Selasa, 28 Juli 2015

TUHAN TIDAK PERNAH BERHUTANG

Malam sudah menunjukkan pukul 22.00 ketika saya tiba di jalan Veteran. Memang kondisi malam itu berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya, agak sepi dan angkot yang saya naiki sebelumnya pun tidak banyak penumpang yang naik. Seperti biasa saya menunggu bis Mayasari 117 dengan arah tujuan Pulo Gadung. Akan tetapi kondisi di bawah jalan layang sudah kosong, petugas yang biasa menghitung penumpang bus Mayasari sudah tidak ada.

Beberapa saat kemudian lewat bus Agra yang menuju Kampung Rambutan, kepada kenek bus saya tanyakan apakah 117 masih ada, dia menjawab kemungkinan masih ada. Lalu bus Agra pun pergi. Saya lalu menanyakan pertanyaan yang sama kepada petugas yang menghitung penumpang di bus Agra, dan dia menjawab mungkin 117 masih akan lewat. Tetapi beberapa saat kemudian ia berkata "wah mas, sepertinya 117 sudah habis, karena checker (petugas yang menghitung penumpang) sudah pulang". Lalu saya tanyakan apakah bus Agra masih akan lewat. Ternyata bus Agra yang tadi lewat adalah yang terakhir. Dan si petugas bus Agra pun pergi dengan motor.

Waduh. Semua bus yang mengarah ke Jakarta dari Veteran sudah tidak ada. Ternyata saya tidak sendirian, ada seorang laki-laki tinggi besar yang juga kehabisan bus. Di dalam kebingungan, saya memutuskan untuk naik taksi saja ke rumah, walau sudah pasti mahal ongkosnya. Laki-laki tersebut lalu meminta untuk menumpang taksi bersama saya, tetapi minta diturunkan di tempat yang arahnya agak jauh dari tujuan saya.

Ah, saya pun sebenarnya agak keberatan. Karena ongkosnya akan jauh lebih besar lagi kalau mengantar dia dulu. Ditambah lagi, orang ini hanya bersedia bayar Rp.10.000. Kalau ongkosnya dia mau bayar setengah-setengah mungkin tidak masalah. Saya pun dalam kondisi yang tidak sedang berkelebihan uang karena baru memulai usaha sendiri. 

Saya lalu teringat mengenai kisah orang Samaria yang baik hati. Ya sudahlah, saya ajak dia naik taksi, dan kemudian mengantar dia sampai tujuannya, baru kemudian taksi mengarah ke rumah saya. Di dalam hati saya merasa agak tidak enak juga , karena ongkos taksi sampai Rp 110.000 lebih tetapi orang yang "nebeng" saya hanya bayar Rp 10.000 ditambah harus memutar jalan mengantar dia dulu. Tetapi saya pikir, nanti Tuhan pasti balas. Mungkin Tuhan mau saya menolong orang itu, sehingga saya kehabisan bus.

Keesokan harinya saya mengikuti sebuah acara diskusi. Setelah acara tersebut, sebelum pulang, panitia memanggil saya. Dia memberikan konsumsi dan amplop. Ketika amplop saya buka, ada sejumlah uang di dalamnya, sebesar Rp 110.000. Saya sangat terkejut, karena memang diundang ke diskusi itu juga mendadak dan saya bukan pembicara disana. Lebih heran lagi jumlah uang yang saya terima sama dengan ongkos taksi yang saya bayar kemarin! Lebih hebatnya lagi , beberapa menit setelah acara diskusi, saya mendapatkan klien untuk pekerjaan saya.

Benar-benar luar biasa Tuhan bekerja. Bukan hanya digantikan tetapi ditambah!

Semoga sharing ini bisa menjadi berkat bagi para pembaca,
Tuhan memberkati

Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.
Amsal 19:17

Copas : www.kristusyesus.com


Jumat, 24 Juli 2015

TUHAN SELALU PUNYA CARA

Minggu pagi, sebelum berangkat untuk mengikuti ibadah di gereja, di radio terdengar lagu ‘Tuhan Selalu Punya Cara’ sedang diputar. Saya terdiam beberapa saat mendengarkan setiap lirik lagu ini dan merenungkannya, dan saya melihat kembali ke kehidupan saya yang telah saya lalui, bagaimana Tuhan selalu mempunyai cara untuk menolong saya di dalam hidup.

Saya hidup ditengah-tengah keluarga yang memiliki berbagai kepercayaan. Sehingga, pada saat kecil saya sama sekali tidak kenal siapa itu Yesus, siapa itu dewa ini-dewa itu, siapa itu Tuhan. Saya beranggapan baik Yesus, dan tokoh dari agama lain itu sama-sama Tuhan, Tuhan yang satu, hanya penyebutannya saja yang berbeda dalam tiap-tiap agama.

Semakin saya beranjak dewasa, mulailah masalah-masalah muncul dalam kehidupan saya. Papa saya mulai suka mendidik anak dengan menggunakan kekerasan, baik saya maupun kakak saya sering dipukul ketika papa memarahi kami. Papa dan mama saya juga sering bertengkar malam-malam, seringkali pertengkarannya di sebabkan papa saya yang suka merokok ataupun minum-minum hingga larut malam bersama teman-temannya.
Beberapa tahun hidup dengan keluarga yang tidak harmonis membuat saya tidak betah dirumah. Saya tidak pernah pergi ke gereja, saya mulai sering pulang malam sehabis sekolah. Naik ke kelas 2 SMP, saya mulai berani mencoba-coba merokok, tapi setelah seminggu saya memutuskan untuk berhenti merokok.

Diakhir kelas 2 SMP, papa di PHK dari kantornya dan mama saya terpaksa kerja keras sendirian untuk menghidupi kami sekeluarga dan juga membiayai sekolah saya, kakak, serta adik saya. Papa dan mama semakin sering bertengkar karena masalah ekonomi. Papa sering tidak pulang kerumah, mama selalu pulang malam dari kantor. Dan pada saat pulang kerumah juga, papa saya seringkali memukul saya karena alasan yang tidak jelas.

Naik ke bangku SMA, saya semakin ikut dalam pergaulan yang tidak baik, saya sering pergi malam-malam, berkumpul bersama teman-teman, minum-minum, dll. Hal itu menjadi kegiatan rutin saya setiap malam selama berbulan-bulan.

Pertengahan tahun 2010, saya, kakak, dan mama saya bertengkar hebat dengan papa hanya karena hal sepele, saat itu pertama kalinya dalam hidup saya, saya membentak dan memaki papa saya. Rasanya saat itu emosi saya dan segala kepahitan terhadap papa yang selama ini tertanam di hati saya sudah tidak dapat saya tahan lagi. Setelah itu papa saya berkata kepada saya dengan keras, “kalau papa mati nanti, jangan datang ke pemakaman papa!” dan setelah itu membanting pintu dan pergi keluar rumah dan tidak pulang selama 3 hari.

Pada akhir tahun 2010, saya bersama kakak dan adik saya diajak mama untuk pindah rumah, meninggalkan papa saya sendiri karena kami, terutama mama, sudah tidak tahan dengan kelakuan papa terhadap kami. Kami mengontrak sebuah rumah didekat rumah saudara kami yang hingga saat ini masih kami tempati.

Setelah itu saya menjalani kehidupan seperti biasa, dengan rutinitas setiap malam bersama teman-teman yang hampir tidak pernah saya lewatkan. Seringkali papa saya datang menelpon saya atau kakak saya untuk meminta maaf dan menanyakan kabar kami, seminggu sekali juga dia datang ke rumah kami ketika mama sedang kerja. Saya dan kakak saya memaafkan papa, tetapi masih ada kepahitan dalam hati saya terhadap dia.

Pertengahan kelas 2 SMA, saya merasa semakin jenuh dengan hidup saya, hanya diisi dengan rutinitas yang tidak karuan, saya merasakan ada yang hilang dalam hidup saya, ada kekosongan di hati saya. Ketika dirumah, dalam keadaan jenuh dan hampa itu, saya bertanya, “Tuhan, kok hidup saya begini sih?? Hampa, datar, kayaknya sia-sia banget hidup saya.”

Beberapa hari kemudian, saya diajak teman saya ke gereja. Saya berpikir, yaa boleh juga, toh saya juga tidak ada kerjaan hari minggu. Akhirnya saya ke gereja bersama teman saya. Di gereja teman saya bercerita bagaimana hidupnya diubahkan oleh Tuhan Yesus, bagaimana Yesus menolong dia. Dia mengajak saya untuk ikut KS pada hari selasa dan saya mengiyakannya.

Setelah pulang dari gereja, sesampainya dirumah saya merenungkan cerita teman saya tadi. Dia juga hidup di keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya sudah berpisah tetapi hidupnya bisa diubahkan oleh Yesus. Saya merenung, dan dalam hati saya minta tolong kepada Yesus untuk pulihkan hidup saya, saya minta Yesus untuk tinggal di hati saya, dan saat itu juga timbul rasa damai di dalam hati saya, seakan-akan kekosongan yang sebelumnya saya rasakan di hati saya itu sudah terisi, dan saya merasakan kelegaan yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan.

Pada hari selasanya, saya mengikuti KS untuk pertama kalinya. Tetapi pada saat itu masih ada keraguan dalam hati saya sehingga minggu-minggu berikutnya saya tidak mengikuti KS lagi. Tetapi setiap minggunya saya mulai rutin ke gereja.

Awal tahun 2012, saya mulai mengikuti KS setiap minggunya, saya mulai merasakan iman saya bertumbuh, saya mulai membaca Alkitab, saya merubah cara hidup saya. Segala rutinitas yang dulu saya lakukan setiap malam saya tinggalkan, saya mulai belajar untuk hidup didalam Kristus.

Tetapi disaat iman saya bertumbuh, iblis kembali mencobai kehidupan saya. Kakak saya memberi tahu saya kalau mama mau menjadi orang muslim. Saya sedih, karena saat itu saya sudah tahu kalau Kristus adalah satu-satunya jalan kebenaran dan keselamatan. Tetapi saya juga tidak mampu melarang mama saya karena mama saya juga orang yang keras kepala, dia bilang kalau itu iman dia, juga karena di kantornya mayoritas beragama muslim dan temannya mengajaknya untuk menjadi muslim. Tepat pada hari ulang tahun saya yang ke 18, mama saya menjadi seorang muslim.

Tidak sampai 2 minggu setelah ulang tahun saya, di akhir bulan maret, tante saya mendapat telpon yang mengabarkan kalau papa saya kecelakaan motor dan sudah berada di rumah sakit. Saya teringat dulu ketika saya masih SMP, papa saya pernah menelpon berpura-pura menjadi polisi dan mengabarkan kalau papa saya kecelakaan dan kondisinya kritis, tetapi kemudian terdengar suara tertawa papa saya di telpon.

Tetapi kali ini berbeda, papa saya benar-benar kecelakaan dan kondisinya cukup parah. Saya segera berangkat ke rumah sakit bersama kakak saya. Waktu itu, setelah kecelakaan papa saya dibawa ke RS. Hermina Galaxy. Sesampainya di rumah sakit, saya segera menuju ruang UGD, saya melihat papa saya terbaring kesakitan dengan luka luar yang cukup parah di kepala, tangan, kaki, serta dadanya. Darah mengalir melalui selang yang dimasukan ke perutnya melalui tenggorokannya karena adanya pendarahan dalam akibat benturan di perutnya.

