Senin, 30 Maret 2015

KISAH NYATA : SENDY SOEDJAK DAN PEMULIHAN MASA LALU

Hasil gambar untuk jesus recover me
Semasa kecil, Sendy Soedjak mengalami kesendirian dan ketakutan didalam hidupnya. Situasi ini terjadi atas dampak dari kurangnya perhatian dari kedua orangtua Sendy yang begitu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sendy pun pernah melihat sang ayah pergi dengan wanita lain, disamping itu pertengkaran didalam rumah tangga selalu terjadi.
Sendy pun tinggal dengan Oma (ibu dari ayah) yang merawatnya dengan penuh ketulusan. Maka saat Oma meninggal dunia, Sendy merasa begitu sedih dan sepi. Perasaan ini pun menguasai Sendy yang begitu haus akan kasih sayang, hingga pada masa pubertasnya mencari pelarian dengan berpacaran dengan seorang pria. Bahkan untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian, Sendy rela melepas kehormatannya.
Namun pengkhianatan dan kekecewaan didapatnya selama menjalani hubungan pacaran tersebut. Saat itulah Sendy memendam kebencian terhadap pria, hingga dirinya beberapa kali mempermainkan para pria lain. Meskipun dirinya mendapat kesenangan dari hal itu, kesepian dan kesendirian masih terus menghantuinya ketika pulang kembali ke rumah.
Pernah Sendy diajak oleh ayahnya untuk berkunjung menemui wanita lain yang ternyata telah hidup satu rumah dengan ayahnya dengan membawa dua anak lain. Sendy hancur ketika melihat bahwa papanya tidak mempedulikan dirinya. "Dari kecil saya sering melihat teman saya SD dijemput papa mamanya, dibawakan roti, sampai saya bilang Tuhan itu jahat, Tuhan itu gak adil, kenapa yang lain bahagia, kenapa saya tidak? Akhirnya disitu saya mulai membenci diri saya. Dan saya berpikir bahwa tidak akan ada kebahagiaan di masa depan saya. Karena keluarga saya memang sudah hancur," ungkap Sendy.
Tidak berhenti sampai disitu, Sendy berhubungan dengan pria yang telah beristri. Dari pria ini, Sendy mendapatkan perhatian yang tidak didapatkannya dirumah. Namun karena hubungan yang sudah terlalu jauh, Sendy sempat hamil, namun digugurkannya karena rasa frustasi yang hebat pada dirinya. Bahkan ketika beberapa tahun kemudian dirinya hamil lagi, Sendy juga mengugurkannya, bahkan menginginkan kematiannya.
Setelah tiga belas tahun meninggalkan keluarga, sang ayah kembali lagi kerumah. Inilah saat dimana rasa benci, frustasi dan kebingungan pada diri Sendy menjadi satu hingga membuat dirinya ingin menabrakan mobil yang dikendarainya hingga dirinya mengalami kematian. Namun ketika dirinya tersadar, mobil yang dikendarainya justru berada di halaman rumahnya.
Saat itulah, Sendy diliputi ketakutan akan kematian. Dirinya tersadar bahwa apa yang dilakukannya dapat membuatnya pergi ke neraka dan binasa. Perubahan pada diri orangtuanya, terutama papanya yang mulai mengasihi ibunya, membuat Sendy terdorong untuk bertobat dan berubah. Sendy pun tertantang untuk mengakui seluruh perbuatan dosanya kepada orangtuanya.
Sendy pun mengalami sebuah kejadian didalam doanya kepada Tuhan. "tiba-tiba tubuh saya penuh dengan darah. Tuhan bersihkan badan saya, Tuhan balur badan saya dengan darahnya. Tuhan jawab iya, memang kamu tidak layak, tapi karena Aku telah mati di kayu salib, Aku sudah menebusmu dan melayakan kamu. Saya disiram dengan air dan dipakaikan baju putih. Saya menjadi ciptaan yang baru,"
Akhirnya hubungan Sendy dengan kedua orangtuanyapun menjadi diperbaharui. Sendy memutuskan segala ikatan dan hubungan gelap dengan pacarnya. Bahkan Tuhan memberikannya pasangan hidup yang begitu mengasihinya, juga dengan karunia tiga anak dan juga kualitas hidup yang menjadi berkat bagi hidup dan sesamanya.

copas : facebook

Kamis, 26 Maret 2015

DIPULIHKAN TUHAN DARI KEBANGKRUTAN

Hasil gambar untuk BERKAT DARI TUHAN YESUS
Shalom puji nama Tuhan, saya mau menyaksikan bagaimana Tuhan memulihkan keadaan keluarga kami, saya menikah dengan Istri saya Ferina ditahun 2005, Tuhan memberkati kami dengan 2 orang anak, namun saya menjalankan kehidupan berumah tangga dengan hidup tanpa takut dengan Tuhan yaitu saya mengandalkan kekuatan sendiri serta ketidak jujuran termasuk keuangan didalam usaha yang saya rintis bersama dengan seorang teman. Saya tidak pernah berbagi cerita secara detail tentang pekerjaan termasuk dalam hal berhubungan dengan klien. 
Secara rohani kerohanian sayapun tidak bertumbuh, saya Kristen, saya ke gereja namun hanya merupakan rutinitas saja, karena hari Minggu maka saya harus ke gereja.

Tahun 2008 usaha yang dibidang dipenjualan spare part motor mengalami kebangkrutan karena terlalu nyaman didalam meng-"entertain" juga hal lainnya, sehingga lupa bahwa lebih besar pasak dari pada tiang dan kehidupan malam menjadi gaya hidup saya. Mulai dari krisis dalam usaha pekerjaan dari sinilah timbul pertengkaran-pertengkaran dengan istri yang awal mulanya kecil lama-lama menjadi besar, sehingga kamipun hampir setiap hari bertengkar. Hingga akhirnya berpisah pada tahun 2008, kami hanya mengambil keputusan berpisah namun tidak
bercerai saya tinggalkan istri dan kedua buah hati saya.

Ditengah krisis hidup yang saya jalani, berpisah dengan keluarga selain itu saya juga terlilit hutang puluhan juta rupiah kepada distributor, modal dari orang tua saya juga habis terlebih itu sayapun berhutang pula dengan pihak Bank. Tidak memiliki lagi mata pencaharian yang jelas, dalam keadaan seperti ini saya benar-benar kehilangan arah. Untuk menyambung
biaya hidup sehari-hari serta menyicil hutang sayapun bekerja serabutan, apa saja saya kerjakan yang penting dapat menyambung hidup. Dari mengantar majalah, membuat document sampai ngojek. Jujur rasa malu itu ada tetapi kalau saya malu saya tidak dapat uang untuk makan.

Proses yang datang membuat saya kembali dekat dengan Tuhan, mulai ikut COOL sampai akhirnya saya ikut HMC dipulihkan, dari sini saya mulai mengalami proses pemulihan yang namanya Luka Batin, Hati Bapa, Pelepasan. Banyak proses yang terjadi tidak semudah yang dibayangkan. Sampai akhirnya saya dipertemukan dengan teman yang bekerja sebagai programer, training disinilah saya mulai bekerja meskipun statusnya bukan karyawan tetap namun saya banyak belajar. Pemulihan terjadi karena keterbukaan kepada Tuhan disinilah saya belajar banyak hal melalui proses yang terjadi didalam hidup saya. Pemulihan yang dimulai dari hati memulihkan seluruh aspek hidup saya mulai dari keluarga, pekerjaan, juga dalam diri saya sendiri.

Puji Tuhan tepat 2010 yang lalu, saya berkumpul dan bersatu kembali dengan istri dan kedua anak saya, bukti nyata bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan untuk mengubah segala sesuatu jika kita mau membuka hati untuk dipulihkan dan Tuhan juga memberkati dengan sebuah rumah baru untuk kami. Terima kasih Tuhan mujizat masih ada dan tahun multiplikasi dan promosi terjadi didalam kehidupan saya dan keluarga. Amen!
Nara Sumber : Michael (www.gbitanjungduren.com)

Minggu, 22 Maret 2015

Hasil gambar untuk kasih
September 19th, 2013
 | 
Berita mengharukan di awal Maret 2013, seorang ayah meninggal karena melindungi putrinya yang berusia sembilan tahun dari badai salju yang melanda Jepang utara. Nama pria itu Mikio Okada. Mereka terjebak di tengah badai salju yang parah saat menjemput anaknya dari sekolah.
Mikio Okada yang berprofesi sebagai nelayan dan anaknya Natsune menelpon keluarganya dan mengatakan bahwa truk yang dibawanya terdampar di tengah salju yang menumpuk . Okada mengatakan ia dan Natsune akan berjalan beberapa kilometer.
Keduanya ditemukan 300 meter dari truk pada pukul 7 pagi di hari Minggu. Okada memeluk dan melindungi putrinya dengan menggunakan tubuhnya dan dinding sebuah gudang untuk melindungi putrinya, ia juga memberikan jaketnya kepada putrinya. Putrinya menangis ketika diketemukan dan tim penyelamat yang menemukan mereka segera melarikan gadis kecil itu ke rumah sakit dan dinyatakan tidak mengalami luka yang serius.
Sedangkan Mikio Okada telah meninggal, membeku karena kedinginan. Terlebih lagi Ibu Natsune sudah dua tahun yang lalu meninggal dikarenakan sakit.
Mikio Okada dikenal sebagai ayah yang sangat mengasihi putrinya, bahkan ia sering menunda pergi bekerja untuk menikmati sarapan bersama putrinya. Dan sebenarnya ia sudah memesan kue untuk putri semata wayangnya itu untuk merayakan Festival Boneka yang identik dengan Hari Raya Anak Perempuan dan amat menantikannya, menurut para tetangganya.
Membaca kisah nyata yang terjadi Jepang ini sungguh merupakan pengorbanan yang luar biasa dari seorang ayah. Itu dinamakan kasih, kasih tanpa syarat.
Hampir sama dengan kisah mengenai Tuhan Yesus yang bersedia mati di kayu salib untuk kita semua. Yesus tidak memperdulikan betapa beratnya menanggung derita salib, dan segala penghinaan yang tidak pantas diterimanya. Tapi Ia menerima semua itu dan tunduk pada perintah Bapa di Surga.
Hendaknya segala pengorbanan Yesus kita maknai secara mendalam, jangan hanya menganggap sepi saja dan melupakan segera setelah menghadapi hal lainnya. Ingatlah bagaimana Ia mau menanggung semuanya itu untuk kita, ingatlah bagaimana Ia amat tidak pantas diperlakukan seperti orang ternista.
Yesus sanggup berbuat lebih saat itu pada orang-orang yang telah berbuat keliru, tapi Dia diam dan tunduk atas kehendak Bapa. Jika saya yang menjadi Dia, dengan segala kuasa yang dimilikiNya, saya akan mengubah mereka menjadi tikus atau cacing tanah kemudian akan saya injak. Tapi Yesus bukan saya yang memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki untuk kepentingan sendiri, Yesus bukan saya yang mudah takut, Yesus bukan saya yang lemah dan penuh ketidaktulusan.
Saya masih belajar dan akan terus belajar menjadi serupa dengan Yesus dan bukan karena kekuatan  dalam diri, tapi Roh Kudus yang akan membimbing, dan Roh Kudus yang akan menundukkan saya. Dan semuanya untuk kemulian Allah Bapa di Surga.
sumber : www.jennesia.com

Rabu, 18 Maret 2015

KAKAK IPAR DAN SURAT WASIAT

Hasil gambar untuk berdoa kepada Yesus
April 1st, 2013
 | 
Helaan nafas berat mengiringi Jessy, ada beban dihatinya, ada rasa iri hati karena ketidakadilan. Tapi Jessy tak dapat berbuat apa-apa.
Sebagai anak bungsu yang lahir dari keluarga yang mapan dan pekerja keras, Jessy digembleng untuk hidup sederhana dan menabung lebih. Dan ajaran tersebut tidaklah salah. Setelah sekian tahun menabung, kini tabungan Jessy berkurang dan makin berkurang.
Emas yang dahulu dibeli dari uang hasil kerjanya sewaktu masih belia, terjual sudah untuk menutup pengeluaran harian keluarga yang Jessy bina bersama Bima suaminya. Cincin kawin yang menjadi simbol dan kenangannya akan hari indah itu juga sudah ludes terjual demi menutupi pengeluaran rumah tangganya. Jessy kerap meratapi tapi semuanya telah terjadi dan ratapan itu menjadi makin pilu di hati.
Di dalam Tuhan selalu ada pengharapan, dan dengan mengingat terus janji Tuhan membuat Jessy kuat sampai kini.
Tapi kekuatan itu kadang runtuh, jebol oleh kikisan iri hati yang datang bagai hembusan angin taufan. Kembali rasa penyesalan mengasihani diri dan iri hati meraut marut.
Masih teringat di kenangan bagaimana Claris yang merupakan teman SMA nya yang tidak cantik dan jomblo berkunjung ke rumahnya, terlihat sangat jelas Claris tertarik dengan, Beni, kakak lelaki Jessy satu-satunya. Kini Claris telah menjadi kakak ipar Jessy, ia yang berasal dari keluarga tak punya seperti mendapatkan durian runtuh sejak menikah dengan kakak Jessy yang termasuk keluarga berada. Kehidupan yang mewah segera didapatnya tanpa kerja keras.
Pernikahan yang terjadi diantar mereka setelah Claris berbadan dua. Hal ini membuat Claris makin bersukacita karena ia dapat segera memberikan anak bagi Beni. Beni menjadi seperti kerbau dicucuk hidung di depan mata keluarga besar kami. Karena ia akan mati-matian membela Claris dan menghujaninya dengan uang hasil dari perusahaan keluarga.
Claris memang sangat mensyukuri memilki suami seperti Beni, tapi ia lupa untuk turut mengasihi mertua nya yang merupakan orangtua suaminya. Tingkah lakunya yang tidak sopan dan cenderung kasar dengan sikap selalu ingin dipuji membuatnya tidak akrab dengan saudara perempuan Beni berempat.
Tapi hal itu tidak mengubah Claris, tingkahnya yang bergaya hidup mewah telah sangat mengganggu ayah Beni yang adalah seorang pekerja keras dan sederhana. Kekecewaan dan marah kerap terucap dari mulut ayah Beni mengenai menantu perempuan satu-satunya itu. Ungkapan negatif serta keluhan mengenai gaya hidup Claris telah menjadi perbincangan diantara saudari-saudari Beni.
Tapi ayah Beni tidak dapat berbuat banyak karena Beni berdiri di depan Clarisa dan membelanya.
Seperti anak yang lupa daratan, Beni pun mengubah nama kepemilikan perusahaan menjadi atas nama ibu mertuanya yang adalah ibu dari Claris dengan alasan ayah Beni tidak mau menandatangani. Claris semakin merasa berada di atas angin atas semua yang didapatnya dengan cepat dan lupa diri.
Ia kerap berkata tidak enak kepada ibu Beni jika ibu Beni meminta dibelikan obat untuk jantung dan ginjalnya. Tapi ibu Beni berbesar hati dan menerima semuanya itu demi kebahagiaan Beni sekeluarga semata.
Claris sangat suka dengan pujian, dan tak sedikit orang-orang disekitarnya yang suka menjilatnya dibanjiri dengan uang dan pinjaman ringan atau dengan alasan bantuan sosial. Tapi kepada saudara perempuan Beni, tingkah polah Claris sangat jauh dari murah hati. Hal ini dimungkinkan karena saudari perempuan Beni tidak suka memuji berlebihan mengenai Clarisa dan anak-anaknya seperti yang diharapkan Claris.
Sikap angkuh pun dikenakannya kepada Jessy ketika Jessy yang merintis usaha memerlukan pinjaman lunak selama 1 bulan. Ketika itu Jessy terlambat 2 minggu dari yang janjikan, Jessy telah menjelaskannya kepada Clarisa, tapi Clarisa justru mengumbar ke beberapa orang bahwa Jessy meminjam uang darinya dan tidak dikembalikan.
Kesal, marah dan kecewa beraduk menjadi satu. Seperti kemasukan setan Beni tidak pernah mengkritik sikap istrinya kepada saudari perempuannya. Menganggapnya sebagai urusan sepele dan tidak menghasilkan keuntungan materi.
Hal ini membuat hubungan yang renggang antara Beni dengan saudara perempuannya. Dan rasa tersinggung serta sakit hati membatasi mereka.
Rasanya tidak adil bukan? Bagaimana mungkin Jessy yang merupakan anak kandung dari orangtua Beni tidak dapat menikmati kekayaan yang merupakan hasil dari orangtuanya juga? Bahkan untuk modal usaha Jessy harus menjual segala miliknya dahulu dan berhemat dengan sangat cermat dari tiap pengeluaran keluarga dengan dua orang anak yang masih kecil.
Dan lihatlah betapa rentannya hubungan saudara yang hanya didasari oleh uang.
Tapi peranan yang dapat membereskan disini adalah orangtua. Orangtua Beni terkesan segan, untuk campur tangan karena takut mengganggu kebahagian mereka yang justru telah menoreng banyak sekali luka di dalam keluarga besar.
Jessy makin paham akan ketegasan yang harus dimilki oleh tiap orangtua dalam membesarkan anak dan kejelasan mengenai hak yang didapat anak ketika mereka dewasa.
Ya, tentu saja dengan membuat surat waris dan dengan menentukan siapa yang memperoleh bagian ini dan itu tanpa bisa diutak-atik sesudah kematian orangtua tiba.
Dan sebaiknya wasiat itu pun dibicarakan dahulu dalam suatu rapat besar keluarga inti yang tidak melibatkan pihak menantu atau besan.
Kini rasanya semua sudah terlambat bagi Jessy dan Beni serta saudari-saudari mereka yang lain. Tapi bukan berarti Tuhan tidak akan berbuat apa-apa.
Tahukah kalian, bahwa Tuhan kita tak pernah tinggal diam, apalagi jika dilihatnya anakNya yang dikasihinya (kita) teraniaya oleh orang. Yang kita lakukan adalah berdoa dan mengampuni yang menganiaya seperti yang telah diajarkan dan dicontohkan-Nya selagi Dia di bumi.
Bahwa segala kesulitan dan jerih payah kita tak pernah sia-sia bagi Tuhan, dan akan ada cahaya terang di ujung sana yang menantikan setelah masa-masa sulit dan penuh kegelapan ini.
Jadi jangan menyerah dan tetap menjauh dari dosa, maka Tuhan Allah mu akan menolongmu.
sumber : www.jennesia.com

Sabtu, 14 Maret 2015

SKIZOFERNIA

Hasil gambar untuk FAITH TO JESUS
July 25th, 2012
Pagi ini seperti biasanya Jen berdoa sambil membaca firman. Bacaan firman hari ini adalah Markus 5:1-20 yang isinya mengenai seorang yang telah disembuhkan oleh Yesus dari kerasukkan dan ingin mengikut Yesus tapi Yesus memintanya untuk bersaksi mengenai apa yang telah dialaminya, mengenai bagaimana Tuhan telah menolongnya dari kesusahannya.
Hal ini mengingatkan Jen untuk bersaksi mengenai pertolongan Yesus dalam kehidupannya. Bahwa Ia telah menolong Jen dan menyelamatkan keutuhan keluarganya.
Jen telah beragama Kristen sejak lahir, ia dapat mengingat bagaimana sekolah minggu di waktu kecil, mengingat tiap lagu anak-anak di gereja yang dinyanyikan, tapi kenangan itu hanyalah dipermukaan saja. Jen belum merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan pribadinya yang mendalam, ia Kristen tapi perilakunya tidak kristiani saat itu.
Menikah secara Kristiani di gereja adalah awal pertemuan Jen dengan Tuhan secara pribadi, karena dari pernikahan ini lahir berbagai macam masalah yang sebenarnya dibuat oleh manusia yang dekat dengan Jen dan pribadinya sendiri. Hal ini berdampak pada kesehatan mental suami yang bekerja di kantor yang juga memiliki permasalahan dari politik di kantornya.
Puncaknya ketika suami menjadi sakit secara mental yang menurut dokter adalah skizofrenia, yang beberapa bulan kemudian di-phk dari pekerjaan, setelah melahirkan putra ke dua.
Saat itu berkecamuk perasaan mulai dari malu memiliki suami yang ‘gila’, pertanyaan mengapa hal ini terjadi padanya, cemooh orang yang dekat dengannya, semua orang menghindari ‘berurusan dengannya’, anak-anak yang masih sangat kecil yang waktu itu baru lahir dan 2 1/2 tahun, keuangan yang tidak menentu (hidup dari tabungan), keluarga suami yang menyalahkannya dan tekanan keluarganya.
Anak bungsunya yang baru lahir, mengidap alergi susu sapi yang membuat tidak dapat memakan makanan bayi pada umumnya, sehingga membutuhkan perhatian ekstra. Letih sekali rasanya, sehingga terpikirkan perceraian dalam benak Jen.
Pernah Jen mengutarakannya pada suami, bukan hanya sekali. Reaksi suami adalah, berlutut dan mencium kakinya memohon agar jangan meninggalkannya (yang sekarang membuat Jen malu pada dirinya sendiri jika mengingat ini, betapa piciknya ia).
Kamar mandi adalah tempat dimana Jen dapat menangis dan berdoa pada Tuhan.
Dan Tuhan mendengar doanya, secara perlahan-lahan Dia menjawab semua doa Jen satu persatu, dan ia dapat benar-benar merasakan kasih-Nya dan malu akan dosa yang telah diperbuat dahulu.
Ia mencelikkan hati suaminya, Ia pertemukan dokter yang sangat baik bagi suaminya dengan cara yang ajaib, Ia bukakan jalan bagi suaminya untuk berusaha sendiri dari rumah, Ia sembuhkan anaknya dari alergi susunya, Ia mencelikkan Jen, agar Jen hanya bergantung pada-Nya, bukan orang lain, baik saudara ataupun orang-tua, Ia memberikan pada Jen sekeluarga teman-teman yang sangat baik dan menolong mereka melebihi saudara sendiri, dan pertolongannya tidak pernah putus sampai sekarang.
Jen melihat berkat Tuhan dalam kesulitan yang dialami, bahwa dengan sakitnya suami, ia telah mengenal Tuhan secara pribadi dalam kehidupan. Dan rasanya sangat luar biasa, beban yang dipanggulnya terangkat dan Jen bebas….
Mereka tetap berjuang dalam usahanya, mereka masih bergelut dengan masalah yang kadang membuat resah, takut dan gelisah. Tapi firman Tuhan dan Roh Kudus yang diam dalam mereka  selalu menguatkan, bahwa tangan-Nya tidak kurang panjang untuk menolong mereka dan juga saudara semua.
Jen malu atas perbuatan di masa lalu, sujud dan memohon ampun pada Tuhan dan ia seperti buku yang telah dibersihkan dari coretan yang kotor dan menjadi baru, ditulis oleh bantuan Roh Kudus dalam dirinya.
Setiap kita pasti pernah merasakan pertolongan Tuhan, dan kita yang telah ditolong-Nya haruslah bersaksi bagi kemuliaan-Nya.
Tuhan telah menolong Jen, Dia adalah penolong dan gembala kita sampai selama-lamanya.
sumber : www.jennesia.com

Selasa, 10 Maret 2015

NERAKA RUMAH TANGGA 
Kehidupan rumah tangga kami (AS) hampir bisa dikatakan tidak pernah sepi sejak kami menikah pada tahun 1996. Tidak pernah sepi maksudnya adalah hampir setiap hari kehidupan rumah tangga kami selalu diwarnai dengan pertengkaran dan perang mulut. Setiap percakapan atau pembicaraan kami selalu disertai dengan amarah, bentakan, makian, bantingan pintu, dan barang-barang pecah -- seakan belum puas jika kami berdua belum saling membalas dan saling menyakiti. Dapat dikatakan bahwa kehidupan keluarga kami ibarat neraka. 

Sebenarnya, yang selalu kami ributkan tidak terlalu penting -- biasanya pertengkaran kami dimulai dari hal-hal biasa. Keributan semakin memanas sering kali justru karena kehadiran saudara-saudara kami. Mereka akan membela dan menyalahkan satu sama lain. Karena sudah terlalu biasa bertengkar, saya jadi suka mencari-cari permasalahan baru yang ujungnya akan menjadi "peperangan" hebat. 

Bagi saya kekristenan hanyalah sebuah formalitas. Agama menurut saya hanya suatu kewajiban yang harus kita anut; suatu tulisan di KTP saja. Meskipun saya sudah Kristen sejak kecil, namun saya tidak pernah bersikap sebagai seorang Kristen di dalam saya menyelesaikan konflik rumah tangga. Kami belum pernah sedikit pun melibatkan Tuhan Yesus dalam kehidupan kami. 

Suatu ketika, datanglah seseorang yang mengajak saya untuk mengikuti persekutuan bagi para pengusaha. Saya selalu berusaha menghindar. Tapi pada beberapa kesempatan saya tidak bisa menghindar dan terpaksa datang ke acara persekutuan itu. Setelah dua atau tiga kali mengikuti acara itu saya tidak merasakan sesuatu yang menarik; semua terasa biasa saja. 

Pada tanggal 2 Desember 2004, tiba giliran saya untuk mengadakan pertemuan itu di rumah. Rupanya, di sini Tuhan menjamah saya dengan luar biasa; sesuatu yang lembut telah melunakkan hati saya yang keras. Dia mengubah kehidupan saya secara menyeluruh. Saya juga bersyukur bahwa istri saya juga turut diubahkan. Kasih yang lembut itu seakan telah menguasai hati dan pikiran kami, hingga kami sampai pada sebuah kesimpulan bahwa tidak ada satu pun mampu menyelamatkan kehidupan rumah tangga kami kalau bukan Tuhan Yesus sendiri yang mengubahnya. 

Kami sudah pergi ke mana-mana untuk berkonsultasi agar rumah tangga kami diselamatkan, tapi yang terjadi justru malah rumah tangga kami bertambah hancur. Dulu kalau saya berkumpul dengan saudara sambil mengeluhkan keadaan rumah tangga kami, mereka selalu mengatakan bahwa istri saya memang sudah demikian wataknya, tidak mungkin lagi berubah. Demikian pula sebaliknya di pihak istri, mereka akan memberikan pendapat yang sama mengenai saya. Tapi kali ini kami telah membuktikan bahwa apa yang dianggap mustahil bagi manusia adalah mungkin bagi Tuhan Yesus. Dan kalau kami melihat keadaan yang sekarang yang telah diubahkan, kami merasa benar-benar telah mengalami mukjizat. 

Kami memutuskan untuk menyerahkan total kehidupan rumah tangga kami di dalam Tuhan Yesus. Tiap malam kami mendirikan mezbah keluarga, membaca Alkitab, berdoa, dan memuji Tuhan. Keajaiban bagaimana Tuhan menyelamatkan rumah tangga kami membuat kami memiliki kerinduan untuk memberikan kesaksian kepada keluarga-keluarga seiman lain tentang bagaimana Tuhan mampu memulihkan dan menyelesaikan masalah kami -- masalah yang kelihatannya tidak mungkin bagi manusia. 

Kami rindu untuk bersaksi terutama bagi rumah tangga yang mengalami "neraka rumah tangga" seperti yang pernah kami alami. Orang lain mungkin bisa menjadi penengah dan pendamai sementara, tapi di kemudian hari masalah tersebut akan muncul lagi dan menjadi lebih dahsyat lagi. 

Dunia tampaknya punya jalan keluar untuk mengatasi masalah seperti ini, tapi jalan keluar tersebut hanya mengubah penampilan luarnya saja. Tidak ada yang bisa menolong dan memulihkan dengan sempurna selain Tuhan Yesus. Selain memulihkan hubungan kami, Tuhan juga memulihkan kondisi ekonomi kami dan hubungan dengan keluarga kami masing-masing. 

Datanglah pada Tuhan Yesus dan sungguh-sungguh menyerahkan seluruh hidup kita. Dia mampu menyelamatkan dan memulihkan keutuhan keluarga kita tercinta. 

Diambil dan disunting dari: Judul majalah: SUARA, Edisi 78, Tahun 2005 Penulis: KM Penerbit: Communication Department Full Gospel Business Men`s Fellowship International - Indonesia Halaman: 18 -- 20 

Pokok Doa 
1. Doakan kehidupan rumah tangga yang sangat rentan dengan masalah, supaya mereka memiliki dasar yang kuat di dalam Tuhan. 
2. Mengucap syukur karena rumah tangga dalam kesaksian di atas telah dipulihkan oleh Tuhan Yesus dan mendapat kekuatan yang baru dari Tuhan. 
3. Berdoa bagi rumah tangga yang masih mengalami konflik agar mereka dapat mengalami pemulihan. 

 "Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab, ya Tuhan ALLAH, Engkau sendirilah yang berfirman dan oleh karena berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk selama-lamanya." 

Sumber : www.sabda.org