Minggu, 22 Februari 2015

KUNANTI 5 TAHUN, BAYIKU HANYA BERUSIA 30 MENIT


Penantian panjang Susi Pow dan Andi Supardi akan datangnya sang buah hati berakhir air mata. Putra pertama mereka itu harus meninggal hanya berselang 30 menit setelah dilahirkan. Hal ini menjadi pukulan terberat bagi keluarga kecil mereka.
Pernikahan Susi dan Andi terlaksana pada 1999. Mereka kemudian memilih untuk tinggal di Australia dan sengaja memutuskan untuk menunda kehamilan. Namun rasa rindu untuk menggendong buah hati itu pelan-pelan mulai dirasakan keduanya, apalagi adik dari pasangan muda ini ternyata sudah lebih dahulu dikaruniai buah hati. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk siap melakukan program kehamilan.

“Pada awal-awal kami biarkan saja, tapi setelah lama kemudian setelah dua tahun berlalu tidak ada hasil, saya sudah mulai cemas. “apa ada yang salah pada diri saya?”” ungkap Susi yang mengaku sudah melakukan berbagai macam cara seperti minum ramuan dari sinshei dan lain sebagainya.

Susi dan Andi kemudian memutuskan untuk kembali di Indonesia dengan harapan mereka bisa segera mendapat buah hati. Perhitungan mereka benar, tidak lama setelah mereka mulai beradaptasi untuk kembali tinggal di Indonesia, Susi dinyatakan hamil. Namun berita baik itu tidak bertahan lama. Dokter menyatakan kondisi janin Susi tidak sehat.

“Seperti jantungnya membesar, pencernaannya bocor, pankreasnya, ginjalnya semuanya rusak di dalamnya,” jelas Susi yang kemudian merujuk ke beberapa dokter spesialis lainnya namun mendapat hasil yang sama.

“Saya sampai pergi ke empat dokter, semua bilang sama,” tambah Susi.

Pernyataan dokter membuat dunia Susi runtuh. Penantiannya selama lima tahun ternyata harus berujung pada kekecewaan.

“Jadinya rumah tangga stress. Istri saya selalu mengeluh, selalu menggerutu dan semuanya serba menyalahkan Tuhan,” Andi menjelaskan kondisi istrinya.

“Saat itu karena saya begitu marahnya, saya berteriak “kenapa setelah saya tunggu sekian lama, kok anak ini bisa nggak boleh hidup?”” ungkap Susi.

Demi keselamatan jiwanya, Susi harus segera menjalani operasi Caesar. “Saya sedih luar biasa karena hari itu saya harus disembelih. Saya pikir semua orang kalau melahirkan pasti sukacita donk, semua pasti akan senang setelah menunggu sekian lama mengandung. Tapi kalau saya kebalikannya. Justru saya pergi ke sana seperti mau masuk ke tempat penyembelihan,” Susi menceritakan ketakutannya.

“Waktu itu saya berdoa kepada Tuhan. Memang kalau Tuhan kasi mujizat, anak itu bisa hidup,” ungkap Andi.

Bayi itu hanya bisa bertahan hidup selama 30 menit, kedukaan pun menyelimuti Susi dan Andi. “Saat itu pokoknya saya menangis sejadi-jadinya sampai saya tidak bisa nafas. Sampai suster perlu datang untuk meneteskan obat untuk melegakan nafas saya karena saya memang langsung sesak nafas,” Susi menceritakan kedukaannya.

“Saya bener-bener nggak terima, saya benar-benar sedih. “Tuhan mengapa saya harus tidak bawa anak pulang? Sedangkan ibu-ibu yang lain itu mondar-mandir terus di depan pintu bawa anak”,” Susi menambahkan.

Paska kematian bayinya, hari-hari Susi berubah kelam. Berbagai pertanyaan berkecamuk di benaknya. Namun suatu hari, tanpa sengaja Susi menemukan sebuah buku yang kembali memberinya semangat untuk menjalani hidupnya.

“Entah kenapa saya dekati itu Alkitab. Asal sembarang saya buka, yang nongol (muncul) kitab Ayub. Trus mata saya tertuju pada tulisan “Tuhan memberi, Tuhan yang mengambil, Terpujilah nama Tuhan”. Saya yang belum mengenal Tuhan langsung menangis sejadi-jadinya, ini memang benar, Dia yang berhak (mengambil)” Susi bersaksi.

Hal itu seperti membuka selubung duka dalam kehidupan Susi. Perlahan dia pun mulai bisa menerima apa yang telah terjadi hidupnya. Tidak lama berselang, seorang kawan mengundangnya untuk mengikuti pendalaman Alkitab. Hal ini disambut positif oleh Susi. “Saya ingin tahu, Tuhan itu seperti apa pribadi-Nya? Sekaligus saya mau cari jawaban, mengapa ini terjadi pada diri saya?” ungkapnya.

Pendalaman Alkitab itu membawa pemahaman baru dalam diri Susi. “Banyak yang terjadi dalam hidup kita itu memang sesuai dengan rencana Dia, tidak ada sesuatu pun yang luput. Termasuk saya yang mengalami kejadian seperti ini, pasti ada maksudnya. Kenapa Nicholas (nama bayinya) harus meninggal, karena supaya saya jadi sadar dan akhirnya saya menerima Kristus dengan pengorbanan Nicholas. Dan saya yakin berjalan bersama Dia, saya pasti lebih baik,” jelasnya.

Susi pun menjalani hari-harinya tanpa beban dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Beberapa bulan kemudian, Susi pun dinyatakan kembali hamil. Namun kebahagiaan itu hanyalah sementara. Dokter memvonis Susi hamil tanpa janin, dan harus kembali menjalani operasi.

Susi tidak mudah menerima kenyataan ini, namun setelah berkonsultasi dengan banyak dokter dan mendapat jawaban yang serupa. “Saya sampai ke tiga dokter, semua bilang sama. Tidak ada kehidupan,” jelas Susi yang harus kembali menelan air mata.

“Sedih, saya sangat sedih. Saya bahkan sampai berpikir “saya dua kali mengalami ini, sebenarnya saya ada dosa apa?”” tambah Susi yang kembali putus asa.

Enam bulan berikutnya, Susi kembali hamil. Namun hatinya terlanjur hambar. Dia bahkan meragukan apa kata dokter dan meminta dokter untuk kembali memeriksanya. “Itu mesin USG saya sudah trauma, saya sudah tidak mau lihat lagi,” jelas Susi.

Ternyata ketakutan Susi tidak terbukti. Waktu yang bergulir membuktikan bahwa janin yang dikandungnya dalam keadaan sehat dan sembilan bulan kemudian, seorang bayi yang cantik akhirnya dilahirkan dari rahimnya.

“Saya merasa takjub. Selama sepuluh tahun menunggu inilah momen yang saya tunggu itu. Waktu yang pertama saya rasakan neraka turun, kalau ini saya rasakan surga turun. Bener-bener itu bisa kita rasakan di bumi. Pokoknya tidak terlukiskan, saya bisa menggendong dan merasakan Kimmi bisa ada di pelukan saya itu luar biasa,” Susi menceritakan kebahagiaannya.

Hal yang sama juga dirasakan Andi yang tiada henti mengucap syukur kepada Tuhan. “Saya merasa luar biasa sekali. “Tuhan terima kasih Tuhan, Kau telah memberi anak ini kepada kami untuk dipercaya,” Andi bahagia.

Saat ini, putri Susi dan Andi sudah berusia satu tahun empat bulan dan hadir melengkapi kebahagiaan kedua orangtuanya. “Sekarang saya baru mengerti, setelah perjalanan bersama Tuhan sepuluh tahun menunggu Kimberly dilahirkan, itu ternyata Tuhan itu baik sama saya. Andai kata saya diberi Kimberly 10 tahun yang lalu, saya mungkin tidak akan sanggup,” ungkap Susi.

“Tuhan itu mau memberi pesan kepada saya bahwa saya butuh kesabaran, kemampuan, kekuatan dan kasih untuk mengambil peran sebagai seorang ibu,” tambah Susi.

Pula Andi mendapat pelajaran dari peristiwa ini. “Saya belajar untuk lebih setia lagi kepada Tuhan bahwa kehendak Tuhan itu yang paling utama bagi kehidupan saya.

“Dan saya merasa Tuhan benar-benar menyatakan mujizatNya, bahwa selama ini janji Ku adalah yaa dan amin.” Susi menutup kesaksiannya.

Sumber Kesaksian: jawaban.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar