Senin, 31 Oktober 2016

KESAKSIAN : KORBAN YANG LOLOS DARI MAUT AIRASIA QZ8501

Tadi siang (4/1/2015), pukul 14.00, aku mengikuti ibadah di Gereja Tiberias Indonesia, pimpinan Gembala Sidang Bapak Pdt. Yesaya Pariadji, di Balai Sarbini, Plaza Semanggi, Jakarta. 

Setelah selesai khotbah yang dibawakan oleh Pdt. Aristo Pariadji, yang juga adalah anggota DPR RI dari Partai Gerindra, ada kesaksian langsung dari bapak Chandra Susanto dan Ibu Inge, serta ketiga anaknya. Sebelumnya aku tak begitu tertarik dengan kesaksian-kesaksian jemaat yang rutin dilakukan setiap hari Minggu, namun setelah dijelaskan oleh pekerja Gereja Tiberias bahwa bapak Chandra Susanto dan Ibu Inge ini adalah penumpang AirAsia yang selamat lolos dari maut AirAsia QZ8501, aku langsung merinding. 

Begitu besar kasih dan penyertaan Tuhan Yesus sehingga keluarga bapak Chandra Susanto dan Ibu Inge ini selamat dan diloloskan dari maut. 

Berikut ini kesaksian bapak Chandra Susanto dan Ibu Inge pada hari ini, 4 Januari 2015, di Gereja Tiberias Indonesia yang bertempat di Balai Sarbini, Plaza Semanggi, Jakarta. 

Kesaksian Bapak Chandra Susanto 
Shalom saudara-saudari semua, Haleluya. Saya ucapkan syukur kepada Tuhan Yesus yang begitu baik telah menyelamatkan kami. 

Pada bulan Maret 2014 yang lalu, saya sudah booking tiket pesawat AirAsia dan reservasi hotel di Singapura. Semuanya sudah kami lunasi. Entah kenapa Istri saya selalu tanya kita jadi berangkat nggak pa? Saya bilang tunggu sabar ya. 

Dibulan November 2014, ibu mertua saya masuk rumah Sakit selama seminggu. Sebelum hari H keberangkatan kami dengan pesawat AirAsia, mertua laki saya juga masuk Rumah Sakit. 
Semua planning pekerjaan saya sampai bulan Desember semuanya sudah saya selesaikan dan rampung. Malam hari sebelum berangkat, kami pergi besuk mertua laki di Rumah Sakit, sampai di rumah, pada pukul 00.00, saya berdoa dan mengangkat Perjamuan Kudus dan Minyak Urapan. 

Setelah selesai berdoa dan Perjamuan Kudus, ketika saya mau tidur, istri saya tanya lagi besok kita jadi berangkat apa nggak? Saya bilang nanti lihat saja besok. Istri saya bilang apa kamu nggak rugi ya wis eman-eman keluar banyak uang. Saya cuma bilang iya. Setelah itu saya tidur. 

Besoknya saya terbangun pukul 5.10, padahal pesawat AirAsia itu berangkat pukul 5.20. Perjalanan dari rumah ke Bandara Juanda sekitar 40 menit. Yang jelas kami sudah terlambat dan ketinggalan pesawat. 

Saya lalu berpikir pasti istri saya marah. Semalam sebelum tidur ternyata istri saya pasang alarm weker pukul 3.00, tanpa sepengetahuan saya. Mungkin maksudnya supaya saya cepat bangun dan tidak terlambat berangkat ke Bandara. 

Alarm weker yang seharusnya bunyi pukul 3.00, tidak berbunyi. Saya tidak tahu kenapa. Tuhan Yesus telah bekerja buat kami. Saya lalu membangunkan istri saya, dan ketika bangun ia langsung cemberut setelah menyadari kami terlambat bangun dan ketinggalan pesawat. 

Saya bingung. Saya lalu ambil Perjamuan Kudus dan berdoa, Tuhan bagaimana ini, kapan lagi saya bisa planning dan punya kesempatan ke Singapura. Saya tetap di lantai bawah dari jam 6.00 pagi sampai jam 9.00. Istri saya tidak mau turun kebawah menemani saya, mungkin masih marah sama saya. 

Saya lalu ditelpon kakak saya dan nanya kamu dimana? Saya jawab saya lagi di rumah. Lho, kok nggak jadi berangkat ke Singapura? Kamu naik apa? Saya jawab naik AirAsia. Kakak saya bilang bahwa pesawat AirAsia hilang kontak. Saya bilang ah bercanda kamu. Kakak saya menyuruh saya segera nonton TvOne sekarang, ada beritanya disitu. 

Kurang lebih 10 menit kemudian, saya naik ke lantai atas untuk memberitahu istri saya. Di kamar ia lagi nonton TV Drama Korea. Saya bilang, ma coba buka TvOne, katanya pesawat AirAsia hilang kontak. Sambil cemberut, ia mengganti Channel ke TvOne. 

Setelah Channel diganti ke TvOne, ada siaran langsung bahwa pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 jurusan Surabaya-Singapura hilang kontak sekitar pukul 06.17 pagi disekitar Tanjung Pandan dan Pontianak. 

Saya langsung berlutut dan sujud syukur, Engkau baik Tuhan Yesus, begitu besar penyertaan-Mu kepada keluarga kami. Saya percaya ini bukan suatu kebetulan, saya percaya bahwa minyak dan anggur tak akan dirusakkan. 

Di Gereja Tiberias, kami selalu didoakan tolak celaka, tolak mara bahaya, kami percaya dan imani itu, dan bagi kami ini bukan suatu kebetulan, akan tetapi rencana Tuhan yang sungguh baik bagi kami. 

Saya dan istri kemudian berdoa bersama dan angkat Perjamuan Kudus, mengucap syukur kepada Tuhan Yesus atas kemurahan dan kebaikan-Nya kepada keluarga kami. Kalau saya tidak menyatu dengan tubuh dan darah Kristus, mungkin saya dan keluarga sudah berada di pesawat itu. Tapi kami diluputkan, karena bersatu dengan tubuh dan darah Kristus. 

Kesaksian Ibu Inge 
Shalom saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Peristiwa ini sungguh luar biasa bagi kami. Pada hari Jumat malam, kami doa bersama. Setelah anak-anak dan suami saya tidur, saya berdoa pribadi. Saya berdoa semoga kepergian kami ke singapura dilancarkan karena saya kepingin sekali pergi ke Singapura. Saya ingin rencana kami berjalan dengan baik dan lancar. 

Tuhan lalu memperlihatkan penglihatan kepada saya pesawat AirAsia crash. Terlintas jelas sekali, dan suara itu berkata kamu berlima akan celaka. Saya pikir saya ngelantur saat itu. Saya lalu berdoa lebih khusuk, Tuhan ampuni saya karena saya ngelantur dan tidak konsentrasi berdoa kepada-Mu. 

Pada hari Sabtu malam setelah berdebat dengan suami, ia pergi tidur, dan saya berdoa sendiri. Saya ingin agar kami bisa berlibur ke Singapura dan semua dilancarkan karena semua sudah direncanakan sejak lama. 

Setelah berdoa, saya pasang alarm weker jam 3.00 pagi supaya tidak terlambat ke Bandara. Ternyata keesokan harinya saya dibangunin suami saya jam 5.10. Saya jengkel karena sudah saya pasang weker jam 3.00, tapi weker tidak berbunyi. Saya biarin suami saya turun saja sendiri ke lantai bawah. Karena kesal, saya lalu menyetel TV dan nonton Drama Korea. 

Lalu suami saya masuk ke kamar dan bilang ma coba pindah Channel TvOne, katanya AirAsia hilang kontak. Sambil ogah-ogahan saya pindah channel ke TvOne. Saya shock saudara-saudara. Saya teringat dengan penglihatan saya pada hari Jumat, ternyata pada saat itu saya bukan ngelantur. Tuhan telah mengingatkan saya terlebih dahulu. 

Anak saya yang tahu kami batal ke Singapura nangis-nangis karena kecewa. Saya bilang ke anak saya bahwa pesawat AirAsia hilang kontak, ia melongok sebentar ke TV dan bilang itu pesawat AirAsia yang lain. 

Saya ambil tiket AirAsia kami dan menujukan ke anak saya nomor flightnya QZ8501, berangkat jam 5.20. Anak saya diam saja. 

Kami lalu menerima banyak sekali telpon dari teman, kerabat, dan sanak keluarga. Salah seorang teman saya telpon dan suruh nonton MetroTV, nama kamu jadi korban. Kamu masih hidup ya? Saya jawab iya saya masih hidup. 

Saya buka MetroTV, ada nama saya dan anak saya, Felix dan Chritopher, dalam daftar korban. Anak saya yang perempuan protes kok namanya nggak masuk dalam daftar korban. Mana kok nama saya nggak masuk TV. Saya peluk anak saya, ayo cepat kita ke Gereja dan mengucap syukur ke Tuhan Yesus. *** 

Demikian kesaksian dari bapak Chandra Susanto dan Ibu Inge di Gereja Tiberias Indonesia hari ini di Balai Sarbini, Plaza Semanggi. Kesaksian itu di shoot dan disiarkan secara live ke Gereja-Gereja cabang Tiberias lainnya. Aku bersyukur bisa melihat secara langsung kesaksian korban yang luput dari maut AirAsia QZ8501 itu. 

Kesaksian itu ditutup dengan pujian yang dinyanyikan oleh seluruh jemaat, "Bapa, engkau sungguh baik. Kasih-Mu melimpah di hidupku. Ku naikkan syukurku, buat hari yang kau beri. Tak habis-habisnya, kasih dan rahmat-Mu. Selalu baru, dan tak pernah terlambat pertolongan-Mu. Besar setia-Mu di sepanjang hidupku..."

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mawalu2/kesaksian-korban-yang-lolos-dari-maut-airasia-qz8501_54f37fa4745513a12b6c77ef

Kamis, 27 Oktober 2016

KESAKSIAN : PERTOLONGAN TUHAN ATAS PERMASALAHAN HUTANG

     


       Shalom, saya mau kesaksian. Kejadian berawal sejak usaha grosir tas saya berhenti total karena saingan banyak. Apalagi usaha toko suamiku juga sedang tidak bisa berjalan. Biaya hidup yang terlanjur tinggi +/- 20 juta per bulan mulai mencekikku, sampai aku harus gadaikan mobil pemberian orangtuaku. Mereka bukan orang yang tidak punya, tapi saya bukan orang yang berani mengakui kegagalan, karena saat itu uang cash orangtua juga untuk bangun rumah semua. Saat itu saya sudah kenal Tuhan Yesus, saya sudah cinta Dia, hampir tiap hari ada jadwal ibadah, FA, doa malam, doa puasa, dsb. Tapi saat itu saya menyerah pada keadaan, saya berseru Yesus Yesus tapi saya tidak pernah buka hatiku. Justru sebaliknya saya simpan kemarahan pada keadaan, kenapa orangtuaku tidak kasih saya uang, kenapa suamiku juga belum bisa menyokongku. Kepahitan itu membuat saya semakin jauh dari kasih Yesus. Saya terbelit banyak hutang, uang hutang saya pakai buat traktir teman-teman. Saya datang FA dan berseru sama Yesus, but, I can't find His love because I'm not opening my heart (tapi, saya tidak dapat menemukan kasih-Nya karena saya tidak membuka hati saya).

       Bulan Oktober tekanan itu makin kuat, himpitan ekonomi+kondisi kemarahanku, buat keluargaku hampir hancur. Suamiku pergi ke rumah kakaknya di Jakarta, saya sama orangtuaku juga jaga jarak. Saat itu saya sudah tidak tahu lagi harus bayar pakai apa hutang-hutangku yang mencapai ratusan juta. Uang di atm sisa 36 rupiah, sampai mau makan apa saja bingung. Untung uang sekolah anakku sudah terbayar 3 bulan. Saat itu saya merasakan kuasa Tuhan. Yesus kasih-Nya begitu sempurna. Dia beri saya kekuatan untuk bangkit. Dia ubah semua sel-sel di otakku. Dari yang selalu sakit, kepahitan, mengasihani diri, menjadi terbuka sedikit demi sedikit. Saya mulai bersyukur meskipun hanya makan mie instant di rumah (saat itu saya sedang hamil muda). Saat suamiku menyalahkan saya atas semua hutangku, awalnya saya tidak terima, tapi Tuhan Yesus membuat saya cepat melepaskan beban itu kepada-Nya, sehingga tidak berujung kepahitan. Hubunganku dengan orangtuaku mulai saya perbaiki. Tapi saya belum bisa mengakui semua hutangku. Sampai suamiku pulang Surabaya di bulan Desember. Keadaaan ekonomiku msh hancur lebur, + judgement (penghakiman) suamiku. Tapi responku sudah berubah. Suara Yesus terus bergema di hatiku. Lepaskan, jangan marah, jangan kasihani dirimu.

       Hari demi hari saya lalui dengan hanya bersandar pada Yesus. Apalagi semua hutang menghimpit saya, hutang gadai mobil, hutang supplier tas, hutang kartu kredit. Secara manusia saya sudah menyerah. Tapi Yesus tidak pernah berhenti. Selalu ada kekuatan baru untuk menghadapi hari demi hari. Bulan Januari, rumah mewah yang dibangunkan orangtuaku sudah siap pakai. Saya dulu begitu kepahitan dengan rumah ini, karena orangtuaku masukkan semua uangnya kesini tanpa memberiku bantuan sedikitpun. Saya dulu berjanji tidak akan pindah ke rumah baru. Tapi saat Yesus bekerja di hatiku, dia perbaiki sel-sel otakku 24 jam per hari, ada tuntunan untuk selalu berpikir positif. Saya berusaha terus memberikan respon yang tepat untuk tiap masalah.

       Bulan Februari, suami saya mempunyai ide untuk buka rumah makan dimsum di rumah kami yang baru. Saya waktu itu meminta modal kecil ke orangtuaku. Dan saya percaya Tuhan Yesus karena kasih karunia-Nya telah menyelamatkan hidupku, Dia ampuni dosaku, karena tiap respon yang saya punya saya tahu itu campur tangan Yesus. Dimsum yang dibuka dan dipersiapkan dalam waktu 10 hari, dengan modal yang sangat minim, mampu memberikan hasil yang sangat besar tanpa merintis. Bulan pertama sampai ketiga luar Biasa Yesus berkarya.

       Tapi pergumulan saya tidak berhenti sampai disini. Setiap hari saya menangis bersyukur, karena hasil berjualan makanan yang luar biasa. Namun, hambatan hutang-hutangku yang harus saya cicil juga besar. Hutang cicilan mobil sebesar 7 juta/ bulan, belum cicilan lain-lain. Saya terus bergumul. Apa yang harus saya lakukan. Kalo seperti ini bekerja untuk bayar hutang. Ternyata Yesus menunjukkan Kasih-NYA. Dia tidak membiarkan saya bergumul sendirian. Suatu hari, karena telat membayar, tiba tiba mobilku disita. Tanpa saya tahu, mobil dipaksa dibawa ke kantor bersama mama saya yg saat itu sedang memakai mobil tersebut. Saat itu rasanya langit runtuh. Bagaimana saya bisa mempertanggungjawabkan kepada orang tuaku. Pasti mereka marah besar. Saya berdoa meminta mujizat, sebagai manusia, tentu saya minta mobil itu kembali, entah Tuhan Yesus mengirimkan orang yang bisa membayar pelunasan dan bisa saya cicil dengan harga yang lebih rendah atau bagaimana. Selama dua hari saya puasa, karena memang saya sedang dalam kondisi labil. Ditambah reaksi awal mamaku yang belum memberikan dukungan. Saya memperbanyak jam doaku, jam 9 pagi-12 siang-3sore-6 sore-9 malam. Saya menangis, saya mengaku dosa, saya minta ampun. 

        Suatu hari saat saya datang ke Persekutuan Doa (hari ke-4 setelah mobil saya disita), seorang Pendeta bernubuat mengatakan, "anak-ku doamu tidak akan sia-sia." Saya mendapatkan ayat Matius 21:22, "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." Berpegang pada ayat itu, saya menangis, saya merasa Tuhan Yesus begitu baik kepada saya, saya tetap diberi janji-janji-NYA. Terus saya berdoa agar mobilku bisa kembali. Sehingga saya tidak perlu menghadapi lagi reaksi orang-orang terdekatku. Seminggu berlalu, beberapa kali suamiku dan mamaku bertanya gimana mblnya, saya bilang saya sedang menunggu proses. Padahal saya tidak melakukan apa-apa, karena memang tidak ada yang bisa saya lakukan. Setiap kali saya lelah, saya membaca Firman Tuhan yang menguatkan, saya membaca kesaksian-kesaksian bahwa mujizat masih terjadi.

       Sampai pada hari sabtu (hampir 2 minggu setelah terjadi sita jaminan), mamaku yang kepikiran masalah ini datang ke kantor leasing menanyakan jumlah pasti sisa pelunasan. Dan dia mengajukan tawaran untuk melunasi, karena dia sayang mobil itu. Waktu dia pulang dan bilang ke saya, saya menjelaskan bahwa kalau leasing itu dilunasi justru akan mendapatkan harga tinggi, karena kita harus membayar penalti ditambah bunga, dsbnya. Sedangkan kita dipaksa beli mobil kita sendiri jauh dari harga pasaran. Saya bilang kalau mama harus relakan mobil itu. Anggap kita tidak bisa membayarnya. Ternyata mama bisa mengerti, saat aku menceritakan kronologis kenapa saya sampai mengambil keputusan nekat. Sungguh di luar dugaan mamaku memberikan reaksi positif, hanya saja saya belum berani berterus terang sama papaku. Saya bilang masih menunggu waktu. Tapi secara diam-diam, mamaku meneruskan sms ku ke papaku. Sungguh di luar dugaan, reaksi papaku juga sangat positif. Yang awalnya ketakutanku sudah sangat besar, kehilangan mobil dan reaksi orangtuku, ternyata Tuhan Yesus memberikan penyelesaian dalam satu hari. Mujizat itu nyata, bukan Tuhan Yesus mengirimkan uang untuk aku kembalikan mobil itu, tapi Tuhan Yesus selesaikan hutangku dengan dukungan orang-orang terdekatku. Malam ini, saya bisa tidur nyenyak, karena saya sudah berjanji pada diriku, tiap langkahku saya akan meminta izin Yesus membimbingku.

Kesaksian ini menceritakan tentang bagaimana Karya Tuhan Yesus dan kasih-Nya sungguh tidak pernah habis dalam hidup saya, bahkan dalam menanggung tanggung jawab yang seharusnya menjadi tanggung jawab saya, Tuhan Yesus tetap buat segalanya mudah. (Nancy Tania - Surabaya City)

---------------------------------------------------------------------------------------------
(Isi kesaksian dan pencantuman nama dan tempat adalah atas permintaan dari yang bersangkutan, dimohon untuk tidak merubah isi kesaksian, copy dengan mencantumkan alamat web :www.catatankesaksianharian.blogspot.com

Minggu, 23 Oktober 2016

KESAKSIAN : TUHAN YESUS BAIK

Apa pun yang terjadi di dalam hidupku

S’lalu ku berkata Tuhan Yesus baik
Dalam segala hal yang terjadi
Tetap ku berkata Tuhan Yesus baik

Ku sembah Kau, ku sembah Kau
Tak dapat ku membalas kasihMu
Ku sembah Kau, ku sembah Kau Bapa
Ku rindu s’lalu menyenangkanMu

Pada suatu pertemuan saya mendengarkan lagu tersebut dinyanyikan pertama kali. Sungguh, ada perasaan yang luar biasa terjadi pada saat itu terutama ketika ikut menyanyikan lirik di paragraf pertama. Lirik yang sangat sederhana tapi memuat makna yang sangat dalam. Apa pun yang terjadi di dalam hidupku ku mau s’lalu berkata Tuhan Yesus baik.

Kita akan dengan mudah berkata Tuhan Yesus baik ketika sedang dalam keadaan suka cita, tapi jika kita sedang dalam kesusahan atau kebingungan yang sangat dalam atau pun sedang dalam penantian tak kunjung berakhir dapatkah kita berkata ‘ Tuhan Yesus baik?’

Pada malam hari kembali saya merenungkan lagu itu dan flash back kembali ke kehidupan-kehidupan yang telah lalu dimana saya masih sering tertimpa masalah dan cobaan dalam hidup. Cobaan yang cukup berkesan pertama kali adalah ketika mama sakit dalam jangka waktu yang lama dan memerlukan biaya cukup besar. Saat itu kondisi keuangan keluarga tidak cukup baik sehingga persoalan ini cukup membuat kami sekeluarga khawatir. Hidup doa saya waktu itu juga belum cukup baik dan belum mengenal Tuhan dengan baik. Karena, walaupun Katolik saya jarang ke gereja waktu itu. Setiap hari saya selalu berdoa sebisa saya dan meminta yang terbaik untuk mama dan Tuhan berbaik hati mendengarkan doa saya. Pertolongannya tak pernah terlambat. Dokter, obat dan biaya selalu tersedia dengan berbagai cara tepat pada waktunya. Walaupun pada akhirnya mama meninggalkan kami untuk selamanya tapi pertolongan Tuhan pada saat mama hendak meninggal sungguh luar biasa. Dia ubahkan hati mama yang sangat keras menjadi hati yang penuh pengampunan. Mama dapat mengampuni semua orang yang bersalah padanya satu per satu sehingga dia dapat meninggal dengan tenang dan tanpa kesakitan sedikit pun. Yang menurut dokter akan terjadi ini dan itu semua tidak terjadi. Mama juga sudah dapat menerima Yesus yang sesungguhnya. Tuhan sungguh sangat luar biasa.

Beberapa bulan setelah mama meninggal, saya berkesempatan untuk mengikuti retret awal di Lembah Karmel. Di dalam retret ini benar-benar saya diubahkan. Hidup saya diperbaharui. Saya mulai rajin ke gereja tiap minggu, doa juga lebih teratur dan saya juga mendapatkan suatu komunitas yang baik dimana saya dapat tumbuh berkembang di sana.

Awalnya saya pikir semakin dekat dengan Tuhan cobaan akan semakin ringan. Ternyata sebaliknya. Cobaan demi cobaan aku alami terutama dalam lingkungan pekerjaan. Tetapi kali ini terasa lebih ringan karena aku merasakan penyertaan Tuhan dalam setiap cobaan itu. Tuhan juga mengajarku untuk tidak mengandalkan kekuatanku sendiri. Tuhan mengajarku untuk pasrah total kepada kehendakNya dan mempercayaiNya bahwa Dia telah menyiapkan yang terbaik untukku. Hal ini terjadi ketika saya keluar dari pekerjaan saya karena sesuatu hal dan dengan kesombongan diri saya berkata dalam hati dalam 3 bulan pasti saya sudah bisa mendapat pekerjaan yang lebih bagus. Ternyata….. Tuhan berkehendak lain. Bulan demi bulan berlalu dan pekerjaan baru tak kunjung didapatkan. Penantian yang sungguh menegangkan karena uang juga sudah sangat tipis pada saat itu. Akhirnya kembali Tuhan mendorongku untuk bersujud dan pasrah total kepadaNya. Pada saat kepasrahan total itulah pertolongan Tuhan datang.

Akhirnya, setelah peristiwa itu saya sadar bahwa dalam kelemahanlah kuasa Allah nyata dalam hidupku. Dengan segala macam peristiwa dalam hidupku aku menjadi semakin dekat dengan Tuhan. Tuhan mempunyai caraNya sendiri untuk membuat kita semakin dekat dengan Dia. Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan kita dan Tuhan juga akan selalu siap menopang kita dikala kita sudah tidak kuat lagi untuk menanggungnya. Tuhan sungguh Tuhan yang sangat baik. Oleh karena itu, tidak salah dalam lagu itu berkata “Apa pun yang terjadi di dalam hidupku, s’lalu berkata Tuhan Yesus baik.

Jakarta, 20 Maret 2010

Rabu, 19 Oktober 2016

SUSANTI KARTININGRUM RINTIS USAHA BRIDAL DENGAN AIR MATA

Susanti Kartiningrum seorang pengusaha bridal yang sukses, namun tidak ada yang menyangka perjuangan kerasnya berawal dari kerasnya kehidupan di masa lalunya.

Kisah Susanti bermula ketika dia dan kakaknya harus tinggal di panti asuhan karena ayah mereka mengalami kebangkrutan. Susanti yang saat itu masih kecil harus menelan air mata dan menahan kepedihan karena kehilangan kasih sayang. “Pada waktu seperti itu, tidak ada dekapan rasa nyaman, tidak ada kasih sayang, tidak ada yang dekap saya. Sehingga saya merasa saya hidup sendiri,” ungkap Susanti.
Pedihnya hidup 15 tahun di panti asuhan harus ditambah dengan pahitnya kemiskinan yang dialaminya. Hal itu membuat Susanti bertekad untuk keluar dari kemiskinan. “Saya tidak mau hidup miskin lagi, nanti kalau saya sudah besar saya mesti (harus) berjuang, saya mesti bekerja, pokoknya saya mau hidup layak. Saya nggak mau hidup miskin dan minta-minta orang lagi,” ujarnya.
Keinginan Susanti untuk keluar dari kemiskinan membuatnya menjalani berbagai pekerjaan dari staff administrasi di rumah sakit, hingga menjadi seoragn guru. Namun dari berbagai pekerjaannya, ada satu pekerjaan yang membuatnya jatuh cinta.
“Nggak tahu saya bisa suka sekali sama hal-hal yang berhubungan dengan kecantikan. Dan saya merasa saya bisa. Ada satu keberanian-keberanian, yang muncul begitu saja secara otodidak. Ternyata saya itu hobi,” ungkap Susanti.
Disitulah awal tekad Susanti untuk merintis usaha salon di Semarang yang diberinya nama “Kezia”. Ia pun menikah dengan kekasihnya dan dianugerahi dua orang anak laki-laki yang sangat dikasihinya. Namun indahnya bahtera pernikahan tidak lama dirasakannya.
Pertengkaran demi pertengkaran terus mereka lalui. Takut merusak perkembangan jiwa anak-anaknya, Susanti memutuskan untuk berpisah dari suaminya. “Saya nggak mau masa lalu saya terulang kembali dalam hidup anak-anak saya. Saya nggak mau mereka hidup dalam kekerasan. Saya berpikir lebih baik saya mengayomi anak-anak saya sendiri,” kisah Kezia tentang awal perpisahannya dengan suami.
Perpisahannya dengan suami ternyata membuat Susanti semakin tertekan dengan keadaan. “Keaadan itu menekan saya, terutama pandangan masyarakat dan itu sangat memukul perasaan saya,” ucapnya.
Pertentangan batin mulai dirasakan Susanti. Hatinya kelu dengan peristiwa-peristiwa buruk yang menimpa hidupnya. “Kok Tuhan bisa mengizinkan hal ini terjadi? Kok rasanya nggak adil, karena saat itu saya berpikir saya sudah melakukan semua hal yang baik,” ungkap Susanti.
“Saya sudah berkorban untuk keluarga saya, saya juga sudah bantuin banyak hal, saya sudah didik anak-anak saya, pokoknya saya sudah lakukan banyak hal untuk keluarga saya! Tapi kok akhirnya saya begini, saya jadinya kecewa,” tambahnya.
Kekecewaan terus memenuhi hati Susanti, hingga suatu hari seorang teman menelponnya. Dari teman itulah Susanti kembali mendapat penguatan, ia pun disarankan untuk melepaskan pengampunan untuk orang-orang yang telah menyakiti hatinya. Susanti kemudian bertekad untuk keluar dari bayang-bayang kekecewaannya selama ini.
“Saya berjuang setengah mati untuk mengambil keputusan mengampuni. Pada waktu itu saya berteriak, saya bilang: ‘Tuhan, oke saya ampuni!’ Tiba-tiba ada damai sejahtera dan tidak pernah saya alami dan saya mulai kuat lagi,” ungkap Susanti menceritakan lahirnya kembali pengharapannya.
Sikap Susanti bahkan membuatnya mempunyai kerinduan untuk dapat bersatu lagi dengan suaminya. Hal itu langsung diungkapkannya dalam doa. “Tuhan okelah suatu hari, kalau dia sudah tua nanti saya akan rawat dia. Saya akan tetap merawat bapak dari anak-anak saya,” ungkapnya.
Berbekal dengan sisa uang tabungannya, Susanti mencoba mengadu nasib di Jakarta dengan membuka usaha serupa. Namun lagi-lagi, Susanti belajar bahwa hidup tidak semudah bayangannya. Ia pun sempat merasa depresi dan kembali mempertanyakan Tuhan. “Saya nangis kepada Tuhan, ‘Tuhan ini apa, kok saya jadi seperti ini? Apakah saya salah? pokoknya Tuhan harus jawab dan buat saya sampai mengerti mengapa ini bisa terjadi,’” Susanti galau.
Namun Susanti mendapat sebuah pencerahan. “Setiap hidup itu adalah proses, Tuhan bilang serahkan semua yang ada pada hidup kamu kepada Saya,” kisahnya.
Pencerahan ini membuat Susanti makin bersemangat. Kini dia menyerahkan usahanya itu kepada Tuhan, dan Tuhan pun menunjukan kuasa-Nya. “Pada waktu saya nggak ada uang mau bayar tagihan besok gitu, saya bilang sama Tuhan gini, ‘Tuhan, usaha ini milik Tuhan. Tuhan kasi berkat yaa’,” kisahnya.
Doa sederhana itu membawa sebuah mujizat. Pada malam hari ada orang yang ingin melihat koleksi gaun pengantin miliknya. Susanti melayani pengunjungnya itu dengan ramah, dan akhirnya sebuah gaun rancangannya laku terjual. Dari uang inilah Susanti mampu membayar tagihannya esok hari.
“Saya ngerti sekali bahwa ini bukan kebetulan, tapi ini mujizat yang Tuhan buat dalam diri saya. Sejak hari itu saya bisa melihat, kebaikan-kebaikan Tuhan itu beruntun dalam kehidupan saya. Jadi saya percaya bahwa hidup kita bener-bener dipelihara. Sejak itu saya makin beriman, makin mengerti dan nggak takut,” ungkap Susanti.
Usaha Susanti pun semakin maju. Dari Mangga Besar, Kezia Bridal pindah ke Kelapa Gading dan semakin berkembang. Namun di saat yang sama, Susanti mendapat kabar bahwa suaminya jatuh sakit dan membutuhkan dukungan dari keluarga.
“Ada suara gitu di hati saya, sepertinya Tuhan ngomong ‘Ini waktunya Nak kamu tolong dia (suami Susanti)’. Yaa saya mau taat aja, saya telepon anak saya dan beri tahu bahwa ini adalah yang Tuhan mau. Jadi apa yang mama lakukan adalah yang Tuhan mau,” kisah Susanti.
Keputusan Susanti untuk menerima suaminya kembali semakin melengkapi kebahagiaan keluarganya. Dan dari semua pengalaman yang ia alami, Susanti mendapat banyak pelajaran berharga. “Berubahlah, saya banyak berubah. Kalau mungkin dulu keras, gampang tersinggung, gampang marah, saya lihat sekarang saya mungkin sudah tidak seperti itu lagi. Saya sudah terbiasa, menjadi gaya hidup untuk kita mengampuni orang lain,” ungkap Susanti.
“Hidup itu perlu diperjuangkan, tapi dengan siapa kita berjuang itu masalahnya. Kalau kita berjuang bersama Tuhan Yesus, nggak ada sesuatu pun yang kita tidak bisa capai. Pasti bisa!” tambah Susanti.
Kisah hidup Susanti ini pun menginspirasi keluarganya. “Pelajaran hidup yang bisa saya ambil dari mama adalah, dia benar-benar bergantung terhadap Tuhan, menjadi contoh terhadap anak-anaknya, seorang yang berani dan teguh dalam melakukan segala hal. Hingga kita pun anak-anaknya belajar untuk bergantung kepada Tuhan sepenuhnya dalam segala hal,” ucap Dhani Yufisa, putra Susanti.
“Nyatanya sampai hari ini, sebagaimana saya ada sampai saat ini bukan karena kuat dan gagah saya. Tetapi karena saya tahu bahwa kesanggupan saya adalah kesanggupan Allah dalam hidup saya,” Susanti menutup kesaksiannya.
Sumber Kesaksian:
Susanti Kartiningrum (jawaban.com)

Sabtu, 15 Oktober 2016

KETIKA SEMUANYA SUDAH TERLAMBAT

Di masa kecilnya, Meida mengingat sosok ayahnya, Mulyadi, sebagai sosok bertanggung jawab, setia kepada keluarga dan tidak pernah mentelantarkan anak-anaknya. Dibandingkan adik-adiknya, Meidalah yang paling dekat dengan ayahnya. Kasih sayang Mulyadi bagi Meida begitu berlimpah. Hadiah-hadiah indah dan lucu seringkali diberikan ayahnya untuk Meida. Bagi Meida, Mulyadi adalah seorang ayah yang hebat.
Tapi sejalan dengan waktu, rasa sayang itu telah berubah menjadi kebencian yang mendalam di hati Meida. Mulyadi ternyata memiliki wanita idaman lain sampai akhirnya, saat Meida masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Mulyadi meninggalkan keluarganya demi wanita itu. Selama bertahun-tahun, komunikasi dengan Mulyadi telah benar-benar terputus. Mulyadi tidak pernah pulang ke rumah. Nafkah pun tidak pernah diberikan Mulyadi bagi keluarganya sehingga Meida harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ratnaningsih, ibunya, berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dengan berjualan gorengan. Kerinduan Meida yang terdalam hanyalah ingin membahagiakan Ratnaningsih. Kesedihan yang tersimpan di dalam hati Meida semakin membuat kebenciannya terhadap ayahnya semakin mengental. Hati Meida dipenuhi dendam.
Peristiwa itu telah mengubah seluruh kehidupan Meida. Meida menjadi anak yang menutup diri terhadap lingkungannya sendiri. Meida susah bergaul karena pada dasarnya Meida merasa dirinya tidak bisa lagi mempercayai orang lain. Perbuatan ayahnya telah menghancurkan rasa percaya Meida kepada semua orang.
Hingga bertahun-tahun kemudian, Meida diperhadapkan kepada situasi yang selalu ia hindari. Ayahnya kembali pulang ke rumah. Api kebencian di dalam hati Meida yang sudah mengecil, kembali membara. Bagi Meida, ketidakhadiran ayahnya di dalam kehidupannya bukanlah suatu masalah. Selama ini Meida sudah berusaha untuk bertahan dan memperjuangkan hidupnya sendiri.
Kepulangan ayahnya kembali ke rumah semakin memperburuk situasi. Suasana dingin senantiasa meliputi hubungan keluarga di antara mereka. Meida dan saudara-saudaranya merasa lebih baik seandainya ayah mereka tidak hadir daripada hanya menjadi seorang ayah yang mengecewakan.
Kekecewaan itu pernah Meida ungkapkan secara langsung kepada ayahnya. Bagaimana sakitnya perasaan Meida terhadap ayahnya. Namun ayahnya biasanya hanya menanggapinya dengan berdiam diri, tidak pernah memberikan komentar apapun. Kondisi itu pun akhirnya hanya menimbulkan sikap yang apatis bagi Meida karena Meida merasa berdebat dengan ayahnya pun tidak akan menghasilkan apa-apa.
Pada suatu hari, teman Meida mengajaknya untuk menghadiri sebuah KKR. Khotbah yang dibawakan pada malam itu membuka paradigma baru di dalam hati Meida. Bahwa sebenarnya Bapa yang di surga itu jauh lebih baik, lebih setia dan lebih mulia daripada bapa jasmani kita. Bapa surgawi adalah Pribadi yang sangat baik dan penuh pengampunan. Kebenaran itu tertancap dalam di hati Meida. Namun Meida menyadari, ia tidak sanggup mengampuni ayahnya. Tapi Meida tetap bertekad untuk mengampuni ayahnya. Paling tidak, Meida akan berusaha untuk merubah sikap dinginnya yang selalu ditunjukkannya kepada ayahnya.
Di saat Meida berusaha memperbaiki hubungannya dengan sang ayah, suatu peristiwa yang tidak disangka kembali terjadi. Peristiwa yang mengejutkan dan sangat menyakitkan kembali mengurungkan niat Meida. Tanpa disengaja, Meida membaca pesan yang dikirimkan wanita simpanan ayahnya di HP Ratnaningsih yang mengatakan kalau Meida itu bukan anak kandung ayahnya. Hati Meida sangat sakit, menyadari bahwa ayahnya sendiri yang telah mengatakan ketidakbenaran itu kepada selingkuhannya. Ayahnya pernah mencoba untuk meminta maaf kepada Meida atas peristiwa itu namun hati Meida telah benar-benar menjadi dingin. Meida tidak pernah lagi mencoba untuk menyayangi ayahnya.
Pada suatu hari, Meida bersama ayahnya pergi ke Bandung untuk memperingati 40 hari kematian neneknya. Kekakuan dan hubungan yang dingin di antara Meida dan ayahnya membuat Meida malas untuk ngobrol maupun berbasa-basi dengan ayahnya di sepanjang perjalanan. Ayahnya yang berusaha membuka percakapan dengan Meida pun tidak diindahkannya. Sepulangnya dari Bandung, kejadian yang tidak disangka-sangka itu terjadi. Supir yang mengantuk menyebabkan mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan di jalan tol.
Ratnaningsih yang diberitahu mengenai kecelakaan itu segera pergi ke rumah sakit tempat Meida dan Mulyadi dirawat. Sesampainya di sana, barulah Ratnaningsih diberitahu kalau Mulyadi sudah meninggal dunia. Meida sendiri mengalami luka yang parah dan harus segera dioperasi. Saat itu, Ratnanigsih berusaha setegar mungkin namun di dalam hatinya ia menyimpan duka yang tak terkatakan. Ratnaningsih hanya bisa berdoa, memohon kepada Tuhan untuk tidak mengambil nyawa Meida juga.
Kecelakaan tersebut telah merenggut nyawa Mulyadi dan Meida pun berada dalam keadaan koma. Namun Tuhan berbelas kasihan dan memulihkan kesehatan Meida perlahan-lahan. Meida yang tadinya lumpuh, mulai belajar berjalan kembali. Kondisi Meida yang memprihatinkan membuat Ratnaningsih tetap merahasiakan kematian Mulyadi kepada Meida. Setiap kali Meida menanyakan keberadaan ayahnya, Ratnaningsih selalu mengatakan kalau Mulyadi sedang tugas di luar kota. Ratnaningsih kuatir kalau sampai Meida shock, itu akan mempengaruhi kondisinya yang belum stabil.
Sebulan kemudian, kenyataan akan kematian Mulyadi tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Tanpa sengaja Meida membaca pesan di HP Ratnaningsih yang mengungkapkan turut berdukacita atas kepergian Muyadi. Dengan berusaha setenang mungkin, Ratnaningsih pun akhirnya mencoba menjelaskan kenyataan yang sebenarnya bahwa Mulyadi sudah meninggal dunia akibat kecelakaan itu.
Kenyataan ini kembali menimbulkan kesedihan mendalam bagi Meida. Penyesalan memenuhi hatinya karena ia tidak dapat menemani saat-saat terakhir ayahnya. Meida sadar meskipun mulutnya selalu mengatakan kebencian kepada ayahnya, tapi sebenarnya jauh di dalam hatinya Meida sangat menyayangi ayahnya. Penyesalan yang paling menyesakkan hati Meida adalah kenangan saat ayahnya mencoba untuk meminta maaf kepadanya, Meida tetap mengeraskan hatinya dan tidak dapat memaafkan ayahnya sepenuhnya. Meida merasa, saat ayahnya masih ada, ia tidak dapat membahagiakan ayahnya.
Kebenaran akan statusnya sebagai anak kandung ayahnya atau bukan tidak lagi menjadi masalah bagi Meida. Saat ini Meida hanya menyadari bahwa ia tetap sayang kepada ayahnya dan sudah mengampuni ayahnya. Karena bagi Meida, tidak ada gunanya lagi ia menyimpan kepahitan di dalam hatinya karena ayahnya juga sudah tiada. Kepahitan itu disadari Meida hanya menyiksa dan menyakiti dirinya sendiri.
Bagi Meida, kebaikan Tuhan itu luar biasa dan merupakan mukjizat karena Tuhan sudah menyelamatkan dirinya dari kematian. Dan Meida sangat bersyukur memiliki keluarga yang benar-benar membantu dan mendorongnya untuk terus melihat masa depan. Meida tahu semuanya itu berasal dari Tuhan dan tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengungkapkan kebaikan Tuhan bagi hidupnya. (Kisah ini sudah ditayangkan 7 Januari 2008 dalam acara Solusi di SCTV).
Diambil dari :
Jawaban.com
Sumber Kesaksian :
Meida Megawati

Selasa, 11 Oktober 2016

SETELAH OD 5 KALI, BAGAIMANA NASIB RANI SELANJUTNYA /

Rani Rahmi tidak mempunyai anak sehingga Rani diberikan kepada mereka. Karena hidup berkecukupan, apapun yang Rani mau diberikan. Namun, kesenangan itu tidak bertahan lama. Dia dikembalikan ke orangtua kandungnya. Hal ini membuat dia tidak bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Dia menyimpan marah kepada orangtua angkatnya yang mengembalikan dirinya tersebut.
Rasa tidak puas itu menumpuk dan bertumbuh menjadi pemberontakan. Rani atau yang biasa disebut Ani, dia mulai nakal. Sejak SMP, dia mulai merokok bersama teman-teman prianya, bahkan dia juga mencoba obat-obatan keras yang murah. Sampai kelas 3 SMP, dari rokok dan obat-obat murah, Ani juga minum-minuman keras. Bahkan dia mulai mengenal ganja.
Setelah lulus SMP, Ani lebih nakal lagi. Setiap hari dia pasti mabuk. Dia tidak peduli akan kehidupannya, semua teguran dan nasihat tidak dipedulikan. “Saya sudah tidak peduli. Sejak saya dikembalikan kepada orangtua saya, saya marah. Sebenarnya yang saya cari sih perhatian. Perhatian dari orangtua yang saya anggap orangtua saya, supaya mereka ambil saya lagi.” cerita Ani waktu itu. “Mengapa orangtua kandung saya memberikan saya kepada om dan tante saya, tapi kemudian mereka berikan saya lagi kepada orangtua saya?” tambahnya.
Dia bertanya-tanya buat apa dia dilahirkan, apakah dia benar-benar dibuang. Ani pikir, buat apa dia ada di tengah-tengah keluarga yang seperti itu. Karena itu, dia mencari kesenangan sendiri dengan mabuk, obat, ataupun rokok untuk menutupi jiwanya yang hancur. Ani merasa dirinya sebagai anak yang tidak diinginkan orangtuanya. Karena itu juga, dia menghancurkan dirinya sendiri. Apalagi ketika temannya ada yang mengajak dirinya ke diskotek. Di sanalah dia mengenal ekstasi dan menyukainya. Ketika pacaran dengan seorang BD (Bandar, red), dia pun mencoba putaw. Dia tidak mengerti bahwa putaw mempunyai efek ketergantungan yang lebih parah lagi daripada semua obat-obatan yang dicobanya. Dan untuk mencukupi kebutuhannya akan narkoba, dia rela melakukan apa saja.
Setiap dua jam sekali dia harus memakai benda itu, sehingga mau tak mau dia pun melakukan segala cara. Mencuri, menjual barang-barang berharga, seks bebas demi mendapatkan uang ataupun barang itu langsung. Demi narkoba, dia rela mengorbankan harga dirinya, karena dia memang merasa dirinya sudah tidak berharga lagi. Hal ini membuat Ani sempat mengalami 5 kali overdosis. Biasanya hal ini dikarenakan obat-obatan yang dia pakai, tidak hanya 1 macam. “Karena saya memang mencari kematian. Karena saya ini anak perempuan, tapi kok saya dioper-oper? Saya pikir, lebih baik saya mati. Tapi kok tidak mati-mati padahal sudah 5x overdosis.”
Pihak keluarga mencoba menyembuhkannya, membawanya ke dokter. Dia memang memakai obat yang diberikan dokter, tapi dia pun masih memakai ‘obat’ yang satunya. Keadaannya bertambah parah, tanpa pengharapan, dia hanya mencari satu jalan yaitu kematian. Semakin dia putus asa, dia mencoba lompat dari apartemen. Jika dengan overdosis tidak bisa, mungkin dengan bunuh diri seperti itu, dia bisa mati. Melompatlah Ani, jatuh dengan posisi terduduk di lantai empat. Semua tulang-tulangnya patah. Saat itu pikirannya, sebentar lagi dia akan mati. “Asyik, saya mati.” Katanya dalam hati.
Ternyata pada saat itu, ada seorang suster yang melihat kejadian tersebut, sehingga Ani langsung dibawa satpam yang ada ke rumah sakit. Di rumah sakit, selama 6 bulan perawatan, dia masih menginginkan kematian datang di hidupnya. “Saya tidak bisa jalan. Semua obat yang dari dokter saya minum melebihi dosis yang dianjurkan, tapi tetap saja saya tidak mati-mati.” katanya. ‘Kok susah amat ya ga mati-mati?’ begitu pikirannya ketika itu.
Semua cara agar kematian itu datang yang ditempuh Ani, baik melalui narkoba dengan overdosis 5x, melompat dari gedung, maupun minum obat melebihi dosis, semuanya mendatangkan kesia-siaan. Ani mulai bertanya-tanya, mengapa bisa terjadi hal seperti itu. Kenapa aku masih hidup? Itulah pertanyaan yang membayanginya, padahal dia merasa tidak mempunyai alasan untuk hidup.
Kemudian, Ani lari ke rumah kakaknya. Setiap siang, biasanya rumah tersebut kosong. Pada awalnya, Ani tidak ada niatan untuk mencuri, namun ketika melihat pintu lemari pakaiannya terbuka, niat itu muncul. Dia ambil kotak perhiasannya. Dia pakai buat kumpul sama teman-temannya dan memakai narkoba sampai habis. Dia mulai bingung harus kemana, akhirnya dia tiba di sebuah rumah kosong.
Di sana dia melihat ada orang gila. Dalam hatinya dia berpikir, apakah dia akan berakhir seperti itu karena keputusasaannya untuk mati. Mungkin dia bisa gila. “Ah, aku ga mau gila, mendingan aku mati daripada gila. Maka di situlah saya menjerit. ‘Tuhan, kalau memang Engkau ada tolong sembuhkan saya. Saya sudah capek pakai narkoba. Saya sudah tidak punya apa-apa, saya sudah tidak diterima. Tolong Tuhan, saya sudah capek.’” Perkataan itu dia keluarkan pada saat dirinya sakaw.
Menjelang pagi, masih dalam keadaan sakaw, Ani pergi dari rumah kosong tersebut. “Saya jalan, cukup jauh perjalanan saya sampai akhirnya saya tidak tahan.” Pukul 3 sore, dia tiba di sebuah halte. Dia takut mau tidur dimana nanti malam. Ternyata di dekat halte tersebut, ada panti asuhan. Dia ke panti asuhan tersebut dan menceritakan semua kehidupannya kepada orang-orang yang mengurus panti asuhan itu, keadaan sakaw masih menguasai dirinya.
“Kamu ingin sembuh?” tanya pengurus itu. Ketika Ani mengiyakan, dibawalah dia ke sebuah tempat yang benar-benar tidak diduga olehnya. “Nah, di situ saya merasa aneh. Masa saya disuruh berdoa? Saya disuruh baca Alkitab, saya nggak ngerti. Saya bilang ini bukan jalan saya.” Ani mengatakan bahwa dia tidak butuh Alkitab, karena dia sakaw yang dia butuhkan adalah obat. “Kalian semua gila. Karena yang saya tahu dari dulu untuk menyembuhkan itu pake obat. Ini nggak.” Itulah kata-katanya ketika itu. “Mereka cuma nyanyi, baca Alkitab, doa, tumpang tangan, sudah.”
Pada hari kedua, sakaw nya pun menjadi-jadi. Dia pikir mungkin saat itulah dia akan mati. Dan untuk kedua kalinya, dia pun marah kepada orang-orang yang ada di sana ketika itu. Permintaan Ani untuk narkoba pun ditolak, tapi para pembimbing di sana terus mendoakannya. Akhirnya, merasa tidak tahan, akhirnya Ani ingin pulang saja. Sebelum pulang, sang pembina ingin mendoakan dia dulu. Ani pun berpikir tidak ada masalah. Sewaktu didoakan, dia teringat kembali doanya sendiri ketika itu. Dia ingat bahwa dia pernah minta Tuhan untuk menyembuhkannya. Apa ini yang mau Tuhan lakukan buat saya? Tanyanya dalam hati. Setelah itu, Ani tertidur sampai pagi.
Di hari ketiga, sakaw-nya bertambah parah. Dia semakin liar dan galak pada semua orang di sana, bahkan dia mengancam mentornya dengan memakai pisau dan meminta uang untuk membeli narkoba. Lalu datanglah seorang pendeta yang mendoakannya. Entah mengapa, setelah itu Ani merasa malas untuk pulang. Di hari ketiga itu, dia mengurungkan niatnya untuk pergi dan mengikuti ibadah pada malam harinya.
Di dalam ibadah itu, ada suatu lagu yang mengatakan, “Hanya nama Yesus…” Dia menangis sampai hancur hati. Lagu itu membuatnya sadar hanya nama Yesus, hanya nama Yesus. Berarti Tuhan ini yang menyembuhkan saya. Katanya dalam hati. Perasaannya pun menjadi dingin dan tenang, kayak tidak mempunyai masalah. “Besok saya juga mau,” katanya dalam hati kembali ingin merasakan perasaan itu. Sejak saat itu, Ani tidak lagi merasa sakaw dan rasa ingin memakai obat-obatan itupun sirna.
Semua kejadian yang dia alami, berkali-kali mujizat yang dia alami, banyak jalan yang dia lalui, dia menyadari bahwa dirinya sesungguhnya berharga dan bahwa Tuhan tidak ingin dia mati. “Semua kebaikan Tuhan itu saya rasakan, semua mujizat Tuhan itu saya rasakan. Yang dibilang Yesus itu kekasih jiwaku itu benar-benar saya alami, jadi saya benar-benar merasa bahwa Yesus itu segalanya buat saya.” tutupnya tentang cerita hidupnya. Percayalah, Yesus pun segalanya buat kita semua.
 Sumber Kesaksian :
Rani Rahmi (jawaban.com)

Jumat, 07 Oktober 2016

TUHAN YESUS MENJADIKAN HIDUPKU BERARTI


Saya berasal dari keluarga berlatar belakang lain yang sangat fanatik. Pada usia 22 tahun saya mengalami kekecewaan yang sangat berat yang membuat saya berputus asa. Namun, puji Tuhan, pada tahun 1976, saya diajak teman ke gereja dan di situlah saya mengenal Tuhan Yesus. Beberapa waktu kemudian saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi. Sungguh luar biasa, Tuhan Yesus menjadikan hidup saya berarti dan Ia memulihkan saya dari keputusasaan hidup. Saya mengalami keindahan hidup yang tidak saya temukan sebelumnya di dalam keyakinan saya yang lama. Di dalam Tuhan Yesus, saya memiliki kepastian keselamatan sebagaimana yang dijanjikan firman-Nya.

Pada waktu itu seluruh anggota keluarga saya belum mengenal Tuhan Yesus dan mereka tidak bisa menerima kepindahan saya menjadi orang Kristen. Mereka memusuhi saya, bahkan papa pernah memukuli dan mengusir saya dari rumah. Sungguh, tekanan hidup yang saya rasakan pada waktu itu sangat berat; saya dikucilkan keluarga. Namun, puji Tuhan, Ia menguatkan saya. Saya tetap bersikap baik terhadap keluarga, mendoakan mereka supaya mereka juga mendapat bagian di dalam Tuhan. Siang malam saya berdoa tak henti-hentinya sambil menangis, memohon Tuhan berkenan menjamah mereka. Puji Tuhan, Ia menjawab doa saya, akhirnya anggota keluarga saya diubahkan; tahun 1979 ketiga adik saya bersedia ke gereja dan menerima Tuhan Yesus secara pribadi. Kemudian, mama saya menyusul bersedia dibaptis pada tahun 1980. Saya mengalami sukacita yang luar biasa ketika melihat keluarga saya mulai mengikuti Tuhan. Namun, papa masih mengeraskan hati dan memusuhi saya, karena pola pemikirannya masih kolot dan ia bersikap seperti diktator.

Saya terus mendoakan papa supaya beliau mendapat bagian di dalam keselamatan yang disediakan oleh Tuhan. Hati saya dipenuhi dengan kerinduan supaya papa bersedia menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya. Saya terus bergumul dalam doa. Saya menantikan jawaban Tuhan selama 30 tahun -- bayangkan, rentang waktu yang tidak singkat itu -- namun Tuhan tidak pernah terlambat. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu seorang pendeta yang sudah berusia lanjut, yaitu Pdt. M.. Bapak pendeta ini memunyai kerinduan untuk memberitakan Injil kepada papa saya. Selama setahun pendeta ini terus mendampingi papa saya, dengan ketekunan, kesabaran, dan kesetiaan, ia memberitakan kebenaran kepada papa. Akhirnya, pada pertengahan November 2005 papa saya membuka hatinya bagi Tuhan Yesus. Beliau bersedia menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya secara pribadi. Papa saya sekarang sudah ke gereja.

Mendengar kabar ini, saya benar-benar terkejut, tidak menyangka bahwa papa bisa membuka hatinya. Saya begitu terharu, setiap kali saya memikirkan peristiwa ini, saya tidak kuasa menahan air mata. Tuhan Yesus begitu baik. Saya tidak henti-henti menyaksikan kebaikan Tuhan di dalam kehidupan keluarga saya. Sebagai orang yang sudah mengalami kebaikan Tuhan, saya juga rindu selalu menyaksikan cinta kasih-Nya kepada orang-orang yang belum percaya, supaya mereka juga beroleh keselamatan di dalam Tuhan Yesus.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buletin : Gema Kalvari, Edisi 67, Mei -- Juni 2006
Penulis : Ch
Penerbit : Lembaga Pelayanan Terpadu "GEMA KALVARI", Salatiga
Halaman : 31 -- 32


copas : kesaksian.sabda.org




Senin, 03 Oktober 2016

Kesaksian Erni Mbay "Kebaikan Tuhan Yesus"

Erni Mbay
  • Kisah ku hari ini Tentang kebaikan Tuhan Yesus...

    Aku seorang TKI yg bekerja di singapura.pekerjaan ku adalah jaga 3 orang anak dn 1 ekor anjing.Ini kisah ku tentang kebaikan Tuhan Yesus untuk ku hari ini.semoga bisa menjadi renungan iman buat saudara2 yang membaca,bahwaTuhan YEsus sangat baik,dan selalu ada untuk menolong kita kapan dan dalam keadaan yg tidak kita ketahui.

  • Sudah beberapa hari ini aku tidak makan,tenggorokan ku perih,tetapi ku biarkan saja.aku pikir mungkin karena mau batuk,jadi tenggorokan ku sakit.  Sampai kemarin badan ku lemas,demam dn seharian aku tidur.aku sudah makan panadol tapi tetap saja tidak ada perubahan.tadi pagi waktu bangun tidur,aku berniat bawa anjing ku keluar,tapi pas mau masuk lift,kepala ku pusing,dan aku rasa mau muntah.aku balik masuk kamar ku dan tidur di lantai.

  • Setelah beberapa lama aku tidur,aku rasa membaik,dan karena trpikir anjing ku yg belum bawa turun,aku paksakn diri bangun lagi dan bawa anjing keluar.tetapi setelah masuk dalam lift,kepalaku berputar2 dan keadaan di sekitar ku gelap gulita,aku bahkan tidak bisa melihat anjing ku yg d sebelah ku.dan waktu pintu lift terbuka,aku tidak bisa kluar,aku jatuh di dalam lift,

  • Anjing ku lari keluar ke lobby.  aku biarkan anjing dan dalam keadaan tidak sadar,aku berusaha cari angka 9 dn tekan biar lift nya naik balik.aku berusaha keluar dan masuk rumah,sampai d ruang TV aku jatuh lagi.

  • Bos ku lari ke lobby mencari anjing yg ku tinggalkn d sana,dan selepas itu mereka bawa aku ke hospital.setelah di periksa,ternyata tenggorokan aku yg sakit itu,yg aku pikir mungkin gejala batuk,ternyata infeksi dan membengkak.dan tensil darah ku benar2 turun.selama ini aku tidak merasa,dan waktu aku sakit aku ga makan,aku selalu pikir karena gejala batuk.

  • Sekarang aku sudah kembali dari hospital dan di kasih banyak obat.Aku bersyukur pada Tuhan Yesus...karena kasih setia MU,mau menjaga aku.Trima kasih Tuhan....buat para pembaca....semoga kalian semua jangan pernah berhenti berserah pada Tuhan Yesus.Happy weekend,GBU
Sumber : copas facebook