Saya memeluk papa saya, dia menyadari kehadiran saya, dan membalas memeluk saya. Tubuh saya bergetar dan saya tertegun sedih, sosok papa saya yang selama ini keras dan kasar, sosok papa yang keras kepala dan benar-benar keterlaluan hingga menimbulkan kepahitan dalam diri saya, kini terbaring lemah menahan sakit di hadapan saya. Entah kenapa saat itu air mata saya tidak mengalir meskipun saya merasa benar-benar sedih.

Kemudian saya bicara didekat telinganya, “Pah, Donny udah maafin papa, Donny udah maafin semua kesalahan papa. Donny minta maaf juga yah pah udah ninggalin papa, papa mau maafin Donny kan?” belum sempat papa saya menjawab, papa saya sudah hilang kesadaran karena luka-lukanya.

Malam harinya papa saya dipindahkan ke RS. Mitra Keluarga dikarenakan tidak adanya peralatan yang memadai di RS. Hermina. Sesampainya di ruang UGD RS. Mitra, papa saya sudah dalam kondisi koma. Kemudian dilakukan CT Scan, dan diketahui kalau ternyata otak sebelah kiri papa saya sudah tertekan ke sebelah kanan karena pendarahan di kepala. Dokter juga tidak bisa melakukan operasi karena tingkat kesadaran papa lemah, sehingga papa harus dirawat di ruang ICU dulu sampai tingkat kesadarannya meningkat.

Setelah masuk ruang ICU, keadaan papa semakin menurun, dia bertahan hidup berkat alat-alat yang terus memompa jantungnya agar bernafas dan juga obat-obatan yang menjaga organ tubuhnya tetap berfungsi. Beberapa teman KS saya datang kerumah sakit dan berdoa bersama untuk papa saya. Setelah 3 hari koma dan bertahan hidup berkat bantuan alat-alat, akhirnya papa saya dinyatakan meninggal. Satu hal yang saya syukuri adalah papa saya sebelumnya telah menerima Yesus dalam hidupnya, dan saya percaya kalau dia kini tinggal bersama-sama dengan-Nya di surga.

Setelah itu banyak pergumulan yang saya hadapi, tetapi semua pergumulan itu dapat saya lalui bersama Tuhan. Saya semakin sering datang KS setiap minggunya, dan saya diberi tanggung jawab oleh teman-teman untuk menjadi cpks.

Mendekati akhir tahun 2012, saya mulai mengikuti ibadah di GKII dan saya merasakan iman saya bertumbuh di gereja ini dan mulai ikut ibadah setiap minggunya.

Tahun 2013 awal, saya menjadi pks di KS saya. terdorong untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan di gereja dan juga karena firman Tuhan, saya akhirnya mendaftarkan diri untuk mengikuti baptisan dan di pertengahan Juni kemarin akhirnya saya di baptis. Walaupun sebelumnya itu menjadi pergumulan buat saya karena keluarga banyak yang tidak setuju, tetapi Puji Tuhan, Tuhan membuka jalan sehingga pada akhirnya saya bisa dibaptis.

Yang mau saya tekankan dari kesaksian ini, seringkali dalam kehidupan, kita merasa kalau masalah yang kita hadapi sangat berat dan kita tidak mampu untuk menghadapinya. Tidak jarang juga kita mengeluh dan bersungut-sungut ketika keadaan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Tapi perlu kita sadari, dibalik semua masalah yang kita alami, keadaan-keadaan yang kita hadapi, semuanya itu diijinkan Tuhan terjadi dalam kehidupan kita tetapi Dia tidak akan membiarkan kita berjalan sendirian menghadapi semuanya itu, Dia berjalan menyertai kita sepanjang hidup kita, seberat apapun masalah kita Dia tidak akan meninggalkan kita. Dan di Roma 8:28 di katakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihiNya.

Dan pertolonganNya sangat nyata saya alami dalam kehidupan saya, bagaimana Dia memakai teman saya untuk menyelamatkan saya, bagaimana Dia mendamaikan hati saya yang tadinya dipenuhi kepahitan dan kekosongan, bagaimana Dia juga membuka mata saya sehingga saya bisa melihat bahwa dalam setiap masalah selalu ada hal bisa disyukuri, bagaimana cara Dia juga merubahkan hidup saya melalui persekutuan dan juga firmanNya yang hidup.

Tuhan selalu punya cara untuk menolong umatNya dan tidak jarang pertolonganNya melampaui akal pikiran kita. Entah apapun masalah yang kita hadapi, yakin dan percayalah bahwa Dia akan mengulurkan tangannya untuk menopang kita dan Dia selalu punya cara untuk menolong kita. Tuhan Yesus memberkati.


Tulisan dikirim oleh Donny Marvine (www.kristusyesus.com)

Senin, 20 Juli 2015

PENGAMPUNAN DI TENGAH PENGKHIANATAN TIADA AKHIR


Bagaimana rasanya seorang wanita yang tengah hamil tua ditinggal pergi karena sang suami sudah kepincut dengan wanita lain? Dan yang lebih parah lagi, Masta akhirnya harus menghidupi delapan orang anaknya sendirian.


Hanya dalam satu kali pertemuan, Masta sudah terpikat dengan janji manis seorang pria. Tanpa pikir panjang, ia pun mengiyakan sebuah ajakan untuk kawin lari. Bagi orangtua Masta sendiri, kekecewaan menyelimuti hati mereka. Apalagi sebagai orangtua, mereka sama sekali tidak hadir dan dimintai restu terlebih dahulu. Mereka pun hanya dapat menangis menerima kenyataan ini.
Seperti membeli kucing dalam karung, Masta tak pernah menyangka sikap manis sang suami ternyata palsu. Setelah dua tahun bersama, sifat asli sang suami mulai terlihat. Masta selalu merasa curiga terhadap tingkah laku suaminya karena setiap malam ia tidak pernah pulang ke rumah. Dari adik ipar suaminyalah Masta mengetahui kalau suaminya memiliki rencana untuk menikah lagi. Masta sangat terpukul mendengar kabar itu. Apalagi kondisi Masta sendiri sedang hamil tua saat itu.
Rasa penasaran tiba-tiba membakar hati Masta. Pagi-pagi saat suaminya pulang, Masta diam-diam berniat datang ke rumah wanita yang hendak merebut suaminya. Tanpa diketahui Masta, suaminya ternyata mengikuti dirinya dari belakang. Namun setibanya di sana, wanita selingkuhan suaminya tidak ada di sana. Merasa dipermalukan, suami Masta langsung menyeret Masta pulang. Tidak hanya sampai di situ, pukulan dan tamparan pun diterima Masta yang sedang hamil besar. Bahkan suaminya dengan tegas bermaksud menceraikan Masta saat itu juga. Hati Masta sangat pedih namun ia hanya dapat menangis.
Campur tangan orangtua Masta mampu menyelesaikan permasalahan mereka untuk sementara waktu. Niat untuk menceraikan Masta pun urung dilakukan. Permintaan orangtua Masta yang menentang perceraian mampu meredam nafsu sang suami.
Kelahiran anak pertama mereka seakan menghapus segalanya. Keadaan itu bertahan sampai Masta dikaruniai lima orang anak. Sampai sebuah kabar dari Jakarta membuat Masta mengambil sebuah keputusan penting. Ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Mendengar kabar itu, anak-anak Masta menyambut dengan gembira. Padahal sebenarnya kabar buruklah yang Masta terima.
Masta menerima surat dari adik mertuanya yang tinggal di Jakarta dan mengatakan kalau suaminya ternyata suka main perempuan juga di sana. Kepindahan Masta dan anak-anaknya ke Jakarta menyusul suaminya tidak memperbaiki keadaan sama sekali. Seringkali Masta harus menerima perkataan-perkataan sinis yang penuh sindiran kepada dirinya. Suaminya sepertinya tidak menghargai keberadaan Masta dan anak-anaknya di sana. Sebagai seorang istri, Masta merasa menjadi istri yang tidak berharga bagi suaminya.
Untuk menambah penghasilan suaminya, Masta pun menjalankan usaha simpan pinjam. Dan dalam waktu satu setengah tahun, mereka sudah dapat memiliki rumah sendiri. Namun rumah itu tak bisa membawa kebahagiaan bagi Masta. Atas saran seorang saudara, rumah itu dijual untuk modal usaha.
Hingga sesuatu yang buruk pun terjadi. Salah satu anak mereka mengalami sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Semuanya terjadi begitu cepat. Sepeninggal anak mereka, suami Masta pun semakin frustrasi. Tidak hanya ditinggal mati salah seorang anak mereka, pekerjaan pun ia tidak punya sedangkan hasil penjualan rumah yang dijadikan modal usaha pun tidak menghasilkan apa-apa. Semuanya terbuang sia-sia.
Kejadian itu sangat berdampak kepada sifat suami Masta. Terkadang ia sangat memanjakan anak-anaknya, namun tak jarang ia menjadi sangat kasar. Saat sedang marah, apapun yang ada di tangannya akan dipakai untuk memukul anak-anaknya. Masta benar-benar tidak berani membela anak-anaknya saat suaminya sedang marah. Namun saat suaminya sudah selesai memukul anak-anaknya, barulah Masta berani menasehati suaminya. “Terlalu keras kamu bapak sama anak-anak kita. Nanti mereka bawa akar pahit dari kamu,” ujar Masta pada suaminya.
Entah apa yang dipikirkan suaminya. Saat Masta melahirkan anak kedelapan, suaminya tega meninggalkan Masta dan anak-anaknya tanpa kabar. Masta hanya dapat berlutut kepada Tuhan karena Masta melihat ketujuh anaknya dan seorang bayi yang baru lahir, ia tak tahu bagaimana caranya harus bertahan menghidupi kedelapan anaknya seorang diri tanpa pekerjaan yang tetap. Belum lagi anaknya yang baru lahir, bagaimana mungkin Masta tega meninggalkannya untuk mencari nafkah? Masta datang kepada Tuhan dan menyerahkan hidupnya dan kedelapan anaknya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan.
Tepat di saat keputusasaannya, seseorang datang menolong Masta. Hamba Tuhan ini menasehati Masta supaya semakin dekat kepada Tuhan dan Masta diarahkan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Setelah menerima Yesus, Masta terus dibimbing di gereja dan Masta semakin dapat melihat kuasa Tuhan yang luar biasa. Hamba Tuhan ini juga mengajarkan Masta untuk berani melakukan apapun demi menghidupi anak-anaknya.
Demi menghidupi anak-anaknya, harga diri dan peluh tak lagi Masta perdulikan. Namun Masta tak pernah menyangka apa yang akan dialami anak pertamanya, James, saat berniat mencari ayahnya yang tak pernah pulang ke Sumatera. Suatu peristiwa pahit telah menantinya. James melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya sedang bermesraan dengan wanita lain. Tak cukup sampai di situ, James harus mendapati kenyataan kalau sebenarnya ayahnya adalah seorang germo. Ia tidak hanya mencari wanita-wanita cantik untuk ditawarkan kepada para lelaki hidung belang, namun ia juga berzinah dengan para wanita itu.
Hal yang lebih menyakitkan lagi harus James terima saat ia mengajak ayahnya pulang. Dengan kasar ayahnya mengusir James untuk pergi, bahkan menyuruh James tidak lagi memanggilnya ayah, melainkan om. Di hadapan James dan para wanita itu, dengan lantang ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki istri dan juga anak. Sebelum James pulang, ayahnya sempat mengancamnya untuk tidak mengatakan hal ini kepada ibunya atau James akan ia bunuh!!
Takut akan ancaman ayahnya dan juga takut akan kemungkinan ibunya yang akan bunuh diri jika mengetahui keadaan ini, James pun menulis surat kepada ibunya dan mengatakan kalau ia tidak dapat menemukan ayahnya. Namun Masta tidak percaya, bahkan ia semakin penasaran. Kalau memang suaminya sudah meninggal, paling tidak ia harus tahu dimana suaminya telah meninggal. Masta pun memutuskan untuk pergi sendiri mencari suaminya. Masta pun pulang ke Siantar.
Namun di sana, Masta hanya bertemu dengan adik suaminya. Karena tidak percaya, sesaat setelah meninggalkan rumah itu, Masta pun kembali ke rumah adik iparnya. Dan benar, suaminya ternyata sudah berada di sana. Saat itulah suaminya mengaku kalau di Siantar ada teman wanitanya yang begitu baik kepadanya dan memberikan modal untuk membuka bar di sana. Namun ia tidak menggambarkan wanita itu lebih jauh, hanya menyebutnya sebagai pelayan, pelayan yang dapat memodali dirinya membuka bar di Siantar. Padahal dirinya adalah germo dari wanita itu. Suaminya pun berjanji akan mengikuti Masta kembali ke rumah.
Namun janji hanyalah tinggal janji. Baru beberapa bulan saja, suami Masta kembali pergi. Untuk kesekian kalinya, hati Masta terluka. Namun di tengah kekecewaan dan kesedihannya, Masta tak berhenti berdoa untuk suami dan anak-anaknya.
Di lain tempat, suami Masta yang berniat hendak menjual bar miliknya mengalami penipuan dan hidup layaknya seorang gelandangan. Sampai keputusasaan mengingatkannya akan keluarganya. Penyesalan pun mulai menyelimuti hatinya saat ia mengingat segala perbuatan yang dilakukannya terhadap Masta, istrinya dan juga anak-anaknya. Dalam keadaan sakit, ia pun memutuskan untuk pulang, kembali kepada keluarganya.
Saat itu Masta sedang tidak berada di rumah. Ia sedang pergi bersama James, anaknya. Setibanya di rumah, Masta dan James tentu saja sangat terkejut melihat kehadiran orang yang selama ini telah menyia-nyiakan hidup mereka. Masta hanya bisa bengong di luar rumah, tidak berani melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Namun James, anaknya, serta merta berteriak kegirangan dan langsung memeluk ayahnya. Hati Masta pun dipenuhi kegalauan. Satu sisi, hatinya luluh melihat sikap anaknya yang begitu bahagia dapat melihat ayahnya kembali. Namun di sisi lain, Masta merasa tak sanggup menghadapi suaminya mengingat penghinaan yang telah diterimanya selama ini. Masta pun berseru kepada Tuhan agar pengampunan-Nya bisa mengalir dan ia bisa mengampuni suaminya sekali lagi. Apapun yang dikatakan Masta saat itu kepada suaminya ditanggapi dengan kemauan yang serius dari sang suami. Awal pemulihan pun terjadi saat itu di keluarga mereka.
“Tuhan begitu luar biasa. Apapun yang terjadi, Dia selalu melihat kita sebagai anak-anak kesayangan-Nya,” ujar Masta di sela-sela kesaksiannya.
Namun setelah beberapa tahun berlalu, sebuah rahasia akan terkuak lewat pengakuan sang suami. Dalam keadaan sakit parah setelah serangan jantung yang hebat, James mencoba mengajak ayahnya berbicara dari hati ke hati. Ia meminta ayahnya untuk mengakui dosa yang selama ini belum pernah mereka ketahui karena James sendiri merasa kalau ayahnya masih menyimpan rahasia di antara mereka. Saat itulah, ayahnya mengakui kalau Monaris, keponakan Masta, adalah anak dari hasil hubungannya dengan adik kandung Masta. Bagaikan tertimpa langit, seketika itu juga Masta jatuh pingsan. Ia benar-benar tak menyangka suaminya sanggup melakukan hal itu kepada dirinya. Adik kandungnya sendiripun sanggup mengkhianati dirinya. Apalagi suaminya telah menyimpan rahasia ini selama puluhan tahun karena saat pengakuan itu terjadi, Monaris telah berusia 19 tahun.
“Tuhan, ampuni suami saya Tuhan. Karena saat itu saya sudah mengenal Tuhan, saya hanya bisa berkata ampuni suamiku Tuhan. Sudah berumur 19 tahun anak ini, baru suami saya membuka rahasia aib ini kepada saya. Saat itu saya pingsan. Saya tidak dapat menerima kenyataan ini lagi. Tapi saya mengambil keputusan untuk mengampuni suami saya dan menerima Monaris sebagai anak saya sendiri. Walaupun kenyataan ini sangat pahit, tapi pasti Tuhan akan membuatnya menjadi sukacita buat saya,” kisah Masta dengan penuh keharuan.
Pengampunan dan kesabaran Masta perlahan-lahan mengubahkan sikap sang suami. Dengan cinta dan kesabaran, Masta terus merawat suaminya yang saat itu mulai sakit-sakitan. Setelah mengalami sakit yang berkepanjangan, 1 November 2002 suami Masta pun dipangil Tuhan untuk selamanya. Beberapa tahun kemudian, Masta kembali menemui adiknya. Saat itu juga hubungan antara Masta dan adiknya dipulihkan.
Kasih Yesus telah memulihkan hati Masta dan adiknya. Hingga kini, Masta dan anak-anaknya tak lagi hidup dalam kekecewaan.
“Saya bangga sekali memiliki mama seperti mama saya. Dia selalu berdoa sama Tuhan, agar keluarganya bisa selalu bersama dan berbahagia sekalipun mama selama hidupnya selalu menderita. Kalau saya pribadi sih sebenarnya hanya mengharapkan agar keluarga saya rukun-rukun saja. Tetap sayang sama mama walaupun Tuhan hanya memberikan seorang mama di sisi kami,” ujar Delima Sondang Samosir, salah seorang anak perempuan Masta.
“Saya sangat mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena anak-anak saya tidak membawa akar pahit dari kelakuan ayahnya. Saya mendapat pertolongan hanya dari Tuhan Yesus sendiri. Tidak ada unsur yang lain, hanya Tuhan Yesus sendiri yang menolong kami sekeluarga. Tuhan itu sangat baik bagi keluarga kami,” ujar Masta menutup kesaksiannya.
Sumber Kesaksian:

Masta br Simanjuntak (jawaban.com)

Kamis, 16 Juli 2015

PRASANGKA BURUK BUAT KELUARGAKU HANCUR

Sebagai seorang laki-laki sejati, Poltak ingin sepenuhnya menafkahi anak-anak dan istrinya. Namun, karena terbentur dengan pekerjaan, Poltak harus menganggur. Melamar kesana-kemari Poltak tak kunjung mendapat pekerjaan. Akhirnya Poltak pun memilih untuk berjualan asongan dan serabutan demi bisa memberikan penghasilan kepada keluarganya. Istrinya Saminah pun bekerja sebagai kasir di sebuah cafe.
Istrinya Saminah seringkali membuat Poltak kesal. Hal ini disebabkan karena pertanyaan-pertanyaan yang suka dilontarkan Saminah kepada Poltak. “ Pak, kamu sudah melamar kemana saja?Sebaiknya kepala keluarga itu seharusnya bekerja”tanya Saminah. Dengan penuh amarah dan emosi Poltak pun menjawab “ Gak usah kau ajari aku, kalau itu pun aku tau”. Mendengar jawaban suaminya itu Saminah langsung pergi bekerja.
Semakin hari pun Poltak semakin bingung dan penuh takut. Poltak takut kalau istrinya pindah ke hati lain, karena penghasilannya lebih tinggi daripadanya. Dasar itulah yang membuat Poltak dipenuhi dengan rasa cemburu. Suatu kali Saminah ingin pergi bekerja shift malam. Melihat Saminah berdandan, maka Poltak pun dengan geramnya memarahi Saminah. Poltak menuduh Saminah berselingkuh. Tak terima dengan perkataan suaminya akhirnya Saminah pun membalasnya dengan penuh emosi. Pertengkaran pun terjadi dan akhirnya tangan Poltak pun sampai kepada mata Saminah. Alhasil muka Saminah penuh dengan memar. Mau tak mau Saminah pun tetap pergi bekerja.
Emosi Poltak pun belum reda. Poltak pergi ke tempat kerja Saminah. Sesampainya disana Poltak memukuli Saminah. Namun, akhirnya di pisahkan oleh satpam. Poltak dan Saminah akhirnya pulang ke rumah. Di rumah, Potak melanjutkan memukuli Saminah. Tak kuat, Saminah pun mengajak anaknya untuk pergi keluar dari rumah. Semenjak kepergian istrinya, Poltak merasa kesepian. Akhirnya Poltak menjemput Saminah di rumah mertuanya yang berada di Lampung.
Akhirnya Poltak dan Saminah berada dalam satu rumah lagi. Saminah akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja. Mendengar keputusan Saminah, tentunya Poltak merasa lega. Dirinya terbebas dari rasa cemburu. Namun, hal itu tidak sebaik apa yang telah dipikiran oleh Poltak. Mereka sering tidak makan, karena tidak ada uang. Suatu kali mereka bertengkar karena tidak ada uang untuk makan. Saminah merasa sudah tidak kuat lagi dengan perlakuan suaminya itu.
Suatu malam Saminah berdoa kepada Tuhan dan Poltak mendengar doa istrinya itu. Entah mengapa tiba –tiba Poltak menangis. Dia pun meminta maaf kepada istrinya. Suatu perubahan terjadi dengan hubungan mereka. Poltak akhirnya sadar bahwa istrinya sangat mencintainya.
Dengan penuh tekad akhirnya Poltak pergi mengamen dari satu bus ke bus lain. Lagu-lagu yang dinyanyikannya adalah lagu rohani. Poltak dan Saminah mengaku bahwa penghasilan yang di dapat suaminya memang tidak banyak. Namun, Saminah bangga dengan suaminya karena bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga.
Semenjak saat itu kehidupan keluarga mereka sangat harmonis. Perubahan terjadi di dalam karakter Poltak. Poltak selalu membicarakan segala sesuatunya dengan kepala dingin. Tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Kini Poltak dan Saminah benar – benar mengerti bahwa Yesus hadir sebagai kepada dalam keluarga mereka.
Sumber : Poltak Panggabean (jawaban.com)

Minggu, 12 Juli 2015

MENINGITIS MERENGGUT PENGLIHATANKU DAN MENGHANCURKAN CITA CITAKU

Setelah lulus SMA, Reni Marina bercita-cita untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Beruntung hal itu mendapat dukungan dari seluruh anggota keluarganya. Reni pun dengan bersemangat menyiapkan diri untuk meraih impiannya.
"Saya orangnya perfeksionis, segala sesuatunya maunya harus sempurna. Dan saya berpikir cita-cita saya itu harus saya capai," demikian tutur Reni.
Reni memiliki kemauan kuat untuk berhasil, untuk itu ia begitu serius belajar, namun hal itu membuatnya sering lupa waktu sehingga ia tidak makan dengan teratur hingga membuatnya sakit maag. Suatu hari dalam keadaan perut kosong, ia meminum minuman bersoda sebotol penuh, hal itu memperburuk sakit maagnya.
"Awal-awalnya saya biarkan, saya tahan-tahan, saya ngga kepikiran untuk ke dokter," jelas Reni tentang kondisinya waktu itu.
Namun kondisinya malah memburuk, ia merasa lambungnya serasa dibakar, "Kaya mau meledak rasanya, saking panasnya."
Sang kakak yang melihat kondisi Reni menjadi kuatir dan langsung membawanya ke klinik. Ketika ditangani oleh dokter, Reni diruju ke rumah sakit untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Sewaktu di bawa pulang, Reni muntah darah baru kemudian dilarikan ke rumah sakit.
Reni didiagnosa oleh dokter mengidap tipes, namun beberapa hari dirawat kondisinya malah memburuk bahkan mengalami kejang.
"Dia panas tinggi lalu koma," demikian tutur Betti Sihombing, kakak Reni.
Setelah dua minggu dalam keadaan koma, Betti diberi tahu oleh dokter bahwa adiknya mengalamimeningitis, atau radang otak yang dikarenakan bakteri telah mencapai selaput otak.
"Saya tidak tahu berapa lama saya koma, pas saya sadar, saya merasakan gelap dan saya panggil kakak saya."
Reni bertanya kepada kakaknya, mengapa kondisi di sekelilingnya gelap. Ia menduga mungkin karena mati lampu. Sang kakak pun panik dan sedih melihat kondisi Reni, ia pun segera memanggil dokter. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Reni mengalami kebutaan.
"Saya menangis, saya teriak-teriak histeris, saya menyalahkan dokter."
Dokter memberikan sedikit harapan adanya kemungkinan penglihatannya akan pulih, Reni sungguh berharap hal itu benar. Namun setelah di bawa ke dokter mata, hasil pemeriksaan menyatakan bahwa saraf mata Reni mengalami kelumpuhan akibat meningitis yang ia alami. Dokter memvonis dirinya tidak akan bisa melihat lagi selamanya.
Sedih, marah, putus asa, itulah yang dirasakan oleh Reni. Baginya impian untuk melanjutkan kuliah sudah pupus. Ia merasa hidupnya sudah hancur. Keluarganya pun saling menyalahkan atas kemalangan yang dialami Reni, hal itu menambah kesedihannya.
Setelah segala upaya medis tidak membuahkan hasil, Betti mendapatkan saran untuk membawa adiknya itu ke orang pintar.
"Kita keluarga karena demi kesembuhan mau saja," ungkap Betti.
Namun harapan Reni untuk bisa melihat tidak juga terwujud. Akhirnya keluarganya pun membawanya pulang ke kampung. Tetapi sang ibu yang melihat kondisi Reni yang kini buta merasa sedih, ia pun mengalami depresi dan komplikasi penyakit hingga akhirnya meninggal dunia.
Kehilangan ibu yang dicintainya membuat Reni bertambah sedih, ia pun berpikir bahwa dirinya tak mungkin lagi kuliah.
"Orang yang buta itu bisanya cuma pijat, menganyam dan mengemis," demikian pikir Reni. Namun ia tidak ingin hal itu menjadi masa depannya, kondisinya yang buta membuatnya tidak ingin hidup lagi. Selama lima belas tahun ia mengurung diri dalam kondisi depresi.
Hingga suatu malam, ia bermimpi, "Waktu itu saya berada di tengah-tengah sungai yang arusnya besar, tiba-tiba saya lihat ada kertas di sungai itu, tertulis Filipi 4:13."
Saat ia bangun, ia meminta kakaknya untuk membacakan isi ayat tersebut. Ayat tersebut berkata " Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."
"Mendengar ayat itu saya merasa tersentuh dan dikuatkan."
Setelah itu, Tuhan pun membukakan sebuah pintu yang baru dalam hidup Reni. Saat ia mendengarkan radio, tidak sengaja ia menemukan saluran rohani. "Disana saya mendengarkan banyak kesaksian-kesaksian orang dan juga kesaksian orang tuna netra."
Siaran radio tersebut membawanya berkenalan dengan Yayasan Elsafan, lembaga yang menangani para penderita tuna netra. Tahun 2010, Reni pun bergabung dengan Yayasan Elsafan. Disana ia dibina dan masuk di kelas pengembangan diri hingga ia bisa menggunakan komputer melalui sistem suara dan belajar membaca dan menulis dengan huruf braile serta berjalan menggunakan tongkat.
"Disinilah saya merasakan kasih Tuhan yang luar biasa. Dan saya benar-benar menerima diri saya kembali. Dan disitu saya berpikir bahwa Tuhan itu ada dan dekat. Semenjak itu saya mulai berdoa sama Tuhan dan minta ampun sama Tuhan, karena saya sempat mempersalahkan Tuhan."
Bukan hanya mengalami pemulihan rohani dan mental, Reni pun mendapatkan inspirasi dan dukungan untuk melanjutkan pendidikannya kembali. Ia akhirnya mendaftarkan diri untuk kuliah ke sebuah perguruan tinggi.
"Saya berkuliah disekolah umum di perguruan tinggi jurusan pendidikan. Di kelas saya pakai alat perekam, jadi saya merekam setiap pelajaran yang disampaikan oleh dosen dan dirumah saya pindahkan ke laptop, seperti itu setiap hari dan puji Tuhan selama kurang lebih empat tahun."
Keluarga dan semua orang yang mengenal Reni secara pribadi melihat perubahan besar yang dialaminya merasa bangga akan pencapaiannya. Sekalipun kini ia tidak melihat, namun ia tetap bisa berkarya dan menjadi berkat. Bahkan sebentar lagi ia akan mendapatkan gelar sarjana dalam bidang pendidikan.
"Kalau saya sudah lulus sarjana saya akan lebih semangat lagi untuk berkarya dan bekerja dan melayani untuk kemuliaan Tuhan, karena saya merasa semua yang saya lakukan selama ini karena tuntunan Tuhan dan atas kebaikan dan kemurahan Tuhan. Ternyata benar bahwa segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku," demikian tutup Reni.
Sumber : Reni Marina (jawaban.com)

Rabu, 08 Juli 2015

CITA CITAKU KANDAS KARENA TIDAK ADA BIAYA

Menjadi Insinyur teknik adalah cita- cita Bongsu Simamora. Ayahnya sudah pergi meninggalkannya dan keluarganya karena perselingkuhan. Semenjak saat itu Bongsu harus hidup dalam ekonomi yang sangat terbatas. Ibunya sering ngutang di warung hanya untuk membeli beras. Demikian juga dengan sekolahnya, dirinya terancam tak bisa ikut ujian karena belum membayar uang sekolah selama 3 bulan.
Semenjak bermasalah dengan bayaran sekolahnya, Bongsu memilih untuk mencari uang di terminal. Dengan menjadi kenek dari kecil, maka ia memutuskan untuk menghabiskan masa kecilnya sampai besar di terminal. Suatu kali ia melihat preman yang mudah sekali mencari uang dengan cara memalak para pedagang kecil. Dalam hatinya terpetik memutuskan untuk mengikuti pekerjaan menjadi preman.
Setelah dewasa, Bongsu pun bekerja menjadi preman terminal. Tidak hanya itu saja, Bongsu juga sering mabuk-mabukan dan memakai ganja. Uang yang didapatnya setiap hari banyak, namun selalu habis karena untuk mabuk-mabukan. Meskipun memiliki uang banyak, namun Bongsu tidak pernah memberikan uang kepada keluarganya. Bahkan dia sering menjual barang-barang di rumahnya.
Suatu kali Bongsu mengalami over dosis narkoba, untung teman lamanya melihat dan membawanya ke rumah sakit. Meskipun sudah masuk rumah sakit, Bongsu belum juga bertobat, Dia masih kembali ke terminal. Namun, teman lamanya yang dahulu juga adalah seorang preman, tapi sudah bertobat tidak menyerah untuk mengajak Bongsu untuk ke gereja. Akhirnya hati Bongsu pun di jamah oleh Tuhan. Ketika di gereja, Bongsu menerima Yesus sebagai juru selamat dalam hidupnya. Dia sungguh merasakan, bahwa ada damai sejahtera yang sejati.
Setelah diselamatkan Tuhan, Bongsu pun menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Melayani ke panti-panti jompo dan memberikan motivasi-motivasi kepada mereka. Kini hidup Bongsu sudah diubahkan Tuhan, bahkan kini ia sangat mengasihi keluarganya, anak dan istrinya. Baginya Tuhan adalah penolong yang setia dan Raja Damai.
Sumber : Bongsu Simamora (JAWABAN.COM)

Sabtu, 04 Juli 2015

AYAH MEMBUATKU BENCI LAKI-LAKI

Roselly adalah gadis yang memendam rasa benci terhadap laki-laki sejak sang ayah pergi meninggalkan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Ia pun tumbuh besar di bawah didikan ibu yang kuat dan penuh tanggung jawab terhadap Roselly meski tanpa kehadiran ayahnya.
Sang ibu pun berjuang untuk tetap menjalani hidup melalui jasanya di bidang salon. Roselly tumbuh menjadi wanita yang mandiri, namum mempunyai kepahitan tersendiri terhadap sosok seorang lelaki. Hingga 15 tahun berlalu, sang ayah kembali lagi ke rumahnya.
Tentunya hal ini menimbulkan rasa yang lain di dalam diri Roselly. Dirinya sulit untuk menerima kehadiran sang ayah. "Meskipun aku cuma ditinggal, aku nggak pernah ngeliat dia, aku nggak pernah disakiti secara fisik, tapi cara pandang pola pikir aku tuh, jadi semua laki-laki pembohong dan nggak bertanggungjawab."
Sang ibu yang melihat situasi ini pun meyakinkan dirinya untuk dapat menerima ayahnya. Namun Roselly tetap sulit untuk membuka dirinya. Namun ketika dirinya melihat sikap dan hati sang ibu yang mau menerima sekaligus mengampuni sang ayah, membuatnya tersadar untuk berlaku baik. Akhirnya dirinya mulai membuka diri untuk berkomunikasi dan melakukan pendekatan dengan sang ayah.
Jelang ujian akhir semester, sang ayah jatuh sakit dan koma. Disaat itulah kesusahan hati dan beban yang terpendam selama ini diutarakan di saat ayahnya terbaring di rumah sakit. Pada momen itulah Roselly melepaskan pengampunan dan rasa bangga terhadap ayahnya. Hingga sang ayah tutup usia, Roselly telah merasakan pengampunan itu.
Pikiran dan sikapnya terhadap kaum lelaki yang dianggap sebagai pribadi yang tidak layak dan sumber ketidakharmonisan, berubah seketika dikala melihat perubahan yang terjadi di dalam diri ayahnya. "Aku baru tahu dan baru sadar kalau ternyata, kasih itu menutupi segala sesuatu."
Kasih pengampunan pun dialami oleh Roselly dan juga ibunya dalam menghadapi pergumulan ini. Segala sesuatu yang berjalan tidak begitu berkenan, pada akhirnya membawa berkat dan menjadi bagian hidup yang indah untuk keluarga mereka. "Inilah keluarga paling baik yang Tuhan pilihkan buat aku, kalo aku boleh terlahir dikeluarga ini pasti Tuhan punya rencana dan di keluarga ini aku banyak belajar dari figurnya mama dari figurnya papa yang berubah dan dari kakak-kakak ku yang lain juga."
Sumber Kesaksian:Roselly (jawaban.com)