Jumat, 16 Oktober 2015

BERSAKSI BERSAMA AIDS

Bertumbuh merupakan proses yang berat bagi Herb Hall. Dia sering mengalami sakit sejak kecilnya. Pergaulannya dengan anak-anak seusianya dibatasai oleh orang tuanya yang merupakan Kristen yang taat. Akhirnya Herb Hall bertumbuh menjadi anak yang lemah dan banyak menerima penolakan. Tetapi seiring dengan bertumbuhnya Herb, mendapat penerimaan dari pria menjadi obsesinya.

Jika saya melihat kembali kehidupan saya, semua itu dimulai akibat luka dan penolakan yang saya alami selama bertahun-tahun. Itu betul-betul mempengaruhi hidup saya. Saya merasa nyaman bersama laki-laki karena saya merasa diterima oleh mereka. Saya dapat berteman dengan mereka. Laki-laki tidak pernah mentertawakan saya dan mereka tidak pernah mempermalukan saya. Mereka tidak pernah menolak saya seperti kaum wanita biasa memperlakukan saya. Hingga akhirnya saya melakukan kesalahan karena hubungan saya dengan sesama pria di usia saya yang ke 21 tahun.
Bertahun-tahun saya hidup dengan perasaan bersalah dan berkali-kali saya berpikir untuk mengakhiri hidup saya. Satu waktu saya pernah menelan satu botol pil sekaligus, saya sudah ingin mati. Namun keinginan ini gagal. Ibu saya menerima telepon yang ternyata untuk saya, dia kemudian masuk ke kamar, menemukan saya tidak sadarkan diri. Ia membaca surat yang saya tulis dan melihat botol pil yang kosong. Ibu saya menelepon paramedis dan nyawa saya diselamatkan.
Pada saat di rumah sakit, Herb menerima kunjungan dari pendeta gembala gerejanya. Itu merupakan pertemuan dramatis yang merubah hidupnya.
Pendeta saya mengatakan bahwa dia mungkin tidak tahu masalah yang menimpa saya, dia tidak tahu apa yang membuat saya kecewa. Pendeta saya mengakui bahwa dia tidak dapat mengetahui cobaan apa yang sedang saya hadapi. Namun dalam semuanya dia menekankan bahwa ada pribadi yang mengasihi dan sanggup memelihara hidup saya dari berbagai masalah, dialah Kristus Yesus. Akhirnya saya menceritakan semua masalah beban masa lalu yang saya derita pada pendeta saya tersebut.
Saya merasakan suatu kelegaan dan kelepasan yang luar biasa setelah menceritakan semua hal itu. Saya terkejut karena pendeta gembala itu tidak pernah menolak saya. Setelah peristiwa ini saya mengambil keputusan untuk melakukan pemulihan. Selama tiga tahun saya harus melewati pemulihan ini dengan doa, konseling dan penuh perjuangan. Tadinya saya pikir hanya dengan semalam saya bisa melewati hal ini namun ternyata saya menghadapi semuanya dengan perjuanagn yang berat. Dan setelah tiga tahun saya merasakan Tuhan telah benar-benar menyembuhkan saya.
Setelah beberapa tahun kemudian Herb bertemu dan jatuh cinta dengan seorang wanita dari gerejanya. Pada waktu ia hendak menikahinya, Herb memutuskan untuk memeriksakan dirinya agar dia yakin bahwa dia telah bebas dari virus HIV.
Pada waktu saya akan memeriksakan diri, saya berkata dalam hati bahwa ini hanyalah tindakan untuk berjaga-jaga. Saya yakin sebagai orang Kristen maka saya tidak akan terkena virus HIV atau AIDS. Saya percaya hasil yang didapatkan adalah negatif. Namun saat suster datang dan memberitakan kabar yang menyedihkan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan hasil positif. Saya sempat menolak dan meminta untuk test ulang, namun perawat ini mengatakan bahwa test yang dilakukan merupakan test terbaik. Saya divonis terkena virus HIV+ dan harus kehilangan impian untuk menikahi gadis yang saya kasihi.
Hari itu saya pulang dengan putus asa, saya keluar dari mobil dan menemui ibu saya, saya menangis. Saya juga harus menceritakan pada calon pengantin saya bahwa saya terinfeksi HIV, tidak bisa menikah dan tidak bisa punya anak. Kami berdua menangis namun dia mengatakan apapun yang terjadi dia akan tetap menjadi sahabat saya dan bersedia mendukung saya. Setelah 4 tahun berlalu ternyata dia tetap ada didekat saya. Kami masih sering bersama, makan malam bersama, dia mengasihi saya walau kami tidak dapat menikah.
Waktu terus berlalu, walau Herb telah memberikan hatinya bagi Tuhan Yesus, tekanan hidup yang dia alami semakin berat sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya
Saat itu saya sepertinya tidak kuat lagi dengan semua beban yang ada. Saya mau menaruh pistol di kepala dan menembak otak saya. Saya tidak mau orang mengenali identitas saya dan mereka menelpon polisi, jadi saya mengendarai mobil dan saya memasuki jalan tol. Namun saat saya mengendarai mobil di jalan tol tersebut, Tuhan berbicara kepada saya seperti yang tidak pernah dilakukanNya. “Herb kapan kamu mau percaya bahwa Aku akan memakai hidupmu?”, “Kapan kamu percaya bahwa Aku sudah mengampuni dosamu?”, “Kapan kamu mau memberikan 100 persen hidupmu bagiKu?” demikian tanya Tuhan.
Suara Tuhan menyadarkan Herb. Setelah Herb mendengar Tuhan berbicara kepadanya, dia kemudian menghubungi adiknya. Herb katakan padanya bahwa dia akan memeriksakan diri pada dokter. Itu merupakan waktu yang menentukan bagi Herb dan ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya pada Tuhan. Hasil test yang dilakukan dokter sungguh mengejutkan Herb, kekebalan tubuh Herb telah sangat menurun dan dokter mengatakan bahwa umur hidup Herb tidak akan lama lagi. Herb akan segera meninggal.
Namun hari ini Herb bagaikan “mujizat berjalan”. Telah 11 tahun berlalu sejak ia terkena AIDS dan vonis dokter diberikan, Herb masih hidup.
Saya melihat setiap hari sebagai bentuk kasih karunia Tuhan yang besar bagi saya. Perubahan yang terbesar ialah ketika saya mulai menyadari bahwa bila saya mati dalam waktu satu tahun seperti yang pernah dokter katakan maka saya akan ada bersama Tuhan. Namun bila saya diijinkan hidup maka saya punya kesempatan untuk memberitakan kabar baik. Saya menyadari bahwa saya menjadi seorang pemenang dalam semua keadaan.
Tuhan ternyata punya rencana besar bagi Herb. Tahun 91 Herb bertemu dengan pendeta Bruce Sanumber. Bruce mengundang Herb untuk bergabung dalam kelompok peduli AIDS di gerejanya. Kelompok ini mulai bekerja dari melayani penderita AIDS di California lalu kemudian berkembang menjadi pelayanan internasional yang bernama “DIA MENGHENDAKI KEMENANGAN”. Sebagai anggota pelayanan ini, Herb Hall memberitakan pengalaman hidupnya dan menguatkan para penderita AIDS di seluruh dunia. Saat ini pelayanan ini telah mempunyai cabang bahkan sampai Malaysia, Thailand, Singapura hingga Vietnam.
Saya juga baru berkunjung ke Australia, Afrika, Inggris dan kepulauan Utara untuk menguatkan banyak orang. Bagi saya ini merupakan hal yang luar biasa. Tuhan dapat memakai saya, orang yang penuh kegagalan dengan masa lalu yang kelam untuk menjadi kesaksian bagi banyak orang betapa Tuhan mengasihi mereka.
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. (Yesaya 43:4) “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”(Yesaya 49:6)
Sumber Kesaksian:
Herb Hall (jawaban.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar