Jumat, 06 Maret 2015

KESAKSIAN OLEH ELMA


Saya anak terakhir dari enam bersaudara, kakak pertama sampai dengan ke empat semua wanita dan tentu saja hanya ada satu orang kakak pria tepat sebelum saya. Kedua orang tua saya sebenarnya menginginkan anak laki-laki lagi sewaktu saya masih di kandungan, namun ternyata saya terlahir sebagai seorang anak perempuan. Ayah saya seorang pegawai negeri oleh karena itu ibu saya harus bekerja untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Sejak kecil saya lebih sering di asuh oleh kakak saya atau dititipkan ke tetangga.

Tragedi terberat dalam hidup saya adalah ketika saya berumur empat tahun, saya mengalami sakit yang menyebabkan saya lumpuh karena dokter melakukan kesalahan dalam memberikan dosis obat buat saya. Saya sempat mengalami lumpuh total selama 6 bulan. Sampai saat ini hanya sebelah kaki saya saja yang lumpuh. Dan karena kecacatan saya, saya sering juga di ejek oleh orang-orang yang melihat saya. Keluarga saya dulu bukan keluarga yang harmonis. Ayah saya mempunyai banyak hubungan dengan wanita lain, inilah yang sering membuat konflik dalam keluarga kami. Namun, ibu saya pun pernah punya hubungan dengan pria lain sebagai pelampiasan kekecewaan dengan ayah saya.

Hal-hal tersebut membuat saya bertumbuh menjadi seorang yang minder, tidak percaya diri, bingung dengan gender, anxiety, ketakutan yang tidak jelas, rasa tertolak, cepat tersinggung dan sulit untuk percaya dengan orang lain. Ditambah lagi, pada waktu saya dititipkan dengan tetangga saya, anak dari ibu yang dititipkan itu sering melakukan pelecehan terhadap saya. Ini membuat rasa malu yang sangat dalam buat diri saya.

Saya sempat mengalami putus asa dan hampir ingin bunuh diri. Namun, pada waktu saya kelas satu SMA (16 tahun) Tuhan mendengar seruan hati saya. Saya berjumpa dengan Kristus secara pribadi. Sejak saat itu saya banyak mengalami pemulihan terutama dalam hal gambar diri. Banyak proses yang saya alami sejak saat itu, termasuk proses mengampuni ayah dan ibu saya. Saya baru benar-benar yakin dan menerima diri saya sebagai wanita pada waktu saya berumur 20 tahun. Saat itu secara pribadi di kamar saya, Tuhan berbicara dan memulihkan saya bagaimana saya mengalami penolakan sebagai seorang wanita sejak dalam kandungan. Saya juga mengampuni orang yang telah melecehkan saya.

Pada usia 21 tahun, saya memutuskan untuk menjadi seorang full timer di gereja. Dan sejak tahun 1998 saya mulai terlibat dalam pelayanan pemulihan dan konseling. Namun tetap saya juga terus mengalami proses pemulihan secara pribadi. Tetapi, pada tahun 2001 saya kembali mengalami pelecehan dari seorang teman dalam pelayanan. Ini benar-benar rasa malu dalam diri saya bertambah besar dan rasa bersalah terhadap diri saya sendiri dan rasa sakit dalam diri saya bertambah lagi.

Puji Tuhan, pada tahun 2008 saya mengikuti Leadership Training Conference Living Waters di Bali. Pada waktu itulah saya banyak mengalami pemulihan tentang rasa malu dan mengampuni diri saya sendiri. Tapi ternyata masih banyak hal lagi yang Tuhan lakukan setelah itu, saya terus proses mengampuni dan perlahan rasa sakit saya mulai berkurang. Tahun 2010 saya kembali mengikuti Leadership Training Conference lagi, kali ini proses yang saya alami adalah bagaimana luka batin yang ditimbulkan oleh ibu saya yang memberi dampak anxiety dan ketakutan akan berhubungan intim dengan orang-orang perlahan-lahan mulai Tuhan pulihkan juga. Dan saya percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah berhenti melakukan perkara-perkaranya dalam hidup saya. Saya terus belajar untuk membawa kepada salib semua luka dan rasa sakit saya. Saya juga belajar untuk mengakui kepada teman-teman dalam komunitas saya dan melalui teman-teman komunitas ini saya juga menerima kasih yang membuat saya semakin di pulihkan. Saya percaya Tuhan akan terus dan terus melakukan proses buat saya sampai saya melihat kemuliaanNya. Tuhan memberkati!

By : Elma (www.pancarananugerah.org)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar