Kamis, 29 Januari 2015

SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA ?


Gambar di atas merupakan gambar yang saya peroleh dari Facebook teman saya, yang kemudian diedit dan diberi terjemahan Bahasa Indonesia, agar lebih mudah dimengerti. Suatu kondisi yang memprihatinkan terlihat pada gambar tersebut dimana orang yang terkena musibah hanya dijadikan objek untuk foto-foto. Di dalam kehidupan sehari-hari pun hal ini tidak jarang kita alami atau saksikan sendiri.

Seringkali saat dalam perjalanan menuju ke tempat kerja di daerah Bambu Apus, Jakarta Timur, ketika melewati tol Cawang, terjadi kepadatan yang luar biasa. Tentunya selain macet , ada hal lain yang menyebabkan kendaraan melambat, yaitu terjadi kecelakaan di jalan tol. Tanpa dikomando, kendaraan yang melintas memperlambat kecepatan hanya sekedar untuk "nonton".

Pada perumpamaan mengenai Orang Samaria ( Lukas 10:25-37), disebutkan adanya orang-orang yang hanya melintas saja. Tidak menolong orang yang menjadi korban perampokan. Mungkin karena si korban bukan kerabatnya atau bukan siapa-siapa. Tetapi saat kita menganggap orang lain yang terkena musibah itu adalah keluarga kita sendiri, pasti kita tidak sekedar menonton tetapi langsung memberikan pertolongan.

Tidak mengherankan bila hukum yang dikatakan Yesus sama pentingnya dengan hukum yang utama adalah mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Yesus sudah melebihi jamannya saat berbicara mengenai perdamaian. Karena bila hal tersebut terwujud, secara langsung dunia yang kita tempati akan menjadi tempat yang baik untuk semuanya.

Bukan hal mudah memang untuk bertindak demi kepentingan orang lain. Tetapi kita dapat mulai belajar melakukannya. Karena segala kebaikan yang kita tabur pada saatnya nanti kita pun akan menuai hasil yang positif.

Tuhan memberkati!

Matius 22:39
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Minggu, 25 Januari 2015

TUHAN SELALU PUNYA CARA

Minggu pagi, sebelum berangkat untuk mengikuti ibadah di gereja, di radio terdengar lagu ‘Tuhan Selalu Punya Cara’ sedang diputar. Saya terdiam beberapa saat mendengarkan setiap lirik lagu ini dan merenungkannya, dan saya melihat kembali ke kehidupan saya yang telah saya lalui, bagaimana Tuhan selalu mempunyai cara untuk menolong saya di dalam hidup.

Saya hidup ditengah-tengah keluarga yang memiliki berbagai kepercayaan. Sehingga, pada saat kecil saya sama sekali tidak kenal siapa itu Yesus, siapa itu dewa ini-dewa itu, siapa itu Tuhan. Saya beranggapan baik Yesus, dan tokoh dari agama lain itu sama-sama Tuhan, Tuhan yang satu, hanya penyebutannya saja yang berbeda dalam tiap-tiap agama.

Semakin saya beranjak dewasa, mulailah masalah-masalah muncul dalam kehidupan saya. Papa saya mulai suka mendidik anak dengan menggunakan kekerasan, baik saya maupun kakak saya sering dipukul ketika papa memarahi kami. Papa dan mama saya juga sering bertengkar malam-malam, seringkali pertengkarannya di sebabkan papa saya yang suka merokok ataupun minum-minum hingga larut malam bersama teman-temannya.
Beberapa tahun hidup dengan keluarga yang tidak harmonis membuat saya tidak betah dirumah. Saya tidak pernah pergi ke gereja, saya mulai sering pulang malam sehabis sekolah. Naik ke kelas 2 SMP, saya mulai berani mencoba-coba merokok, tapi setelah seminggu saya memutuskan untuk berhenti merokok.

Diakhir kelas 2 SMP, papa di PHK dari kantornya dan mama saya terpaksa kerja keras sendirian untuk menghidupi kami sekeluarga dan juga membiayai sekolah saya, kakak, serta adik saya. Papa dan mama semakin sering bertengkar karena masalah ekonomi. Papa sering tidak pulang kerumah, mama selalu pulang malam dari kantor. Dan pada saat pulang kerumah juga, papa saya seringkali memukul saya karena alasan yang tidak jelas.

Naik ke bangku SMA, saya semakin ikut dalam pergaulan yang tidak baik, saya sering pergi malam-malam, berkumpul bersama teman-teman, minum-minum, dll. Hal itu menjadi kegiatan rutin saya setiap malam selama berbulan-bulan.

Pertengahan tahun 2010, saya, kakak, dan mama saya bertengkar hebat dengan papa hanya karena hal sepele, saat itu pertama kalinya dalam hidup saya, saya membentak dan memaki papa saya. Rasanya saat itu emosi saya dan segala kepahitan terhadap papa yang selama ini tertanam di hati saya sudah tidak dapat saya tahan lagi. Setelah itu papa saya berkata kepada saya dengan keras, “kalau papa mati nanti, jangan datang ke pemakaman papa!” dan setelah itu membanting pintu dan pergi keluar rumah dan tidak pulang selama 3 hari.

Pada akhir tahun 2010, saya bersama kakak dan adik saya diajak mama untuk pindah rumah, meninggalkan papa saya sendiri karena kami, terutama mama, sudah tidak tahan dengan kelakuan papa terhadap kami. Kami mengontrak sebuah rumah didekat rumah saudara kami yang hingga saat ini masih kami tempati.

Setelah itu saya menjalani kehidupan seperti biasa, dengan rutinitas setiap malam bersama teman-teman yang hampir tidak pernah saya lewatkan. Seringkali papa saya datang menelpon saya atau kakak saya untuk meminta maaf dan menanyakan kabar kami, seminggu sekali juga dia datang ke rumah kami ketika mama sedang kerja. Saya dan kakak saya memaafkan papa, tetapi masih ada kepahitan dalam hati saya terhadap dia.

Pertengahan kelas 2 SMA, saya merasa semakin jenuh dengan hidup saya, hanya diisi dengan rutinitas yang tidak karuan, saya merasakan ada yang hilang dalam hidup saya, ada kekosongan di hati saya. Ketika dirumah, dalam keadaan jenuh dan hampa itu, saya bertanya, “Tuhan, kok hidup saya begini sih?? Hampa, datar, kayaknya sia-sia banget hidup saya.”

Beberapa hari kemudian, saya diajak teman saya ke gereja. Saya berpikir, yaa boleh juga, toh saya juga tidak ada kerjaan hari minggu. Akhirnya saya ke gereja bersama teman saya. Di gereja teman saya bercerita bagaimana hidupnya diubahkan oleh Tuhan Yesus, bagaimana Yesus menolong dia. Dia mengajak saya untuk ikut KS pada hari selasa dan saya mengiyakannya.

Setelah pulang dari gereja, sesampainya dirumah saya merenungkan cerita teman saya tadi. Dia juga hidup di keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya sudah berpisah tetapi hidupnya bisa diubahkan oleh Yesus. Saya merenung, dan dalam hati saya minta tolong kepada Yesus untuk pulihkan hidup saya, saya minta Yesus untuk tinggal di hati saya, dan saat itu juga timbul rasa damai di dalam hati saya, seakan-akan kekosongan yang sebelumnya saya rasakan di hati saya itu sudah terisi, dan saya merasakan kelegaan yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan.

Pada hari selasanya, saya mengikuti KS untuk pertama kalinya. Tetapi pada saat itu masih ada keraguan dalam hati saya sehingga minggu-minggu berikutnya saya tidak mengikuti KS lagi. Tetapi setiap minggunya saya mulai rutin ke gereja.

Awal tahun 2012, saya mulai mengikuti KS setiap minggunya, saya mulai merasakan iman saya bertumbuh, saya mulai membaca Alkitab, saya merubah cara hidup saya. Segala rutinitas yang dulu saya lakukan setiap malam saya tinggalkan, saya mulai belajar untuk hidup didalam Kristus.

Tetapi disaat iman saya bertumbuh, iblis kembali mencobai kehidupan saya. Kakak saya memberi tahu saya kalau mama mau menjadi orang muslim. Saya sedih, karena saat itu saya sudah tahu kalau Kristus adalah satu-satunya jalan kebenaran dan keselamatan. Tetapi saya juga tidak mampu melarang mama saya karena mama saya juga orang yang keras kepala, dia bilang kalau itu iman dia, juga karena di kantornya mayoritas beragama muslim dan temannya mengajaknya untuk menjadi muslim. Tepat pada hari ulang tahun saya yang ke 18, mama saya menjadi seorang muslim.

Tidak sampai 2 minggu setelah ulang tahun saya, di akhir bulan maret, tante saya mendapat telpon yang mengabarkan kalau papa saya kecelakaan motor dan sudah berada di rumah sakit. Saya teringat dulu ketika saya masih SMP, papa saya pernah menelpon berpura-pura menjadi polisi dan mengabarkan kalau papa saya kecelakaan dan kondisinya kritis, tetapi kemudian terdengar suara tertawa papa saya di telpon.

Tetapi kali ini berbeda, papa saya benar-benar kecelakaan dan kondisinya cukup parah. Saya segera berangkat ke rumah sakit bersama kakak saya. Waktu itu, setelah kecelakaan papa saya dibawa ke RS. Hermina Galaxy. Sesampainya di rumah sakit, saya segera menuju ruang UGD, saya melihat papa saya terbaring kesakitan dengan luka luar yang cukup parah di kepala, tangan, kaki, serta dadanya. Darah mengalir melalui selang yang dimasukan ke perutnya melalui tenggorokannya karena adanya pendarahan dalam akibat benturan di perutnya.

Saya memeluk papa saya, dia menyadari kehadiran saya, dan membalas memeluk saya. Tubuh saya bergetar dan saya tertegun sedih, sosok papa saya yang selama ini keras dan kasar, sosok papa yang keras kepala dan benar-benar keterlaluan hingga menimbulkan kepahitan dalam diri saya, kini terbaring lemah menahan sakit di hadapan saya. Entah kenapa saat itu air mata saya tidak mengalir meskipun saya merasa benar-benar sedih.

Kemudian saya bicara didekat telinganya, “Pah, Donny udah maafin papa, Donny udah maafin semua kesalahan papa. Donny minta maaf juga yah pah udah ninggalin papa, papa mau maafin Donny kan?” belum sempat papa saya menjawab, papa saya sudah hilang kesadaran karena luka-lukanya.

Malam harinya papa saya dipindahkan ke RS. Mitra Keluarga dikarenakan tidak adanya peralatan yang memadai di RS. Hermina. Sesampainya di ruang UGD RS. Mitra, papa saya sudah dalam kondisi koma. Kemudian dilakukan CT Scan, dan diketahui kalau ternyata otak sebelah kiri papa saya sudah tertekan ke sebelah kanan karena pendarahan di kepala. Dokter juga tidak bisa melakukan operasi karena tingkat kesadaran papa lemah, sehingga papa harus dirawat di ruang ICU dulu sampai tingkat kesadarannya meningkat.

Setelah masuk ruang ICU, keadaan papa semakin menurun, dia bertahan hidup berkat alat-alat yang terus memompa jantungnya agar bernafas dan juga obat-obatan yang menjaga organ tubuhnya tetap berfungsi. Beberapa teman KS saya datang kerumah sakit dan berdoa bersama untuk papa saya. Setelah 3 hari koma dan bertahan hidup berkat bantuan alat-alat, akhirnya papa saya dinyatakan meninggal. Satu hal yang saya syukuri adalah papa saya sebelumnya telah menerima Yesus dalam hidupnya, dan saya percaya kalau dia kini tinggal bersama-sama dengan-Nya di surga.

Setelah itu banyak pergumulan yang saya hadapi, tetapi semua pergumulan itu dapat saya lalui bersama Tuhan. Saya semakin sering datang KS setiap minggunya, dan saya diberi tanggung jawab oleh teman-teman untuk menjadi cpks.

Mendekati akhir tahun 2012, saya mulai mengikuti ibadah di GKII dan saya merasakan iman saya bertumbuh di gereja ini dan mulai ikut ibadah setiap minggunya.

Tahun 2013 awal, saya menjadi pks di KS saya. terdorong untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan di gereja dan juga karena firman Tuhan, saya akhirnya mendaftarkan diri untuk mengikuti baptisan dan di pertengahan Juni kemarin akhirnya saya di baptis. Walaupun sebelumnya itu menjadi pergumulan buat saya karena keluarga banyak yang tidak setuju, tetapi Puji Tuhan, Tuhan membuka jalan sehingga pada akhirnya saya bisa dibaptis.

Yang mau saya tekankan dari kesaksian ini, seringkali dalam kehidupan, kita merasa kalau masalah yang kita hadapi sangat berat dan kita tidak mampu untuk menghadapinya. Tidak jarang juga kita mengeluh dan bersungut-sungut ketika keadaan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Tapi perlu kita sadari, dibalik semua masalah yang kita alami, keadaan-keadaan yang kita hadapi, semuanya itu diijinkan Tuhan terjadi dalam kehidupan kita tetapi Dia tidak akan membiarkan kita berjalan sendirian menghadapi semuanya itu, Dia berjalan menyertai kita sepanjang hidup kita, seberat apapun masalah kita Dia tidak akan meninggalkan kita. Dan di Roma 8:28 di katakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihiNya.

Dan pertolonganNya sangat nyata saya alami dalam kehidupan saya, bagaimana Dia memakai teman saya untuk menyelamatkan saya, bagaimana Dia mendamaikan hati saya yang tadinya dipenuhi kepahitan dan kekosongan, bagaimana Dia juga membuka mata saya sehingga saya bisa melihat bahwa dalam setiap masalah selalu ada hal bisa disyukuri, bagaimana cara Dia juga merubahkan hidup saya melalui persekutuan dan juga firmanNya yang hidup.

Tuhan selalu punya cara untuk menolong umatNya dan tidak jarang pertolonganNya melampaui akal pikiran kita. Entah apapun masalah yang kita hadapi, yakin dan percayalah bahwa Dia akan mengulurkan tangannya untuk menopang kita dan Dia selalu punya cara untuk menolong kita. Tuhan Yesus memberkati.

Tulisan dikirim oleh Donny Marvine (www.kristusyesus.com)

Rabu, 21 Januari 2015

SEBUAH KISAH DARI AFRIKA

Pada tahun 1921, dua pasang suami istri dari Stockholm (Swedia), menjawab panggilan Allah untuk melayani misi penginjilan diAfrika. Kedua pasang suami istri ini menyerahkan hidupnya untuk mengabarkan Injil dalam suatu kebaktian pengutusan Injil. Mereka terbeban untuk melayani negara Belgian Kongo, yang sekarang bernama Zaire. Mereka adalah David dan Svea Flood, serta Joel dan Bertha Erickson.

Setelah tiba di Zaire, mereka melapor ke kantor Misi setempat. Lalu dengan menggunakan parang, mereka membuka jalan melalui hutan pedalaman yang dipenuhi nyamuk malaria. David dan Svea membawa anaknya David Jr. yang masih berumur 2 tahun. Dalam perjalanan, David Jr. terkena penyakit malaria.

Namun mereka pantang menyerah dan rela mati untuk Pekerjaan Injil. Tiba di tengah hutan, mereka menemukan sebuah desa di pedalaman. Namun penduduk desa ini tidak mengijinkan mereka memasuki desanya. "Tak boleh ada orang kulit putih yang boleh masuk ke desa. Dewa-dewa kami akan marah,"demikian kata penduduk desa itu.
Karena tidak menemukan desa lain, mereka akhirnya terpaksa tinggal di hutan dekat desa tersebut. Setelah beberapa bulan tinggal di tempat itu, Mereka menderita kesepian dan kekurangan gizi. Selain itu, mereka juga jarang mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan penduduk desa.
Setelah enam bulan berlalu, keluarga Erickson memutuskan untuk kembali ke kantor misi. Namun keluarga Flood memilih untuk tetap tinggal, apalagi karena saat Itu Svea baru hamil dan sedang menderita malaria yang cukup buruk. Di Samping itu David juga menginginkan agar anaknya lahir di Afrika dan ia sudah bertekad untuk memberikan hidupnya untuk melayani di tempat tersebut.
Selama beberapa bulan Svea mencoba bertahan melawan demamnya yang Semakin memburuk. Namun di tengah keadaan seperti itu ia masih menyediakan waktunya untuk melakukan bimbingan rohani kepada seorang anak kecil penduduk asli dari desa tersebut.
Dapat dikatakan anak kecil itu adalah satu-satunya hasil pelayanan Injil melalui keluarga Flood ini. Saat Svea melayaninya, anak kecil ini Hanya tersenyum kepadanya. Penyakit malaria yang diderita Svea semakin Memburuk sampai ia hanya bisa berbaring saja. Tapi bersyukur bayi perempuannya berhasil lahir dengan selamat tidak kurang suatu apa.
Namun Svea tidak mampu bertahan. Seminggu kemudian keadaannya sangat buruk dan menjelang kepergiannya, ia berbisik kepada David, "Berikan nama Aina pada anak kita," lalu ia meninggal.
David amat sangat terpukul dengan kematian istrinya. Ia membuat peti Mati buat Svea, lalu menguburkannya. Saat dia berdiri di samping kuburan, ia memandang pada anak laki-lakinya sambil mendengar tangis bayi Perempuannya dari dalam gubuk yang terbuat dari lumpur.Timbul kekecewaan yang sangat dalam di hatinya. Dengan emosi yang tidak terkontrol David berseru, "Tuhan, mengapa Kau ijinkan hal ini terjadi? Bukankah kami datang kemari untuk memberikan hidup kami dan melayani Engkau?! Istriku yang cantik dan pandai, sekarang telah tiada. Anak sulungku kini baru berumur 3 tahun dan Nyaris tidak terurus, apalagi si kecil yang baru lahir. Setahun lebih kami Ada di hutan ini dan kami hanya memenangkan seorang anak kecil yang bahkan mungkin belum cukup memahami berita Injil yang kami ceritakan. Kau telah mengecewakan aku, Tuhan. Betapa sia-sianya hidupku!"
Kemudian David kembali ke kantor misi Afrika. Saat itu David bertemu Lagi dengan keluarga Erickson. David berteriak dengan penuh kejengkelan:
"Saya akan kembali ke Swedia! Saya tidak mampu lagi mengurus anak ini. Saya ingin titipkan bayi perempuanku kepadamu." Kemudian David memberikan Aina kepada keluarga Erickson untuk dibesarkan. Sepanjang perjalanan ke Stockholm, David Flood berdiri di atas dek kapal. Ia merasa sangat kesal kepada Allah. Ia menceritakan kepada semua orang tentang pengalaman pahitnya, bahwa ia telah mengorbankan segalanya tetapi berakhir dengan kekecewaan. Ia yakin bahwa ia sudah berlaku setia tetapi Tuhan membalas hal itu dengan cara tidak mempedulikannya.
Setelah tiba di Stockholm, David Flood memutuskan untuk memulai usaha di bidang import. Ia mengingatkan semua orang untuk tidak menyebut nama Tuhan didepannya. Jika mereka melakukan itu, segera ia naik pitam dan marah. David akhirnya terjatuh pada kebiasaan minum-minuman keras.
Tidak lama setelah David Flood meninggalkan Afrika, pasangan suami-istri Erikson yang merawat Aina meninggal karena diracun oleh kepala suku dari daerah dimana mereka layani. Selanjutnya si kecil Aina diasuh oleh Arthur dan Anna Berg. Keluarga ini membawa Aina ke sebuah desa yang bernama Masisi, Utara Kongo. Di sana Aina dipanggil "Aggie". Si kecil Aggie segera belajar bahasa Swahili dan bermain dengan anak-anak Kongo. Pada saat-saat sendirian si Aggie sering bermain dengan khayalan.
Ia sering membayangkan bahwa ia memiliki empat saudara laki-laki dan satu saudara perempuan, dan ia memberi nama kepada masing-masing saudara khayalannya.
Kadang-kadang ia menyediakan meja untuk bercakap-cakap dengan saudara khayalannya. Dalam khayalannya ia melihat bahwa saudara perempuannya selalu memandang dirinya. Keluarga Berg akhirnya kembali ke Amerika dan menetap di Minneapolis. Setelah dewasa, Aggie berusaha mencari ayahnya tapi sia-sia.
Aggie menikah dengan Dewey Hurst, yang kemudian menjadi presiden dari sekolah Alkitab Northwest Bible College. Sampai saat itu Aggie tidak mengetahui bahwa ayahnya telah menikah lagi dengan adik Svea, yang tidak mengasihi Allah dan telah mempunyai anak lima, empat putra dan satu putri (tepat seperti khayalan Aggie). Suatu ketika Sekolah Alkitab memberikan tiket pada Aggie dan suaminya untuk pergi ke Swedia. Ini merupakan kesempatan bagi Aggie untuk mencari ayahnya. Saat tiba di London, Aggie dan suaminya berjalan kaki di dekat Royal Albert Hall.
Ditengah jalan mereka melihat ada suatu pertemuan penginjilan. Lalu mereka masuk dan mendengarkan seorang pengkotbah kulit hitam yang sedang bersaksi bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire. Hati Aggie terperanjat.
Setelah selesai acara ia mendekati pengkotbah itu dan bertanya, "Pernahkah anda mengetahui pasangan penginjil yang bernama David dan Svea Flood?"
Pengkotbah kulit hitam ini menjawab, "Ya, Svea adalah orang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu saya masih anak-anak.
Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang." Aggie segera berseru: "Sayalah bayi perempuan itu! Saya adalah Aggie - Aina!" Mendengar seruan itu si Pengkotbah segera menggenggam tangan Aggie dan memeluk sambil menangis dengan sukacita.
Aggie tidak percaya bahwa orang ini adalah bocah yang dilayani ibunya. Ia bertumbuh menjadi seorang penginjil yang melayani bangsanya dan pekerjaan Tuhan berkembang pesat dengan 110.000 orang Kristen, 32 Pos penginjilan, beberapa sekolah Alkitab dan sebuah rumah sakit dengan 120 tempat tidur.
Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke Stockholm dan berita telah tersebar luas bahwa mereka akan datang. Setibanya di hotel ketiga saudaranya telah menunggu mereka di sana dan akhirnya Aggie mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki saudara lima orang. Ia bertanya kepada mereka: "Dimana David kakakku ?" Mereka menunjuk seorang laki-laki yang duduk sendirian di lobi. David Jr. adalah pria yang nampak kering lesu dan berambut putih. Seperti ayahnya, iapun dipenuhi oleh kekecewaan, kepahitan dan hidup yang berantakan karena alkohol. Ketika Aggie bertanya tentang kabar ayahnya, David Jr. menjadi marah.
Ternyata semua saudaranya membenci ayahnya dan sudah bertahun-tahun tidak membicarakan ayahnya. Lalu Aggie bertanya: "Bagaimana dengan saudaraku perempuan?" Tak lama kemudian saudara perempuannya datang ke hotel itu dan memeluk Aggie dan berkata: "Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu. Biasanya aku membuka peta dunia dan menaruh sebuah mobil mainan yang berjalan di atasnya, seolah-olah aku sedang mengendarai mobil itu untuk mencarimu kemana-mana." Saudara perempuannya itu juga telah menjauhi ayahnya,tetapi ia berjanji untuk membantu Aggie mencari ayahnya. Lalu mereka memasuki sebuah bangunan tidak terawat. Setelah mengetuk pintu datanglah seorang wanita dan mempersilahkan mereka masuk. Di dalam ruangan itu penuh dengan botol minuman, tapi di sudut ruangan nampak seorang terbaring di ranjang kecil, yaitu ayahnya yang dulunya seorang penginjil.
Ia berumur 73 tahun dan menderita diabetes, stroke dan katarak yang menutupi kedua matanya. Aggie jatuh disisinya dan menangis, "Ayah, aku adalah si kecil yang kau tinggalkan di Afrika." Sesaat orang tua itu menoleh dan memandangnya. Air mata membasahi matanya, lalu ia menjawab, "Aku tak pernah bermaksud membuangmu, aku hanya tidak mampu untuk mengasuhnya lagi."
Aggie menjawab, "Tidak apa-apa, Ayah. Tuhan telah memelihara aku". Tiba-tiba, wajah ayahnya menjadi gelap, "Tuhan tidak memeliharamu!" Ia mengamuk. "Ia telah menghancurkan seluruh keluarga kita! Ia membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan kita. Tidak ada satupun hasil di sana. Semuanya sia-sia belaka!"
Aggie kemudian menceritakan pertemuannya dengan seorang pengkotbah kulit hitam dan bagaimana perkembangan penginjilan di Zaire. Penginjil itulah si anak kecil yang dahulu pernah dilayani oleh ayah dan ibunya. "Sekarang semua orang mengenal anak kecil, si pengkotbah itu. Dan kisahnya telah dimuat di semua surat kabar."
Saat itu Roh Kudus turun ke atas David Flood. Ia sadar dan tidak sanggup menahan air mata lalu bertobat.
Tak lama setelah pertemuan itu David Flood meninggal, tetapi Allah telah memulihkan semuanya, kepahitan hatinya dan kekecewaannya.
Sumber : artikel.sabda.org

Sabtu, 17 Januari 2015

BERJUANG DENGAN MAUT DIATAS MOBIL

Malam itu hujan deras luar biasa membasahi dusun Wates, waktu telah menunjukan jam 7,30, jemaat baru sebagian yang hadir untuk kebaktian malam, hati ku bertanya-tanya, kenapa masih banyak keluarga yg belum hadir, apakah hujan yang menghalangi mereka? Ataukah terlalu cape mereka, karena siang harinya warga dusun Wates baru saja merayakan Saparan, dimana seluruh warga dusun tsb. Merayakan bulan Sapar seperti lebaran, tiap keluarga memasak paling tidak memotong seekor ayam dan membuat jenang, pokoknya hari itu aku kenyang sekali, tiap warga mengundangku untuk mencicipi masakan keluarga mereka, kita tidak etis kalau diundang warga tidak makan, walau aku sudah katakan, "kulo nembih mawon "(aku baru saja makan), tidak sopan kalau tuan rumah sudah menyediakan makanan kita tidak makan, biarpun sedikit kita harus makan.

Malam itu kebaktian agak terlambat dimulai, banyak yg tidak hadir usai kebaktian hujan masih turun, sampai jam 10 lewat masih belum berhenti, hawa dingin dilereng gunung Merbabu membuat tidurku malam itu tak bisa lelap seperti aku tidur di rumah, sekitar jam 3 pagi aku dikejutkan Tuan rumah Bp Hadi mengetok- ngetok pintu kamarku, rupanya ada warga yang sakit ingin melahirkan untuk meminta tolong aku menghantarkan ke rumah sakit, aku meloncat dari tempat tidur langsung kemobil untuk menghidupkan mobil, dengan susah payah karena jalan yang licin karena hujan semalam achirnya tiba juga didepan rumah Pak Selamet, kulihat orang2 desa sudah pada kumpul, isteri dan anak2 Pak Selamat lagi menangiskan kakanya yang akan melahirkan sejak jam 6 sore belum juga keluar bayinya, aku melihat ani ibu yg akan melahirkan digotong badannya sudah lemas kemobil, untung hari itu aku membawa mobil kijang yg bangku tengahnya bisa dilipat sehingga ibu ani bisa direbahkan didalam mobil, perjalanan dari dusun Wates kekota yang terdekat di Magelang memakan waktu 1,5 jam perjalanan, aku hanya berdoa Tuhan berikan kekuatan pada ibu ani, hatiku dak dik duk dijalan Keluar desa yang berbatuan dan menanjak mesin mobil berhenti tidak kuat menanjak, aku berteriak dalam hati "Tuhan tolong" aku serba salah kalau tancap gas, bagaimana nantinya ibu ani yg akan melahirkan pasti kesakitan karena jalannya bergelombang, aku hanya berdoa Tuhan tolong perjalanan ini dan kuatkan ibu ani , penumpang yg ikut berjumlah 7 orang, ketika mesin mobilnya mati 2 orang langsung turun mencari batu untuk mengganjal ban agar tidak turun kebelakang sangat bahaya sekali karena sebelah kiri adalah jurang, mobil kuhidupkan kembali untung mobil kuat sampai diujung jalan yg menanjak, dalam 20 menit perjalanan berbatuan yg bergelombang baru sampai dijalan raya beraspal ke Magelang, suasana pagi yg masih gelap dan banyak kabut yang membuat perjalanan tidak lancar, aku hanya berani menjalankan mobil sekitar 40km /jam, konsentrasi ku pusatkan kedepan jalan yg selalu menurun tajam, aku sudah hafal melewati jalan yg berliku2 menurun ini, sudah hampir 4 tahun aku lewati jalan ini setiap minggu, kali ini perjalanan yg sama aku tidak bisa menikmati pagi indah dengan pemandangan pegunungan, suasana sekitarnya masih gelap gulita, se-kali2 papasan dengan mobil yg dari bawah, dan tangisan2 kaum ibu yg mengantar dibelakang kemudiku meminta agar ibu ani jangan memejamkan matanya supaya eling, aku mempercepat larinya kendaraan dengan hati-2.

Tak kudengar teriakan kesakitan dari ibu ani seperti biasanya teriakan2 wanita atau isteriku yg akan melahirkan, aku menyuruh mereka yg dibelakang memijat jari2 tangan dan kakinya ibu ani, aku takut jangan2 dia pingsan, perjalanan yg menegangkan aku hanya dapat berdoa : tolong Tuhan, berikan ia kekuatan sampai dirumah sakit, kira2 ½ jam perjalanan, aku mendengar suara bayi menangis, rupanya ibu ani telah melahirkan dimobilku, aku berteriak bagaimana nih? Berhenti atau terus jalan? Aku disuruh terus berjalan, waktu itu baru setengah perjalanan, hatiku berdebar-debar dan berdoa tolong Tuhan kuatkan ibu ani, lewat Tegalrejo aku baru mendengar suaru azan subuh, berarti jam 5 pagi baru sampai di Magelang, teriakan dan tangisan dari arah belakang kemudiku meminta ibu ani Eling menyebut Gusti, didekat Banyu Asin aku diminta berhenti dan rupanya ada rumah bidan, pintu diketok-ketok keluar seorang ibu rupanya ia bidannya, kemudian ia memotong tali pusarnya bayi, ibu ani digotong kedalam ruang prateknya dan setelah diperiksa oleh ibu bidan sebentar dan ia berkata " maaf dibawah keluar lagi saya tidak sanggup menolongnya harus dibawah kerumah sakit segera" terpaksa kami gotong kembali ibu ani yg sudah tidak bergerak itu ke rumah sakit RSU Magelang, dalam seperempat jam aku sudah sampai diMagelang, dan ibu ani didorong keruang ICU, hanya sebentar dokter jaga keluar lagi menemui kami dan berkata, dia sudah tidak ada apakah ari-arinya mau dikeluarkan atau dibiarkan saja, ketika itu juga suami dan ibu2 yg mengantar meraung-raung menangis memecahkan kesunyian pagi diruang ICU, sampai aku yg menjawab kepada dokter itu utk mengeluarkan ari2nya, terpaksa pagi itu aku membawah kembali ibu ani yg sudah tak bernyawa itu kedusun wates, suaminya ber-teriak2 menangis, membuat aku teringat 20 tahun yg lewat, dimana aku menyaksikan sendiri bagaimana isteriku berjuang dengan maut ketika akan melahirkan Yosua anakku yg kini sedang kuliah, isteri ku mengalami takdir seperti ibu ani, tetapi aku percaya isteriku sudah berada dirumah Bapa disurga saat ini dibanding ibu ani yg belum mengenal Tuhan.
Disepanjang perjalanan pulang suaminya berteriak-teriak memanggil nama isterinya, aku dari balik stir hanya bisa menasehatkan Parwidi suaminya, "Tuhan mempunyai rencana indah buat kamu Par, Pakde telah mengalami sendiri seperti kamu, tabahkan hatimu", hatiku bertanya-tanya sama Tuhan apakah ini rencanaMu Tuhan, semua boleh terjadi agar Parwidi bisa kembali lagi kepadaMu, dahulu sebelum menikah dengan ibu ani, Parwidi sebenarnya adalah anak Tuhan yg sudah mengenal Yesus, tetapi sejak dia mengenal dengan gadis ani, dia sudah jarang kegereja, bahkan meninggalkan Tuhan dan murtad menikah di KUA, aku bertanya- tanya dalam hati apakah ini semua rencanaMu Tuhan…? karena terus terang jemaat masih sering berdoa untuknya.
Hari itu aku benar2 cape sekali, pulangnya ke Borobudur , mobilku yg kurang fit hampir masuk jurang, untung Tuhan senantiasa menyertaiku, orang2 desa berbondong-bondong mengangkat mobil yg tinggal 15 cm dari tepi jurang. Itulah suka dukanya melayani dipedesaan.
Peristiwa kelahiran seorang bayi dan kematian ibu ani diatas mobil, sebagai hamba Tuhan mengingatkan kaum muda-mudi, jangan engkau tinggalkan Yesus karena "Cinta", peristiwa ini juga mengingatkan saya, dimana saya yang saat itu melihat sendiri disaat-saat orang yg saya kasihi sedang berjuang dengan maut, dan achirnya dia menang kesurga, secara manusia saat itu juga aku ingin ikut dengannya, aku shock aku dipressi waktu itu, tetapi ada seorang yg menguatkan saya melalui firmanNya:
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firnman Tuhan, yaitu rangcangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan" Yermia 29 : 11 Terima kasih Tuhan… karena sejak itu aku dididik oleh Tuhan untuk melayani Tuhan, bahkan Tuhan percayakan aku utk mengelola sebuah bukit doa di Borobudur dan melayani dipedesaan.
Sumber : artikel.sabda.org

