Jumat, 30 Desember 2016

PECANDU MUSIK DEAD METAL DIPULIHKAN

Lucky mengenal aliran musik Dead Metal sejak SMP. Karena kecintaannya dengan musik itu mempengaruhi kehidupannya hingga dia menjadi anak yang berontak, menutup diri bahkan selama 6 tahun dia tidak pernah kegereja.
Aliran deathmetal adalah musik aliran keras dan di aliran musik itu juga di dalam CD mereka ada gambar-gambar yang menggambarkan pelecehan mengenai Tuhan Yesus, bagaimana Yesus bermain dengan para wanita. Ada gambarnya dan liriknya juga mengandung penghujatan terhadap Yesus. Tapi saat itu karena Lucky dibutakan maka Lucky tidak peduli dengan segala sesuatunya itu. Justru Lucky sangat menyukai jenis musik mereka.
Lucky sering ngobrol dan bertukar pikiran dengan mereka. Pola pikir Lucky jadi berubah sejak ikut dengan perkumpulan mereka, Lucky jadi suka berontak dengan orangtua. Dan lama-kelamaan tanpa Lucky sadari Lucky menjadi pribadi yang dingin dan menarik diri dari keluarga. Jadi kalau ada saudara yang datang kerumah maka Lucky suka masuk ke kamar, dan kalau Lucky melihat orang, maka ketika mereka mengajak Lucky berbicara, saya sering tertunduk. Lucky sepertinya minder, Lucky merasa sendiri dan Lucky merasa cocok bila bercerita dengan sesama penganut dan musisi-musisi keras yang gelap itu. Kesombongan dan lirik kematian ia ciptakan melalui keahliannya bermain musik.
Pada suatu hari Lucky menderita sakit kepala dan sangat sakit rasanya. Karena sakit kepala itu Lucky derita selama satu bulan. Pada saat itu Lucky ketakutan, Lucky takut mati, Lucky takut sendiri. Kepala itu selama sebulan sakit sekali, ketika di bawa ke rumah sakit kata dokternya berkata tidak sakit apa-apa, tapi di kepala Lucky sudah berkecemuk berbagai pikiran, sakit apa Lucky sebenarnya ini, apa tumor, kanker atau apa.
Saat ia menderita karena sakit kepalanya, Lucky mulai masuk ke kamar kakaknya. Saat itu penasaran juga ingin mendengar lagu rohani dan akhirnya ia memasangnya. Saat itu Lucky menangis, dan tidak pernah Lucky merasakan seumur hidupnya. Saat itu lagu yang Lucky dengar adalah “Ku bri yang terbaik bagimu, kurelakan segalanya..” Lucky memasangnya pada siang hari dan mendengarkan lagu itu. Lucky menangis dan merasa lega. Lucky dalam posisi duduk dan menangis. Lucky merasa penyakitnya sembuh. Keesokan harinya ia memasangnya lagi lalu ada suara audible “kamu sudah saya pilih sejak dalam kandungan”. Ketika itu Lucky mengingat lagi bagaimana dulu ia pernah ke gereja dan mengenang bagaimana orang-orang itu memuji Tuhan, maka Lucky ingin sekali ke gereja.
Setelah itu ia mulai berbeda. Kasih Yesus yang membuatnya bertobat. Sejak saat itu ia mulai menyingkirkan semua barang-barnag yang berhubungan dengan musik metal itu. ia mencopot semua poster dan membuang semua kaset-kasetnya.
Saat ini Lucky sudah tergabung dalam satu band yang beranggotakan anak-anak muda yang bermusik untuk Tuhan. Dengan Sobat Band,. Lucky melangkah dengan pasti. Nilainya akademiknya menjadi cemerlang dan ia sekarang mampu menciptakan lagiu-lagu indah untuk kemuliaan nama Tuhan.
Sumber Kesaksian:
Lucky Barus (jawaban.com)

Senin, 26 Desember 2016

DITINGGALKAN NAMUN TAK PERNAH SENDIRI

Banyak wanita membayangkan pernikahan adalah sebuah dunia yang indah, demikian juga mimpi Maureen. Namun ternyata mimpi indahnya tak terwujud malah berubah menjadi sebuah mimpi buruk. Inilah penuturan Maureen tentang kisah hidupnya.

Ketika aku menikah dengan suamiku, dan membentuk sebuah keluarga, kami pindah ke kota Balikpapan. Dengan sebuah pengharapan yang besar, aku memulai kehidupan yang baru. Aku memiliki cita-cita, pernikahanku akan menjadi seperti pernikahan kedua orangtuaku. Sebuah keluarga yang ideal dan bahagia.
Namun kehidupan ternyata tidak seindah bayanganku. Ketika suamiku mulai berhasil usahanya, dia mulai lupa akan keluarga. Dia melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan kepala keluarga. Saat aku mengingatkannya, semua itu berakhir dengan pertengkaran dan tak jarang pukulan dilayangkannya kepadaku. Akhirnya dia pergi meninggalkanku bersama kelima buah hatiku tanpa meninggalkan apapun untuk kami.
Aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, dan berjuang membesarkan kelima anakku. Aku bertekad untuk mendidik dan membesarkan anak-anakku dengan baik. Aku melakukan segala cara untuk bisa menyekolahkan dan memberi makan mereka. Saat aku sudah tidak memiliki apapun, aku jual baju-baju yang ku miliki. Lima belas tahun lalu, satu baju yang kujual harganya seribu rupiah. Dan dengan uang hasil penjualan baju-bajuku itu, aku membeli beras, minyak tanah, sayuran, dan aku atur sedemikian rupa sehingga anak-anakku dapat makan makanan yang sehat dan bergizi sekalipun sangat sederhana.
Terkadang, jika anak-anakku ingin makan apel atau jeruk, mereka harus pergi ke kuburan. Pada hari-hari tertentu, akan ada orang-orang yang datang kekuburan untuk sembahyang dan membawa makanan persembahan. Ketika anak-anakku bercerita kalau mereka harus berebutan dengan orang-orang untuk mendapatkan buah-buahan dikuburan itu, aku merasa sangat sedih.
Suatu kali, kami sudah tidak memiliki apapun untuk dimakan. Hingga jam dua siang, anak-anakku belum juga makan. Aku kumpulkan anak-anakku, dan kuajak mereka berdoa, “Ayo kita berdoa.” Kami memanjatkan doa Bapa Kami bersama-sama. Ketika kami berkata, “Amin,” tiba-tiba pintu rumahku di ketuk. Ada seseorang yang datang dan membawakan makanan sehingga kami bisa makan.
Dalam kondisi sulit seperti itu, aku terus memperjuangkan kehidupan anak-anakku. Aku mulai melamar pekerjaan dimana-mana. Sekalipun itu hanya pekerjaan part time, aku jalani dengan segenap hati. Terkadang ada teman yang telah mengenalku dengan baik sengaja memintaku bekerja ditempatnya. Sekalipun hanya bekerja selama satu minggu, tetapi hasil kerja saya itu bisa mencukupi kehidupan selama satu bulan, dari sekolah anak-anak, membayar kontrakan hingga makan sehari-hari.
Mulai saat itu aku mulai bekerja sebagai pegawai pengganti dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Aku menggantikan pegawai yang sedang cuti ataupun hamil. Jika ada pegawai yang hamil, aku sangat senang sekali, karena itu artinya aku bisa bekerja selama tiga bulan. Itu sangat lumayan sekali bagiku, karena uangnya aku bisa simpan untuk keperluan yang akan datang.
Perlahan-lahan kehidupanku dan anak-anakku mulai membaik. Satu hal yang membuatku bisa melewati semua masa sulit itu adalah adanya sebuah tekad yang tertanam dalam hatiku, “Aku harus menjadi panutan bagi anak-anakku.” Aku ingin anak-anakku bisa belajar nilai-nilai kehidupan yang benar dari diriku.
Jika orang lain berpikir aku bisa saja menghalalkan segala cara sehingga aku bisa lebih mudah melewati kesulitan-kesulitan yang menghadangku, aku berkata pada diriku, aku tidak boleh melakukan itu. Aku tidak mau menghalalkan segala cara, karena dalam hatiku ada takut akan Tuhan. Karena ada Tuhan Yesus dalam hidup keluargaku, aku tidak pernah takut dengan apa yang ada di masa depanku karena aku tahu Dia yang menjamin kehidupanku dan kehidupan anak-anakku. Aku sudah membuktikannya sejak awal ketika aku harus menjalani kehidupan seorang diri bersama kelima anak-anakku sampai saat ini, Dia selalu menyertaiku. Karena Dia adalah Immanuel.
Sumber Kesaksian :
Maureen (jawaban.com)

Kamis, 22 Desember 2016

MUJIZAT MASIH ADA

Puji syukur kepada Tuhan Yesus atas kasih karunia, mujizat besar, dan rencana indah-Nya dalam hidup saya.

Nama saya Dody, umur 33 tahun, tinggal di Bandung, inilah pengalaman hidup yang tidak akan pernah saya lupakan. Awal tahun 2010 saya mengidap EWING SARCOMA (tumor ganas), harus kemoterapi dengan asumsi tumor akan mengecil kemudian dioperasi. Ternyata setelah kemoterapi tumor tidak mengecil dan harus dioperasi dengan resiko amputasi kaki kiri karena tumor sudah membungkus pembuluh darah utama yang mengalirkan darah ke kaki. Saya mulai depresi dan hanya bisa berdoa minta kesembuhan dari Tuhan dengan jalan yang dikehendaki-Nya.

Puji Tuhan, Tuhan Yesus sungguh baik, Dia memberi jawaban untuk mengobati penyakit saya lewat informasi mengenai terapi untuk penyakit saya lewat hamba Tuhan yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya.

Saya menjalani terapi TACI (Trans Arterial Chemo Infusion) dan
CRYOSUGERY THERAPY di Jakarta, berjuang melawan rasa sakit dan bolak-balik opname di rumah sakit, Desember 2011 saya menjalani operasi.

Mujizat Tuhan sungguh luar biasa, tumor besar kira-kira 28 cm berhasil diangkat dan Puji Tuhan kaki kiri saya masih utuh. Saya diijinkan pulang 25 Desember 2011, hari itu saya mendapatkan kado Natal terindah dalam hidup, tumor besar sudah hilang dan bisa pulang ke rumah. Puji Tuhan, sekarang saya sudah mulai bisa berjalan dan beraktivitas dengan baik.

Buat saya sekarang tidak ada yang tak mungkin dalam nama-Nya, saya percaya dalam nama Tuhan Yesus saya telah disembuhkan. Haleluya. Amin.


Sumber : kisahnyatakristen.com

Minggu, 18 Desember 2016

KISAH NYATA ANAK TERBUANG YANG ANGGAP DIRINYA TAK BERHARGA

Sewaktu masih kecil, Harun Sapto sudah dititipkan ke Malang dari Blitar, dari rumah orangtuanya ke rumah pamannya. Di rumah pamannya itu, dia mendapat perlakuan yang kasar dari tantenya. “Saya mulai ada kekecewaan, suka nangis, suka murung,” cerita Sapto saat itu.
Kelas 2 SD Sapto dibawa kembali oleh orangtuanya ke Jakarta. Di sana, dia suka berantem. Jika Sapto pulang ke rumah dengan baju yang kotor, ibunya akan marah-marah. Nasi satu butir jatuh di lantai, dia juga kena marah. Tidak tidur siang, dia akan dipukul.
Kebalikannya, papanya baik. Namun sayangnya, Sapto jarang bertemu dengan bapaknya karena kesibukannya. Lain lagi dengan kakaknya. Kakaknya pernah mengatakan, “Sapto, mengapa sih kamu pulang lagi?” Kakaknya menyalahkan Sapto karena mereka sudah tidak punya mobil lagi, seolah-olah Saptolah penyebab hilangnya mobil tersebut dan juga keruwetan lain yang dialami keluarga mereka.
Sapto yang dewasa, punya tato di badannya dan seringkali memakai baju lengan buntung. Tidak hanya itu, dia menjadi preman yang suka memalaki para pedagang, kekerasan memenuhi hidupnya.
Suatu hari, dia diberitahu bahwa papanya meninggal. Karena itu, dia menganggap semua orang yang dia sayangi sudah tidak ada lagi sehingga dia makin brutal.
Pada suatu hari jam 7 malam di Menteng, dia dikejar oleh sekelompok orang yang ingin membunuhnya. Dia lari dan lari dan masuk ke gorong-gorong. Di sana dia berdoa dan begitu dia bangun dari gorong-gorong, dia melihat tidak ada orang lagi.
Dia mencoba nasib lain. Dia bekerja di kapal. Namun di sana, kerjaannya hanya minum dan minum saja. Di pelabuhan, ada orang yang menitip sesuatu kepadanya untuk dikirimkan ke Jayapura. Dia pun mendapat upah Rp 8 juta. Sayangnya, dia tidak melihat barang apa yang dititipkan itu.
Besoknya, dia berlabuh di Surabaya. Di sana, dia dipanggil pihak keamanan yang marah karena barang titipannya tergeletak di mana-mana. Barang yang diperkirakan sebanyak 2 ton itupun coba dikumpulkan Sapto. Dia mengajak semua orang yang lewat untuk memindahkan barang-barang tersebut tapi tidak ada yang mau membantunya. Dia putus asa, barang-barang itu dibuangnya ke laut.
Sesampainya di Jayapura, Sapto dicari orang-orang yang seharusnya mendapatkan barang tersebut. Dia pikir saat itu dirinya akan dibunuh, dia pun berpegangan pada besi yang ada di kapal sambil berpikir bahwa dirinya memang lebih baik mati.
Di situ juga dia mulai berkata di dalam hatinya, “Kalaupun memang Tuhan yang saya sembah sekarang ada dan menyelamatkan saya, saya akan jadi pengikut-Nya.”
Lama tidak ada yang menusuknya, dia pun menengok ke belakang, ternyata orang-orang itu pergi entah kemana. Pulang ke Jakarta, Sapto menginap di rumah salah satu kenalannya. Di rumah itu, dia menemukan VCD yang ternyata merupakan VCD khotbah.
Hamba Tuhan yang berada di VCD itu mengatakan bahwa ada satu anak muda peminum dan perlu menerima kasih Allah. Hamba Tuhan itupun membagikan ayat Yohanes 3:16. “Kamu harus bertobat…” kata hamba Tuhan tersebut sambil menunjuk. Sapto merasa hamba Tuhan itu seperti menunjuk dirinya langsung, seolah-olah tangannya keluar. Dia pun mematikan VCD tersebut.
Saat hendak berbaring, Sapto menemukan traktat. Di dalam traktat itu, kembali ayat itu berbicara. “Saya tidak tahan, saya keluar air mata dan tidak dapat berhenti.” katanya.
Saat itulah dia putuskan untuk beribadah di suatu tempat ibadah. Sapto sadar akar dari segala pemberontakannya adalah kebenciannya kepada keluarganya dan dia pun meminta hamba Tuhan di sana untuk mendoakannya.
Ketika ibunya masuk ke rumah sakit, Sapto pun meminta maaf. Hubungan ibu dan anak itu pun dipulihkan. Seminggu kemudian, ibunya dipanggil Tuhan.
Apa yang Sapto lakukan dulu, sudah dia tinggalkan semua. Dia pun berubah hidupnya dan berbalik dari jalannya yang jahat. Sekarang dia mengabdikan hidupnya untuk anak-anak yang terlantar. “Saya selalu memberikan satu saran yang baik dari Tuhan bahwa hidup itu sangat berarti kalau kita mau merespon.”
Setiap orang yang dididiknya pun mengakui hal tersebut, begitu pula tetangganya. Dia beralih dari yang paling buruk menjadi pelayan Tuhan. “Dia bisa mengubah kita semua, hidup saya dan hidup Anda.” tutup kesaksian Sapto.
Sumber Kesaksian :
Harun Sapto (jawaban.com)

Rabu, 14 Desember 2016

IMELDA, MEMBERI INSPIRASI DARI KURSI RODANYA

Namaku Imelda Saputra, aku seorang penulis. Sebenarnya dulu aku tidak pernah berpikir akan menjadi seorang penulis, namun inilah cara Tuhan memakai aku menjadi penanya untuk menyemangati banyak orang sama seperti Ia menyemangati aku untuk menjalani hidupku.

Aku terlahir sebagai anak normal, namun saat aku masih balita orangtuaku menemukan sebuah benjolan di punggungku. Ternyata saraf kaki kusut di benjolan tersebut. Dokter menyarankan untuk operasi, tetapi ketika operasi dilakukan ternyata ada efek samping yang terjadi. Setelah operasi kakiku bengkok dan menciut. Akhirnya aku tidak pernah bisa berjalan, aku lumpuh.
Orangtuaku melakukan berbagai upaya agar aku bisa berjalan lagi, mulai dengan ke dokter, tukang urut hingga ke dukun. Aku ingat, setiap kali ke dukun, aku sering disuruh minum air yang telah dijampi-jampi. Tapi usaha yang dilakukan oleh orangtuaku selama bertahun-tahun sia-sia belaka, aku pun telah lelah dan hampir putus asa. Tapi setiap kali aku bilang, “Malas ah…” Orangtuaku kembali bertanya, “Kamu mau sembuh ngga?” Hal itu membuatku bangkit lagi dan mau mencoba lagi.
Hingga suatu hari, saat kami konsultasi dengan seorang dokter, dia memberikan sebuah nasihat yang berbeda. Bukan janji kesembuhan yang diberikan, dia menyatakan dengan jujur bahwa kemungkinan untuk sembuh itu sudah tidak ada. Dia meminta orangtuaku untuk menyekolahkanku.
Mendengar aku akan sekolah, hatiku bergejolak karena sangat senang. Karena anugrah Tuhan, aku bisa sekolah di sekolah umum sekalipun aku cacat dan harus menggunakan kursi roda. Kadang memang ada orang yang memandangku dengan aneh karena keadaanku, tapi itu hanya di satu dua hari awal saja, selanjutnya, teman-teman dan guru-guruku bisa menerima keadaanku.
Sekalipun aku lumpuh dan harus beraktivitas dengan kursi roda, namun hal itu tidak menghalangiku untuk berprestasi. Bahkan ketika aku duduk di bangku SMP, aku cukup aktif dalam organisasi di sekolah. Aktivitasku sangat padat, kadang aku pulang sekolah antara jam dua atau setengah tiga. Setelah itu, kadang ada les yang ku ikuti. Namun karena aku duduk terus, dan kadang karena kesibukan aku tidak mengganti pampers, akhirnya terjadi iritasi dan membuat kesehatanku menurun.
Aku tidak pernah memberitahu orangtuaku tentang apa yang aku rasakan karena aku takut tidak diijinkan sekolah. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, suatu hari aku jatuh pingsan karena tidak tahan lagi dengan sakitku. Dokter memvonisku dengan penyakit dekubistus dan juga tipes akut sehingga aku harus di rawat di rumah sakit. Mulai bulan Mei di tahun itu, aku berhenti sekolah. Aku sudah tidak bisa bangun lagi, jadi aku hanya terbaring di tempat tidur tanpa daya.
Aku tertekan dan putus asa karena aku tidak bisa melakukan apa-apa, padahal biasanya setiap hari aku sibuk dengan aktivitas sekolah. Sering terbersit di pikiranku, kalau aku lebih baik mati. Tapi suatu hari seorang perawat datang dan berbincang denganku. Dia menceritakan tentang kesaksian hidupnya, dulu dia juga pernah sakit, bahkan mamanya pernah berkata, “Sudahlah Tuhan, ambil saja nyawa anak saya.” Tapi perawat itu berkata pada mamanya, “Ngga ma, aku pasti sembuh. Aku pasti sehat. Aku ngga akan mati. Aku akan melayani Tuhan.”
Perawat itu berkata dengan penuh kasih kepadaku, “Kalau aku bisa sembuh, kamu juga pasti bisa sembuh.”
Ketika perawat itu keluar dari ruanganku, aku langsung berdoa. “Tuhan terima kasih karena Engkau masih sayang sama aku. Aku mengasihimu Tuhan..” Kata-kata itu sudah lama tidak pernah ku ucapkan kepada Tuhan. Hari itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda di hidupku. Aku merasakan Tuhan melembutkan hatiku kembali.
Semangat hidupku pun bangkit, bahkan kesehatanku juga berangsung membaik. Suatu saat aku diingatkan kepada seorang kakak rohaniku. Hari itu juga aku menghubunginya. Di telephone itu dia berkata, “Mel, beberapa bulan lagi kita ada konser doa. Yuk ikut gabung melayani..”
Hal itu menjadi jawaban doa bagiku, aku ingin melupakan apa yang telah lalu dan memulai sesuatu yang baru. Hingga tiba di perayaan natal di tahun 2005, saat itu hamba Tuhan yang melayani memintaku untuk maju ke tengah.
“Saya mau berdoa buat kamu,” demikian ucap pendeta tersebut.
“Saya minta seorang perempuan untuk peluk dia..”
Aku berpikir, aku akan diapakan nih? Seorang teman datang memelukku dan hamba Tuhan itu berdoa untukku, saat itu Tuhan menyampaikan isi hati-Nya kepadaku melalui hamba Tuhan itu. Salah satunya adalah:

“Kamu akan nulis buku, kamu akan Tuhan pakai jadi penanya Tuhan.”
Sempat aku merasakan keraguan, “Bener nih Tuhan?”

Tapi saat itu juga Tuhan berbicara, “Aku yang akan melakukannya, bukan kamu.”
Waktu berlalu, karena kondisiku, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Akupun mulai banyak membaca, mulai dari buku, hingga berbagai majalah. Saat membaca sebuah majalah anak-anak, aku berpikir aku juga bisa menulis seperti itu. Akupun mulai mencoba menulis, ketika ada lomba menulis, aku kirim karyaku. Tapi saat itu, semua yang ku kirimkan di tolak dan dikembalikan semua.
Waktu berbagai karyaku di tolak, aku sempat merasa, “Udahlah Tuhan, memang aku ngga berbakat.” Beberapa lama aku sempat berhenti menulis, tapi perkataan hamba Tuhan yang berdoa bagiku terus teringat olehku. Aku ingat janji Tuhan itu, aku tahu kalau aku perlu bekerja sama dengan Tuhan. Jika aku mau janji Tuhan itu terwujud, aku harus terus menulis.
Aku tidak tahu darimana datangnya inspirasi itu, terkadang seperti Tuhan sedang berbicara atau mendiktekan sesuatu kepadaku. “Nanti nulisnya seperti ini.. awalnya seperti ini..” Tuhan hanya memberi tahu aku sedikit, kemudian aku harus mengembangkannya sendiri.
Selama beberapa tahun aku hanya menulis, tanpa ada tanda-tanda janji Tuhan itu terwujud. Hingga tiba di tahun 2008, sebuah penerbit menghubungiku.
“Imelda, bukunya di terima ya, kami terbitkan.”
Aku seakan tidak percaya, “Buku… penerbit.. buku yang mana ya?”
Itulah cerita bagaimana akhirnya buku pertamaku akhirnya diterbitkan. Aku merasa sangat senang lagi, ternyata memang janji Tuhan itu tidak pernah gagal. Kini semua nubuatan itu telah menjadi kenyataan.
Aku melihat karya Tuhan begitu ajaib, apa yang tidak pernah aku pikirkan, tidak pernah timbul dalam hati, Tuhan melakukan itu dalam hidupku. Hal itulah yang membuatku merasa Tuhan itu begitu luar biasa. Jika orang heran bagaimana aku bisa menulis buku, akupun juga heran. Tapi semua itu terjadi karena Tuhan. Dari semua yang terjadi itu, aku tahu bahwa hidupku penting, bagi Tuhan dan juga bagi sesama. Aku bersyukur untuk apa yang Tuhan lakukan dalam hidupku, apa yang terlihat buruk dapat Tuhan ubahkan menjadi kebaikan, bukan hanya untukku namun juga untuk orang lain.
Sumber Kesaksian :
Imelda Saputra (jawaban.com)

Sabtu, 10 Desember 2016

PELUANG KEDUA YANG TUHAN BERIKAN KEPADA SAYA

25 julai 2007. Pada saat itu , saya bermimpi berdiri di padang pasir yang agak luas. Lalu saya melihat ada sebuah rumah kecil. Saya menjejakkan kaki kedalam rumah itu dan melihat nenek saya sedang menidurkan sepupu saya dalam buaian. Saya bertanya kepada nenek saya, ‘Eno , mana yang lain?’ Nenek saya menjawap, ‘beginilah saya jerry.’ Saya merasa pelik dengan jawapan itu. Dengan pantas , saya tersedar kembali berdiri di padang pasir yang luas itu. Saya melihat ada sebuah gunung yang sangat tinggi. Dari Gunung itu, turun sungai yang sangat jernih yang menjadi sempadan. Saya tersedar , saya berada dipihak orang2 yang memakai baju serba hitam. Dan disebelah sungai tersebut saya melihat orang2 yg memakai baju serba putih seperti sedang berdoa dan tenang. Keadaan orang yang memakai baju htam itu agak kucar kacir. Mereka menghasut2 saya agak terus bersama mereka. Tiba2 , seorang lelaki tua memakai baju putih menegur ku, lalu bertanyakan juka saya ada nombor tersebut. Saya kurang faham apa yang dimaksudkan dengan nombor itu lalu saya bertanya , ‘nombor apa?’ Lelaki tua itu terus menyeluk saku saya dan mengambil botol kecil yang berisi kertas nombor. Saya kurang jelas melihat wajah lelaki tua itu kerana wajahnya bersinar. Dia memberitahu ku , ‘Saya bagi kau kesempatan kedua’lalu Dia membuang botol itu kedalam sungai yang mengalir dari atas gunung itu. Saya bertanya, ‘Air ini dari mana?’ Dia menjawap, ‘air ini turun dari Surga. Rendamlah kaki mu dalam air ini’ Sungguh nyaman air tersebut. Lalu saya terjaga dari tidur dalam keadaan tercungap2 dan ketakutan. Sampai sekarang, saya terus berdoa kepada Tuhan agar menyelamatkan saya dari dosa. Saya sungguh2 mahu bertobat dan kembali kepada Tuhan Yesus. Sekarang saya sudah berumur 20 tahun. Terpujilah Tuhan Yesus! Terima kasih atas kebaikkan Mu Tuhan. Amen. Sesungguhnya tiada yang mustahil bagi Tuhan. Walau sejahat mana kita, Tuhan pasti mengampuni kita.Terima kasih Allah Bapa di Surga. Terima kasih kerana menjaga ku setiap waktu. Penuhilah dunia ini dengan kemuliaan Mu Tuhan! Kami merindui Engkau Tuhan, Kami merindui kasih Mu Yesus. Terima Kasih Ya Allah Bapa di SURGA. AMEN!

Sumber : kisahnyatakristen.com

Selasa, 06 Desember 2016

HARAPAN SEORANG PEMABUK

Berikut ini adalah kesaksian dari salah seorang misionaris (pendeta dari Korea) yang melakukan pelayanannya di Afrika Selatan.
 
Ladang misiku adalah suatu wilayah di Naral, yang ada di bagian timur Afrika Selatan. Saat ini, aku bekerja di dua tempat yaitu di suatu daerah perkotaan bernama Kwamashu dan daerah pertanian bernama Ruganda. Sehubungan dengan kebijaksanaan apartheid yang diberlakukan di Afrika Selatan, banyak daerah perkotaan -- terdiri atas kota- kota mono-ethnis yang didiami orang-orang "campuran" (keturunan dari pasangan yang berbeda ras), orang-orang Indian dan orang-orang berkulit hitam -- berkembang pesat di daerah-daerah pinggiran kota- kota, tempat di mana penduduk asli Afrika (keturunan Eropa) tinggal. Kota Kwamashu terkenal dengan tindak-tindak kekerasan yang terjadi hampir setiap hari sebelum dilangsungkannya pemilihan bersejarah di negara Afrika yang melibatkan setiap ras yang ada di negara tersebut, tepatnya pada tanggal 28 April 1994. Menyadari resiko yang harus dihadapi karena situasi kekerasan yang ada di Kwamashu, beberapa peristiwa tertentu terus menguatkanku untuk meneruskan pelayanan misi di kota tersebut. 

Salah satu dari peristiwa-peristiwa tersebut terjadi ketika aku sedang melakukan penginjilan dari rumah ke rumah di sebuah desa di Kwamashu. Pada sebuah rumah yang aku kunjungi, aku menjumpai dua orang pria sedang minum bersama. Kami mulai berbincang-bincang dan aku memperkenalkan diri kepada mereka sebagai pendeta Korea. Nampaknya mereka tertarik dengan pembicaraan tentang gereja dan mereka mulai melontarkan banyak pertanyaan yang berkaitan dengan kekristenan. Untuk menanggapi rasa ingin tahu mereka, aku mulai mensharingkan Injil -- berita keselamatan yang diberikan kepada mereka melalui pengorbanan Yesus Kristus. Selain itu aku juga mensharingkan tentang pentingnya berpartisipasi dalam kehidupan bergereja untuk menguatkan dan menumbuhkan ke kedewasaan mereka dalam iman. Meskipun kedua pria tersebut dalam keadaan benar-benar mabuk, mereka mengundangku untuk datang lagi, sebagai ungkapan kerinduan mereka untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Injil. 

Setelah menyelesaikan kunjungan di desa tersebut, aku kembali ke gereja untuk mengadakan PA bersama-sama anggota-anggota gereja lainnya. Begitu aku bersiap-siap hendak pulang setelah PA, salah satu dari dua orang pria peminum yang aku kunjungi tadi datang menghampiriku. "Misionaris Kim," katanya memanggilku, "Apakah anda memiliki waktu luang malam ini?" "Saya ingin anda menceritakan lebih banyak lagi tentang Injil kepada saya dan tunangan saya," lanjutnya menjelaskan. Salah satu anggota gereja yang kebetulan ikut mendengarnya sangat terkejut. Demikian pula aku yang merasa ragu karena Kwamashu bukanlah kota yang aman. Namun demikian, aku terima juga undangan tersebut. Matahari telah terbenam dan hembusan angin mengantarkan kami memasuki Wilayah "J" di kota Kwamashu -- wilayah yang paling berbahaya di kota Kwamashu. Setelah kami tiba di rumah pria pemabuk itu, dia mulai memperkenalkan anggota keluarganya yaitu ibu, adik, kakak, dan juga tunangannya. "Ini tunangan saya," katanya kepada saya, "Dulu ia biasa pergi ke gereja yang dipimpin oleh misionaris dari Barat. Bahkan waktu dia kecil, dia juga pernah mengikuti Sekolah Minggu. Tetapi sekarang ia tidak mau melakukannya lagi. Tolong sharingkan Injil kepadanya dan bantulah dia untuk memulai kehidupan kristennya lagi." Begitu mendengar permintaan tersebut, sebuah doa terucap dalam hatiku,
"Oh Tuhan, Engkau sungguh Allah yang Mahakuasa."
Aku benar-benar heran saat melihat bagaimana Allah membuat diriku memiliki keberanian untuk memasuki daerah berbahaya tersebut, sehingga seorang pemabuk dan tunangannya dapat mendengar berita Injil. Aku berdoa memuji Tuhan yang telah mengatur dunia dengan kuasa-Nya. 

Bahan diambil dan diterjemahkan dari:
Judul Majalah: Living Life, Volume 3, Number 12
Judul Artikel: The Drunkard's Wish
Penerbit : Tyrannus International Ministry, 1994
Halaman : 110
Sumber : ajaran-kristen.blogspot.co.id

Jumat, 02 Desember 2016

KESAKSIAN : HIDUP DIPERBUDAK NAFSU

Merry, seorang wanita asal Palembang. Pada usia 21 tahun, ia dipaksa menikah oleh pria pilihan mamanya. Namun pernikahan itu tidak seperti yang Merry bayangkan. Di dalam kehidupan rumah tangganya, Merry tidak mendapatkan kepuasan dalam hubungan suami istri. Merry sendiri memiliki sifat seorang pemberontak. Jadi terhadap suaminya sendiri ia melawan sehingga percekcokan di dalam rumah tangganya menjadi hal yang biasa terjadi.

Saat anak terakhirnya lahir, Merry mulai mengenal dunia malam. Merry mulai mengenal banyak sekali laki-laki, sampai akhirnya ia menjabat sebagai seorang wanita panggilan yang bisa dibayar. Merry sangat menikmati apa yang dilakukannya saat itu. Ia mendapatkan uang, mendapatkan apa yang ia inginkan. Tipe laki-laki seperti apapun bisa ia dapatkan. Tapi Merry sama sekali tidak mengabaikan tugas rumah tangganya untuk mengurus anak-anak. 

Ketika perselingkuhan Merry sering dipergoki oleh suaminya, Merry tetap menjalankan apa yang ia senangi itu. Merry sama sekali tidak memperdulikan perasaan suaminya. Setiap laki-laki yang Merry lihat, apalagi yang terlihat memiliki uang banyak, dengan segera didekati oleh Merry atau bahkan sebaliknya para pria itu yang mendekati Merry.

Tak tahan melihat perselingkuhan Merry, suami Merry pun memutuskan untuk berpisah dengannya. Awalnya Merry melakukan kesenangannya itu hanya demi uang namun dalam perjalanan hidupnya, akhirnya Merry mendambakan seorang laki-laki. Merry tak dapat hidup tanpa laki-laki dan seks.

Setelah tujuh tahun hidup bersama dengan seorang pria, Merry baru menyadari bagaimana ia sebagai seorang wanita hidup di atas penderitaan wanita lain. Pria ini adalah pria terakhir yang menjadi selingkuhan Merry karena Merry tidak dapat melupakan perlakuannya yang amat menyakiti hati. 

Suatu hari Merry membutuhkan uang untuk membayar uang sekolah anaknya. Tetapi pria itu memperlakukan Merry seperti seorang pelacur jalanan. Ketika pria itu memberikan uang, saat itu juga dia minta dilayani berhubungan seks. Padahal pada saat itu Merry tidak ingin melakukannya. Saat itu Merry sedang risau karena pembayaran uang sekolah anaknya sudah terlambat. 

Dari situlah mulai timbul perasaan benci terhadap pria itu dan cara hidupnya yang salah. Merry mencoba untuk menolak dan protes sampai akhirnya timbul dendam kepada pria itu, mengapa jika dia memberikan uang, Merry harus melayani kebutuhan seks dia terlebih dahulu. Namun tidak ada pilihan, mau atau tidak mau Merry tetap melayaninya pada saat itu.

Perasaan Merry pun terluka, kebencian dan dendam timbul di hatinya. Tidak ada kasih sama sekali, yang ada hanyalah nafsu belaka. Namun Merry tak dapat melakukan apa-apa karena ia memang membutuhkan uang itu. Tapi, semenjak saat itu Merry memutuskan untuk berhenti dari cara hidupnya yang salah. Apa yang Merry harapkan, kasih sayang dan perlindungan dari seorang pria, tidak pernah ia dapatkan. Yang ia dapatkan justru hidup yang hancur dan nama baik yang tercemar.

Akhirnya Merry bertekuk lutut di kaki Tuhan dan Merry memohon agar Tuhan mengubah hidupnya dan menolongnya untuk menahan gejolak birahi itu yang datang begitu kuat. Merry hanya dapat berteriak, “Tuhan, tolong saya Tuhan… tolong saya…”
Merry sering memukul tangannya di tembok dan mengakui di hadapan Tuhan, ia tak dapat menahan hawa nafsu ini. 

“Saya berdoa minta tolong karena sangat sulit menahan hawa nafsu itu. Hingga akhirnya saya dibebaskan. Perasaan itu hilang dengan sendirinya. Tuhan menjamah saya. Dan sampai detik ini saya menjadi orang bebas berkat pertolongan Tuhan,” ungkap Merry penuh ucapan syukur.
Merry akhirnya dibebaskan dari keterikatannya akan seks dan Merry mendapati perasaan itu hilang dengan sendirinya. Tuhan menjamah hidup Merry dan perasaan itu tak dirasakannya lagi sampai saat ini. (Kisah ini sudah ditayangkan 17 Maret 2008 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber : ajaran-kristen.blogspot.co.id

Senin, 28 November 2016

ALLAH MENYELESAIKAN SEGALA PERKARA DAN KASIHNYA MENYEMBUHKAN

Namaku Novita dan aku adalah ibu dari putra kembar yang kini berusia 9 tahun. Aku mengikuti retret awal di tahun 2006 dan retret penyembuhan batin kemarin ini, April 2009. Yang ingin aku bagikan disini adalah bagaimana Yesus berbicara padaku, menyelesaikan perkaraku satu persatu dan menjawab doa-doaku dengan caraNYA sendiri. Aku menikah di tahun 1999 dan ketika aku hamil 7 bulan, suamiku meninggalkan Kristus untuk menikahi kekasihnya. Aku mengetahui hal tersebut ketika anak-anak baru dilahirkan dan berusia satu bulan. Setelah melalui satu proses yang tidak mudah, suamiku menceraikan istri keduanya dan kembali kepada kami. Namun masalah tidak berhenti di situ. Sejak saat itu aku kerap menerima tindak kekerasan baik fisik maupun mental dari suami aku, mulai dari dicemooh, dilempar sisir, diludahi sampai dipukuli. Dia pun tak berhenti berpindah dari satu perempuan ke perempuan lain dan ada beberapa dari mereka yang dibawa ke rumah. Semuanya aku simpan sendiri. Baik orang tua maupun teman tidak ada yang tahu. Kalau aku ke kantor dengan wajah lebam dan ada teman yang bertanya, aku katakan bahwa aku secara tidak sengaja kejeduk kepalanya anak-anak, dan banyak alasan yang lain.


 Satu malam, ketika aku menemukan kartu penuh ucapan cinta untuk suami aku dari salah satu wanitanya, sambil menangis aku berkata pada diri sendiri, “Aku merasa sangat sendirian.” Di saat itu, terdengar dengan jelas suara yang lembut yang dengan penuh iman aku yakini, itu adalah Yesus yang berbicara padaku. Dia mengatakan, “Kamu tidak sendiri, ada Aku bersamamu.” Begitu aku sadar, aku menangis sejadi-jadinya. Betapa bodohnya aku yang berpikir bahwa aku seorang diri.

 Di malam yang lain di saat aku sudah tidak tahan akan beban yang begitu berat, aku memutuskan untuk bunuh diri. Aku pikir dengan bunuh diri, masalah aku selesai. Sambil menimbang-nimbang apakah aku mau gantung diri, potong urat nadi atau minum obat nyamuk, aku pikir aku berdoa dulu saja, mau minta supaya Tuhan cepat-cepat ambil nyawaku. Akupun berdoa dan bilang “Tuhan, aku titip anak-anak. Tolong supaya Engkau cepat-cepat mengambil nyawaku, aku sudah tidak kuat.” Untuk kedua kalinya, Yesus menyapaku yang aku dengar dengan jelas, kataNYA, “Hidupmu adalah anugrah terbesar dariKU, mengapa ingin kau sia-siakan.” Mendengar itu, aku sadar dan menangis meminta ampun dari Tuhan.

Aku ikut retret awal karena aku kuatir bahwa aku menjadi agak tidak waras. Sebelum aku ikut retret, aku tidak mengerti mengapa di tengah penderitaan hidup, ketika aku berdoa aku bisa berkata, “Terima kasih Tuhan karena aku boleh ikut merasakan sedikit dari penderitaanMU waktu Engkau memikul salib.” Waktu itu aku berpikir aku mulai gila dengan berdoa seperti itu. Kini aku mengerti bahwa salib bisa membawa sukacita dan Roh Kudus membimbing kita ketika kita menyerahkan diri pada Tuhan saat kita berdoa. Di retret awal, aku mendapat banyak sekali pengalaman iman yang begitu indah. Setiap aku menutup mata, aku bisa membayangkan Yesus dengan jubah putihnya yang berkilau membuka tanganNYA untukku. Ada saat di mana aku melihat Yesus yang mengulurkan tanganNYA ke aku. Dan satu pesan yang aku dapat dan ingat waktu aku konseling adalah: jangan sombong dihadapan Tuhan. Keselamatan menurut Tuhan tidak sama dengan keselamatan menurut ibu.

Pulang dari retret awal, masalah memang tidak selesai bahkan aku dibawa pada titik kepasrahan yang terendah dalam hidupku. Anak-anakku dibawa pergi dan disembunyikan oleh suamiku selama hampir 4 bulan. Mereka hilang bagai ditelan bumi. Keluarga suami tidak ada yang mau membantu. Aku berdoa, mohon supaya Tuhan segera mengembalikan anak-anak. Setiap malam aku mohon itu dari Tuhan tapi entah mengapa rasanya doaku seolah tidak terangkat. Aku pun marah sama Tuhan dan berhenti berdoa selama dua hari. Kemudian satu hari, aku terbangun pukul tiga pagi. Aku keluar kamar, duduk di ruang tamu dan berdoa. Aku cuma bisa berkata, “Tuhan, kalau boleh, ijinkan aku mengasuh dan membesarkan kedua buah hatiku, tapi Tuhan, kehendakMUlah yang terjadi.” Tiga hari aku ucapkan doa itu, kemudian aku dipertemukan dengan anak-anak.

Saat ini setelah suamiku melakukan tindak kekerasan yang menyebabkan salah satu tulang rusuk bagian depanku bergeser dan pada akhirnya ia memilih untuk hidup dengan salah satu wanitanya yang lain, aku pun berkonsultasi dengan pastor di Keuskupan Agung Jakarta dan kami berpisah. Aku membesarkan anak-anak sendiri. Dalam doa aku sering meminta kepada Yesus supaya DIA memampukan aku untuk membesarkan kedua buah hatiku dengan sabar, bijaksana dan penuh kasih. DIA menjawab doaku dengan mengundangku ke retret penyembuhan batin. DIA mengundangku karena DIA mau menyembuhkan luka-luka batinku supaya aku tidak menorehkan luka pada anak-anakku. Luka bisa berbuah luka dan Yesus yang begitu besar cintaNYA padaku dan anak-anakku, tidak menginginkan hal itu terjadi. DIA mau menyembuhkanku. Itulah jawabanNYA atas doaku.

Di dalam retret, aku dibawa pada kesadaran akan cinta Tuhan. Namun aku pun diingatkan kembali akan semua luka dan sakit hati yang kualami dan rasanya memang sakiiittttt sekali. Semua pengkhianatan suamiku dan tindak kekerasan yang aku terima baik fisik maupun mental diputar kembali dibenakku. Aku meminta supaya Yesus mau mengambil semua rasa sakit itu dan semua luka-lukaku. Dan DIA menjawab permohonanku. Bahkan diluar dugaan, ketika pembasuhan kaki, ada seorang figur yang wajahnya mirip dengan suamiku dan ada yang mirip dengan wanita yang kini hidup dengannya. Aku pun membasuh kaki mereka. Karena rahmat Tuhan dan kemurahan kasihNYA, aku pun bisa mengampuni suamiku dan wanita yang kini hidup dengannya. Dan itu sungguh amat melegakan.

Yesusku menyembuhkanku. Dengan kesembuhanku, aku dimampukan untuk membesarkan kedua anakku dengan penuh kasih dan tidak menorehkan luka pada mereka. DIA yang mengerti kebutuhanku dan DIA yang menjawab semua doa-doaku dengan caraNYA sendiri. Satu ayat Kitab Suci yang selalu kuingat: ‘Serahkanlah hidupmu pada Tuhan dan percayalah kepadaNYA, dan DIA akan bertindak’ (Mazmur 37:5)


Kesaksian ditulis oleh Novita Patricia

Kamis, 24 November 2016

IRMA OCTARI : LEBIH BAIK MATI DARIPADA BAU BUSUK

Irma Octari: Lebih Baik Mati Daripada Bau BusukSumber : Jawaban.com
 Play Video
Di masa lalunya, Irma Octari pernah mengidap penyakit kulit berupa benjolan-benjolan besar di beberapa bagian tubuhnya. Penyakit itu membuat separuh hidupnya tersiksa. Parahnya, bukan hanya teman-temannya saja yang mengjauhinya, tetapi juga saudara dan keluarga dekatnya sendiri perlahan menjauhinya lantaran bau amis dan busuk yang berasal dari luka benjolan tersebut.
“Mereka semua pada pergi karena baunya badan saya. Saya nggak nyalahin mereka sih. Bau banget memang. Itu baunya bau amis, bau busuk,” ucap Irma.
“Awalnya benjolan kecil. Aku pegang-pegang, kog dileher aku ada benjolan. Semakin hari, benjolannya itu menjalar bahkan sampai ke payudara. Itu ada empat bekas. Di tubuh saya itu awalnya dari leher, di bawah leher, di bawah ketiak sampai ke payudara itu sampai bolong,” terang Irma.
Lantaran terhambat biaya, Muriah, ibu Irma tak mampu membawanya berobat ke rumah sakit. Hal yang hanya ia lakukan adalah dengan menjual perabotan rumah demi mencukupi pengobatan alternatif untuk Irma. Sang ibu hanya bisa meratap sedih ketika Irma mengeluhkan rasa sakit tanpa mampu berbuat banyak hal.
“Ke dokterkan pakai duit gedde. Bapaknya nggak kerjajarang pulang. Saya aja yang ngurusin anak, si Irma sakit. Cuman sedih doang saya ngelihat dia. Saudara saya udah nggak ngopenin saya. Orang ajarin kemana aja saya pergi. Sampe abis-abisan saya. Jangankan katanya tv, coek tiga ribu perak saya jual buat berobat nambahin ke alternatif,” terang Muriah.
Merasa tak mendapat penyembuhan dari alternatif, Muriah membawa Irma berobat ke dukun atau orang pintar. Sayangnya, upaya pengobatan yang sudah dilakukan berkali-kali itu tak membuahkan hasil. Irma masih tetap menjerit kesakitan dengan kondisi luka di payudara yang semakin parah.
Hingga di suatu ketika, tetangga baru mereka yang bernama Nurlela yang dikenal begitu baik memberikan sebotol minyak kepadanya. “Waktu dikasih minyak itu sih aku terima aja. Karena memang dia itu orangnya baik banget. Tapi saya sempat nggak percaya minyak itu karena obat di rumah itu banyak banget dan banyak menjanjikan sembuh. Buktinya saya nggak sembuh-sembuh. Tapi karena orangnya baik saya mau terima”.
Keputusasaan dan ketidakyakinan yang timbul di hati Irma, membuatnya tidak segera menggunakan minyak pemberian Nurlela yang telah didoakan itu. Kondisi penyakit terus semakin memburuk. Bahkan sang kakak yang bekerja dan membiayai separuh pengobatan Irma sudah tak lagi peduli.
Terbersit kesedihan di hati Irma bahwa ia telah banyak menyusahkan ibu dan kakaknya. Banyak biaya yang sudah dihabiskan untuk pengobatannya, namun tetap saja tak mampu menyembuhkan penyakitnya. Belum lagi rintihan kesakitan yang selalu dialaminya setiap malam. Perasaan putus asa dan tak ebrguna bercampur menjadi satu dan mendorongnya untuk bunuh diri saja. “Aku udah putus asa banget di saat itu karena semua ngejauhin aku. Kondisi juga udah makin parah. Ini payudara udah ancur separoh, udah keluar nanah. Baunya, saya sendiri aja udah nggak kuat,” terang Irma.
“Akhirnya aku mau bunuh diri aku ambil racun serangga terus aku berpikir, ngapain aku hidup mendingan mati aja. Toh aku hidup nggak ada gunanya. Aku nyusahin keluarga, gara-gara aku sakit semua perabotan rumah habis. Pas aku mau ngambil racun serangga aku dengar suara: Aku mengasihimu. Aku lihat nggak ada orang, aku pikir hantu terus aku lari keluar,” kenang Irma saat menghadapi masa-masa putus asanya itu.
Ketika peristiwa itu, Nurlela dengan senang hati membawa Irma ke rumahnya. Dalam kondisi penyakit yang sudah parah dan bau busuk, wanita itu masih tetap mau memeluk dan mencium Irma layaknya seperti orang biasanya. Melalui wanita itulah Irma merasa diterima dan mulai terdorong untuk mencari Tuhan. “Dia selalu perkatakan yang bagus-bagus. Kamu itu cantik, Tuhan sayang sama kamu. Aneh aja gitu denggernya, kog ada ya manusia kayak gitu”.
Di suatu malam ketika Irma meronta kesakitan, ia teringat akan minyak pemberian Nurlela. Ia pun mulai mengoleskan minyak itu dan meminta agar Tuhan menyembuhkannya. “Waktu itu aku ngelihat ada sosok orang berjubah putih di atas langit. Itu banyak banget orang ngerumunin. Sampai naik-naik ke atas gedung, terus teriak-teriak: Tuhan, Tuhan…. Aku lihat ke atas dan Dia bilang “Aku akan kembali menjemput orang yang percaya dan yakin kepadaku””.
Sejak memakai minyak pemberian itu, Irma mengalami tidur yang begitu nyenyak dan kondisi penyakitnya berangsur-angsur sembuh. Ia menyadari bahwa selama ini Nurlela telah lama meninggalkan Tuhan. Setelah itu, ia mengakui bahwa Tuhan bertindak ketika setiap orang mau mencari dan meminta kesembuhan kepada-Nya. “Ketika saya percaya dan menaruh permasalahan saya kedalam tangan Tuhan, saya percaya Tuhan yang bertindak. Saya mulai berdoa: Sembuhkan saya Tuhan seperti Engkau menyembuhkan orang-orang sakit”.
Kini Irma sudah sembuh, yang tadinya bau busuk, jelek dan tak lagi punya teman, saat ini Irma menjadi teman bagi banyak orang. Segala yang dia alami tersebut diperoleh karena keyakinan dan percaya kepada Tuhan yang sanggup memulihkan segala sakit penyakit dan permasalahan manusia.
Sumber : Irma Octari
www.jawaban.com

Minggu, 20 November 2016

PUJITANTO : KUMAAFKAN PELAKU PENUSUK TUBUHKU

Pujitanto: Ku Maafkan Pelaku Penusuk Tubuhku
Sumber : Jawaban.com
 Play Video
Di suatu malam, tepatnya di hari Minggu pukul 02.00 subuh, seorang pria bertopeng memasuki kediaman keluarga Pujitanto. Namun Pujitanto yang saat itu sudah tertidur mendengar sayup-sayup suara pintu kamar terbuka dan mengira bahwa itu adalah sang istri.
“Suara itu mengganggu, akhirnya sama panggil “Maa..Maa”. Waktu saya panggil, saya langsung bangun. Orang itu pakai topeng, penutup kepala. Naik ke tempat tidur lalu memukul saya dengan pukulan pemijat ke arah muka saya,” demikian Pujianto mengisahkan kejadian yang dialaminya itu.
Saat sang maling berhenti memukulinya, Puji akhirnya merasakan sakit dibagian dada seperti tusukan. Dia mulai menyadari bahwa dirinya ditusuk setelah benar-benar terbangun dan memanggil-manggil sang istri. Endah yang saat itu terbangun menyaksikan seorang pria bertopeng menusuk suaminya kemudian histeris dan meneriakinya ‘maling’. Seketika itu pula pria bertopeng tersebut menyerang Endah dan menusuknya pula dibagian dada.
“Saya keluar kamar sambil teriak ‘malinggg...malinggg’, diikuti oleh anak saya paling kecil. Waktu saya memegang gagang telepon, orang itu saya lihat berusaha membuka pintu lalu balik menyerang suami saya lagi,” terang Endah.
Dengan diselimuti ketakutan dan kepanikan, Endah terus berteriak ‘maling maling’, sampai akhirnya putra sulungnya Peter terbangun dan menyaksikan kejadian itu. Dengan segera Peter berlari menuju kamar orangtuanya dan menolong sang ayah yang saat itu sedang berusaha menghindari serangan pria bertopeng itu. Peterpun berhasil mendekap sang maling dengan ketat, kemudian Puji meraih kabel dan mengikatkannya ke bagian leher si pria bertopeng itu.
Dalam kondisi yang serba kacau, Peter segera meninggalkan sang ayah dan pria bertopeng tersebut untuk mencari pertolongan. Puluhan luka tusukan di tubuh Puji membuatnya lemah tak berdaya. Dia pun akhirnya membiarkan si pria bertopeng tersebut di dalam kamar. Tanpa disangka, sang maling berusaha untuk melarikan diri. Sayangnya, saat hendak menuruni jendela pihak polisi berhasil membekuknya.
Dalam kondisi penuh luka, Pujianto dan Endah berangkat menuju rumah sakit. Berkat doa dan dukungan sang istri, Puji bisa bertahan hingga tiba di rumah sakit. “Tuhan Yesus tuh lebih kuat dari semua ini. Ayo kuat terus jalan. Saya udah pasrah nyampe apa nggak ke rumah sakit. Sepanjang jalan pokoknya saya bilang ‘Tolong Yesus. Tolong kuatkan’. Ternyata sampai di rumah sakit,” kenang Endah.
Puji harus menjalani dua operasi besar akibat luka tusukan yang mengenai organ penting dalam tubuhnya. Rasa sakit yang bukan kepalang membuat Puji begitu menderita. Namun dia kemudian menyerahkan rasa sakitnya kepada Tuhan. “Jadi hidung saya diberi selang langsung masuk ke lambung. Pada saat hari pertama itu, tidak boalh masuk apapun (ke dalam perut). Saya bilang sama perawat ‘saya haus’. Susternya bilang: “Bapak belum pulih. Bapak harus puasa.” Saya membayangkan Tuhan Yesus waktu disalib. ‘Tuhan Engkau pernah merasakan haus seperti itu dan dilukai.’ Saya hanya mencicipi sebagian dari luka itu. Mungkin seperti itulah penderitaan (Yesus) karena kehausan yang luar biasa,” ucap Puji.
Kendati di tengah penderitaan yang begitu menyiksa itu, Tuhan bahkan memberikan kekuatan kepada Puji. Lewat sebuah lagu rohani yang dinyanyikannya dalam hati, Puji seakan mendapat kekuatan baru yang tak terkira. “‘Tuhan adalah kekuatanku, bersama Dia ku tak akan goyah’ Ketika lagu itu saya nyanyikan dalam hati, lagu itu menguatkan saya, memompa semangat saya. ‘Harus sembuh! Harus sembuh!’”.
Sementara sang istri, Endah merasakan sakit yang relatif jauh lebih ringan. Namun peristiwa nahas itu membuatnya hidup dalam trauma dan ketakutan yang begitu mendalam. Saat masih dalam perawatan, polisi yang melakukan penyelidikan tersebut menyampaian kabar yang begitu mengejutkan. Pria bertopeng tersebut ternyata adalah tetangganya.Meski begitu Endah belum mengetahui secara pasti motif dari kejahatan itu. Dengan mujizat Tuhan, kesembuhan pun dialami Puji dan Endah.
Endah yang saat itu masih begitu trauma kerap kali terganggu dengan rasa takutnya setiap malam tiba. Kondisinya tidak mengenakkan itu akhirnya berakhir ketika Puji mengajak sang istri untuk bersyukur kepada Tuhan karena telah diberikan kesempatan hidup yang kedua kalinya. Diapun mengingatkan sang istri untuk mau mengampuni orang lain dan tidak menyimpan dendam.
Empat bulan setelah kejadian, Puji dan Endah akhirnya mengambil keputusan yang pastinya akan sulit diterima akal manusia, yaitu mengampuni sang pelaku sepenuhnya.
Sumber : Pujitanto & Endah
www. jawaban.com

Rabu, 16 November 2016

KISAH NYATA CATHERINE SI MODEL CANTIK : ADA HARGA MAHAL YANG HARUS KUBAYAR

 
Kisah Nyata Catherine si Model Cantik: Ada Harga Mahal yang Harus KubayarSumber : jawaban.com
Banyak yang mengatakan bahwa menjadi model adalah anugerah. Sudah cantik, glamor, memiliki penampilan rupawan dan tubuh memukau pula. Namun, apakah kisah hidup model yang satu ini seindah fisiknya?
Masa Silam
Ayah adalah figur bapak yang baik, bertanggung jawab, dan penuh kasih. Aku kehilangan ayah saat masih kecil, karena ia tewas terbunuh. Kejadiannya benar-benar tidak diduga. Setiap kali mengingat ayah, aku tak kuat menahan air mata. Aku selalu kangen dengannya.
Ibuku menikah lagi dengan duda beranak dua. Jika aku terus bertahan di rumah, pasti akan ada problem-problem yang menyebabkan kami saling menyakiti. Suatu kali aku mengatakan kepada Ibu bahwa aku ingin tinggal bersama pacarku. Ibuku tampak tak peduli. Dia mengiyakan saja saat aku berkata demikian.Terlihat sekali bahwa Ibu lebih menyayangi anak-anak tirinya dibandingkan aku.
Kasih sayang dan perhatian seorang ibu sungguh tak kurasakan.
Tuhan tidak adil. Hidup ini begitu pahit kurasakan. Buat apa hidup dengan keadaan seperti ini? Lebih baik aku mati.
Kabur
Ke Surabaya-lah aku melangkah, mengubur semua kenangan lama yang tertinggal di Makassar. Di Surabaya aku tinggal sendiri, tanpa pengawasan orangtua. Aku merasa ada sesuatu yang kosong dan harus diisi. Akupun mencarinya: mulai dari pergaulan kesana kemari, keluar malam, nongkrong, mabuk, dugem, pesta, pacaran, dan lain-lain. Aku merasa semakin bebas. Seks menjadi titik dimana aku selalu jatuh bangun.
Aku selalu berpikir bisa mendapatkan yang terbaik, meskipun tindakanku terlarang untuk usiaku.
Sebetulnya rasa bersalah dan berdosa itu sering datang. Ada penyesalan yang menghinggapi batinku. Tetapi, setiap kali aku ingat bahwa ibuku toh tidak peduli dengan keadaanku, maka penyesalan dan rasa bersalah itupun terkubur. Pada akhirnya aku menikmati saja semua yang kuperbuat.
Tuntutan Hidup
Dengan gaya hidup seperti ini, tentu aku memerlukan uang yang tidak sedikit. Untuk memenuhi kebutuhan, aku bekerja sebagai Account Executive. Tugasku adalah membantu mengurusi artis dan model.
Suatu kali sebuah tawaran datang tanpa disangka. Ada seorang temanku yang punya butik. Dia menawari aku untuk menjadi modelnya.
Wow, rasanya begitu nyaman menjalani profesi baru ini. Aku disuruh senyum, berpose, memperagakan berbagai gaya, dan lain-lain.
Semenjak fotoku dipasang di majalah, tawaran demi tawaran mulai berdatangan. Tapi itupun disertai dengan harga yang tidak sedikit. Ada yang berani membayarku sepuluh kali lipat, asalkan aku mau difoto dengan pose tanpa busana. Tapi aku tak mau menerima itu. Yang aku mau terima hanya sebatas sesi glamor. Sebetulnya sesi glamor juga sudah menunjukkan bagian-bagian tubuh tertentu yang asusila, meskipun bagiku masih belum menyalahi kode etik. Kuakui, pose-pose demikian memang tidak lazim dilakukan. Uang yang kudapatkan juga memang lebih besar.
Gaya hidupku semakin menjadi-jadi. Aku mulai mengenal narkoba, khususnya ecstasy. Sangat susah untuk bisa lepas dari barang tersebut. Seks bebas juga sudah menjadi bagian hidupku. Dengan pacarku, aku melakukan seks bebas dan merasa bahwa kami sehati serta memiliki satu dunia yang sama.
Tersadar
Aku menjadi berpikir, apakah hidup yang kujalani akan begini saja sampai seterusnya?
Kasih sayang seorang pria itu rupanya semu. Aku tahu, mereka menyukai aku hanya karena mengharapkan bisa tidur denganku. Komitmen pun tak bisa mereka jaga.
Untuk melupakan pikiran-pikiran yang menganggu tersebut, aku mabuk-mabukan. Saat aku mabuk, tubuhku rasanya menghilang, tak ada lagi yang kukhawatirkan. Tetapi saat mabuk itu sudah hilang, aku teringat kembali dengan berbagai masalah dan kepahitan. Itu semua menorehkan luka di hatiku.
Aku sebetulnya ingin lepas, namun tak berdaya. Aku baru tahu bahwa kalau kita sudah terikat dengan narkoba, dan kita berusaha untuk lepas darinya, maka badan akan menjadi sering drop. Rambutku menjadi rontok. Aku butuh topangan seseorang. Namun saat itu tak ada satupun yang peduli.
Di situlah aku merasakan takut mati.
Entah dari mana mulanya, muncul kilas-kilas balik (flashback) perjalanan hidupku dulu. Aku hanya melihat bahwa hidupku dipenuhi hal-hal yang tidak baik. Apakah sampai selamanya aku akan hidup seperti ini? Jika kelak aku mati, maka hanya hal-hal buruk saja yang kubawa, sementara tidak satupun hal yang baik? Aku harus lepas dari semua ini, tetapi, bagaimana caranya?
Dan terlintas di pikiranku untuk berdoa.
"Tuhan, aku ingin punya keluarga, yang tulus mengasihi aku tanpa melihat apa dan siapa. Sehingga aku bisa kuat melewati hidup ini dan kembali tegar. Dan aku juga bisa melanjutkan kehidupan dengan cara yang lebih baik lagi," demikian aku memohon.
Benahi Hidup
Aku lelah. Tak lagi aku mau pacar-pacaran. Aku mau mulai menjalin hubungan dengan serius bersama orang yang tepat, karena aku mau menikah.
Singkat cerita, aku bertemu dengan seorang desainer. Yang aku lihat, dia adalah sosok yang dewasa. Dia mau menerima kekurangan saya, dan aku pun mau menerima kekurangan dia. Lalu kami memutuskan untuk tinggal serumah.
Lama-kelamaan aku mengenal tabiat asli pria ini. Rupanya dia itu seorang pengangguran. Dan ternyata dia adalah seorang duda yang ditinggalkan oleh istrinya. Saat aku hendak menagih janjinya—yang katanya mau menikahi aku—dia malah berkata, "Kamu itu banyak permintaanya, ya!"
Begitulah. Semuanya itu semu. Janji-janjinya hanya kamuflase belaka. Bahkan dia sering mengeluarkan kata-kata kasar.
Keadaan ini semakin membuatku tersiksa.
Semakin lelah diriku ini. Aku hanya berteriak kepada Tuhan, "Tuhan, aku capek. Kalau Tuhan mau ambil nyawaku, aku siap." Bukankah Tuhan sudah mengetahui niat hatiku yang tulus untuk bertobat? Aku pikir aku bisa mempercayai pria itu, namun ternyata pilihanku masih salah.
Lanjutkan Hidup Ini
Aku tetap berusaha tegar melewati hidup hari demi hari.
Suatu hari saat aku selesai pemotretan, aku diajak oleh seorang kawan untuk hadir dalam pertemuan sebuah komunitas.
Komunitas itu membuatku merasa diterima. Orang-orang yang ada di dalamnya menerimaku tanpa melihat latar belakang hidupku yang kelam. Di situlah aku merasa "dirangkul".
Bagiku, komunitas ini adalah jawaban doa dari Tuhan, ketika aku pernah meminta sebuah keluarga yang baru.
Aku bertemu dengan seorang pembimbing rohani yang berani blak-blakan menceritakan kisah hidupnya. Rupanya ceritanya mirip dengan apa yang kualami. Di situlah aku juga berani mengutarakan lika-liku kehidupanku yang bobrok. Aku tidak merasa malu, sebab keterbukaan adalah awal pemulihan.
Kehidupanku perlahan mulai berubah. Dari bimbingan rohani yang kudapatkan, aku mempelajari sebuah kebenaran: Apapun yang terjadi—entah baik maupun buruk—di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan, jangan pernah berpikir bahwa itu adalah musibah. Sebaliknya, jalani dan ambil hikmahnya.
Meskipun kebenaran tersebut sangat membebaskanku sampai-sampai membuat aku tak kuasa menahan tangis, realita yang kuhadapi tak semudah itu. Aku masih belum bisa lepas dari pria yang tinggal serumah denganku itu. Aku diperhadapkan pada situasi yang begitu rumit: di satu sisi aku ingin bertobat, tapi di sisi lain aku tak mampu melepaskannya. Mengapa? Karena ada rasa gengsi, malu, dan lainnya.
Di tengah kekalutan yang membelenggu, sekonyong-konyong aku bisa mendengar suara Tuhan yang berbicara, "Kalau kamu sudah tidak kuat, lepas. Lepaskan."
Sejak itu, aku memilih untuk lari meninggalkan pria ini.
Menyongsong Masa Depan
Aku semakin yakin dengan keputusanku untuk meninggalkan masa lalu dan melangkah menuju masa depan yang luar biasa. Dalam semua yang telah kualami, aku dapat mengambil kesimpulan: Seberat apapun kita disakiti, kita harus mengampuni dan berdoa untuk mereka yang telah menyakiti kita.
Aku sendiri sudah merasakan seperti apa mengampuni itu. Rasanya plong, enak, dan beban terasa diangkat.
Apapun yang sudah kualami, aku mau menerima itu sebagai sebuah proses. Proses yang dijalani tiap orang tidaklah sama. Tetapi, alangkah baiknya kalau kita dapat menyadari bahwa kita telah salah, dan kemudian kita langsung memiliki komitmen untuk mengubah diri kita ke arah yang lebih baik.
Saya juga mau katakan bahwa komunitas adalah suatu wadah yang penting, yang dapat membantu mengubah hidup kita menjadi lebih baik.
Kekosongan akan figur seorang ayah dan kasih sayang, rupanya hanya bisa diisi oleh Tuhan Yesus. Damai diperoleh saat kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Itu sudah pasti; aku sudah mengalaminya sendiri.
Sumber Kesaksian:
Catherine
www.jawaban.com