Sabtu, 22 November 2014

NANA SARAGIH, TEROBSESI UANG DEMI MENGEJAR PENGAKUAN

Perubahan sikap ayahnya sejak kehadiran adik laki-laki dari hasil pernikahan kedua ayahnya menimbulkan kebencian yang mendalam bagi seorang Nana Saragih. Hatinya semakin pedih lantaran kasih sayang sang ayah yang telah terbagi. Di usianya yang masih belia, Nana sudah merasakan adanya ketidakadilan yang dilakukan oleh sang ayah yang tega menikah dengan wanita lain dan tega memadu sang ibu.
Sejak dipandang remeh sebagai seorang perempuan oleh sang ayah, hatinya semakin perih. hal itu menjadi awal baginya bertekat membuktikan bahwa seorang perempuan juga layak dan mampu mencapai kesuksesan. Lewat kerja kerasnya dalam belajar, ia berhasil menorehkan prestasi sebagai bukti kepada sang ayah. Namun lagi-lagi, sang ayah tidak sedikit pun menghargai prestasi tersebut. Kebencian semakin menekan jiwanya. Hingga beranjak dewasa, obsesi mengejar pengakuan dari sang ayah dipegang teguh olehnya. Obsesi pertama yang hendak dicapainya adalah kekayaan. Untuk mencapai hal tersebut, Nana pun bekerja tanpa kenal waktu dan tidak menganggap bahwa pergaulan atau sosialisasi sebagai sesuatu yang penting.
Ia lalu memulai dengan bisnis syal hingga akhirnya meningkat drastis. Sejak itu, pandangannya mulai berubah. Baginya, uang adalah segalanya bahkan akan mampu memebli pengakuan dari sang ayah.  Sejalan dengan kesuksesannya, ia malah menghadapi musibah, yakni sang ayah didiagnosa penyakit kanker hati yang cukup serius serta penipuan bisnis yang dialaminya. Beranjak dari itu, segala yang dia punya ludes dengan sekejap mata.
Kondisi itu sempat membuatnya putus asa. Namun sebagai wanita mandiri, Nana kembali berjuang memulai dari awal. Siapa sangka, Nana mengalami perubahan dan menyadari obsesinya yang salah akan uang sejak berteman dengan rekan-rekan sekerjanya yang hidup penuh dengan syukur. Dari merekalah Nana belajar, bahwa meski dengan penghasilan sedikit mereka tetap mampu berbahagia dan bersyukur.
"Ada penyesalan yang cukup dalam di diri saya. Seandainya saya bisa flashback kebelakang hidup saya yang sebelumnya. Mengulang waktu kembali, mungkin yang saya lakukan pertama adalah bercerita dengan Papa saya ya. Ngobrol, yah mungkin itu yang dia harapkan gitu," kenangnya.
Namun harapan itu tak pernah nyata, ia hanya menganggap bahwa kewajibannya untuk memenuhi segala keperluan orang tuanya adalah bukti bakti anak kepada orang tua. Berkat orang-orang yang mampu bersyukur dalam keterbatasannya, sebuah syukur pun mengaliri hatinya dan menjadi jalan yang dipilihkan Tuhan bagi pemulihan hidupnya. Orientasi dan obsesi akan uang tak lagi prioritas utama. Nana menyadari bahwa uang akan datang dan pergi dengan sekejap.
Pemulihannya pun membawanya kepada perkenanan Tuhan yang luar biasa. Seiring waktu, Tuhan memulihkan perekonomiannya dan menjadi berkat bagi banyak orang. Baginya, memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan adalah hal yang terpenting dalam hidup. Sebab dengan itu, setiap orang dimampukan untuk dapat menumbuhkan kasih, mau menerima, bersabar dan peduli terhadap sesama.
Sumber Kesaksian: Nana Saragih (jawaban.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar