Rabu, 28 Oktober 2015

AKU PENJUDI WANITA

Kadang Emma pergi jumat dan pulang hari senin tanpa membawa modal untuk berjualan, sehingga nasi yang sudah dimasak menunggu lauk terpaksa harus dibuang di rumah makan tersebut. Suaminya, Martahan Sibarani telah berusaha memberikan nasehat untukknya. Tapi karena watak Emma yang keras, sehingga setiap nasehat justru membuat pasangan itu bertengkar. Suami Emma akhirnya selalu menyerah dan membiarkannya pergi bermain judi karena dalam keadaan tidak terima ditegur, Emma bisa membanting barang-barang dalam rumah mereka.
Kebiasaan berjudi Emma mulai merambat ke kebiasaan meminjam uang sana sini, merokok dan juga minum minuman keras. Kadang ia juga pergi dengan teman-teman judinya ke klab malam dangdut untuk bergoyang. Intinya, semua keinginan dagingnya selalu diikuti dan dipuaskan.
Pada tahun 1996, terjadilah sebuah insiden yaitu terbakarnya wilayah tempat Emma berjualan. Dari 12 tempat makanan yang terbakarnya, rumah makan Emma satu-satunya yang selamat dari api. Selama 9 bulan ia berjualan sendirian di lokasi tersebut sampai petugas kota memutuskan untuk menjadikan lokasi dekat pelabuhan itu sebagai taman. Emma yang saat itu masih tetap memiliki kebiasaan berjudi dikejutkan oleh bulldozer yang tiba-tiba datang menghancurkan tempat usahanya. Ia berteriak meminta kegiatan itu dibatalkan namun usaha itu sia-sia belaka.
Ditengah kepanikan di siang hari itu, Emma lari meminta pertolongan kepada teman-teman judinya. Tapi kenyataan pahit yang harus diterima Emma. Tidak ada satupun dari mereka yang mau membantu Emma. Dalam kebingungan, Emma berjanji untuk tidak akan pernah lagi datang ke tempat berjudi itu.
Ia dan keluarganya kemudian pergi mencari tempat tinggal baru dan mendapat tampungan dari adikknya yang tinggal di daerah Pulomas. Di tempat barunya ia mulai merenungkan semua uang yang sudah ia hamburkan sia-sia. Ia sadar bahwa kini keadaannya yang tidak punya uang dan tidak punya rumah sungguh menyedihkan. Disitulah Emma mulai ingat kepada Tuhan. Ia berdoa minta Tuhan mengampuni semua dosa dan kesalahannya dan rindu Tuhan untuk menjamah hatinya.
Kerinduan itu mengantar Emma ke gereja. Pada hari minggu itu, ia bertekad untuk berjupa dengan Yesus.
Di gereja, kotbah pendeta seolah bicara langsung padanya. Firman itu menyatakan bahwa tidak peduli seseorang itu datang darimana, yang penting dia datang karena Kristus. Dan jika orang itu mau berseru, maka Tuhan akan mendengar. Emma merasa benar bahwa Firman itu untuknya. Ia tahu bahwa dalam hidupnya yang penuh kejahatan, belum pernah ia berserah pada Tuhan.
Emma mulai berdoa mengenai keinginan dagingnya yang selama ini membelenggu. Rokok dan judi yang mengikatnya ia akui dihadapan Tuhan. Dan Tuhan mendengar doa orang yang hancur hatinya. Di hari minggu itu Emma pulang sambil bersukacita karena Roh Kudus mulai bekerja dalam hatinya. Pertobatan itu berlangsung tahun 1996 akhir.
Beberapa waktu setelah itu, Emma mencari tempat untuk membangun kembali rumah makannya dan menemukan sebuah tempat yang bisa disewa bulanan. Suaminya memberanikan diri untuk meminjam 200 ribu dari seorang saudara. Ditengah bisnis yang mulai ia tempuh, seorang petugas pelabuhan tanpa sengaja melewati rumah makannya. Ternyata di daerah pelabuhan, sebuah tempat rumah makan baru saja dibangun dan petugas itu mengingat akan Emma. Dia menawarkan apakah Emma bersedia membuka kembali rumah makan didaerah pelabuhan.
Begitu Emma setuju, ia langsung ditempatkan di lokasi yang sangat strategis sehingga usahanya menjadi lancar. Tahun 1997, ia mendapat hikmat untuk mengambalikan semua uang yang pernah ia pinjam. Dan kini Emma tahu bahwa bahwa yang paling berharga dalam hidupnya ialah pada saat Yesus merangkul hidupnya, karena ketika dosanya hampir matang dan berbuahkan maut, merangkulnya kembali dan merubah seluruh hidupnya. Kini Emma mengakui dengan bibirnya bahwa Yesus adalah Tuhan yang hidup dan tanpa Yesus ia tak dapat berbuat apa-apa.
Untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan. Kisah Para Rasul 26:18
Sumber Kesaksian:
Emma Sibarani (jawaban.com)

Sabtu, 24 Oktober 2015

PENGAMPUNAN DI TENGAH PENGHIANATAN TIADA AKHIR

Bagaimana rasanya seorang wanita yang tengah hamil tua ditinggal pergi karena sang suami sudah kepincut dengan wanita lain? Dan yang lebih parah lagi, Masta akhirnya harus menghidupi delapan orang anaknya sendirian.

Hanya dalam satu kali pertemuan, Masta sudah terpikat dengan janji manis seorang pria. Tanpa pikir panjang, ia pun mengiyakan sebuah ajakan untuk kawin lari. Bagi orangtua Masta sendiri, kekecewaan menyelimuti hati mereka. Apalagi sebagai orangtua, mereka sama sekali tidak hadir dan dimintai restu terlebih dahulu. Mereka pun hanya dapat menangis menerima kenyataan ini.
Seperti membeli kucing dalam karung, Masta tak pernah menyangka sikap manis sang suami ternyata palsu. Setelah dua tahun bersama, sifat asli sang suami mulai terlihat. Masta selalu merasa curiga terhadap tingkah laku suaminya karena setiap malam ia tidak pernah pulang ke rumah. Dari adik ipar suaminyalah Masta mengetahui kalau suaminya memiliki rencana untuk menikah lagi. Masta sangat terpukul mendengar kabar itu. Apalagi kondisi Masta sendiri sedang hamil tua saat itu.
Rasa penasaran tiba-tiba membakar hati Masta. Pagi-pagi saat suaminya pulang, Masta diam-diam berniat datang ke rumah wanita yang hendak merebut suaminya. Tanpa diketahui Masta, suaminya ternyata mengikuti dirinya dari belakang. Namun setibanya di sana, wanita selingkuhan suaminya tidak ada di sana. Merasa dipermalukan, suami Masta langsung menyeret Masta pulang. Tidak hanya sampai di situ, pukulan dan tamparan pun diterima Masta yang sedang hamil besar. Bahkan suaminya dengan tegas bermaksud menceraikan Masta saat itu juga. Hati Masta sangat pedih namun ia hanya dapat menangis.
Campur tangan orangtua Masta mampu menyelesaikan permasalahan mereka untuk sementara waktu. Niat untuk menceraikan Masta pun urung dilakukan. Permintaan orangtua Masta yang menentang perceraian mampu meredam nafsu sang suami.
Kelahiran anak pertama mereka seakan menghapus segalanya. Keadaan itu bertahan sampai Masta dikaruniai lima orang anak. Sampai sebuah kabar dari Jakarta membuat Masta mengambil sebuah keputusan penting. Ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Mendengar kabar itu, anak-anak Masta menyambut dengan gembira. Padahal sebenarnya kabar buruklah yang Masta terima.
Masta menerima surat dari adik mertuanya yang tinggal di Jakarta dan mengatakan kalau suaminya ternyata suka main perempuan juga di sana. Kepindahan Masta dan anak-anaknya ke Jakarta menyusul suaminya tidak memperbaiki keadaan sama sekali. Seringkali Masta harus menerima perkataan-perkataan sinis yang penuh sindiran kepada dirinya. Suaminya sepertinya tidak menghargai keberadaan Masta dan anak-anaknya di sana. Sebagai seorang istri, Masta merasa menjadi istri yang tidak berharga bagi suaminya.
Untuk menambah penghasilan suaminya, Masta pun menjalankan usaha simpan pinjam. Dan dalam waktu satu setengah tahun, mereka sudah dapat memiliki rumah sendiri. Namun rumah itu tak bisa membawa kebahagiaan bagi Masta. Atas saran seorang saudara, rumah itu dijual untuk modal usaha.
Hingga sesuatu yang buruk pun terjadi. Salah satu anak mereka mengalami sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Semuanya terjadi begitu cepat. Sepeninggal anak mereka, suami Masta pun semakin frustrasi. Tidak hanya ditinggal mati salah seorang anak mereka, pekerjaan pun ia tidak punya sedangkan hasil penjualan rumah yang dijadikan modal usaha pun tidak menghasilkan apa-apa. Semuanya terbuang sia-sia.
Kejadian itu sangat berdampak kepada sifat suami Masta. Terkadang ia sangat memanjakan anak-anaknya, namun tak jarang ia menjadi sangat kasar. Saat sedang marah, apapun yang ada di tangannya akan dipakai untuk memukul anak-anaknya. Masta benar-benar tidak berani membela anak-anaknya saat suaminya sedang marah. Namun saat suaminya sudah selesai memukul anak-anaknya, barulah Masta berani menasehati suaminya. “Terlalu keras kamu bapak sama anak-anak kita. Nanti mereka bawa akar pahit dari kamu,” ujar Masta pada suaminya.
Entah apa yang dipikirkan suaminya. Saat Masta melahirkan anak kedelapan, suaminya tega meninggalkan Masta dan anak-anaknya tanpa kabar. Masta hanya dapat berlutut kepada Tuhan karena Masta melihat ketujuh anaknya dan seorang bayi yang baru lahir, ia tak tahu bagaimana caranya harus bertahan menghidupi kedelapan anaknya seorang diri tanpa pekerjaan yang tetap. Belum lagi anaknya yang baru lahir, bagaimana mungkin Masta tega meninggalkannya untuk mencari nafkah? Masta datang kepada Tuhan dan menyerahkan hidupnya dan kedelapan anaknya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan.
Tepat di saat keputusasaannya, seseorang datang menolong Masta. Hamba Tuhan ini menasehati Masta supaya semakin dekat kepada Tuhan dan Masta diarahkan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Setelah menerima Yesus, Masta terus dibimbing di gereja dan Masta semakin dapat melihat kuasa Tuhan yang luar biasa. Hamba Tuhan ini juga mengajarkan Masta untuk berani melakukan apapun demi menghidupi anak-anaknya.
Demi menghidupi anak-anaknya, harga diri dan peluh tak lagi Masta perdulikan. Namun Masta tak pernah menyangka apa yang akan dialami anak pertamanya, James, saat berniat mencari ayahnya yang tak pernah pulang ke Sumatera. Suatu peristiwa pahit telah menantinya. James melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya sedang bermesraan dengan wanita lain. Tak cukup sampai di situ, James harus mendapati kenyataan kalau sebenarnya ayahnya adalah seorang germo. Ia tidak hanya mencari wanita-wanita cantik untuk ditawarkan kepada para lelaki hidung belang, namun ia juga berzinah dengan para wanita itu.
Hal yang lebih menyakitkan lagi harus James terima saat ia mengajak ayahnya pulang. Dengan kasar ayahnya mengusir James untuk pergi, bahkan menyuruh James tidak lagi memanggilnya ayah, melainkan om. Di hadapan James dan para wanita itu, dengan lantang ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki istri dan juga anak. Sebelum James pulang, ayahnya sempat mengancamnya untuk tidak mengatakan hal ini kepada ibunya atau James akan ia bunuh!!
Takut akan ancaman ayahnya dan juga takut akan kemungkinan ibunya yang akan bunuh diri jika mengetahui keadaan ini, James pun menulis surat kepada ibunya dan mengatakan kalau ia tidak dapat menemukan ayahnya. Namun Masta tidak percaya, bahkan ia semakin penasaran. Kalau memang suaminya sudah meninggal, paling tidak ia harus tahu dimana suaminya telah meninggal. Masta pun memutuskan untuk pergi sendiri mencari suaminya. Masta pun pulang ke Siantar.
Namun di sana, Masta hanya bertemu dengan adik suaminya. Karena tidak percaya, sesaat setelah meninggalkan rumah itu, Masta pun kembali ke rumah adik iparnya. Dan benar, suaminya ternyata sudah berada di sana. Saat itulah suaminya mengaku kalau di Siantar ada teman wanitanya yang begitu baik kepadanya dan memberikan modal untuk membuka bar di sana. Namun ia tidak menggambarkan wanita itu lebih jauh, hanya menyebutnya sebagai pelayan, pelayan yang dapat memodali dirinya membuka bar di Siantar. Padahal dirinya adalah germo dari wanita itu. Suaminya pun berjanji akan mengikuti Masta kembali ke rumah.
Namun janji hanyalah tinggal janji. Baru beberapa bulan saja, suami Masta kembali pergi. Untuk kesekian kalinya, hati Masta terluka. Namun di tengah kekecewaan dan kesedihannya, Masta tak berhenti berdoa untuk suami dan anak-anaknya.
Di lain tempat, suami Masta yang berniat hendak menjual bar miliknya mengalami penipuan dan hidup layaknya seorang gelandangan. Sampai keputusasaan mengingatkannya akan keluarganya. Penyesalan pun mulai menyelimuti hatinya saat ia mengingat segala perbuatan yang dilakukannya terhadap Masta, istrinya dan juga anak-anaknya. Dalam keadaan sakit, ia pun memutuskan untuk pulang, kembali kepada keluarganya.
Saat itu Masta sedang tidak berada di rumah. Ia sedang pergi bersama James, anaknya. Setibanya di rumah, Masta dan James tentu saja sangat terkejut melihat kehadiran orang yang selama ini telah menyia-nyiakan hidup mereka. Masta hanya bisa bengong di luar rumah, tidak berani melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Namun James, anaknya, serta merta berteriak kegirangan dan langsung memeluk ayahnya. Hati Masta pun dipenuhi kegalauan. Satu sisi, hatinya luluh melihat sikap anaknya yang begitu bahagia dapat melihat ayahnya kembali. Namun di sisi lain, Masta merasa tak sanggup menghadapi suaminya mengingat penghinaan yang telah diterimanya selama ini. Masta pun berseru kepada Tuhan agar pengampunan-Nya bisa mengalir dan ia bisa mengampuni suaminya sekali lagi. Apapun yang dikatakan Masta saat itu kepada suaminya ditanggapi dengan kemauan yang serius dari sang suami. Awal pemulihan pun terjadi saat itu di keluarga mereka.
“Tuhan begitu luar biasa. Apapun yang terjadi, Dia selalu melihat kita sebagai anak-anak kesayangan-Nya,” ujar Masta di sela-sela kesaksiannya.
Namun setelah beberapa tahun berlalu, sebuah rahasia akan terkuak lewat pengakuan sang suami. Dalam keadaan sakit parah setelah serangan jantung yang hebat, James mencoba mengajak ayahnya berbicara dari hati ke hati. Ia meminta ayahnya untuk mengakui dosa yang selama ini belum pernah mereka ketahui karena James sendiri merasa kalau ayahnya masih menyimpan rahasia di antara mereka. Saat itulah, ayahnya mengakui kalau Monaris, keponakan Masta, adalah anak dari hasil hubungannya dengan adik kandung Masta. Bagaikan tertimpa langit, seketika itu juga Masta jatuh pingsan. Ia benar-benar tak menyangka suaminya sanggup melakukan hal itu kepada dirinya. Adik kandungnya sendiripun sanggup mengkhianati dirinya. Apalagi suaminya telah menyimpan rahasia ini selama puluhan tahun karena saat pengakuan itu terjadi, Monaris telah berusia 19 tahun.
“Tuhan, ampuni suami saya Tuhan. Karena saat itu saya sudah mengenal Tuhan, saya hanya bisa berkata ampuni suamiku Tuhan. Sudah berumur 19 tahun anak ini, baru suami saya membuka rahasia aib ini kepada saya. Saat itu saya pingsan. Saya tidak dapat menerima kenyataan ini lagi. Tapi saya mengambil keputusan untuk mengampuni suami saya dan menerima Monaris sebagai anak saya sendiri. Walaupun kenyataan ini sangat pahit, tapi pasti Tuhan akan membuatnya menjadi sukacita buat saya,” kisah Masta dengan penuh keharuan.
Pengampunan dan kesabaran Masta perlahan-lahan mengubahkan sikap sang suami. Dengan cinta dan kesabaran, Masta terus merawat suaminya yang saat itu mulai sakit-sakitan. Setelah mengalami sakit yang berkepanjangan, 1 November 2002 suami Masta pun dipangil Tuhan untuk selamanya. Beberapa tahun kemudian, Masta kembali menemui adiknya. Saat itu juga hubungan antara Masta dan adiknya dipulihkan.
Kasih Yesus telah memulihkan hati Masta dan adiknya. Hingga kini, Masta dan anak-anaknya tak lagi hidup dalam kekecewaan.
“Saya bangga sekali memiliki mama seperti mama saya. Dia selalu berdoa sama Tuhan, agar keluarganya bisa selalu bersama dan berbahagia sekalipun mama selama hidupnya selalu menderita. Kalau saya pribadi sih sebenarnya hanya mengharapkan agar keluarga saya rukun-rukun saja. Tetap sayang sama mama walaupun Tuhan hanya memberikan seorang mama di sisi kami,” ujar Delima Sondang Samosir, salah seorang anak perempuan Masta.
“Saya sangat mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena anak-anak saya tidak membawa akar pahit dari kelakuan ayahnya. Saya mendapat pertolongan hanya dari Tuhan Yesus sendiri. Tidak ada unsur yang lain, hanya Tuhan Yesus sendiri yang menolong kami sekeluarga. Tuhan itu sangat baik bagi keluarga kami,” ujar Masta menutup kesaksiannya.
Sumber Kesaksian:
Masta br Simanjuntak (jawaban.com)

Selasa, 20 Oktober 2015

PELUANG KEDUA YANG TUHAN BERIKAN KEPADA SAYA

25 julai 2007. 
Pada saat itu , saya bermimpi berdiri di padang pasir yang agak luas. Lalu saya melihat ada sebuah rumah kecil. Saya menjejakkan kaki kedalam rumah itu dan melihat nenek saya sedang menidurkan sepupu saya dalam buaian. Saya bertanya kepada nenek saya, ‘Eno , mana yang lain?’ Nenek saya menjawap, ‘beginilah saya jerry.’ Saya merasa pelik dengan jawapan itu. 
Dengan pantas , saya tersedar kembali berdiri di padang pasir yang luas itu. Saya melihat ada sebuah gunung yang sangat tinggi. Dari Gunung itu, turun sungai yang sangat jernih yang menjadi sempadan. Saya tersedar , saya berada dipihak orang2 yang memakai baju serba hitam. Dan disebelah sungai tersebut saya melihat orang2 yg memakai baju serba putih seperti sedang berdoa dan tenang. 
Keadaan orang yang memakai baju htam itu agak kucar kacir. Mereka menghasut2 saya agak terus bersama mereka. Tiba2 , seorang lelaki tua memakai baju putih menegur ku, lalu bertanyakan juka saya ada nombor tersebut. Saya kurang faham apa yang dimaksudkan dengan nombor itu lalu saya bertanya , ‘nombor apa?’ Lelaki tua itu terus menyeluk saku saya dan mengambil botol kecil yang berisi kertas nombor. Saya kurang jelas melihat wajah lelaki tua itu kerana wajahnya bersinar. 
Dia memberitahu ku , ‘Saya bagi kau kesempatan kedua’lalu Dia membuang botol itu kedalam sungai yang mengalir dari atas gunung itu. Saya bertanya, ‘Air ini dari mana?’ Dia menjawap, ‘air ini turun dari Surga. Rendamlah kaki mu dalam air ini’ 
Sungguh nyaman air tersebut. Lalu saya terjaga dari tidur dalam keadaan tercungap2 dan ketakutan. Sampai sekarang, saya terus berdoa kepada Tuhan agar menyelamatkan saya dari dosa. 
Saya sungguh2 mahu bertobat dan kembali kepada Tuhan Yesus. Sekarang saya sudah berumur 20 tahun. Terpujilah Tuhan Yesus! Terima kasih atas kebaikkan Mu Tuhan. Amen. 
Sesungguhnya tiada yang mustahil bagi Tuhan. Walau sejahat mana kita, Tuhan pasti mengampuni kita.Terima kasih Allah Bapa di Surga. 
Terima kasih kerana menjaga ku setiap waktu. Penuhilah dunia ini dengan kemuliaan Mu Tuhan! Kami merindui Engkau Tuhan, Kami merindui kasih Mu Yesus. 
Terima Kasih Ya Allah Bapa di SURGA. AMEN!
SUMBER : KISAHNYATAKRISTEN.COM

Jumat, 16 Oktober 2015

BERSAKSI BERSAMA AIDS

Bertumbuh merupakan proses yang berat bagi Herb Hall. Dia sering mengalami sakit sejak kecilnya. Pergaulannya dengan anak-anak seusianya dibatasai oleh orang tuanya yang merupakan Kristen yang taat. Akhirnya Herb Hall bertumbuh menjadi anak yang lemah dan banyak menerima penolakan. Tetapi seiring dengan bertumbuhnya Herb, mendapat penerimaan dari pria menjadi obsesinya.

Jika saya melihat kembali kehidupan saya, semua itu dimulai akibat luka dan penolakan yang saya alami selama bertahun-tahun. Itu betul-betul mempengaruhi hidup saya. Saya merasa nyaman bersama laki-laki karena saya merasa diterima oleh mereka. Saya dapat berteman dengan mereka. Laki-laki tidak pernah mentertawakan saya dan mereka tidak pernah mempermalukan saya. Mereka tidak pernah menolak saya seperti kaum wanita biasa memperlakukan saya. Hingga akhirnya saya melakukan kesalahan karena hubungan saya dengan sesama pria di usia saya yang ke 21 tahun.
Bertahun-tahun saya hidup dengan perasaan bersalah dan berkali-kali saya berpikir untuk mengakhiri hidup saya. Satu waktu saya pernah menelan satu botol pil sekaligus, saya sudah ingin mati. Namun keinginan ini gagal. Ibu saya menerima telepon yang ternyata untuk saya, dia kemudian masuk ke kamar, menemukan saya tidak sadarkan diri. Ia membaca surat yang saya tulis dan melihat botol pil yang kosong. Ibu saya menelepon paramedis dan nyawa saya diselamatkan.
Pada saat di rumah sakit, Herb menerima kunjungan dari pendeta gembala gerejanya. Itu merupakan pertemuan dramatis yang merubah hidupnya.
Pendeta saya mengatakan bahwa dia mungkin tidak tahu masalah yang menimpa saya, dia tidak tahu apa yang membuat saya kecewa. Pendeta saya mengakui bahwa dia tidak dapat mengetahui cobaan apa yang sedang saya hadapi. Namun dalam semuanya dia menekankan bahwa ada pribadi yang mengasihi dan sanggup memelihara hidup saya dari berbagai masalah, dialah Kristus Yesus. Akhirnya saya menceritakan semua masalah beban masa lalu yang saya derita pada pendeta saya tersebut.
Saya merasakan suatu kelegaan dan kelepasan yang luar biasa setelah menceritakan semua hal itu. Saya terkejut karena pendeta gembala itu tidak pernah menolak saya. Setelah peristiwa ini saya mengambil keputusan untuk melakukan pemulihan. Selama tiga tahun saya harus melewati pemulihan ini dengan doa, konseling dan penuh perjuangan. Tadinya saya pikir hanya dengan semalam saya bisa melewati hal ini namun ternyata saya menghadapi semuanya dengan perjuanagn yang berat. Dan setelah tiga tahun saya merasakan Tuhan telah benar-benar menyembuhkan saya.
Setelah beberapa tahun kemudian Herb bertemu dan jatuh cinta dengan seorang wanita dari gerejanya. Pada waktu ia hendak menikahinya, Herb memutuskan untuk memeriksakan dirinya agar dia yakin bahwa dia telah bebas dari virus HIV.
Pada waktu saya akan memeriksakan diri, saya berkata dalam hati bahwa ini hanyalah tindakan untuk berjaga-jaga. Saya yakin sebagai orang Kristen maka saya tidak akan terkena virus HIV atau AIDS. Saya percaya hasil yang didapatkan adalah negatif. Namun saat suster datang dan memberitakan kabar yang menyedihkan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan hasil positif. Saya sempat menolak dan meminta untuk test ulang, namun perawat ini mengatakan bahwa test yang dilakukan merupakan test terbaik. Saya divonis terkena virus HIV+ dan harus kehilangan impian untuk menikahi gadis yang saya kasihi.
Hari itu saya pulang dengan putus asa, saya keluar dari mobil dan menemui ibu saya, saya menangis. Saya juga harus menceritakan pada calon pengantin saya bahwa saya terinfeksi HIV, tidak bisa menikah dan tidak bisa punya anak. Kami berdua menangis namun dia mengatakan apapun yang terjadi dia akan tetap menjadi sahabat saya dan bersedia mendukung saya. Setelah 4 tahun berlalu ternyata dia tetap ada didekat saya. Kami masih sering bersama, makan malam bersama, dia mengasihi saya walau kami tidak dapat menikah.
Waktu terus berlalu, walau Herb telah memberikan hatinya bagi Tuhan Yesus, tekanan hidup yang dia alami semakin berat sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya
Saat itu saya sepertinya tidak kuat lagi dengan semua beban yang ada. Saya mau menaruh pistol di kepala dan menembak otak saya. Saya tidak mau orang mengenali identitas saya dan mereka menelpon polisi, jadi saya mengendarai mobil dan saya memasuki jalan tol. Namun saat saya mengendarai mobil di jalan tol tersebut, Tuhan berbicara kepada saya seperti yang tidak pernah dilakukanNya. “Herb kapan kamu mau percaya bahwa Aku akan memakai hidupmu?”, “Kapan kamu percaya bahwa Aku sudah mengampuni dosamu?”, “Kapan kamu mau memberikan 100 persen hidupmu bagiKu?” demikian tanya Tuhan.
Suara Tuhan menyadarkan Herb. Setelah Herb mendengar Tuhan berbicara kepadanya, dia kemudian menghubungi adiknya. Herb katakan padanya bahwa dia akan memeriksakan diri pada dokter. Itu merupakan waktu yang menentukan bagi Herb dan ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya pada Tuhan. Hasil test yang dilakukan dokter sungguh mengejutkan Herb, kekebalan tubuh Herb telah sangat menurun dan dokter mengatakan bahwa umur hidup Herb tidak akan lama lagi. Herb akan segera meninggal.
Namun hari ini Herb bagaikan “mujizat berjalan”. Telah 11 tahun berlalu sejak ia terkena AIDS dan vonis dokter diberikan, Herb masih hidup.
Saya melihat setiap hari sebagai bentuk kasih karunia Tuhan yang besar bagi saya. Perubahan yang terbesar ialah ketika saya mulai menyadari bahwa bila saya mati dalam waktu satu tahun seperti yang pernah dokter katakan maka saya akan ada bersama Tuhan. Namun bila saya diijinkan hidup maka saya punya kesempatan untuk memberitakan kabar baik. Saya menyadari bahwa saya menjadi seorang pemenang dalam semua keadaan.
Tuhan ternyata punya rencana besar bagi Herb. Tahun 91 Herb bertemu dengan pendeta Bruce Sanumber. Bruce mengundang Herb untuk bergabung dalam kelompok peduli AIDS di gerejanya. Kelompok ini mulai bekerja dari melayani penderita AIDS di California lalu kemudian berkembang menjadi pelayanan internasional yang bernama “DIA MENGHENDAKI KEMENANGAN”. Sebagai anggota pelayanan ini, Herb Hall memberitakan pengalaman hidupnya dan menguatkan para penderita AIDS di seluruh dunia. Saat ini pelayanan ini telah mempunyai cabang bahkan sampai Malaysia, Thailand, Singapura hingga Vietnam.
Saya juga baru berkunjung ke Australia, Afrika, Inggris dan kepulauan Utara untuk menguatkan banyak orang. Bagi saya ini merupakan hal yang luar biasa. Tuhan dapat memakai saya, orang yang penuh kegagalan dengan masa lalu yang kelam untuk menjadi kesaksian bagi banyak orang betapa Tuhan mengasihi mereka.
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. (Yesaya 43:4) “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”(Yesaya 49:6)
Sumber Kesaksian:
Herb Hall (jawaban.com)

Senin, 12 Oktober 2015

KISAH ANNE

Kisah Anne

Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup beberapa lama tetapi belum mepunyai keturunan.
Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI,karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi.

Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehinggapasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikutbersukacita dengan mereka. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan perempuan.Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2 nya.

Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. "Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur yenyak", kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.

Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayimereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain ?

Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya,mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri.

Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne , mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi.

Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tidakada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne ),mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka,mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka.

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne . Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam.....
Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor tsb berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian. Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya...

Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :
1. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.

2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagi orang lain.

3. Ibu Anne mengatakan "Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan.Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga".

Kamis, 08 Oktober 2015


Mukjizat Terjadi ( Pungky " Orang Gila " Disembuhkan Tuhan

Ketamakan dan keinginan untuk menjadi lebih kaya, seringkali bisa menjerumuskan seseorang. Hal inilah yang dialami oleh Pungky Yahya, ketamakannya akan kekayaan membuatnya berujung pada penyakit jiwa atau gila. Berawal dengan ketidakpuasan atas penghasilannya, Pungky mencoba peruntungannya di bisnis perjudian.

"Jadi ada beberapa bandar judi dari Medan datang ke Bandung minta tolong sama saya. Karena saya punya hubungan yang kuat di Bandung ini, bos-bos itu minta saya jadi pengelolanya, jadi bagi keuntungan. Berawal dari kecil-kecilan, dari cuma 20 mesin, 50 mesin, 70 mesin sampai ratusan mesin bahkan sampai 1000 mesin," demikian cerita Pungky mengisahkan awal kehancuran hidupnya.

Bagi Pungky saat itu, judi dan narkoba seakan menjadi jantung kehidupannya. Namun bisnis haram tersebut akhirnya mulai tercium oleh aparat kepolisian.

" Saya sudah curiga kalau saya itu mau dijebak. Anak buah saya juga sudah curiga kalau ada oknum kepolisian yang mau menjebak saya. Dari narkoba tidak terbukti, akhirnya lari ke masalah perjudian. Tempat perjudian saya di acak-acak."

Pungky ditangkap di lokasi perjudiannya, namun dia tidak bisa terima atas tindakan polisi tersebut. Saat itu Pungky protes, "Saya ditangkap atas dasar apa?!! Mereka juga tidak bisa menjawab, pokoknya saya ditangkap dan dibawa ke Polwiltabes waktu itu, bersama adik saya dan keluarga saya yang lain."

Pungky harus menelan pil pahit akibat perbuatannya itu, ia harus mendekam di balik jeruji besi. Saat kasusnya diajukan ke pengadilan, Pungky melampiaskan kekesalannya kepada aparat penegak hukum.

" Pada saat itu ketua pengadilan negerinya itu kenal baik sama saya, karena saya sering berurusan sama polisi, sering dihukum sama dia. Sehingga pada saat saya diperhadapkan dalam persidangan, dia itu bilang ‘kamu lagi..kamu lagi..' Lalu saya tanya, ‘Pengadilan ini bagaimana? Saya kok dijerumusin. Kenapa yang lain ngga ditangkap? Kuncinya, kenapa saya yang dikorbanin? Kalau mau dikorbanin, ok.. tapi yang lain harus ditangkap. Saya siap dengan hukuman seumur hidup juga. Liat saja sidang berikutnya nanti. Kalau sampai saingan saya diluar tidak ditangkap, saya akan bikin ulah.' Dia menjawab, ‘oo...berani kamu?' Saya jawab, ‘Berani!' Minggu depannya saya buktikan, waktu sidang itu saya marah-marah. Saya ambil kursi, saya bantingin ke meja sidang. Saya ambil pembatas sidang, saya patahin, saya ancurin, baloknya saya lemparin ke muka hakim, ke jaksa... 

Pokoknya hari itu jadi heboh, dan ruang sidang itu hancur. Saya diringkus dan dijebloskan ke penjara. Dan perkaranya bertambah, perkaranya jadi perusakan barang-barang peradilan dan penghinaan peradilan. Karena itu saya berpikir sudah sudah berakhir kehidupan saya. Ujung-ujungnya pasti hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup. Saya sudah putus pengharapan, benar-benar sudah tidak ada jalan keluar untuk hidup saya."

Saat hukuman dijatuhkan dan Pungky harus menjalani hari-harinya dipenjara, hatinya dipenuhi dendam terhadap para saingannya.

"Benar-benar saya ingin balas dendam. Saya iangin bunuh semua orang itu. Bahkan sewaktu dipenjara, saya tulis nama-nama orang yang akan jadi target operasi saya. Saya tulis dan berkata kalau saya pulang nanti saya akan buat perhitungan."

Namun masalah Pungky bukan hanya dendam dan sakit hati yang dia rasakan. Di penjara yang sempit dan pengap itu, kekuatiran dan ketakutan juga menghantui hidup Pungky.

"Saya benar-benar stress berat. Teman-teman saya ninggalin, keluarga juga harus tetap dibiayai, tapi saya juga tidak tahu harus gimana. Hutang saya juga dimana-mana dan banyak. Selain itu keluarga sepertinya kecewa, sehingga mereka seperti tidak mau mengakui dan tidak mendukung keberadaan saya. Saya jadi seperti merasa kesepian. Dengan problem begitu banyak, saya rasanya tidak sanggup menghadapinya. Saya tidak sanggup lagi secara manusia, lebih baik mati."

Hidup tidak lagi menjadi tujuan bagi Pungky, harapannya yang hampa membuatnya lebih memilih jalan menuju maut.

"Saya sering minum pil, pernah minum pil epilepsi yang jumlahnya ratusan, saya ingin menghilangkan rasa sakit dan ingin bunuh diri. Tapi saya lolos juga, saya tidak sampai mati."

Menyadari bahwa pil-pil itu tidak membunuhnya, Pungky mencoba jalan lain untuk mengakhiri hidupnya.

"Berulang-ulang minum saya minum racun, ingin mati. Tapi sepertinya Tuhan tidak ijinkan. Jadi saya malu sendiri. Saya juga bingung, saya ini punya kekebalan apa, kok saya tidak mati-mati? Pada saat itu yang saya pikirkan ini hidup saya dipenjara, inilah pilihan saya, tidak mungkin saya bisa keluar dari penjara."

Sungguh keadaan itu menjadikan membuat jiwa dan raga Pungky tersiksa. Narkoba pun akhirnya menjadi jawaban atas kegalauan hatinya, yang berlahan-lahan melumpuhkan akal sehatnya.

"Karena saya itu konsumsi narkoba cukup banyak, kalau orang lain make ekstasi satu, saya bisa dua belas, bisa dua puluh. Hal itu mernyebabkan saya mengalami halusinasi dan paranoid. Jadi saya tidak bisa bergaul dengan orang. Karena saya liat lampu seperti liat polisi. Liat pintu seperti seperti liat orang yang mau pukul saya. Sehingga saya itu banyak ngomong sendiri, saya nangis sendiri, kadang tertawa sendiri. Jadi orang menganggap saya sudah gila."

Kondisi Pungky semakin tidak stabil, terkadang Pungky pun berperilaku abnormal.
"Kondisi saya waktu ngga normal itu sering aneh-aneh. Makan rumput, makan tanah, minum air selokan. Kadang-kadang kotoran-kotoran saya kumpulin saya makan. Pada saat itu saya bingung, saya ngga ngerti. Tapi waktu ada yang memberi tahu saya, saya baru sadar, dan bertanya ‘kenapa begitu?' Hal itu membuat saya menyadari bahwa saya tidak normal, tidak normalnya 90% dan normalnya hanya 10%. Pada saat itu saya tidak punya pengharapan lagi untuk bisa hidup normal, sehingga saya jalani saja kehidupan penjara begitu saja."

Berkat bantuan temannya, Pungky pun dibebaskan dari penjara. Dalam kondisi belum pulih benar, Pungky kembali terperosok dalam dunia narkoba.

"Pada saat keluar penjara, saya bukannya tambah baik, saya tambah gila. Saya gabung lagi dengan anak-anak narkoba, saya pake lagi. Akhirnya saya terjerumus lagi makin dalem, saya makin kongslet."

Kondisi mental Pungky semakin memburuk, ulahnya membuat para tetangganya sering ketakutan.

"Kalau saya stress, sebenarnya tetangga tidak mencela atau menghina saya, tapi saya merasa mereka menghina saya. Saya keluar marah-marah sambil bawa parang. Pos hansip itu saya obrak-abrik, setiap rumah saya gedor-gedor. Sehingga pada waktu itu di lingkungan rumah mama saya ketakutan. RT, RW, lurah, camat, dan hansip ketakutan, ada orang gila dari mana. Sampai berapa kali saya juga di grebek sama polisi, tapi mereka juga maklum, mereka bilang, ‘Ini mah China gelo. Udah aja.. biarin aja..'"

Sungguh tragis nasib Pungky, saat raganya mengalami kebebasan. Namun jiwanya terperangkap dalam kegelapan.

"Saya keluar dari penjara seperti orang yang hidup sendirian. Ngga ada yang peduli dengan saya, mereka jijik bergaul dengan saya. Keluarga juga stress dengan keadaan saya, mereka juga malu dengan keadaan saya. Bagi mereka tidak mungkin saya bisa sembuh. Ngga mungkin saya bisa bertobat dan pulih, hal itu mungkin ngga pernah terpikirkan sama mereka."

Saat tidak ada lagi yang memperhatikan keberadaan Pungky, narkoba terus merusak kehidupannya. Namun tiba-tiba seorang teman datang, dan membawa Pungky keluar dari tempat itu.

"Saya lagi nyabu dan waktu itu tiba-tiba Aan datang dan ngajak saya ke Tasik, untuk diobatain. Saya mau aja ngikutin dia. Akhirnya Aan mengajak saya ke gereja, dan disana saya didoakan. Disana saya merasakan di jamah Tuhan. Saat itu saya baru mengerti, saya itu butuh Tuhan. ‘Carilah Tuhan, maka kamu akan hidup,' demikian katanya. Saya merasa kalau saya itu diujung kematian, mulai saya tertarik untuk mempelajari siapa itu Yesus. Kalau lagi normal, saya itu semangat sekali. Saya merasakan benar-benar sukacita. Namun semua itu belum tuntas, prosesnya itu butuh waktu."

Walau tingkat kesadarannya masih mengalami pasang surut, namun dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Pungky menginginkan suatu perubahan terjadi dalam hidupnya.

"Beberapa bulan kemudian, saya mulai normal lagi. Saya merasa, aduh hidup saya kalau terus-terusan seperti ini, kayanya tidak ada artinya. Saya pulang kerumah, saya minta maaf sama mama saya, saya minta maaf sama kakak saya, saya minta maaf sama adik-adik saya. Mulai saat itu saya merasakan sesuatu yang aneh, lihat gambar Yesus saya nangis. Foto Yesus saya peluk, saya nangis. Saya dikamar nangis minta ampun, saya minta Tuhan bisa ampunin saya, karena saya merasa dosa saya banyak. Saya banyak menyendiri, dengerin kaset. Adik saya kasih buku rohani buat saya baca. Saya denger pujian sepanjang hari, nangis minta ampun sama Tuhan. Saya ingin keluar dari kehidupan seperti itu . Tuhan lihat hati saya, lihat kerinduan saya yang benar-benar mencari wajahnya, sehingga waktu itu dari tahun ke tahun saya dipulihkan dengan luar biasa." 

Dalam keadaan yang belum pulih total, Pungky mengikuti suatu pelajaran di sebuah institusi. Dan di tempat itulah Pungky mengalami suatu mukjizat.

"Seperti ada aliran yang menjamah pikiran saya. Dari yang sebelumnya beku, saya jadi normal. Saya langsung makin semangat, saya menggebu-gebu dan yakin kalau saya sudah diampuni dosanya. Saya dipulihkan."

Mengingat semua hal yang pernah terjadi dalam hidupnya, Pungky sangat mengucap syukur.

"Saya benar-benar sangat mengucap syukur dan berterima kasih pada Tuhan Yesus yang telah mengampuni saya, yang mengasihi saya, yang mempersiapkan hidup yang baik, hidup yang berkenan, sehingga saya bisa menjadi saksi, saya bisa jadi alat, saya bisa membawa banyak orang datang kepada Tuhan lewat kesaksian hidup saya yang begitu buruk."

Berkat kuasa Tuhan yang begitu ajaib, Pungky bisa hidup dengan normal. Dan Pungky telah membuat sebuah keputusan penting dalam hidupnya.

" Kalau dulu saya jadi ujung tombak iblis, sekarang saya adalah ciptaan baru, saya ingin jadi ujung tombak dari Tuhan Yesus. Kurang lebih saya ingin balas dendam, kalau dulu saya meracuni generasi dengan narkoba dan judi, hari ini setelah saya ditebus Tuhan, saya ingin buat mereka kembali ke jalan Tuhan. Kalau saya dipanggil Tuhan dan diampuninya. Saya percaya semua orang di dunia ini juga butuh Tuhan Yesus."

Hari ini Pungky Yahya menjadi salah seorang pendiri panti rehabilitasi Pondok Anugrah, tempat menampung para penderita gangguan jiwa. Ditempat itu banyak terjadi banyak mukjizat, dimana orang-orang yang berlatar belakang sama sepertinya disembuhkan.
(kisah ini ditayangkan 8 April 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel)
Sumber Kesaksian:Pungky Yahya

Posted by WANDI at 8:07 PM (nevergiveup-all.blogspot.com)

Minggu, 04 Oktober 2015


Karena Dendam, Novita Rela Gadaikan Nyawa Pada Dukun

Di masa kecilnya, Novita mengalami kerasnya hidup dalam kemiskinan. Ia dititipkan oleh orangtuanya pada seorang kerabat agar bisa tetap bersekolah, namun ternyata disana ia merasakan pengalaman yang sangat pahit.

“Saya ditaruh di Tasik, disana saya diperlakukan dengan semena-mena dan kasar sekali. Saya harus mikulin air yang jaraknya satu kilo dari rumah, juga cuci piring dan kalau terlambat sedikit saja langsung ditendang. Duh.. saya dendam sekali. Sakit hati sekali kalau ingat peristiwa itu.”

Penderitaan demi penderitaan terus membayangi hidup Novita, bahkan dalam pernikahannya ia mengalami siksaan dari sang suami.

“Suami saya itu orangnya kasar, selama saya nikah sering dianiaya sama suami saya. Di pukul, ditendang, tetapi itu mungkin karena saya terlalu cerewet juga. Suami saya itu orangnya kaku dan jarang bicara, jadi masalah apa-apa dijawabnya dengan pukul. Bahkan kepala saya pernah dibentur-benturin ke tembok karena masalah sepele.”

Menyesal, itulah yang muncul dalam hati Novita tentang pernikahannya. Pria yang ia nikahi ternyata seorang yang sadis. Dendam, sakit hati dan trauma membuat diri Novita berubah.

“Dapat uang dari suami, saya langsung pergi. Main, bergaul dan juga merokok, saya merasa bahagia dengan melakukan semua itu. Saya bahagia karena merasa dihargai disitu. Disanalah ada teman yang memberitahu saya, ‘Nov, ke dukun yuk.. Biar suami kamu baik.’”
Disitulah Novita mulai masuk dalam dunia perdukunan, mulai dari pasang susuk dan melakukan berbagai ritual ia jalani untuk menaklukan hati suaminya.

“Tujuannya supaya suami sayang sama saya, supaya orang menghormati saya. Akhirnya benar, suami saya jadi ngga pernah mukul, dan jadi baik. Tapi kok lama-lama dia malah jadi kaya bloon. Bloonnya ya, kalau saya pulang malam, dia ngga pernah marah.”

Namun keberhasilannya menaklukan suaminya tidak membuat Novita puas. Ia mulai berpetualang menaklukan hati berbagai pria untuk memuaskan rasa sakit hatinya.

“Saya Cuma senang di hargai, senang dia suka sama saya, tapi habis itu klo dia sudah suka, saya tinggalin. Dengan saya berbuat itu, saya merasa puas. Terus terang saya lakukan itu karena dendam sama suami saya.”

Sekalipun permainannya di luar sudah terendus oleh suaminya, Novita seperti tak gentar. Ia malah makin dalam terjerumus dalam perdukunan. Tetapi tanpa ia sadari, apa yang ia lakukan membuat dia menggadaikan nyawanya pada setan.

“Suatu waktu kepala saya pusing, saya pikir sakitnya cuma pusing-pusing begitu aja, tapi akhirnya ngga sadar dan saya dibawa ke rumah sakit.”

Selama tiga hari Novita terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma. Setelah beberapa hari tidak ada perubahan, suami Novita memindahkannya ke rumah sakit lain. Disanalah sebuah fakta mengejutkan disampaikan oleh dokter yang menanganinya.

“Ternyata serabut-serabut diotaknya sudah rusak, sudah tidak bekerja lagi. Selain itu tensinya juga sudah 40/0,” ungkap Yopie, suami Novita. “Dokter bilang bahwa ini sudah ngga bisa tertolong lagi.”

Saat itu nyawa Novita sudah berada di ujung tanduk, suami dan adik-adiknya sudah berkumpul dan menangis mengelilinginya.

“Waktu itu sebelah saya ada orang yang meninggal, saya lihat dia bangun. Dia ngajakin saya, ‘Bu, sini bu. Ikut saya..’ Dalam koma itu saya bilang, ‘Ngga, kamu sudah mati, tapi saya belum mati.’”

Saat hampir putus pengharapan itu, Yopie memohon pertolong pada Tuhan dan berdoa, “Tuhan, kalau Tuhan sayang sama saya dan istri saya, tolong pulihkan istri saya. Sembukan istri saya.”

Namun saat Yopie sedang berdoa, Novita sedang dalam sebuah perjalanan spiritual yang tidak pernah ia akan lupakan.

“Saat itu saya seperti dibawa ke suatu tempat, saya lihat seperti sumur Lapindo, kaya air mendidih, tapi disana keluar kepala-kepala orang. Lalu saya bilang, “Tuhan, saya haus.. saya haus..’ Lalu dijawab, ‘Ya udah, kamu pulang aja dulu. Selamatkan anak kamu, suami kamu. Lalu saya kebangun, saya langsung minta makan. Lapar…” tutur Novita.

Novita tiba-tiba tersadar dari komanya. Setelah menjalani pemeriksaan ulang, ternyata hasilnya begitu mencengangkan dan diluar akal sehat manusia.

“Ternyata otak-otaknya menyusun ulang kembali. Mata saya juga masuk lagi. Dokter juga bilang kalau ini mukjizat, ini pertolongan Tuhan.”

Peristiwa itu mengubah total kehidupan Novita, ia dengan rendah hati datang kepada Tuhan dan mengakui semua dosa-dosanya.

“Saya ingat semua dosa-dosa yang saya lakukan, mulai dari perselingkuhan hingga minuman dan rokok. Soal ke dukun… pokoknya segala macam yang saya lakukan membuat perasaan saya tidak karu-karuan. Saya merasa kotor, tidak ada artinya, saya ini sampah! Kayak gitu lah… Untuk menyebut nama Tuhan aja saya merasa ngga layak. Tapi saya sadar kalau Tuhan sayang sama saya. Tuhan ngga biarin saya. Tidak meninggalkan saya. Saya Cuma bisa nangis dihadapan Tuhan dan bilang, ‘Halleluya, puji Tuhan.. terima kasih Tuhan..’”

Pertobatan Novita tidah hanya berhenti disitu, ia pun memberanikan diri mengakui semua yang telah ia lakukan kepada suaminya.

“Saya kaget,” ungkap Yopie. “Untung sekarang ngakunya. Kalau dulu, laki-laki dan perempuannya sudah saya dor.. Tapi karena saya sudah janji sama Tuhan, saya harus punya kasih lah.. yang udah, udah…”

Sejak saat itu, ada pemulihan dalam rumah tangga Novita. Kebahagiaan yang dulu dicarinya dengan berbagai cara, ternyata ada di dalam Yesus Kristus.

“Tuhan Yesus itu baik buat saya, sangat baik bahkan. Pokoknya Dia tidak ada duanya deh…” demikian Novita mengungkapkan syukurnya pada Tuhan.(Kisah ini ditayangkan 28 Januari 2011 dalam acara Solusi Life di O'Channel)

Sumber Kesaksian:
Novita Pessak

Posted by WANDI at 7:19 PM (nevergiveup-all.blogspot.com)