Selasa, 10 Maret 2015

NERAKA RUMAH TANGGA 
Kehidupan rumah tangga kami (AS) hampir bisa dikatakan tidak pernah sepi sejak kami menikah pada tahun 1996. Tidak pernah sepi maksudnya adalah hampir setiap hari kehidupan rumah tangga kami selalu diwarnai dengan pertengkaran dan perang mulut. Setiap percakapan atau pembicaraan kami selalu disertai dengan amarah, bentakan, makian, bantingan pintu, dan barang-barang pecah -- seakan belum puas jika kami berdua belum saling membalas dan saling menyakiti. Dapat dikatakan bahwa kehidupan keluarga kami ibarat neraka. 

Sebenarnya, yang selalu kami ributkan tidak terlalu penting -- biasanya pertengkaran kami dimulai dari hal-hal biasa. Keributan semakin memanas sering kali justru karena kehadiran saudara-saudara kami. Mereka akan membela dan menyalahkan satu sama lain. Karena sudah terlalu biasa bertengkar, saya jadi suka mencari-cari permasalahan baru yang ujungnya akan menjadi "peperangan" hebat. 

Bagi saya kekristenan hanyalah sebuah formalitas. Agama menurut saya hanya suatu kewajiban yang harus kita anut; suatu tulisan di KTP saja. Meskipun saya sudah Kristen sejak kecil, namun saya tidak pernah bersikap sebagai seorang Kristen di dalam saya menyelesaikan konflik rumah tangga. Kami belum pernah sedikit pun melibatkan Tuhan Yesus dalam kehidupan kami. 

Suatu ketika, datanglah seseorang yang mengajak saya untuk mengikuti persekutuan bagi para pengusaha. Saya selalu berusaha menghindar. Tapi pada beberapa kesempatan saya tidak bisa menghindar dan terpaksa datang ke acara persekutuan itu. Setelah dua atau tiga kali mengikuti acara itu saya tidak merasakan sesuatu yang menarik; semua terasa biasa saja. 

Pada tanggal 2 Desember 2004, tiba giliran saya untuk mengadakan pertemuan itu di rumah. Rupanya, di sini Tuhan menjamah saya dengan luar biasa; sesuatu yang lembut telah melunakkan hati saya yang keras. Dia mengubah kehidupan saya secara menyeluruh. Saya juga bersyukur bahwa istri saya juga turut diubahkan. Kasih yang lembut itu seakan telah menguasai hati dan pikiran kami, hingga kami sampai pada sebuah kesimpulan bahwa tidak ada satu pun mampu menyelamatkan kehidupan rumah tangga kami kalau bukan Tuhan Yesus sendiri yang mengubahnya. 

Kami sudah pergi ke mana-mana untuk berkonsultasi agar rumah tangga kami diselamatkan, tapi yang terjadi justru malah rumah tangga kami bertambah hancur. Dulu kalau saya berkumpul dengan saudara sambil mengeluhkan keadaan rumah tangga kami, mereka selalu mengatakan bahwa istri saya memang sudah demikian wataknya, tidak mungkin lagi berubah. Demikian pula sebaliknya di pihak istri, mereka akan memberikan pendapat yang sama mengenai saya. Tapi kali ini kami telah membuktikan bahwa apa yang dianggap mustahil bagi manusia adalah mungkin bagi Tuhan Yesus. Dan kalau kami melihat keadaan yang sekarang yang telah diubahkan, kami merasa benar-benar telah mengalami mukjizat. 

Kami memutuskan untuk menyerahkan total kehidupan rumah tangga kami di dalam Tuhan Yesus. Tiap malam kami mendirikan mezbah keluarga, membaca Alkitab, berdoa, dan memuji Tuhan. Keajaiban bagaimana Tuhan menyelamatkan rumah tangga kami membuat kami memiliki kerinduan untuk memberikan kesaksian kepada keluarga-keluarga seiman lain tentang bagaimana Tuhan mampu memulihkan dan menyelesaikan masalah kami -- masalah yang kelihatannya tidak mungkin bagi manusia. 

Kami rindu untuk bersaksi terutama bagi rumah tangga yang mengalami "neraka rumah tangga" seperti yang pernah kami alami. Orang lain mungkin bisa menjadi penengah dan pendamai sementara, tapi di kemudian hari masalah tersebut akan muncul lagi dan menjadi lebih dahsyat lagi. 

Dunia tampaknya punya jalan keluar untuk mengatasi masalah seperti ini, tapi jalan keluar tersebut hanya mengubah penampilan luarnya saja. Tidak ada yang bisa menolong dan memulihkan dengan sempurna selain Tuhan Yesus. Selain memulihkan hubungan kami, Tuhan juga memulihkan kondisi ekonomi kami dan hubungan dengan keluarga kami masing-masing. 

Datanglah pada Tuhan Yesus dan sungguh-sungguh menyerahkan seluruh hidup kita. Dia mampu menyelamatkan dan memulihkan keutuhan keluarga kita tercinta. 

Diambil dan disunting dari: Judul majalah: SUARA, Edisi 78, Tahun 2005 Penulis: KM Penerbit: Communication Department Full Gospel Business Men`s Fellowship International - Indonesia Halaman: 18 -- 20 

Pokok Doa 
1. Doakan kehidupan rumah tangga yang sangat rentan dengan masalah, supaya mereka memiliki dasar yang kuat di dalam Tuhan. 
2. Mengucap syukur karena rumah tangga dalam kesaksian di atas telah dipulihkan oleh Tuhan Yesus dan mendapat kekuatan yang baru dari Tuhan. 
3. Berdoa bagi rumah tangga yang masih mengalami konflik agar mereka dapat mengalami pemulihan. 

 "Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab, ya Tuhan ALLAH, Engkau sendirilah yang berfirman dan oleh karena berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk selama-lamanya." 

Sumber : www.sabda.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar