Jumat, 07 Oktober 2016

TUHAN YESUS MENJADIKAN HIDUPKU BERARTI


Saya berasal dari keluarga berlatar belakang lain yang sangat fanatik. Pada usia 22 tahun saya mengalami kekecewaan yang sangat berat yang membuat saya berputus asa. Namun, puji Tuhan, pada tahun 1976, saya diajak teman ke gereja dan di situlah saya mengenal Tuhan Yesus. Beberapa waktu kemudian saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi. Sungguh luar biasa, Tuhan Yesus menjadikan hidup saya berarti dan Ia memulihkan saya dari keputusasaan hidup. Saya mengalami keindahan hidup yang tidak saya temukan sebelumnya di dalam keyakinan saya yang lama. Di dalam Tuhan Yesus, saya memiliki kepastian keselamatan sebagaimana yang dijanjikan firman-Nya.

Pada waktu itu seluruh anggota keluarga saya belum mengenal Tuhan Yesus dan mereka tidak bisa menerima kepindahan saya menjadi orang Kristen. Mereka memusuhi saya, bahkan papa pernah memukuli dan mengusir saya dari rumah. Sungguh, tekanan hidup yang saya rasakan pada waktu itu sangat berat; saya dikucilkan keluarga. Namun, puji Tuhan, Ia menguatkan saya. Saya tetap bersikap baik terhadap keluarga, mendoakan mereka supaya mereka juga mendapat bagian di dalam Tuhan. Siang malam saya berdoa tak henti-hentinya sambil menangis, memohon Tuhan berkenan menjamah mereka. Puji Tuhan, Ia menjawab doa saya, akhirnya anggota keluarga saya diubahkan; tahun 1979 ketiga adik saya bersedia ke gereja dan menerima Tuhan Yesus secara pribadi. Kemudian, mama saya menyusul bersedia dibaptis pada tahun 1980. Saya mengalami sukacita yang luar biasa ketika melihat keluarga saya mulai mengikuti Tuhan. Namun, papa masih mengeraskan hati dan memusuhi saya, karena pola pemikirannya masih kolot dan ia bersikap seperti diktator.

Saya terus mendoakan papa supaya beliau mendapat bagian di dalam keselamatan yang disediakan oleh Tuhan. Hati saya dipenuhi dengan kerinduan supaya papa bersedia menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya. Saya terus bergumul dalam doa. Saya menantikan jawaban Tuhan selama 30 tahun -- bayangkan, rentang waktu yang tidak singkat itu -- namun Tuhan tidak pernah terlambat. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu seorang pendeta yang sudah berusia lanjut, yaitu Pdt. M.. Bapak pendeta ini memunyai kerinduan untuk memberitakan Injil kepada papa saya. Selama setahun pendeta ini terus mendampingi papa saya, dengan ketekunan, kesabaran, dan kesetiaan, ia memberitakan kebenaran kepada papa. Akhirnya, pada pertengahan November 2005 papa saya membuka hatinya bagi Tuhan Yesus. Beliau bersedia menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya secara pribadi. Papa saya sekarang sudah ke gereja.

Mendengar kabar ini, saya benar-benar terkejut, tidak menyangka bahwa papa bisa membuka hatinya. Saya begitu terharu, setiap kali saya memikirkan peristiwa ini, saya tidak kuasa menahan air mata. Tuhan Yesus begitu baik. Saya tidak henti-henti menyaksikan kebaikan Tuhan di dalam kehidupan keluarga saya. Sebagai orang yang sudah mengalami kebaikan Tuhan, saya juga rindu selalu menyaksikan cinta kasih-Nya kepada orang-orang yang belum percaya, supaya mereka juga beroleh keselamatan di dalam Tuhan Yesus.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buletin : Gema Kalvari, Edisi 67, Mei -- Juni 2006
Penulis : Ch
Penerbit : Lembaga Pelayanan Terpadu "GEMA KALVARI", Salatiga
Halaman : 31 -- 32


copas : kesaksian.sabda.org




Tidak ada komentar:

Posting Komentar