Sabtu, 14 Maret 2015

SKIZOFERNIA

Hasil gambar untuk FAITH TO JESUS
July 25th, 2012
Pagi ini seperti biasanya Jen berdoa sambil membaca firman. Bacaan firman hari ini adalah Markus 5:1-20 yang isinya mengenai seorang yang telah disembuhkan oleh Yesus dari kerasukkan dan ingin mengikut Yesus tapi Yesus memintanya untuk bersaksi mengenai apa yang telah dialaminya, mengenai bagaimana Tuhan telah menolongnya dari kesusahannya.
Hal ini mengingatkan Jen untuk bersaksi mengenai pertolongan Yesus dalam kehidupannya. Bahwa Ia telah menolong Jen dan menyelamatkan keutuhan keluarganya.
Jen telah beragama Kristen sejak lahir, ia dapat mengingat bagaimana sekolah minggu di waktu kecil, mengingat tiap lagu anak-anak di gereja yang dinyanyikan, tapi kenangan itu hanyalah dipermukaan saja. Jen belum merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan pribadinya yang mendalam, ia Kristen tapi perilakunya tidak kristiani saat itu.
Menikah secara Kristiani di gereja adalah awal pertemuan Jen dengan Tuhan secara pribadi, karena dari pernikahan ini lahir berbagai macam masalah yang sebenarnya dibuat oleh manusia yang dekat dengan Jen dan pribadinya sendiri. Hal ini berdampak pada kesehatan mental suami yang bekerja di kantor yang juga memiliki permasalahan dari politik di kantornya.
Puncaknya ketika suami menjadi sakit secara mental yang menurut dokter adalah skizofrenia, yang beberapa bulan kemudian di-phk dari pekerjaan, setelah melahirkan putra ke dua.
Saat itu berkecamuk perasaan mulai dari malu memiliki suami yang ‘gila’, pertanyaan mengapa hal ini terjadi padanya, cemooh orang yang dekat dengannya, semua orang menghindari ‘berurusan dengannya’, anak-anak yang masih sangat kecil yang waktu itu baru lahir dan 2 1/2 tahun, keuangan yang tidak menentu (hidup dari tabungan), keluarga suami yang menyalahkannya dan tekanan keluarganya.
Anak bungsunya yang baru lahir, mengidap alergi susu sapi yang membuat tidak dapat memakan makanan bayi pada umumnya, sehingga membutuhkan perhatian ekstra. Letih sekali rasanya, sehingga terpikirkan perceraian dalam benak Jen.
Pernah Jen mengutarakannya pada suami, bukan hanya sekali. Reaksi suami adalah, berlutut dan mencium kakinya memohon agar jangan meninggalkannya (yang sekarang membuat Jen malu pada dirinya sendiri jika mengingat ini, betapa piciknya ia).
Kamar mandi adalah tempat dimana Jen dapat menangis dan berdoa pada Tuhan.
Dan Tuhan mendengar doanya, secara perlahan-lahan Dia menjawab semua doa Jen satu persatu, dan ia dapat benar-benar merasakan kasih-Nya dan malu akan dosa yang telah diperbuat dahulu.
Ia mencelikkan hati suaminya, Ia pertemukan dokter yang sangat baik bagi suaminya dengan cara yang ajaib, Ia bukakan jalan bagi suaminya untuk berusaha sendiri dari rumah, Ia sembuhkan anaknya dari alergi susunya, Ia mencelikkan Jen, agar Jen hanya bergantung pada-Nya, bukan orang lain, baik saudara ataupun orang-tua, Ia memberikan pada Jen sekeluarga teman-teman yang sangat baik dan menolong mereka melebihi saudara sendiri, dan pertolongannya tidak pernah putus sampai sekarang.
Jen melihat berkat Tuhan dalam kesulitan yang dialami, bahwa dengan sakitnya suami, ia telah mengenal Tuhan secara pribadi dalam kehidupan. Dan rasanya sangat luar biasa, beban yang dipanggulnya terangkat dan Jen bebas….
Mereka tetap berjuang dalam usahanya, mereka masih bergelut dengan masalah yang kadang membuat resah, takut dan gelisah. Tapi firman Tuhan dan Roh Kudus yang diam dalam mereka  selalu menguatkan, bahwa tangan-Nya tidak kurang panjang untuk menolong mereka dan juga saudara semua.
Jen malu atas perbuatan di masa lalu, sujud dan memohon ampun pada Tuhan dan ia seperti buku yang telah dibersihkan dari coretan yang kotor dan menjadi baru, ditulis oleh bantuan Roh Kudus dalam dirinya.
Setiap kita pasti pernah merasakan pertolongan Tuhan, dan kita yang telah ditolong-Nya haruslah bersaksi bagi kemuliaan-Nya.
Tuhan telah menolong Jen, Dia adalah penolong dan gembala kita sampai selama-lamanya.
sumber : www.jennesia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar