Kamis, 18 Juni 2015

AKU SEORANG WARIA SEKALIGUS PECANDU NARKOTIKA

Ini sisi lain dari seorang pria yang memiliki sisi gelap dan sebuah keinginan untuk mengubah jati dirinya.
“Ternyata bukan saya saja yang menderita kelainan seperti ini. Waktu saya sudah mulai kerja salon kan saya udah mulai pegang uang. Saya mulai bebas mengekspresikan diri saya. Saya banyak beli baju wanita, pengen tampil cantik gitu. Pake baju perempuan,” kata Anggie membuka kesaksiannya.
“Saya tidak pernah berpikir merasa salah waktu saya berdandan. Saya berpikir inilah saya, inilah jiwa saya. saya merasa bebas mengekspresikan diri saya karena jauh dari orang-orang yang mengenal saya. Setiap hari rasanya saya pengen keluar pake baju wanita. Rambut saya biarkan panjang,” tambahnya.
Mejeng di jalanan dan menggoda para lelaki, dengan cara inilah Anggie mengekspresikan kebebasan dalam dirinya. “Akhirnya saya jual diri. Saya godain orang lewat, tapi saya juga selektif. Saya tidak sembarangan orang yang saya mau. Kalau saya suka, dia mau bayar saya, kita jalan. Uang itu untuk pengganti uang lipstik lah”
Pesona Anggie dalam memikat lelaki sudah terbukti, namun ada yang berbeda saat dia menjalani hubungan dengan seorang pengusaha kaya. “Cowok ini termasuk kriteria saya. Di samping dia cakep, kaya, dia adalah seorang gay juga. Dia tidak suka saya kalau berdandan, oleh karenanya dia meminta saya untuk memotong rambut saya,”
“Akhirnya saya potong rambutlah. Kami pun pindah ke Bali. Cowok ini mengenalkan saya dengan klub malam. Cowok ini juga yang mengenalkan saya dengan minuman keras”.
Namun berjalan waktu, kisah cinta Anggie dengan pengusaha harus berakhir. Namun begitu, fakta tersebut tidak lantas mengubah kehidupannya. Malahan status sendiri yang ia miliki saat ini digunakan untuk berlaku semakin liar. Ia semakin ketagihan mengonsumsi berbagai jenis narkotika seperti ekstasi dan shabu-shabu.
Dengan barang-barang tersebut, Anggie dapat melupakan sejenak tentang kehidupannya.
Persoalan mulai timbul ketika Anggie tak memiliki uang lagi. Ia tak punya pegangan apa-apa lagi untuk memenuhi hasratnya menikmati barang-barang haram tersebut. Dengan sangat terpaksa, ia pun kembali lagi bekerja di salon. Akan tetapi, ternyata penghasilan yang ia dapatkan dari sana tak mencukupi.
Stres mulai melanda Anggie. Berulang kali ia pun mencoba bunuh diri, tetapi ada saja hal yang membatalkan niatnya tersebut. Sampai suatu waktu, seorang teman mengajaknya ke sebuah ibadah.
Disana, ia mendapatkan sebuah kedamaian yang selama ini dicari. Ketika firman Tuhan dibagikan, air matanya turun tanpa henti membasahi pipinya. Sebuah komitmen untuk berubah pun ia sampaikan kepada Tuhan.
Tidak sampai mengikuti kebaktian saja, Anggie bergabung dengan komunitas sel yang ada di gereja tersebut. Imannya kepada Tuhan kian hari kian kuat.

TANTANGAN KALA BERUBAH
Walau sudah setia dalam ibadah dan berada di dalam komunitas sel, keinginan untuk mencobai narkotika dan menjalin kasih dengan pria tetap tidak hilang. Saat sedang sendiri, ia teringat romantika yang pernah ia bangun dengan sesama jenisnya.
Dengan penuh perjuangan dan bantuan dari teman-teman seiman, ia menolak segala cobaan tersebut. Pada akhirnya, ia berhasil melewati semua itu.

BERTEMU DENGAN ISTRI
Tak pernah disangka di dalam kehidupan Anggie bahwa suatu hari nanti ia dapat menyukai seorang wanita. Namun, di saat ia sedang mengikuti sekolah di Shanghai, hatinya terpincut dengan seorang gadis yang bernama Marta.
Gayung bersambut. Wanita yang diincar Anggie ini bersedia menjalin hubungan dengannya.
Seperti yang telah diduga, berbagai tentangan mewarnai kehidupan percintaan kedua anak manusia ini, khususnya dari teman-teman dan kerabat Marta.
Marta yang sudah mengetahui masa lalu dari Anggie seperti tak menghiraukan perkataan dari teman-temannya. Ia tetap melangkah dengan keputusannya itu.
“Karena teman-teman saya mendengar dan melihat di sekeliling salon ya, mereka mengajurkan kepada saya agar lebih baik saya tidak menikah dengan seorang gay,” ujarnya.
Setelah cukup lama berpacaran, Anggie dan Marta melanjutkan hubungan mereka ke dalam tahap yang serius. Oleh anugerah Tuhan, mereka dipersatukan dalam pernikahan kudus.
Sekarang, Anggie dan Marta telah memiliki seorang putri yang cantik. Mereka kini telah hidup bahagia sebagai sebuah keluarga yang takut akan Tuhan.
Sumber Kesaksian:
Anggie T (jawaban.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar