Sabtu, 30 April 2016

DAVID TRISNO : ANAK MANJA YANG TERJERUMUS KE DUNIA KRIMINAL

 Thu February 25th, 2016

 3404

David Trisno: Anak Manja yang Terjerumus ke Dunia KriminalSumber : Jawaban.com
 
Menurut David Tisno, hidup akan sangat nikmat bila bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Terserah orang lain mau berbicara apa, selama dirinya merasa senang dengan tindakannya, maka dia akan tetap melakukannya, meskipun itu buruk. Sehingga dengan karakter ini, di masa mudanya dia lebih suka berteman dengan orang-orang yang tidak memberikan dampak positif, yang berprinsip sama sepertinya. 

Semenjak kedua orang tuanya bercerai, David harus tinggal bersama dengan neneknya. Karena ibunya memilih bekerja di luar kota. “Saya dibesarkan oleh nenek saya di tengah lingkungan yang sangat buruk”. Neneknya dikenal sebagai seorang mucikari, sehingga kehidupannya lekat dengan pesta pora, judi, narkoba, minuman keras, dan tindakan kejahatan lainnya. Dibesarkan berdampingan dengan kehidupan seperti ini membuat David melakukan hal yang serupa.

Selama diasuh oleh neneknya, David menerima kasih sayang penuh dan sangat dimanjakan. Namun dengan cara yang salah, karena neneknya selalu memberikan apa yang diminta olehnya. Bahkan sebesar apapun uang yang diminta olehnya, neneknya akan langsung memberikan tanpa tahu tujuannya. 

Sehingga David bersama teman-temannya sering menghamburkan uang tersebut ke diskotik, minuman keras, dan terjerumus dalam kehidupan malam. Inilah yang kemudian membawanya pada pemakaian obat-obatan terlarang. Pada saat itu, dia percaya bahwa narkoba dapat membuatnya semakin berani dan percaya diri. Sehingga saat memakai narkoba, David cenderung mencari masalah dan melakukan tindak kriminal seperti mencuri. 

Akibatnya, David harus berurusan dengan Polisi. Sekali ditangkap tidak lantas membuatnya jera, karena neneknya selalu datang untuk memberikan uang jaminan dan membebaskannya. Setidaknya sekali sebulan David harus berurusan dengan pihak berwajib karena ulahnya. Hingga satu saat neneknya jatuh sakit dan tidak bisa lagi memberikan uang kepada David. Dia kemudian kembali melakukan tindak kriminal. Kali ini tidak tanggung-tanggung, bersama teman-temannya, dia merampok sebuah rumah. Dan minggu depannya, dia kembali di tangkap Polisi.

“Awalnya saya tidak merasa takut, karena saya berpikir bahwa nenek saya akan melepaskan saya. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu.” David harus menjalani vonis empat bulan sebagai tahanan di Lembaga Pemasyarakatan. Disanalah dia merasakan kejenuhan, lelah, takut, dan merenungi kehidupannya yang hancur akibat perbuatannya. Dalam perenungannya, David teringat akan kenangannya semasa saat kecil. Dimana dirinya mengikuti Sekolah Minggu dan menyanyikan satu lagu yang sangat disukainya, “O betapa hatiku berterimakasih”. Pada waktu itu ada niatnya untuk berubah dan memperbaiki diri. 

Setelah habis vonis empat bulannya David dibebaskan dan apa yang menjadi niatannya untuk menajdi orang yang lebih baik lagi dilupakan. Karena tidak ada yang membimbingnya sehingga dia kembali pada kehidupan yang lama dan kembali dipenjara. Kali ini saat David dipenjara, mamanya datang mengunjunginya. David kemudian meminta untuk dibebaskan. Mamanya menyetujui hal tersebut, asalkan David bersedia masuk rehabilitasi. Sepakat, akhirnya David bebas dan mengikuti kemauan mamanya. 

“Ketika saya ada di rehabilitasi, tidak mudah untuk melepaskan obat-obat terlarang yang mengikat saya.” David mencari-cari obat-obatan terlarang tersebut, namun hasilnya nihil. Alhasil dia menggunakan obat-obatan pusing yang sebetulnya sudah melebihi dosis. Melihat hal tersebut, mentornya kemudian mengajaknya berbicara dan memotivasinya untuk menahan diri dari menggunakan obat-obatan. Melihat perhatian, kesabaran, dan ketulusan mentornya, David menemukan sisi yang berbeda. Melalui mereka, David dapat melihat satu pribadi yang luar biasa, yakni Yesus Kristus

“Akhirnya saya mulai belajar firman Tuhan dan mendapatkan pengertian bahwa hanya Pribadi Yesus yang mampu membaharui kehidupan saya dari kenajisan dan melembutkan hati saya yang keras.” David kemudian mengerti bahwa pergaulan yang buruk yang merusak kebiasaan baik. Setelah paham, David kemudian mengambil keputusan dan berkomitmen untuk tidak lagi terjerumus dalam pergaulan yang buruk. “Walaupun saya kekurangan, dalam masalah, saya merasa ada sukacita selalu di dalam Yesus.” Tidak hanya dirinya yang dipulihkan, tetapi David juga menikmati hidup.

“Saat ini saya mempunyai keluarga dan saya juga dipakai menjadi seorang tokoh masyarakat, sebagai Pembina Kerohanian.” Baginya hidup saat ini telah memberikan kepuasan yang berbeda dari kehidupannya sebelumnya. Kini David menikmati kehidupan yang baik dan tidak lagi berurusan dengan Polisi. “Inilah yang membuat saya ambil keputusan untuk komitmen terus mengiringi Tuhan Yesus dan berada di jalan yang benar.”
Sumber : David Tisno

Selasa, 26 April 2016

KESAKSIAN PAK SUDARMONO : ISTRINYA SEMBUH TOTAL DARI KANKER YANG AKARNYA SUDAH MENJALAR KE BEBERAPA ORGAN TUBUH

Cerita ini berawal dari sakitnya Sumari, istriku tercinta. Sudah sekitar tujuh bulan dia tergeletak lemah tak berdaya di rumah sakit akibat penyakit yang tidak jelas.  Segala upaya kulakukan demi kesembuhan ibu dari anak-anakku itu.  Beberapa tetanggaku menyarankan supaya aku datang pada "orang pintar" yang cukup terkenal di daerah kami.  Karena belum percaya Yesus dan terdorong keinginan kuat supaya istriku sembuh, aku turuti saja saran mereka.  Hampir 10 dukun sudah aku datangi namun tidak ada hasilnhya.  Bagaimana bisa berhasil kalau cara pengobatannya aneh? Obat dari dukun hanya berupa segelas air putih mentah yang diberi bunga mawar, kenanga, kanthil dicampur arang dari dupa yang telah dibakar.  Air segelas itu harus diminum sampai habis.  Meski tidak masuk akal, entah kenapa aku dan istriku percaya dan menuruti petunjuk dukun itu.  Sakit istriku tidak kunjung sembuh malah sebaliknya semakin parah saja.

Setelah lelah, berobat ke sana kemari, aku datang pada Pak Jasmin, seorang penyuluh pertanian yang bertugas di desaku.  Aku ceritakan semua tentang istriku dan usaha yang telah kulakukan.  Kemudian Pak Jasmin yang juga anggota majelis GKJ Ngablak itu menawarkan untuk mendoakan istriku secara kristen.  Meski belum pernah mengenal Yesus, aku rela saja istriku didoakan dalam nama Yesus karena aku sangat ingin dia sembuh.  Tim doa GKJ Ngablak yang terdiri dari tujuh orang itu lalu mengunjungi rumahku.  Mereka bersatu hati mendoakan istriku yang semakin hari semakin lemah saja.  Sebelum pulang, mereka menganjurkan supaya istriku dibawa ke dokter saja.  Herannya, istriku langsung menuruti anjuran mereka padahal sebelum itu dia tidak pernah mau kalau diajak berobat ke dokter.  Mungkin Tuhan sendiri yang membuka hatinya,

Hasil pemeriksaan dokter membuat hatiku miris.  Bagaimana tidak? Ternyata ada tumor yang cukup ganas bersarang di rahim istriku.  Dengan hati sedih, aku membawanya ke RS Dr. Karyadi untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.  Menurut dokter, akar tumor itu sudah menjalar kemana-mana sehingga tidak dapat diangkat.  Satu-satunya pengobatan adalah dengan cara disinar saja.  Namun itupun tidak dapat segera dilaksanakan karena Hb istriku terlalu rendah.  Baru setelah seminggu dirawat, istriku dapat disinar (dibestral).  Di rumah sakit itu, istriku tinggal sekamar dengan pasien kanker kandungan lainnhya.  Selama dirawat tiga bulan, istriku menyaksikan teman-teman sekamarnya meninggal satu per satu.  Hanya dia yang dapat bertahan.  Peristiwa tersebut tidak membuat istriku takut ataupun patah arang.  Dia tetap semangat bahkan punya kemantapan dapat sembuh dari penyakit ini.  Keyakinan ini didapatkanny asetelah dia percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat.  

Memang selama dirawat di rumah sakit, tim doa dari GKJ Ngablak dengan tekun membesuk dan mendoakan istriku.  Dukungan inilah yang menyemangati istriku untuk bertahan hidup.  Bahkan, diapun mulai belajar doa dengan cara Kristen.  Sejak mengenal Yesus, aku juga rajin berdoa dan mengadakan persekutuan doa di rumahku seminggu sekali.  Itulah yang menguatkan aku.

Sementara itu, keadaan istriku semakin parah saja.  Suatu hari, dia sempat tidak sadar selama beberapa saat.  Saat kejadian itu berlangsung, aku sedang di rumah sibuk memanen tembakau.  Saking sibuknya, aku sampai lupa berdoa.  Namun, Tuhan itu tetap baik.  Akhirnya, istriku sadar kembali.  Jika ditanya, apa yang dirasakan selama tidak sadar 30 menit itu istriku selalu tidak dapat menjelaskan.  

Selama sakit, istriku pernah bermimpi didatangi oleh seorang laki-laki berkerudung putih.  Laki-laki yang wajahnya tidak begitu jelas itu lalu menjamah dan menyembuhkannya.  Betapapun aku sudah berdoa dan beriman pada Yesus, sisi kemanusiaanku masih saja muncul.  Hatiku tetap diliputi keraguan, apakah istriku benar-benar dapat sembuh?   Data medis menunjukkan, secara akal manusia istriku tidak dapat disembuhkan lagi.

Namun ternyata kuasa Tuhan melampaui segala akal manusia.  Dari hari ke hari, keadaan istriku mulai membaik.. Aku sangat percaya, ini adalah pekerjaan Tuhan saja.  Karena itu, aku semakin percaya pada Yesus.  Kemantapan hatiku untuk beriman pada Yesus ini langsung kusampaikan pada warga.

Suatu hari aku mengumpulkan beberapa tokoh warga dari dua dusun di bawah pemerintahkanku dalam suatu pertemuan yang kami sebut dengan rembug desa.  Dalam pertemuan ini, aku menceritakan tentang keadaan istriku yang semakin membaik karena didoakan oleh Tim Doa dari GKJ Ngablak.. Aku lalu menyatakan keinginanku untuk percaya pada Yesus dan memeluk agama Kristen.  Puji Tuhan, beberapa tokoh itu tanpa paksaan siapapun menyatakan keinginan yang sama.  Bersama dengan mereka dan didukung oleh pendeta dan majelis dari GKJ Ngablak, aku merintis ibadah di desaku.

Sekitar 150 warga yang berasal dari tiga desa hadir dalam kebaktian perdana yang diselenggarkan pada minggu pertama bulan April 1974.  Kenyataan ini sangat menggembirakanku.  Kebahagiaanku bertambah, tatkala dokter mengizinkan istriku dibawa pulang karena keadaanku sudah membaik.  Sebelum pulang, aku sempat bertanya kepada dokter apakah istriku benar-benar sembuh.  Dokterpun menjawab, bahwa kanker tidak dapat sembuh total, harus tetap kontrol ke dokter.  Akupun pasrah saja.  Kepulangan istriku, mendorong 153 warga desa meminta untuk dibaptis.  Ya, akhirnya hati merekapun terbuka dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya.  Itu terjadi pada bulan Desember 1974 yang kemudian dijadikan tonggak berdirinya gereja kami.

Selama kurang lebih empat tahun, kami tidak mempunyai gedung gereja.  Kebaktian diadakan berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain.  Hingga suatu saat, muncul kesadaran pada warga untuk memiliki sendiri rumah ibadah.  Sebagai ungkapan syukurku pada Tuhan,aku menyerahkan sebidang tanah untuk dibangun gereja.  Namun untuk membangunnya kami masih membutuhkan dana yang tidak sedikit.  Tuhan lalu mengirimkan hambaNya dari Kanada untuk membantu kami.  Dana sebanyak Rp. 1.700.000,-- yang diberikannya sangat berarti bagi kami.  Akhirnya,kerinduan untuk memiliki gedung geereja dapat terwujud meski masih sangat sederhana.  Walau begitu, gedung gereja kami dapat membawa berkat bagi warga desaku, baik yang percaya Yesus maupun tidak.  Gedung itu berfungsi ganda.  Hari Senin hingga Sabtu, tempat itu dipakai untuk sekolah sedangkan hari Minggu untuk ibadah.

Seiring dengan perkembangan jemaat, gedung gereja tidak mampu lagi menampung jemaat.  Kami lalu sepakat untuk merenovasi dengan bantuan beberapa donatur.  Kami juga tetap melakukan swadaya dengan mengumpulkan hasil panen tembakau terbaik kami.  Karena itu, sekarang ada istilah "mbako grejo" (tembakau gereja) untuk menyebut tembakau terbaik.   Saaat ini,kami sudah mempunyai gedung gereja yang dapat menampung 426 jemaat.  Karena itulah, pada bulan November 2001 lalu gereja kami akhirnya didewasakan.  GKJ Kenalan.  Itulah nama gereja kami.  Meski belum mempunyai pendeta, kegiatan kerohanian di gereja kami tetap bergairah.  Kelompok-kelompok PA yang tersebar di beberapa desa lain aktif melakukan kegiatannya.  Ya, kami memang selalu rindu mempelajari Firman Tuhan.  Sejarah lahirnya gereja kami sering kali dianggap unik.  Oleh karenanya, kami sering mendapat kunjungan dari saudara-saudara seiman yang berasal dari berbagi denominasi.

Saat ini, hampir seluruh warga di desa Kenalan sudah percaya pada Yesus meski masih ada beberapa warga yang belum percaya.  Namun kami tetap hidup damai dan saling menghormati.  Sejak percaya Yesus, hatiku merasa damai dan tenteram.  MujizatNya terus berlangsung dalam kehidupanku.  Sumari, istriku dinyatakan sembuh total dari kanker yang dideritanya sejak tahun 1976.  Ini adalah mujizat yang sangat besa karena sebelumnya, dokter memvonis dia tidak bisa sembuh.  Kini sudah lebih dari 25 tahun, istriku tetap sehat.  Kalaupun sakit, itu karena faktor usia maklum saja umurnya sudah 70 tahun.  Untuk mengisi hari tua, kami berdua ingin memberi hidup bagi orang lain.  Kami punya kerinduan untuk membantu sesama yang masih berkekurangan.  Bukan berarti hidup kami sudah berkelimpahan,  Justru di dalam kesederhanaan ini, kami ingin tetap dapat membawa berkat bagi sesama.  Itu sebagai tanda ucapan syukur kami pada Tuhan yang telah meberikan kasihNya pada kami.

Copas : facebook

Jumat, 22 April 2016

KANKER STADIUM EMPAT SEMBUH TOTAL TANPA OPERASI

Nama Saya Ginny Awuy. Saya bekerja sebagai HRD di Rimo Department Store. Saya tinggal bersama anak saya, Steve, karena sudah lama suami saya meninggalkan kami berdua bersama WIL-nya (wanita idaman lain). Tahun 1996, secara tidak sengaja ketika meraba bagian payudara sebelah kiri, saya mendapati benjolan sebesar kacang merah. Karena saya banyak membaca perihal tentang kanker payudara, saya pun menaruh curiga atas gejala ini, sekalipun kekhawatiran itu belum terlalu menyergap perasaan saya.
Waktu terus berlalu, benjolan itu tidak juga kempes, malah sebaliknya, semakin membesar menjadi seukuran bola bekel. Tentu saja melihat gejala ini saya semakin khawatir.Mulailah saya mengambil waktu khusus di rumah selama 1 jam setiap hari untuk berdoa.
Benjolan di payudara saya semakin membesar. Bahkan, benjolan itu semakin banyak, ada yang besar ada yang kecil, pokoknya tidak beraturan, menyebar membentuk seperti kembang kol. Selain itu, kanker ini ternyata cukup memengaruhi stamina saya. Untuk berjalan dari tempat parkir ke toko, atau dari satu lantai ke lantai berikutnya, rasanya capai sekali; seperti habis lari jauh. Saya sendiri, karena takut diketahui orang lain, kalau sudah tak kuat jalan, saya hanya terdiam mencari sandaran sambil pura-pura melihat ke bawah. Keadaan ini terus memburuk, tapi saya tidak putus asa. Saya tetap berdoa dan bekerja walau stamina saya semakin merosot.
Sudah setahun penderitaan mendera, tapi tidak seorang pun yang saya beritahu. Steve pun tidak, sebab saya khawatir kalau dia sampai tahu, studinya akan terganggu. Maklumlah, kuliah Steve sudah berada di semester akhir. Selain itu, alasan mengapa saya tidak menceritakan penyakit saya ini kepada orang lain karena solusinya pastilah dokter -- operasi. Padahal untuk operasi jelas kondisi keuangan saya sangat tidak memungkinkan. Tabungan saya hanya 2,5 juta. Uang sejumlah ini rencananya untuk membayar biaya kuliah dan wisuda Steve. Karena menyadari situasinya seperti ini, kepada Tuhan pun saya sepertinya mendesak, "Tuhan, pokoknya Tuhan harus sembuhkan saya tanpa operasi!"
Pertengahan Desember 1997, ketika akan pulang kerja, tempat parkir ramai sekali. Karena saya mengendarai mobil sendiri, maka cukup banyak tenaga yang harus saya keluarkan untuk menggerakkan persneling. Sampai di rumah, karena saya merasa di bagian payudara yang sakit ada cairan, saya segera masuk kamar dan membuka baju. Betapa kagetnya, ternyata cairan yang keluar itu darah. Waktu itu pukul 20.00 WIB. Steve ada di rumah. Karena saya takut ia tahu, maka saya segera masuk kamar mandi. Betapa semakin terkejutnya saya karena darah langsung menyembur melalui tiga lubang yang ada di payudara saya. Darah mancur begitu derasnya. Rasanya sakit sekali, tapi saya tidak berani berteriak. Saya hanya berdoa dengan kata-kata yang diulang-ulang, "Darah Yesus, hentikan pendarahan saya!" Saya khawatir kalau pendarahan itu tidak berhenti hingga membuat saya pingsan, pasti situasi jadi kacau. Karena saya cukup lama di kamar mandi, Steve pun mulai curiga. Dari luar ia menyapa, "Ma, kok lama amat sih, di kamar mandi?"
"Sebentar," jawab saya.
Waktu Steve memanggil, darah mulai berhenti, tinggal menetes-netes saja. Sambil tetap duduk, saya arahkan "shower" ke tembok yang penuh darah dengan harapan Steve tidak curiga dengan apa yang terjadi. Karena saya lemas dan tidak kuat berdiri, saya minta tolong kepada Steve untuk membuatkan teh manis. Dalam tempo yang tidak terlalu lama, Steve sudah menyiapkan teh manis dan segera mengetuk pintu kamar mandi. Ketika pintu saya buka, Steve nampak kaget melihat bercak-bercak darah yang menempel di tembok. Setelah menutup pintu, karena takut banyak gerak dan khawatir darah keluar lagi, maka saya cepat duduk. Teh langsung saya minum dan hal ini membuat tubuh saya sedikit lebih segar. Saya lalu pakai kimono dan berusaha sedapat mungkin untuk membuat kain kimono itu tidak menempel di payudara. Saya pelan-pelan keluar dari kamar mandi dan langsung berbaring di tempat tidur. Di pembaringan ini, sekalipun tidak banyak, darah kembali keluar. Steve duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah yang sangat sedih sambil mengamati tangan saya mengelap darah yang keluar dengan tissue. Saya lalu bercerita pada Steve secara kronologis tentang penyakit saya.
Kira-kira pukul 02.00 dini hari, rasa sakit itu kambuh lagi. Padahal sebelumnya saya sudah minum Ponstan 4 dan Beralgin 2. Sakit itu begitu luar biasa, sampai-sampai untuk menahan sakit, sprei tempat tidur saya yang dijepit peniti, saya tarik hingga robek. Karena sakitnya tidak tertahankan, saya memanggil Steve, "Steve, ayo ke sini, Mama sudah nggak tahan. Ayo kita berdoa karena Mama merasa sakit sekali." Waktu itu saya merintih, "Tuhan tolong, saya sudah tak kuat lagi. Saya sudah tak sanggup lagi."
Sungguh ajaib, selesai berdoa, sakit itu langsung reda. Ketika saya jatuh sakit, sambil menyelesaikan tugas akhirnya, Steve sudah bekerja di sebuah kantor. Mungkin karena bingung bagaimana mengatur studi, kerja, dan tanggung jawab untuk merawat saya, usai berdoa Steve nampak bingung. Untuk memecahkan kebekuan ini, saya bilang, "Steve kamu besok tetap saja kuliah dan bekerja. Yang penting 'handphone' kamu nyalakan terus. Nanti kalau ada apa-apa, Mama akan hubungi." Steve pun setuju.
Besoknya Steve berangkat kerja seperti biasa. Setelah Steve pergi, saya telepon adik saya, Endang, yang bekerja sebagai suster di RS Fatmawati. Saya menceritakan semua yang telah saya alami, termasuk kapan kanker itu mulai saya temukan hingga pecah secara mengerikan semalam. Hari itu juga saya dibawa ke RS Fatmawati. Sementara itu, Endang menghubungi adik saya yang lain yang ada di Bandung, orang tua saya yang di Amerika, termasuk bos saya di kantor. Setelah mereka tahu, keluarga, orang di kantor, semua panik. Mereka terkejut dan menyatakan rasa herannya karena baru mengetahui penyakit saya. Tiba di rumah sakit, saya langsung dibawa ke UGD. Usai diperiksa, hari itu juga saya diopname. Selama dirawat ini, saya selalu mendengarkan lagu-lagu rohani, membaca buku-buku rohani, dan saya merasa dikuatkan saat membaca buku "Mukjizat Terjadi Bila Anda Berdoa". Di RS, saya dibiobsi dan menggunakan kursi roda karena kondisi saya sangat lemah. Luka di payudara saya sangat besar dan sering mengeluarkan darah. Karena keadaannya seperti ini, yang bisa mengganti kasa yang melekat di luka saya hanya Endang. Suster lain sudah gemetaran lebih dulu sehingga saya tak yakin kalau dia bakal berhasil.
Selesai Berdoa Ada Aliran Hangat Di Dada
Setelah dirawat beberapa hari, kondisi saya tak juga membaik. Bahkan dokter mengatakan pada adik saya, bahwa percuma saja saya dioperasi sebab menurut hasil pemeriksaan, kanker sudah menjalar ke tulang dan paru-paru, hanya bagian paru-paru kanan saja yang belum kena. Karena kondisinya demikian, maka perawatan yang diberikan hanya sekadar untuk memperbaiki gizi saya. Waktu itu dokter sudah memperkirakan bahwa kondisi saya akan menurun, menurun, dan meninggal. Kepada adik saya dokter juga bilang, "Tinggal menunggu harinya saja karena itu senangkanlah hati kakak kamu."
Hari itu hari Sabtu. Seperti biasa, sambil menunggu jadwal visitasi dokter, saya terus mendengarkan lagu-lagu rohani dan membaca buku. Suatu kali, di buku yang saya baca, dikisahkan ada seorang Bapak yang sembuh dari sakit jantung selepas berdoa minta jantung yang baru kepada Tuhan. Pengalaman Bapak ini kemudian saya adopsi. Sebab, keadaan yang dialami si Bapak mirip benar dengan apa yang saya alami. Saya kemudian membaca Alkitab dan mulai berdoa, "Tuhan, saya tahu artinya kanker. Namun Tuhan, saya tahu juga bahwa Tuhan sanggup sembuhkan saya. Tuhan, gantilah semua organ tubuh saya yang rusak dengan organ yang baru. Demi nama Tuhan Yesus Kristus, saya sudah disembuhkan!" Begitu saya mengucapkan "amin", saya yakin benar bahwa Tuhan sudah sembuhkan saya 100 persen. Walau benjolan masih ada dan luka masih menganga, saya yakin Tuhan telah menjawab doa saya. Tiba-tiba saya merasa di bagian dada saya ada getaran hangat yang mengalir. Saya gemetaran dan saya langsung menangis tersedu-sedu. Saya sudah tidak malu lagi menangis di hadapan orang lain. Seketika itu juga saya mengatakan, "Terima kasih Yesus. Terima kasih Tuhan sebab Engkau sudah jawab doa saya."
Pukul 09.00, dokter yang memeriksa saya tiba. Pukul 11.00, dengan memakai kursi roda, saya dites lagi di USG. Setelah beberapa hari kemudian, hasil pemeriksanaan keluar dan dinyatakan: tidak ditemukan lagi kanker di tubuh saya! Mungkin karena tidak percaya, saya diperiksa lagi secara lebih teliti. Saya menjalani USG termasuk di bagian perut saya dan hasilnya bagus. Lalu dilakukan "bone scanning" dari ujung kaki sampai kepala dan hasilnya di luar dugaan: tak ada kanker lagi di tubuh saya. Dokter tidak percaya, lalu dilakukan "scanning" ulang dengan alat yang lebih canggih dan hasilnya tetap sama. Berita ini kemudian saya sampaikan kepada teman saya, Silvia.
Silvia adalah salah satu dari banyak orang yang sangat setia membesuk saya, membantu, dan juga menceritakan keadaan saya kepada orang lain. "Astra," demikian ujar Silvia dengan menyebut nama panggilan saya waktu kecil, "ini sungguh karya Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sungguh luar biasa!" Ketika saya memberitahukan hal ini kepada bos saya dan istrinya, mereka juga mengatakan hal yang senada, "Wah, ini benar-benar pekerjaan Tuhan. Sungguh hebat, luar biasa!" Teman-teman lain yang mendengar berita ini semuanya bersyukur dan terharu.
Setelah dokter yakin benar bahwa kanker itu sudah tidak ada lagi, saya tinggal menjalani penyinaran sebanyak tiga puluh kali. Akhirnya saya diizinkan meninggalkan RS setelah dirawat selama kurang lebih sebulan. Yang tak kalah menakjubkannya, sekalipun saya dirawat di kamar ber-AC dengan biaya yang tentunya tak sedikit, ternyata Tuhan secara ajaib juga telah menyediakan biayanya. Keluar dari RS, dokter tetap menyarankan agar saya menjalani kemoterapi dan minum obat kanker seumur hidup. Anjuran dokter ini saya lakukan hingga kurang lebih 8 bulan lamanya. Suatu ketika, pada bulan Agustus 1988, saya diajak Silvia, untuk mengikuti KKR Kesembuhan Ilahi yang diadakan di Gedung Menara Era, Senen, Jakarta Pusat. Waktu itu pembicara KKR mengatakan, "Mengapa Tuhan tidak bekerja secara luar biasa? Jawabnya, karena pikiran kita selalu meragukan pekerjaan Tuhan. Karena itu, bila kita ingin mendapatkan kesembuhan ilahi, kita harus percaya, kita harus beriman 100 persen bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan."
Setelah khotbah usai, dalam sesi tantangan, akhirnya saya berdoa dan mengambil keputusan: "Sejak malam ini saya tidak akan lagi minum obat kanker dan saya tidak mau dikemoterapi. Tuhan, terima kasih, Engkau sudah menyembuhkan saya secara total. Amin." Malam itu bagi saya menjadi malam bersejarah kedua atas penyakit kanker saya. Saya mengimani bahwa Tuhan Yesus sudah melakukan mukjizat penyembuhan atas kanker saya secara sempurna. Dan benar, sejak saat itu, sekalipun saya tidak minum obat kanker dan tidak menjalani kemoterapi, tapi sakit saya tak pernah kambuh alias 100 persen sembuh total hingga sekarang.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku:10 Mukjizat yang Terjadi pada Orang Biasa
Penulis:Ginny Awuy
Penerbit:CBN Indonesia, Jakarta 2001
Halaman:17 -- 25

Copas : kesaksian.sabda.org

Senin, 18 April 2016

KESAKSIAN DARI IRAN

Di Teheran, Iran, seorang anak laki-laki berusia enam tahun sedang menonton siaran televisi Kristen ilegal yang membahas mengenai Yesus Kristus. Ketika mendengar para pengikut Yesus ini, is menghafal lagu yang mereka nyanyikan, bernyanyi bersama-sama mereka, dan berdoa ketika mereka berdoa. Suatu pagi saat sedang sarapan, sebelum pergi ke sekolah ia berkata kepada ibunya, “saya ingin menceritakan kepada guru saya tentang Yesus. Apa yang dapat saya lakukan?” Bersama-sama mereka memikirkan sebuah rencana. Saat ibunya berjalan bersamanya menyusuri jalan-jalan menuju ke sekolah, ibunya berdoa untuk keselamatan-nya, ia bertanya-tanya,Apakah Allah sungguh menginginkan ketaatan penuh atau pengorbanan semacam ini dari keluarga saya?

Anak laki-laki itu memasuki ruang kelas yang penuh semangat, ribut, dan meletakkan tas ranselnya yang lebih berat dari biasanya di atas meja. Semua anak duduk di kursi mereka dan pelajaran pagi itu pun dimulai. Saat para murid sedang memperhatikan buku tulis mereka, anak laki-laki ini dengan tenang berjalan mendekati meja sang guru dengan selembar kertas pelajaran.

Ia berbisik kepada sang guru, “Apakah ibu mau tahu tentang Yesus?” Sang guru menganggukkan kepalanya bahwa ia ingin tahu.

“Baiklah, inilah yang akan saya lakukan. Ketika nanti jam istirahat, saya akan meletakkan tas ransel saya dekat pintu kelas, membuka resletingnya dan membiarkannya terbuka. Setelah semua murid meninggalkan kelas, baru ibu boleh menghampirinya dan mengambil Alkitab dan video dari tas ransel saya.”

Kemudian di pagi itu, semua anak berlarian keluar kelas untuk bermain. Tas ransel itu sekarang sudah berada dekat pintu. Kemudian, ketika sekelompok anak-anak yang manis berlari bahagia kembali masuk ke dalam kelas, anak laki-laki ini mengambil tas ransel itu kembali ke mejanya. Sekarang tas ransel tersebut tidak terlalu berat lagi.

Keesokan harinya ia bertanya kepada sang guru, “Apakah ibu sudah membaca Alkitabnya? Apakah ibu sudah menonton videonya? Bagaimana pendapat ibu tentang Yesus?”

Sementara itu di seberang kota, seorang kakek dengan kumisnya yang putih berjalan-jalan di atas trotoar. Angin sore bertiup sepoi-sepoi, sehingga banyak keluarga keluar berjalan-jalan atau hanya duduk di atas selimut di pinggir sungai. Sang kakek itu berhenti dan melihat seorang bayi, mengelus kepala, dan berjalan mengunjungi sebuah daerah persaudaraan orang-orang Iran.

Setelah berbicara beberapa saat dengan sebuah kelompok yang tertarik, ia membagikan beberapa buku kecil, brosur, dan terkadang sebuah kitab Perjanjian Baru kepada yang penasaran, yang mau menerima. Keesokan harinya kakek ini keluar lagi, tetapi kali ini polisi berseragam ada di sana. Mereka merampas literaturnya dan menjatuhkan kaca-mata bulat peraknya dari wajahnya. Menggiringnya menuju ke mobilnya, mereka menemukan satu kotak Alkitab Perjanjian Baru di kursi belakang mobilnya. Yang membuat keadaannya lebih buruk, ia adalah Muslim yang telah menjadi pengikut Kristus. Para petugas membawanya ke penjara. Beberapa minggu kemudian, setelah keluarganya mengajukan banding dan sebuah “hadiah” yang besar, sang hakim pun membebaskannya.

Beberapa bulan berlalu. Di sisi lain di kota itu, seorang yang tidak asing lagi berjalan pincang menyeberangi sebuah jembatan pejalan kaki yang lebar dengan tenangnya. Ia lagi, dengan literatur dan brosur di dalam tasnya, kata-kata penuh kasih, percakapan santai tentang kasih, Allah, masalah-masalah, arti hidup.

Seorang anak yang berusia enam tahun dan seorang kakek – para pengikut Yesus Kristus di sebuah negara yang dicap sebagai pengekspor terorisme. Keadaan apa yang telah menghasilkan orang Kristen berani ini? Bagaimana ini mungkin bahwa mereka begitu berani atau bahwa mereka ini benar-benar ada?

Di Iran, kelompok etnis yang diijinkan untuk menjalankan Kekristenan, seperti orang-orang Armenia, terdiri hanya kurang dari 10% populasi Iran. Kebanyakan orang percaya memilih tidak membagi iman mereka karena membahayakan. (Ada pahlawan-pahlawan Kristen di antara kelompok injili Armenia. Selama 15 tahun terakhir, banyak yang dipenjarakan atau mati martir). Walaupun penindasan yang luar biasa dan kurangnya orang-orang percaya, kelaparan rohani yang hebat sedang berkobar di seluruh negeri.

Selama perjalanan terakhir saya ke Iran, pemandu saya, orang Iran asli, tidak tidur semalaman membaca kitab Perjanjian Baru yang saya berikan kepadanya. Saat sarapan pagi, ia menanyakan berbagai pertanyaan dan menyatakan beberapa komentar positif tentang Yesus Kristus. Ia masih muda, sudah berkeluarga, juga seorang lulusan sastra Inggris. Ia membawa saya ke rumahnya untuk minum teh dimana istrinya dan anak-anaknya yang ramah, menyambut saya dengan penuh hormat dan keramah-tamahan.

Keluarga ini mewakili orang Iran yang tidak dikenal, bukan seperti gerombolan-gerombolan orang yang berteriak di jalan, bukan barisan-barisan panjang para peratap yang berjalan sepanjang jalan, tetapi sekelompok orang yang ramah, orang-orang luar biasa yang lapar akan firman Allah. Iran adalah suatu bangsa dengan populasi salah satu paling ramah dan berpendidikan di muka bumi ini, sebuah populasi yang didominasi oleh orang-orang muda yang dewasa di bawah usia 30 tahun, yang telah berkali-kali memilih orang muda, parlemen yang berpikiran progresif yang terus menerus ditolak oleh jari yang menindas dari dewan para ulama yang berkuasa. Yesus mengekspresikan pendapat-Nya mengenai tirani keagamaan di dalam Matius 23.

Selama 30 tahun, kekuasaan Iran telah mengekspor teror dan melahirkan pengikut-pengikut kebencian dan di alam nama allah di bangsa-bangsa. Dan hal ini terus saja berlanjut hingga sekarang. Di pertengahan jalan menuju kampanye Islamisasi yang keras, kebanyakan orang Iran yang tidak keluar dari negara mereka kini telah menjadi lelah dengan kekejaman, penindasan, kesetiaan tanpa kasih kepada allah yang dituntut oleh negara Islam mereka. Kecuali saat pawai dan pengerahan massa, sebahagian besar udara (rakyat) telah meninggalkan balon (slogan-slogan) yang dibawah masuk oleh Ayatollah Khomeini di tahun 1979.

Selama kunjungan saya ke Iran, kepada saya telah diberitahukan bahwa Dewan Wali yang terdiri dari para ulama, demikian juga para tokoh politik keagamaan lainnya yang memegang kekuasaan mutlak, mereka memiliki tabungan sendiri di bank Dubai, dimana ada ratusan juta dollar di sana tetapi tidak pernah dibagikan kepada rakyat Iran. Keserakahan mereka tetap aman dibawah nama allah. Betapa tragisnya bahwa beribu-ribu rumah berdinding lumpur dengan mudahnya runtuh dalam gempa bumi di Iran, membunuh banyak orang miskin, sementara itu para pemimpin politik keagamaan yang tidak dikenai pajak secara bersama-sama tumbuh jauh lebih makmur daripada Shah (rejim demokrasi sebelum pemerintahan Republik Islam) yang digulingkan.

Dapat dimaklumi, banyak orang Iran yang putus asa menemukan kenyamanan dalam heroin yang berjumlah sangat besar yang melintasi perbatasan-perbatasan Iran. Januari tahun 2006, kantor-kantor berita melaporkan bahwa Iran memiliki persentasi tertinggi di dunia akan orang-orang yang kecanduan obat-obat terlarang, tanda dari orang-orang yang tak berpengharapan.
Di negara Barat, banyak kota yang memiliki misi penyelamatan dimana orang-orang yang putus asa bisa mendapatkan pertolongan dari tanda salib (gereja atau organisasi misi). Di Iran, tanda salib yang melingkar di leher biasanya berarti si pemakai adalah orang-orang Kristen Orthodoks. Orang-orang Muslim Iran hanya tahu bahwa orang-orang Kristen Orthodoks tinggal di negara mereka memiliki kebiasaan dan hak legal untuk menjual minuman alkohol tanpa larangan, sedangkan orang Muslim tidak boleh. Banyak orang Muslim menghargai bentuk “Kekristenan” ini sebagai pintu belakang mereka untuk secara diam-diam membeli minuman keras.

Masih di tengah-tengah kegelapan ini, sepercik harapan sedang tumbuh menjadi kobaran api ketika orang-orang Iran mengalami kasih Allah. Di satu kota saya memberi sebuah Perjanjian Baru yang dibungkus dengan kertas kado kepada seorang manejer yang saya jumpai. Ia menyembunyikan di dalam lacinya dan berlari ke seberang gedung untuk menceritakan dengan semangat kepada lima orang perempuan lainnya. Sebagian dari perempuan itu  melambaikan beberapa carik kertas kepada saya. Saya mendekati, dan salah satu dari mereka berkata kepada saya, “Mohon Pak, kami juga ingin memiliki satu.” Saya memberikan kepada mereka lebih banyak kitab Perjanjian baru yang diselipkan du antara halaman-halaman surat kabar Iran. Mereka menyembunyikannya di balik jubah hitam mereka karena orang-orang Iran tidak dapat terang-terangan membaca Firman Tuhan.

Bab berikutnya didalam Berserah Kepada Tuhan adalah beberapa kumpulan kecil kesaksian yang mewakili pertumbuhan terbesar dan tercepat dari pergerakan Muslim di dunia: Orang-orang Muslim di Iran yang menjadi Kristen. Kebanyakan dari orang Kristen berlatar belakang Muslim ini mengambil resiko segalanya untuk datang kepada Kristus. Tidak peduli apa status mereka, negara Islam menentang mereka.

Kolonel Iran, Hamid Pourmand, dijatuhi hukuman selama tiga tahun di penjara pada 17 Pebruari 2005, ketika diketahui bahwa ia adalah juga seorang pendeta. Ia ditangkap saat menghadiri suatu konperensi gereja dalam suatu penyergapan dimana ia dan lusinan pemimpin gereja lainnya dijebloskan ke dalam penjara. Non-Muslim tidak diijinkan untuk memegang posisi kemiliteran. Pourmand, yang berpindah keyakinan kepada Kristen dari Islam, 25 tahun yang lalu, dijatuhi hukuman penipuan keyakinan di dalam angkatan bersenjata Iran.

Pada tahun 2006, Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad dengan marahnya menyatakan bahwa ada sekitar 500 hingga 6oo orang Kristen baru berlatar belakang Muslim setiap bulannya di Iran, ia salah. Jumlah mereka lebih banyak dari itu. Di buku ini hanyalah sebagian dari kisah mereka. Nama-nama di dalam buku ini telah diganti untuk melindungi identitas mereka. Dalam kesaksian mereka, yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris (dan banyak bahasa termasuk Indodesia – red), kami tetap memakai beberapa ekspresi yang janggal dan tata bahasa yang tidak semestinya untuk menggambarkan kesaksian mereka dengan lebih akurat. Orang-orang percaya ini adalah petobat baru, jadi beberapa pernyataan teologi mereka tidak sempurna secara doktrin di mata beberapa pembaca. Tetapi mereka mempunyai Kitab Suci dan persekutuan dan keinginan kuat untuk mengikut Kristus.

Ketika Anda membaca buku ini, sekiranya Anda dikuatkan oleh orang-orang percaya beriman ini dan tergerak berdoa bagi Iran.

Sumber : yesuskristus.com

Kamis, 14 April 2016

WILAN, KUPU-KUPU MALAM


Kehidupan malam kujalani
Aku pertama kali menjadi pelacur pada usia 15 tahun. Penghasilan yang kudapatkan adalah 40% - 60%, maksudnya aku menerima 40%, sedangkan "mami" mendapat bagian 60% dari bayaranku. Aku sudah tidur dengan banyak laki-laki dari berbagai kalangan dan hal ini terus kujalani sampai usiaku yang ke 19 tahun. Aku juga terjerat dalam dosa pergaulan bebas, minum-minuman keras, narkoba, dan juga seks bebas. Dalam hati kecilku sedikit terbesit betapa kotornya hidupku. Aku berusaha mencari jati diri di tempat yang salah. Namun karena tuntutan kehidupan yang keras, aku tetap menjalani kehidupan malamku ini.
Penyebab aku menjadi kupu-kupu malam

Aku dibesarkan dari sebuah keluarga broken home. Ayah dan ibuku bercerai, lalu masing-masing menikah lagi, dan aku serta kakakku tinggal bersama Oma kami. Tapi perlakuan Oma padaku berbeda dengan perlakuan Oma pada kakak. Aku sering "dianaktirikan", sering dicerca, dicaci maki, dan dihajar oleh Oma, sedangkan Oma selalu membanggakan kakak. Aku berpikir apakah karena aku ini jelek mangkanya Oma membenciku.

Karena tidak tahan dengan perlakuan Oma, aku ikut ke Palembang dengan orang yang pernah kos di rumah Oma. Disana aku membantunya membereskan rumah. Namun karena keadaan keluarganya tidak baik dan sering bertengkar, selalu aku yang dijadikan sasaran kemarahan. Akhirnya setelah 3 tahun di sana, aku kembali ke rumah Oma. Ternyata di rumah Oma, aku tetap diperlakukan seperti dulu.

Akhirnya aku memutuskan tinggal di rumah ayahku. Tapi ternyata kehidupan di sana juga tidak lebih baik. Aku "di anak tirikan" oleh ayah kandungku sendiri. Aku bahkan difitnah menyakiti adik tiriku. Aku sangat benci pada ayahku saat itu juga. Akhirnya karena tekanan-tekanan itulah aku memutuskan menjadi "kupu-kupu malam" sebagai pelampiasan kekesalanku. Padahal orang tuaku adalah orang yang berkecukupan.

Memasuki dunia rumah tangga

Suatu hari karena kecerobohanku, aku dinyatakan positif hamil. Namun pria yang menghamiliku tidak mau bertanggung jawab. Akhirnya aku menikah dengan tetangga dekat rumahku karena ia sangat mencintaiku. Tapi rumah tangga kami berantakan. Suamiku bukanlah tipe orang yang bertanggung jawab. Bahkan ia tetap menjadi pengangguran sampai-sampai aku tetap menjadi pelacur demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika anakku lahir, aku memutuskan bercerai darinya.

Satu tahun kemudian, tahun 1976, aku menikah dengan Edy, pria yang dikenalkan sahabatku. Pergaulan bebas yang kujalani membuatku menjadi seorang yang berkarakter keras namun Edy selalu mengalah padaku. Ia tipe suami yang baik. Karena itulah sifat kerasku semakin menjadi-jadi. Pernikahan kami dikaruniai 4 orang anak namun aku tetap menjalani kehidupan bebasku sehingga aku menelantarkan suami dan anak -anakku.

Tetap tidak bertobat

Bahkan di usiaku yang ke-49 tahun, aku tetap keluar masuk diskotik. Berkali-kali aku hampir OD (Over Dosis), tapi aku tetap tidak kapok juga. Seringkali saat aku OD dan hampir mati, aku mendengar suara- suara yang berkata, "Bukalah matamu..." Namun aku mengacuhkannya. Sampai suatu kali saat aku OD, aku jatuh di tengah diskotik dan ada suara yang berkata, "Lihatlah sekelilingmu..." dan aku melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Orang-orang yang ada di sana berubah menjadi sangat menyeramkan, tidak mempunyai tempurung kepala dan mereka semua bertanduk. Wajahnya sangat menyeramkan. Aku tidak merasa takut saat itu, hanya sedikit drop dan aku memutuskan duduk di tepi panggung.

4 Oktober 2005, ketika sedang berada di dalam diskotik, aku sekali lagi mendengar suara yang berkata, "Pulanglah atau engkau akan terhilang..." Aku merasa sangat takut dan memutuskan tidak akan pernah ke diskotik lagi.

Akhirnya aku sadar akan dosa - dosaku

Sejak saat itu aku tiba-tiba menyadari bahwa dosaku sangatlah parah. Pasti hidupku sangat hancur dan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Saat itu juga aku sadar bahwa ternyata selama ini suara-suara itu adalah teguran dariNya padaku. Aku langsung menangis meminta pertolongan dan pengampunan dari Tuhan. Aku tidak ingin masuk ke dalam perapian kekal, aku ingin bebas lepas dari ikatan maut ini. Aku menyalibkan kedaginganku dan aku memikul salibku serta mengikut Yesus dalam hidupku. Aku mulai aktif ke gereja dan mengikuti Family Altar.

Tanggal 19 Mei 2006 aku mengikuti sebuah retreat pemulihan. Di sana, ketika didoakan, aku memperoleh penglihatan sebuah hati berwarna biru dan beku seperti es. Ternyata itu adalah hatiku. Saat itu aku sangat membenci keluargaku. Aku menyimpan dendam yang amat dalam kepada mereka. Tapi berkat kasih dan kekuatan yang luar bisa dariNya, aku tiba-tiba dapat mengampuni ayah, ibu, dan Omaku yang telah melukai hatiku. Saat itu juga aku melihat bahwa tangan Tuhan menyentuh hatiku, menggenggamnya, lalu mengubah hatiku yang beku menjadi cair dan berwarna merah terang. Lalu Tuhan mencabut hatiku yang penuh dengan kepahitan itu sampai ke akarnya. Aku dapat merasakan betapa sakitnya dadaku ketika akar kepahitan di hatiku dicabut oleh tanganNya. Aku menangis merasakan sakitnya. Namun setelah itu aku merasakan damai sukacita yang begitu luar biasa. Tuhan benar-benar telah memulihkan hatiku dan juga hidupku.

Hubungan keluargaku dipulihkan

Sepulangnya dari retreat tersebut kehidupan keluargaku berubah drastis. Hubunganku dengan suami dan anak-anakku dipulihkan. Aku meminta maaf sambil menangis dan memeluk mereka satu per satu. Tuhan memang baik. Ia memberikan kasih di hati suami dan anak-anakku sehingga mereka bisa memaafkanku. Semua berjalan dengan luar biasa. Penuh kasih, damai sejahtera, dan sukacita. Kini aku selalu menyempatkan diri untuk meluangkan waktu bersama suami dan anak-anakku. Bahkan aku juga kini melayani di gerejaku. Syukur bagi kebaikanNya, kini aku benar-benar menjadi hambaNya yang taat dan setia dalam seluruh area kehidupanku. (Kisah ini telah ditayangkan 26 Juli 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).(sumber)

Sumber Kesaksian :
Wilan

Minggu, 10 April 2016

PEMULIHAN SANG ANAK BUANGAN


Berasal dari keluarga yang kurang mampu, sewaktu kecil Komen harus menyaksikan orang tuanya terpaksa menyerahkan adiknya yang baru lahir untuk diasuh oleh bidan yang menolong ibunya.
Komen mengingat masa lalunya yang pahit.
"Orang tua saya sangat susah. Mesti melaut dulu baru dapat makanan. Kalau tidak melaut ya tidak makan."
Suatu hari Komen menyaksikan kejadian yang membuat dirinya sangat terpukul. Sebagai anak 6 tahun yang masih polos, dia menyaksikan perselingkuhan mamanya. Komen melihat mamanya tidur dengan pria lain.
"Saat itu saya mau buang air kecil. Letaknya (kamar mandi) itu kan di ruang tamu. Kebetulan ada saudara, ga tau saudara darimana......Ngapain mereka??? Adik saya, koko saya, mereka tidak ada yang tahu. Saya ga ngerti...."

Komen tidak mampu untuk bertanya. Semuanya hanya disimpan di dalam hati.
"Mama saya jahat. Kenapa mama saya berbuat seperti itu. Dan itu menimbulkan trauma. Pikiran saya aneh-aneh jadinya".
Sejak kecil Komen tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bahkan ketika mamanya meninggal, Komen harus dipisahkan dari keluarganya. Ayahnya yang merasa tidak mampu merawat Komen, meminta pamannya membawa Komen ke Jakarta. Komen merasa mendapat perlakuan yang berbeda.

"Kenapa kok saya.....yang dititip-titipin itu kok saya???? Bukannya adik saya yang perempuan atau koko saya".

Tinggal bersama keluarga paman di Jakarta membuat Komen harus menjalani kehidupan yang keras. Tahun demi tahun, hal yang lebih menyakitkan mulai datang. Tanpa alasan yang jelas, sepupu-sepupunya sering memukuli Komen.

"Setiap paginya, saya harus mengepel. Itu sudah wajib harus saya lakukan. Saya ngepel, baru saya main atau pergi semir sepatu." "Saya dipukul....itu biasa. Sering saya dapat."

Kalau malam, kakak sepupu Komen dan teman-temannya suka merokok. Supaya tidak diketahui oleh orang tuanya, mereka melakukannya di atas plafon rumah jam 1 atau jam 2 malam. Kalau mereka kehabisan rokok, Komen dibangunkan dengan paksa oleh kokonya hanya untuk membeli rokok.
"Saya benci mereka dan saya mau balas dendam supaya mereka juga susah. Kalau bisa ya sampai dia mati".

Komen hanya disekolahkan sampai kelas 1 SD. Setelah putus sekolah, Komen memutuskan untuk mencari uang sendiri dengan menjadi penyemir sepatu.

"Lihat orang tuh enak amat....Anak-anak seumuran saya tuh enak mereka. Mereka sekolah, apa yang mereka inginkan itu paling tidak sudah ada. Sedangkan saya itu kok susah banget. Uang hasil semir sepatupun kadang-kadang masih suka diambilin sama mereka (kokonya) tanpa sepengetahuan saya. Saya tidak tahu persisnya.....saya kan tidur jadi uang itu saya sembunyiin tapi tiba-tiba uang itu sudah tidak ada".

Mendapat perlakuan yang sewenang-wenang selama bertahun-tahun membuat Komen tertekan. Bagi Komen, hidup bagaikan di penjara. Di umur 11 tahun, Komenpun memutuskan untuk bunuh diri.

"Saya tidak tahu saya ini nantinya mau jadi apa. Sama sekali tidak ada bayangan untuk hidup saya. Waktu itu pokoknya ingin loncat dari gedung yang sangat tinggi."

Tapi sebelum Komen meloncat, dia terbayang dengan orang yang dia lihat bunuh diri kemarin. Orang itu loncat dari gedung dan dengan mata kepalanya sendiri dia melihat kepala orang itu hancur dan meninggal dengan tragis.
"Tapi kenapa bunuh diri itu ga jadi.....saya ngeliat ada orang ngeloncat juga, bunuh diri. Jadi ga jadi untuk bunuh diri."

Di umur 15 tahun Komen bekerja di toko perhiasan. Saat itulah pamannya justru mengusirnya karena menganggap Komen sudah dapat menghidupi dirinya sendiri. Dengan membawa baju seadanya, Komen mendatangi tempat bossnya dan akhirnya boss Komen menawarkan Komen untuk tinggal disana.

"Saya di sana hanya jadi office boy. Yang beres-beresin bangku, lap-lap kaca kalau kaca etalase itu kotor, saya bersihin. Terus kalau ada customer yang mau bersihin perhiasannya, itu biasanya saya yang kerjain. Kalau ada waktu senggang, boss saya itu support saya. Dia mau supaya saya juga bisa jadi perajin perhiasan".

Setelah mampu menghasilkan uang, Komen terjerumus ke dalam kehidupan malam. Judi dan pornografipun dijelajahinya. Bahkan setelah menikahpun, kebiasaan-kebiasaan buruk itu tidak ditinggalkannya. Namun akhirnya Komen mengalami titik balik di dalam hidupnya sampai akhirnya dia mengenal siapa itu Tuhan ketika seorang teman mengajaknya untuk menghadiri sebuah kelas bimbingan.

"Di pertemuan itu saya ambil komitmen mengenai seks....ternyata itu dosa katanya... Onani itu juga dosa... Akhirnya saya ambil komitmen saya mau coba yang lebih bener aja."

Pemulihan terhadap masa lalunya dialami Komen di sebuah pertemuan.
"Jadi di situ saya dikasih tahu bagaimana kita punya kepahitan, terus luka batin, dan saya dikasih pilihan mau atau tidak untuk mengampuni. Saya diingatkan lagi ke masa lalu saya. Di situ saya ambil komitmen, ya Tuhan, saya mau mengampuni mereka dengan sepenuh hati saya. Jadi beban itu tidak ada lagi di hati saya. Tadinya punya pikiran mau membalas saudara saya, kepahitan sama orang tua saya, tapi disitu saya dilepasin .... bebas."

Pengampunan telah membawa perubahan yang nyata dalam hidup Komen. Komen mendatangi kokonya untuk meminta maaf atas dendam yang pernah dirasakannya terhadap kokonya. Tak ada lagi trauma masa lalu dan juga ketakutan akan masa depan.

"Saya ikut apa yang Tuhan inginkan. Saya ikutin... dan ternyata dengan latar belakang pendidikan saya yang kurang tapi ternyata Tuhan bisa pulihkan. Tuhan itu luar biasa tuntun hidup saya. Saya memiliki rumah dan juga keluarga yang saling mengasihi. Jadi saat ini yang saya dapat, Tuhan itu baik sekali." (Kisah ini ditayangkan 22 Juli dalam acara Solusi Life di O'Channel)

Kolose 3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.(source)

Sumber Kesaksian:
Komen 

Rabu, 06 April 2016

WANITA DAN DENDAM DI HATIKU


Sejak kecil Ferry telah ditinggal oleh ayahnya untuk selama-lamanya. Sang ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga sehingga harus bekerja di tempat lain. Semenjak usia dini, Ferry telah diberi tanggungjawab untuk menjaga adik-adiknya. Ferry dapat melihat bagaimana hidup ibunya penuh dengan pergumulan yang terkadang sepertinya ingin menyerah untuk membiayai hidup dirinya maupun adik-adiknya.
Ibunya Ferry memang bukan orang yang memiliki pendidikan tinggi. Ketika Ferry ingin mengikuti les bahasa Inggris, makian dan kata-kata kasarlah yang terucap dari bibir ibunya sehingga menorehkan luka yang dalam di hati Ferry. Kekesalan dan kebencian yang dirasakan Ferry dilampiaskan Ferry di makam ayahnya. Cacian serta makian Ferry lontarkan di depan kubur sang ayah.
"Pertama-tama sih saya membersihkan makam papa sambil menangis. Habis itu saya maki-maki papa. ‘Apa artinya kamu, bisanya nyetak anak doank, tidak bertanggungjawab!!' Saya ludahi, saya tendangi makam papa di sana. ‘Kata orang dulunya kamu itu orang kaya! Kata orang dulunya papa itu orang hebat, tapi apa yang papa tinggalkan untuk kami? Hanya seperti ini!'," kisah Ferry. Dunia terasa tidak adil bagi Ferry.

Ketika Ferry menyaksikan teman-temannya bersenda gurau dengan ayah mereka, hal itu merupakan pemandangan yang menyakitkan baginya karena ia tak pernah mendapatkan sosok seorang ayah. Ferry sungguh-sungguh merasa kehilangan sosok seorang ayah. Ia tidak memiliki tempat mengadu ketika menghadapi masalah di sekolah, sedangkan ibunya hampir tidak pernah memiliki waktu bagi Ferry dan adik-adiknya. Rasa sayang Ferry terhadap sang ibu pun bisa dibilang hampir tidak ada.

Semua peristiwa itu menjadi kenangan pahit yang menggoncang jiwanya. Hal itu terus membekas dalam hatinya hingga Ferry tumbuh dewasa dan mengubah pribadi Ferry menjadi seorang yang kasar. Ia tidak lagi menghormati ibunya, bahkan tidak pernah lagi mau mendengarkan setiap perkataan ibunya. Apalagi perkataan ibunya seperti. "Mati saja kau!!" begitu sering terucap dari bibir ibunya.

Sebuah kejadian lain yang tanpa disadari membuat diri Ferry hancur. Sang adik pergi untuk selamanya akibat sebuah perkelahian. Ferry lah yang selalu dipersalahkan atas kematian adiknya. Bahkan ia disebut sebagai seorang ‘pembunuh' bagi adiknya. Hal itu begitu menyakiti hati Ferry. Tak ada seorangpun yang kuasa menolak kematian ketika ia datang menjemput. Demikian juga Ferry, ia merasa tidak ada hal lain yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan ataupun mengembalikan nyawa adiknya.

Dicap sebagai orang yang tidak berguna, membuat Ferry berusaha keras untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Namun upaya yang dilakukannya dianggap sebelah mata oleh sang ibu. Rasa sakit hati yang tertanam di hati Ferry semakin dalam. Sosok sang ibu pun tak ada lagi dalam diri Ferry. Kebersamaannya bersama sang pacar membuat Ferry kembali menemukan arti dan keberhargaan dalam hidup.

Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sebuah kenyataan pahit harus siap untuk Ferry terima. Sang pacar ternyata memiliki cinta yang lain. Dendam dan kecewa terhadap ibu dan pacarnya membekas di hati Ferry. Niat untukmembalas semua perlakuan mereka terlintas dalam pikirannya. Ferry berniat menyakiti sebanyak mungkin wanita dan tidak akan pernah menghargai seorang wanita.

Untuk melampiaskan kekecewaannya, Ferry pun terjun pada kehidupan yang begitu liar. Meniduri banyak wanita adalah wujud untuk membalaskan dendamnya terhadap pacarnya. Ketika teman kencannya sudah dalam keadaan bugil, seringkali Ferry malah memaksa teman kencannya untuk berpakaian dan menutupi aurat mereka. Ferry sungguh-sungguh menunjukkan kemuakannya terhadap wanita.

Sekalipun tidak melakukan hubungan seks, menelanjangi dan melihat kepolosan tubuh wanita yang tidak ditutupi sehelai benang pun merupakan hal yang memuaskan hati Ferry. Dan hal itu sering ia lakukan sebagai wujud pelampiasan dendamnya terhadap ibu dan mantan kekasihnya.

"Kenikmatan buat saya lebih tepat dikatakan sebagai kepuasan. Karena setiap kali saya melakukan itu dengan dia, saya tidak ada perasaan sayang sama sekali, tidak ada perasaan mengasihi. Saya hanya ingin mempermalukan dan puas bila melakukan hal itu. Setelah melihat dia bugil seperti itu, saya pun langsung muak. Dan itu adalah sebuah kepuasan bagi saya. Saya sadar perilaku saya yang ingin menyakiti wanita itu adalah dampak dari apa yang dilakukan pacar saya dulu dan juga mama saya. Karena saya berpikir wanita itu jahat seperti mama saya dan pantas untuk disakiti," ujar Ferry.

Bertahun-tahun lamanya Ferry terjerat dakam kehidupan seks hingga ia terlena. Tak ada lagi kebahagiaan yang ia rasakan dalam dirinya.

"Saya merasa capek seperti ini terus. Saya butuh seseorang karena saya yakin hidup saya seharusnya tidak seperti ini. Ada sesuatu yang harus saya cari, tapi apakah itu bukanlah hal yang bisa saya jawab. Saya pun tidak tahu apa itu dan siapa yang saya cari," kenang Ferry akan masa lalunya.

Pada saat hati mulai kosong dan kesepian, Ferry mulai mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan hatinya dan ia mendapatkannya. Ferry mulai mencari Tuhan. Ketika Ferry tenggelam dalam doa, ia benar-benar merasakan perasaannya plong dan terbebas dari segala tekanan itu. Dengan mengandalkan doa, perlahan-lahan Ferry mulai berubah. Sampai suatu hari Ferry mengikuti sebuah acara dan di sana penyesalan demi penyesalan mulai Ferry rasakan.

Di acara itu, Ferry didoakan oleh seorang wanita hamba Tuhan. Dan dalam doa tersebut, ia mangatakan, "Saya sebagai seorang wanita yang mungkin pernah menyakiti, atas nama mereka, saya minta ampun." Perkataan ini begitu menyentak hati Ferry, dan ia pun tanpa basa-basi lagi langsung mengambil keputusan untuk mengampuni dan meminta pengampunan dari orang-orang yang ia sakiti.

"Saat saya mengatakan mau, saya merasakan ada suatu kedamaina, ada suatu yang harus saya lakukan, yaitu komitmen. Saya harus mengampuni mama saya, dan juga pacar saya yang dulu, dan orang-orang lain yang mungkin saya sakiti. Saya tidak pernah menyelesaikan masalah hati ini dengan mantan pacar saya maupun ibu saya. Dan ketika hamba Tuhan tersebut berkata seperti itu, inilah yang selama ini saya cari, yaitu kata-kata, ‘Saya minta ampun' dan harus saya ungkapkan kepada mereka," kisah Ferry.

Perlahan-lahan hubungan yang selama ini membeku di antara Ferry dan ibunya mulai membaik. Akhirnya Ferry mendatangi ibunya dan mengakui semua kesalahannya serta meminta maaf.

"Ternyata hidup saya tanpa mama itu kosong. Saya minta ampun kepada mama, sudah mengecewakan mama selama ini, sudah membuat mama sedih. Dan ternyata Mama pun mengeluarkan sebuah pengakuan, mama meminta maaf karena tidak pernah memperhatikan saya dan juga adik-adik," ujar Ferry.

Kebencian dan sakit hati yang membelenggu Ferry selama bertahun-tahun telah Tuhan pulihkan. Saat ini Ferry bekerja melayani orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

"Kalau saya mengingat dosa-dosa saya dulu, saya pernah menyakiti wanita, saya juga kecewa dengan mama saya, saya minder dan merasa tidak mampu serta tidak percaya diri, tapi setelah kenal Tuhan Yesus, saya punya percaya diri. Saya tahu ada suatu rencana Tuhan dalam hidup saya," ujar Ferry menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan 20 Juli 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).(source)

Sumber Kesaksian :
Ferry Pardede

Sabtu, 02 April 2016

BERAMBISI SUKSES, ANAK JADI TUMBAL

Pasangan dengan tiga anak ini terbilang berhasil dengan bisnis komputer. Namun mereka menyembah roh-roh dengan ritual sehari-hari. Mulanya Suwandy dan Kho Lilie hanya menanyakan mengenai masalah kehidupan, namun seterusnya mereka mulai menggantungkan hidup mereka pada roh yang disembah.

Hidup dalam ketakutan, mistis, dan tidak rasional membuat mereka tidak percaya diri dan tidak punya perlindungan. Kepercayaan mereka terhadap roh-roh kegelapan semakin kuat setelah permintaan mereka agar mempunyai anak perempuan terkabulkan. Namun hal tersebut justru membuat roh-roh tersebut semakin jauh merasuki kehidupan mereka.

Pasangan ini mulai merasa bahwa setiap yang mereka lakukan, selalu ada harga yang harus dibayar. Ketika dirasa bahwa roh-roh tersebut mulai terganggu, mereka berdua sepakat untuk mencari guru spiritual lain untuk melawan roh-roh tersebut. Namun yang terjadi, ancaman datang dan anak perempuan mereka yang menjadi tumbalnya. Setelah itu, setiap tingkah laku mereka seperti diawasi.

Pada akhirnya, pasangan ini tetap mencari guru lain. Namun cara ini sebentar saja berhasil membuat hidup mereka tenang, karena setelahnya tidak ada damai sejahtera dalam hidup mereka.
Suwandy dan Kho Lilie juga lebih memproritaskan ritual mereka dibandingkan anak-anaknya. 

Hingga Suwandy atau biasa dipanggil Akiang mengalami pecah pembuluh darah dan harus segera menjalani operasi. Pada saat itulah saudara-saudara mereka datang untuk memberikan penguatan dan penghiburan. Bahkan Hamba Tuhan juga 
datanguntuk mendoakan dirinya dan suaminya. 

Namun, kondisi sang suami setelah operasi pun begitu menyedihkan. Akiang tidak bisa berbicara. Dirinya kehilangan fungsi motorik yang mengakibatkan dirinya tidak bisa membaca dan berbicara. Situasi ini membuat sang istri kian bingung dan membutuhkan pertolongan.

Hingga seorang Hamba Tuhan datang untuk memberi penguatan kepada Akiang dan memberitakan penginjilan tentang hidup kekal dan sukacita didalam Yesus. “Yang tadinya penuh dengan tekanan, ketakutan, sekarang sudah berubah cerah,” ungkap Jusmin sang Hamba Tuhan. “Dan saya merasakan damai yang belum saya rasakan sebelumnya. Karena itu saya mau terima Yesus,” kata Akiang.

“Akhirnya saya mulai percaya pada nama Yesus, saya mulai belajar bacakan Kitab Suci dan mendoakan suami saya. Dan saya melihat mukjizat demi mukjizat terjadi. Benar kata hamba Tuhan itu kepada saya, bahwa Yesus adalah jalan kebenaran dan hidup. Dan tidak ada seorang pun yang ke sorga kalau tidak melalui Yesus. Karena kita butuh Yesus yang telah menghapuskan dosa-dosa kita dengan darahnya yang kudus,” ungkap Lilie.

Perubahan besar terjadi pada keluarga Suwandy dan Lilie, Tuhan turut bekerja atas proses kesembuhan Suwandy. Dan saat ini dia sudah berjalan dan berkomunikasi. Keluarga dipulihkan, bisnis dan usaha terus berjalan. Keluarga mengalami sukacita dan keharmonisan yang sebelumnya belum pernah dialami, tentu dengan kehadiran Tuhan ditengah-tengah keluarga mereka.

Sumber : Suwandy dan Kho Lilie