Selasa, 29 Maret 2016

SHERRY, TEROBSESI DENGAN VAMPIRE SEJAK KECIL

Sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak, Sherry Barnett sudah terobsesi dengan hantu, vampire dan kematian. Bagi Sherry, hari Halloween adalah hari yang paling dinantikan, sama seperti anak-anak lain yang menantikan hari Natal.
"Itu sangat mengasikkan. Ada banyak hal mengerikan, tetapi saya tidak melihat kekerasan di dalamnya."
Namun tanpa disadarinya, ia begitu menginginkan kematian. Jika ada masalah, bunuh diri menjadi hal pertama yang terbersit dalam hatinya. "Saya senang dengan ide untuk mati dan tidak berada di dunia ini lagi," terang Sherry.
Sulit membayangkan seorang gadis kecil sudah terobsesi dengan kematian dan setan, pada hal keluarganya adalah keluarga yang harmonis sekalipun memang orangtuanya tidak percaya Tuhan.
"Masa kecil saya sempurna, saya punya orangtua yang baik. Dan saya memiliki segala sesuatu yang anak kecil inginkan. Keingintahuan akan okultisme dimulai saat saya berusia lima tahun. Dimulai dari hal sederhana, seperti buku-buku cerita anak-anak tentang nenek sihir, hantu, dan itu berkembang."
Saat Sherry bertumbuh dewasa, ketertarikannya pada Vampire semakin besar. Hal ini berkembang menjadi gaya hidup Sherry, bahkan ia berdandan dengan gaya gotik di masa remajanya.
"Jika orang lain menonton film Vampire dan berkomentar itu keren, saya justru memasukkannya dalam hati saya dan menjadikannya gaya hidup saya."
Namun kecintaannya kepada dunia okultisme itu membuat Shery harus membayar harga yang mahal. Setiap hari ia dihantui mimpi-mimpi buruk yang membuatnya depresi, hal ini mendorongnya mengkonsumsi obat-obatan dan minuman keras.
"Saya begitu depresi. Saya ingin mati, dan saya berpikir akan memberikan satu kesempatan lagi pada diri saya. Saya ingin berdoa kepada setan dan meminta dia untuk menolong saya, sebagai imbalannya saya berikan jiwa saya kepadanya."
Seperti dalam film-film, Sherry membuat pentagram dan menaruh lilin-lilin lalu berdoa kepada Setan untuk menolongnya, tapi sekalipun Sherry sudah memohon-mohon sambil menangis histeris, ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari setan. Bahkan menikah dengan orang yang ia cintai dan seorang bayi yang lucu tidak dapat mengusir depresi dalam hidupnya. Hingga suatu hari seorang teman kerja suaminya memberikan sebuah Alkitab.
"Saya membaca Alkitab itu dan mulai merenungkannya. Saya mulai memikirkannya dan membuat saya jadi berpikir tentang Tuhan. Saat saya mulai membacanya, ada sesuatu yang bertanya, "Sherry, dimana pengharapanmu?" Awalnya saya memang berpikir bahwa Tuhan ada di luar sana, namun bukan untuk saya. Dia hanya untuk orang lain, Dia hanya untuk pendeta, pastor dan orang lain. Namun Dia bukan untuk saya."
Namun Tuhan tidak berhenti bekerja dalam hidupnya, firman Tuhan yang terus ia baca itu membuatnya mulai mempercayai Tuhan.
"Saya sedang di dapur, mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga. Saya berbisik pada diri sendiri dan berdoa: "Tuhan, bila Engkau sanggup menghilangkan kecanduan saya pada narkoba, saya akan menyerahkan hidup saya kepada-Mu!" Saya bilang bahwa saya tidak sanggup melakukannya. Saya benar-benar tidak mampu. Saya benar-benar bericara kepada Tuhan, dan Tuhan mendengarkan saya," tutur Sherry sambil tersenyum bahagia.
Ketika Sherry tidur malam itu, ia mengalami sesuatu yang tidak biasa. "Saya merasakan seperti ada kilatan petir yang melewati saya. Saya kaget dan terbangun dan duduk di tempat tidur. Saya mendengar sebuah suara, suara yang terdengar indah…. Bukan suara yang menyeramkan. "Sherry, kamu harus menghentikan semua ini. Kamu harus berhenti memakai obat-obat terlarang!" Saat itu saya kaget sekali, ternyata doa kecil saya di dapur di dengarkan oleh Tuhan. Pada hal itu bukanlah sebuah doa, itu hanya sebuah pembicaraan kecil."
Malam itu, hidup Sherry di ubahkan dan dia pun membuat sebuah komitmen yang sungguh berani, "Tuhan, saya bersedia menjadi Kristen dan akan hidup untuk Engkau. Tidak ada lagi sisi hitam dalam hidup saya dan saya tidak perlu lagi mencari cara untuk mengisi kegelapan itu. Itu sudah hilang dan saya tidak pernah lagi memikirkannya."
Apa yang dialami Sherry bukan hanya mengubah hidupnya, namun juga keluarganya. Rick memberikan hidupnya kepada Yesus Kristus tidak lama setelah Sherry dan mereka dikarunai tiga orang anak yang dibesarkan dalam rumah tangga dimana kasih yang berkuasa bukan ketakutan.
"Tuhan memberikan banyak harapan dalam hidup saya. Saya tahu siapa saya, dan tujuan hidup saya. Saya tenang sekarang. Dia begitu setia kepada saya sampai hari ini, Dia tidak pernah mengecewakan saya."
Sumber Kesaksian:
Sherry Barnett (JAWABAN.COM)

Jumat, 25 Maret 2016

AGUS SALEH : BERSEKUTU DENGAN SETAN AGAR BISA JADI DOKTER

Dengan latar belakang keluarga miskin yang tinggal di perkampungan terpencil, Agus Saleh mulai merenda mimpi menjadi orang sukses. Keterpurukan keuangan keluargamembuatnya terus giat belajar demi menggapai cita-cita sebagai dokter. Sebab dia berpikir bahwa menjadi dokter itu pasti punya banyak uang.
“Karena memang kehidupan kami cukup susah, jadi keinginan untuk menjadi sukses itu sangat kuat sekali. Pandangan saya waktu itu, sukses itu adalah orang yang banyak uang. Jadi saya berusaha dengan sungguh-sungguh belajar supaya saya bisa menjadi seorang dokter waktu itu,” terang Agus.
Tak seperti anak-anak dari keluarga berada yang begitu mudahnya meraih mimpi mereka, Agus malah harus menerima kenyataan kondisi keluarga yang selalu terlilit hutang. Bahkan untuk biaya sekolah bulanan pun orang tuanya tidak mampu membayar. Prestasi Agus yang baik di sekolah tak cukup untuk bisa menggapai impian itu.
Setelah lulus sekolah dasar (SD) dengan prestasi yang memuaskan, Agus berencana terus melanjutkan sekolah. Karena terhambat biaya, orang tuanya yang terus menerus terlilit hutang mengaku tak lagi mampu membiayai sekolah Agus. Anak berprestasi yang memiliki mimpi besar seusia Agus kala itu tentu saja merasa putus semangat. Tetapi dengan tekat yang tak terbendung, dia mencoba mencari cara untuk bisa melanjutkan sekolah.
Agus memutuskan untuk bekerja paruh waktu. Dia mulai ikut mengerjakan apa yang dia bisa lakukan. Dan hasil bayaran yang dia dapatkan digunakan untuk membayar biaya sekolah. Pekerjaan ini dia lakukan hingga dia lulus sekolah menengah atas (SMA).
“Saya tidak ada waktu untuk menikmati masa remaja saya. Kan pulang sekolah, itu harus bekerja sampai kadang dalam sekolah ada program untuk les komputer, les bahasa Inggris, saya kadang tidak ikutin karena memang saya harus bekerja,” kenang Agus saat perjalanan menggapai cita-citanya.
Tak mudah bagi Agus mendapatkan uang untuk memenuhi segala kebutuhan untuk sekolah. Dia bahkan harus rela meninggalkan sekolah dalam beberapa hari untuk kembali bekerja dan mengumpulkan uang yang diperlukan menutupi biaya sekolahnya. Namun kerja keras itu tampak sia-sia karena sekeras apapun dia bekerja, uang yang dikumpulkannya tetap saja tak mampu menutupi kebutuhannya. Hingga suatu kali, seorang teman mengajaknya untuk menghasilkan uang dengan cara bersekutu dengan setan atau roh-roh okultisme. “Segala cara saya lakukan untuk mendapatkan uang walaupun saya harus bersekutu dengan setan,” terangnya.
Setelah berulang kali melakukan ritual-ritual kegelapan itu, dia pun dikuasai roh jahat tersebut. Dia dan teman-temannya mulai menggunakan kuasa itu untuk mendapatkan uang dari hasil perjudian togel. Meski telah bersekutu dengan roh tersebut, Agus malah tak pernah berhasil mendapatkan uang yang lebih untuk melanjutkan sekolahnya menjadi seorang dokter.
“Saya akhirnya terikat dengan kuasa kegelapan dan membuat hidup saya menjadi tidak tenang. Setiap jumat malam, rohnya itu selalu datang mengganggu saya dan saya kerasukan sendiri,” ucapnya.
Tak tahan dengan usikan-usikan setan yang menguasai dirinya, orang tua Agus pun mencari cara untuk menghilangkan kuasa itu. Meski hasilnya tetap gagal juga. Lalu Agus memutuskan untuk pindah dari kota asalnya ke kota lain dan bekerja di sana. Sayangnya, setan yang menguasai dirinya tetap saja mengikuti Agus.
Bukannya malah menjalani hidupnya dengan aman dan bisa bekerja dengan baik untuk menabung demi melanjutkan kuliahnya menjadi dokter, Agus malah selalu terganggu. Sampai akhirnya dia selalu berulang kali mengalami kegagalan dan mulai menyerah. Didalam kegagalan dan keputusasaan itu, Agus mulai mempertanyakan tentang kehdiupannya, tentang apa yang harus dia lakukan ke depannya.
Tiba-tiba dia pun berjumpa dengan seorang teman lama dan kemudian mengundangnya dalam sebuah persekutuan doa. Di tengah-tengah ibadah itu, Agus memang merasa risih dan canggung sebab dia melihat setiap orang di sana bisa merasa bahagia, kecuali dirinya. Melalui renungan yang didengar Agus tentang siapa Yesus itu. Dia mulai membuka diri untuk berbagi kisah hidupnya dengan orang-orang di sana. Dia mulai mau membuka hati untuk mencari Tuhan. Di saat itu pula Agus dilepaskan dari roh jahat yang menguasainya.
“Saya ceritakan bahwa saya dalam keadaan kurang senang atau dalam keadaan tidak bahagia. Kemudian dia (hamba Tuhan) menawarkan untuk berdoa buat saya. Dan saya mau menerimanya, dan ketika dia berdoa, saya merasakan ada sesuatu beban yang terangkat. Ada dorongan yang sangat kuat dari dalam hati saya yang harus keluar. Akhirnya saya melepaskannya saja,” terang Agus. Saat itulah Agus menyadari bahwa roh yang menguasainya adalah akibat dari tindakannya saat bermain-main dengan roh okultisme di masa lalu.
Setelah terlepas dari kuasa Setan yang membelenggu dirinya selama itu, Agus mulai merasakan sukacita yang begitu mendalam. Ia pun mulai rajin ibadah, mengkuti persekutuan dan doa-doa. Meskipun tidak berhasil mencapai cita-citanya menjadi seorang dokter, ia tetap tidak pernah kecewa dan menyesal karena dia berpikir bahwa Yesus yang sudah tinggal didalam hidupnya jauh lebih berharga.
Sumber : AGUS SALEH (JAWABAN.COM)

Senin, 21 Maret 2016

PERTUMPAHAN DARAH

Tumbuh di daerah rawan konflik, Evigo Jermia 'akrab' dengan perkelahian antar warga hingga pertumpahan darah. Saat peristiwa itu terjadi, Evigo kecil kerap diliputi perasaan takut, tertindas, dan tidak nyaman. Disamping perkelahian, banyak warga yang juga mempelajari ilmu kebal. Sebab mereka percaya, ilmu yang didapat dari roh akan membuat mereka semakin kuat dan menang dalam perang antar warga.
Besar dalam situasi ini membuat Evigo tertarik untuk melakukan hal serupa. Menurutnya, bersanding dengan kekuatan gelap adalah solusi yang bisa membantunya melindungi diri. Mulai dari silat, mantra-mantra, ilmu-ilmu gelap, hingga berbagai jimat, semua dikuasainya.
“Saya merasa lebih percaya diri dengan adanya kekuatan itu. Saya juga merasa lebih aman, tenang, dan tertolong dengan adanya kekuatan yang saya miliki itu,” ungkap Evigo.
Saat duduk di bangku SMA, Evigo tidak menyianyiakan ’kemampuannya’.  Dia menggunakannya untuk melawan kelompok yang kerap memprovokasinya. Evigo bahkan tidak ragu untuk menggunakan senjata tajam dan membuat musuhnya lari ketakutan.
Dia memang selalu unggul dalam perkelahian, tetapi dibalik kekuatan yang dibanggakannya, ada hal lain yang harus ditanggungnya. Bagian belakang lehernya sering sakit dan berdenyut di waktu-waktu tertentu. Dan saat bersamaan, muncul keinginan dan hasrat untuk melihat darah tertumpah dalam perkelahian. Setelah melihat darah tertumpah, barulah pikiran dan emosinya tenang.
Mengetahui putranya terlibat okultisme, Ayah Evigo jelas menentangnya. “Intinya dia tidak setuju, namun saya diam saja. Akan tetapi saat bapak mengikuti saya terus, saya akhirnya marah dan memukulnya.”
Setelah itu, ayahnya hanya bisa diam dan tidak melakukan apapun. Berjalannya waktu, Evigo merasa semakin tidak kuasa mengendalikan dirinya. Dia merasa ada hal lain yang mengendalikannya dan sangat sulit untuk lepas.
Melewati masa-masa itu, Evigo kemudian teringat dengan seorang teman lama yang sudah pindah dari kampung. Ditengah kebimbangannya, Evigo pergi dan menemui temannya untuk bertukar pikiran. Bercerita panjang lebar tentang jimat dan ilmu kekebalan yang dimilikinya, Evigo diingatkan tentang kebahagiaan sebenarnya yang berasal dari Isa Almasih.
“Saat dia menanyakan apa saya bahagia dengan kekuatan ini, saya langsung berpikir bahwa kekuatan ini terbatas. Dan sia-sia bila saya memiliki kuasa-kuasa yang lain, karena kekuatan sesungguhnya ada dalam Isa Almasih.”
Sebelumnya Evigo tidak pernah mengandalkan kuasa Tuhan ataupun meminta kekuatan dari Tuhan. Dia hanya mempertanyakan dan mencari bukti nyata atas kehadiran Tuhan. Namun setelah diingatkan, Evigo sadar bahwa apa apa yang dicarinya selama ini hanya tipuan iblis.
“Akhirnya saya menyadari bahwa kuasa gelap adalah tipuan iblis yang hanya membinasakan dan membuat kehidupan kita hancur menuju maut,” tegasnya.
Inilah yang kemudian menjadi titik balik dari kehidupan lamanya.Evigo sadar bahwa betapa Tuhan begitu mengasihi dan mempedulikannya. Sejak saat itu, dia pun mengambil keputusan untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya penyelamat hidupn.
Tidak lagi mengandalkan kekerasan untuk melawan ketidakadilan, kini Evigo berpaling pada kasih Kristus dalam melawan kekerasan. Yakni berusaha untuk mengubah paradigma masyarakat melalui penyebaran Alkitab. Saat ini Evigo bertugas sebagai penerjemah Alkitab ke bahasa Kalimantan Barat, Kanayatn. Usahanya ini juga termasuk untuk mengenalkan kasih, saling menghargai, saling mencintai satu sama lain, dan hidup rukun serta damai.
“Saya melihat bahwa kasih ternyata lebih kuat dari kekerasan dan berbagai hal lainnya. Dan ketika saya menerima Isa Almasih sebagai Tuhan dan Juru Selamat, rasa takut, was-was kecewa, benci berganti menjadi damai sejahtera yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.”
Saat kita mengandalkan Yesus Kristus sebagai satu-satunya kekuatan dan penolong kita, maka tidak ada yang bisa menjauhkan kita dari kasih-Nya yang berkelimpahan. Hidup kita yang sebelumnya dipenuhi dengan rasa takut akan bergantikan dengan sukacita yang luar biasa.
Sumber : Evigo Jermia (JAWABAN.COM)

Kamis, 17 Maret 2016

REGINA CLARINT : DEMI GAYA HIDUP, NEKAT JADI PENGUTI

Sumber : Jawaban.com
Bagi Regine Clarint, hidup mewah itu adalah segalanya. Sebab dengan begitu, dirinya akan diakui oleh orang lain dan bisa mendapat banyak teman. Apalagi saat itu, wanita yang sering dipanggil Iin ini juga bersekolah di salah satu sekolah yang cukup ternama di Palembang. Bahkan demi gaya hidup ini, dia nekat melakukan hal tidak terpuji.
Masuk kelas 2 SMA, keluarga Iin bangkrut. Papa nya merupakan seorang bandar judi dan mendadak kehilangan semua hartanya akibat judi. Kondisi ini menyebabkan kehidupan Iin berubah 180 derajat. “Saya menjadi malu dan minder. Saya takut kalau teman-teman tahu saya tidak punya uang. Akhirnya saya berusaha menutupi kenyataan ini dan berlaku seperti tidak terjadi apa-apa.” Ujar Iin.
Meski begitu, saat di rumah Iin berubah menjadi pendiam dan semakin tertutup pada keluarganya. Kondisi ini semakin diperburuk dengan orang tuanya yang sering bertengkar akibat uang. Sehingga Iin semakin tidak betah di rumah.
Bila dulu Iin terbilang royal dan sering mentraktir temannya, sekarang tidak lagi. Sehingga dia lebih memilih menghindar atau menggunakan berbagai alasan untuk menolak ajakan teman-temannya. Hingga akhirnya teman-temannya menyadari bahwa Iin memang sudah tidak memiliki apa-apa. Mereka pun akhirnya menjauh dan meninggalkan Iin. Tidak hanya kehilangan teman di sekolah, dia juga kehilangan figur keluarga di rumah.
Pada awal tahun 2000-an handphone dengan kamera sedangbooming di kalangan anak remaja. Semua teman-temannya punya, sehingga Iin semakin iri. Hasrat untuk memiliki membuatnya mencari cara untuk bisa mendapat HP yang sama seperti teman-temannya.
Nekat, akhirnya Iin mencuri HP teman sekelasnya. Pada saat itu dia beralasan bahwa dia hanya ingin meminjam sementara. Namun karena kabar ini tersebar luas, Iin batal mengembalikannya. Takut ketahuan, dia akhirnya mengganticasing HP dan menghapus seluruh pesan, kontak, serta gambar di HP tersebut.
Seolah-olah punya HP baru, Iin kemudian pamer kepada teman-teman di luar lingkungan sekolah. Semenjak itu, dirinya semakin yakin bahwa dengan mengikuti trend makin banyak orang yang mau berteman dengannya. Namun setelah beberapa hari, Iin bosan dengan HP tersebut. Dia kemudian mengembalikan HP tersebut pada pemiliknya dengan cuek. “Saya jelaskan bahwa saya hanya meminjam, tapi mereka tetap menuduh saya sebagai pencuri,” kata Iin.
Meski begitu, dia tidak terlalu ambil pusing dengan perkataan orang. Akan tetapi kebiasaan ini berlanjut hingga dia lulus SMA. Sehingga dia sering disebut sebagai kleptomania. “Ternyata saat saya sudah bekerja, saya masih suka mencuri barang-barang. Hal ini saya lakukan demi kesenangan pribadi,” ungkap Iin. Akibatnya, dia pun kehilangan pekerjaan.
Setelah itu, Iin kemudian bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang kerohanian. Saat itu, dia berpikiran bahwa dengan begitu Iin akan bisa berubah menjadi lebih baik dan mendapatkan teman-teman kembali.
Mendapat kakak pembimbing rohani, Iin pun merasa aman dan nyaman. Dia menceritakan segalanya, tentang kebiasaan mencuri dan kesenangan dari dapat dari hal tersebut. Pada awalnya, Iin merasa bahwa kakak pembimbingnya adalah satu-satu orang yang bisa menerimanya. Tapi ternyata tidak demikian. Kejelekannya justru tersebar ke sebagian teman kantornya.
Tentu saja, hal ini membuatnya kecewa dan sakit hati. Tidak hanya itu, orang-orang sekitar juga menjauhi dan menolaknya. Ini yang membuatnya berpikir bahwa sebaiknya dia sendiri saja, dia tidak butuh siapapun.
Selang beberapa saat kemudian, Iin dipanggil oleh rekan kerja yang bernama bapak Yulius. “Saya banyak bicara dengan dia. Pada awalnya saya berpikir bahwa pak Yulius sama seperti mentor saya sebelumnya,” kata Iin.
Akan tetapi kecurigaannya tidak terbukti. “Sebab dia mengatakan bahwa setiap orang pernah jatuh dalam dosa, bahkan hidup dalam dosa. Saat itu, saya mendapati dia sebagai satu sosok yang menerima masa lalu saya.”
Iin menerima banyak kata-kata penguatan dan peneguhan darinya. Selain itu, dia juga melihat ada kasih Tuhan dalam diri Pak Yulius. Sehingga Iin disadarkan bahwa Tuhan telah memberinya kesempatan untuk bertobat. Dia kemudian bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.
“Saya meminta ampun pada Tuhan. Saya tidak ingin membuat Tuhan kecewa karena saya tahu Dia mengasihi saya,” ungkapnya. Iin yang sebelumnya merasa hidup seperti 'sampah' dan tidak layak dipandang orang, kini telah diubahkan menjadi pribadi yang luar biasa dalam kasih Tuhan.
Selain itu, dia juga yakin bahwa ada satu pribadi yang menerimanya, yakni Tuhan Yesus. “Dulu saya berpikir bahwa hidup yang berarti adalah hidup yang punya banyak uang, hidup mewah, dan punya banyak teman. Namun saya salah dan kecewa. Hanya hidup benar di dalam Tuhan-lah yang benar-benar membuat hidup saya jadi berarti.”
Sumber : Regine Clarint

Minggu, 13 Maret 2016

MALAIKAT KECILKU TELAH MENYELESAIKAN TUGASNYA


Pengantar Redaksi: Dalam terbitan /Warta RC  dimuat suatu ucapan belasungkawa atas berpulangnya Olivia Laurencia, 10 tahun, keponakan dari Jelly Lim, anggota Dewan Paroki Regina Caeli. Banyak Warga RC yang menyempatkan diri melayat di rumah duka ikut menitikkan air mata tapi sekaligus diteguhkan iman mereka mendengar kisah hidup Olivia yang berjuang melawan penyakitnya sejak usia satu setengah tahun. Berikut adalah kesaksian yang ditulis oleh salah seorang kerabatnya. Semoga kesaksian ini membawa kita pada permenungan yang mendalam tentang makna hidup kita masing-masing.

Tiga Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh yang cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua orang yang melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping ini. Yah, ini adalah mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.

Sang bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil, segera mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka harus menerima kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata, atau istilah kedokterannya penyakit /Retina Blastoma/. “Biasanya untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi,” demikian kata sang dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya.

Bergelut dengan Pengobatan

Berbagai pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri. Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu. “Dia seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan mata palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu hilang begitu saja. Mata dia sungguh indah, semua orang juga mengakuinya,” berontak sang papa. Akhirnya dipakailah cara /kemotherapy/ untuk mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.

Menurut pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi ke gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat yang biasa-biasa saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh malaikat yang membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata ‘BAPTIS’. Setelah menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan masukan “baptis berarti kamu mesti bertobat!”. Sambil tetap menjalani pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah penyakit yang diderita Olivia.

Di sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Allah mendatangkan penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah mereka. Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael. Setidaknya ini adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan mereka.

Olivia sempat menjalani dua kali /kemotherapy /yang membuat kondisi fisiknya /drop./ Saat ia /drop/ dan trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya dengan kondisi was-was musti siap mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan bantuan darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan. Biasanya setelah /therapy/ ia mengalami kerontokan rambut hingga botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di sekolah ia termasuk salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya. Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan harapan kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap dengan pasrah.
Membawa kepada Kristus

Dalam kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung pada Tuhan Yesus. Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, bagai jam weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk mengajak doa pagi. Ketika melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar  Dengan polosnya Olivia berujar dan mengajarkan papanya “Dalam masalah apa pun kita harus selalu tersenyum.  Imannya kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit itu.

Iman Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada Yesus. Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya.

Bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar biasa kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia berujar kepada sang mama  “Kan Oliv mau jadi peri yang baik hati”. Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan sakit kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria. Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu bercanda dengan semua orang. Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009, saat sakit kepala yang semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah, keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit untuk menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya telah menjalar sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya.

“Terimakasih Tuhan Yesus”

Setiap hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun, kesakitan yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak,  “Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…”.  Sang mama yang tidak kuat melihat penderitaan putrinya mengatakan, “Kalau sakit sekali, menangis saja Oliv,” tapi anak ini sungguh kuat. Dia tidak pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali dikuatkan dan diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu tidak mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua malam menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur 10 tahun berdoa penuh iman. “Terima kasih Tuhan atas kasih karuniaMu, Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv, Tuhan ampuni semua dosa Oliv, terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin…”  Sebuah doa yang sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani Yesus.
Saat malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang mengunjunginya untuk senantiasa berdoa dan mendoakannya sepanjang malam itu. 

Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah tidak tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya  “Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak tahan lagi…”  kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap  “Trima kasih Tuhan Yesus” . Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang. Saat sang papa membisikkan ke telinganya “Papa merelakan Oliv pergi, karena papa percaya di surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan Oliv kami semua merelakan Oliv.” Dalam kondisi yang sudah ‘koma’ Olivia meneteskan airmata.

Sesaat setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil membisikkan di telinganya, “Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv genggam kencang tangan tante yah..” Dalam keadaan ‘koma’ itu ia benar benar menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk selamanya dengan perlahan, tenang dan damai. Dua belas Januari 2009, pukul 15.45.

Tugasnya sudah selesai

Kedua orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan tetesan airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani apa yang selalu dikatakan Olivia selama hidupnya, bahwa “Segala sesuatu ada waktunya; selalu tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat dan tegar dalam pergumulan; berserah dirilah kepada Tuhan Yesus, karena Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi kita”.

Jasadnya sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya menyunggingkan senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak cekung karena sel kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya bahkan terlihat normal kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua mengimani, saat ajal menjemputnya Tuhan terlebih dahulu memulihkan fisiknya. Keluarga besarnya juga mengimani bahwa Olivia adalah penolong yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka. Melalui sakit yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia kembali dipanggil Bapa ke surga.

Bahkan saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang pemimpin Ibadat menyerukan “Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan cuaca cerah… Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami tapi kami yakin Tuhan hadir di tempat ini,” detik itu juga, gemuruh guntur berbunyi seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman ini dengan tertegun berujar dalam hati, “Sungguh ia benar-benar dikasihi Tuhan”.

Segalanya berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan dihantar oleh beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani.
Selamat jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana.

Sumber : sumbercerita.com

Rabu, 09 Maret 2016

KISAH HIDUP REGINA "INDONESIAN IDOL 2012"


Siapa yang tidak tahu Regina Idol? Seseorang yang bukan siapa-siapa tiba-tiba terkenal karena suara emasnya dalam ajang perlombaan menyanyi Indonesian Idol....

Kisah hidup Regina ternyata begitu berat dan mengharukan. Benar-benar sebuah perjuangan hidup sejak dia kecil. Sewaktu kecil dia pernah mengalami kecelakaan. Regina, ibu dan adiknya selamat, sedangkan ayahnya meninggal dunia. Regina mengalami patah kaki sampai harus operasi 2 kali. Ibunya menikah lagi dan tidak lama kemudian ayah tirinya juga meninggal dunia.

Karena tertipu investasi, ibunya harus menggadaikan rumah, sampai akhirnya rumahnya di jual dan membeli rumah kecil yang sekarang dia tempati bersama ibu dan 2 orang adiknya. Rumah kecil itu direnovasi juga dengan bantuan warga, ada yang bantu pagar, atap, dan sebagainya. Demi mencukupi kebutuhan hidup, Regina sejak kelas 1 SMU menyanyi di Cafe. Kehidupan sehari-hari juga mengandalkan bantuan dari saudara-saudara ibunya dan setiap bulan mereka mendapat paket sembako dari gereja.

Bersamaan dengan itu, Regina yang mempunyai bakat dalam bidang menyanyi mencoba mengikuti ajang Indonesian Idol. Dan seperti kita ketahui, Regina berusaha mengikuti Indonesian Idol sampai 6 kali dan semuanya gagal. Bayangkan, gagal sebanyak 6 kali merupakan perjuangan yang tidak mudah bagi seorang Regina. Tetapi tidak ada kata putus asa dalam kamus hidupnya. Regina pantang menyerah dan berusaha terus mengikuti audisi Indonesian Idol untuk yang ke 7 kalinya. Ia tahu bahwa tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya dan selalu ada pengharapan bagi orang yang mengandalkan Tuhan. Dan sungguh luar biasa, pada perjuangannya yang ke 7 kali ini, hanya kata "Woww!" yang dapat dilontarkan oleh Regina dan semua orang yang menyaksikan perjuangan hidupnya. Tak ada yang menyangka bila kegigihan Regina membawa dia pada keberhasilan dan menjadikannya The Winner of Indonesian Idol 2012.

Apa yang terjadi bila saat itu Regina “menyerah” pada seleksi Indonesian Idol yang ke 2 atau ke 3 atau bahkan dia berhenti dan menyerah saat yang ke 6 ? Yang pasti Regina tidak akan pernah mengalami berkat dan kemenangan seperti saat ini. Kemenangan Regina bukan hanya pada pertandingan menyanyi, tetapi juga pada pertandingan iman & kesabaran !

Ada satu quote yang menarik.... 
“The winner sees an answer for every problem. The looser sees the problem in every answer”.
“Seorang pemenang selalu melihat sebuah jawaban di setiap masalah, Sedang seorang pecundang melihat sebuah masalah di setiap jawaban.”

Tuhan menguji kesabaran Regina selama 6 tahun lebih. Tuhan menempa mentalnya, Tuhan menghendaki Regina belajar lebih lagi, dan pada waktu yang sudah Tuhan tentukan, kemenangan itu akan kita dapatkan. Bahkan para juri Indonesian Idol mengakui bahwa kemampuan Regina di atas peserta yang lainnya dan standart seperti kemampuan Regina ini dapat dipakai sebagai standart kualitas bagi Indonesian Idol berikutnya. Sungguh suatu kemenangan yang tak pernah terbayangkan. Tuhan membuat semuanya indah pada waktunya !

Keberhasilan Regina di Indonesian Idol adalah jawaban Tuhan atas kesabaran dan perjuangannya, terlebih atas doa-doanya. Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yg menentukan arah langkahnya. Kiranya kisah hidup Regina ini dapat memberikan contoh bukan hanya di dunia musik saja, tetapi juga di semua aspek kehidupan. Kegigihannya memberi sebuah inspirasi bagi kita semua sebagai anak-anak Tuhan yang harus terus berjuang untuk memenangkan kehidupan ini dan bertahan sampai seluruh rancangan Tuhan digenapi atas hidup kita.

Saya suka sekali dengan perkataan Regina ketika dia menang menjadi The Winner of Indonesian Idol. Dia berkata, "Thank God.. It's the power of prayer!"
Kata-kata itu terngiang dalam telinga saya dan semakin meneguhkan saya bahwa setiap keberhasilan tidak terlepas dari kuasa doa !
Jangan menyerah atas setiap masalah di hidup kalian, tetaplah berharap, berdoa, berjuang, dan beriman!

"Kemenangan adalah untuk orang-orang yang berdoa. Kemenangan adalah untuk orang-orang yang berjuang."

Tuhan Yesus memberkati ! :)

Sumber : dailysalade.blogspot.co.id

Sabtu, 05 Maret 2016

HAL-HAL KECIL DALAM PERISTIWA WTC


Roma 8:28  “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” 

Setelah peristiwa 11 September (9/11) di Amerika Serikat, dimana dua gedung kembar World Trade Center roboh diserang aksi terorisme, sebuah perusahaan mengundang karyawan dari perusahaan lain yang selamat.

Pada pertemuan pagi itu, pimpinan keamanan menceritakan kisah bagaimana mereka bisa selamat. Dan semua kisah itu adalah hanyalah mengenai : Hal-hal Yang Kecil.

Berikut beberapa kondisi yang ternyata membuat mereka selamat dari musibah tersebut:

1. Kepala kemanan perusahaan selamat pada hari itu karena mengantar anaknya hari pertama masuk TK.
2. Karyawan yang lain masih hidup karena hari itu adalah gilirannya membawa kue untuk murid di kelas anaknya.
3. Seorang wanita terlambat datang karena alarm jamnya tidak berbunyi tepat waktu.
4. Seorang karyawan terlambat karena terjebak di NJ Turnpike saat terjadi kecelakaan lalu lintas.
5. Seorang karyawan ketinggalan bus
6. Seorang karyawan menumpahkan makanan di bajunya sehingga perlu waktu untuk berganti pakaian.
7. Seorang karyawan mobilnya tidak bisa dihidupkan.
8. Seorang karyawan masuk ke dalam rumah kembali untuk menerima telpon yang berdering.
9. Seorang karyawan mempunyai anak yang bermalas-malasan sehingga tidak bisa siap tepat waktu untuk berangkat bersama-sama.
10. Seorang karyawan tidak memperoleh taxi.
.
Sedangkan satu hal yang menahan saya sendiri adalah : sebuah sepatu baru. Saya memakai sepatu baru pagi itu, dan berangkat kerja dengan bersemangat. Tetapi sebelum sampai di kantor (WTC), sepatu itu menyebabkan luka di tumit. Saya berhenti di sebuah toko obat untuk membeli plester. Inilah yang menyebabkan saya bisa tetap hidup sampai hari ini.

Sekarang, jika saya terjebak dalam kemacetan lalu lintas, ketinggalan lift, harus masuk ke rumah lagi untuk menjawab telpon … dan semua Hal Kecil yang mengganggu – sekarang ini saya sangat memahami, bahwa Tuhan benar-benar menginginkan saya berada di sini untuk saat ini.

Suatu pagi jika saudara merasa semuanya terlihat sangat kacau, anak-anak lambat berpakaian, saudara tidak bisa menemukan kunci mobil, selalu sampai di perempatan saat lampu merah menyala; jangan terburu-buru marah atau frustrasi, karena TUHAN sedang bekerja untuk menjaga kehidupan anda.

Mazmur 62:6-9  “Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. Sela” 

Sumber: pelitahidup.com

Selasa, 01 Maret 2016

MBOK IYEM MENGUNJUNGI SURGA

Baru-baru ini pernah ada mujizat terjadi di kota Surabaya. Bukan zaman rasul-rasul, bukan zaman John Wesley, bukan zaman Smith Wigglesworth, bukan zaman Kathryn Kuhlman, tapi zaman internet. Suatu mujizat yang menggemparkan kota yang banyak melahirkan hamba-hamba Tuhan berkaliber. Tapi mujizat ini dialami oleh seorang pembantu rumah tangga. Jadi bukan hanya hamba Tuhan di Afrika yang bisa mengalami keajaiban, di Indonesia juga,
Saudara, karena Allah kita adalah Allah yang sama, Amin.!

Ada seorang pembantu rumah tangga yang mati selama delapan jam. Sebut saja ibu ini dengan nama Mbok Iyem. Mbok Iyem ini bekerja di panti rehabilitasi yang bekerjasama dengan kami. Entah mengapa, mendadak Mbok yang rajin ini sakit keras. Ia tidak sempat meminta ijin sakit karena mendadak sangat tidak enak badan. Ia pun masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya.

Dalam beberapa menit saja, matanya terbalik dan tubuhnya membiru. Dan tidak lama kemudian dia meninggal. Sewaktu dia meninggal, pembantu yang lain, seorang laki-laki melihat tubuhnya sudah kaku, dipanggil-panggil namanya tidak menyahut, diperhatikan tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Setelah mendekati dan memastikan kecurigaannya benar, iapun memanggil kepala panti. Kepala panti rehabilitas.

Mbok ini adalah pembantu rumah tangga yang berasal dari kaum Kedar. Dia baru bertobat menerima Tuhan Yesus beberapa tahun ini. Dulu sebelum bertobat dia adalah pembantu rumah tangga yang terkenal galak dan kejam, Saudara.

Rupanya saking kejamnya dia, pernah ada pembantu yang lebih mudah dan lebih kuat saking tidak tahan melihat kelakuannya mendorongnya dari lantai dua di tempat kerjanya yang lama. Jadi sebelum bekerja di panti ini. Akibatnya kakinya patah. Dan jalannya menjadi terpincang-pincang karena tidak mendapatkan perawatan yang benar.

Tidak ada yang mau menerima seorang pembantu rumah tangga yang pincang, tetapi seorang ibu bersedia menampungnya di panti rehabilitasi yang dikelolanya. Akhirnya, Mbok ini dijamah oleh Roh Kudus dan hatinya mau terbuka terhadap Tuhan Yesus dan mengubah hidupnya.

Yang dulu terkenal galak dan kejam, sekarang ramah dan lemah lembut. Allah kita sanggup mengubah hati setiap orang yang keras menjadi lemah lembut, Amin..!!

Nah, Mbok Iyem ini meninggal. Matinya mendadak, tidak sempat meninggalkan pesan-pesan apapun. Pemilik panti yang hidupnya bergaul dengan Tuhan membicarakan peristiwa aneh ini bersama beberapa tukang yang sedang memperbaiki bangunan yang juga pengikut Kristus. Mereka semua bersepakat bahwa kematiannya tidak wajar. Karena selama ini Mbok Iyem tidak pernah mengeluh sakit atau ada tanda-tanda penyakit di dalam tubuhnya. Ia sehat walafiat sebelum tiba-tiba meninggal. Mereka tidak tahu harus melakukan apa, sementara - ini uniknya - mereka memiliki keengganan yang sama untuk tidak memanggil dokter. Jadi bukan hanya perasaan sugesti satu orang saja. Padahal saya tahu persis mereka punya rekanan dokter. Tiba-tiba mereka terpanggil malahan untuk berdoa dan menyembah. Mereka pun taat. Mereka mulai berdoa menyembah, berdoa menyembah, berdoa menyembah, berdoa menyembah, begitu saja.

Di dalam hadirat Tuhan, tidak terasa beberapa jam sudah mereka berdoa dan menyembah Tuhan. Tiba-tiba di tengah-tengah doa itu tubuh Mbok Iyem yang tadinya kaku bergerak-gerak dan tersedak bangun. Mbok Iyem yang sudah meninggal hidup kembali..!!! Disaksikan oleh pemilik panti, tukang-tukang, dan penghuni-penghuni yang berdoa dan menyembah bersama-sama.

Ooh, jangan pernah meremekan kuasa doa kelompok atau doa komunitas ini, Saudara.
Mbok Iyem tadi minta minum. Setelah diberi minum untuk menenangkan dirinya, ia terus saja dicecar pertanyaan seperti para wartawan saja,”Mbok, tadi waktu Mbok mati ke mana Mbok…?”

“Tadi waktu saya mati saya lihat sesuatu lepas dari tubuh saya…,” Nah, itulah yang namanya roh. Kadang-kadang orang dunia yang sombong dan tidak percaya adanya roh. Tapi nanti kalau ajalnya tiba, barulah kesombongan hilang seketika. Saya tidak pernah menemukan orang mati dengan sombong. Artinya ketika ajalnya tiba, pesan terakhirnya adalah, “Nih lihat ya, aku mati untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, setan tidak ada, surga tidak ada, neraka tidak ada. Aku mati untuk memberitahu bahwa kalian adalah orang-orang fanatik bodoh yang ditipu oleh pendeta.”

Tidak pernah. Kalau seorang tidak mati ketakutan dengan alam roh yang dilihatnya karena yang menjemputnya adalah malaikat maut, berarti ia meninggal dengan tenang dan damai karena ia mengenal siapa yang menjemputnya, yaitu malaikat surga ataupun Tuhan Yesus sendiri.

“…dan saya melihat tubuh saya terbujur kaku dan saya menembus plafon rumah ini. Begitu sampai ke atas, saya masuk ke suatu tempat. Tidak ada tempat lain yang lebih indah dari tempat itu. Saya tahu itulah tempat tempat yang sering Pak Pendeta khotbahkan. Yang namanya surga. Surga itu bukan cerita, tapi surga itu nyata..!! Ya, berikan kemuliaan yang paling meriah bagi Allah kita.!

Nah, ceritanya tidak berhenti sampai di sana. Bahkan sebenarnya kalau diceritakan lebih lengkap bisa jadi satu buku. Misalnya waktu di sorga, Mbok Iyem bertemu dengan Tuhan Yesus dia spontan berbicara dalam bahasa aslinya, “Gusti Yesus kulo kenopo? (Tuhan Yesus saya ini kenapa?)”
“Lho, Jeng sampean itu sampun sedo (Loh, Anda itu sudah meninggal).”
Wah, rupanya Tuhan Yesus juga bisa berbahasa Jawa, Saudara. Tuhan itu mengerti segala bahasa, termasuk bahasa air mata. Sampai di sini, Mbok Iyem tidak bisa menahan air matanya menitik. Sungguh indah pengalaman bertemu dengan Yesus. Baru di dalam hadirat Tuhan saja, kita bisa meneteskan air mata, apalagi kalau memandang wajah kemuliaanNya. Milikilah pengharapan yang demikian, Saudara, supaya Anda tidak mudah disimpangkan Iblis..

Sambil meneteskan air mata mengenang perjumpaannya dengan Yesus, Mbok Iyem meneruskan ceritanya, “ Saya disambut Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus berkata begini kepada saya. “Jeng sudah di surga, engkau sudah berbahagia. Ayo, Jeng saya tunjukkan surga kepadamu.”

Untuk Anda ketahui, Mbok Iyem ini bekerja di panti itu setelah bertobat bukan hanya pembantu rumah tangga saja, Saudara. Dia juga melayani. Pelayanannya sederhana. Panti itu mengadakan kebaktian khusus bagi para pemulung, tunawisma lain, supir, pembantu rumah tangga, baby sitter, dan sebagainya di kota Surabaya. Yang hadir sekitar delapan puluh sampai seratus orang. Nah, sebelum mereka memulai kebaktian itu, dialah yang menyapu, mengepel tempat kebaktian itu, menyiapkan kursi-kursi, menyiapkan minum bagi hamba Tuhan dan sebagainya. Hampir tiga tahun dia menjalani itu, Saudara.

Tapi kesaksian Mbok Iyem meneguhkan Firman bahwa Tuhan tidak melihat jenis pelayanan kita. Tuhan melihat kesetiaan dan ketekunan Anda di dalam pelayanan Anda. Tuhan bukan memperhitungkan apakah Anda melakukan pekerjaan baik saja, tapi apakah Anda melakukan pekerjaan itu dengan baik menurut Tuhan ?

Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih! (1 Korintus 16:14)

Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. (Ibrani 6:10)

Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama. (Wahyu 2:19)

Begitu Mbok Iyem dibawa berkeliling keluar dari tahta Allah yang maha suci, ternyata di sekeliling surga itu ada real estate, Saudara. Kompleks perumahan. Tempat tinggal. Jadi rupanya roh kita tidak keluyuran di surga. Sudah ada kaplingnya masing-masing. Anda sudah memastikan kapling tersedia untuk Anda ? Kalau belum minta pada Tuhan Yesus.

"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." (Yoh 14:1 - 4)

Dan Mbok Iyem pun mulai bercerita dengan mata yang berbinar-binar tentang real estate yang ia lihat. Ia masuk ke sebuah tempat. Rumah itu besar sekali. Jauh lebih besar dari rumah tuannya ini. Dan ia bertanya begini (sebetulnya percakapannya dalam bahasa Jawa, tapi sudah saya terjemahkan ke bahasa Indonesia supaya lebih mudah), “Gusti Yesus, ini rumahnya siapa ?”
Tuhan Yesus menjawab, “Ini rumah Jeng di surga.”
Mbok Iyem terperangah kaget, “Hah, besar banget Gusti ?”
Tuhan Yesus menjawab kekagetan Mbok Iyem, “Ya, Jeng telah melakukan di dunia ini pekerjaanKu, Aku memberikan upah bagi engkau sesuai apa yang engkau lakukan.” Ooh, berikan kemuliaan yang meriah bagi Allah kita yang memberikan upah dengan adil pada kita..!

“Sebab Aku, TUHAN, mencintai hukum, dan membenci perampasan dan kecurangan; Aku akan memberi upahmu dengan tepat, dan akan mengikat perjanjian abadi dengan kamu.” (Yesaya 61:8) 
“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:6)

Tiba-tiba Mbok Iyem - sebagai pembantu rumah tangga yang setia ini - ingat sesuatu. Pada saat itu ia teringat kepada anak majikannya. “Gusti Yesus Sinyo sama Noni belum dikasih makan.”

Lho, bayangkan Saudara. Sudah di surga masih ingat bahwa anak majikannya belum dikasih makan. Ini baru tipe pembantu yang luar biasa.

Dan lebih lanjut Mbok Iyem berbicara seperti ini, “Gusti, saya mau kembali saja, Gusti.”
“Ya, kembalilah.”

Kalau memang waktu Anda belum tiba, pasti Anda akan diperintahkan kembali ke dunia. Biasanya setahu saya orang yang ke surga justru ogah balik, meskipun waktunya belum tiba karena begitu indahnya keadaan surga. Tetapi bayangkan, ini yang minta adalah Mbok Iyem sendiri gara-gara ingat anak majikannya belum makan.!

Begitu Tuhan selesai berbicara kembalilah ia ke tubuhnya, Saudara. Rohnya kembali ke tubuhnya dan hidup kembali.

Yang lebih mencengangkan saya, sebelum ia mengalami seperti itu, Mbok Iyem ini buta huruf. Tidak pernah bersekolah. Tapi setelah mengalami diubahkan oleh Tuhan, apalagi mengalami kematian dan hidup kembali, sekarang ini Mbok Iyem bisa membaca. Uniknya ia cuma bisa membaca Alkitab. Setelah Alkitab ditutup lalu mencoba membaca majalah wanita, membaca koran, atau membaca yang lain tidak bisa. Buta huruf lagi. Jadi praktis ia cuma bisa membaca Alkitab.

Anda tahu, Mbok Iyem sekarang diundang berkeliling pelayanan, memberikan kesaksian tentang pengalamannya yang ajaib di mana-mana. Sampai ke Amerika sampai ke Jerman. Tidak kalah sibuk dengan hamba Tuhan, Saudara.


Kemarin saya sempat bertemu dengan Mbok Iyem. Dalam kesempatan yang langkah itu saya berkata, “Mbok Iyem kapan ke Balikpapan ? Ayo bersaksi di tempat saya.”
Anda tahu apa jawabannya ? “Ooh, maaf, Pak Pandeta..?” saya kaget kenapa. Apakah ia tidak berkenan melayani di tempat kami ? lalu ia melanjutkan “Jadwal saya bukan saya yang atur, tapi nyonya yang atur.” Wah, hebat sekali. Di rumah, Mbok Iyem adalah pembantu, tetapi di luar rumah, nyonyanya adalah sekretarisnya. Berikan kemuliaan bagi Allah kita .! Haleluya.! Sungguh luar biasa perbuatan Tuhan.

Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (1 Korintus 1:25 - 29)

Karena itu bagi yang punya talenta banyak jangan sombong, yang merasa talentanya hanya sedikit jangan minder. Tuhan sanggup mengubah siapapun untuk dipakai sebagai alat Tuhan yang mulia. !Sekali lagi berikan kemuliaan yang meriah bagi Allah kita.! Oleh karena apa ? Tuhan sudah menjanjikan bahwa kita semua akan mengalami dan melakukan perkara-perkara yang Yesus lakukan. Bahkan jauh lebih besar.! Yang percaya, Anda tahu apa yang harus Anda lakukan, bukan ? Katakan “Amin”..

Sumber: Yehudaministry.blogspot.com