Selasa, 13 Januari 2015

TUHAN MENYURUH SAYA TELEPON KE NIAS

Detik detik Gempa di Nias...
Saya baru pulang dari perjalanan panjang di Jerusalem, Jordania dan Abu Dhabi dan berjanji pada kedua orang tua saya yang masih tinggal di kota Gunungsitoli Nias untuk menghubungi mereka setelah tiba kembali di Indonesia. Tetapi dua malam berturut-turut ternyata saya "ketiduran" akibat penyesuaian metabolisme tubuh karena melakukan perjalanan melampauhi batas waktu sehingga saya tidak jari menelepon ke Nias. Baru pada hari Senin (28/3/2005) malam pukul 10.30 WIB saya akhirnya berkesempatan menelepon orang tua di Nias, melepas kangen setelah lama meninggalkan Indonesia. Telepon malam itu agak panjang karena kedua anak saya juga ingin berbicara dengan neneknya. Rupanya mereka telah tertidur dan "terpaksa" bangun mendengar deringan telepon di tengah keheningan malam. Saya menutup telepon sekitar setengah jam.

Rasanya pembicaraan malam itu adalah pembicaraan terakrab antara saya dengan kedua orang tua dan malahan kami sempat membicarakan bagaimana campur tangan Tuhan di dalam kehidupan kami masing-masing. Tanpa perasaan apapun saya pergi tidur.
Pukul 00.05 malam itu, tiba-tiba HP saya berdering cukup lama. Dengan berat hati saya bangun dan mendapati bahwa telepon berasal dari adik saya yang berdiam di Medan. Pesannya singkat sambil menangis dan membuat jantung saya serasa berhenti.
"Abang berdoa ya..! Doakan papa dan mama. Nias baru saja dilanda gempa dan terasa sampai di Medan. Kota Gunungsitoli hancur total dan kita kehilangan kontak dengan papa mama! Gempanya berlangsung sekitar pukul 11.20 WIB."
Kalimat ini seperti guntur di tengah malam. Seluruh persendian saya lemas dan tidak mampu berkata apa-apa. Hubungan telepon ke Nias malam itu putus total. Satu-satunya telepon selular milik adik bungsu saya yang masih tinggal bersama kedua orang tua, juga tidak dapat dihubungi. Saya takut dan tidak mampu berbuat apa-apa. Itu berarti, kejadiannya, berlangsung beberapa menit setelah saya selesai menelepon mereka! Seperti mimpi rasanya, merasa kehilangan kedua orang tua sementara kita tidak tahu harus menghubungi siapa. Komunikasi terputus total.
Malam itu saya langsung duduk di depan Televisi dan menantikan berita bencana alam tersebut. Tetapi selama dua jam menunggu, tidak ada selingan atau running text. Satu-satunya komunikasi adalah dengan adik saya yang berada di Medan. Kami lalu mengambil inisiatip dan berbagi tugas. Setelah mendapat kepastian bencana di Nias melalui komunikasi selular, adik saya melakukan koordinasi dengan BBC London dan saya kebagian jatah menghubungi TV7 dan Metro TV. Beberapa nomor telepon selular yang kami dapatkan miliki saudara di Nias langsung di data. Dini hari itu, Metro TV tidak bisa dihubungi. Teleponnya tidak diangkat. Puji Tuhan, telepon saya bisa connect ke TV7, diterima oleh Satpam dan langsung diteruskan ke bagian pemberitaan (diterima oleh Sdr. Danang). Malam itu, TV7 bergerak cepat. Mereka menghubungi wakil bupati Nias dan beberapa nomor yang saya berikan kepada mereka. Saya mendapat berita bahwa BBC sudah online. Akhirnya sekitar pukul 03.15, berita resmi pertama tentang gempa Nias muncul di layar kaca. Dunia tahu, bahwa sebuah pulau terpencil, sedang mengalami bencana gempa yang parah. Bangunan beton di kota gunungsitoli, rata dengan tanah! Target kita malam itu adalah agar dunia tahu bahwa sesuatu sedang terjadi di pulau Nias dan itu sangat parah. Kita tidak ingin terjadi keterlambatan yang akhirnya merugikan orang- orang yang ada di sana. Sebab pada saat yang sama, stasiun TV lain hanya menayangkan berita pasca gempa di Medan dan Aceh. Terima kasih untuk TV7. Ini mujizat yang pertama.
Saya masih bingung bercampur cemas. Hingga setelah berita pertama tentang Nias muncul di TV7, saya masih belum mendapat informasi dimana kedua orang tua saya dan bagaimana keadaan rumah. Kami hanya mendapat berita bahwa listrik di seluruh kota padam, kebakaran muncul di pusat kota akibat korsleting listrik, penduduk meninggalkan rumahnya dan lari ke daerah yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri dari isyu Tsunami yang langsung mencuat di tengah malam itu.
Mujizat kedua terjadi dan melegakan. Pukul 04.00 pagi, telepon seluler milik tetangga dapat saya hubungi. Melalui kontak itulah saya akhirnya mendapatkan informasi bahwa kedua orang tua dan adik saya selamat dan berada di atas gunung. Saya masih belum yakin sebelum berbicara dengan mereka. Lima belas menit kemudian seseorang menemukan orang tua saya, sedang terduduk lemah dan trauma, disebuah tenda darurat yang dipasang di lereng sebuah bukit, beberapa meter di atas permukaan laut, yang mereka daki dengan susah payah untuk tiba di tempat aman. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana mereka bisa sampai ke sana. Papa saya adalah seorang penderita paska stroke dan mama rematik di kedua kakinya. Sementara adik bungsu saya sedang dalam keadaan memar. Pasti semangat dan keinginan untuk hidup yang akhirnya membawa mereka ke sana.
Nomor telepon selular adik saya masih sempat dihubungi oleh TV7 untuk konfirmasi berita dan saya akhirnya bisa berkomunikasi dengan mereka. Pada saat gempa berlangsung, semua benda berguncang dengan kuat dan barang pecah belah jatuh ke lantai. Dinding rumah terbelah. Mereka dengan susah payah keluar rumah karena saking hebatnya getaran, anak kunci tidak bisa masuk ke dalam lubangnya. TV jatuh dan hancur. Meja terbalik. Lantai depan terbelah. Keadaan gelap gulita. Hanya Tuhanlah yang akhirnya membuat mereka bisa lolos dari rumah dan berlari kencang ke arah bukit terjal yang ada di depan rumah.
Mereka mendapati sudah banyak orang yang bersama mereka di atas bukit itu. Rupanya, bencana telah memicu setiap orang menyelamatkan dirinya sendiri dan tidak lagi peduli dengan nasib orang lain. Kedua orang tua itu, papa dan mama, dengan susah payah naik ke bukit terjal menyelamatkan dirinya tanpa ada yang menolong. Mereka adalah orang terakhir yang tiba di atas tempat itu dan bersaksi, sebelum saya menelepon mereka malam itu, mereka bertiga sudah tertidur. Kalau bukan karena campur tangan Tuhan, hal ini tidak akan pernah terjadi. Deringan telepon interlokal itulah, yang menjadi alarm dari Tuhan untuk membangunkan mereka dari tidur. Pasti akan lain ceritanya apabila malam itu saya tidak menelepon ke Nias.
Pada waktu mama selesai menerima telepon, mereka akhirnya terjaga. Beliau masih membereskan beberapa hal. Ketika kemudian menidurkan kepalanya beberapa menit kemudian tiba-tiba terdengar suara yang amat keras..dan gempa bumi itu terjadi! Rumah terguncang hebat dan retak. Semua orang egois menyelamatkan dirinya sendiri. Kedua orang tua itu, berjuang sendirian.
Sumber : artikel.sabda.org

Jumat, 09 Januari 2015

DISEMBUHKAN DARI SAKIT KANKER KANDUNG EMPEDU


Nama saya Jenny Marliana, saya mau menyaksikan kuasa dan mujizat Tuhan Yesus yang telah menyembuhkan saya dari sakit Kanker pada kandung empedu saya.

Pada tanggal 25 Agustus 2010, saya mengalami mual dan muntah, badan saya lemah, tidak selera makan, kemudian saya jatuh di tempat pekerjaan saya. Kemudian saya langsung  di rumah sakit oleh teman saya masuk ke IGD untuk pemeriksaan.

Kemudian saya pulang ke rumah. Namun besoknya saya tidak tahan merasakan sakit, kemudian dibawa lagi ke rumah sakit oleh suami saya dan diopname 1 malam.

Kemudian dokter yang merawat saya menganjurkan dilakukan pemeriksaan USG. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ada batu pada empedu saya. Selanjutnya saya dioperasi selama 4 jam. Setelah sadar, dokter menyampaikan bahwa empedu saya sudah bernanah sebesar mangkok bakso. Kemudian dilakukan operasi untuk mengangkat empedu saya.

Lima hari kemudian, dari hasil pemeriksaan patologi oleh dokter dinyatakan ada kanker ganas pada jaringan kandungan empedu saya. Setelah 2 minggu diopname, maka saya kembali ke rumah.

Setelah 2 hari di rumah, badan saya menjadi berwarna kuning seperti kunyit, kemudian saya dibawa ke klinik terdekat. Selanjutnya saya dirujuk ke rumah sakit di daerah Medan Timur. Setelah masuk rumah sakit selama 2 hari, ternyata ada kebocoran bekas operasi empedu saya. Dokter menyatakan sulit disembuhkan, kalau bisa bertahan dalam seminggu, itu adalah mujizat kata dokter.

Jadi saya dirawat di rumah sakit selama 4 bulan. Pada bulan Oktobernya kondisi saya koma, nafas hanya satu-satu, dokter sudah angkat tangan, tidak bisa diobati lagi.

Menghadapi hal tersebut saya menangis kepada Tuhan. Selama ini saya belum percaya penuh kepada Tuhan, maka saya berdoa  “Tuhan saya mau percaya 100% kepada Engkau”.

Saya teringat kepada Firman Tuhan, mintalah maka akan diberi. Demikian juga saya teringat akan wanita pendarahan 12 tahun, yang menyatakan asal kujamah saja jubah Tuhan Yesus, maka  aku sembuh.

Saya membayangkan Tuhan Yesus turun dari langit, saya pegang jubahNya, saya bilang aku percaya sembuh.

Besoknya saya langsung di bawa ke ruangan ICU. Selama 5 hari saya tidak sadar,  bahkan saya sudah dianggap sudah meninggal, tidak ada harapan lagi bagi saya. Namun saya terus percaya, saya tulis di kertas saya masih bernafas dan saya tunjukkan kepada keluarga saya.

Kemudian pada tanggal 20 November 2010, ada seorang hamba Tuhan dari Gereja CWS Medan mengunjungi rumah saya untuk mendoakan saya dan bertemu suami saya. Kemudian hamba Tuhan tersebut mengundang suami saya dan saya untuk hadir di Kebaktian Pujian dan Penyembuhan Ilahi di Gereja CWS Medan pada tanggal 22 November 2010.

Pada tanggal 22 November 2011 tersebut, suami saya membawa saya dalam keadaan tidak bisa bangun.Kemudian saat puji-pujian berlangsung, saya merasakan kekuatan pada tubuh saya dan saya dapat berdiri memuji Tuhan.

Selanjutnya saat doa kesembuhan, saya didoakan, dan saya merasakan kesembuhan mengalir pada tubuh saya. Puji Tuhan! Haleluya!! Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah menyembuhkan saya.

Sungguh tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus!!



Sumber : forumkristen.com

Lihat Video Kesembuhan Jenny Marliana di sinihttp://kppi.or.id/kesaksian.php?id=7219

Senin, 05 Januari 2015

SAKIT PADA TULANG BELAKANG MENJADI NORMAL KEMBALI SEWAKTU MENGUCAPKAN SYUKUR KEPADA TUHAN ATAS APA YANG TELAH DIA LAKUKAN KEPADA MEREKA YANG LAIN

Setelah menderita sakit selama 18 bulan, saya sudah ditinggali suatu penyakit pada tulang belakang dan tidak dapat berjalan tanpa pertolongan sebatang tongkat. 


Suatu hari penyakit itu semakin bertambah parah, hari-hari berikutnya semakin mengerikan; tak ada kata-kata untuk dapat menjelaskannya. Saat mencoba untuk berjalan, ruas tulang belakang saya terasa berbunyi klik, menyebabkan rasa sakit yang amat sangat. Saya juga menderita sakit yang parah pada bagian pembuluh darah selama 25 tahun, ada penggumpalan darah pada aliran darah. Empat tahun terakhir ini saya terpaksa membalut kaki saya, sebaliknya saya tidak dapat berdiri dengan kedua kaki saya.

Pada tanggal 7 Oktober 1951, saudara saya, Nyonya Scott, membawa saya pergi ke pertemuan-pertemuan Branham di Lapangan Maranatha di mana saya menyaksikan 56 kasus kesembuhan Ilahi dari penyakit yang berbeda-beda, suatu pernyataan kuasa Allah yang mengagumkan dalam melepaskan orang-orang yang malang yang sedang menderita. Dan saya sangat bersukacita demi melihat mereka dilepaskan sehingga saya menangis dan menangis dengan sukacita. 

Sesudah kebaktian itu saya sedang duduk di dalam mobil dan merenungkan tentang keajaiban-keajaiban yang telah saya lihat, dan saya lupa sama sekali tentang diri saya sendiri, sewaktu memuji Tuhan atas apa yang telah Dia lakukan kepada orang-orang yang lain yang telah saya saksikan itu. 

Tiba-tiba saja saya merasakan kuasa Allah, berdiri pada kedua kaki saya. Dan disitulah Tuhan memperbaiki tulang belakang saya dan langsung saja semua rasa sakit itu lenyap. 

Saya pulang ke rumah dengan memuji Tuhan dan bersaksi kepada setiap orang yang saya temui. Hal pertama yang saya lakukan ketika saya tiba di rumah adalah membuka pembalut pada kedua kaki saya itu; dan oleh kasih karunia Tuhan saya tidak memakainya lagi. Saya dapat melakukan semua tugas di rumah saya dengan baik. 

Sejak saat itu saya tidak merasa sakit dan tidak memerlukan tongkat lagi. Dan saat ini kedua lutut saya masih lemah tapi tanpa rasa sakit lagi. Saya percaya kepada Tuhan bahwa segala sesuatunya tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Dia adalah Pencipta dan Penyempurna dari segala pekerjaan yang baik, yang kepada siapa saya memberikan segala kepujian dan kemuliaan.

Sumber : faithscience.wordpress.com/kesaksian-kesaksian/

Kamis, 01 Januari 2015

SEORANG GURU YANG DISEMBUHKAN DARI RADANG REMATIK DAN PEMBENGKAKAN PEMBULUH DARAH


Kira-kira tiga setengah tahun yang lalu saya harus menghentikan pekerjaan saya dalam mengajar karena saya sangat menderita rematik radang sendi dan pembengkakan pembuluh darah. 

Penderitaan saya dimulai kira-kira sebelas tahun yang lalu. Nampaknya tidak ada usaha apapun yang dapat menolong saya. Pada tanggal 6 Oktober saya pergi ke lapangan Maranatha dan berdiri selama tiga jam. Saya sulit sekali untuk bisa masuk ke dalam aula yang sudah penuh itu. Akhirnya saya diperbolehkan masuk dan berdiri menyandar ke dinding pada sisi sebelah kiri.


Saudara Branham baru saja datang dari bandara dan seseorang dapat melihat bahwa dia sangat lelah setelah menempuh perjalanan dari Amerika Serikat. Dia menyarankan untuk berdoa bagi semua orang yang menderita. Dia meminta kepada mereka untuk saling menumpangkan tangannya. 


Kemudian dia menunjuk ke sisi aula itu di mana saya sedang berdiri di sana dan berkata bahwa ada seorang wanita yang menderita radang sendi. Sayalah satu-satunya wanita yang berdiri menyandar di dinding itu. Nah, tidak ada seorangpun di antara kerumunan orang banyak itu yang tahu bahwa saya sedang menderita radang sendi, kecuali Saudari Quinn dan dia pun tidak tahu kalau saya ada di sana. Tetapi dia dan banyak orang yang lain mendengar Saudara Branham berkata, “Ada seorang wanita yang sedang mengalami radang sendi.

” Glori Haleluya! Sejak saat itu saya merasa lebih baik lagi. Lalu saya pergi ke setiap pertemuan yang diadakan dan menyaksikan banyak kesembuhan, termasuk kasus-kasus radang sendi yang lainnya yang lebih parah daripada saya. 

Seorang wanita dibawa masuk ke mobil ambulance dan sesudah dia didoakan dia dapat bangun dan berjalan. Juga ada gadis yang tulang punggungnya patah dan kemudian dapat bangun, ketika dia disuruh bangun oleh Saudara Branham, dan dia sembuh dengan sempurna.


Allah memberkati Saudara Branham dan mereka semua yang berhubungan dengan pertemuan-pertemuan tersebut yang telah membuat semua kesembuhan-kesembuhan itu bisa terjadi, termasuk kepada diri saya sendiri.


Copas : faithscience.wordpress.com/kesaksian-kesaksian/