Kamis, 26 Februari 2015

KISAH NYATA SENDY SOEDJAK DAN PEMULIHAN MASA LALU


Semasa kecil, Sendy Soedjak mengalami kesendirian dan ketakutan didalam hidupnya. Situasi ini terjadi atas dampak dari kurangnya perhatian dari kedua orangtua Sendy yang begitu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sendy pun pernah melihat sang ayah pergi dengan wanita lain, disamping itu pertengkaran didalam rumah tangga selalu terjadi.

Sendy pun tinggal dengan Oma (ibu dari ayah) yang merawatnya dengan penuh ketulusan. Maka saat Oma meninggal dunia, Sendy merasa begitu sedih dan sepi. Perasaan ini pun menguasai Sendy yang begitu haus akan kasih sayang, hingga pada masa pubertasnya mencari pelarian dengan berpacaran dengan seorang pria. Bahkan untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian, Sendy rela melepas kehormatannya.

Namun pengkhianatan dan kekecewaan didapatnya selama menjalani hubungan pacaran tersebut. Saat itulah Sendy memendam kebencian terhadap pria, hingga dirinya beberapa kali mempermainkan para pria lain. Meskipun dirinya mendapat kesenangan dari hal itu, kesepian dan kesendirian masih terus menghantuinya ketika pulang kembali ke rumah.

Pernah Sendy diajak oleh ayahnya untuk berkunjung menemui wanita lain yang ternyata telah hidup satu rumah dengan ayahnya dengan membawa dua anak lain. Sendy hancur ketika melihat bahwa papanya tidak mempedulikan dirinya. "Dari kecil saya sering melihat teman saya SD dijemput papa mamanya, dibawakan roti, sampai saya bilang Tuhan itu jahat, Tuhan itu gak adil, kenapa yang lain bahagia, kenapa saya tidak? Akhirnya disitu saya mulai membenci diri saya. Dan saya berpikir bahwa tidak akan ada kebahagiaan di masa depan saya. Karena keluarga saya memang sudah hancur," ungkap Sendy.

Tidak berhenti sampai disitu, Sendy berhubungan dengan pria yang telah beristri. Dari pria ini, Sendy mendapatkan perhatian yang tidak didapatkannya dirumah. Namun karena hubungan yang sudah terlalu jauh, Sendy sempat hamil, namun digugurkannya karena rasa frustasi yang hebat pada dirinya. Bahkan ketika beberapa tahun kemudian dirinya hamil lagi, Sendy juga mengugurkannya, bahkan menginginkan kematiannya.

Setelah tiga belas tahun meninggalkan keluarga, sang ayah kembali lagi kerumah. Inilah saat dimana rasa benci, frustasi dan kebingungan pada diri Sendy menjadi satu hingga membuat dirinya ingin menabrakan mobil yang dikendarainya hingga dirinya mengalami kematian. Namun ketika dirinya tersadar, mobil yang dikendarainya justru berada di halaman rumahnya.

Saat itulah, Sendy diliputi ketakutan akan kematian. Dirinya tersadar bahwa apa yang dilakukannya dapat membuatnya pergi ke neraka dan binasa. Perubahan pada diri orangtuanya, terutama papanya yang mulai mengasihi ibunya, membuat Sendy terdorong untuk bertobat dan berubah. Sendy pun tertantang untuk mengakui seluruh perbuatan dosanya kepada orangtuanya.

Sendy pun mengalami sebuah kejadian didalam doanya kepada Tuhan. "tiba-tiba tubuh saya penuh dengan darah. Tuhan bersihkan badan saya, Tuhan balur badan saya dengan darahnya. Tuhan jawab iya, memang kamu tidak layak, tapi karena Aku telah mati di kayu salib, Aku sudah menebusmu dan melayakan kamu. Saya disiram dengan air dan dipakaikan baju putih. Saya menjadi ciptaan yang baru,"

Akhirnya hubungan Sendy dengan kedua orangtuanyapun menjadi diperbaharui. Sendy memutuskan segala ikatan dan hubungan gelap dengan pacarnya. Bahkan Tuhan memberikannya pasangan hidup yang begitu mengasihinya, juga dengan karunia tiga anak dan juga kualitas hidup yang menjadi berkat bagi hidup dan sesamanya.

Sumber : facebook

Minggu, 22 Februari 2015

KUNANTI 5 TAHUN, BAYIKU HANYA BERUSIA 30 MENIT


Penantian panjang Susi Pow dan Andi Supardi akan datangnya sang buah hati berakhir air mata. Putra pertama mereka itu harus meninggal hanya berselang 30 menit setelah dilahirkan. Hal ini menjadi pukulan terberat bagi keluarga kecil mereka.
Pernikahan Susi dan Andi terlaksana pada 1999. Mereka kemudian memilih untuk tinggal di Australia dan sengaja memutuskan untuk menunda kehamilan. Namun rasa rindu untuk menggendong buah hati itu pelan-pelan mulai dirasakan keduanya, apalagi adik dari pasangan muda ini ternyata sudah lebih dahulu dikaruniai buah hati. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk siap melakukan program kehamilan.

“Pada awal-awal kami biarkan saja, tapi setelah lama kemudian setelah dua tahun berlalu tidak ada hasil, saya sudah mulai cemas. “apa ada yang salah pada diri saya?”” ungkap Susi yang mengaku sudah melakukan berbagai macam cara seperti minum ramuan dari sinshei dan lain sebagainya.

Susi dan Andi kemudian memutuskan untuk kembali di Indonesia dengan harapan mereka bisa segera mendapat buah hati. Perhitungan mereka benar, tidak lama setelah mereka mulai beradaptasi untuk kembali tinggal di Indonesia, Susi dinyatakan hamil. Namun berita baik itu tidak bertahan lama. Dokter menyatakan kondisi janin Susi tidak sehat.

“Seperti jantungnya membesar, pencernaannya bocor, pankreasnya, ginjalnya semuanya rusak di dalamnya,” jelas Susi yang kemudian merujuk ke beberapa dokter spesialis lainnya namun mendapat hasil yang sama.

“Saya sampai pergi ke empat dokter, semua bilang sama,” tambah Susi.

Pernyataan dokter membuat dunia Susi runtuh. Penantiannya selama lima tahun ternyata harus berujung pada kekecewaan.

“Jadinya rumah tangga stress. Istri saya selalu mengeluh, selalu menggerutu dan semuanya serba menyalahkan Tuhan,” Andi menjelaskan kondisi istrinya.

“Saat itu karena saya begitu marahnya, saya berteriak “kenapa setelah saya tunggu sekian lama, kok anak ini bisa nggak boleh hidup?”” ungkap Susi.

Demi keselamatan jiwanya, Susi harus segera menjalani operasi Caesar. “Saya sedih luar biasa karena hari itu saya harus disembelih. Saya pikir semua orang kalau melahirkan pasti sukacita donk, semua pasti akan senang setelah menunggu sekian lama mengandung. Tapi kalau saya kebalikannya. Justru saya pergi ke sana seperti mau masuk ke tempat penyembelihan,” Susi menceritakan ketakutannya.

“Waktu itu saya berdoa kepada Tuhan. Memang kalau Tuhan kasi mujizat, anak itu bisa hidup,” ungkap Andi.

Bayi itu hanya bisa bertahan hidup selama 30 menit, kedukaan pun menyelimuti Susi dan Andi. “Saat itu pokoknya saya menangis sejadi-jadinya sampai saya tidak bisa nafas. Sampai suster perlu datang untuk meneteskan obat untuk melegakan nafas saya karena saya memang langsung sesak nafas,” Susi menceritakan kedukaannya.

“Saya bener-bener nggak terima, saya benar-benar sedih. “Tuhan mengapa saya harus tidak bawa anak pulang? Sedangkan ibu-ibu yang lain itu mondar-mandir terus di depan pintu bawa anak”,” Susi menambahkan.

Paska kematian bayinya, hari-hari Susi berubah kelam. Berbagai pertanyaan berkecamuk di benaknya. Namun suatu hari, tanpa sengaja Susi menemukan sebuah buku yang kembali memberinya semangat untuk menjalani hidupnya.

“Entah kenapa saya dekati itu Alkitab. Asal sembarang saya buka, yang nongol (muncul) kitab Ayub. Trus mata saya tertuju pada tulisan “Tuhan memberi, Tuhan yang mengambil, Terpujilah nama Tuhan”. Saya yang belum mengenal Tuhan langsung menangis sejadi-jadinya, ini memang benar, Dia yang berhak (mengambil)” Susi bersaksi.

Hal itu seperti membuka selubung duka dalam kehidupan Susi. Perlahan dia pun mulai bisa menerima apa yang telah terjadi hidupnya. Tidak lama berselang, seorang kawan mengundangnya untuk mengikuti pendalaman Alkitab. Hal ini disambut positif oleh Susi. “Saya ingin tahu, Tuhan itu seperti apa pribadi-Nya? Sekaligus saya mau cari jawaban, mengapa ini terjadi pada diri saya?” ungkapnya.

Pendalaman Alkitab itu membawa pemahaman baru dalam diri Susi. “Banyak yang terjadi dalam hidup kita itu memang sesuai dengan rencana Dia, tidak ada sesuatu pun yang luput. Termasuk saya yang mengalami kejadian seperti ini, pasti ada maksudnya. Kenapa Nicholas (nama bayinya) harus meninggal, karena supaya saya jadi sadar dan akhirnya saya menerima Kristus dengan pengorbanan Nicholas. Dan saya yakin berjalan bersama Dia, saya pasti lebih baik,” jelasnya.

Susi pun menjalani hari-harinya tanpa beban dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Beberapa bulan kemudian, Susi pun dinyatakan kembali hamil. Namun kebahagiaan itu hanyalah sementara. Dokter memvonis Susi hamil tanpa janin, dan harus kembali menjalani operasi.

Susi tidak mudah menerima kenyataan ini, namun setelah berkonsultasi dengan banyak dokter dan mendapat jawaban yang serupa. “Saya sampai ke tiga dokter, semua bilang sama. Tidak ada kehidupan,” jelas Susi yang harus kembali menelan air mata.

“Sedih, saya sangat sedih. Saya bahkan sampai berpikir “saya dua kali mengalami ini, sebenarnya saya ada dosa apa?”” tambah Susi yang kembali putus asa.

Enam bulan berikutnya, Susi kembali hamil. Namun hatinya terlanjur hambar. Dia bahkan meragukan apa kata dokter dan meminta dokter untuk kembali memeriksanya. “Itu mesin USG saya sudah trauma, saya sudah tidak mau lihat lagi,” jelas Susi.

Ternyata ketakutan Susi tidak terbukti. Waktu yang bergulir membuktikan bahwa janin yang dikandungnya dalam keadaan sehat dan sembilan bulan kemudian, seorang bayi yang cantik akhirnya dilahirkan dari rahimnya.

“Saya merasa takjub. Selama sepuluh tahun menunggu inilah momen yang saya tunggu itu. Waktu yang pertama saya rasakan neraka turun, kalau ini saya rasakan surga turun. Bener-bener itu bisa kita rasakan di bumi. Pokoknya tidak terlukiskan, saya bisa menggendong dan merasakan Kimmi bisa ada di pelukan saya itu luar biasa,” Susi menceritakan kebahagiaannya.

Hal yang sama juga dirasakan Andi yang tiada henti mengucap syukur kepada Tuhan. “Saya merasa luar biasa sekali. “Tuhan terima kasih Tuhan, Kau telah memberi anak ini kepada kami untuk dipercaya,” Andi bahagia.

Saat ini, putri Susi dan Andi sudah berusia satu tahun empat bulan dan hadir melengkapi kebahagiaan kedua orangtuanya. “Sekarang saya baru mengerti, setelah perjalanan bersama Tuhan sepuluh tahun menunggu Kimberly dilahirkan, itu ternyata Tuhan itu baik sama saya. Andai kata saya diberi Kimberly 10 tahun yang lalu, saya mungkin tidak akan sanggup,” ungkap Susi.

“Tuhan itu mau memberi pesan kepada saya bahwa saya butuh kesabaran, kemampuan, kekuatan dan kasih untuk mengambil peran sebagai seorang ibu,” tambah Susi.

Pula Andi mendapat pelajaran dari peristiwa ini. “Saya belajar untuk lebih setia lagi kepada Tuhan bahwa kehendak Tuhan itu yang paling utama bagi kehidupan saya.

“Dan saya merasa Tuhan benar-benar menyatakan mujizatNya, bahwa selama ini janji Ku adalah yaa dan amin.” Susi menutup kesaksiannya.

Sumber Kesaksian: jawaban.com

Rabu, 18 Februari 2015

KUASA TUHAN, PEMULIHAN : WAKTU AWAN GELAP BERLALU


Hidup Tavip baik adanya, hingga kecelakaan buruk menimpanya. Kejadiannya terjadi tahun 1991, pada waktu itu sebuah tiang katrol pengangkut besi seberat 200 kg patah dan menimpa kepala saya bagian kanan. Cedera berat saya alami, tengkorak kepala pecah dan sebagian otak saya keluar. Saya langsung tidak sadarkan diri. Kru di tempat saya bekerja mengatakan bahwa darah telah keluar dari semua bagian kepala saya, dari hidung, dari mulut, dari telinga saya keluar darah. Akibat cedera yang berat, saya mengalami koma sekitar tujuh hari. Dokter yang menangani mengatakan pada orang-orang yang menolong saya bahwa kondisi saya sangat kritis. Dokter mengatakan bahwa seperempat bagian otak saya telah terluka.

Setelah tujuh hari koma Tavip tersadar namun dengan keadaan berbeda. Setelah saya sadar, saya mencoba menggerakkan tangan dan kaki, tapi ternyata tidak bisa digerakkan sama sekali. Saya merasa jiwa saya menjadi begitu tertekan. Saya mulanya sehat dan tidak mengalami gangguan apa-apa, namun saat ini tiba-tiba tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam usia muda, dalam usia yang produktif, saya harus mengalami kecelakaan seberat ini. Saya menjadi begitu takut, dalam usia yang masih muda tidak terbayang dalam pikiran bahwa saya harus mengalami kelumpuhan seumur hidup. Saya menjadi sangat tertekan.

Akibat peristiwa ini saya tidak dapat bekerja untuk kurun waktu dua tahun lamanya. Akibat hal ini, keadaan ekonomi saya hancur. Saya juga menghadapi pukulan yang berat, rencana saya untuk bertunangan harus dibatalkan karena pacar saya tidak dapat menerima kondisi saya. Secara logika saya dapat mengerti keadaan ini karena saya juga berpikir bahwa tidak akan ada gadis yang mau menikah dengan orang cacat seperti saya. Hari-hari saya lalui dengan tangis putus asa, bahkan saya seringkali menyalahkan Tuhan atas kejadian ini. Mengapa Tuhan begitu tega mengijinkan hal ini terjadi dalam hidup saya?, mengapa saya yang harus mengalami kelumpuhan seperti ini?, mengapa saya harus masuk kedalam keadaan ekonomi yang sulit ini?. Begitu banyak pertanyaan dan ketidakpuasan yang keluar dari pikiran saya.

Suatu malam saya tersentak sadar. Saya ingat akan kejadian itu. Saya sadar, misalkan pada saat kejadian itu saya meninggal dunia, saya yakin saya akan masuk surga karena saya telah menerima Tuhan Yesus dalam hati sebagai Juruselamat saya. Akibat kesadaran itu, saya tidak berputus asa lagi. Saya mulai berdoa dan minta bantuan Tuhan untuk memberi kekuatan bagi hidup saya. Sejak saat itulah saya lalui hari-hari saya dengan banyak berdoa. Saya mulai mendapatkan kekuatan dan penghiburan dari Dia. Saya mulai bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan bagi hidup saya. Dalam kesedihan, dalam tangisan, Dia memberikan kekuatan bagi hidup saya.

Tuhan begitu baik bagi kehidupan saya, perlahan-lahan tubuh saya dipulihkan. Saya mulai bisa melukis. Lama kelamaan tubuh saya mulai bisa digerakkan normal kembali. Saya mulai bisa berjalan, dari tertatih-tatih hingga bisa berjalan perlahan. Akhirnya saya bisa pergi ke tempat lain dan bisa pergi untuk bekerja, bahkan kini saya dapat membawa mobil sendiri. Saya bersyukur, jika pada awalnya dokter bisa memvonis saya akan buta, lumpuh dan lain-lain tapi Tuhan sungguh baik pada saya. Tuhan memulihkan kesehatan saya walau perlahan-lahan. Saya juga bisa menjalankan usaha kembali dengan lancar, ekonomi saya perlahan-lahan Tuhan pulihkan. Bahkan lewat hasil usaha, saya dapat menghidupi dua puluh kepala keluarga.

Akibat kejadian kecelakaan, dahulu saya gagal bertunangan. Namun Tuhan itu baik pada saya, Dia berikan pada saya istri yang setia dan dua anak yang manis dan dapat membuat saya benar-benar merasakan arti dari kasih Tuhan. Saya sungguh bersyukur dalam hidup ini. Tuhan Yesus bukan hanya mengasihi saya tapi Dia juga sanggup memulihkan tubuh saya, kehidupan ekonomi saya. Tuhan juga memberikan keluarga yang harmonis pada saya, saya sangat bersyukur untuk hal itu.

Beginilah firman TUHAN: Di tempat ini, yang kamu katakan telah menjadi reruntuhan tanpa manusia dan tanpa hewan, di kota-kota Yehuda dan di jalan- jalan Yerusalem yang sunyi sepi itu tanpa manusia, tanpa penduduk dan tanpa hewan, akan terdengar lagi suara kegirangan dan suara sukacita, suara pengantin laki-laki dan suara pengantin perempuan, suara orang-orang yang mengatakan: Bersyukurlah kepada TUHAN semesta alam, sebab TUHAN itu baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!, sambil mempersembahkan korban syukur di rumah TUHAN. Sebab Aku akan memulihkan keadaan negeri ini seperti dahulu, firman TUHAN. (Yeremia 33:10-11)

Sumber Kesaksian:
Tavip (jawaban.com)

Sabtu, 14 Februari 2015

WANDA, DITOLAK ORANGTUA SENDIRI

MASA KECIL WANDA……
Selama saya masih kecil itu, saya dirawat sama oma dan opa saya. Saya pikir waktu itu, oma dan opa itu adalah orang tua saya. Disaat saya mulai duduk di bangku SMP, saya mulai dengar cerita dari oma saya sendiri bahwa orang tua saya ada di Jakarta.

Awalnya mulai timbul rasa dendam. Saya pikir kok saya hanya dibuang seperti itu saja. Saya mulai tumbuh sebagai anak yang kondisinya labil. Rasa minder mulai muncul. Nah disitu saya mulai merasakan bahwa saya harus mengembalikan rasa percaya diri saya dengan cara mencari orang tua.


PERTEMUAN DENGAN SANG IBU
Waktu perjalanan itu saya senang banget karena mau ketemu ibu. Dengan pikiran bahwa kasih sayang seorang ibu akan segera saya dapatkan. Pas waktu ketemu itu ada papa tiri saya dan 3 adek tiri yang masih kecil, dan mama. Mulai saya peluk dia dan saya pikir ini dia mama saya yang sesungguhnya. Mama mulai ada perhatian kepada saya secara pribadi. Tapi setelah satu dan dua minggu didalam suasana rumah itu saya mulai rasakan ada yang kurang. Saya merasa tertekan dan sangat tidak nyaman dengan kondisi di rumah

Saya mulai berpikir kenapa saya dibedakan dari adek-adek saya yang lain. Sampai titik tertentu saya mulai tidak kuat sehingga akhirnya saya pergi dari rumah. Saya berpikir, saya di Jakarta harus hidup sama siapa? Sementara mama saya sendiri tidak memberi uang pada saya. Saya sempat pikir kalau keluarga saya seperti ini, kenapa saya tidak melakukan hal yang lebih parah saja? Mungkin saya bisa jual diri! Intinya agar saya bisa melampiaskan emosi saya, dengan melakukan hal-hal itu. Tapi nggak tahu kenapa, ada saja halangan yang membuat saya tidak bisa melakukan hal seperti itu.


MENDAPAT TEMPAT TINGGAL BARU
Margaretha (tante): Dia diantara oleh om-nya ke rumah saya di Cililitan, dan mereka menitip Wanda dirumah saya. Jadi walaupun saya hidup pas-pasan, tapi saya mau dia tinggal di rumah. Saya lihat tidak pernah ibunya bertanya pada saya keadaan Wanda itu seperti apa. Jadi Wanda itu tinggal dengan saya kurang lebih 12 tahun. Disitu, Wanda juga punya kerinduan untuk mencari papanya.


MENCARI JEJAK SANG AYAH
Pas pulang ke Menado diakhir tahun 2000, saya mulai cari informasi. Dan melalui berbagai informasi yang saya dapatkan dari saudara-saudara akhirnya saya berangkat ke Jogya dengan ditemani seorang teman saya. Di sana kami berhasil menemui salah seorang saudara kandung ayah saya. Saya menyatakan kerinduan saya untuk bertemu dengan ayah saya. Dari Oom saya itu, saya mendapatkan informasi bahwa ayah saya ada di Pemalang dan sudah berkeluarga lagi. Namun mereka tidak bersedia memberitahukan nomor telepon ayah kepada saya. Akhirnya kami kembali ke hotel lagi.

Setibanya di hotel, saya berdoa “Tuhan, saya sudah datang jauh-jauh untuk bertemu dengan ayah. Meskipun dia tidak pernah mencari saya selama ini. Meskipun secara materi dia tidak pernah memenuhi kebutuhanku. Tapi saya rindu untuk bertemu dengannya. Kalau Tuhan izinkan, saya tidak tahu bagaimana caranya, saya ingin ketemu dengan ayah saya, Tuhan.” Kemudian kamipun kembali lagi ke Jakarta dengan tangan hampa.


KEJUTAN DARI SANG AYAH
Beberapa hari setelah saya sampai di Jakarta, seseorang yang belum pernah saya dengar suaranya sebelumnya menelepon saya. Ketika saya bertanya siapa ini, beliau tidak memperkenalkan namanya. Namun dia mengenal saya dan bertanya gimana khabar saya sambil berkata, “Wanda kemarin ke Jogya yah?” Akhirnya saya tiba-tiba seperti tersadar bahwa yang sedang berbicara dengan saya itu adalah ayah saya. Rupanya Oom saya yang tinggal di Jogya itu memberitahukan nomor telepon saya kepada ayah. Perasaan saya waktu itu senang, namun saya bingung harus ngomong apa, mulai dari mana dan harus memanggil apa? Kemudian saya panggil dia dengan sebutan “Bapak.” Pembicaraan kami hanya singkat saya waktu itu.

Singkat cerita kami bertemu November 2002 di Jakarta. Dia bilang dia minta maaf karena tidak bisa membiayai saya, untuk apa yang menjadi kebutuhan saya. Dia mulai bercerita latar belakang mengapa bisa begitu. Ada juga latar belakang perbedaan agama juga. Mereka tidak direstuin oleh masing-masing kedua belah pihak. Pas pulang dia bilang “kamu nggak usah cari saya lagi”. Pesan itu menambah luka dihati. Bukannya dia menguatkan saya, dia malah membuat saya drop banget.


AYAH MENOLAK, IBU MENGECEWAKAN
Waktu itu mama minta maaf sama saya karena muncul dari mulut saya kata “mama”. Kita berdoa bersama-sama dan dia sampai menangis dan memeluk Wanda dan minta maaf. Tapi selanjutnya yang saya lihat, dia tidak pernah lagi memperhatikan. Pernah ke rumahnya di Pondok Gede, pintu tidak dibukakan padahal dia ada didalam.

Saya pikir, lho bukannya mama sudah masuk ke pelayanan? Kok bisa begitu lagi? Itu bikin aku sakit banget. Yang lebih menyakitkan saya waktu saya sakit. Om saya kasih tau ke mama saya bahwa saya sakit. Tapi dia tidak datang. Itu jadi trauma banget sama saya, kenapa lagi dia seperti itu. Diluar, dia juga tidak pernah anggap Wanda anaknya. Dia selalu katakan bahwa Wanda itu keponakannya.


APA REAKSI TERAKHIR WANDA?
Hal yang tidak pernah terlintas di dalam pikiran saya. Tuhan memelihara kehidupan saya dengan cara yang luar biasa. Meskipun saya tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibu saya, namun Tuhan mengasihi saya dengan kasih yang sempurna. Sampai hari ini hidup saya dipelihara Tuhan. Tuhan punya rencana dan tujuanNya di dalam hidup saya. Kalau papa bisa ke Jakarta, kita rindu bertemu dengan dia supaya bisa saling memaafkan satu sama lain. Masa lalu biar jadi masa lalu. Saya rindu kita kumpul bersama walau mereka sudah punya keluarga masing-masing. Saya hanya rindu kita saling memaafkan satu sama lain. Itulah kerinduan saya.

Mazmur 27:10 “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku”

Sumber Kesaksian:
Wanda (jawaban.com)

Selasa, 10 Februari 2015

AKU TIDAK MENGERTI TENTANG CINTA KASIH

Aku lahir dalam keluarga yang sangat miskin, dimana orang tuaku harus bekerja dari pagi hingga malam untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehingga mereka tidak dirumah sepanjang hari. Hal itu menyebabkan aku terbiasa tinggal dirumah sendiri dan keluyuran di luar rumah bergaul dengan teman-teman sebaya dan senasib. Karena merasa senasib dan sebaya, mulai terjalin persahabaatan yang menjurus ke pembentukan kelompok gang untuk sehidup semati, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Kehidupan yang menyebabkan aku tidak merasakan kehangatan keluarga dan tidak merasakan apa yang disebut cinta kasih.
Tugas dalam kelompok gang adalah untuk mendapatkan segala kebutuhan dengan menghalalkan segala cara. Kami mulai melakukan tindakan kriminal kecil-kecilan yang semakin berkembang menjadi kejahatan besar. Pada usia yang ke sebelas tahun, aku ditangkap dan dimasukkan ke rumah rehabilitasi dan terulang beberapa kali, tapi tidak sedikitpun aku merasakan malu bahkan aku merasa bangga. Karena siapa yang melakukan kejahatan semakin besar makin dihormati dan makin dianggap sebagai pahlawan.
Suatu ketika aku melakukan perampokan bersenjata karena ingin menunjukkan 'kepahlawananku' yang mengakibatkan aku ditangkap dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara.
Aku merasakan penjara membawa perubahan dalam diriku dan merasakan kehampaan yang sangat mencekam, karena tidak ada seorangpun yang menjenguk dan memperhatikan aku. Teman gang yang dikatakan sebagai 'teman sehidup semati' tidak pernah aku ketahui dimana berada dan tidak pernah ada surat ditulis untukku.
Aku sadar bahwa apa yang mereka katakan aku sebagai teman seperjuangan, sebagai orang yang patut dibanggakan hanya bohong belaka. Selama ini aku hanya diperalat untuk mencapai tujuan. Aku sangat marah dan aku berjanji seusai menjalani hukuman akan mencari mereka untuk membuat perhitungan.
Suatu hari saat aku merasakan kehidupan di penjara sangat tidak mengenakkan, sipir penjara memberitahukan ada orang datang mau bertemu denganku. Hatiku tergentar dan bertanya-tanya, siapakah orang yang ingin bertemu denganku? Tidak mungkin teman-teman gangku, kalaupun itu mereka aku akan membuat perhitungan dengan mereka.
Mereka bertiga, satu wanita dua laki-laki yang kesemuanya bersikap sopan dan bertutur kata sangat lembut, dengan perkataan yang membawa penghiburan. Mereka adalah tokoh-tokoh gereja, diantaranya pendeta, pimpinan gereja dan dokter.
Mereka mengutarkan maksudnya dan ternyata mereka mengenal aku karena diperkenalkan salah satu anggota gangku. Mereka memperkenalkan keberadaan Allah dan keberadaan dosa. Kata-kata mereka sederhana tapi bagai pisau menusuk telak kedalam hatiku, karena aku tidak mengenal apa arti kasih,dan apa itu dosa. Aku mengakui baru kali ini merasa digerakkan oleh kasih. Meskipun aku berkecimpung sangat lama dalam masyarakat dengan banyak teman, tapi kehidupanku penuh dengan rasa takut dan cemas.
Melalui percakapan itu aku merasakan kehangatan dan kedamaian yang belum pernah aku rasakan sepanjang hidupku, maka tatkala mereka mengajak aku berdoa dengan senang hati aku menerimanya. Mereka memberikan aku sejilid buku yang berjudul "Injil Masa Kini" sebagai hadiah perpisahan. Aku tidak mengerti apa maksud dari buku itu tetapi akhirnya aku dapat mengerti dan meresapi kasih Tuhan seperti yang dituliskan dalam buku itu melalui perjalanan batin yang panjang. Hidupku sekarang penuh dengan pengharapan dan kekuatan sejak aku mengenal dan membaca buku itu, aku memiliki kekuatan untuk mengatasi kejahatan yang selalu merongrongku.
Seusai menjalani hukuman, teman-teman seiman mulai membantu memikirkan masa depanku. Aku mulai bersuka cita bersama dan berbakti serta mempelajari firman Tuhan. Hidup rohaniku makin bertumbuh karena perhatian saudara seiman, dan aku berdoa agar Tuhan memimpin jalanku.
"Kasih Allah sangat besar, sehinga IA rela mengorbankan Anak Tunggal-Nya untuk menggantikan dosa-dosa kita. Selama kita tidak mau mengakui dosa dihadapan-Nya kita tidak akan mendapat kedamaian, karena kedamaian dan kebenaran sejati hanya ada dalam TUHAN."

Diambil dari:kesaksian.sabda.org

Jumat, 06 Februari 2015

INFUS PLUS TUHAN

Kami sekeluarga tidak pernah berpikir bahwa sebuah peristiwa tragis akan terjadi dalam keluarga kami. Pengalaman yang kami hadapi ini menjadi teguran bagi kami, tetapi juga menjadi berkat kebaikan bagi kami sekeluarga. Sebelumnya, kami sekeluarga hanya memiliki iman yang biasa saja kepada Tuhan Yesus, tetapi melalui peristiwa ini, kami dipacu untuk beriman dengan sepenuh hati kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. 

Peristiwa ini juga mendorong kami untuk lebih rajin beribadah ke gereja dan berdoa. Saat itu hari Jumat, tanggal 6 Desember 1996, sekitar pukul 17.00, kami melihat anak kami yang masih mengenakan seragam sekolah sedang bercanda ria bersama temannya. Tiba-tiba, ia jatuh pingsan, badannya dingin, dan terlihat pucat pasi. Melihat kondisi yang mengkhawatirkan ini, kami langsung membawanya ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, ia terus menjerit karena kesakitan. Setelah diperiksa, dokter mengatakan adanya kelainan dalam perutnya dan menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit yang lebih besar untuk di-USG. 

Sore itu juga, kami langsung ke RS Immanuel. Dokter mengatakan bahwa anak saya harus opname. Setelah melalui pemeriksaan, dokter ahli mengatakan bahwa anak saya harus dioperasi karena terdapat kelainan dalam perutnya. Besoknya, kami pun menandatangani surat pernyataan persetujuan tindakan operasi. 

Operasi berjalan dengan baik. Di bagian perut anak saya, ditemukan semacam daging sebesar kepalan tangan. Setelah diambil, anak saya dinyatakan akan kembali sehat. Sepulang dari rumah sakit, kami sekeluarga mengadakan syukuran ala kadarnya, mengundang teman-teman dan tetangga dekat. 

Sebagai pengusaha, kami memiliki "motto": "Uang adalah nomor satu dan uang adalah di atas segalanya", kami lebih mendahulukan uang daripada pergi ke gereja. Hari Natal pun, kami bekerja banting tulang sampai larut malam, padahal anak-anak kami semuanya berontak karena tidak pernah menikmati damai yang sesungguhnya. 

Setelah R (inisial nama anak kami yang dioperasi) beristirahat selama satu bulan di rumah, pada tanggal 7 Januari 1997, ia kembali mengalami hal yang sama. Kami menjadi sangat kalut dan gugup, lalu segera membawanya ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa anak kami harus dioperasi untuk kedua kalinya. Esoknya, operasi pun dilakukan. Dari hasil operasi, diperlihatkan segumpal darah sebesar telapak tangan. Rupanya ada semacam jaringan darah yang tertinggal dan tampak lebih banyak daripada yang pertama ditemukan. 

Melihat kondisi R dan tekanan darahnya yang sudah tidak normal, diputuskan operasi dihentikan, ditutup kembali, dan dijahit. Biasanya, pasien akan meninggal bila darahnya telah menyebar ke bagian dada dan organ lain. Hasil operasi itu pun dikirim ke salah satu laboratorium di Jakarta. Setelah menunggu beberapa hari, dinyatakan bahwa R menderita kanker super turbo ganas dan jenis penyakit ini sangat jarang. Obatnya juga tidak ada di Indonesia, bahkan di luar negeri pun belum tentu ada. 

Rasanya, kami seperti disambar petir di siang bolong! Cemas, gelisah, takut, dan tidak tahu apa yang harus kami lakukan sementara kondisi R terus memburuk, maka kami segera membawanya pulang ke rumah. Perutnya seperti orang yang sedang hamil besar, dadanya mengembung, dan sesekali ia menjerit karena kesakitan. Kami kembali membawanya ke rumah sakit. Sebagai pertolongan dalam mengatasi rasa sakit anak saya, dokter memberikan morfin yang ternyata hanya mampu mengatasinya dalam waktu 12 jam. Hari ketiga bertahan 8 jam, hari selanjutnya hanya mampu bertahan 4 jam. Di mulut anak saya dipasang selang yang langsung ke perut, dari hidungnya dipasang selang untuk oksigen, tangan kiri dan kanan diinfus. Betapa menderitanya dia, bahkan kanker itu telah menjalar menutupi lubang anus dan ususnya membesar. 

Sebagai orang tua, kami hanya bisa menangis dan meminta ampun kepada Tuhan atas segala dosa yang telah saya perbuat selama ini. Saya berkata kepada Tuhan, "Mengapa harus anak saya yang menderita seperti ini? Ampuni kami Tuhan kalau kami telah menjadikan uang nomor satu, di atas segalanya, dan menghalalkan segala cara sehingga membuat Engkau murka. 

Apabila Engkau memberikan kesempatan kepada kami dan memberi kesembuhan kepada anak kami, kami berjanji untuk tidak lagi melakukan hal yang menjijikkan dan kami akan lebih aktif ke gereja dan menyaksikan kebesaran Tuhan atas hidup kami. Engkau adalah Allah yang tiada mustahil, tolonglah kami Tuhan!" Saat itu, kami hanya terus menangis, sangat berharap kepada belas kasihan Tuhan Yesus sebagai Dokter di atas segala dokter. 

Kami berdoa dengan sungguh-sungguh dan berpuasa. Pikiran kami semakin kalut, berpikir mengenai biaya, keuangan yang semakin menipis, dan pekerjaan yang juga kami tinggalkan. Lalu, Tuhan mengirimkan hamba-hamba-Nya, pendeta-pendeta dari Gereja Bethel berdoa bersama kami, dan juga rekan-rekan dari FGBMFI (Full Gospel Business Mens Fellowship International), mereka telah banyak membantu dan menguatkan kami. Kami juga berterima kasih kepada para tenaga medis, suster, dan terutama kepada Sang Dokter Agung, Tuhan Yesus, yang mengadakan pemulihan kepada anak kami. Harapan untuk kesembuhan semakin nyata dan kesehatan anak saya semakin baik. Kemoterapi akhirnya dilakukan, kurang lebih 10 kali. 

Suatu hari, istri saya dipukul oleh R karena ia ketagihan morfin! Ia meraung, menggigil, dan minta disuntik morfin. Setiap 4 jam sekali, ia selalu ketagihan dan harus disuntik dengan morfin. Istri saya hanya menangis karena peristiwa itu seperti lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut singa! Saat itu, kami seperti mendapat bisikan dan hikmat, berikan suntikan infus! Maka, kami segera mengatakan kepada suster untuk memberikan suntikan infus dan mendoakan infus itu di dalam nama Yesus. Suntikan pertama dilakukan dengan dosis yang dicampur morfin 50 persen. Empat jam kemudian, dosis diturunkan menjadi 25 persen, dan selanjutnya hanya dengan 100 persen air infus murni! Puji Tuhan! Dokter dan suster yang menyaksikan hal itu pun tidak percaya. Semua ini adalah mukjizat Tuhan! Luar biasa .... 

"Air infus plus Tuhan Yesus" telah menolong R terlepas dari ketagihan morfin! Hari keempat R sudah mulai duduk. Esoknya, ia mulai berjemur dan kondisinya pun terus membaik. Selanjutnya, ia mulai dapat belajar berjalan walaupun dipapah; dan tak lama kemudian, dokter memperbolehkannya pulang. Pada akhir September, hasil laboratorium menyatakan bahwa BHCG R di bawah 1. 

Hingga hari ini, R telah kembali sehat dan sembuh total. Puji Tuhan! Sungguh, kami bersyukur dan membayar nazar kami. Lewat peristiwa ini, kami semakin dekat kepada Tuhan, semakin rajin ke gereja, dan bahkan setiap ada kesempatan, kami selalu bersaksi tentang pertolongan dan kuasa Tuhan. Dan, saya bersyukur saat ini boleh bergabung dengan Full Gospel Business Mens Fellowship International, bertemu dengan saudara-saudara seiman, sehingga iman percaya kami terus bertumbuh, meningkat, dan semakin dewasa. 

Sekali lagi, ini semua karena kasih dan anugerah Tuhan Yesus Kristus kepada kami, umat-Nya, sehingga lewat pengalaman tragis ini, kami sekeluarga diselamatkan. 

Diambil dan disunting dari: Judul buletin: Full Gospel Business Men`s Voice Suara Indonesia Judul artikel: Infus Plus Tuhan Penulis: Karim Pribadi Penerbit: Full Gospel Business Men`s Fellowship Internasional Indonesia dan Nigeria, Jakarta, 2004 Halaman: 16 -- 18 

 POKOK DOA 
1. Bersyukur kepada Tuhan Yesus atas pertolongan yang Dia sediakan bagi setiap orang yang bersandar kepada-Nya. Kiranya kesaksian kesembuhan ini menjadi berkat bagi setiap orang yang membacanya. 
2. Berdoalah bagi setiap rekan atau saudara kita yang menderita kanker supaya Tuhan juga memberikan kesembuhan dan karya Allah dinyatakan dalam kehidupan mereka. 
3. Berdoalah bagi kesehatan keluarga, sahabat, saudara, dan semua orang Kristen sehingga dengan tubuh yang sehat, mereka dapat senantiasa melayani dan memuliakan Tuhan dalam pekerjaan yang mereka lakukan. 

 "Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan kepada mereka kesehatan dan kesembuhan, dan Aku akan menyembuhkan mereka dan akan menyingkapkan kepada mereka kesejahteraan dan keamanan yang berlimpah-limpah." (Yeremia 33:6)

sumber : www.sabda.org

Senin, 02 Februari 2015


JOHN PATON: PENGABAR INJIL KEPADA SUKU KANIBAL 

Pada tahun 1987, Dave Dever, seorang pekerja serabutan diminta untuk membantu mengangkut barang-barang untuk dibuang ke tempat pembuangan sampah. Sebuah kardus berisi buku-buku lama menarik perhatiannya. Ia berpikir, "Apakah saya harus membuangnya atau menyimpannya?" Ia kemudian memutuskan untuk membawanya pulang. Sesampainya di rumah, ia menyimpannya di gudang dan melupakan buku-buku itu. Hanya pada musim dingin berikutnya, ia melihat kardus buku itu dan memutuskan untuk membakarnya di tempat perapian. Istrinya, Abby, melarang dia membakar buku-buku tersebut. Salah satu buku yang diselamatkan dari jilatan api itu adalah biografi seseorang bernama John Paton, yang berlayar ke sebuah pulau bernama Vanuatu di kepulauan Pasifik pada tahun 1858. Buku tentang John Paton dan pengalaman hidupnya bersama suku kanibal meninggalkan kesan yang mendalam dalam kehidupan Dave dan Abby. 

Setelah berkali-kali membacanya, mereka tergerak untuk berbuat sesuatu bagi penduduk di situ. Walaupun mereka bukan orang berada, mereka melakukan pelbagai usaha, termasuk menjual sofa, tempat tidur, mesin cuci, meja dan kursi milik mereka di Kanada untuk membantu orang-orang di Vanuatu. Siapakah John Paton yang walaupun telah meninggal 100 tahun sebelumnya, tetapi dapat terus menginspirasi keluarga Dever untuk begitu berapi-api membantu satu suku yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya? John Paton lahir di Skotlandia pada tahun 1824, di sebuah keluarga miskin yang kedua orang tuanya sangat mengasihi Tuhan. Setiap kali sehabis makan malam, ayahnya pasti akan masuk ke kamar yang hanya sebesar lemari dan memanjatkan doa kepada Tuhan. Sejak kecil, ia sudah tahu bahwa di saat-saat itu, dia dan adik-adiknya tidak boleh berisik. Kesaksian kedua orang tuanya yang cemerlang meninggalkan kesan yang sangat mendalam dalam kehidupan Paton. 

ada usia yang sangat muda, Paton sudah memutuskan untuk memberikan hidupnya bagi pelayanan Tuhan. Ketika berusia 12 tahun, Paton putus sekolah dan bekerja untuk membantu keluarganya. Akan tetapi, hal itu tidak menghalanginya untuk terus mempersiapkan diri untuk pelayanan Tuhan. Ia dengan tekun mempelajari bahasa Latin dan Yunani setiap hari walaupun ia harus bekerja dari jam 6 pagi hingga jam 10 malam. Tuhan terus memimpinnya dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, dan sepanjang masa itu, Paton dengan gigih berusaha mengimbangi pekerjaan dan studinya. Akhirnya, setelah 10 tahun, ia lulus dari Universitas Glasgow dan sekolah teologia. Ia juga sempat mengambil kursus medis di sebuah akademi. 

Pada waktu itu, organisasi di gerejanya telah dua tahun berturut-turut mengiklankan lowongan untuk mencari misionaris ke kepulauan Vanuatu, tetapi masih belum berhasil mendapatkan calon yang tepat. Paton merasa Tuhan berbicara kepadanya untuk melamar posisi itu. Paton menulis, "Saya melamar untuk misi ke Vanuatu dan setelah itu, saya kembali ke kamar dengan hati yang damai, suatu hal yang sudah lama tidak saya nikmati. Tidak ada hal lain yang begitu menyenangkan dibandingkan dengan keputusan untuk maju melakukan apa yang Anda tahu sebagai kehendak Tuhan." 

Mendengar keputusan Paton untuk meninggalkan Skotlandia demi melayani suku kanibal di kepulauan Pasifik, gereja tempat dia melayani tidak mau melepaskan Paton. Mereka langsung menawarkan kepadanya untuk mengambil alih sebuah jemaat yang besar dengan gaji yang besar. Seorang penatua terus-menerus berkata kepadanya, "Mereka itu kanibal! Engkau akan dimakan oleh kanibal!!" Gerejanya memberi tahu dia, "Tempat inilah yang paling bagus untukmu karena Tuhan telah memberkatimu dengan kelayakan yang diperlukan dan telah begitu memberkati pelayananmu. Engkau hanya akan menyia-nyiakan hidupmu di antara suku kanibal itu." Jawab Paton kepada mereka, "Saya hanya mati sekali. Biarlah waktu, tempat, dan bagaimana saya mati ditentukan oleh Tuhan sendiri." Kepada yang lainnya, ia berkata, "Mati atau hidup saya untuk melayani dan memuliakan Yesus Kristus, tidak ada bedanya apakah saya dimakan oleh kanibal atau oleh ulat. Di hari kebangkitan nanti, tubuh saya akan bangkit dan akan sama mulianya dengan tubuh Anda." 

Hampir setiap hari, ada saja jemaat di gerejanya yang memohon kepadanya untuk tidak berangkat. Sangatlah mudah jika yang menentang keputusannya adalah orang-orang luar, tetapi ia terus-menerus menerima tentangan dari teman-teman seiman, yang adalah orang-orang yang akrab dengannya. Akhirnya, Paton sendiri bimbang, apakah ia sedang menjalankan kehendak Tuhan atau hanya menuruti keinginannya sendiri. Sama seperti hal-hal penting lainnya, Paton berkonsultasi dengan kedua orang tuanya. 

Surat dari kedua orang tuanya berbunyi: "Kami tidak pernah memberi tahu karena kami tidak mau memengaruhi keputusanmu, tetapi kami memuji Tuhan untuk keputusan yang telah kamu ambil. Ayahmu memang ingin menjadi seorang pelayan Tuhan, tetapi karena pelbagai hal, ia terpaksa melepaskan keinginan itu. Saat Tuhan memberikan kamu kepada kami, kami menyerahkanmu ke atas altar Tuhan, anak sulung yang diserahkan kepada Tuhan. Kami berkata kepada Tuhan, `Jika Tuhan berkenan, kami ingin menyerahkan anak ini untuk dijadikan seorang misionaris bagi bangsa-bangsa.` Sejak dulu, doa kami adalah agar kamu akan dipersiapkan dan dilayakkan untuk tugas ini. Dengan sepenuh hati, kami berdoa agar Tuhan menerima persembahanmu, melindungimu, dan menyelamatkan banyak jiwa yang terhilang lewat pelayananmu." 

Dengan doa restu dari kedua orang tuanya, maka pada tanggal 30 Agustus 1858, Paton menginjakkan kaki di Aneityum, salah satu pulau di Vanuatu, bersama istri yang baru dinikahinya. Lalu, dimulailah perjuangan berat untuk memenangkan suku kanibal itu. Tidak sampai satu tahun, Paton sudah kehilangan istri dan anaknya yang baru lahir karena penyakit tropis. Kata-kata terakhir istrinya yang tercinta adalah, "Janganlah sekali-kali berpikir bahwa aku menyesal telah datang ke tempat ini. Jika diberi kesempatan sekali lagi, aku akan melakukan hal yang sama dengan penuh kegembiraan." Dalam suratnya, Paton menulis, "Jika bukan karena Yesus dan persekutuan dengan Dia, saya pasti sudah menjadi gila atau mati di samping pusara anak dan istri saya." Situasi medan sangatlah sulit, ia harus mempelajari bahasa suku yang sama sekali asing baginya dan setiap hari, ia harus berhadapan dengan orang yang siap untuk membunuh dan memakannya. Ia tidak pernah meninggalkan rumah tanpa parang atau senjata api. 

Walaupun ia tahu ia sendiri tidak akan menggunakannya, tetapi itu membuat musuhnya tidak akan begitu terdorong untuk menyerangnya jika ia terlihat membawa senjata. Setelah menguasai bahasa suku itu, Paton mulai menyampaikan pesan Injil. Pernah sekali, Paton mengadakan kebaktian di sebuah desa. Ia mengabarkan bahwa jika mereka mengikut Tuhan Yahweh, Yahweh akan melindungi mereka dari musuh-musuh mereka dan menuntun mereka ke dalam hidup yang penuh sukacita. Tiga orang dukun bangkit berdiri dan mengumumkan bahwa mereka tidak percaya kepada Yahweh. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak memerlukan Yahweh dan dapat dengan mudah membunuh Paton dengan ilmu sihir yang disebut "nahak". Yang mereka perlukan untuk menyihir Paton hanyalah sisa makanannya.

Untuk melindungi diri dari sihir mereka, penduduk di sana memang sangat berhati-hati dengan sisa makanan mereka. Kulit pisang, kulit jeruk atau makanan sisa akan dilindungi dengan baik agar tidak jatuh ke tangan musuh mereka. Mendengar tantangan dari ketiga dukun itu, Paton meminta 3 buah prem dari seorang perempuan di sampingnya. Setelah menggigit sedikit dari buah itu, ia memberikan sisanya kepada ketiga dukun itu, "Kalian telah melihat saya memakan buah ini." Paton berbicara kepada orang banyak, "Para dukun ini mengatakan bahwa mereka dapat membunuh saya dengan nahak. Saya menantang mereka untuk melakukannya, tetapi bukan dengan menggunakan parang, panah, ataupun tombak. Para dukun tidak mempunyai kuasa atas saya!" 

Para penduduk desa langsung berteriak ketakutan dan banyak yang meminta agar Paton segera melarikan diri. Akan tetapi, Paton tetap tinggal di situ dan menyaksikan upacara nahak. Upacara pun dimulai, mereka mulai membacakan mantra. Ketiga dukun itu masing-masing mengambil daun keramat dan memasukkan sisa makanan Paton ke dalamnya dan menggulungnya seperti lilin. Setelah menyalakan daun itu, dengan berbagai gerakan mereka meneruskan bacaan mantra sambil memandang ke arah Paton. 

Setelah upacara berjalan agak lama dan Paton masih baik -baik saja, mereka akhirnya bangkit berdiri dan berkata, "Kami harus menunda upacara ini sampai semua dukun kami terkumpul. Kami pasti akan membunuh engkau sebelum hari Minggu. Biarlah semua orang menyaksikannya, engkau pasti akan mati!" "Baiklah, saya menantang semua imam dan dukun kalian untuk bersatu dan membunuh saya dengan nahak. Jika pada hari Minggu depan saya kembali ke desa ini dalam keadaan sehat, kalian harus mengakui bahwa ilah-ilah kalian tidak mempunyai kuasa atas saya, dan saya dilindungi oleh Tuhan Yahweh yang Benar dan Hidup!" Setiap hari sepanjang minggu itu, ada saja utusan yang datang ke rumah Paton untuk melihat apakah dia masih hidup. 

Melihat Paton masih hidup, penduduk desa semakin bersemangat menunggu datangnya hari Minggu. Sesuai dengan janjinya, Paton berangkat ke desa itu. Orang banyak berkerumun dan mereka terkejut luar biasa melihat Paton masih hidup. "Salam kasih sobat-sobatku! 

Saya datang kembali untuk mengabarkan tentang Tuhan Yahweh dan bagaimana caranya menyembah Dia." Ketiga dukun itu mengangkat suara. "Kami mengaku kami sudah mencoba membunuhmu, tetapi kami gagal. Mengapa kami gagal? Karena engkau adalah seorang suci. Tuhanmu lebih besar dari pada tuhan kami dan Ia telah melindungimu." "Sesungguhnya, Tuhan Yahweh itu lebih besar dari pada ilah-ilah kalian. Ia telah melindungi dan membantu saya. Ia adalah satu-satunya Tuhan yang Hidup dan Benar, satu-satunya Tuhan yang dapat mendengar dan menjawab doa. Ilah-ilah kalian tidak dapat mendengar doa-doa kalian. Berikanlah hati dan hidup kalian kepada Dia, kasihilah dan layanilah Dia.

Inilah Tuhan saya, dan Ia juga adalah sahabat kalian jika kalian mau mendengar dan mengikuti suara-Nya." "Marilah duduk bersama, saya akan mengabarkan tentang kasih dan belas kasihan Tuhan saya." Dua orang dari ketiga dukun itu turut bergabung untuk mendengar, tetapi yang satunya lagi, yaitu pemimpin mereka, pergi meninggalkan mereka. 

Tidak lama kemudian, ia kembali dengan membawa tombak dan mengarahkannya kepada Paton. Paton dengan tenang duduk di tengah-tengah kerumunan orang banyak sambil memerhatikan dukun yang membawa tombak itu memarahi orang-orang desa karena mendengarkan Paton. Syukurlah kedua dukun yang lain berpihak kepada Paton dan bersama beberapa orang lain melindungi Paton dengan tubuh mereka. Untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah, Paton menawarkan untuk meninggalkan tempat itu. 

Sejak hari itu, kedua dukun tersebut menjadi teman baik Paton, dan beberapa penduduk desa juga mulai berdoa kepada Yahweh. Demikianlah sepenggal dari pengalaman Paton mengabarkan Injil kepada para kanibal di Vanuatu. Berkat usaha Paton bersama para misionaris lain sesudahnya, mayoritas penduduk kepulauan Vanuatu hari ini percaya kepada Tuhan Yahweh. (Materi kisah pengalaman John Paton ini dikutip dari biografi yang ditulis oleh John Paton sendiri pada tahun 1891.)