiap hari dengan kakak perempuan saya. 

Nah pada saat itu anugrah Tuhan mulai muncul perlahan2 dalam kehidupan kami sekeluarga. Saat itu banyak sekali teman2 kakak saya dari gereja di spore dan mereka senantiasa mendukung kami dan memberi penghiburan kepada keluarga kami. 2 hari sekali mereka menjenguk kakak saya dan menyanyikan pujian buat Tuhan Yesus. Disana kakak saya dijamah Tuhan. Dia bahkan sudah mampu memainkan lagu pujian buat Tuhan dengan alat musik gitar meskipun sangat sederhana sekali. Melihat kakak saya, mama juga mulai melihat ada kekuatan dan pengharapan baru yang timbul kembali. Perlahan demi perlahan, keadaan kakak saya membaik bahkan pernah sekali dijamah Tuhan lewat kebaktian Benny Hinn dan dia memberikan kesaksian di depan 10000 jemaat Tuhan di singapore. Bukan hanya keluarga saya yang mulai "melihat" tetapi juga orang-orang lain banyak yang dikuatkan melalui kesaksian yang hidup dari kakak saya. Kakak saya menjalani perawatan selama kurang lebih setahun. 

Ketika keadaannya membaik, dia boleh berobat jalan dan pulang kembali ke Indonesia, tapi hanya selama 2 minggu saja karena tiba2 kanker yang dikira sudah pulih ternyata kambuh lagi... Waktu itu saya mendengar kabar dokter bahwa dia hanya bisa bertahan selama 3 minggu lagi. Kabar tsb benar2 membuat kami sekeluarga putus asa dan hanya berharap dan berharap saja. Tapi pada kenyataannya, Tuhan membuktikan kebesaran kuasaNya, kakak saya mampu melewati batas yang ditentukan dokter...kami semua sangat berbahagia ... Memang ini semua rencana Tuhan ketika akhirnya Tuhan memanggil kakak saya balik ke pangkuan Dia pada waktu hari Natal tahun 1997. 

Saya benar2 tidak bisa mengerti akan hal itu. Selama satu tahun, saya selalu sedih dan putus asa ketika mengingat keadaan kakak saya itu. Tapi saya percaya everything is beautiful in His time. September tahun 1998 saya mengikuti retret gereja di LA dan disana saya benar2 bertobat dan kembali ama Tuhan. Hal ini mengingatkan saya pada Roma 8:28 ayat favorit saya. Semuanya berjalan utk kebaikan buat orang yang mengasihi Dia. Dan janjiNYA Ya dan Amin utk saya dan keluarga!!! Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus saja!! 

Cerita saya tidak berhenti sampai disana. Tahun 1999 kembali keluarga saya dikejutkan oleh kabar bahwa papa saya meninggal karena stroke. Disana saya benar2 dihadapkan dengan 2 pilihan: Mau terus ikut Tuhan dalam keadaan apa pun atau meninggalkan Tuhan. Double shock yang seperti ini benar2 membuat kami (terutama mama saya) stress dan putus asa. Tapi God is really faithful to us. Tak henti2nya Dia memberi penghiburan dan kekuatan menghadapi semuanya ini. Akhirnya saya memilih pilihan yang pertama. Saya percaya bahwa kakak dan papa saya sudah di dalam tangan Tuhan dan suatu saat pasti kami semua akan berkumpul kembali, kali ini in eternity ....:) Tahun demi tahun, keadaan mama saya membaik ...puji Tuhan meskipun perlahan lahan tapi pasti. 

Saya mo terus memuji Tuhan dalam keadaan apapun karena saya tahu Dia tak pernah gagal dan rancanganNya indah dalam kehidupan kami sekeluarga. Tuhan benar2 ajar saya utk percaya dan berserah kepada DIA karena DIA yang membuat segalanya indah pada waktunya... Apa yang tak pernah dipikirkan oleh kita, Dia sediakan utk kita. Segala kemuliaan untuk Tuhan Yesus saja !! Waktu menulis ini, saya merasakan kasih Tuhan yang luar biasa dalam kehidupan saya, dan saya juga teringat satu pujian mengatakan: 

I'm so secure You're here with me 
You stay the same 
Your love remains Here in my heart 
So close I believe 
You're holding me now in Your hands I belong 
You'll never let me go All along 
You were beside me Even when I couldn't stand Through the years 
You've shown me more of You 
More of You .... (Thank You Jesus...!!) :) 


God bless, 

Sumber : www.oocities.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar