Minggu, 29 November 2015

DOA PEMULIHAN DAN KESAKSIAN SELDA (ANAK PAPUA)


Shalom teman2 semuanya. Mau menceritakan kasih Tuhan.
TUHAN YESUS (Yahshua Hamashiach) itu sangat baik, amat baik, terlalu bagi kita. 

Ceritanya begini:

Hari Sabtu kemarin, 22 juni 2013 pukul 10 lewat 5 menit, kami mengadakan Doa Pemulihan bersama dengan Calvary Community, bertempat di asrama Papua Harapan Bangsa di jalan Inhoftank, Perumahan Jati Permai - Tagalega, Bandung. 

Sebelumnya TUHAN sudah berikan visi itu lama dan Tuhan membukakan beberapa pewahyuan yg tadinya kami tidak mengerti sama sekali. 

Setelah janjian dengan Pak Kwee, kami putuskan untuk melakukan doa pemulihan ini bulan kemarin tapi sungguh TUHAN berkehendak lain, jadi kami kembali berbincang untuk melakukan doa pemulihan di bulan ini. 

Waktu Jumat malam, saya mengantar pak Kwee & istri ke asrama Harapan Bangsa dengan tujuan untuk menguasai atmosfir sekitarnya & sekaligus berbincang dengan mereka yaitu saudara2 papua yg di asrama di Bandung ini.

Nah, waktu itu karena tempat tinggal saya lumayan jauh dari tempat tinggalnya pak Kwee, jadi kami janjian untuk ketemu di pos securitynya dan kebetulan waktu itu saya minta diantar sama teman saya karena waktu itu juga kami barusan selesai doa. 

Lalu kami meluncur ke asrama Harapan Bangsa Papua digonceng sama teman saya. Akhirnya singkat cerita kami sudah berada di asrama saudara2 kita anak2 dari Papua. Waktu masuk hanya bincang2 sebentar dan pulang untuk siap esok Sabtunya mau doa pemulihan.

Sebelum kami berpisah, istri pak Kwee merasakan secara spirit seperti ada yg tidak beres, seperti ada roh2 teritorial yg tidak senang dengan kedatangan kami. Jadi sejak bincang2 di asrama Papua, istri pak Kwee sudah berperang dalam alam roh dan mulai merasakan pertempuran yg hebat, jadi kami putuskan untuk pulang saja.

Esoknya kami mulai jam 10 lewat 5 menit. Pada saat menyembah TUHAN, hadirat Tuhan melingkupi kami dan awan kemuliaan Tuhan turun dan kami semua disentuh oleh urapan NYA. Saudara2 kita anak2 Papua ini mulai ada yg mau menangis karena hadirat Tuhan begitu kuat, namun beberapa diantaranya merasa malu karena banyak diantara mereka dari gereja tradisi.

Setelah menyembah Tuhan kami mulai mengurapi dan doakan mereka satu-satu dipimpin oleh pak Kwee. Pada saat itu ada seorang adik perempuan Papua dari Wamena, dia duduk di SMP kelas 3 yang juga hadir pada saat itu yang kebetulan datang berlibur di Bandung karena kakaknya ada di Bandung.

Waktu adik perempuan ini diurapi dan didoakan tiba2 RUACH HAKODESH memenuhi dia dan dia rebah dalam kuasa Tuhan dan tertidur hampir 2 jam, jadi kami harus menunggu adik perempuan ini bangun. 

Ada beberapa anak2 Papua juga yang rebah dalam kuasa Tuhan tanpa ditumpangkan tangan. Tetapi Roh Kudus sendiri yang menjamah mereka bahkan teman saya juga dipulihkan Tuhan dari roh2 okultisme dimana dia sejak kecil sudah dipersembahkan kepada lucifer oleh bapaknya sendiri. Bapaknya itu ilmu hitam + ilmu putih tingkat tinggi tapi saat dalam hadirat Tuhan, saat itu juga dia bebas. Dia manifes seperti orang kesetrum ketika kuasa Roh Kudus bekerja dan kemudian dia bebas dan pulih.

Saat adik perempuan dari Wamena, Papua ini tertidur, saat itu pula rohnya diangkat ke surga bertemu Tuhan Yesus. Kesaksian videonya ada pada saya tapi saya kurang tahu mempostingnya ke group. 

TUHAN YESUS membawa rohnya ke surga dan neraka. Banyak yang Tuhan pesankan kepada dia untuk disampaikan kepada kita mempelaiNya: 

Pesan TUHAN YESUS : 

1. IA datang segera.
2. Kita diminta banyak berdoa dan intim dengan Tuhan. 
3. Selain berdoa, Tuhan tekankan hal yang sangat penting: jangan takut memberitakan firman Tuhan yg terdapat dalam alkitab/jagan takut menginjili jiwa2 sekalipun di sarang serigala atau sarang buaya sekalipun.

TUHAN YESUS berkata 3 x : Jangan takut. Jangan takut & jangan takut..!!! 

Tuhan Yesus bahkan meneguhkan dengan Firman dalam Matius dan Yesaya kepada adik perempuan ini tentang 'Jangan Takut..!!' Sebab orang penakut tidak mendapat bagian di surga. Tuhan Yesus berkata 'jangan takut' sebab Surga berpihak kepada kita saat kita memberitakan injil tentang Tuhan Yesus. Kuasa surga dilepaskan ketika kita menginjil. Tuhan Yesus perintahkan malaikat datang untuk menolong. Menginjil termasuk kepada sepupu kita, atheis, hindu, budha, dll. 

4. Dia juga ditunjuk sebuah pohon ara. Kata Tuhan kepada dia (adik perempuan ini): "Katakan kepada orang2 bahwa hidup mereka harus mempunyai buah seperti pohon ara ini, kalau tidak, mereka tidak mendapat bagian dalam kerajaan surga."

5. Hidup dalam kekudusan dan kebenaran FirmanKU. 
6. Semua firmanKU yang tertulis dalam Alkitab akan digenapi, langit dan bumi berlalu, firmanKU tidak berlalu. Pulang ke bumi dan pergi sampaikan kepada umat Tuhan, mempelaiku dan semua orang bahwa surga itu ada dan neraka itu ada, sebab banyak orang yang tidak mempercayainya.

7. AKU mengasihi dan mencintai kalian, termasuk bangsamu, Papua, AKU sangat mengasihi Papua.

8. Bersiap untuk perjamuan kawin Anak Domba. 
9. Bertahanlah untuk menantikan AKU, jangan terpengaruh, fokus dan pandang Surga, sebab AKU sedang membuat perhitungan. 

10. Beberapa diantara kalian akan disesatkan dan meninggalkan AKU, namun AKU lebih dulu mengatakannya sebab AKU mengasihi kalian. (Jangan pergi ke Gilgal)

11. AKU datang.
12. Waktunya singkat.

Terimakasih. 

| GBU ALL |
Copas : surattuhan.malang3000.com

Rabu, 25 November 2015

KEHILANGAN YANG MENGAWALI PEMULIHAN


Basri merupakan momok yang mengerikan bagi orang-orang di sekelilingnya. Kekerasan adalah dunianya. Brutal, sadis dan kejam terus bergejolak dalam darahnya. Lingkungan yang jahat dan latar belakang keluarga yang tidak baik telah membentuk karakter yang keras di dalam diri Basri. Berbagai tindakan premanisme telah ia lakukan. Istri dan anak-anaknya berada dalam bayang-bayang kematian.
Masa Remaja Basri
Semenjak kecil berbagai tindakan kriminal telah dilakuakn oleh Basri. Bersama teman-temannya mereka sering memasuki rumah orang dan menjarah apa saja yang dapat mereka ambil. Sifat jahat Basri terus berkembang sampai Basri menginjak usia remaja. Di usia belia saat masih SMP, Basri telah mengenal seks dan berzinah dengan istri orang.
Demi menuruti tantangan seorang teman, Basri mengawali tindakan kriminal profesionalnya dengan menjambret seorang wanita. Saat itulah Basri sempat dihakimi massa sampai babak belur. Aksinya kali ini harus berakhir di penjara. Jeruji besi telah mengekang segala tindakan kejahatannya. Sekitar 3 bulan Basri harus menjalani masa hukumannya. Pada akhirnya Basri pun bebas tapi ia tetap tidak berubah.
Pernikahan Penuh Darah Dan Air Mata
Basri akhirnya menikah dengan paribannya Marta. Namun gejolak liarnya terus dibawa Basri ke dalam kehidupan rumah tangganya. Istrinya pun menjadi korban keganasannya. Dalam salah satu pertengkaran mereka, Basri tidak hanya menampar istrinya tapi ia juga menghantamkan sebuah periuk ke kepala istrinya sampai pecah. Kekejaman ini tidak hanya berlangsung sekali. Terhitung sampai dua kali kepala istri Basri harus dijahit karena kekejaman Basri.
"Terkadang kepala saya sampai pecah. Memang dari dulu dia orangnya kasar, selalu main tangan, itulah tingkahnya dulu," ujar Marta sambil terisak mengingat kelakuan istrinya.
Tidak hanya sampai di situ saja kelakuan Basri. Berzinah dan bermain dengan berbagai macam perempuan pun dilakoninya. Dunia premanisme yang dijalani Basri memang identik dengan kehidupannya yang penuh dengan wanita dan narkoba. Marta merasakan kepedihan yang mendalam. Seringkali Marta harus menyaksikan bekas gincu di baju Basri tapi untuk marah pun Marta tidak berani. Kekejaman suaminya seakan-akan menutup rapat mulutnya. Marta hanya dapat menyimpan semuanya di dalam hati.
Pada suatu kejadian saat anak pertamanya menangis karena habis berkelahi, ia mengadu pada Basri. Bukannya bersimpati, Basri malah seakan siap menerkam anaknya karena menganggapnya sebagai anak yang pengecut. Tidak tanggung-tanggung, Basri pun siap untuk menganiaya anak pertamanya. Untung saja Marta segera menyelamatkan anak mereka. Kekesalan di hati Marta benar-benar tidak terbendung. Marta kecewa dengan sikap Basri yang benar-benar tidak memberikan kasih sayang dan memperhatikan anaknya.
Tidak ada yang dapat menghentikan sifat Basri. Bahkan saat Marta hendak pulang kampung dan tengah larut di dalam kesedihan karena neneknya yang meninggal, hati Marta semakin tergores akibat perlakuan Basri kepada dirinya. Permintaan Basri akan sejumlah uang yang tidak dapat dipenuhi Marta membuat mereka bertengkar di pinggir jalan. Saat itu dalam keadaan emosi, Basri tidak hanya memukuli istrinya tapi juga menyeret Marta di tengah jalan. Sungguh malang nasib Marta. Ia telah menjadi tontonan orang banyak. Hatinya sangat pedih dan penuh dengan luka. Marta benar-benar merasa tidak memiliki harga diri lagi. Dalam kesakitannya, Marta pun pingsan di tengah jalan. Kesakitan, kebencian dan kepedihan memenuhi hati Marta. Tapi Marta hanya dapat berserah kepada Tuhan. Niat untuk bercerai dari Basri sudah terlintas di dalam hati Marta, tapi karena memikirkan anak-anak dan keluarganya, Marta masih mencoba untuk bertahan.
Berawal dari Kematian
Selama bertahun-tahun, Basri jarang memberikan kasih sayang yang penuh kepada keluarganya. Suatu hari ketika Basri pulang ke rumah, betapa kagetnya ia melihat anak pertamanya kejang-kejang dan mukanya menghitam. Padahal anaknya tidak pernah sakit sebelumnya. Jauh di dalam hatinya Basri merasa bersalah karena ia sering memukuli kepala anaknya dengan keras. Rumah sakit menjadi pilihan terakhir bagi Basri. Selama dua hari, Basri memberikan perhatian dan kasih sayang yang penuh kepada anaknya. Namun di hari ketiga, saat Basri ke rumah sakit sambil membawa mainan untuk anaknya, Basri mendapati tempat tidur anaknya sudah kosong. Basri pun lalu mendapat informasi kalau anaknya sudah pulang ke rumah. Hati Basri mulai bertanya dan gelisah, apa yang menyebabkan kepulangan anaknya secara mendadak. Saat itu Basri tidak berani pulang ke rumah karena takut menerima kenyataan kalau anaknya sudah meninggal.
Saat itu seorang temannya datang menghampiri. Basri pun meminta tolong padanya untuk melihat keadaan anaknya di rumah. Selama menanti kedatangan temannya kembali, jiwa Basri dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Kematian ataukah kehidupan yang berpihak pada anaknya. Sejam kemudian saat temannya datang membawa kabar, apa yang ditakutkan Basri pun menjadi kenyataan. Anak pertamanya telah meninggal. Dengan tergopoh-gopoh Basri segera berlari pulang. Dengan tak percaya, Basri melihat anaknya yang telah terbujur kaku di atas tempat tidur. Basri membayangkan bagaimana seharusnya anaknya bahagia menerima maianan yang telah dibelikannya, tapi hal itu pun tidak dapat menjadi kenyataan. Dengan penuh penyesalan, Basri menangisi kepergian anak pertamanya.
Penyesalan selalu datang terlambat. Basri menyadari jeritan, tangisan dan ratapannya tidak akan berguna lagi bagi anaknya. Yang tersisa hanyalah kenangan indah yang tidak dapat diulang kembali. Basri dan Marta merasakan kepedihan tak terkira karena kehilangan anak pertama mereka. Memiliki suami kejam dan ditinggalkan anak tertuanya sempat membuat Marta berniat untuk bunuh diri. Banyak yang menasehati Basri untuk bertobat karena Tuhan sedang menegur dia melalui kematian anaknya.
Hati Basri yang terluka kembali tergores lebih dalam lagi. Saat Basri kembali dari pemakaman, Basri kembali dikejutkan oeh teriakan istrinya. Di dalam kamar, anak kedua mereka pun sedang mengalami kondisi yang sama dengan kakaknya. Dengan penuh kepanikan, mereka membawa anaknya ke rumah sakit. Dukanya terus bertambah, akankah kematian akan terulang kembali pada anak keduanya, mengikuti jejak sang kakak?
Kemana pun anaknya berobat, tidak ada kesembuhan bagi anaknya. Namun seorang temannya menasehati Basri. "Anak ini bisa sembuh. Kamu berubah sikap, kamu bertobat, anak ini sembuh." Basri sangat menyesali semua perbuatannya. Anak keduanya pun akhirnya sembuh. Namun penyesalan tidak bertahan lama. Basri kembali kepada kehidupannya yang lama.
Dalam kesesakan dan penderitaannya, Marta hanya bisa berdoa. Doa Marta hanya dipenuhi oleh doa akan suaminya, supaya berubah dan kembali ke jalan yang benar. Marta sangat yakin, kalau ia senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya. Suatu iman yang luar biasa.
Pertemuan Yang Mengubahkan
Pada suatu hari Basri melihat seorang wanita cantik di dalam sebuah angkot. Timbul niat jahat di dalam hatinya untuk mengganggu wanita itu. Namun di sanalah terdapat pertolongan atas hidupnya. Dengan ramah, Basri mulai mengajak wanita ini untuk berbincang-bincang. Dari perbincangan itulah Basri mengetahui kalau wanita ini hendak pergi ke gereja. Niat jahat Basri seketika itu juga berubah dan ketakutan menyerangnya. Basri pun mengakui niat jahatnya pada wanita tersebut. Basri mulai mengingat penyesalannya akan kematian anaknya yang dulu. Basri meminta wanita tersebut untuk mendoakan dirinya, supaya Tuhan menangkap hatinya, menangkap rohnya supaya kembali kepada Tuhan. Dengan antusias wanita itu pun menyanggupi untuk mendoakan basri.
Hati Basri semakin terharu ketika wanita tersebut membayar ongkos perjalanannya. Karena Basri yakin wanita ini bukan orang kaya. Kalaupun dia orang kaya, pasti saat ini dia sudah mengendarai mobil pribadi. Padahal malam sebelumnya, Basri baru saja melakukan perzinahan dengan pelacur. Basri merasa untuk membayar uang tip seorang pelacur ia mampu, sedangkan wanita yang dianggapnya hamba Tuhan ini malah membayar ongkosnya.
Dalam kesedihannya, Basri memutuskan untuk pergi beribadah. Ketika musik berdentang dengan kencang, Basri pun mulai berperilaku aneh akibat dampak mengkonsumsi ekstasi sehari sebelumnya. Namun ketika musik berdentang dengan lembut, Basri merasakan ketenangan di dalam hatinya. Air mata pun mulai menetes dan tak kunjung berhenti mengalir di wajah Basri. Hati Basri yang hancur kembali terpukul ketika ia mendengar kata-kata yang sangat menusuk hatinya melalui frman Tuhan yang dibawakan pada hari itu. Semuanya mengena di hati Basri dan mengingatkannya akan semua perbuatan dosa yang telah dilakukannya selama ini. Semua kejahatannya menimbulkan kesedihan yang mendalam di hati Basri.
Di kebaktian itu Basri memberikan kesaksian mengenai pertemuannya dengan wanita di angkot beberapa hari sebelumnya. Di kebaktian itu Basri didoakan supaya hatinya kembali kepada Tuhan. Saat itulah Basri menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Tuhan dan meninggalkan kepremanannya, baik dalam hal roh perzinahan, narkoba maupun perkelahian, Basri bertekad untuk terus ikut Tuhan. Basri yakin Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik baginya. Sukacita dan damai sejahtera pun menjadi milik Basri semenjak saat itu.
Saat ini Basri menafkahi keluarganya dengan berjualan jagung bakar. Dia telah menjadi suami dan ayah yang terbaik bagi keluarganya. Kedamaian dan kebahagiaan melingkupi keluarga mereka. Di gereja pun Basri terlibat dengan pelayanan penjara, menguatkan dan meneguhkan orang-orang yang terlibat dalam dunia kriminal.
"Saya sangat senang melihat perubahan yang terjadi atas suami saya. Dia sering mengajak anak-anak berkumpul, membaca firman dan berdoa. Anak-anak pun sekarang sangat diperhatikan. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Yesus karena suami saya sudah bertobat dan doa saya selama 10 tahun ini sudah dijawab Tuhan," ujar Marta dengan penuh rasa syukur.
"Pokoknya untuk saat ini, tiada hari tanpa Tuhan. Karena Tuhan Yesus saya bisa berubah dan meninggalkan semuanya. Jadi saya benar-benar merasa bangga memiliki Tuhan seperti Yesus," ujar Basri menutup kesaksiannya dengan senyuman penuh rasa syukur. (Kisah ini ditayangkan 19 Maret 2009 dalam acara Solusi Life di O'Channel).
Sumber Kesaksian :
Basri Siagian

Sabtu, 21 November 2015

KISTA MEMBUSUK DIKANDUNGANKU



Dokter memberikan jalan keluar satu-satunya yaitu harus menjalani operasi agar kista yang ada di kandungan diangkat. Menurut diagnosa dokter bahwa jikalau tidak dilakukan operasi maka kista akan pecah dalam waktu tiga hari dan umur kehidupan Elizabet tinggal tiga hari juga. Namun Elizabet berkeras tidak mau di operasi oleh karena trauma pada saat melahirkan anak yang kedua juga melalui operasi, tidak sadarkan diri selama kurang lebih lima jam. Dalam keyakinan iman Elizabet bahwa masih ada seseorang yang mampu menyembuhkannya yaitu Tuhan. Dia sangat yakin bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan penyakitnya. Selama tiga hari, dia terbaring di tempat tidur sambil berdoa dan meyerahkan pergumulannya pada Tuhan agar Tuhan memberikan kekuatan dan umur panjang. Ada banyak saudara dan handai taolan turut mendoakannya. Di dalam kesakitannya, dia masih menyempatkan diri menghadiri ibadah di gereja sebab dia yakin bahwa di dalam kuasa Tuhan segala sesuatu dapat terjadi.
Dari hari ke hari, penyakit Elizabet semakin memburuk, tetapi tidak melunturkan iman dan kepercayaan pada kasih dan kuasa Tuhan yang suatu saat akan menganugerahkan kesembuhan atas dirinya. Pada suatu saat, ketika dia tertidur pulas, terdengar isak tangis anaknya. Elizabet langsung bangun dan berdiri seolah-olah tidak merasa sakit dalam dirinya.Dia menghampiri anaknya yang sedang dimandikan oleh baby sitter.Ternyata anaknya menangis oleh karena sedang dimandikan. Elizabet juga merasa haus dan kemudian menuju meja makan mengambil air. Tanpa disadarinya, ia dapat berjalan dan berdiri.
Ia kemudian menyadari bahwa dirinya sedang sakit dan tak dapat bangun dari tempat tidur.Betapa terkejutnya dia pada saat itu melihat dirinya mampu berjalan, berdiri dan perutnya kempes di saat mengalami penyakit yang cukup parah yang hanya dapat terkulai lemas di tempat tidur. Elizabet masih meragukan apa yang dialaminya, kembali dia mencoba meloncat-loncat ternyata tidak merasa sakit. Elizabet kemudian membangunkan suaminya dan mengatakan bahwa dirinya sembuh. Hal pertama yang mereka lakukan adalah berdoa dan mengucap syukur pada Tuhan.
Pada keesokan harinya, mereka berdua ke dokter memeriksakan diri sambil memastikan bahwa penyakit Elizabet benar-benar sembuh. Dokter melakukan USG dan hasilnya kista yang ada di kandungan Elizabet benar-benar hilang dan itu berarti Elizabet sembuh. Dokter juga membandingkan hasil USG pada waktu kista masih ada di kandungannya. Dokter tetap tidak yakin pada hasil pemeriksaan sehingga dia bertanya apakah Elizabet pergi berobat ke dokter lain. Elizabet mengatakan bahwa dia tidak pernah berobat ke dokter lain. Selama ini yang dilakukannya adalah menyerahkan penuh segala keberadaannya pada Tuhan yang diyakininya sanggup mengobati penyakitnya.Akhirnya dokter dapat memahami bahwa ini adalah karya Tuhan dalam kehidupan seseorang yang tak dapat disangsikan.
Elizabet sekeluarga sangat bersukacita dan mengucap syukur atas pertolongan Tuhan yang terjadi dalam keluarga. Sebagai ungkapan syukur pribadi, Elizabet kini menyerahkan seluruh kehidupannya bagi pekerjaan pelayanan Tuhan.
Sumber Kesaksian:

Elizabet Budi (jawaban.com)

Selasa, 17 November 2015

WAKTUKU TERSITA DI LAPANGAN TENIS

Pada suatu hari yang cerah, tepatnya pada tanggal 18 Februari 2000, seperti biasanya Jimmy melakukan kegiatan rutin bersama teman-teman yaitu bermain tenis. Permainan pada hari itu sangat bersemangat seperti hari biasanya. Permainan terus berlangsung sampai tiba pada hitungan keempat. Sementara permainan berlangsung, tiba-tiba kakinya keseleo sehingga permainan tak dapat diteruskan.Teman-temanya mencoba menekuk kakinya namun kakinya tarasa sakit sekali.
Jimmy segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter segera memeriksanya, dan menurut hasil pemeriksaan dokter, ternyata arkhilesnya putus. Sebelum diadakan operasi, dokter terlebih dahulu memeriksa jantung juga diperiksa dan di ronsen untuk diadakan operasi. Dokter menyarankan agar Jimmy beristrahat total di rumah sakit selama seminggu. Dalam kesakitan, dia masih sempat menanyakan pada dokter apakah ada kemungkinan bermain tenis lagi. Dokter mengatakan masih dapat melakukan olah raga tenis dalam waktu enam bulan atau setahun mendatang. Dan jikalau tak dapat melakukan olah raga tenis, mungkin dapat melakukan olah raga lain.
Rasa sedih dan putus asa menyelimutinya sebab harus berjalan memakai tongkat dan tak dapat bermain tenis lagi. Ia menjadi rendah diri sebab merepotkan dan menyusahkan orang lain untuk menuntunnya kemanapun dia pergi.Tidak ada yang dapat dilakukan tanpa pertolongan orang lain. Sikap mandiri yang tertanam dalam dirinya terasa pudar seketika. Jimmy tidak menyadari bahwa melalui kehidupannya ada sesuatu yang luar biasa akan mengisi kehidupannya.
Pada suatu hari, ia diajak anaknya mengikuti pertemuan ibadah beberapa hari di luar kota. Dalam hatinya ia berkata, apakah mungkin kuasa doa akan mampu menyembuhkan kakinya yang sakit? Mustahil semua itu. Tapi untuk menyenangkan hati anaknya, ia mengikuti ajakan anaknya. Pada hari terakhir acara pertemuan ibadah, Jimmy merasa bosan dan ingin pulang. Hal itu dikatakan pada istri dan anaknya. Anaknya menyetujui permintaan akan kembali terlebih dahulu ke rumah. Ia merasa heran mengapa anaknya tidak memperhatikan keadaan mereka selama pertemuan itu. Menjelang berakhirnya pertemuan ibadah itu, anaknya mengajak mengikuti doa penyerahan pada malam hari. Namun, keinginan duniawi lebih kuat menguasai dirinya.
Dalam hatinya selalu berkata, tidak mungkin hanya dengan doa seseorang akan mampu menyembuhkan penyakit orang lain. Dia masih terus diliputi rasa tidak percaya akan kuasa Tuhan melalui doa sang pendeta. Jimmy tidak mengikuti ajakan anaknya mengikuti doa penyerahan, dia tetap berkeras pada pendiriannya. Sepanjang malam, kakinya terasa sakit dan ia kembali bersungut-sungut bahwa jika dia mengikuti doa penyerahan, pasti dia akan menyusahkan orang lain dan tidak dapat mengikuti doa penyerahan. Pada malam itu, seperti ada yang menahannya agar tidak kembali ke rumah, tetapi dia tidak tahu apa yang menahannya.
Keesokan paginya tepat pada hari Minggu, ia bangun lebih awal tak seperti hari biasanya. Ada yang menyuruh dia untuk pergi ke gereja. Ia segera berkemas-kemas hendak pergi ke gereja. Istri dan anaknya terheran-heran. Jimmy mengajak anak dan istrinya agar bersiap-siap pergi ke gereja. Bagi istri dan anak Jimmy, hal ini merupakan peristiwa terbesar dalam keluarga mereka sebab suami atau ayah yang sangat mereka kasihi ternyata mau membuka hatinya untuk mendengarkan firman Tuhan. Jika keadaan sebelumnya Jimmy sangat tertutup hatinya akan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, maka saat ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidup Jimmy untuk menerima Tuhan sebagai Penolong dan Pelindung kehidupannya.
Kehadiran Jimmy di gereja, sangat menggembirakan pak pendeta. Semua anggota jemaat menyambut dengan penuh sukacita kehadiran Jimmy sekeluarga. Kiranya melalui kehadirannya, akan memberikan pembaruan bagi kehidupan pribadinya. Acara demi acara berlangsung dan Jimmy mengikutinya dengan seksama.Sementara istrinya mengambil makanan, tiba-tiba Jimmy menangis tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak dan panas. Kemudian pak pendeta mendoakannya dengan mengimani bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk menyembuhkan seseorang.
Jimmy mohon ampun pada Tuhan atas segala dosa yang dilakukannya selama ini yang telah jauh dari Tuhan dan menyangkali kehadiran dan kuasa Tuhan dalam kehidupan pribadinya. Selesai berdoa, Jimmy mencoba berdiri dan berjalan secara perlahan tanpa ditopang oleh tongkat. Dia berjalan terus ke depan sambil memuji Tuhan dan bersukacita. Alangkah bersuka citanya Jimmy, sebab mengalami kebaikan Tuhan dalam kehidupan pribadinya walaupun dia sempat menyangkali kasih Tuhan tetapi Tuhan tetap mengasihi dirinya. Melalui pengalaman yang dialaminya, ia semakin menyadari dan meyakini kasih Tuhan dalam kehidupannya.
Sumber Kesaksian:
Jimmy Dumais (jawaban.com)

Jumat, 13 November 2015

AKU BERHARGA DI MATA TUHAN

Walaupun sang ibu ingin melarikan diri dari kenyataan namun niatnya itu gagal, akhirnya John Nathanael lahir pada tahun 1964 dalam keadaan cacat.
Keluarga memperlakukan saya antara kasih sayang dan rasa malu karena mempunyai anggota keluarga yang cacat. Jadi kalau ada sanak saudara dari mama saya atau teman-teman daripada kakak-kakak saya berkunjung ke rumah, saya disuruh tetap berada di dalam kamar, tidak boleh keluar. Saya tidak boleh menemui siapa-siapa, bahkan untuk buang air kecil, saya mengalami kesulitan untuk keluar dari kamar.
Pada usia delapan tahun, saya mulai menunjukkan kekecewaan terhadap mama saya yang nampak dalam kelakuannya saya sehari-hari. Suatu saat ketika saya sedang diberi makan oleh mama saya, makanan itu saya buang. Mama saya menjadi marah sekali dan sambil mengucapkan kata-kata yang amat menyakiti hati saya. Saya amat tertolak dan kecewa terhadap mama saya.
Sejak umur delapan atau sembilan tahun itu saya baru menyadari kalau saya mempunyai kelainan dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Terkadang teman saya bilang kalau baju yang saya pakai, terdapat gambar yang bagus, akan tetapi saya tidak tahu baju apa yang sedang saya pakai dan gambar apa yang ada di baju saya. Keadaan itulah yang membuat saya kecewa dan sedih. Dalam kekecewaan itu, ada dorongan diluar kesadaran saya untuk mencoba bunuh diri.
Dalam kepolosan pemikiran seorang anak, John berpikir dengan gantung diri menggunakan karet lompat tali, dia dapat mengakhiri hidupnya. John sempat beberapa saat tidak sadarkan diri, tapi usaha bunuh dirinya tidak berhasil. Akhirnya John menemukan seorang yang menjadi teman akrabnya yang mau menemani hari-hari hidupnya.
Selama hidup saya hanya mempunyai satu orang teman akrab. Saya hanya bisa berteman dengan dia dan bersahabat dengan harmonika yang selalu setia menemani. Memang karena saya tidak bisa kemana-mana, saya melakukan apa saja yang bisa saya lakukan untuk melewati hari-hari saya yang begitu saya rasakan kelam. Banyak orang datang kepada saya dan mengatakan bahwa Tuhan itu baik dan adil. Namun dalam hati saya timbul pertanyaan, mengapa jika Tuhan itu baik dan adil mengijinkan saya lahir dalam keadaan seperti ini. Waktu remaja, saya merasakan frustasi dan keadaan itu yang harus saya lewati.
Pada suatu ketika, Tuhan mulai menjamah kehidupan John melalui salah satu teman kakaknya yang sedang bekerja di rumah John.
Ketika dia sedang bekerja, saya ambil gitar dan memainkannya di dekatnya, lalu dia mulai bertanya kepada saya, “apa kegiatan kamu sehari-hari kalau sedang di rumah?” Saya bilang saya tidak kemana-mana dan tidak ada kegiatan apa-apa, lalu dia mengajak saya untuk ikut ke gereja jika tidak ada kegiatan. Ketika saya bercakap-cakap dengan dia, saya merasakan kedekatan, jadi saya mulai berani untuk ikut bersamanya ke gereja. Mulai saat itu saya mulai rajin beribadah. Saya sangat tersentuh kepada kebaikannya, karena tempat tinggalnya cukup jauh dari rumah saya, sedangkan dia hanya mengendarai sepeda motor untuk menjemput saya. Akan tetapi dia lakukan juga untuk menjemput saya dengan tulus. Melihat ketulusan dan kebaikan orang ini, saya waktu itu meyakinkan diri saya untuk mempercayai apa yang dikatakan teman saya ini bahwa Tuhan itu sangat baik, karena saya melihat kehidupan teman saya ini. Kalau teman saya begitu baik kepada saya apalagi dengan Tuhannya. Tiba-tiba saya menemukan bahwa diri saya begitu berarti di hadapan Tuhan.
Yang Tuhan mau dalam hidup saya adalah supaya saya mengampuni mama saya. Dan ketika saya mau mengambil keputusan untuk mengampuni, waktu itu saya rasakan saya mengalami suatu kelepasan yang luar biasa dan Tuhan itu hadir dalam pribadi Bapa dalam hidup saya, karena Dia juga mengetahui kerinduan saya untuk bertemu dengan Bapa.
Di dalam keberadaan saya seperti ini, saya dapat memandang bahwa hidup ini indah. Saya bisa memberikan yang terbaik, walaupun saya dulu menganggap itu tidak mungkin. Ketika Tuhan pulihkan saya, Tuhan bukakan kepada saya kalau saya adalah seorang pelayan Tuhan di dalam penyembahan, kesaksian dan bernyanyi. Sejak saat itu saya menjalani hidupnya dengan sukacita dan penuh pengharapan kepada Tuhan. Bahkan dengan cara yang ajaib Tuhan mempertemukan John dengan Mariane dan mempersatukan mereka dalam pernikahan yang kudus.
“Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” (1 Petrus 3:4)
Sumber Kesaksian:
John Nathanael (jawaban.com)

Senin, 09 November 2015

DITINGGALKAN NAMUN TAK PERNAH SENDIRI

Ketika aku menikah dengan suamiku, dan membentuk sebuah keluarga, kami pindah ke kota Balikpapan. Dengan sebuah pengharapan yang besar, aku memulai kehidupan yang baru. Aku memiliki cita-cita, pernikahanku akan menjadi seperti pernikahan kedua orangtuaku. Sebuah keluarga yang ideal dan bahagia.
Namun kehidupan ternyata tidak seindah bayanganku. Ketika suamiku mulai berhasil usahanya, dia mulai lupa akan keluarga. Dia melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan kepala keluarga. Saat aku mengingatkannya, semua itu berakhir dengan pertengkaran dan tak jarang pukulan dilayangkannya kepadaku. Akhirnya dia pergi meninggalkanku bersama kelima buah hatiku tanpa meninggalkan apapun untuk kami.
Aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, dan berjuang membesarkan kelima anakku. Aku bertekad untuk mendidik dan membesarkan anak-anakku dengan baik. Aku melakukan segala cara untuk bisa menyekolahkan dan memberi makan mereka. Saat aku sudah tidak memiliki apapun, aku jual baju-baju yang ku miliki. Lima belas tahun lalu, satu baju yang kujual harganya seribu rupiah. Dan dengan uang hasil penjualan baju-bajuku itu, aku membeli beras, minyak tanah, sayuran, dan aku atur sedemikian rupa sehingga anak-anakku dapat makan makanan yang sehat dan bergizi sekalipun sangat sederhana.
Terkadang, jika anak-anakku ingin makan apel atau jeruk, mereka harus pergi ke kuburan. Pada hari-hari tertentu, akan ada orang-orang yang datang kekuburan untuk sembahyang dan membawa makanan persembahan. Ketika anak-anakku bercerita kalau mereka harus berebutan dengan orang-orang untuk mendapatkan buah-buahan dikuburan itu, aku merasa sangat sedih.
Suatu kali, kami sudah tidak memiliki apapun untuk dimakan. Hingga jam dua siang, anak-anakku belum juga makan. Aku kumpulkan anak-anakku, dan kuajak mereka berdoa, “Ayo kita berdoa.” Kami memanjatkan doa Bapa Kami bersama-sama. Ketika kami berkata, “Amin,” tiba-tiba pintu rumahku di ketuk. Ada seseorang yang datang dan membawakan makanan sehingga kami bisa makan.
Dalam kondisi sulit seperti itu, aku terus memperjuangkan kehidupan anak-anakku. Aku mulai melamar pekerjaan dimana-mana. Sekalipun itu hanya pekerjaan part time, aku jalani dengan segenap hati. Terkadang ada teman yang telah mengenalku dengan baik sengaja memintaku bekerja ditempatnya. Sekalipun hanya bekerja selama satu minggu, tetapi hasil kerja saya itu bisa mencukupi kehidupan selama satu bulan, dari sekolah anak-anak, membayar kontrakan hingga makan sehari-hari.
Mulai saat itu aku mulai bekerja sebagai pegawai pengganti dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Aku menggantikan pegawai yang sedang cuti ataupun hamil. Jika ada pegawai yang hamil, aku sangat senang sekali, karena itu artinya aku bisa bekerja selama tiga bulan. Itu sangat lumayan sekali bagiku, karena uangnya aku bisa simpan untuk keperluan yang akan datang.
Perlahan-lahan kehidupanku dan anak-anakku mulai membaik. Satu hal yang membuatku bisa melewati semua masa sulit itu adalah adanya sebuah tekad yang tertanam dalam hatiku, “Aku harus menjadi panutan bagi anak-anakku.” Aku ingin anak-anakku bisa belajar nilai-nilai kehidupan yang benar dari diriku.
Jika orang lain berpikir aku bisa saja menghalalkan segala cara sehingga aku bisa lebih mudah melewati kesulitan-kesulitan yang menghadangku, aku berkata pada diriku, aku tidak boleh melakukan itu. Aku tidak mau menghalalkan segala cara, karena dalam hatiku ada takut akan Tuhan. Karena ada Tuhan Yesus dalam hidup keluargaku, aku tidak pernah takut dengan apa yang ada di masa depanku karena aku tahu Dia yang menjamin kehidupanku dan kehidupan anak-anakku. Aku sudah membuktikannya sejak awal ketika aku harus menjalani kehidupan seorang diri bersama kelima anak-anakku sampai saat ini, Dia selalu menyertaiku. Karena Dia adalah Immanuel.
Sumber Kesaksian :
Maureen (jawaban.com)

Kamis, 05 November 2015

BERGAUL DENGAN KEHIDUPAN MALAM

Rasa takut membuatku tidak berani untuk bertanya mengapa ayahku berbuat demikian. Hingga timbul rasa kekesalan dalam hatiku, dan perasaan itu tetap merasuki hatiku sampai aku SMP. Setelah tamat sekolah menengah, rasa kesal itu tak kunjung hilang, keberanianku pun tak ada, hingga aku mulai bergaul dengan kehidupan malam sebagai tempat pelarianku. Dan, setiap kali aku mempunyai uang dan kesempatan, aku pasti pergi ke tempat hiburan.
Kebiasaan buruk itu terbawa hingga aku dewasa dan menjadi semakin parah. Dalam seminggu, aku bisa tiga sampai lima kali pergi ke tempat hiburan untuk melampiaskan nafsu bejatku dan hal itu sepertinya sudah menjadi kebutuhan utamaku. Tetapi, selalu timbul rasa penyesalan dalam hatiku, setiap kali aku melakukannya. Sebenarnya, aku ingin sekali dapat mengakhiri kebiasaan burukku itu, tetapi aku merasa tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya. Setiap kali aku mencoba untuk melawannya, setiap kali itu pula aku gagal.
Kebiasaanku yang jelek itu, tidak membuatku kehilangan pergaulan dengan orang-orang seusiaku. Aku bergaul sebagaimana layaknya anak-anak muda. Hingga suatu hari, aku bertemu dengan seorang gadis, dan setelah beberapa bulan kami pacaran, akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Salah satu harapanku menikah adalah supaya aku dapat terbebas dari kehidupanku yang bejat. Namun, kenyataannya tidak seperti yang kuinginkan, aku masih tetap saja melakukan kebiasaanku itu. Hingga, karena perbuatanku yang menjijikan itu, istriku tertular penyakit kelamin. Itu adalah kesalahanku.
Aku sangat menyesali semuanya, karena istriku harus ikut menanggung perbuatanku itu, sedangkan dia tidak tahu apa yang telah kuperbuat selama ini. Aku sungguh jijik pada diriku sendiri. Setiap kali aku merenungi semua yang telah terjadi, yang ada hanyalah rasa penyesalan, namun demikian aku tidak dapat melakukan apa-apa. Kejadian yang hampir sama dengan kejadian masa kecilku dulu. Aku tidak mempunyai keberanian, yang ada hanyalah rasa penyesalan karena rasa takutku itu. Takut untuk menghadapi apa yang akan terjadi kemudian. Hingga suatu malam, aku terbangun dan perasaan jijik terhadap diriku sendiri begitu dalamnya. Aku pun mulai berdoa sambil meratapi diriku, aku sudah tak tahan lagi untuk menyimpan semuanya. Rupanya, istriku terjaga karena mendengar suaraku, spontan ia memelukku. Aku menceritakan semuanya, ia pun berdoa untukku dan mengampuniku juga.
Malam itu adalah awal perubahan dalam hidupku. Aku seperti menerima sebuah kekuatan yang memampukanku untuk berubah. Mulai saat itu, kebiasaanku yang tidak pernah tertinggal yaitu kehidupan malam yang penuh kebebasan telah kutinggalkan. Aku memulai hidup baru. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan-lah yang telah memberiku kekuatan dan memampukanku untuk melawannya. Aku juga bersyukur karena Ia telah mempertemukanku dengan seorang istri yang mau menerimaku dan mengampuniku.
Hingga saat ini, aku tak pernah lagi menyentuh kehidupan yang penuh kebebasan itu. Dan kini, aku mengerti, mengapa aku dulu seringkali gagal dalam melawan nafsu bejatku itu, karena aku mengandalkan kekuatanku sendiri. Namun kini, begitu aku menyerahkan semuanya dengan penyesalan yang sungguh-sungguh dari dalam hatiku, Ia yang akan memberi kekuatan untuk melawan semuanya. Sampai sekarang, perubahan-perubahan yang mendorongku untuk hidup dalam kebenaran, ke jalan yang Tuhan kehendaki, tak pernah berhenti dalam hidupku. Selalu setiap hari ada perubahan yang heran dalam hidupku.
Sumber Kesaksian:
David Subagja (jawaban.com)

Minggu, 01 November 2015

BANDAR JUDI YANG DIPERBAHARUI

Terdesak oleh kubutuhan, Pandu yang sudah beranjak dewasa berusaha mengubah nasib dengan memulai “karir’-nya dengan berjualan judi buntut yang dikenal dengan judi hua hue didaerahnya. Dari situ Pandu mulai terpikat karena dari seorang yang sangat miskin tiba-tiba ia mendapat ratusan ribu rupiah hanya satu malam saja. Maka berubah total-lah Pandu. Dari hasil uang judi buntut itu, Pandu dapat membelikan rumah untuk orangtuanya, sebuah gudang dan menikahi gadis impiannya. Sepertinya uang judi itu membuat Pandu makin bertambah kaya.
Uang itupun ia pakai untuk membeli 2 buah toko kelontong. Tokonya cukup laku dengan para pembeli yang rata-rata adalah germo-germo yang tinggal didaerah itu. Jelas saja, berhubung yang dijual Pandu adalah minuman keras seperti bir, whisky dan brandy. Bertahun-tahun ia hidup dari hasil uang haram tersebut. Pandu tidak sadar bahwa apa yang ia kerjakan sama sekali tidak berkenan dihadapan Tuhan.
Waktu berlalu, dan sebuah peristiwa kerusuhan Tanjung Priuk tahun 1984 terjadi sebagai bukti bahwa tidak selamanya uang hasil judi tersebut bisa membwa keberuntungan. Kehidupan keuangan Pandu dan istrinya mulai mengalami hambatan demi hambatan. Hutang mulai menumpuk sehingga mereka harus menjual segala harta termasuk cincin kawin mereka.
Tapi lewat peristiwa itulah Pandu mulai mengikuti persekutuan-persekutuan pengusaha yang menaburkan Firman Tuhan sehingga menyadarkan Pandu bahwa ada sesuatu yang luar biasa yang baru ia temukan. Disitulah untuk pertama kalinya Pandu meneteskan air mata dan sadar bahwa sesungguhnya Tuhan sangat mengasihinya.
Ada dua orang hamba Tuhan yang “menemukan’ Pandu dalam rentetan kehidupan rohaninya tersebut. Mereka adalah Bapak Max Lalamentik dan Bapak Budianto Andreas. Bapak Max yang menjadi pembimbing rohani Pandu ikut mengingat momen ketika ia datang kerumah Pandu untuk berdoa bagi keluarganya. Disitu ia menyaksikan perubahan, yaitu hadirnya kasih dan pemulihan didalam rumah tangga Pandu.
Hidup Pandu sendiri berubah total. Dari seorang pengusaha ia menjadi seorang penjual panci. Tahun ke tahun ia bekerja dengan setia hingga akhirnya ia direkrut kedalam perusahaan real estate yang cukup terkenal. Toko yang ia miliki dari hasil judi menjadi bangkrut dan meninggalkan hutang sebanyak ratusan juta rupiah. Pandu dan istrinya, Merry, mengalami stress dan tekanan besar dari peristiwa itu karena tagihan hutang yang datang bertubi-tubi. Uang hasil dari pekerjaan Pandupun habis dipakai untuk menutupi hutang, seperti melempar batu kelaut. Dalam keadaan yang lelah dan penuh tanda tanya tentang mengapa itu semua harus ia alami, Pandu bertanya pada Tuhan.
Disana Tuhan memberi jawaban dan membuktikan kesetiaanNya. Pandu akhirnya bisa melunasi hutang-hutangnya dan Merry bisa pulih dari stress yang membuatnya mengigau setiap malam dan nyaris gila.
Dalam perayaan pernikahan mereka yang ke-29, dan ulang tahun Pandu ke-55, Pandu dan Merry mewujudkan mimpi mereka untuk kembali memiliki cincin kawin yang dibeli dari hasil uang yang Tuhan berikan.
“Pesan saya, Tuhan Yesus memang sangat luar biasa!”
Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya. Yeremia 24:7
Sumber Kesaksian:
Pandu Wilantara (jawaban.com)