Jumat, 22 April 2016

KANKER STADIUM EMPAT SEMBUH TOTAL TANPA OPERASI

Nama Saya Ginny Awuy. Saya bekerja sebagai HRD di Rimo Department Store. Saya tinggal bersama anak saya, Steve, karena sudah lama suami saya meninggalkan kami berdua bersama WIL-nya (wanita idaman lain). Tahun 1996, secara tidak sengaja ketika meraba bagian payudara sebelah kiri, saya mendapati benjolan sebesar kacang merah. Karena saya banyak membaca perihal tentang kanker payudara, saya pun menaruh curiga atas gejala ini, sekalipun kekhawatiran itu belum terlalu menyergap perasaan saya.
Waktu terus berlalu, benjolan itu tidak juga kempes, malah sebaliknya, semakin membesar menjadi seukuran bola bekel. Tentu saja melihat gejala ini saya semakin khawatir.Mulailah saya mengambil waktu khusus di rumah selama 1 jam setiap hari untuk berdoa.
Benjolan di payudara saya semakin membesar. Bahkan, benjolan itu semakin banyak, ada yang besar ada yang kecil, pokoknya tidak beraturan, menyebar membentuk seperti kembang kol. Selain itu, kanker ini ternyata cukup memengaruhi stamina saya. Untuk berjalan dari tempat parkir ke toko, atau dari satu lantai ke lantai berikutnya, rasanya capai sekali; seperti habis lari jauh. Saya sendiri, karena takut diketahui orang lain, kalau sudah tak kuat jalan, saya hanya terdiam mencari sandaran sambil pura-pura melihat ke bawah. Keadaan ini terus memburuk, tapi saya tidak putus asa. Saya tetap berdoa dan bekerja walau stamina saya semakin merosot.
Sudah setahun penderitaan mendera, tapi tidak seorang pun yang saya beritahu. Steve pun tidak, sebab saya khawatir kalau dia sampai tahu, studinya akan terganggu. Maklumlah, kuliah Steve sudah berada di semester akhir. Selain itu, alasan mengapa saya tidak menceritakan penyakit saya ini kepada orang lain karena solusinya pastilah dokter -- operasi. Padahal untuk operasi jelas kondisi keuangan saya sangat tidak memungkinkan. Tabungan saya hanya 2,5 juta. Uang sejumlah ini rencananya untuk membayar biaya kuliah dan wisuda Steve. Karena menyadari situasinya seperti ini, kepada Tuhan pun saya sepertinya mendesak, "Tuhan, pokoknya Tuhan harus sembuhkan saya tanpa operasi!"
Pertengahan Desember 1997, ketika akan pulang kerja, tempat parkir ramai sekali. Karena saya mengendarai mobil sendiri, maka cukup banyak tenaga yang harus saya keluarkan untuk menggerakkan persneling. Sampai di rumah, karena saya merasa di bagian payudara yang sakit ada cairan, saya segera masuk kamar dan membuka baju. Betapa kagetnya, ternyata cairan yang keluar itu darah. Waktu itu pukul 20.00 WIB. Steve ada di rumah. Karena saya takut ia tahu, maka saya segera masuk kamar mandi. Betapa semakin terkejutnya saya karena darah langsung menyembur melalui tiga lubang yang ada di payudara saya. Darah mancur begitu derasnya. Rasanya sakit sekali, tapi saya tidak berani berteriak. Saya hanya berdoa dengan kata-kata yang diulang-ulang, "Darah Yesus, hentikan pendarahan saya!" Saya khawatir kalau pendarahan itu tidak berhenti hingga membuat saya pingsan, pasti situasi jadi kacau. Karena saya cukup lama di kamar mandi, Steve pun mulai curiga. Dari luar ia menyapa, "Ma, kok lama amat sih, di kamar mandi?"
"Sebentar," jawab saya.
Waktu Steve memanggil, darah mulai berhenti, tinggal menetes-netes saja. Sambil tetap duduk, saya arahkan "shower" ke tembok yang penuh darah dengan harapan Steve tidak curiga dengan apa yang terjadi. Karena saya lemas dan tidak kuat berdiri, saya minta tolong kepada Steve untuk membuatkan teh manis. Dalam tempo yang tidak terlalu lama, Steve sudah menyiapkan teh manis dan segera mengetuk pintu kamar mandi. Ketika pintu saya buka, Steve nampak kaget melihat bercak-bercak darah yang menempel di tembok. Setelah menutup pintu, karena takut banyak gerak dan khawatir darah keluar lagi, maka saya cepat duduk. Teh langsung saya minum dan hal ini membuat tubuh saya sedikit lebih segar. Saya lalu pakai kimono dan berusaha sedapat mungkin untuk membuat kain kimono itu tidak menempel di payudara. Saya pelan-pelan keluar dari kamar mandi dan langsung berbaring di tempat tidur. Di pembaringan ini, sekalipun tidak banyak, darah kembali keluar. Steve duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah yang sangat sedih sambil mengamati tangan saya mengelap darah yang keluar dengan tissue. Saya lalu bercerita pada Steve secara kronologis tentang penyakit saya.
Kira-kira pukul 02.00 dini hari, rasa sakit itu kambuh lagi. Padahal sebelumnya saya sudah minum Ponstan 4 dan Beralgin 2. Sakit itu begitu luar biasa, sampai-sampai untuk menahan sakit, sprei tempat tidur saya yang dijepit peniti, saya tarik hingga robek. Karena sakitnya tidak tertahankan, saya memanggil Steve, "Steve, ayo ke sini, Mama sudah nggak tahan. Ayo kita berdoa karena Mama merasa sakit sekali." Waktu itu saya merintih, "Tuhan tolong, saya sudah tak kuat lagi. Saya sudah tak sanggup lagi."
Sungguh ajaib, selesai berdoa, sakit itu langsung reda. Ketika saya jatuh sakit, sambil menyelesaikan tugas akhirnya, Steve sudah bekerja di sebuah kantor. Mungkin karena bingung bagaimana mengatur studi, kerja, dan tanggung jawab untuk merawat saya, usai berdoa Steve nampak bingung. Untuk memecahkan kebekuan ini, saya bilang, "Steve kamu besok tetap saja kuliah dan bekerja. Yang penting 'handphone' kamu nyalakan terus. Nanti kalau ada apa-apa, Mama akan hubungi." Steve pun setuju.
Besoknya Steve berangkat kerja seperti biasa. Setelah Steve pergi, saya telepon adik saya, Endang, yang bekerja sebagai suster di RS Fatmawati. Saya menceritakan semua yang telah saya alami, termasuk kapan kanker itu mulai saya temukan hingga pecah secara mengerikan semalam. Hari itu juga saya dibawa ke RS Fatmawati. Sementara itu, Endang menghubungi adik saya yang lain yang ada di Bandung, orang tua saya yang di Amerika, termasuk bos saya di kantor. Setelah mereka tahu, keluarga, orang di kantor, semua panik. Mereka terkejut dan menyatakan rasa herannya karena baru mengetahui penyakit saya. Tiba di rumah sakit, saya langsung dibawa ke UGD. Usai diperiksa, hari itu juga saya diopname. Selama dirawat ini, saya selalu mendengarkan lagu-lagu rohani, membaca buku-buku rohani, dan saya merasa dikuatkan saat membaca buku "Mukjizat Terjadi Bila Anda Berdoa". Di RS, saya dibiobsi dan menggunakan kursi roda karena kondisi saya sangat lemah. Luka di payudara saya sangat besar dan sering mengeluarkan darah. Karena keadaannya seperti ini, yang bisa mengganti kasa yang melekat di luka saya hanya Endang. Suster lain sudah gemetaran lebih dulu sehingga saya tak yakin kalau dia bakal berhasil.
Selesai Berdoa Ada Aliran Hangat Di Dada
Setelah dirawat beberapa hari, kondisi saya tak juga membaik. Bahkan dokter mengatakan pada adik saya, bahwa percuma saja saya dioperasi sebab menurut hasil pemeriksaan, kanker sudah menjalar ke tulang dan paru-paru, hanya bagian paru-paru kanan saja yang belum kena. Karena kondisinya demikian, maka perawatan yang diberikan hanya sekadar untuk memperbaiki gizi saya. Waktu itu dokter sudah memperkirakan bahwa kondisi saya akan menurun, menurun, dan meninggal. Kepada adik saya dokter juga bilang, "Tinggal menunggu harinya saja karena itu senangkanlah hati kakak kamu."
Hari itu hari Sabtu. Seperti biasa, sambil menunggu jadwal visitasi dokter, saya terus mendengarkan lagu-lagu rohani dan membaca buku. Suatu kali, di buku yang saya baca, dikisahkan ada seorang Bapak yang sembuh dari sakit jantung selepas berdoa minta jantung yang baru kepada Tuhan. Pengalaman Bapak ini kemudian saya adopsi. Sebab, keadaan yang dialami si Bapak mirip benar dengan apa yang saya alami. Saya kemudian membaca Alkitab dan mulai berdoa, "Tuhan, saya tahu artinya kanker. Namun Tuhan, saya tahu juga bahwa Tuhan sanggup sembuhkan saya. Tuhan, gantilah semua organ tubuh saya yang rusak dengan organ yang baru. Demi nama Tuhan Yesus Kristus, saya sudah disembuhkan!" Begitu saya mengucapkan "amin", saya yakin benar bahwa Tuhan sudah sembuhkan saya 100 persen. Walau benjolan masih ada dan luka masih menganga, saya yakin Tuhan telah menjawab doa saya. Tiba-tiba saya merasa di bagian dada saya ada getaran hangat yang mengalir. Saya gemetaran dan saya langsung menangis tersedu-sedu. Saya sudah tidak malu lagi menangis di hadapan orang lain. Seketika itu juga saya mengatakan, "Terima kasih Yesus. Terima kasih Tuhan sebab Engkau sudah jawab doa saya."
Pukul 09.00, dokter yang memeriksa saya tiba. Pukul 11.00, dengan memakai kursi roda, saya dites lagi di USG. Setelah beberapa hari kemudian, hasil pemeriksanaan keluar dan dinyatakan: tidak ditemukan lagi kanker di tubuh saya! Mungkin karena tidak percaya, saya diperiksa lagi secara lebih teliti. Saya menjalani USG termasuk di bagian perut saya dan hasilnya bagus. Lalu dilakukan "bone scanning" dari ujung kaki sampai kepala dan hasilnya di luar dugaan: tak ada kanker lagi di tubuh saya. Dokter tidak percaya, lalu dilakukan "scanning" ulang dengan alat yang lebih canggih dan hasilnya tetap sama. Berita ini kemudian saya sampaikan kepada teman saya, Silvia.
Silvia adalah salah satu dari banyak orang yang sangat setia membesuk saya, membantu, dan juga menceritakan keadaan saya kepada orang lain. "Astra," demikian ujar Silvia dengan menyebut nama panggilan saya waktu kecil, "ini sungguh karya Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sungguh luar biasa!" Ketika saya memberitahukan hal ini kepada bos saya dan istrinya, mereka juga mengatakan hal yang senada, "Wah, ini benar-benar pekerjaan Tuhan. Sungguh hebat, luar biasa!" Teman-teman lain yang mendengar berita ini semuanya bersyukur dan terharu.
Setelah dokter yakin benar bahwa kanker itu sudah tidak ada lagi, saya tinggal menjalani penyinaran sebanyak tiga puluh kali. Akhirnya saya diizinkan meninggalkan RS setelah dirawat selama kurang lebih sebulan. Yang tak kalah menakjubkannya, sekalipun saya dirawat di kamar ber-AC dengan biaya yang tentunya tak sedikit, ternyata Tuhan secara ajaib juga telah menyediakan biayanya. Keluar dari RS, dokter tetap menyarankan agar saya menjalani kemoterapi dan minum obat kanker seumur hidup. Anjuran dokter ini saya lakukan hingga kurang lebih 8 bulan lamanya. Suatu ketika, pada bulan Agustus 1988, saya diajak Silvia, untuk mengikuti KKR Kesembuhan Ilahi yang diadakan di Gedung Menara Era, Senen, Jakarta Pusat. Waktu itu pembicara KKR mengatakan, "Mengapa Tuhan tidak bekerja secara luar biasa? Jawabnya, karena pikiran kita selalu meragukan pekerjaan Tuhan. Karena itu, bila kita ingin mendapatkan kesembuhan ilahi, kita harus percaya, kita harus beriman 100 persen bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan."
Setelah khotbah usai, dalam sesi tantangan, akhirnya saya berdoa dan mengambil keputusan: "Sejak malam ini saya tidak akan lagi minum obat kanker dan saya tidak mau dikemoterapi. Tuhan, terima kasih, Engkau sudah menyembuhkan saya secara total. Amin." Malam itu bagi saya menjadi malam bersejarah kedua atas penyakit kanker saya. Saya mengimani bahwa Tuhan Yesus sudah melakukan mukjizat penyembuhan atas kanker saya secara sempurna. Dan benar, sejak saat itu, sekalipun saya tidak minum obat kanker dan tidak menjalani kemoterapi, tapi sakit saya tak pernah kambuh alias 100 persen sembuh total hingga sekarang.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku:10 Mukjizat yang Terjadi pada Orang Biasa
Penulis:Ginny Awuy
Penerbit:CBN Indonesia, Jakarta 2001
Halaman:17 -- 25

Copas : kesaksian.sabda.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar