Selasa, 16 Agustus 2016

KESAKSIAN HIDUP : HIDUPKU DIPERBAHARUI MELALUI RETRET PENYEMBUHAN LUKA BATIN



Saya juga pernah ikut retret penyembuhan luka batin di Tumpang. Waktu itu saya belum dibabtis (masih katekumen), jadi agak ngga ngerti karena saya tidak tahu apa yang harus saya minta untuk disembuhkan. Sesuai perkataan suster, "Bagi yang tidak mengetahui ada luka batin apa, mohonlah agar Yesus sendiri yang mengangkatnya." Jadi saya hanya berdoa, "Ya Tuhan, saya betul-betul tidak tahu saya ada luka batin apa, tolong Engkau sendiri yang menyembuhkannya." Kalimat itu terus yang saya doakan. Tiba-tiba muncul gambaran / bayangan akan papa, saya bingung kenapa dengan papa. Berikutnya muncul gambaran saat raport saya dilempar ke lantai sewaktu saya SMA (karena saya rangking 10) dan bagian-bagian lain saat saya minta ijin ke mana-mana selalu tidak boleh. Pokoknya papa selalu "mengekang" saya harus belajar dan belajar. Memang sewaktu SMP-SMA saya sering merasa dikekang tidak seperti saudara-saudara yang lain. Kalau mau keluar harus dengan kakak / adik, kalau cuma dengan teman tidak bakalan boleh. Semua bilang kalau saya anak kesayangan papa. Waktu itu saya pikir "kalau sayang kan seharusnya dimanja bukan dikerasi?" Tetapi setelah saya kuliah dan jauh dari ortu, saya mendapat suatu kesadaraan kalau semua itu disebabkan sewaktu saya masih bayi berumur 1 bulan, saya harus menjalani operasi kepala yang cukup besar. Dengan berat yang cuma 2.5 kg tentu saja ortu saya khawatir setengah mati.

Saya pikir saya sudah bisa menerima segala sikap over protektif papa saya dan selesai dengan semua kejengkelan-kejengkelan saya. Ternyata itu merupakan luka batin yang sangat dalam. Dalam retret itu saya mengampuni papa (walaupun sebenarnya papa tidak bersalah). Hubungan saya dengan papa menjadi "ayem", just flow.... saya merasakan bahwa memang perhatian (sayang) sayang papa lebih besar kepada saya dibanding saudara yang lain dan papa tidak terlalu membatasi saya lagi.

May my father rest in peace. Tuhan Yesus ampuni segala dosa-dosanya dan terimalah papa disisiMU.


Kesaksian ditulis oleh Theresia Lindawati


Tidak ada komentar:

Posting Komentar